Markus 12:1–12: Yesus: Anak yang Ditolak, Batu Penjuru yang Dipilih Allah

1. Pendahuluan: Konteks Perumpamaan
Perumpamaan penggarap-penggarap kebun anggur (Markus 12:1–12) disampaikan Yesus di Yerusalem, tidak lama sebelum penyaliban-Nya. Konteksnya adalah konfrontasi Yesus dengan para imam kepala, ahli Taurat, dan tua-tua bangsa Israel. Mereka mempertanyakan otoritas Yesus (Markus 11:28), dan Yesus menjawabnya dengan kisah yang menggambarkan secara simbolik sejarah panjang penolakan Israel terhadap Allah dan utusan-utusan-Nya.
Yesus menceritakan kisah tentang seorang pemilik kebun anggur yang membangun dan menyewakannya kepada penggarap, tetapi ketika ia menuntut hasilnya, para penggarap menolak, bahkan membunuh utusan-utusan yang dikirim, hingga akhirnya membunuh anak sang pemilik. Perumpamaan ini berakhir dengan penghakiman Allah atas mereka dan penyerahan kebun itu kepada orang lain.
Dalam terang teologi Reformed, kisah ini berbicara tentang kedaulatan Allah dalam sejarah penebusan, penolakan manusia berdosa terhadap anugerah Allah, dan kemenangan rencana keselamatan melalui Kristus, Sang Anak dan Batu Penjuru sejati.
2. Eksposisi Ayat demi Ayat
Markus 12:1: Pemilik kebun anggur
“Ada orang yang mengusahakan sebuah kebun anggur. Dia membangun pagar di sekelilingnya, dan menggali lubang untuk tempat memeras anggur, dan membangun sebuah menara pengawas. Kemudian, dia menyewakannya kepada penggarap-penggarap kebun dan pergi ke negeri yang lain.”
Kebun anggur sering kali menjadi simbol umat Allah dalam Perjanjian Lama (lih. Yesaya 5:1–7). Pemilik kebun adalah Allah sendiri, yang dengan penuh kasih dan pemeliharaan menyediakan segala sesuatu bagi umat-Nya. Pagar, lubang anggur, dan menara menunjukkan perlindungan, kelimpahan, dan pengawasan ilahi atas umat perjanjian-Nya.
John Calvin menulis dalam Commentary on the Synoptic Gospels bahwa bagian ini menunjukkan kasih karunia perjanjian—Allah bukan hanya memberi kehidupan kepada Israel, tetapi juga memberikan segala sarana untuk hidup kudus dan berbuah bagi-Nya. Namun, kasih karunia itu sering disia-siakan oleh umat yang memberontak.
Dalam teologi Reformed, hal ini menggambarkan kebaikan umum dan kebaikan khusus Allah. Allah menyediakan berkat bagi semua manusia, tetapi secara khusus Ia mempercayakan kebenaran dan keselamatan kepada umat pilihan-Nya. Kegagalan umat Israel untuk berbuah adalah gambaran dosa manusia yang menolak tanggung jawab moral di hadapan Allah.
Markus 12:2–5: Para pelayan yang ditolak
“Waktu musim panen tiba, dia mengirim seorang pelayan... mereka memukulinya... memperlakukannya dengan cara yang memalukan... sebagian mereka pukul, dan sebagian mereka bunuh.”
Para pelayan melambangkan para nabi yang diutus Allah kepada Israel sepanjang sejarah. Dari Musa hingga Maleakhi, Allah terus mengingatkan umat-Nya untuk bertobat, tetapi mereka justru menolak para utusan itu.
Calvin menekankan bahwa penolakan ini bukan karena kurangnya bukti atau kebenaran, tetapi karena kedegilan hati manusia berdosa. Dalam kerangka teologi Reformed, ini menegaskan total depravity—kerusakan total manusia yang menolak anugerah dan otoritas Allah.
Herman Bavinck dalam Reformed Dogmatics menulis: “Manusia tidak sekadar berdosa secara kebetulan; ia berada dalam keadaan permusuhan terhadap Allah. Ia tidak ingin Tuhan berdaulat atas dirinya.” Inilah yang terjadi di Israel: mereka menolak suara Allah yang datang melalui para nabi karena hati mereka lebih mencintai kekuasaan dan kesalehan lahiriah daripada ketaatan sejati.
R.C. Sproul menambahkan bahwa perumpamaan ini menunjukkan bagaimana anugerah Allah yang sabar berulang kali memperingatkan umat-Nya. Allah terus mengirimkan utusan, bukan karena Ia lemah, tetapi karena Ia panjang sabar dan penuh kasih, memberi kesempatan bagi pertobatan. Namun kesabaran Allah tidak menghapuskan penghakiman-Nya.
Markus 12:6–8: Anak yang dikasihi dibunuh
“Pemilik kebun itu masih memiliki satu lagi, yaitu anak yang dikasihinya... ‘Mereka akan menghormati anakku.’ Tetapi para penggarap berkata... ‘Ini ahli warisnya. Ayo kita bunuh dia.’ Lalu mereka membunuhnya.”
Bagian ini merupakan puncak dari perumpamaan—dan jelas menunjuk kepada Kristus sendiri, Sang Anak Allah. Dalam narasi Injil Markus, ini adalah nubuat langsung tentang penyaliban Yesus oleh pemimpin-pemimpin agama Israel.
Calvin menulis bahwa di sini Yesus “menyingkapkan kedalaman misteri penolakan terhadap Injil.” Ia bukan sekadar nabi yang ditolak, tetapi Anak Allah yang dibunuh oleh umat yang mengaku mengenal Allah.
Louis Berkhof dalam Systematic Theology menjelaskan bahwa kematian Kristus bukanlah kekalahan, melainkan penggenapan rencana keselamatan Allah. “Allah dalam kedaulatan-Nya bahkan memakai penolakan manusia untuk melaksanakan penebusan.” Maka, perumpamaan ini memperlihatkan kedaulatan providensial Allah atas dosa manusia.
Teologi Reformed menegaskan bahwa salib bukanlah tragedi, melainkan titik pusat rencana penebusan Allah. Bavinck menulis: “Dalam salib, kasih dan keadilan Allah bertemu—di mana Anak yang ditolak menjadi dasar keselamatan bagi umat yang menolak.”
Markus 12:9: Penghakiman dan peralihan perjanjian
“Dia akan datang dan membinasakan para penggarap kebun anggur itu dan memberikan kebun anggur itu kepada orang lain.”
Ini adalah deklarasi penghakiman Allah. Israel sebagai bangsa perjanjian yang tidak setia akan kehilangan hak istimewanya, dan kerajaan Allah akan diberikan kepada umat yang beriman—yaitu Gereja, yang terdiri dari orang Yahudi dan bangsa-bangsa lain yang percaya kepada Kristus.
R.C. Sproul menjelaskan bahwa bagian ini mengungkapkan transisi dari perjanjian lama ke perjanjian baru, bukan dalam arti Allah membuang Israel sepenuhnya, tetapi Ia memperluas kerajaan-Nya kepada seluruh bangsa.
Teologi Reformed melihat di sini konsistensi rencana penebusan Allah—perjanjian kasih karunia yang terus berlangsung dalam bentuk yang diperluas. Gereja bukanlah pengganti Israel, melainkan kelanjutan dari umat perjanjian Allah yang sejati.
Calvin menulis: “Kerajaan Allah tidak tergantung pada garis keturunan, tetapi pada iman sejati.” Penghakiman Allah terhadap Israel adalah peringatan bagi semua generasi bahwa privilese rohani tanpa pertobatan sejati tidak memiliki nilai di hadapan-Nya.
Markus 12:10–11: Batu penjuru yang ditolak
“Batu yang ditolak oleh tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Inilah perbuatan Tuhan, dan ini ajaib di mata kita.”
Yesus mengutip Mazmur 118:22–23 untuk menegaskan bahwa diri-Nya adalah batu penjuru yang ditolak manusia, tetapi dipilih oleh Allah.
Dalam pemahaman Reformed, ini menegaskan Kristus sebagai pusat rencana keselamatan. Bavinck berkata, “Seluruh struktur penebusan berdiri di atas Kristus; Ia adalah dasar dan puncak karya Allah dalam sejarah.”
Louis Berkhof menambahkan, “Penolakan terhadap Kristus tidak menghalangi kehendak Allah, melainkan menjadi alat untuk menyatakan kemuliaan-Nya.” Allah berdaulat menggunakan bahkan kejahatan manusia untuk menegakkan kerajaan-Nya.
R.C. Sproul dalam The Holiness of God menafsirkan ayat ini sebagai pengingat bahwa rencana Allah sering bertentangan dengan ekspektasi manusia. Para pemimpin Israel mengira mereka sedang mempertahankan kebenaran, tetapi justru menolak dasar keselamatan mereka sendiri.
Batu penjuru melambangkan Kristus sebagai fondasi Gereja dan keselamatan. Semua yang tidak berdiri di atas Kristus akan runtuh. Gereja Reformed selalu menekankan solus Christus—hanya Kristus satu-satunya dasar iman dan keselamatan.
Markus 12:12: Reaksi para pemimpin agama
“Mereka berusaha menangkap-Nya, tetapi takut kepada orang banyak karena mereka tahu bahwa Yesus menyampaikan perumpamaan itu untuk melawan mereka.”
Ironinya adalah bahwa para pendengar Yesus memahami makna perumpamaan itu—mereka tahu bahwa merekalah para penggarap yang jahat—tetapi bukannya bertobat, mereka justru ingin membunuh Yesus.
Calvin mencatat bahwa ini menunjukkan kerasnya hati manusia yang tidak diperbaharui oleh Roh Kudus. Tanpa karya Roh, firman Allah hanya menimbulkan kemarahan, bukan pertobatan.
Bavinck menambahkan bahwa di sini tampak jelas doktrin regenerasi—bahwa hanya mereka yang dilahirkan kembali oleh Roh Kudus yang dapat menerima firman Allah dengan iman. Tanpa kelahiran baru, manusia selalu menolak kebenaran karena dosa menguasai kehendaknya.
3. Tema Teologis Utama dalam Perumpamaan
a. Kedaulatan Allah dalam Sejarah Penebusan
Kisah ini memperlihatkan bahwa segala sesuatu—bahkan penolakan manusia terhadap Kristus—berada dalam kendali Allah yang berdaulat. Seperti yang ditegaskan Paulus dalam Roma 11:11–36, kejatuhan Israel menjadi sarana bagi keselamatan bangsa-bangsa lain.
Reformed theology menegaskan bahwa tidak ada peristiwa di luar rencana providensial Allah. Calvin menulis, “Tidak ada sehelai daun jatuh tanpa kehendak Allah, apalagi penyaliban Anak-Nya.”
Maka, salib bukanlah kecelakaan sejarah, tetapi bagian dari rencana kekal Allah untuk memuliakan diri-Nya melalui penebusan.
b. Kedegilan Hati Manusia dan Anugerah yang Sabar
Penolakan Israel mencerminkan kondisi universal manusia berdosa. Doktrin total depravity menjelaskan bahwa manusia secara moral tidak mampu merespons anugerah Allah tanpa karya Roh Kudus.
Namun, Allah tetap panjang sabar. Ia terus mengutus “para pelayan” — firman-Nya, hamba-hamba-Nya, bahkan Gereja-Nya — untuk memanggil manusia kepada pertobatan.
R.C. Sproul berkata: “Kesabaran Allah bukanlah tanda kelemahan-Nya, melainkan kekuatan kasih-Nya yang menahan murka-Nya demi memberikan kesempatan bagi kita untuk bertobat.”
c. Kristus: Anak dan Batu Penjuru
Kristus adalah pusat dari seluruh narasi ini. Ia adalah Anak yang dikasihi, tetapi ditolak; Ia juga Batu Penjuru yang menjadi dasar keselamatan.
Dalam teologi Reformed, ini menegaskan prinsip Christocentric Revelation—bahwa seluruh Kitab Suci berpusat pada Kristus. Bavinck menulis: “Kristus adalah tujuan dari seluruh wahyu Allah; seluruh sejarah bergerak menuju Dia.”
Penolakan terhadap Kristus berarti menolak Allah sendiri. Tetapi bagi mereka yang percaya, Ia menjadi dasar yang kokoh dan batu keselamatan yang tidak tergoyahkan.
d. Gereja sebagai Pewaris Kerajaan Allah
Ketika Yesus berkata bahwa kebun anggur akan diberikan kepada orang lain, Ia menunjuk pada umat Allah yang sejati—mereka yang percaya kepada-Nya.
Gereja tidak menggantikan Israel, tetapi melanjutkan umat perjanjian itu dalam bentuk yang digenapi di dalam Kristus. Hal ini selaras dengan doktrin covenant theology Reformed, yang melihat satu rencana keselamatan dari Perjanjian Lama hingga Baru.
4. Penerapan bagi Gereja Masa Kini
-
Kesetiaan dalam panggilan pelayanan.
Allah mempercayakan “kebun anggur”-Nya kepada Gereja. Kita dipanggil untuk mengelola dengan setia, memberitakan Injil, dan menghasilkan buah yang memuliakan Allah. -
Bahaya religiusitas tanpa pertobatan.
Para pemimpin Israel memiliki bentuk kesalehan tetapi tidak memiliki hati yang tunduk. Ini peringatan bagi Gereja modern yang bisa sibuk dalam aktivitas religius tanpa kasih sejati kepada Kristus. -
Penghiburan dalam kedaulatan Allah.
Walau dunia menolak Kristus, rencana Allah tidak gagal. Batu penjuru tetap teguh, dan kerajaan-Nya akan menang. -
Panggilan untuk berpegang pada Kristus saja.
Seperti batu penjuru, hanya Kristus yang menjadi dasar keselamatan. Semua hal lain—tradisi, perasaan, jasa—tidak dapat menggantikan iman kepada-Nya.
5. Kesimpulan
Perumpamaan dalam Markus 12:1–12 adalah miniatur dari seluruh sejarah penebusan. Di dalamnya tampak kasih Allah yang sabar, kebobrokan hati manusia, dan kemenangan rencana Allah melalui Kristus.
Seperti ditulis Calvin, “Allah menegakkan kemuliaan-Nya bahkan melalui kejahatan manusia, agar kasih karunia-Nya semakin nyata.”
Kristus yang ditolak menjadi Batu Penjuru Gereja, dan melalui-Nya, kerajaan Allah terus bertumbuh hingga kini.