Zakharia 4:11–14: Diurapi untuk Berdiri di Hadapan Tuhan

Pendahuluan: Penglihatan, Roh Kudus, dan Kepemimpinan Umat Allah
Zakharia 4 merupakan bagian dari rangkaian penglihatan malam yang diterima nabi Zakharia pada masa pasca-pembuangan. Bangsa Israel telah kembali dari Babel, tetapi hidup dalam kondisi lemah, terancam, dan penuh kekecewaan. Bait Allah belum selesai dibangun, kepemimpinan rapuh, dan umat bertanya-tanya apakah janji Allah masih berlaku.
Zakharia 4:11–14 adalah penutup teologis dari penglihatan tentang kandil emas dan minyak yang mengalir terus-menerus. Jika ayat 1–10 menekankan prinsip besar, “Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan Roh-Ku”, maka ayat 11–14 menjelaskan bagaimana prinsip itu diwujudkan secara konkret dalam sejarah umat Allah.
Dalam teologi Reformed, bagian ini sangat penting karena memperlihatkan hubungan antara Roh Kudus, jabatan yang diurapi, dan kelangsungan pekerjaan Allah di dunia.
1. Pertanyaan Nabi dan Kerendahan Hati Pewahyuan (Zakharia 4:11–13)
1.1 Nabi yang Bertanya, Bukan Menebak
Zakharia dua kali bertanya tentang makna penglihatan itu. Ini menunjukkan prinsip fundamental hermeneutika Reformed: wahyu Allah harus ditafsirkan oleh Allah sendiri.
John Calvin menekankan bahwa sikap Zakharia adalah teladan iman sejati—bukan iman yang berspekulasi, tetapi iman yang menunggu penjelasan ilahi. Nabi tidak memaksakan makna simbolik berdasarkan logika manusia, melainkan mengakui keterbatasannya.
“Tidak, tuanku!”
Jawaban ini adalah pengakuan iman yang rendah hati, bukan kebodohan rohani.
1.2 Pewahyuan yang Bersifat Progresif
Geerhardus Vos menegaskan bahwa wahyu Allah dalam sejarah bersifat progresif dan pedagogis. Allah tidak selalu menjelaskan semuanya sekaligus. Pertanyaan Zakharia membuka ruang bagi penyingkapan makna yang lebih dalam.
Ini penting dalam teologi Reformed: ketidaktahuan bukan dosa jika disertai ketergantungan pada firman Allah.
2. Dua Pohon Zaitun dan Minyak yang Mengalir
2.1 Zaitun sebagai Simbol Roh Kudus
Dalam seluruh Alkitab, minyak secara konsisten melambangkan Roh Kudus—kehadiran Allah yang menguduskan, memperlengkapi, dan menghidupkan.
Herman Bavinck menegaskan bahwa Roh Kudus bukan sekadar kuasa impersonal, tetapi Pribadi ilahi yang mengalirkan hidup Allah ke dalam umat-Nya. Fakta bahwa minyak ini mengalir terus-menerus menunjukkan bahwa pekerjaan Allah tidak bergantung pada sumber daya manusia.
Kandil tidak diisi ulang oleh tangan manusia; minyak mengalir langsung dari pohon zaitun. Ini adalah gambaran visual dari anugerah yang berkelanjutan.
2.2 Saluran Emas: Sarana Anugerah
Meredith G. Kline menafsirkan pipa emas sebagai simbol sarana perjanjian—alat-alat yang Allah pakai untuk menyalurkan kehidupan-Nya kepada umat.
Dalam kerangka Reformed, ini menggemakan doktrin means of grace: firman, sakramen, dan jabatan gerejawi bukan sumber kuasa, tetapi saluran yang dipakai Roh Kudus.
3. “Kedua Orang yang Diurapi” (Zakharia 4:14)
“Inilah kedua orang yang diurapi yang berdiri di dekat Tuhan seluruh bumi.”
Ayat ini adalah kunci teologis seluruh perikop.
4. Identitas Kedua Orang yang Diurapi
4.1 Yosua dan Zerubabel: Imam dan Raja
Secara historis, mayoritas penafsir Reformed sepakat bahwa kedua orang yang diurapi adalah:
-
Yosua, imam besar
-
Zerubabel, gubernur keturunan Daud
John Calvin menyatakan bahwa Allah dengan sengaja meneguhkan kembali dua jabatan utama perjanjian: keimaman dan kerajaan.
Ini menegaskan bahwa pemulihan umat Allah tidak dapat dilepaskan dari ibadah yang benar dan kepemimpinan yang sah.
4.2 Berdiri di Hadapan Tuhan Seluruh Bumi
Frasa ini menunjukkan bahwa kedua tokoh tersebut tidak bertindak atas otoritas sendiri, melainkan sebagai hamba yang terus-menerus berada di hadapan Allah.
O. Palmer Robertson menekankan bahwa posisi ini adalah posisi ketergantungan total. Mereka tidak memerintah dari pusat kekuasaan dunia, tetapi dari hadapan Tuhan.
5. Tipologi Kristologis dalam Teologi Reformed
5.1 Imam dan Raja Disatukan dalam Kristus
Dalam Perjanjian Lama, jabatan imam dan raja dipisahkan. Namun Zakharia 4 menunjuk ke depan, kepada satu Pribadi yang akan menyatukan kedua jabatan itu.
Herman Bavinck menyatakan bahwa Kristus adalah:
-
Imam Besar yang sempurna
-
Raja yang memerintah dengan keadilan
-
Yang diurapi oleh Roh tanpa batas
Zakharia 4:14 adalah bayangan profetis dari Kristus sebagai Mesias sejati.
5.2 Roh Kudus dan Mesias
Minyak yang mengalir dari pohon zaitun menunjuk kepada pengurapan Roh atas Kristus (Yesaya 61). Kristus tidak bertindak dalam kuasa manusia, tetapi dalam kepenuhan Roh Kudus.
Michael Horton menekankan bahwa pelayanan Kristus adalah model bagi gereja: ketergantungan total pada Roh, bukan pada strategi dunia.
6. Implikasi bagi Gereja Masa Kini
6.1 Kepemimpinan yang Diurapi, Bukan Dikuasai Ambisi
Zakharia 4 menegur gereja modern yang sering menggantikan kuasa Roh dengan:
-
Karisma pribadi
-
Manajemen pragmatis
-
Popularitas budaya
Teologi Reformed menegaskan bahwa keabsahan pelayanan tidak terletak pada keberhasilan lahiriah, tetapi pada kesetiaan kepada panggilan Allah.
6.2 Gereja sebagai Kandil, Bukan Sumber Cahaya
Gereja bukan sumber terang; Kristuslah terang dunia. Gereja hanyalah kandil yang menyatakan terang itu.
Sinclair B. Ferguson menegaskan bahwa gereja bersinar hanya sejauh ia dipenuhi oleh Roh Kudus.
7. Dimensi Eskatologis: Tuhan Seluruh Bumi
Frasa “Tuhan seluruh bumi” menegaskan bahwa penglihatan ini melampaui konteks pasca-pembuangan. Allah yang sama akan memerintah atas seluruh ciptaan.
Geerhardus Vos melihat ini sebagai pengharapan eskatologis: kerajaan Allah yang akan digenapi secara penuh ketika Kristus datang kembali.
Kesimpulan Teologis
Zakharia 4:11–14 mengajarkan bahwa:
-
Pekerjaan Allah digenapi oleh Roh Kudus
-
Allah memakai hamba yang diurapi, bukan pahlawan manusia
-
Kepemimpinan sejati berdiri di hadapan Tuhan
-
Seluruh penglihatan ini berpuncak pada Kristus
Gereja dipanggil untuk hidup dan melayani bukan dengan keperkasaan, tetapi dengan Roh Tuhan.