Zakharia 4:5–7: Bukan dengan Kegagahan, Bukan dengan Kekuatan

Pendahuluan: Ketika Umat Allah Lemah, Roh Tuhan Berfirman
Kitab Zakharia 4:5–7ditulis pada masa yang sangat genting dalam sejarah penebusan. Umat Allah baru saja kembali dari pembuangan Babel. Kota Yerusalem masih rusak, Bait Suci belum selesai dibangun, dan bangsa itu secara politis lemah, ekonomis miskin, serta rohani rapuh. Harapan tampak kecil, dan tantangan terasa seperti gunung besar yang mustahil dilalui.
Namun justru di tengah kondisi seperti itulah Tuhan menyatakan firman yang menjadi salah satu pernyataan teologis paling penting dalam seluruh Alkitab:
“Bukan dengan kegagahan dan bukan dengan kekuatan, melainkan oleh Roh-Ku.”
Ayat ini bukan sekadar slogan rohani. Ia adalah pernyataan prinsip kerajaan Allah, fondasi teologi Reformed tentang anugerah, kedaulatan Allah, dan karya Roh Kudus dalam sejarah keselamatan.
John Calvin menulis:
“Allah sengaja menanggalkan segala kekuatan manusia supaya kemuliaan karya-Nya hanya dikaitkan dengan Roh-Nya.”
I. Konteks Historis dan Redemptif Kitab Zakharia
1. Masa Pasca-Pembuangan: Harapan yang Rapuh
Zakharia melayani sekitar tahun 520 SM, sejaman dengan nabi Hagai. Zerubabel adalah gubernur Yehuda, keturunan Daud, dan Yosua adalah imam besar. Pembangunan Bait Suci terhambat oleh tekanan eksternal dan keputusasaan internal.
O. Palmer Robertson menjelaskan:
“Zakharia melayani umat yang telah kembali secara geografis, tetapi belum sepenuhnya pulih secara rohani.”
Di sinilah penglihatan-penglihatan Zakharia menjadi sarana penghiburan dan koreksi ilahi.
2. Tema Besar Zakharia: Kerajaan Allah oleh Roh
Kitab ini sarat dengan simbol, visi, dan nubuat mesianik. Namun benang merahnya jelas: Allah akan membangun kerajaan-Nya bukan melalui kekuatan politik, melainkan melalui karya Roh Kudus.
Geerhardus Vos menulis:
“Zakharia mengajarkan bahwa fase akhir sejarah penebusan akan ditandai bukan oleh pedang, tetapi oleh Roh.”
II. Eksposisi Zakharia 4:5
“Apakah kamu tidak tahu apa arti semua ini?”
1. Ketidaktahuan Nabi dan Ketergantungan pada Wahyu
Zakharia, seorang nabi, mengakui ketidaktahuannya. Ini menunjukkan bahwa makna karya Allah tidak dapat disimpulkan oleh akal manusia semata.
Herman Bavinck menegaskan:
“Penyataan Allah tidak lahir dari refleksi religius manusia, melainkan dari inisiatif Allah yang menyatakan diri.”
Sikap Zakharia mencerminkan prinsip Reformed: sola revelatio—hanya Allah yang dapat menjelaskan karya-Nya sendiri.
2. Wahyu sebagai Tindakan Anugerah
Pertanyaan malaikat bukan untuk mempermalukan, tetapi untuk menyiapkan hati nabi menerima firman Tuhan. Ini mencerminkan cara Allah mendidik umat-Nya: anugerah mendahului pengertian.
III. Eksposisi Zakharia 4:6
“Bukan dengan kegagahan dan bukan dengan kekuatan, melainkan oleh Roh-Ku.”
Ayat ini adalah pusat teologis perikop ini.
1. Penolakan terhadap Kepercayaan pada Daya Manusia
“Kegagahan” dan “kekuatan” menunjuk pada:
-
Kapasitas militer,
-
Sumber daya politik,
-
Strategi manusia.
Allah secara eksplisit meniadakan keefektifan sarana manusia sebagai dasar keberhasilan kerajaan-Nya.
John Calvin menulis:
“Allah tidak berkata bahwa kekuatan manusia tidak berguna sama sekali, tetapi bahwa ia tidak menentukan hasil.”
2. Roh Kudus sebagai Agen Utama Sejarah Penebusan
Roh Kudus di sini bukan sekadar sumber inspirasi pribadi, melainkan kuasa ilahi yang menggerakkan sejarah.
Louis Berkhof menjelaskan:
“Roh Kudus adalah pelaksana karya keselamatan Allah dalam waktu, menerapkan apa yang telah direncanakan Bapa dan dikerjakan oleh Anak.”
Dalam konteks Zerubabel, Roh Kudus:
-
Menguatkan pemimpin umat,
-
Menjamin keberhasilan rencana Allah,
-
Menyatakan bahwa proyek Allah tidak akan gagal.
3. Relevansi Reformed: Monergisme Keselamatan
Ayat ini sejalan dengan prinsip monergisme, yaitu bahwa keselamatan dan pembangunan kerajaan Allah adalah karya Allah semata.
R.C. Sproul:
“Jika Roh Allah tidak bekerja, maka tidak ada kuasa di bumi yang dapat menghasilkan kehidupan rohani.”
IV. Eksposisi Zakharia 4:7
“Siapakah kamu, hai gunung yang besar?”
1. Gunung sebagai Simbol Hambatan Besar
“Gunung” melambangkan:
-
Oposisi politik,
-
Tekanan ekonomi,
-
Keputusasaan rohani,
-
Bahkan kuasa setan.
Namun Allah tidak bernegosiasi dengan gunung; Ia menyatakannya akan diratakan.
Meredith G. Kline menulis:
“Gunung dalam nubuat sering melambangkan kekuatan kosmik yang menentang pemerintahan Allah.”
2. Zerubabel sebagai Bayangan Mesias
Zerubabel, keturunan Daud, adalah tipologi Kristus. Apa yang dijanjikan kepadanya digenapi secara penuh dalam Yesus Kristus.
Herman Bavinck:
“Zerubabel adalah alat sementara; Kristus adalah penggenapan kekal.”
3. Batu Utama dan Sorak Sorai Anugerah
Batu utama (capstone) melambangkan:
-
Penyelesaian karya Allah,
-
Kristus sebagai batu penjuru,
-
Keindahan anugerah Allah.
Sorak sorai “Bagus! Bagus!” menunjukkan bahwa seluruh umat akan memuliakan Allah atas karya-Nya.
John Calvin:
“Ketika Allah menyelesaikan karya-Nya, manusia tidak dapat bermegah selain dalam anugerah.”
V. Dimensi Kristologis dan Eskatologis
1. Kristus dan Roh
Perjanjian Baru menunjukkan bahwa:
-
Kristus membangun gereja-Nya,
-
Roh Kudus adalah kuasa yang mengerjakannya.
Pentakosta adalah penggenapan prinsip Zakharia 4:6.
2. Kerajaan Allah yang Tak Tergoyahkan
Gunung-gunung dunia akan runtuh, tetapi kerajaan Kristus berdiri oleh kuasa Roh.
Geerhardus Vos:
“Sejarah bergerak menuju kerajaan yang sepenuhnya dikerjakan oleh Roh.”
VI. Aplikasi Teologis dan Pastoral
-
Gereja tidak boleh bergantung pada metode dunia.
-
Pelayanan sejati lahir dari ketergantungan pada Roh Kudus.
-
Hambatan terbesar bukanlah akhir, melainkan sarana Allah menyatakan kuasa-Nya.
-
Kemuliaan selalu kembali kepada Allah, bukan manusia.
Kesimpulan: Roh Allah Menjamin Kemenangan
Zakharia 4:5–7 mengajarkan bahwa:
-
Allah tidak memerlukan kekuatan manusia,
-
Roh Kudus adalah agen utama sejarah keselamatan,
-
Semua rintangan akan diratakan,
-
Kerajaan Allah pasti ditegakkan.
Di tengah dunia yang mengandalkan strategi, angka, dan kekuasaan, firman ini tetap bergema:
“Bukan dengan kegagahan dan bukan dengan kekuatan, melainkan oleh Roh-Ku.”