Mazmur 24:3–6: Siapakah yang Layak Menghadap TUHAN?
.jpg)
Pendahuluan: Pertanyaan yang Mengguncang Ibadah Manusia
Mazmur 24 merupakan mazmur yang agung, kosmik, dan liturgis. Bagian awalnya (ay. 1–2) menegaskan kedaulatan Allah atas seluruh ciptaan. Bagian akhirnya (ay. 7–10) memuliakan TUHAN sebagai Raja Kemuliaan. Di tengah-tengahnya, Mazmur 24:3–6 berfungsi sebagai gerbang teologis yang menantang setiap manusia: siapakah yang layak menghadap Allah yang kudus?
Pertanyaan ini bukan sekadar refleksi pribadi, tetapi pertanyaan ibadah, pertanyaan perjanjian, dan pertanyaan eksistensial. Dalam perspektif teologi Reformed, Mazmur 24:3–6 memaksa kita berhadapan dengan ketegangan besar antara kekudusan Allah dan ketidaklayakan manusia, serta membuka jalan bagi pemahaman yang lebih dalam tentang anugerah.
Latar Belakang Historis dan Liturgis Mazmur 24
Banyak penafsir Reformed, termasuk John Calvin, memahami Mazmur 24 sebagai mazmur liturgis yang mungkin digunakan dalam perayaan masuknya tabut perjanjian ke Yerusalem (bdk. 2 Samuel 6). “Gunung TUHAN” merujuk pada Sion, tempat Allah menyatakan kehadiran-Nya secara khusus.
Namun Calvin menegaskan bahwa makna mazmur ini melampaui konteks ritual:
“Daud tidak bermaksud membatasi penyembahan Allah pada tempat tertentu, melainkan mengangkat pikiran umat kepada kekudusan Allah yang sejati.”
(Commentary on the Psalms)
Dengan demikian, Mazmur 24 berbicara bukan hanya tentang siapa yang boleh masuk ke bait, tetapi siapa yang boleh masuk ke hadirat Allah.
Eksposisi Ayat demi Ayat
Mazmur 24:3 – Pertanyaan tentang Akses kepada Allah
“Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN?” Pertanyaan ini mengandung asumsi penting: tidak semua orang dapat menghadap Allah. Kekudusan Allah menciptakan batas yang tidak dapat ditembus oleh manusia berdosa.
R.C. Sproul sering menekankan bahwa masalah utama manusia bukan kurangnya makna hidup, tetapi ketidaklayakan di hadapan Allah yang kudus. Ayat ini menggemakan realitas tersebut.
Gunung TUHAN dan tempat kudus-Nya melambangkan hadirat Allah yang kudus dan tak tercemar. Berdiri di hadapan-Nya berarti diterima, diperkenankan, dan tidak binasa.
Mazmur 24:4 – Standar Kekudusan: Lahiriah dan Batiniah
Jawaban atas pertanyaan ayat 3 sangat mengejutkan dan menuntut:
“Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya…”
Di sini kita melihat kesatuan etika yang utuh:
-
Tangan bersih → tindakan yang benar
-
Hati murni → motivasi yang benar
Herman Bavinck menulis:
“Etika Alkitab tidak pernah puas dengan kepatuhan lahiriah; Allah menuntut kebenaran yang mengalir dari hati.”
Mazmur ini menolak kemunafikan religius. Tidak cukup melakukan ritual yang benar; hidup harus ditandai oleh integritas, kejujuran, dan kesetiaan.
Namun di sinilah muncul krisis teologis: siapakah yang benar-benar memenuhi standar ini?
Mazmur 24:5 – Berkat dan Keadilan dari Allah yang Menyelamatkan
Ayat 5 menyatakan bahwa orang seperti ini akan menerima:
-
Berkat dari TUHAN
-
Keadilan dari Allah yang menyelamatkan
Perhatikan bahwa keadilan di sini tidak berdiri terpisah dari keselamatan. Allah digambarkan sebagai “Allah yang menyelamatkan dia”. Ini sangat penting dalam teologi Reformed.
John Murray menjelaskan bahwa dalam Alkitab, keadilan Allah tidak selalu bersifat menghukum, tetapi juga menyelamatkan—yaitu membenarkan umat-Nya sesuai dengan perjanjian-Nya.
Dengan demikian, ayat ini membuka pintu bagi pemahaman bahwa standar kekudusan ini pada akhirnya hanya dapat dipenuhi melalui karya penyelamatan Allah sendiri.
Mazmur 24:6 – Angkatan yang Mencari Wajah Allah
Ayat 6 mengalihkan fokus dari individu ke komunitas: “angkatan orang-orang yang menanyakan Dia.” Kekudusan tidak bersifat individualistis semata, tetapi membentuk umat perjanjian.
Mencari “wajah Allah” adalah ungkapan perjanjian yang dalam, menunjuk pada kerinduan akan persekutuan yang nyata dengan Allah.
Jonathan Edwards menyatakan:
“Agama sejati pada hakikatnya adalah kasih kepada Allah yang dinyatakan dalam kerinduan untuk menikmati hadirat-Nya.”
Ketegangan Teologis: Hukum atau Injil?
Mazmur 24:3–6 sering menimbulkan pertanyaan: apakah ini pengajaran tentang keselamatan berdasarkan perbuatan? Teologi Reformed menjawab dengan tegas: tidak.
Calvin menjelaskan bahwa mazmur ini pertama-tama berfungsi sebagai cermin hukum, yang memperlihatkan ketidaklayakan manusia. Standar kekudusan ini menghancurkan kesombongan religius dan mempersiapkan hati untuk anugerah.
Dalam terang keseluruhan Alkitab, hanya ada satu Pribadi yang sepenuhnya bersih tangan-Nya dan murni hati-Nya: Yesus Kristus.
Kristus sebagai Penggenapan Mazmur 24
Dalam pembacaan Kristologis Reformed, Mazmur 24 mencapai puncaknya dalam Kristus:
-
Dialah yang layak naik ke gunung TUHAN
-
Dialah yang berdiri di tempat kudus Allah
-
Dialah yang menerima berkat dan keadilan secara sempurna
Melalui iman kepada Kristus, kebenaran-Nya diperhitungkan kepada kita. Inilah doktrin pembenaran oleh iman saja (sola fide).
Louis Berkhof menulis:
“Orang percaya diterima bukan karena kekudusan pribadinya, tetapi karena kekudusan Kristus yang diperhitungkan kepadanya.”
Implikasi Praktis bagi Kehidupan Orang Percaya
1. Ibadah yang Dilandasi Kekudusan
Mazmur ini mengingatkan gereja bahwa ibadah bukan hiburan, melainkan perjumpaan dengan Allah yang kudus.
2. Hidup yang Konsisten
Tangan bersih dan hati murni menuntut integritas total—di hadapan Allah dan manusia.
3. Kerinduan akan Wajah Allah
Kekristenan sejati bukan sekadar kepatuhan moral, tetapi relasi perjanjian yang hidup.
Penutup: Dari Pertanyaan Menuju Anugerah
Mazmur 24:3–6 dimulai dengan pertanyaan yang menggentarkan, tetapi berakhir dengan pengharapan bagi umat Allah. Dalam Kristus, orang berdosa dipanggil untuk mendekat, bukan karena kelayakan diri, tetapi karena anugerah yang menguduskan.
Mazmur ini mengajar kita bahwa hanya mereka yang hidup dari anugerah yang akan sungguh-sungguh mengejar kekudusan dan mencari wajah Allah.