Kisah Para Rasul 11:17: Siapakah Aku sehingga Aku Dapat Menghalangi Allah?
.jpg)
Pendahuluan: Ketika Allah Bertindak Melampaui Batas Manusia
Sejarah gereja mula-mula adalah sejarah kejutan rohani. Allah terus-menerus bekerja melampaui kategori, ekspektasi, dan batas-batas teologis umat-Nya. Kisah Para Rasul 11:17 berdiri sebagai salah satu ayat paling menentukan dalam perkembangan gereja perdana, khususnya terkait dengan masuknya bangsa-bangsa non-Yahudi ke dalam umat perjanjian Allah.
Ayat ini merupakan pernyataan Rasul Petrus di hadapan jemaat Yerusalem ketika ia dipertanyakan karena memberitakan Injil kepada orang-orang non-Yahudi—khususnya rumah Kornelius. Dalam satu kalimat yang sederhana tetapi sangat dalam secara teologis, Petrus menyimpulkan seluruh peristiwa itu dengan sebuah pengakuan yang rendah hati namun tegas:
“Siapakah aku sehingga aku dapat menghalangi Allah?”
Bagi teologi Reformed, pernyataan ini mengandung prinsip-prinsip mendasar tentang:
-
kedaulatan Allah dalam keselamatan,
-
anugerah yang tidak dibatasi oleh etnis atau tradisi,
-
otoritas Allah atas gereja, dan
-
ketaatan manusia yang tunduk pada pekerjaan Roh Kudus.
Teks Dasar: Kisah Para Rasul 11:17 (AYT)
Kisah Para Rasul 11:17 (AYT)
“Jadi, jika Allah memberikan karunia yang sama kepada mereka seperti yang Ia berikan juga kepada kita setelah percaya di dalam Tuhan Yesus Kristus, siapakah aku sehingga aku dapat menghalangi Allah?”
I. Konteks Historis dan Naratif
1. Latar belakang peristiwa Kornelius
Kisah Para Rasul 10–11 menceritakan peristiwa yang sangat penting:
-
Kornelius, seorang perwira Romawi non-Yahudi,
-
menerima Injil melalui pemberitaan Petrus,
-
dan Roh Kudus dicurahkan ke atasnya serta seisi rumahnya.
Peristiwa ini mengguncang asumsi teologis orang Kristen Yahudi, yang masih memandang keselamatan sebagai sesuatu yang terkait erat dengan identitas etnis dan hukum Taurat.
Herman Ridderbos menulis:
“Masuknya orang-orang bukan Yahudi ke dalam gereja bukanlah penyimpangan dari Injil, melainkan penggenapan dari maksud Allah sejak semula.”
(Paul: An Outline of His Theology)
2. Reaksi jemaat Yerusalem
Kisah Para Rasul 11:2–3 mencatat bahwa Petrus dipersoalkan karena:
-
masuk ke rumah orang tak bersunat,
-
dan makan bersama mereka.
Ini bukan sekadar soal adat, tetapi soal identitas perjanjian.
Namun, Petrus tidak membela dirinya secara emosional. Ia menjelaskan pekerjaan Allah secara kronologis dan teologis, hingga akhirnya sampai pada kesimpulan ayat 17.
II. Eksposisi Ayat demi Ayat
1. “Jika Allah memberikan karunia yang sama kepada mereka…”
Kata kunci pertama adalah “Allah”. Petrus memulai argumennya bukan dari:
-
pengalaman pribadi,
-
strategi misi,
-
atau kebijakan gereja,
melainkan dari tindakan Allah sendiri.
Teologi Reformed selalu menekankan bahwa inisiatif keselamatan sepenuhnya berasal dari Allah.
John Calvin menulis:
“Manusia tidak boleh menilai karya Allah berdasarkan prasangka tradisi, melainkan harus tunduk kepada kehendak-Nya yang dinyatakan.”
(Commentary on Acts)
2. “Karunia yang sama” — Kesetaraan anugerah
Karunia yang dimaksud adalah Roh Kudus. Petrus menyamakan pengalaman orang non-Yahudi dengan pengalaman orang Yahudi pada hari Pentakosta.
Ini menegaskan bahwa:
-
tidak ada dua kelas orang percaya,
-
tidak ada Roh Kudus “tingkat pertama” dan “tingkat kedua”,
-
keselamatan tidak bertingkat berdasarkan latar belakang.
Herman Bavinck menyatakan:
“Anugerah tidak mengenal hierarki etnis; Roh Kudus diberikan sepenuhnya kepada semua orang percaya.”
(Reformed Dogmatics, Vol. 4)
3. “Setelah percaya di dalam Tuhan Yesus Kristus”
Frasa ini sangat penting secara soteriologis. Petrus menegaskan bahwa:
-
iman kepada Kristus adalah satu-satunya syarat,
-
bukan sunat,
-
bukan hukum Taurat,
-
bukan tradisi Yahudi.
Ini adalah prinsip sola fide dalam bentuk naratif.
John Murray menulis:
“Iman adalah sarana, bukan dasar, keselamatan—dan iman itu sendiri adalah karunia Allah.”
(Redemption Accomplished and Applied)
4. “Siapakah aku…” — Kerendahan hati rasuli
Petrus, seorang rasul, pemimpin gereja mula-mula, berkata:
“Siapakah aku?”
Ini adalah sikap yang sangat penting:
-
otoritas rasuli tunduk pada kehendak Allah,
-
pemimpin gereja bukan pengendali anugerah,
-
manusia tidak memiliki hak veto atas karya Roh Kudus.
5. “Menghalangi Allah” — Ketidakmungkinan teologis
Pernyataan ini menyiratkan bahwa:
-
melawan inklusi orang non-Yahudi berarti melawan Allah sendiri,
-
menolak karya Roh Kudus adalah bentuk perlawanan terhadap kedaulatan Allah.
Geerhardus Vos menulis:
“Sejarah penebusan tidak dapat dihentikan oleh perlawanan manusia.”
(Biblical Theology)
III. Dimensi Teologis Reformed
1. Kedaulatan Allah dalam keselamatan
Allah:
-
memilih,
-
memanggil,
-
melahirbarukan,
-
dan memberikan Roh Kudus.
Manusia tidak dapat:
-
memperluas,
-
mempersempit,
-
atau mengontrol anugerah.
2. Gereja sebagai penerima, bukan pengatur anugerah
Gereja:
-
memberitakan Injil,
-
mengajar,
-
dan meneguhkan iman,
tetapi Allah yang menyelamatkan.
R.C. Sproul berkata:
“Gereja tidak memiliki Roh Kudus; Roh Kuduslah yang memiliki gereja.”
IV. Dimensi Kristologis
Yesus Kristus adalah:
-
pusat iman,
-
dasar penerimaan,
-
dan batas satu-satunya persekutuan gereja.
Kisah Para Rasul 11:17 menegaskan bahwa:
di dalam Kristus, tembok pemisah diruntuhkan.
V. Dimensi Ekklesiologis
1. Gereja yang inklusif secara Injil
Inklusif bukan berarti kompromi doktrin, tetapi:
-
setia pada Injil,
-
terbuka bagi semua yang percaya.
2. Bahaya eksklusivisme rohani
Menjadikan budaya, tradisi, atau preferensi sebagai syarat keselamatan adalah:
-
bentuk legalisme,
-
penyangkalan Injil.
VI. Dimensi Pastoral dan Aplikatif
-
Jangan melawan karya Roh Kudus
-
Ukur pelayanan dengan firman, bukan tradisi
-
Terimalah saudara seiman sebagai karunia Allah
-
Bersukacitalah atas keselamatan orang lain
-
Rendahkan diri di hadapan kehendak Allah
J.C. Ryle menulis:
“Kesombongan rohani adalah musuh terbesar kesatuan gereja.”
VII. Dimensi Eskatologis
Peristiwa ini mengarah pada:
-
penggenapan janji kepada Abraham,
-
penyembahan dari segala bangsa,
-
gereja yang universal.
Wahyu 7:9 adalah tujuan akhirnya.
Kesimpulan: Ketika Allah Memberi, Siapa Kita untuk Menolak?
Kisah Para Rasul 11:17 mengajarkan bahwa:
-
keselamatan adalah karya Allah,
-
Roh Kudus bekerja melampaui batas manusia,
-
dan gereja dipanggil untuk tunduk, bukan menghalangi.
Pertanyaan Petrus tetap relevan:
“Siapakah aku sehingga aku dapat menghalangi Allah?”
Pertanyaan ini seharusnya:
-
merendahkan kita,
-
membentuk gereja,
-
dan memuliakan Allah.