Mati Setiap Hari: Bagaimana Mati dengan Baik

Pendahuluan: Seni Mati yang Hilang
Budaya modern sangat mahir berbicara tentang cara hidup dengan sukses, tetapi hampir tidak pernah berbicara tentang cara mati dengan baik. Kematian disembunyikan, ditunda, atau ditolak secara psikologis. Namun, Kitab Suci—dan khususnya tradisi teologi Reformed—justru memandang kematian sebagai bagian integral dari kehidupan iman.
Dalam Kekristenan, pertanyaannya bukan apakah kita akan mati, tetapi bagaimana kita mati—dan lebih dalam lagi, bagaimana kita belajar mati setiap hari sebelum kematian jasmani tiba.
Tema “dying daily” (mati setiap hari) bukanlah ungkapan mistik, melainkan pola hidup Kristen yang alkitabiah, berakar pada salib Kristus dan pengharapan kebangkitan.
John Calvin membuka Institutes dengan pernyataan bahwa:
“Hikmat sejati hampir seluruhnya terdiri dari dua bagian: mengenal Allah dan mengenal diri kita sendiri.”
Dan mengenal diri sendiri berarti menyadari bahwa kita adalah manusia yang fana, dipanggil untuk hidup bagi Allah dengan cara mati bagi diri sendiri.
I. Dasar Alkitabiah: Panggilan untuk Mati Setiap Hari
1. Yesus dan panggilan menyangkal diri
Dasar utama konsep dying daily ditemukan dalam perkataan Yesus:
Lukas 9:23 (AYT)
“Yesus berkata kepada mereka semua, ‘Jika seseorang ingin mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya sendiri, dan memikul salibnya setiap hari, dan mengikuti Aku.’”
Ayat ini menegaskan tiga unsur penting:
-
Menyangkal diri
-
Memikul salib setiap hari
-
Mengikuti Kristus
Yesus tidak berbicara tentang tindakan heroik sekali seumur hidup, tetapi disiplin harian yang berkesinambungan.
Dietrich Bonhoeffer (meski bukan Reformed ketat, sangat sejalan secara teologis) berkata:
“Ketika Kristus memanggil seseorang, Ia memanggilnya untuk datang dan mati.”
2. Paulus dan pengalaman “mati setiap hari”
Rasul Paulus menyatakan secara eksplisit:
1 Korintus 15:31 (AYT)
“Saudara-saudara, setiap hari aku menghadapi kematian, demi kebanggaanku dalam kamu, yang aku miliki dalam Yesus Kristus, Tuhan kita.”
Bagi Paulus, mati setiap hari bukan metafora puitis, melainkan realitas rohani dan eksistensial. Ia hidup di bawah ancaman, penderitaan, dan pelepasan diri yang terus-menerus.
John Murray, teolog Reformed, menegaskan:
“Kehidupan Kristen bukanlah peningkatan diri, melainkan penyaliban diri.”
(Principles of Conduct)
II. Apa Arti “Mati Setiap Hari” dalam Teologi Reformed?
1. Bukan asketisme, tetapi partisipasi dalam Kristus
Teologi Reformed menolak gagasan bahwa mati setiap hari berarti menyiksa diri atau menolak dunia secara ekstrem. Sebaliknya, ini adalah partisipasi rohani dalam kematian Kristus.
Roma 6:6 (secara teologis) mengajarkan bahwa manusia lama telah disalibkan bersama Kristus. Maka, mati setiap hari adalah:
-
Menghidupi realitas itu
-
Mengaktualkan apa yang sudah terjadi secara yuridis di dalam Kristus
Herman Bavinck menulis:
“Kematian bersama Kristus adalah dasar dari seluruh kehidupan etis orang percaya.”
(Reformed Dogmatics, Vol. 4)
2. Mortifikasi dosa (mematikan dosa)
Salah satu konsep kunci dalam tradisi Reformed adalah mortification of sin.
John Owen, dalam karya klasiknya Of the Mortification of Sin, berkata terkenal:
“Matikanlah dosa, atau dosa akan mematikanmu.”
Mati setiap hari berarti:
-
Melawan dosa dengan serius
-
Tidak berdamai dengan kejatuhan moral
-
Hidup dalam pertobatan yang aktif
III. Mati dengan Baik Dimulai dari Hidup dengan Benar
1. Ars Moriendi: tradisi Kristen tentang mati dengan baik
Sejak abad pertengahan, gereja mengenal konsep ars moriendi—seni mati dengan baik. Reformasi tidak meniadakan konsep ini, tetapi membersihkannya dari legalisme dan ketakutan, lalu menambatkannya pada kepastian Injil.
Martin Luther berkata:
“Belajarlah mati, dan engkau akan belajar hidup.”
Dalam tradisi Reformed, mati dengan baik bukan soal:
-
Teknik menghadapi ajal
tetapi soal: -
Hidup dalam iman, pertobatan, dan pengharapan setiap hari
2. Katekismus Heidelberg dan penghiburan sejati
Pertanyaan pertama Katekismus Heidelberg berbunyi:
“Apakah satu-satunya penghiburanmu, baik dalam hidup maupun dalam mati?”
Jawabannya menegaskan bahwa kita:
-
Bukan milik diri sendiri
-
Melainkan milik Yesus Kristus
Ini adalah fondasi mati dengan baik: kepemilikan ilahi.
IV. Dimensi Kristologis: Mati Bersama Kristus
1. Salib sebagai pusat hidup Kristen
Tidak ada pembicaraan tentang kematian Kristen tanpa salib.
Kristus tidak hanya mati untuk kita, tetapi juga memanggil kita untuk mati bersama Dia.
Geerhardus Vos menyatakan:
“Salib bukan hanya sarana penebusan, tetapi juga pola kehidupan orang percaya.”
(Biblical Theology)
2. Kristus mengalahkan ketakutan akan kematian
Ibrani 2 mengajarkan bahwa Kristus membebaskan manusia dari perhambaan ketakutan akan kematian. Maka:
-
Orang percaya tidak menyangkal kematian
-
Tetapi juga tidak dikuasai olehnya
R.C. Sproul berkata:
“Bagi orang Kristen, kematian bukan penjaga neraka, melainkan penjaga pintu menuju kemuliaan.”
V. Mati Setiap Hari dalam Kehidupan Praktis
1. Dalam penderitaan dan kesulitan
Mati setiap hari berarti:
-
Menerima penderitaan sebagai alat pembentukan
-
Tidak bersungut-sungut melawan providensi Allah
John Calvin menulis:
“Salib adalah sekolah Allah bagi umat-Nya.”
2. Dalam kerendahan hati dan pelayanan
Ego, ambisi, dan keinginan untuk diakui harus mati.
Kristus membasuh kaki murid-murid-Nya—sebuah tindakan kematian diri.
3. Dalam pengharapan eskatologis
Orang yang mati setiap hari tidak melekat pada dunia ini secara berlebihan, karena:
-
Hidupnya tersembunyi bersama Kristus
-
Masa depannya aman
VI. Perspektif Eskatologis: Mati sebagai Gerbang, Bukan Akhir
1. Kebangkitan sebagai horizon pengharapan
Paulus hanya bisa berkata “aku mati setiap hari” karena ia yakin akan kebangkitan tubuh.
Anthony Hoekema menulis:
“Pengharapan Kristen bukan pelarian dari dunia, melainkan pembaruan ciptaan.”
(The Bible and the Future)
2. Kematian orang percaya adalah “tidur dalam Kristus”
Dalam teologi Reformed, kematian orang percaya:
-
Tidak memutus persekutuan dengan Kristus
-
Tidak meniadakan identitas
-
Menunggu kebangkitan yang mulia
VII. Aplikasi Pastoral: Belajar Mati dengan Baik Hari Ini
-
Periksalah hidup rohani setiap hari
-
Hiduplah dalam pertobatan yang nyata
-
Pegang Injil lebih erat daripada hidup itu sendiri
-
Jangan menunda ketaatan
-
Arahkan hidup kepada kemuliaan Allah, bukan kenyamanan diri
Jonathan Edwards merumuskan resolusinya yang terkenal:
“Aku bertekad untuk hidup seolah-olah aku akan mati besok.”
Kesimpulan: Mati Setiap Hari adalah Jalan Kehidupan
Paradoks Injil jelas:
“Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan mendapatkannya.”
Mati setiap hari bukanlah jalan kehancuran, melainkan jalan menuju kehidupan sejati.
Orang yang belajar mati dengan baik adalah orang yang telah belajar hidup di dalam Kristus.