Keluaran 8:5–6: Kuasa Allah atas Ciptaan dan Kesia-siaan Perlawanan Manusia
.jpg)
Pendahuluan: Allah yang Menyatakan Diri Melalui Tulah
Keluaran pasal 7–12 merupakan bagian penting dalam sejarah penebusan, di mana Allah menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan yang berdaulat, setia pada perjanjian-Nya, dan tak tertandingi oleh kuasa apa pun. Tulah-tulah yang menimpa Mesir bukan sekadar peristiwa alamiah atau demonstrasi kekuatan adikodrati, melainkan tindakan pewahyuan ilahi.
Dalam teologi Reformed, tulah-tulah Mesir dipahami sebagai:
-
Penghakiman Allah atas Mesir,
-
Pembebasan umat perjanjian, dan
-
Penyataan identitas Allah yang sejati.
Keluaran 8:5–6, yang mencatat tulah katak, tampak sederhana, bahkan ironis. Namun di balik peristiwa ini tersembunyi teologi yang sangat dalam mengenai kedaulatan Allah, penggunaan sarana manusia, dan kebodohan perlawanan manusia terhadap kehendak-Nya.
John Calvin menulis:
“Tulah-tulah Mesir bukanlah pertunjukan kekuatan tanpa tujuan, melainkan khotbah hidup tentang siapa Allah itu dan betapa sia-sianya manusia yang menentang-Nya.”
I. Konteks Historis dan Teologis Tulah Katak
1. Posisi Tulah Katak dalam Rangkaian Tulah
Tulah katak adalah tulah kedua. Setelah air berubah menjadi darah, Mesir masih belum bertobat. Hal ini menunjukkan bahwa:
-
Penghakiman Allah bersifat progresif,
-
Kesabaran Allah masih memberi ruang bagi pertobatan.
Herman Bavinck menjelaskan:
“Allah tidak langsung menjatuhkan hukuman total; Ia memperlihatkan murka-Nya secara bertahap agar manusia mengenal Dia sebelum terlambat.”
2. Katak dan Agama Mesir
Dalam kebudayaan Mesir kuno, katak berhubungan dengan dewi Heqet, simbol kesuburan dan kehidupan. Dengan menjadikan katak sebagai tulah, Allah:
-
Menyerang simbol religius Mesir,
-
Membalik makna berhala menjadi sumber kehinaan.
R.C. Sproul menegaskan:
“Allah sering mempermalukan berhala dengan menggunakan apa yang diagungkan manusia sebagai alat penghakiman.”
II. Eksposisi Keluaran 8:5
“TUHAN berfirman kepada Musa, ‘Katakan kepada Harun…’”
1. Firman Allah sebagai Sumber Tindakan
Segala sesuatu dimulai dengan firman TUHAN. Ini menegaskan prinsip Reformed bahwa:
-
Allah adalah inisiator utama,
-
Manusia bertindak sebagai pelayan.
Louis Berkhof menyatakan:
“Providensia Allah tidak meniadakan sarana, tetapi justru menggunakannya.”
Musa dan Harun tidak bertindak atas kehendak sendiri, melainkan sebagai alat otoritatif firman Allah.
2. Pembagian Peran: Musa dan Harun
Allah memerintahkan Musa untuk berbicara, dan Harun untuk bertindak. Ini menunjukkan:
-
Tertib ilahi dalam pelayanan,
-
Kerja sama dalam ketaatan, bukan kompetisi.
John Calvin mencatat:
“Allah dapat bekerja tanpa manusia, tetapi Ia berkenan bekerja melalui mereka agar ketaatan mereka dimurnikan.”
3. Tongkat sebagai Sarana Ilahi
Tongkat Harun bukan benda magis. Ia adalah:
-
Simbol otoritas Allah,
-
Sarana yang dipakai Allah secara berdaulat.
Dalam teologi Reformed, ini menegaskan bahwa:
-
Kuasa bukan berasal dari alat,
-
Kuasa berasal dari Allah yang berkenan memakai alat.
4. Cakupan Total Penghakiman
Firman Tuhan menyebut:
-
Sungai-sungai,
-
Saluran air,
-
Kolam-kolam.
Ini menunjukkan bahwa tidak ada satu pun wilayah kehidupan Mesir yang luput dari kedaulatan Allah.
Geerhardus Vos menulis:
“Penghakiman Allah bersifat menyeluruh karena kedaulatan-Nya mencakup seluruh ciptaan.”
III. Eksposisi Keluaran 8:6
“Harun pun merentangkan tangannya… lalu katak-katak bermunculan menutupi tanah Mesir.”
1. Ketaatan yang Segera dan Tanpa Tawar-Menawar
Harun langsung menaati firman Tuhan. Tidak ada dialog, tidak ada penundaan. Ini menunjukkan:
-
Iman yang taat,
-
Ketergantungan penuh pada Allah.
Jonathan Edwards (walau bukan komentator Taurat, tetapi Reformed klasik) menyatakan:
“Ketaatan sejati adalah buah iman, bukan hasil perhitungan untung-rugi.”
2. Kuasa Allah atas Ciptaan
Katak muncul secara masif dan tidak terkendali. Ini menegaskan bahwa:
-
Allah berkuasa atas makhluk kecil maupun besar,
-
Ciptaan taat kepada Penciptanya.
Herman Bavinck menulis:
“Ciptaan tidak netral; ia adalah pelayan kehendak Allah, baik untuk berkat maupun penghakiman.”
3. Penghakiman yang Ironis
Katak, simbol kehidupan, justru menjadi:
-
Sumber kekacauan,
-
Alat penderitaan,
-
Tanda murka Allah.
Ini menunjukkan bahwa tanpa Allah, berkat dapat berubah menjadi kutuk.
IV. Makna Teologis Tulah Katak
1. Allah Menantang Ilah Palsu
Tulah ini adalah konfrontasi langsung dengan sistem kepercayaan Mesir. Allah menunjukkan bahwa:
-
Ia adalah Tuhan yang hidup,
-
Berhala tidak berdaya.
Meredith G. Kline menegaskan:
“Tulah-tulah adalah peperangan perjanjian antara Allah yang sejati dan allah-allah palsu.”
2. Kesia-siaan Perlawanan terhadap Allah
Firaun berulang kali mengeraskan hati. Tulah katak menunjukkan bahwa:
-
Perlawanan manusia tidak menghentikan rencana Allah,
-
Penundaan pertobatan hanya memperberat penghakiman.
R.C. Sproul:
“Masalah terbesar manusia bukan kurangnya bukti, tetapi kerasnya hati.”
V. Dimensi Redemptif-Historis
1. Jalan Menuju Pembebasan
Tulah katak bukan tujuan akhir, melainkan bagian dari proses pembebasan Israel. Allah:
-
Menghakimi Mesir,
-
Sekaligus mempersiapkan umat-Nya untuk keluar.
Geerhardus Vos:
“Penghakiman dan pembebasan adalah dua sisi dari satu karya penebusan.”
2. Bayangan Penghakiman Akhir
Tulah-tulah Mesir menunjuk ke penghakiman eskatologis. Mereka mengingatkan bahwa:
-
Allah akan menghakimi dunia,
-
Tidak ada tempat berlindung di luar Dia.
VI. Relevansi Kristologis
1. Kristus dan Kuasa atas Ciptaan
Yesus menunjukkan kuasa serupa:
-
Mengusir roh jahat,
-
Menguasai alam,
-
Menundukkan ciptaan.
Namun Kristus juga:
-
Menanggung murka Allah,
-
Menjadi jalan keselamatan.
John Calvin:
“Kristus menanggung tulah terakhir agar umat-Nya dilepaskan dari murka kekal.”
2. Dari Katak ke Salib
Jika tulah menunjukkan murka Allah, salib menunjukkan:
-
Murka yang ditanggung,
-
Anugerah yang dicurahkan.
VII. Aplikasi Teologis dan Pastoral
-
Allah berdaulat atas seluruh ciptaan, bahkan hal-hal kecil.
-
Ketaatan manusia adalah respons, bukan sumber kuasa.
-
Berhala modern pun akan dipermalukan oleh Allah.
-
Jangan menunda pertobatan ketika Allah menyatakan diri-Nya.
Kesimpulan
Keluaran 8:5–6 mengajarkan bahwa:
-
Allah bertindak melalui firman-Nya,
-
Ciptaan tunduk pada kehendak-Nya,
-
Berhala tidak berdaya,
-
Dan perlawanan manusia terhadap Allah adalah sia-sia.
Tulah katak, meski tampak kecil, adalah khotbah ilahi tentang kedaulatan, penghakiman, dan kebutuhan akan penebusan.