Markus 11:12–14, 20–21: Pohon Ara yang Tidak Berbuah

Markus 11:12–14, 20–21: Pohon Ara yang Tidak Berbuah

Pendahuluan: Sebuah Mukjizat yang Mengusik Nurani

Di antara semua mukjizat Yesus yang dicatat dalam Injil, peristiwa pengutukan pohon ara merupakan salah satu yang paling mengusik dan sering disalahpahami.
Yesus menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, memberi makan orang banyak — namun di sini Ia mengutuk sebuah pohon yang tidak berbuah.

Mengapa Yesus melakukan tindakan yang tampak keras ini?
Apakah Ia marah karena lapar?
Ataukah ini sekadar simbol tanpa makna teologis yang mendalam?

Teologi Reformed melihat peristiwa ini bukan sebagai ledakan emosi sesaat, melainkan sebagai tindakan profetis yang sarat makna penghakiman dan anugerah, yang berkaitan erat dengan kondisi rohani Israel, natur iman sejati, dan tuntutan Allah atas umat perjanjian-Nya.

John Calvin menulis:

“Kristus tidak pernah bertindak tanpa tujuan rohani; bahkan perbuatan-Nya yang tampak kecil mengandung ajaran besar tentang kerajaan Allah.”
(Commentary on the Synoptic Gospels)

I. Teks Dasar: Markus 11:12–14, 20–21 (AYT)

Mari kita terlebih dahulu memperhatikan teks Alkitab yang menjadi dasar eksposisi ini:

Markus 11:12–14 (AYT)
“Keesokan harinya, ketika mereka meninggalkan Betania, Yesus merasa lapar. Ketika melihat dari kejauhan sebuah pohon ara yang berdaun, Dia pergi untuk melihat apakah ada yang bisa Dia temukan dari pohon itu. Namun, ketika sampai di pohon itu, Dia tidak menemukan apa-apa kecuali daun-daunnya sebab bukan musimnya buah ara. Yesus berkata kepada pohon itu, ‘Biarlah tidak ada orang yang pernah makan buah darimu lagi.’ Dan, murid-murid-Nya mendengarnya.”

Markus 11:20–21 (AYT)
“Pada pagi hari, ketika mereka sedang lewat, mereka melihat pohon ara itu sudah kering sampai ke akar-akarnya. Petrus teringat dan berkata kepada Yesus, ‘Rabi, lihat! Pohon ara yang Engkau kutuk telah menjadi kering!’”

Teks ini berada dalam konteks minggu terakhir pelayanan Yesus, tepat setelah Yesus memasuki Yerusalem dan sebelum penyucian Bait Allah. Ini bukan kebetulan; Markus dengan sengaja menempatkan kisah ini sebagai “sandwich naratif” yang mengaitkan pohon ara dengan kondisi rohani Bait Allah dan Israel.

II. Konteks Historis dan Naratif: Pohon Ara dan Israel

1. Pohon ara sebagai simbol Israel

Dalam Perjanjian Lama, pohon ara sering dipakai sebagai simbol umat Israel.

  • Hosea 9:10 – Israel digambarkan seperti buah ara pertama.

  • Yeremia 8:13 – Allah mencari buah pada pohon ara Israel, tetapi tidak menemukannya.

  • Mikha 7:1 – Nabi meratapi ketiadaan buah ara sebagai tanda kerusakan rohani.

Herman Ridderbos, teolog Reformed Perjanjian Baru, menulis:

“Pohon ara dalam Injil Markus tidak dapat dilepaskan dari simbolisme Perjanjian Lama tentang Israel sebagai umat perjanjian yang dipanggil untuk berbuah.”
(The Coming of the Kingdom)

Dengan latar ini, jelas bahwa Yesus tidak sedang berbicara tentang botani, tetapi tentang keadaan rohani umat Allah.

2. Daun tanpa buah: penampilan tanpa realitas

Pohon itu penuh daun — tampak hidup, tampak subur, tampak menjanjikan.
Namun ketika Yesus mendekat, tidak ada buah sama sekali.

Matthew Henry berkomentar:

“Daun tanpa buah adalah lambang religiositas kosong — banyak bentuk, tetapi tanpa kehidupan sejati.”

Dalam perspektif Reformed, ini menggambarkan agama lahiriah tanpa iman sejati, ibadah tanpa pertobatan, dan perjanjian tanpa ketaatan.

III. Eksposisi Ayat demi Ayat

Markus 11:12 — “Yesus merasa lapar”

Kalimat ini menegaskan kemanusiaan sejati Kristus.
Yesus bukan hanya Allah sejati, tetapi juga manusia sejati yang merasakan lapar, letih, dan penderitaan.

Louis Berkhof menulis:

“Kemanusiaan Kristus bukanlah penampilan semu; Ia sungguh-sungguh mengambil natur manusia dan mengalami keterbatasannya.”
(Systematic Theology)

Namun, lapar Yesus di sini bukan sekadar kebutuhan fisik; ini adalah konteks providensial yang mengarahkan kepada tindakan profetis-Nya.

Markus 11:13 — Daun tanpa buah dan “bukan musimnya”

Frasa “sebab bukan musimnya buah ara” sering disalahpahami.
Namun dalam konteks Palestina, pohon ara yang berdaun seharusnya memiliki buah awal (pagim), yang dapat dimakan sebelum musim utama.

William Lane, dalam NICNT: Gospel of Mark, menjelaskan:

“Pohon ara yang sudah berdaun tetapi tanpa buah awal adalah pohon yang secara biologis dan simbolis gagal memenuhi tujuannya.”

Dengan kata lain, ketiadaan buah bukan alasan pembenaran, melainkan justru indikasi ketidaksuburan.

Markus 11:14 — Kutukan Yesus

“Biarlah tidak ada orang yang pernah makan buah darimu lagi.”

Ini adalah tindakan penghakiman simbolik.
Yesus tidak marah karena lapar, melainkan menyatakan penghakiman Allah atas ketidaksetiaan rohani Israel.

John Calvin menulis:

“Kristus mengutuk pohon itu bukan karena kebenciannya pada ciptaan, tetapi untuk menunjukkan bahwa Allah tidak berkenan pada umat yang hanya memiliki bayangan kesalehan.”

Kutukan ini juga didengar oleh murid-murid, karena peristiwa ini dimaksudkan sebagai pengajaran.

IV. Hubungan dengan Penyucian Bait Allah

Markus dengan sengaja menempatkan kisah ini mengapit peristiwa Yesus menyucikan Bait Allah (Markus 11:15–19).

Strukturnya:

  • Pohon ara tidak berbuah (11:12–14)

  • Bait Allah yang rusak (11:15–19)

  • Pohon ara yang kering (11:20–21)

Ini menunjukkan bahwa:

  • Pohon ara = Israel

  • Daun = ibadah lahiriah

  • Tidak ada buah = tidak ada iman sejati

  • Pengeringan = penghakiman Allah

R.C. Sproul menyatakan:

“Yesus tidak mengutuk ibadah, tetapi kemunafikan religius yang mengaku mengenal Allah tanpa menghasilkan buah pertobatan.”
(Mark Commentary)

V. Dimensi Teologis Reformed

1. Doktrin penghakiman Allah

Allah bukan hanya Allah kasih, tetapi juga Allah yang adil dan kudus.
Pohon ara yang dikutuk mengingatkan bahwa anugerah yang disia-siakan berujung pada penghakiman.

Jonathan Edwards menulis:

“Allah panjang sabar, tetapi ketika waktu anugerah berlalu, keadilan-Nya tidak dapat dihindari.”
(Sinners in the Hands of an Angry God)

2. Iman sejati pasti menghasilkan buah

Teologi Reformed menegaskan bahwa:

  • Kita dibenarkan oleh iman saja

  • Tetapi iman yang sejati tidak pernah sendirian

John Owen berkata:

“Iman yang tidak berbuah adalah iman yang mati.”

Ini sejalan dengan Yakobus 2:17 — iman tanpa perbuatan adalah mati.

3. Perjanjian dan tanggung jawab

Israel adalah umat pilihan, tetapi pemilihan tidak meniadakan tanggung jawab.
Herman Bavinck menulis:

“Pemilihan tidak pernah membatalkan tuntutan ketaatan; justru pemilihan itulah yang mendasarinya.”
(Reformed Dogmatics)

VI. Aplikasi Kristologis: Kristus sebagai Pohon Kehidupan

Pohon ara yang mati mengarahkan kita kepada Kristus sebagai satu-satunya sumber kehidupan sejati.

Yesus berkata:

“Akulah pokok anggur yang benar.” (Yohanes 15:1)

Israel gagal berbuah, tetapi Kristus berbuah sempurna.
Ia taat sepenuhnya, hidup benar, dan menyerahkan diri-Nya di kayu salib.

Geerhardus Vos menulis:

“Kristus adalah Israel sejati yang melakukan apa yang gagal dilakukan Israel lama.”
(Biblical Theology)

VII. Aplikasi Pastoral dan Gerejawi

1. Bahaya Kekristenan yang hanya tampak luar

Gereja dapat penuh aktivitas, liturgi, dan struktur — namun kosong secara rohani.

J.C. Ryle memperingatkan:

“Tidak ada yang lebih berbahaya daripada agama yang hanya hidup di bibir, bukan di hati.”

2. Panggilan untuk introspeksi rohani

Apakah hidup kita:

  • Menghasilkan buah pertobatan?

  • Memperlihatkan kasih, ketaatan, dan kerendahan hati?

  • Ataukah hanya daun religius?

3. Kesabaran Allah dan urgensi pertobatan

Lukas 13:6–9 (perumpamaan pohon ara) menunjukkan bahwa Allah panjang sabar, tetapi waktu anugerah tidak tak terbatas.

VIII. Dimensi Eskatologis

Pohon ara yang kering sampai ke akar-akarnya menunjuk kepada:

  • Kehancuran Yerusalem (70 M)

  • Penghakiman terakhir

  • Pemisahan antara yang berbuah dan tidak berbuah

Matthew 7:19:

“Setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik ditebang dan dibuang ke dalam api.”

Anthony Hoekema menulis:

“Penghakiman akhir akan menyingkapkan realitas iman sejati melalui buah kehidupan.”
(The Bible and the Future)

Kesimpulan: Peringatan dan Undangan

“The Barren Fig Tree” adalah:

  • Peringatan keras terhadap kemunafikan rohani

  • Panggilan kasih untuk bertobat dan berbuah

  • Bayangan Injil, karena Kristus menanggung kutuk agar kita menerima hidup

“Terkutuklah Dia di kayu salib, supaya kita yang kering boleh hidup.” (bdk. Galatia 3:13)

Kiranya kita tidak hanya berdaun, tetapi berbuah bagi kemuliaan Allah.

Previous Post