Mazmur 22:19–21: Allah yang Menjawab dari Tengah Penderitaan

Mazmur 22:19–21: Allah yang Menjawab dari Tengah Penderitaan

Pendahuluan: Titik Balik Mazmur 22

Mazmur 22 sering disebut sebagai mazmur Mesianik paling intens dalam seluruh Kitab Mazmur. Paruh pertamanya (ayat 1–18) dipenuhi ratapan, keterasingan, dan penderitaan yang ekstrem. Namun Mazmur 22:19–21 menandai titik balik teologis: dari keputusasaan menuju pengharapan, dari seruan tanpa jawaban menuju keyakinan bahwa Allah telah menjawab.

Dalam tradisi Reformed, titik balik ini tidak dibaca sebagai perubahan emosi psikologis belaka, tetapi sebagai pergeseran redemptif-historis. Geerhardus Vos menyatakan bahwa mazmur-mazmur ratapan sering memperlihatkan “gerakan internal wahyu,” di mana penderitaan hamba Allah ditempatkan dalam kerangka rencana penebusan Allah yang lebih besar.

1. “Tetapi Engkau, TUHAN” – Teologi Kontras yang Menyelamatkan (Mazmur 22:19a)

“Tetapi Engkau, TUHAN, janganlah jauh…”

Kata “tetapi” (וְאַתָּה – we’attah) adalah kata kecil dengan bobot teologis besar. Ini adalah kata iman yang berdiri melawan realitas penderitaan.

a. Allah Perjanjian di Tengah Keheningan

Nama TUHAN (YHWH) menegaskan bahwa Daud—dan secara tipologis Kristus—tidak berseru kepada Allah yang jauh dan abstrak, melainkan kepada Allah perjanjian yang telah mengikat diri-Nya kepada umat-Nya.

John Calvin menulis bahwa iman sejati “berani berbicara kepada Allah bahkan ketika pengalaman empiris tampak bertentangan dengan janji-Nya.” Ayat ini adalah contoh klasik iman yang berakar pada karakter Allah, bukan situasi.

2. “Ya kekuatanku” – Allah sebagai Sumber Daya Eksistensial (Mazmur 22:19b)

“Ya kekuatanku…”

Dalam bahasa Ibrani, kata ini berasal dari ’eyaluthî, yang menunjuk pada kekuatan hidup yang menopang keberadaan. Ini bukan sekadar pertolongan eksternal, tetapi ketergantungan total.

Herman Bavinck menegaskan bahwa dalam teologi Reformed, Allah bukan hanya penolong saat krisis, tetapi sumber ontologis dari segala kehidupan. Ketika pemazmur menyebut Tuhan sebagai “kekuatanku”, ia mengakui bahwa tanpa Allah, eksistensinya runtuh sepenuhnya.

👉 Dalam terang Kristus, ini menemukan puncaknya ketika Yesus, yang secara ontologis adalah Anak Allah, secara ekonomis menyerahkan diri-Nya sepenuhnya kepada Bapa (bdk. Filipi 2:6–8).

3. Doa Mendesak dan Teologi Waktu Allah (Mazmur 22:19c)

“Segeralah menolong aku!”

Seruan ini bukan tanda kurang iman, melainkan iman yang jujur. Teologi Reformed tidak meniadakan urgensi manusia, tetapi menempatkannya di bawah kedaulatan Allah.

R.C. Sproul mengingatkan bahwa Allah tidak pernah terlambat, tetapi sering tidak mengikuti jadwal kita. Namun, doa “segeralah” adalah pengakuan bahwa hidup manusia bergantung sepenuhnya pada intervensi Allah.

4. Pedang, Anjing, Singa, dan Banteng: Bahasa Simbolik Penghakiman (Mazmur 22:20–21a)

“Pedang… cengkeraman anjing… mulut singa… tanduk banteng…”

Gambaran-gambaran ini bukan sekadar metafora puitis, tetapi bahasa perjanjian dan penghakiman.

a. Pedang: Alat Kematian dan Penghakiman

Dalam Perjanjian Lama, pedang sering dikaitkan dengan penghakiman ilahi (bdk. Ulangan 32). Meredith G. Kline melihat pedang sebagai simbol kutuk perjanjian yang seharusnya jatuh atas pelanggar hukum Allah.

Dalam perspektif Kristologis, Yesus menanggung pedang penghakiman yang seharusnya menimpa umat-Nya.

b. Anjing: Dehumanisasi dan Kenajisan

“Anjing” dalam konteks Ibrani adalah simbol kenajisan dan kekerasan tanpa hukum. Calvin menafsirkan ini sebagai gambaran manusia yang kehilangan gambar Allah dalam kebrutalan moral.

Dalam Injil, kita melihat penggenapan literal ketika Yesus dikelilingi oleh massa yang mengejek, menghina, dan menuntut kematian-Nya.

c. Singa dan Banteng: Kuasa Kematian yang Mengganas

Singa melambangkan ancaman maut yang menganga, sementara banteng melambangkan kekuatan brutal yang tak terkendali.

Sinclair B. Ferguson menunjukkan bahwa gambaran ini menciptakan satu kesatuan: dari senjata manusia (pedang) hingga kekuatan alam liar—semuanya tampak bersatu melawan orang benar. Ini menegaskan doktrin Reformed tentang totalitas penderitaan Kristus.

5. “Engkau telah menjawab aku” – Kepastian Iman sebelum Pembebasan (Mazmur 22:21b)

“Engkau telah menjawab aku!”

Ini adalah klimaks teologis. Bentuk lampau digunakan sebelum pembebasan terlihat secara empiris.

Geerhardus Vos menjelaskan bahwa iman biblika sering berbicara tentang masa depan Allah dalam bentuk perfektif, karena janji Allah sama pastinya dengan realitas yang sudah terjadi.

👉 Dalam Kristus, kalimat ini menemukan penggenapan tertingginya dalam kebangkitan. Salib bukan akhir cerita. Allah telah menjawab.

6. Mazmur 22 dan Salib Kristus: Pembacaan Reformed

Teologi Reformed secara konsisten membaca Mazmur 22 secara Kristosentris, bukan alegoris bebas, tetapi berdasarkan kesaksian Perjanjian Baru (bdk. Matius 27:46).

Bavinck menegaskan bahwa:

“Mazmur 22 adalah Injil dalam bentuk doa.”

Mazmur 22:19–21 menunjukkan bahwa bahkan dalam penderitaan terdalam, iman Mesias tidak runtuh, dan inilah dasar pembenaran umat Allah.

7. Implikasi Teologis dan Pastoral

a. Doa di Tengah Keheningan Allah

Mazmur ini mengajarkan bahwa iman sejati tetap berdoa bahkan ketika Allah terasa jauh.

b. Penderitaan dalam Rencana Penebusan

Tidak ada penderitaan orang percaya yang sia-sia; semuanya berada dalam narasi salib dan kebangkitan.

c. Penyembahan yang Lahir dari Pembebasan

Ayat 21 menjadi jembatan menuju pujian besar di ayat-ayat selanjutnya.

Kesimpulan

Mazmur 22:19–21 adalah doa dari jurang penderitaan, namun juga pengakuan iman yang tak tergoyahkan. Dalam teologi Reformed, teks ini:

  1. Menegaskan kesetiaan Allah perjanjian

  2. Menyatakan realitas penderitaan yang nyata dan total

  3. Menunjuk kepada Kristus sebagai Hamba yang menderita

  4. Memberi dasar pengharapan bagi gereja di segala zaman

Mazmur ini mengajar kita bahwa Allah mungkin diam, tetapi tidak pernah absen.

Next Post Previous Post