Markus 12:41–44: Persembahan yang Dilihat Allah
.jpg)
Pendahuluan: Persembahan yang Dilihat Allah
Perikop Markus 12:41–44 sering dikenal sebagai kisah “persembahan janda miskin”. Sekilas, teks ini tampak sederhana dan mudah dipahami: Yesus memuji seorang janda yang memberi sedikit secara nominal, tetapi besar nilainya di hadapan Allah. Namun, di balik kesederhanaan narasi ini, terdapat kedalaman teologis yang sangat kaya—terutama ketika dibaca dalam terang keseluruhan Injil Markus dan teologi Reformed.
Perikop ini tidak berdiri sendiri. Ia berada dalam rangkaian konflik Yesus dengan pemimpin-pemimpin agama Yahudi (Markus 11–12), khususnya kecaman terhadap ahli Taurat yang memakan “rumah janda-janda” (Markus 12:40). Dengan demikian, kisah ini bukan sekadar ilustrasi moral tentang kedermawanan, tetapi juga kritik profetis terhadap sistem keagamaan yang rusak dan panggilan radikal untuk iman yang bersandar penuh kepada Allah.
Konteks Historis dan Sastra Injil Markus
1. Posisi dalam Injil Markus
Injil Markus menempatkan kisah ini menjelang akhir pelayanan publik Yesus di Yerusalem. Setelah ini, narasi beralih ke nubuat tentang kehancuran Bait Allah (Markus 13). Menurut William L. Lane (pakar Injil Markus dari tradisi Reformed), posisi ini sangat signifikan:
“Kisah janda miskin menjadi kontras tajam antara kesalehan sejati dan kesalehan palsu yang berpusat pada Bait Allah sebagai simbol kebanggaan religius.”
(Lane, The Gospel of Mark)
Yesus sedang duduk “menghadapi peti persembahan”—sebuah tindakan simbolis yang menunjukkan otoritas-Nya sebagai Hakim ilahi yang menilai ibadah umat-Nya.
2. Latar Sosial: Janda dalam Dunia Yahudi
Dalam dunia Yahudi abad pertama, janda adalah simbol ketidakberdayaan sosial dan ekonomi. Tanpa suami, tanpa perlindungan hukum, dan sering kali tanpa penghasilan tetap, mereka bergantung sepenuhnya pada belas kasihan komunitas dan Allah.
Ironisnya, para ahli Taurat yang seharusnya melindungi janda justru dituduh Yesus “menelan rumah janda-janda” (Markus 12:40). Maka, janda miskin dalam ayat 42 bukan hanya figur individu, tetapi representasi korban dari sistem keagamaan yang gagal.
Eksposisi Ayat demi Ayat
Markus 12:41 – Yesus yang Mengamati Hati
Yesus “memperhatikan bagaimana” orang memberi, bukan hanya “berapa banyak” yang mereka beri. Dalam bahasa Yunani, kata yang digunakan menunjukkan pengamatan yang intens dan penuh penilaian.
John Calvin menafsirkan ayat ini dengan tajam:
“Kristus tidak menilai persembahan berdasarkan ukuran lahiriah, melainkan berdasarkan motivasi batin yang tersembunyi dari mata manusia.”
(Commentary on a Harmony of the Evangelists)
Orang kaya memberi “jumlah yang besar”, tetapi Yesus tidak memuji mereka. Dalam teologi Reformed, hal ini menegaskan bahwa Allah melihat hati (1 Samuel 16:7), bukan penampilan lahiriah ibadah.
Markus 12:42 – Dua Peser yang Mengungkap Iman
Dua peser (lepta) adalah koin terkecil dalam sistem moneter Yahudi—hampir tidak bernilai. Namun janda itu memberi “semua yang ia miliki”.
R.C. Sproul menekankan bahwa tindakan janda ini bukan sentimentalitas, melainkan iman radikal:
“Ia tidak memberi karena merasa aman secara finansial, tetapi karena percaya bahwa Allah adalah satu-satunya penopang hidupnya.”
(Mark: St. Andrew’s Expositional Commentary)
Dalam teologi Reformed, iman sejati selalu berkaitan dengan ketergantungan total kepada anugerah Allah, bukan kepada sumber daya manusia.
Markus 12:43 – Penilaian Kristus yang Membalik Logika Dunia
Yesus memanggil murid-murid-Nya secara khusus. Ini menunjukkan bahwa pelajaran ini sangat penting bagi pembentukan murid sejati.
Pernyataan Yesus bersifat paradoksal: janda miskin memberi “lebih banyak”. Bukan secara kuantitatif, tetapi secara kualitatif dan teologis.
Herman Bavinck menulis:
“Nilai suatu tindakan etis tidak diukur oleh hasil lahiriah, melainkan oleh hubungan tindakan itu dengan Allah sebagai tujuan akhir.”
(Reformed Dogmatics)
Markus 12:44 – Dari Kelimpahan vs. Dari Kekurangan
Kontras utama teks ini ada di ayat 44. Orang kaya memberi dari “kelebihan”, janda memberi dari “kekurangan”. Bahkan, ia memberikan “seluruh nafkahnya”.
Ini mencerminkan prinsip Reformed tentang soli Deo gloria: hidup yang sepenuhnya dipersembahkan bagi Allah.
John Piper mengaitkan teks ini dengan konsep sukacita dalam pengorbanan:
“Allah dimuliakan ketika kita menganggap Dia lebih berharga daripada uang kita, bahkan daripada rasa aman kita.”
(Desiring God)
Teologi Persembahan dalam Perspektif Reformed
1. Persembahan Bukan Sarana Keselamatan
Teologi Reformed dengan tegas menolak gagasan bahwa persembahan memperoleh keselamatan. Janda itu tidak diselamatkan oleh dua pesernya, melainkan oleh iman yang Allah sendiri kerjakan dalam hatinya.
2. Persembahan sebagai Respons Anugerah
Sebagaimana diajarkan dalam Pengakuan Iman Westminster, perbuatan baik adalah buah dari iman yang hidup. Persembahan janda adalah respons iman, bukan usaha mendapatkan perkenanan Allah.
3. Kritik terhadap Agama yang Eksploitatif
Perikop ini juga menjadi kritik tajam terhadap gereja atau institusi keagamaan yang memuliakan jumlah dan mengabaikan keadilan. Gereja dipanggil untuk melindungi yang lemah, bukan memanfaatkan mereka.
Relevansi bagi Gereja Masa Kini
Dalam konteks modern, Markus 12:41–44 menantang gereja untuk bertanya:
-
Apakah kita lebih menghargai jumlah persembahan daripada iman jemaat?
-
Apakah sistem gereja kita melindungi atau justru membebani “janda-janda” masa kini?
-
Apakah kita memberi dari kelimpahan atau dari ketergantungan iman kepada Allah?
Penutup: Persembahan yang Berkenan kepada Allah
Kisah janda miskin Markus 12:41–44: Persembahan yang Dilihat Allah ini bukanlah ajakan untuk romantisasi kemiskinan, melainkan panggilan untuk iman yang total. Dalam terang salib Kristus—yang memberikan diri-Nya sepenuhnya bagi umat-Nya—persembahan janda itu menjadi bayangan dari Injil itu sendiri.
Sebagaimana Kristus “yang walaupun kaya, menjadi miskin” (2 Korintus 8:9), demikian pula iman sejati selalu bersedia menyerahkan segalanya kepada Allah yang setia.