Yesus Kristus Perantara Kita

Pendahuluan
Tema “Yesus Kristus sebagai Perantara” merupakan salah satu inti terpenting dalam teologi Kristen. Tanpa Kristus sebagai perantara, manusia berdosa tidak memiliki jalan untuk datang kepada Allah yang kudus. Dosa telah menciptakan jurang pemisah antara Allah dan manusia (Yesaya 59:2), dan tidak ada usaha manusia yang sanggup menjembatani jurang tersebut. Namun, di dalam anugerah-Nya, Allah sendiri menyediakan Perantara itu, yaitu Yesus Kristus.
Dalam tradisi teologi Reformed, doktrin Kristus sebagai Perantara (Mediator) sangat sentral karena berkaitan langsung dengan keselamatan, penebusan, dan perjanjian anugerah. Para teolog Reformed seperti Yohanes Calvin, Herman Bavinck, Louis Berkhof, dan R.C. Sproul melihat peran Kristus sebagai Perantara sebagai inti dari Injil itu sendiri.
Artikel ini akan mengupas secara mendalam tema “Yesus Kristus Perantara Kita” melalui eksposisi ayat-ayat Alkitab dan pandangan para teolog Reformed, sehingga kita dapat memahami kedalaman karya Kristus dan mengaplikasikannya dalam kehidupan iman.
1. Makna Perantara dalam Alkitab
Secara umum, perantara adalah pihak yang menjembatani dua pihak yang terpisah. Dalam konteks Alkitab, Kristus menjadi penghubung antara Allah yang kudus dan manusia yang berdosa.
1 Timotius 2:5
“Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi perantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus.”
Ayat ini merupakan deklarasi teologis yang sangat jelas. Paulus menegaskan bahwa hanya ada satu Perantara. Ini menolak gagasan bahwa manusia, malaikat, atau orang kudus dapat menjadi perantara keselamatan.
Pandangan Yohanes Calvin
Calvin menekankan bahwa Kristus menjadi Perantara karena Ia memiliki dua natur: ilahi dan manusia. Sebagai Allah, Ia mampu mendamaikan kita dengan Allah. Sebagai manusia, Ia mewakili kita. Tanpa inkarnasi, tidak mungkin ada mediasi sejati.
Calvin menulis bahwa Kristus “mengulurkan tangan-Nya kepada Allah dan kepada manusia sekaligus,” mempersatukan keduanya.
2. Kebutuhan Akan Perantara
Dosa Memisahkan Manusia dari Allah
Roma 3:23 berkata:
“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.”
Masalah utama manusia adalah dosa. Allah kudus dan adil, sehingga dosa tidak bisa diabaikan begitu saja.
R.C. Sproul menekankan bahwa kekudusan Allah berarti Ia tidak dapat berkompromi dengan dosa. Karena itu, diperlukan perantara yang bukan hanya bersimpati kepada manusia, tetapi juga memuaskan keadilan Allah.
Ayub 9:33 — Kerinduan Akan Perantara
“Tidak ada wasit di antara kami, yang dapat memegang kami berdua.”
Ayub merindukan seorang penengah. Ini merupakan bayangan awal tentang kebutuhan manusia akan mediator ilahi.
Louis Berkhof melihat ayat ini sebagai indikasi bahwa sejak awal, manusia sadar bahwa mereka membutuhkan penghubung dengan Allah.
3. Kristus sebagai Perantara dalam Perjanjian
Dalam teologi Reformed, konsep perjanjian sangat penting. Kristus adalah Perantara Perjanjian Baru.
Ibrani 9:15
“Karena itu Ia adalah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru.”
Perjanjian Lama memiliki mediator seperti Musa, tetapi mereka terbatas dan berdosa. Kristus adalah mediator yang sempurna.
Herman Bavinck
Bavinck menjelaskan bahwa Kristus bukan sekadar pembawa pesan, tetapi penjamin perjanjian. Ia tidak hanya mengumumkan perdamaian—Ia sendiri adalah dasar perdamaian itu.
4. Dasar Mediasi Kristus: Inkarnasi
Yohanes 1:14
“Firman itu telah menjadi manusia.”
Inkarnasi adalah dasar mediasi. Tanpa menjadi manusia, Kristus tidak dapat mewakili kita.
Calvin menegaskan bahwa Kristus mengenakan natur manusia supaya Ia dapat menjadi wakil kita di hadapan Allah.
5. Tiga Jabatan Kristus sebagai Perantara
Teologi Reformed menekankan tiga jabatan Kristus:
1) Nabi
Kristus menyatakan Allah kepada manusia (Ibrani 1:1–2). Ia adalah penyataan final Allah.
Sproul menyebut Yesus sebagai “wahyu Allah yang sempurna.”
2) Imam
Ibrani 4:14–15 menyatakan bahwa Yesus adalah Imam Besar yang memahami kelemahan kita.
Sebagai imam, Ia:
-
Mempersembahkan korban
-
Mendoakan umat-Nya
-
Menjadi pengantara doa
Berkhof menekankan bahwa Kristus adalah imam sekaligus korban.
3) Raja
Kristus memerintah umat-Nya. Mediasi-Nya tidak hanya menyelamatkan, tetapi juga memimpin.
Bavinck menyatakan bahwa Kristus sebagai Raja menjamin keselamatan umat sampai akhir.
6. Mediasi Melalui Pengorbanan
Ibrani 9:22
“Tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.”
Salib adalah pusat mediasi. Di sana keadilan dan kasih Allah bertemu.
Sproul berkata, “Salib adalah tempat di mana murka Allah dipuaskan dan kasih Allah dinyatakan.”
7. Kebenaran yang Diperhitungkan
2 Korintus 5:21:
“Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita.”
Ini adalah doktrin imputasi. Dosa kita diperhitungkan kepada Kristus, kebenaran-Nya diperhitungkan kepada kita.
Calvin menyebut ini sebagai “pertukaran yang ajaib.”
8. Kristus Terus Menjadi Perantara
Ibrani 7:25
“Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.”
Mediasi Kristus tidak berhenti di salib. Ia terus berdoa bagi umat-Nya.
Bavinck menegaskan bahwa doa syafaat Kristus menjamin pemeliharaan iman orang percaya.
9. Keunikan Kristus sebagai Satu-Satunya Perantara
Alkitab tidak memberi ruang bagi mediator lain.
Solus Christus (hanya Kristus) adalah prinsip Reformed.
Sproul menegaskan bahwa menambahkan mediator lain merendahkan kecukupan Kristus.
10. Implikasi Praktis
1) Keyakinan dalam Doa
Kita datang kepada Allah melalui Kristus.
2) Jaminan Keselamatan
Jika Kristus adalah perantara kita, keselamatan kita aman.
3) Kerendahan Hati
Keselamatan murni anugerah.
4) Hidup dalam Syukur
Orang percaya hidup bagi kemuliaan Allah.
11. Mediasi dan Pengudusan
Kristus tidak hanya mendamaikan, tetapi juga menguduskan.
Ibrani 10:14 menunjukkan karya pengudusan berkelanjutan.
Calvin menegaskan bahwa kita dipersatukan dengan Kristus sehingga hidup baru mengalir dari-Nya.
12. Dimensi Eskatologis
Kristus akan menjadi Hakim di akhir zaman.
Mediator yang sama akan menjadi Hakim.
Ini memberi penghiburan bagi orang percaya dan peringatan bagi yang menolak-Nya.
13. Kristus sebagai Perantara dalam Kehidupan Sehari-hari
Peran Kristus sebagai Perantara bukan hanya doktrin abstrak. Ini memengaruhi hidup sehari-hari:
-
Kita tidak hidup dalam rasa bersalah
-
Kita memiliki akses kepada Allah
-
Kita hidup dalam pengharapan
14. Kesaksian Injil
Kristus sebagai Perantara adalah kabar baik bagi dunia.
Tidak ada dosa terlalu besar.
Tidak ada jurang terlalu dalam.
15. Kemuliaan Kristus sebagai Perantara
Akhirnya, semua mediasi Kristus bertujuan memuliakan Allah.
Bavinck berkata bahwa karya Kristus memulihkan ciptaan bagi kemuliaan Allah.
Kesimpulan
Yesus Kristus sebagai Perantara adalah inti Injil. Ia menjembatani jurang antara Allah dan manusia melalui inkarnasi, kehidupan taat, kematian penebusan, dan kebangkitan-Nya.
Dalam perspektif teologi Reformed:
-
Kristus adalah satu-satunya mediator
-
Mediasi-Nya sempurna
-
Mediasi-Nya terus berlangsung
-
Mediasi-Nya menjamin keselamatan
Tanpa Kristus, tidak ada pengharapan. Tetapi di dalam Kristus, ada pendamaian, pengampunan, dan hidup kekal.
Kiranya pemahaman ini mendorong kita untuk:
-
Datang kepada Allah dengan iman
-
Hidup dalam syukur
-
Memuliakan Kristus
Sebab benar seperti kata Rasul Paulus:
“Sebab dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia-lah segala sesuatu.” (Roma 11:36)