Cinta Allah Tidak Terbatas
.jpg)
Pendahuluan: Antara Romantisisme dan Kebenaran Alkitabiah
Ungkapan “cinta Allah tidak terbatas” sering diucapkan dalam khotbah, lagu rohani, dan kesaksian iman. Namun tidak jarang ungkapan ini dipahami secara dangkal, sentimental, bahkan bertentangan dengan keseluruhan kesaksian Alkitab. Cinta Allah direduksi menjadi perasaan universal yang menoleransi segala sesuatu, meniadakan keadilan, dan menghapus kekudusan.
Teologi Reformed justru mengajak kita masuk lebih dalam. Cinta Allah memang tidak terbatas, tetapi bukan cinta yang kabur, pasif, atau kompromistis. Cinta Allah adalah cinta yang kudus, berdaulat, efektif, dan setia—cinta yang berakar dalam natur Allah sendiri dan dinyatakan secara konkret dalam sejarah penebusan.
Artikel ini bertujuan menyingkap makna sejati dari cinta Allah yang tidak terbatas, dengan menggali kesaksian Alkitab dan refleksi para teolog Reformed seperti John Calvin, Herman Bavinck, Louis Berkhof, Jonathan Edwards, John Owen, dan R.C. Sproul.
Allah adalah Kasih: Fondasi Ontologis Cinta Ilahi
Teologi Kristen tidak berkata bahwa Allah memiliki kasih, melainkan bahwa Allah adalah kasih. Ini berarti kasih bukan sekadar atribut tambahan, tetapi bagian dari keberadaan Allah itu sendiri.
Herman Bavinck menulis:
“Kasih bukanlah sesuatu yang ditambahkan kepada Allah; kasih adalah cara Allah ada sebagai Allah.”
Karena Allah kekal dan tidak terbatas, maka kasih-Nya pun bersifat tidak terbatas. Namun, ketidakterbatasan ini harus dipahami secara teologis, bukan emosional. Allah tidak mengasihi secara impulsif atau reaktif. Ia mengasihi sesuai dengan kehendak-Nya yang kudus dan bijaksana.
Ketidakterbatasan Cinta Allah dan Kedaulatan-Nya
Dalam teologi Reformed, tidak ada atribut Allah yang berdiri sendiri. Kasih Allah selalu selaras dengan kedaulatan-Nya, kekudusan-Nya, dan keadilan-Nya.
John Calvin menegaskan bahwa:
“Kasih Allah tidak pernah bertentangan dengan kehendak-Nya, dan kehendak-Nya tidak pernah lepas dari hikmat dan kekudusan.”
Ini berarti cinta Allah tidak tunduk pada manusia, tidak dipaksa oleh keadaan, dan tidak dibatasi oleh ketidakmampuan Allah. Allah mengasihi secara bebas (free love), bukan karena ada sesuatu yang layak dalam diri manusia.
Ketidakterbatasan cinta Allah justru terlihat dalam fakta bahwa Ia mengasihi orang berdosa, bukan orang benar. Kasih ini tidak lahir dari nilai manusia, melainkan dari karakter Allah sendiri.
Cinta Allah dan Realitas Dosa Manusia
Salah satu kesalahan besar dalam memahami cinta Allah adalah mengabaikan kedalaman dosa manusia. Teologi Reformed menegaskan doktrin kerusakan total (total depravity): manusia berdosa bukan hanya lemah, tetapi mati secara rohani.
Jonathan Edwards menulis:
“Kemuliaan kasih Allah paling jelas terlihat ketika kita memahami betapa tidak layaknya manusia yang dikasihi.”
Jika dosa manusia diremehkan, maka kasih Allah akan tampak biasa. Tetapi ketika dosa dipahami secara serius, maka kasih Allah tampak ajaib, mengejutkan, dan melampaui akal.
Cinta Allah tidak terbatas bukan karena dosa tidak berarti, melainkan karena anugerah Allah jauh lebih besar daripada dosa.
Cinta Allah dalam Pemilihan Kekal
Salah satu aspek paling khas dari teologi Reformed adalah doktrin pemilihan. Doktrin ini sering disalahpahami sebagai penyangkalan terhadap cinta Allah. Namun para teolog Reformed justru melihat pemilihan sebagai ekspresi terdalam dari cinta Allah.
Louis Berkhof menjelaskan:
“Pemilihan bukanlah pembatasan kasih Allah, melainkan penegasan bahwa kasih Allah efektif dan menyelamatkan.”
Allah tidak sekadar mengasihi secara umum dan pasif, tetapi mengasihi dengan kasih yang menentukan, memilih, dan menyelamatkan. Cinta Allah tidak terbatas dalam kuasa dan kedalaman, bukan berarti tidak memiliki tujuan.
Cinta Allah dan Salib Kristus
Puncak penyataan cinta Allah adalah salib Kristus. Di sinilah kita melihat bahwa cinta Allah tidak sentimental, tetapi mahal dan berdarah.
John Stott (yang sangat dipengaruhi tradisi Reformed) menulis:
“Salib adalah tempat di mana kasih dan keadilan Allah bertemu tanpa saling meniadakan.”
Dalam salib:
-
Kasih Allah dinyatakan karena Allah memberikan Anak-Nya
-
Keadilan Allah ditegakkan karena dosa dihukum
-
Kedaulatan Allah dinyatakan karena keselamatan dikerjakan sesuai rencana-Nya
Jika cinta Allah benar-benar tidak terbatas, maka salib adalah bukti historis dan teologisnya.
Cinta Allah yang Efektif dan Menyelamatkan
Teologi Reformed membedakan antara:
-
Kasih Allah secara umum (kebaikan, pemeliharaan, kesabaran)
-
Kasih Allah yang menyelamatkan (kasih perjanjian)
John Owen menegaskan bahwa kasih Allah yang menyelamatkan selalu mencapai tujuannya. Allah tidak mengasihi dengan kemungkinan gagal. Jika Allah mengasihi seseorang dengan kasih penebusan, maka kasih itu akan:
-
Memanggil
-
Melahirbarukan
-
Membenarkan
-
Menguduskan
-
Memuliakan
Inilah ketidakterbatasan cinta Allah dalam pengertian Reformed: tidak ada kuasa yang dapat menggagalkan kasih-Nya.
Cinta Allah dan Disiplin
Cinta Allah tidak selalu terasa lembut. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Allah mendisiplin orang yang dikasihi-Nya.
R.C. Sproul menulis:
“Kasih Allah yang sejati tidak membiarkan umat-Nya hidup dalam dosa tanpa teguran.”
Disiplin ilahi bukan tanda ketiadaan kasih, melainkan bukti kehadirannya. Cinta Allah tidak terbatas bukan karena Ia membiarkan segalanya, tetapi karena Ia berkomitmen penuh pada kekudusan umat-Nya.
Cinta Allah dan Ketekunan Orang Kudus
Salah satu penghiburan terbesar dalam teologi Reformed adalah doktrin ketekunan orang kudus. Orang percaya dapat jatuh, lemah, dan tersesat, tetapi kasih Allah tidak pernah gagal.
Herman Bavinck menyatakan:
“Kesetiaan Allah kepada umat-Nya lebih besar daripada kesetiaan umat kepada Allah.”
Ketidakterbatasan cinta Allah terlihat dalam kesetiaan-Nya yang tidak bergantung pada kestabilan iman manusia, melainkan pada janji-Nya sendiri.
Cinta Allah dan Tanggung Jawab Manusia
Teologi Reformed menolak fatalisme. Justru karena cinta Allah tidak terbatas dan berdaulat, manusia dipanggil untuk hidup dalam iman, pertobatan, dan ketaatan.
Kasih Allah:
-
Mengundang pertobatan, bukan kecerobohan
-
Melahirkan ketaatan, bukan penyalahgunaan anugerah
-
Menghasilkan penyembahan, bukan kesombongan
Relevansi bagi Gereja Masa Kini
1. Melawan Injil Murahan
Cinta Allah yang tidak terbatas sering disalahgunakan untuk membenarkan dosa. Teologi Reformed mengoreksi hal ini dengan menegaskan bahwa kasih sejati selalu mengubah hidup.
2. Penghiburan bagi Orang Percaya yang Lemah
Di tengah kegagalan dan penderitaan, cinta Allah yang tidak terbatas menjadi jangkar jiwa yang kokoh.
3. Dasar Penginjilan yang Benar
Penginjilan bukan manipulasi emosi, tetapi pemberitaan tentang Allah yang mengasihi dengan kasih yang kudus dan menyelamatkan.
Penutup: Cinta Allah yang Lebih Dalam dari Segala Sesuatu
Cinta Allah tidak terbatas bukan karena Ia mengasihi tanpa kebenaran, tetapi karena Ia mengasihi sampai tuntas. Ia mengasihi dengan kasih yang memilih, menebus, mendisiplin, memelihara, dan memuliakan.
Dalam terang teologi Reformed, kita belajar bahwa:
-
Kita tidak besar karena dikasihi
-
Kita dikasihi karena Allah besar
Dan justru di sanalah jiwa menemukan kelegaan sejati.