Markus 12:18–27: Allah Orang Hidup

Pendahuluan: Pertanyaan yang Salah kepada Pribadi yang Benar
Markus 12:18–27 mencatat salah satu dialog teologis paling tajam antara Yesus dan para pemimpin agama Yahudi, khususnya orang-orang Saduki. Mereka datang bukan untuk belajar, melainkan untuk mencobai dan menjebak Yesus dengan sebuah pertanyaan yang menurut mereka akan mempermalukan-Nya secara teologis.
Orang-orang Saduki menolak doktrin kebangkitan orang mati. Mereka hanya mengakui Taurat Musa (Pentateukh) sebagai Kitab Suci yang berotoritas dan menolak tradisi lisan serta kitab-kitab nabi dan tulisan. Dengan kecerdikan rasionalistik, mereka menyusun sebuah skenario ekstrem tentang perkawinan levirat (Ul. 25:5–10) untuk “membuktikan” bahwa kebangkitan adalah absurd.
Namun, dalam perikop ini, Yesus bukan hanya membantah argumen mereka. Ia membongkar akar kesesatan teologis mereka:
“Kamu tidak mengerti baik Kitab Suci maupun kuasa Allah” (ay. 24).
R.C. Sproul menyebut perikop ini sebagai:
“Salah satu contoh paling jelas bagaimana kesalahan doktrinal selalu bersumber dari kegagalan memahami Kitab Suci secara benar dan meremehkan kuasa Allah.”
Melalui eksposisi Markus 12:18–27, kita akan melihat bagaimana Yesus menegakkan doktrin kebangkitan, menegur teologi yang mati, dan menegaskan bahwa Allah yang sejati adalah Allah orang hidup, bukan Allah yang dibatasi oleh logika manusia.
Teks Alkitab: Markus 12:18–27 (AYT)
(Sebagaimana telah ditampilkan dari API SABDA, teks ayat-ayat ini menjadi dasar eksposisi.)
1. Markus 12:18 — Saduki dan Penolakan terhadap Kebangkitan
“Orang-orang Saduki, yang berkata bahwa tidak ada kebangkitan, datang kepada Yesus dan bertanya kepada-Nya…”
Markus langsung memperkenalkan latar teologis kelompok ini. Saduki bukan sekadar kelompok politik atau imam; mereka adalah rasionalis religius. Mereka menolak kebangkitan, malaikat, dan kehidupan setelah kematian (bdk. Kis. 23:8).
John Calvin mencatat:
“Saduki tidak menolak Allah secara terbuka, tetapi mereka mengosongkan iman dari kuasa dan pengharapan. Iman semacam ini adalah agama tanpa kehidupan.”
Penolakan terhadap kebangkitan bukan masalah sekunder. Dalam teologi Reformed, kebangkitan adalah inti pengharapan eskatologis. Tanpa kebangkitan, keadilan Allah tidak tergenapi, penebusan tidak lengkap, dan kemuliaan Kristus tidak dimahkotai.
Saduki datang kepada Yesus dengan praanggapan teologis yang salah, lalu menggunakan Kitab Suci untuk membenarkan penolakan mereka. Ini menjadi peringatan serius: seseorang dapat mengutip Alkitab, tetapi tetap sesat secara teologis.
2. Markus 12:19–23 — Argumentasi Rasional yang Mengabaikan Wahyu
Saduki mengajukan kasus perkawinan levirat: tujuh saudara menikahi seorang perempuan yang sama, dan semuanya mati tanpa keturunan.
“Pada hari kebangkitan, istri siapakah perempuan itu?” (ay. 23)
Pertanyaan ini bukan pertanyaan tulus, melainkan reduksi realitas kekal ke dalam kategori dunia fana. Mereka berasumsi bahwa kehidupan kebangkitan adalah kelanjutan mekanis dari struktur dunia sekarang.
Herman Bavinck menulis:
“Kesalahan besar rasionalisme religius adalah mengukur dunia yang akan datang dengan hukum-hukum dunia yang sekarang.”
Dalam teologi Reformed, ini disebut sebagai kegagalan membedakan ordo temporalis (tatanan sementara) dan ordo aeternus (tatanan kekal).
Saduki tidak dapat membayangkan kehidupan kebangkitan tanpa institusi pernikahan, karena bagi mereka, realitas hanya sebatas apa yang dapat dipahami sekarang.
Jonathan Edwards menyebut pola pikir ini sebagai:
“Imajinasi yang terikat pada bumi, sehingga tidak mampu memahami kemuliaan surgawi.”
3. Markus 12:24 — Diagnosis Yesus: Dua Akar Kesesatan
“Bukankah ini yang membuatmu sesat, karena kamu tidak mengerti baik Kitab Suci maupun kuasa Allah?”
Yesus tidak langsung menjawab skenario mereka. Ia menyerang akar persoalan.
Ada dua sumber kesesatan:
a. Tidak Mengerti Kitab Suci
Bukan berarti Saduki tidak membaca Taurat, tetapi mereka menafsirkan Kitab Suci secara sempit dan selektif. Mereka membaca teks tanpa tunduk pada maksud Allah yang menyeluruh.
John Owen menulis:
“Kitab Suci tidak dapat dipahami dengan benar tanpa kerendahan hati yang tunduk pada otoritas ilahi, bukan pada logika manusia.”
b. Tidak Mengenal Kuasa Allah
Saduki membatasi Allah pada apa yang menurut mereka masuk akal. Mereka tidak percaya bahwa Allah sanggup menciptakan realitas baru di luar pengalaman manusia sekarang.
R.C. Sproul menegaskan:
“Allah yang tidak sanggup membangkitkan orang mati bukanlah Allah Alkitab, melainkan berhala intelektual.”
Dalam teologi Reformed, Allah adalah Mahakuasa (omnipotent). Menolak kebangkitan berarti meremehkan kuasa penciptaan dan pemeliharaan Allah.
4. Markus 12:25 — Natur Kehidupan Kebangkitan
“Ketika mereka bangkit dari antara orang mati, mereka tidak kawin ataupun dikawinkan, tetapi mereka seperti para malaikat di surga.”
Yesus tidak berkata bahwa manusia menjadi malaikat, tetapi seperti malaikat dalam satu aspek tertentu: tidak menikah.
Pernikahan adalah institusi sementara yang menunjuk pada realitas yang lebih besar (Efesus 5:32).
John Calvin menjelaskan:
“Pernikahan diberikan untuk kehidupan fana. Ketika tujuan-tujuannya telah digenapi, Allah membawa umat-Nya kepada bentuk persekutuan yang lebih sempurna.”
Dalam kebangkitan:
-
Tidak ada kematian → tidak perlu kelangsungan keturunan
-
Tidak ada keterpisahan → persekutuan dengan Allah sempurna
Geerhardus Vos menyebut ini sebagai:
“Transisi dari simbol menuju realitas, dari bayangan menuju kepenuhan.”
Ini bukan pengurangan kemanusiaan, tetapi penyempurnaan kemanusiaan.
5. Markus 12:26 — Kebangkitan dalam Taurat Musa
Yesus dengan jenius ilahi mengutip Keluaran 3:6 — teks yang diakui Saduki.
“Aku adalah Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub.”
Perhatikan:
Allah tidak berkata, “Aku dahulu adalah Allah mereka”, tetapi “Aku adalah”.
Calvin menegaskan:
“Dengan satu kata kerja, Kristus meruntuhkan seluruh teologi Saduki.”
Jika Allah adalah Allah Abraham, Ishak, dan Yakub saat ini, maka mereka masih hidup di hadapan Allah.
Relasi perjanjian Allah tidak diputus oleh kematian jasmani.
Bavinck menyatakan:
“Perjanjian Allah bersifat kekal, dan karena itu, kehidupan umat-Nya tidak dapat berakhir di kubur.”
Yesus menunjukkan bahwa doktrin kebangkitan tidak asing bagi Taurat, jika dibaca dengan iman dan pemahaman perjanjian.
6. Markus 12:27 — Allah Orang Hidup
“Dia bukan Allah orang mati, tetapi Allah orang yang hidup. Kamu benar-benar sesat!”
Ini adalah klimaks perikop.
Yesus menegaskan identitas Allah: Allah yang hidup dan memberi hidup.
Dalam teologi Reformed:
-
Allah adalah sumber hidup
-
Allah memelihara hidup
-
Allah memulihkan hidup melalui kebangkitan
Jonathan Edwards menulis:
“Allah dimuliakan bukan hanya dalam penciptaan hidup, tetapi dalam memulihkan hidup yang telah jatuh.”
Kesesatan Saduki bukan hanya intelektual, tetapi teologis dan eksistensial. Mereka menyembah Allah yang tidak memberi pengharapan kekal.
7. Kebangkitan dalam Kerangka Kristologis
Yesus tidak hanya mengajarkan kebangkitan; Ia sendiri adalah kebangkitan dan hidup (Yohanes 11:25).
Perikop ini mengarah ke salib dan kebangkitan Kristus sendiri.
Louis Berkhof menulis:
“Kebangkitan Kristus adalah dasar dari semua kebangkitan orang percaya.”
Tanpa kebangkitan:
-
Iman sia-sia (1 Korintus 15:14)
-
Dosa belum dikalahkan
-
Kematian menang
Namun dalam Kristus, kebangkitan menjadi jaminan eskatologis bagi umat pilihan.
8. Implikasi Teologis Reformed
a. Otoritas Kitab Suci
Yesus menegaskan bahwa kesesatan lahir dari ketidakmengertian akan Kitab Suci.
Teologi Reformed berdiri di atas prinsip sola Scriptura — bukan sekadar membaca Alkitab, tetapi menundukkan diri pada keseluruhan kesaksiannya.
b. Kuasa Allah yang Tak Terbatas
Allah tidak terikat oleh hukum alam ciptaan-Nya sendiri.
Kebangkitan adalah tindakan penciptaan baru.
c. Pengharapan Eskatologis
Iman Kristen bukan hanya tentang hidup sekarang, tetapi tentang hidup yang akan datang.
Tanpa kebangkitan, iman menjadi moralitas kosong.
9. Aplikasi Pastoral
-
Iman harus melampaui rasionalisme sempit
-
Pengharapan Kristen melampaui kubur
-
Allah yang kita sembah harus Allah yang hidup
-
Teologi yang benar menumbuhkan pengharapan, bukan keputusasaan
Charles Spurgeon berkata:
“Iman yang tidak memiliki kebangkitan adalah iman yang tidak memiliki masa depan.”
Kesimpulan: Dari Pertanyaan Licik ke Kebenaran Kekal
Markus 12:18–27 mengajarkan bahwa:
-
Kesalahan teologi lahir dari pembacaan Alkitab yang keliru
-
Allah tidak dapat dibatasi oleh logika manusia
-
Kebangkitan adalah pusat pengharapan iman Kristen
Allah yang sejati adalah Allah orang hidup, yang memelihara umat-Nya melampaui kematian, dan yang akan membangkitkan mereka dalam kemuliaan.