Mazmur 22:1-18: Dari Jeritan Ketertinggalan Menuju Penderitaan Mesianik

Mazmur 22:1-18: Dari Jeritan Ketertinggalan Menuju Penderitaan Mesianik

Pendahuluan: Mazmur Ratapan yang Menembus Salib

Mazmur 22:1-18 adalah salah satu mazmur paling mendalam dan mengguncang dalam seluruh Kitab Mazmur. Ia dimulai dengan jeritan keputusasaan, namun di dalamnya terjalin iman, penderitaan, dan pengharapan eskatologis. Dalam tradisi teologi Reformed, mazmur ini dipahami bukan hanya sebagai ratapan Daud, tetapi juga sebagai mazmur mesianik yang menunjuk secara jelas kepada penderitaan Kristus.

John Calvin menulis:

“Dalam Mazmur ini, Daud bukan sekadar berbicara tentang dirinya sendiri, melainkan sebagai gambaran Kristus yang akan datang.”

Mazmur 22 menjadi jembatan antara:

  • Pengalaman penderitaan umat Allah,

  • Dan penggenapan penderitaan Kristus di kayu salib.

I. Konteks Historis dan Kanonis Mazmur 22

Mazmur ini adalah nyanyian Daud, ditujukan kepada pemimpin pujian. Judul “Rusa pada waktu fajar” kemungkinan besar menunjuk pada:

  • Nada ratapan,

  • Atau gambaran makhluk lemah yang diburu.

Dalam kanon Alkitab, Mazmur 22 memiliki posisi unik karena:

  • Dikutip langsung oleh Yesus di salib (Matius 27:46),

  • Digunakan oleh para penulis Injil sebagai kunci memahami penyaliban.

Geerhardus Vos menyatakan:

“Mazmur 22 berdiri sebagai nubuat puitis tentang penderitaan Mesias dalam bentuk pengalaman rohani.”

II. Eksposisi Mazmur 22:1–2 – Jeritan Ketertinggalan

“Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?”

Ini bukan seruan ketidakpercayaan, melainkan:

  • Jeritan iman dalam penderitaan,

  • Doa orang benar yang tidak mengerti jalan Allah.

R.C. Sproul menegaskan:

“Yesus tidak berhenti percaya kepada Bapa ketika Ia berseru; justru Ia berseru sebagai Anak yang taat.”

Keheningan Allah tidak berarti ketidakhadiran-Nya, melainkan misteri penderitaan yang diizinkan Allah bagi tujuan penebusan.

III. Mazmur 22:3–5 – Kekudusan Allah dan Iman Leluhur

Di tengah ratapan, pemazmur menegaskan:

“Namun, Engkau itu kudus.”

Ini adalah pengakuan teologis yang kuat:

  • Allah tetap kudus meskipun penderitaan hadir,

  • Iman tidak ditentukan oleh keadaan.

Herman Bavinck menulis:

“Iman sejati tidak menyangkal realitas penderitaan, tetapi mengikatkannya pada karakter Allah.”

IV. Mazmur 22:6–8 – Penghinaan dan Cemoohan

Pemazmur menggambarkan dirinya sebagai “ulat”, simbol kehinaan total. Cemoohan ini:

  • Digenapi secara literal pada Yesus,

  • Menunjukkan kedalaman kerendahan Mesias.

Jonathan Edwards:

“Kemuliaan Kristus justru paling terang ketika Ia paling direndahkan.”

V. Mazmur 22:9–11 – Allah sebagai Penopang Sejak Kandungan

Pemazmur mengingat kesetiaan Allah sejak awal hidupnya. Ini menunjukkan:

  • Relasi perjanjian yang intim,

  • Ketergantungan total kepada Allah.

Dalam teologi Reformed, ini menegaskan inisiatif anugerah Allah sejak awal kehidupan umat-Nya.

VI. Mazmur 22:12–13 – Musuh sebagai Binatang Buas

Lembu Basan dan singa melambangkan:

  • Kuasa dunia yang kejam,

  • Penindasan tanpa belas kasihan.

Louis Berkhof:

“Alkitab sering menggunakan metafora binatang untuk menggambarkan kekuatan dosa yang brutal.”

VII. Mazmur 22:14–15 – Penderitaan Fisik yang Mendalam

Deskripsi tubuh yang tercurah, tulang terlepas, dan kekeringan ekstrem sangat selaras dengan:

  • Penyaliban Kristus,

  • Kehausan Yesus di salib.

Ini bukan kebetulan sastra, melainkan nubuat penderitaan Mesias.

VIII. Mazmur 22:16–18 – Puncak Nubuat Mesianik

Ayat-ayat ini mencapai klimaks:

  • Tangan dan kaki ditusuk,

  • Tulang terlihat,

  • Pakaian diundi.

Semua ini digenapi secara literal dalam Injil.

John Calvin:

“Tidak mungkin mazmur ini dipahami secara penuh tanpa melihat Kristus.”

IX. Makna Teologis Reformed

  1. Allah berdaulat atas penderitaan.

  2. Kristus menanggung keterpisahan demi penebusan umat-Nya.

  3. Ratapan dapat menjadi doa iman.

  4. Keselamatan lahir melalui penderitaan yang ditetapkan Allah.

X. Aplikasi Pastoral

  • Orang percaya boleh berseru jujur kepada Allah.

  • Penderitaan tidak meniadakan iman.

  • Salib adalah pusat pengharapan.

Kesimpulan

Mazmur 22:1–18 membawa kita:

  • Dari jeritan ketertinggalan,

  • Menuju salib Kristus,

  • Dan akhirnya kepada pengharapan penebusan.

Mazmur ini mengajarkan bahwa Allah yang tampak diam tidak pernah absen, dan bahwa penderitaan orang benar menemukan maknanya dalam karya Kristus.

Next Post Previous Post