Kristus Sang Pengantara

Pendahuluan: Masalah Terbesar Manusia dan Kebutuhan akan Pengantara
Salah satu realitas paling mendasar dalam Alkitab adalah jurang antara Allah yang kudus dan manusia yang berdosa. Sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa (Kejadian 3), relasi antara Pencipta dan ciptaan-Nya rusak secara mendasar. Allah tetap kudus, adil, dan benar; manusia menjadi bersalah, najis, dan terpisah dari hadirat-Nya.
Masalah ini bukan sekadar persoalan moral atau eksistensial, melainkan masalah perjanjian dan keadilan ilahi. Tidak ada usaha manusia, ritual keagamaan, atau kebajikan moral yang sanggup menjembatani jurang tersebut. Karena itu, jika relasi antara Allah dan manusia hendak dipulihkan, harus ada seorang Pengantara (Mediator)—Pribadi yang dapat berdiri di hadapan Allah dan manusia sekaligus.
Di sinilah Injil bersinar dengan terang yang paling murni:
Yesus Kristus adalah satu-satunya Pengantara antara Allah dan manusia.
Teologi Reformed memandang doktrin Kristus sebagai Pengantara bukan sebagai tambahan pinggiran, melainkan sebagai inti dari keseluruhan karya penebusan. Tanpa Kristus sebagai Mediator, tidak ada:
-
pendamaian,
-
pembenaran,
-
pengudusan,
-
atau pengharapan kekal.
I. Dasar Alkitabiah: Kristus sebagai Satu-satunya Pengantara
1. Kesaksian eksplisit Kitab Suci
1 Timotius 2:5 (AYT)
“Sebab, hanya ada satu Allah dan satu perantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Yesus Kristus.”
Ayat ini merupakan pernyataan paling ringkas dan paling tegas tentang doktrin mediasi Kristus. Paulus tidak membuka ruang bagi:
-
banyak pengantara,
-
sistem perantara tambahan,
-
atau pendekatan alternatif kepada Allah.
John Calvin menegaskan:
“Kristus tidak berbagi jabatan pengantaraan-Nya dengan siapa pun. Ia berdiri sendiri sebagai satu-satunya jalan menuju Allah.”
(Institutes of the Christian Religion, II.15)
Pernyataan “satu Allah” dan “satu Pengantara” saling terkait. Jika Allah itu esa, maka jalan kepada-Nya pun esa.
2. Kristus sebagai Pengantara Perjanjian Baru
Ibrani 9:15 (AYT)
“Untuk alasan inilah Kristus menjadi Perantara dari perjanjian yang baru supaya mereka yang telah dipanggil Allah boleh menerima warisan kekal yang telah dijanjikan-Nya…”
Penulis Ibrani mengaitkan mediasi Kristus dengan:
-
perjanjian baru,
-
kematian penebusan, dan
-
warisan kekal.
Kristus bukan sekadar utusan perjanjian, melainkan Penjamin dan Pelaksana perjanjian itu sendiri.
Herman Bavinck menulis:
“Kristus bukan hanya membawa perjanjian baru; Ia adalah isi, dasar, dan kepastian perjanjian itu.”
(Reformed Dogmatics, Vol. 3)
3. Darah Pengantara yang berbicara
Ibrani 12:24 (AYT)
“Kamu telah datang kepada Yesus, Perantara Perjanjian yang baru, dan kepada darah yang dipercikkan, yang berbicara lebih baik daripada darah Habel.”
Darah Habel berseru menuntut keadilan; darah Kristus berseru memberikan pengampunan.
Inilah inti mediasi Kristus: keadilan Allah dipuaskan, dan anugerah Allah dicurahkan.
II. Masalah Teologis yang Menuntut Seorang Pengantara
1. Allah yang Mahakudus
Allah tidak dapat mengabaikan dosa. Kekudusan-Nya menuntut keadilan.
2. Manusia yang Berdosa
Manusia:
-
mati secara rohani,
-
berada di bawah murka Allah,
-
tidak mampu mendamaikan dirinya sendiri.
Jonathan Edwards menyatakan:
“Dosa bukan masalah kecil; ia adalah pemberontakan kosmik terhadap kemuliaan Allah.”
Karena itu, solusi juga harus berskala ilahi.
III. Kelayakan Kristus sebagai Pengantara
1. Kristus harus sungguh-sungguh manusia
Sebagai manusia:
-
Kristus dapat mewakili umat-Nya,
-
menaati hukum Allah secara sempurna,
-
dan mati menggantikan manusia berdosa.
Ibrani 2:17 (parafrase): Ia harus menjadi sama dengan saudara-saudara-Nya.
John Murray menulis:
“Tanpa kemanusiaan Kristus, tidak ada substitusi yang sah.”
(Redemption Accomplished and Applied)
2. Kristus harus sungguh-sungguh Allah
Sebagai Allah:
-
ketaatan-Nya bernilai tak terbatas,
-
korban-Nya cukup untuk banyak orang,
-
dan Ia mampu menanggung murka Allah.
Athanasius, yang sangat dihargai dalam tradisi Reformed, menegaskan:
“Hanya Allah yang dapat menyelamatkan; karena itu Sang Juruselamat haruslah Allah.”
3. Satu Pribadi, dua natur
Teologi Reformed dengan setia mengikuti Kristologi Konsili Chalcedon:
-
tanpa percampuran,
-
tanpa perubahan,
-
tanpa pembagian,
-
tanpa pemisahan.
Kristus adalah Mediator yang sempurna karena Ia adalah Allah-manusia.
IV. Mediasi Kristus dalam Tiga Jabatan (Munus Triplex)
1. Kristus sebagai Nabi
Ia menyatakan Allah kepada manusia.
Calvin menekankan:
“Sebagai Nabi, Kristus adalah suara Allah yang terakhir dan final.”
2. Kristus sebagai Imam
Ia mempersembahkan diri-Nya sebagai korban dan terus menjadi Pengantara di hadapan Allah.
Ibrani 7:25 (konsep): Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara.
3. Kristus sebagai Raja
Ia memerintah untuk melindungi dan memelihara umat-Nya.
Geerhardus Vos menyatakan:
“Pemerintahan Kristus adalah bagian integral dari karya mediasi-Nya.”
V. Mediasi Kristus dan Keselamatan
1. Pembenaran
Kristus menjadi Pengantara yang:
-
menaati hukum,
-
menanggung hukuman,
-
memberikan kebenaran-Nya kepada umat-Nya.
2. Pendamaian
Permusuhan antara Allah dan manusia dihapuskan.
3. Akses kepada Allah
Orang percaya kini dapat:
-
datang dengan keberanian,
-
berdoa dengan keyakinan,
-
hidup dalam persekutuan dengan Allah.
VI. Penolakan Reformed terhadap Mediasi Tambahan
Teologi Reformed dengan tegas menolak:
-
orang kudus sebagai pengantara,
-
imam sebagai mediator penebusan,
-
atau sistem sakramental yang menggantikan Kristus.
R.C. Sproul berkata:
“Menambahkan pengantara lain berarti menyangkal kecukupan Kristus.”
VII. Dimensi Pastoral dan Iman Pribadi
Kristus sebagai Mediator berarti:
-
kita tidak datang kepada Allah dengan jasa sendiri,
-
kita tidak bergantung pada perasaan,
-
kita berdiri di atas karya Kristus yang objektif.
J.C. Ryle menulis:
“Damai sejati lahir ketika jiwa bersandar sepenuhnya pada Kristus sebagai Pengantara.”
VIII. Dimensi Eskatologis
Kristus sebagai Mediator tidak berhenti di salib:
-
Ia bangkit,
-
naik ke surga,
-
dan akan datang kembali.
Pada hari terakhir:
-
Ia tetap menjadi Pengantara,
-
tetapi juga Hakim yang adil.
Kesimpulan: Tidak Ada Jalan Lain Selain Kristus
Doktrin Christ the Mediator menegaskan bahwa:
-
keselamatan sepenuhnya dari Allah,
-
melalui Kristus,
-
bagi kemuliaan Allah.
Kristus tidak hanya membuka jalan—
Ia adalah Jalan itu sendiri.
“Aku adalah jalan, kebenaran, dan hidup.” (Yohanes 14:6)