Zakharia 3:9: Kristus sebagai Batu Permata Perjanjian

Zakharia 3:9: Kristus sebagai Batu Permata Perjanjian

Zakharia 3:9 (AYT)
“Sebab lihatlah, permata yang telah Aku letakkan di hadapan Yosua, pada permata itu ada tujuh mata. Lihatlah, Aku akan mengukir ukirannya,” firman TUHAN semesta alam, “dan Aku akan menghapus kesalahan tanah ini dalam sehari.”

I. Pendahuluan: Kristus yang Dinyatakan dalam Simbol

Nabi Zakharia menulis kitabnya di tengah masa pasca-pembuangan, ketika bangsa Israel baru kembali dari pembuangan Babel. Mereka sedang membangun kembali Bait Allah, namun lebih dari sekadar pembangunan fisik, Tuhan sedang memulihkan hubungan perjanjian dengan umat-Nya.

Pasal 3 dari kitab Zakharia menggambarkan sebuah penglihatan yang luar biasa: Imam Besar Yosua berdiri di hadapan Allah dengan pakaian kotor, dituduh oleh Iblis, tetapi dibenarkan oleh kasih karunia Allah.

Dalam ayat 9, Tuhan berbicara tentang permata yang diletakkan di hadapan Yosua, yang memiliki tujuh mata, dan tentang penghapusan dosa dalam satu hari. Ayat ini bukan sekadar simbol pemulihan bangsa Israel, melainkan nubuat mesianik yang menunjuk kepada Kristus, Sang Imam Besar sejati dan Batu yang hidup dari Allah.

Sebagaimana dikatakan oleh Geerhardus Vos:

“Zakharia 3:9 adalah puncak dari teologi nubuatan pasca-pembuangan — sebuah visi yang memandang jauh ke depan kepada karya penebusan Kristus yang akan menghapus dosa umat-Nya dalam satu tindakan ilahi yang final.”

II. Eksposisi Frasa demi Frasa

1. “Sebab lihatlah, permata yang telah Aku letakkan di hadapan Yosua”

Kata “lihatlah” (hinneh dalam bahasa Ibrani) adalah panggilan perhatian — Tuhan memanggil nabi dan umat untuk memperhatikan sesuatu yang besar dan kudus.
“Permata” (eben, yang berarti “batu” atau “permata berharga”) menunjuk pada objek simbolik yang ditempatkan Tuhan sendiri di hadapan Imam Besar Yosua.

Siapakah permata ini?

John Calvin menafsirkan:

“Batu itu tidak lain adalah Kristus sendiri, yang oleh Bapa diletakkan sebagai dasar Gereja-Nya. Ia adalah batu yang hidup, pilihan dan berharga di hadapan Allah (1 Petrus 2:4–6).”

Dalam konteks teologi Reformed, batu ini adalah Kristus sebagai dasar perjanjian anugerah (Covenant of Grace). Allah sendiri yang meletakkannya — bukan karya manusia, melainkan anugerah yang bersumber dari kedaulatan Allah.

R.C. Sproul menambahkan:

“Simbol batu dalam Perjanjian Lama selalu berkaitan dengan stabilitas, kekuatan, dan dasar perjanjian. Ketika Allah berkata Ia meletakkan batu itu, berarti keselamatan umat tidak tergantung pada manusia, tetapi pada inisiatif Allah yang berdaulat.”

Batu ini ditempatkan “di hadapan Yosua” — Imam Besar yang menjadi perantara antara Allah dan umat. Ini melambangkan bahwa pelayanan imamat Yosua hanyalah bayangan dari pelayanan Kristus yang sempurna.
Seperti Yosua berdiri di hadapan Allah sebagai wakil bangsa, demikian pula Kristus, Sang Yosua sejati, berdiri di hadapan Bapa sebagai Pengantara kekal bagi umat-Nya.

Charles Spurgeon berkata:

“Kristus adalah batu yang ditempatkan di hadapan kita — bukan untuk kita ukir, tetapi untuk kita pandang dan percayai. Batu itu adalah anugerah Allah, bukan hasil kerja manusia.”

2. “Pada permata itu ada tujuh mata”

Simbol “tujuh mata” adalah gambaran misterius namun kaya makna. Dalam Alkitab, angka tujuh sering melambangkan kesempurnaan atau kelengkapan, sedangkan “mata” menunjuk pada penglihatan dan pengetahuan ilahi.

Tuhan menyatakan bahwa batu itu — yaitu Kristus — memiliki tujuh mata.
Artinya, Kristus memiliki pengetahuan sempurna dan pengawasan mutlak atas seluruh karya penebusan dan atas umat-Nya.

Herman Bavinck menjelaskan:

“Mata-mata pada batu itu menunjukkan bahwa Kristus, Batu yang hidup itu, adalah penuh dengan Roh Allah yang mengetahui segala sesuatu. Dalam diri-Nya berdiam segala hikmat dan pengetahuan yang sempurna.”

Hal ini sejajar dengan nubuatan lain di Zakharia 4:10:

“Mata TUHAN menjelajahi seluruh bumi.”

Kristus adalah manifestasi sempurna dari pengetahuan Allah — Ia adalah Sang Logos, Firman yang mengetahui hati manusia dan yang menilai dengan benar.
Tujuh mata juga menunjuk pada Roh Kudus yang bekerja di dalam dan melalui Kristus (bandingkan dengan Wahyu 5:6: “Anak Domba... memiliki tujuh mata, yaitu ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi.”)

Calvin berkata:

“Ketujuh mata pada batu itu bukan hanya tanda pengetahuan, tetapi juga pemeliharaan ilahi. Kristus mengawasi Gereja-Nya dengan perhatian penuh, tidak ada sesuatu pun yang luput dari mata-Nya.”

Dengan demikian, batu itu bukan benda mati, tetapi batu yang hidup — Kristus yang bangkit dan berdaulat, yang melihat dan menegakkan kebenaran-Nya di dunia.

3. “Lihatlah, Aku akan mengukir ukirannya,” firman TUHAN semesta alam

Bagian ini menggambarkan tindakan kreatif dan redemptif dari Allah sendiri terhadap batu itu.
Ungkapan “Aku akan mengukir ukirannya” (Ibrani: pittach pittuchah) menyiratkan pekerjaan tangan Allah yang penuh makna — bukan dekorasi, melainkan penetapan dan pemeteraian ilahi.

John Gill, seorang teolog Reformed Baptis abad ke-18, menulis:

“Pengukiran itu menunjuk pada penderitaan Kristus, ketika Ia ditandai dan diukir oleh paku, duri, dan salib. Allah sendiri yang menandai batu itu dengan tanda penebusan.”

Dengan kata lain, pengukiran ini adalah gambar dari salib Kristus.
Sang Batu yang sempurna itu diukir, dilukai, dan dimeteraikan dengan penderitaan demi keselamatan umat pilihan.

Bavinck menafsirkan ini secara redemptif-historis:

“Allah sendiri mengukir karya keselamatan di dalam diri Kristus. Penebusan bukan hasil evolusi moral manusia, tetapi tindakan langsung Allah yang menuliskan kasih karunia-Nya dalam daging Anak-Nya.”

Setiap pahatan pada Batu Kristus menandakan penderitaan yang mengandung kemuliaan. Sebagaimana Yesaya bernubuat:

“Ia tertikam oleh karena pemberontakan kita, diremukkan oleh karena kejahatan kita” (Yesaya 53:5).

Charles Spurgeon dengan penuh perenungan berkata:

“Allah sendiri yang mengukir Kristus di atas salib. Setiap luka adalah pahatan kasih. Setiap tetes darah adalah ukiran anugerah bagi umat-Nya.”

Jadi, pengukiran ini melambangkan pekerjaan penebusan yang dikerjakan Allah secara langsung dalam diri Kristus.

4. “Dan Aku akan menghapus kesalahan tanah ini dalam sehari”

Inilah puncak dari seluruh ayat: penghapusan dosa secara sempurna dan sekali untuk selamanya.

Kata “menghapus” (Ibrani: mashah) berarti “menghapuskan total,” “membersihkan,” atau “menghapus utang.”
Allah berjanji bahwa dalam satu hari, seluruh kesalahan tanah — yaitu dosa umat perjanjian — akan dihapuskan.

Kapan hari itu terjadi?

Semua teolog Reformed sepakat bahwa “sehari” di sini menunjuk kepada hari penyaliban Kristus di Golgota, hari ketika Anak Allah menanggung dosa dunia dan berkata, “Sudah selesai.”

R.C. Sproul menulis:

“Dalam satu hari di Kalvari, Allah melakukan apa yang tidak bisa dicapai oleh ribuan tahun ritual imamat: Ia menghapus dosa umat-Nya untuk selama-lamanya.”

Inilah inti dari teologi penebusan Reformed — atonement once for all (penebusan sekali untuk selamanya).
Tidak ada korban lain yang perlu ditambahkan; pengorbanan Kristus cukup, sempurna, dan final.

John Calvin berkata:

“Hari itu adalah hari yang tunggal dalam sejarah — hari ketika darah Kristus menutup seluruh dosa dunia, hari yang tidak akan pernah diulang. Dalam satu tindakan ketaatan, Ia membawa perdamaian kekal antara Allah dan manusia.”

Spurgeon menambahkan dengan nada penghiburan:

“Oh, hari yang diberkati itu! Hari ketika dosa dihapus dalam sekejap, bukan oleh usaha manusia, tetapi oleh tangan Allah yang berdaulat melalui darah Anak Domba-Nya.”

Dengan demikian, Zakharia 3:9 adalah nubuat yang jelas tentang karya penebusan Kristus di salib, yang menghapus dosa seluruh umat pilihan Allah secara tuntas.

III. Analisis Teologis Reformed

1. Kristus sebagai Batu Perjanjian (Covenantal Stone)

Dalam teologi perjanjian Reformed, Kristus adalah pusat dari seluruh sejarah keselamatan.
Zakharia 3:9 memperlihatkan Batu yang diletakkan oleh Allah sendiri — ini sejajar dengan nubuat dalam Yesaya 28:16:

“Lihatlah, Aku meletakkan di Sion sebuah batu dasar, batu yang teruji, batu penjuru yang mahal, dasar yang teguh.”

Batu itu adalah Kristus — dasar Gereja, objek iman, dan tumpuan keselamatan.

Bavinck menjelaskan:

“Allah meletakkan batu perjanjian-Nya, bukan di tangan manusia, tetapi di tangan-Nya sendiri. Keselamatan adalah sepenuhnya karya Allah, dan karena itu tidak bisa diguncang.”

Kebenaran ini meneguhkan doktrin Sola Gratia — keselamatan hanya oleh kasih karunia.

2. Tujuh Mata: Kristus yang Mahatahu dan Mahahadir

Tujuh mata pada batu itu menunjukkan bahwa Kristus memerintah dengan pengetahuan sempurna.
Ia melihat segala sesuatu — tidak hanya secara eksternal, tetapi sampai ke dalam hati manusia.

Dalam teologi Reformed, ini berkaitan dengan kedaulatan Kristus dalam memelihara Gereja-Nya.
Ia mengetahui keadaan setiap anak tebusan, mengawasi mereka dengan kasih, dan tidak ada yang tersembunyi dari pandangan-Nya.

R.C. Sproul berkata:

“Kedaulatan Allah bukan hanya kuasa tanpa arah, tetapi kuasa yang disertai pengetahuan sempurna. Kristus memerintah bukan secara buta, tetapi dengan mata yang melihat ke seluruh bumi.”

3. Pengukiran Ilahi: Penebusan yang Dikerjakan oleh Allah Sendiri

Ketika Allah berkata, “Aku akan mengukir ukirannya,” ini adalah deklarasi bahwa penebusan adalah karya Allah sepenuhnya (monergistik).
Dalam doktrin Reformed, keselamatan bukan hasil kerja sama antara manusia dan Allah, tetapi pekerjaan tunggal dari Allah yang berdaulat.

Calvin menulis:

“Allah sendiri adalah Pemahat keselamatan. Ia tidak menyerahkan pekerjaan itu kepada manusia. Ia menulis nama kita di tangan Anak-Nya yang terluka.”

Salib adalah ukiran kasih Allah — tempat keadilan dan kasih bertemu, di mana Allah menunjukkan bahwa Ia benar sekaligus membenarkan orang berdosa (Roma 3:26).

4. “Dalam Sehari”: Penebusan Sekali untuk Selamanya

Bagian ini menegaskan doktrin penting: sacrifice of Christ is once and for all.
Tidak seperti korban imamat dalam Perjanjian Lama yang terus diulang, korban Kristus bersifat final.

Bavinck menulis:

“Dalam satu hari di Golgota, seluruh sejarah keselamatan mencapai puncaknya. Dosa dihapus, perjanjian diperbarui, dan Kerajaan Allah dimeteraikan.”

Karena itu, umat Allah tidak perlu mencari pengampunan tambahan melalui usaha manusia — pengampunan sudah digenapi di dalam Kristus.

Spurgeon berkata:

“Setiap dosa, baik yang lampau, sekarang, maupun yang akan datang, dihapus dalam satu hari oleh darah Kristus. Tidak ada yang tersisa untuk ditambahkan.”

IV. Aplikasi Rohani dan Pastoral

1. Kristus Adalah Dasar Iman Kita

Sebagaimana batu itu diletakkan oleh Allah, demikian pula iman sejati berdiri di atas dasar Kristus.
Kita tidak membangun iman di atas pengalaman atau tradisi, tetapi di atas Kristus yang telah diukir di salib untuk kita.

R.C. Sproul berkata:

“Jika fondasi imanmu adalah Kristus, engkau tidak akan terguncang oleh badai apa pun, sebab batu itu telah diletakkan oleh tangan Allah sendiri.”

2. Penghiburan dari Pengawasan Kristus

Tujuh mata pada batu mengingatkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang luput dari perhatian Kristus.
Ia melihat air mata umat-Nya, kesetiaan kecil mereka, dan setiap penderitaan mereka.

Spurgeon berkata:

“Ketika engkau merasa terlupakan, ingatlah tujuh mata pada batu itu. Kristus melihat engkau dengan kasih yang tidak pernah berpaling.”

3. Ketaatan kepada Allah yang Mengukir

Jika Allah yang mengukir Kristus dengan penderitaan, maka kita pun — batu-batu hidup — akan dibentuk melalui tangan-Nya.
Proses ini mungkin menyakitkan, tetapi hasilnya mulia.

Calvin menulis:

“Allah tidak hanya mengukir Kristus untuk keselamatan kita, tetapi juga mengukir kita di dalam Kristus agar serupa dengan Dia.”

4. Kepastian Pengampunan yang Final

Kita sering merasa bersalah dan takut bahwa dosa kita belum dihapus tuntas.
Namun Zakharia 3:9 menegaskan: penghapusan terjadi dalam satu hari — di salib.
Tidak perlu ditambah, tidak perlu diulang.

Spurgeon menegaskan:

“Lihatlah ke salib, dan engkau akan melihat hari itu — hari ketika dosa-dosamu hilang seketika. Jangan menambahkan apa pun kepada pekerjaan yang telah selesai.”

V. Kristus dalam Zakharia 3:9 — Puncak Redemptive History

Zakharia 3:9 memadukan seluruh benang merah Injil:

SimbolPemenuhan dalam Kristus
Batu permataKristus, dasar perjanjian (1 Petrus 2:4–6)
Tujuh mataKristus yang penuh Roh Kudus dan pengawasan ilahi (Wahyu 5:6)
UkiranSalib dan penderitaan Kristus (Yesaya 53:5)
Penghapusan dosa dalam satu hariKematian Kristus di Golgota (Ibrani 10:10–14)

Seperti ditulis oleh Geerhardus Vos:

“Setiap simbol dalam Zakharia 3:9 mengarah ke satu peristiwa historis: penyaliban Kristus. Dalam satu hari itu, sejarah keselamatan mencapai klimaksnya.”

VI. Penutup — Batu yang Hidup di Tengah Umat

Zakharia 3:9 bukan sekadar nubuat simbolik, tetapi penglihatan tentang Injil Kristus yang hidup.
Batu yang diletakkan oleh Allah, dengan tujuh mata dan ukiran ilahi, menunjuk kepada Yesus Kristus — dasar Gereja, Imam Besar kekal, dan Penebus yang sempurna.

Ia telah menghapus dosa umat-Nya dalam satu hari.
Karena itu, kita tidak lagi berdiri dengan pakaian kotor seperti Yosua, melainkan telah mengenakan jubah keselamatan yang putih.

Sebagaimana Spurgeon menutup khotbahnya tentang ayat ini:

“Lihatlah batu itu — Kristus yang diukir oleh kasih. Ia adalah permata yang bercahaya, yang memandang engkau dengan tujuh mata kasih karunia. Ia telah menebus engkau dalam satu hari. Maka percayalah kepada-Nya, dan engkau akan berdiri di hadapan Allah tanpa cela.”

Previous Post