Zakharia 4:1–4: Bukan dengan Kekuatan

Pendahuluan: Visi di Tengah Kelemahan
Kitab Zakharia adalah kitab pengharapan yang ditulis kepada umat Allah yang baru saja kembali dari pembuangan di Babel. Yerusalem hancur, Bait Suci runtuh, dan iman umat merosot. Dalam konteks kehancuran itu, Allah mengirimkan nabi Zakharia untuk meneguhkan umat-Nya dengan serangkaian penglihatan profetis.
Zakharia 4:1–4 adalah penglihatan kelima dari delapan penglihatan yang diterima nabi itu. Visi ini berisi gambar kaki dian emas dengan dua pohon zaitun di sampingnya.
Gambaran itu penuh makna simbolik: Allah menunjukkan bahwa pekerjaan pemulihan Bait Allah dan kebangunan rohani umat tidak akan terjadi oleh kekuatan manusia, tetapi oleh Roh Allah sendiri.
Ayat-ayat ini merupakan pendahuluan dari pernyataan penting di ayat 6 — “Bukan dengan kekuatan, bukan dengan keperkasaan, melainkan dengan Roh-Ku, firman TUHAN semesta alam.”
Eksposisi terhadap ayat 1–4 akan membawa kita memahami konteks rohani dari penglihatan ini — tentang kebangkitan, penyertaan Roh Kudus, dan panggilan untuk hidup bergantung pada kuasa ilahi.
John Calvin dalam komentarnya menulis:
“Allah menunjukkan kepada Zakharia bahwa kemajuan pekerjaan-Nya bukanlah hasil tangan manusia. Semua keberhasilan berasal dari minyak yang mengalir terus — lambang dari Roh Kudus yang menopang umat-Nya.”
1. Zakharia 4:1 — “Dibangunkan Seperti dari Tidur”: Kebangkitan Rohani
“Lalu, malaikat yang berbicara denganku itu kembali dan membangunkan aku, seperti seseorang yang dibangunkan dari tidurnya.”
Zakharia “dibangunkan seperti dari tidur.” Ini bukan tidur jasmani, melainkan keadaan rohani yang memerlukan pembaruan.
Nabi sudah menerima empat penglihatan sebelumnya, namun kini ia seakan kehilangan daya rohani untuk memahami pekerjaan Allah berikutnya. Malaikat membangunkannya — tindakan ini menggambarkan inisiatif Allah dalam membangkitkan kesadaran rohani hamba-hamba-Nya.
Herman Bavinck menulis dalam Reformed Dogmatics:
“Kebenaran Allah tidak dapat dipahami oleh pikiran yang tertidur dalam dunia; hanya oleh kebangkitan rohani, manusia dapat melihat karya Allah.”
Kebangunan rohani selalu dimulai dari pembangkitan oleh Roh Allah.
Seperti Zakharia, banyak orang percaya dapat terjebak dalam kelelahan iman, rutinitas, atau keputusasaan. Allah harus “membangunkan” kita kembali — bukan dengan teriakan manusia, tetapi dengan bisikan Roh Kudus yang lembut.
Matthew Henry menafsirkan ayat ini:
“Terkadang nabi-nabi Tuhan, bahkan mereka yang paling setia, perlu dibangunkan kembali agar mereka dapat merenungkan pekerjaan Tuhan dengan lebih sungguh-sungguh.”
Kebenaran praktisnya jelas: tanpa kebangkitan rohani, kita tidak dapat melihat rencana Allah.
Pekerjaan Tuhan hanya dapat dipahami oleh mereka yang hati dan pikirannya dibangunkan oleh Roh Kudus.
2. Zakharia 4:2 — “Aku Melihat Sebuah Kaki Dian Emas”: Simbol Kehadiran Allah
“Kemudian, dia bertanya kepadaku, ‘Apa yang kamu lihat?’ Jawabku, ‘Aku melihat dan tampaklah sebuah kaki dian, seluruhnya dari emas, dengan tempat minyak di atasnya, dan tujuh pelita ada padanya dengan tujuh corong pada ketujuh pelita itu di bagian atasnya.’”
Gambaran ini langsung mengingatkan pada kaki dian (menorah) dalam Kemah Suci (Keluaran 25:31–40). Menorah adalah lambang terang Allah di tengah umat-Nya. Dalam konteks Zakharia, itu melambangkan Israel yang dipanggil untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa (Yesaya 42:6).
Namun di sini, ada keunikan:
-
Kaki dian ini “seluruhnya dari emas” — melambangkan kemurnian dan kekudusan Allah.
-
Terdapat “tempat minyak di atasnya” — wadah sumber minyak yang menyuplai pelita secara terus-menerus, bukan melalui tangan manusia seperti pada zaman Musa.
Artinya, Allah sendiri menjadi sumber terang umat-Nya.
John Owen menulis:
“Kaki dian adalah lambang Gereja yang memantulkan terang Kristus. Namun minyaknya bukan dari manusia, melainkan dari Roh yang tidak pernah berhenti mencurahkan anugerah.”
Tujuh pelita dengan tujuh corong menggambarkan kesempurnaan terang dan kelimpahan penyertaan Roh Kudus.
Dalam Wahyu 1:12–20, Kristus digambarkan berdiri di tengah-tengah tujuh kaki dian — menggenapi simbol Zakharia ini.
Kaki dian dari emas juga menegaskan bahwa kemuliaan Gereja bukan dari dirinya, melainkan dari Allah.
Seperti gereja modern yang berusaha bersinar melalui strategi manusia, Israel pada zaman itu mungkin tergoda untuk mengandalkan kekuatan politik. Namun penglihatan ini menegaskan bahwa terang sejati hanya datang dari minyak ilahi, bukan dari usaha manusia.
Charles Spurgeon berkata:
“Pelita tidak dapat bersinar tanpa minyak. Demikian pula gereja tidak dapat bersinar tanpa Roh Kudus.”
3. Zakharia 4:3 — “Dua Pohon Zaitun”: Sumber Minyak Ilahi
“Ada dua pohon zaitun di dekatnya, satu di sebelah kanan tempat minyak itu dan satu lagi di sebelah kirinya.”
Dua pohon zaitun itu akan dijelaskan lebih lanjut dalam ayat 11–14, di mana mereka disebut “dua orang yang diurapi” yang melayani Tuhan semesta alam — yaitu Yosua (imam besar) dan Zerubabel (pemimpin sipil).
Namun di tingkat simbolik, kedua pohon ini menggambarkan saluran-saluran anugerah Allah yang menopang umat.
Zaitun menghasilkan minyak, dan minyak adalah lambang Roh Kudus.
Artinya, kehidupan rohani dan pelayanan umat hanya bisa berlangsung karena aliran Roh yang terus-menerus.
John Calvin menafsirkan:
“Allah mengingatkan bahwa bahkan imam dan raja — dua jabatan tertinggi — tidak dapat menjalankan tugas mereka tanpa pengurapan Roh Kudus. Semua pelayanan rohani bergantung pada kuasa Allah semata.”
Bavinck menambahkan:
“Dalam Perjanjian Lama, pengurapan minyak menandakan Roh yang memberi kuasa. Dalam Perjanjian Baru, minyak itu adalah Roh Kudus yang tinggal dalam setiap orang percaya.”
Kedua pohon zaitun itu berdiri di kanan dan kiri tempat minyak — menggambarkan keseimbangan pelayanan rohani dan kepemimpinan praktis.
Yosua dan Zerubabel bekerja bersama — iman dan tindakan, doa dan kerja, imam dan raja.
Inilah prinsip Reformed yang mendalam: anugerah Allah bekerja melalui sarana manusia yang diurapi.
Pelayanan gereja bukan sekadar aktivitas manusia, tetapi partisipasi dalam pekerjaan Roh Kudus.
Kehidupan iman menjadi mandul ketika terputus dari sumber minyak ini.
4. Zakharia 4:4 — “Apakah Arti Semua Ini?”: Kehausan akan Pewahyuan
“Lalu, aku menjawab dan bertanya kepada malaikat yang berbicara denganku, kataku, ‘Apakah arti semua ini, Tuanku?’”
Pertanyaan Zakharia menunjukkan kerendahan hati seorang hamba Tuhan yang tidak puas hanya dengan melihat penglihatan, tetapi ingin memahami maknanya.
Dalam teologi Reformed, wahyu Allah harus disertai pemahaman yang lahir dari iman.
Calvin kembali menulis:
“Allah tidak berbicara agar manusia kagum, tetapi agar manusia mengerti dan taat. Zakharia menjadi teladan bagi setiap orang percaya yang haus akan makna firman Tuhan.”
Sikap bertanya ini juga menegaskan bahwa pemahaman rohani tidak otomatis.
Zakharia adalah nabi, tetapi ia tetap bergantung pada bimbingan ilahi.
Begitu pula kita — kita tidak dapat memahami firman tanpa penerangan Roh Kudus.
John Owen, dalam The Holy Spirit, menjelaskan:
“Penerangan Roh Kudus tidak hanya membuka teks, tetapi membuka hati untuk mengasihi kebenaran yang disingkapkan.”
Pertanyaan Zakharia adalah doa tersembunyi setiap pembelajar Alkitab:
“Tuhan, bukakanlah mataku agar aku mengerti maksud-Mu.”
Inilah inti dari eksposisi teologis Reformed: pencarian pengertian bukan untuk spekulasi, tetapi untuk transformasi.
5. Tema Sentral: “Bukan dengan Kekuatan, Melainkan dengan Roh-Ku”
Meskipun ayat 6 belum diminta, kita tidak dapat memahami 1–4 tanpa melihat klimaksnya di sana.
Seluruh penglihatan ini adalah persiapan untuk pernyataan ilahi:
“Bukan dengan kekuatan, bukan dengan keperkasaan, melainkan dengan Roh-Ku.”
Artinya, pekerjaan Allah — baik pembangunan Bait Suci secara fisik maupun pembangunan rohani umat — tidak dapat bergantung pada sumber daya manusia.
R.C. Sproul menjelaskan:
“Semua usaha manusia tanpa kuasa Roh hanyalah kekristenan moral tanpa kehidupan. Gereja sejati berdiri bukan karena kecerdikan atau organisasi, tetapi karena minyak Roh yang terus mengalir.”
Gereja yang sejati adalah “kaki dian” yang memantulkan terang Kristus, dan minyak yang membuatnya menyala adalah Roh Kudus.
Tanpa minyak itu, pelita padam. Tanpa Roh, gereja menjadi museum.
6. Eksposisi Teologis: Kristus sebagai Terang dan Sumber Minyak
Dalam terang keseluruhan Alkitab, penglihatan Zakharia menunjuk pada Kristus, Sang Imam dan Raja sejati.
Ia adalah penggenapan sempurna dari dua pohon zaitun: diurapi tanpa batas oleh Roh Kudus (Yesaya 61:1; Yohanes 3:34).
Bavinck menulis:
“Seluruh Perjanjian Lama menunjuk kepada Kristus yang akan menjadi Pengurapan Allah yang sempurna — sumber kehidupan dan terang bagi umat-Nya.”
Jonathan Edwards juga menafsirkan simbol minyak sebagai aliran kasih karunia dari Kristus kepada Gereja.
“Roh Kudus adalah minyak yang mengalir dari Kristus, kepala Gereja, ke setiap anggota-Nya.”
Kaki dian emas melambangkan Gereja (Wahyu 1:20).
Kristus berjalan di tengah-tengah kaki dian itu — artinya, Ia sendiri memelihara terang umat-Nya.
Minyak Roh Kudus mengalir terus dari Kristus yang telah dimuliakan (Yohanes 16:7).
Oleh karena itu, Zakharia 4:1–4 bukan hanya tentang pemulihan Bait Allah di masa lampau, tetapi tentang kehidupan Gereja di setiap zaman.
Setiap kali terang iman hampir padam, Allah membangunkan umat-Nya, mengalirkan kembali minyak-Nya, dan meneguhkan janji-Nya bahwa pekerjaan-Nya akan berdiri selamanya.
7. Aplikasi bagi Gereja dan Hidup Pribadi
a. Dibangunkan dari Tidur Rohani
Kita hidup di zaman di mana banyak orang percaya tertidur dalam kenyamanan rohani.
Kita mungkin aktif secara lahiriah, namun tidak lagi peka terhadap suara Roh Kudus.
Zakharia mengingatkan bahwa kebangunan sejati dimulai dari tindakan Allah yang membangunkan umat-Nya melalui firman dan Roh.
b. Menjadi Kaki Dian yang Menyala
Gereja dipanggil untuk menjadi terang dunia (Matius 5:14–16).
Namun terang itu hanya nyata bila minyak Roh Kudus mengalir dalam kehidupan setiap anggota.
Kita tidak dapat memancarkan terang Kristus tanpa kehidupan doa, penyembahan, dan firman yang terus-menerus.
Spurgeon berkata:
“Gereja yang tidak berdoa adalah pelita tanpa minyak — indah di luar, tetapi gelap di dalam.”
c. Bergantung pada Kuasa Roh Kudus
Visi ini menghancurkan semua keangkuhan manusia.
Zerubabel tidak akan menyelesaikan pembangunan Bait Allah dengan tenaga politik atau strategi militer, tetapi dengan kuasa Roh.
Demikian juga kita — pelayanan sejati bukan hasil kecerdikan, melainkan hasil ketundukan kepada kuasa ilahi.
John Piper menegaskan:
“Pelayanan sejati adalah keajaiban, bukan prestasi. Itu terjadi ketika manusia lemah menyerahkan diri kepada kekuatan yang tak terbatas.”
d. Terus Bertanya dan Haus akan Firman
Zakharia bertanya, “Apakah arti semua ini?”
Orang yang haus akan kebenaran tidak puas dengan penglihatan dangkal.
Gereja Reformed menekankan pentingnya eksposisi Firman — karena hanya dengan pengertian yang benar, iman dapat bertumbuh.
8. Refleksi Akhir: Dari Yerusalem ke Gereja Kristus
Kaki dian emas di Bait Allah dahulu adalah simbol kehadiran Allah di tengah Israel.
Kini, gereja adalah Bait Roh Kudus, dan setiap orang percaya adalah pelita kecil dalam dunia yang gelap.
Namun minyak itu tetap satu dan sama — Roh Kudus yang mengalir dari Kristus.
Ketika kita merasa lelah, ketika terang iman mulai redup, ingatlah bahwa sumber minyak itu tidak pernah kering.
Tugas kita bukan menciptakan terang, melainkan menjaga agar minyak terus mengalir melalui doa, firman, dan ketaatan.
Kesimpulan Teologis
-
Kebangunan rohani hanya mungkin bila Allah membangunkan umat-Nya (ayat 1).
-
Kaki dian emas melambangkan umat Allah yang dipanggil untuk memancarkan terang-Nya (ayat 2).
-
Dua pohon zaitun menggambarkan aliran terus-menerus dari Roh Kudus yang menopang kehidupan rohani (ayat 3).
-
Pertanyaan Zakharia menunjukkan kerendahan hati dan kehausan akan pewahyuan (ayat 4).
-
Seluruh penglihatan ini menunjuk pada Kristus, sumber minyak dan terang Gereja (penggenapan mesianik).