Dibenarkan Oleh Iman

Dibenarkan Oleh Iman

Pendahuluan

Doktrin dibenarkan oleh iman (justification by faith alone – sola fide) merupakan jantung Injil dan pilar utama teologi Kristen, khususnya dalam tradisi Reformed. Doktrin ini menegaskan bahwa manusia berdosa dinyatakan benar di hadapan Allah bukan karena perbuatan, usaha moral, atau ketaatan hukum, melainkan semata-mata oleh iman kepada Yesus Kristus. Pembenaran oleh iman bukan sekadar satu doktrin di antara banyak doktrin lainnya, tetapi fondasi yang menopang seluruh pengajaran tentang keselamatan, anugerah, dan kemuliaan Allah.

Martin Luther pernah menyebut doktrin ini sebagai “the article by which the church stands or falls.” Jika doktrin ini dipahami secara keliru, maka seluruh Injil akan terdistorsi. Karena itu, pembahasan mengenai pembenaran oleh iman bukan hanya bersifat teoretis, tetapi menyentuh inti relasi manusia dengan Allah.

Dalam artikel ini, kita akan membahas makna dibenarkan oleh iman secara eksegetis berdasarkan Alkitab, kemudian menelusuri pandangan para pakar teologi Reformed, serta menegaskan implikasi praktisnya bagi kehidupan orang percaya.

1. Pengertian “Dibenarkan” dalam Alkitab

1.1 Makna Istilah Pembenaran

Kata “dibenarkan” dalam Perjanjian Baru berasal dari kata Yunani dikaioĊ, yang secara hukum berarti menyatakan seseorang benar, bukan membuat seseorang menjadi benar secara moral. Ini adalah istilah forensik atau yudisial, yang digunakan dalam konteks pengadilan.

Louis Berkhof menjelaskan:

“Pembenaran adalah tindakan yudisial Allah, di mana Ia menyatakan orang berdosa benar di hadapan-Nya berdasarkan kebenaran Kristus yang diperhitungkan kepadanya.”

Dengan demikian, pembenaran bukan proses internal seperti pengudusan, melainkan deklarasi hukum Allah atas orang berdosa yang percaya kepada Kristus.

1.2 Perbedaan Pembenaran dan Pengudusan

Dalam teologi Reformed, pembenaran dan pengudusan harus dibedakan secara tegas, meskipun tidak boleh dipisahkan.

  • Pembenaran: Status hukum di hadapan Allah.

  • Pengudusan: Proses pembaruan hidup oleh Roh Kudus.

John Calvin menegaskan bahwa iman yang membenarkan tidak pernah sendirian, tetapi selalu disertai dengan buah ketaatan. Namun, buah ketaatan bukan dasar pembenaran, melainkan hasilnya.

2. Dasar Alkitabiah Pembenaran oleh Iman

2.1 Roma 3:21–28 – Kebenaran Allah oleh Iman

Rasul Paulus dengan jelas menyatakan:

“Karena manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena melakukan hukum Taurat” (Roma 3:28).

Paulus menempatkan pembenaran sebagai karya Allah yang berdaulat, di mana kebenaran Kristus diperhitungkan kepada orang berdosa melalui iman. Tidak ada ruang untuk kesombongan manusia, sebab keselamatan adalah anugerah murni.

R.C. Sproul menulis:

“Pembenaran oleh iman menutup semua pintu bagi usaha manusia untuk bermegah di hadapan Allah.”

2.2 Roma 4 – Abraham sebagai Contoh Pembenaran oleh Iman

Paulus mengutip Kejadian 15:6:

“Lalu percayalah Abraham kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.”

Abraham dibenarkan sebelum melakukan perbuatan besar apa pun, bahkan sebelum sunat. Ini menegaskan bahwa pembenaran tidak bergantung pada ritual, hukum, atau tradisi keagamaan.

Herman Bavinck menegaskan bahwa iman Abraham bukanlah jasa, melainkan sarana untuk menerima anugerah Allah.

3. Iman sebagai Alat, Bukan Dasar Pembenaran

3.1 Hakikat Iman Menurut Teologi Reformed

Iman dalam teologi Reformed bukan sekadar persetujuan intelektual, melainkan kepercayaan yang hidup kepada Kristus. Namun, iman bukanlah dasar pembenaran, melainkan alat (instrument) yang melaluinya kebenaran Kristus diperhitungkan kepada orang percaya.

John Murray menjelaskan:

“Iman tidak memiliki nilai pembenaran di dalam dirinya sendiri, tetapi memperoleh nilainya karena objek iman itu, yaitu Kristus.”

3.2 Kristus sebagai Dasar Pembenaran

Dasar pembenaran adalah ketaatan aktif dan pasif Kristus:

  • Ketaatan aktif: Kristus menaati hukum Allah secara sempurna.

  • Ketaatan pasif: Kristus menanggung hukuman dosa di kayu salib.

Kebenaran Kristus inilah yang diperhitungkan (imputed) kepada orang percaya.

4. Pembenaran dan Keadilan Allah

4.1 Allah Tetap Adil dan Benar

Roma 3:26 menyatakan bahwa melalui salib Kristus, Allah tetap adil sekaligus membenarkan orang berdosa. Salib adalah tempat di mana keadilan dan kasih Allah bertemu.

Menurut Calvin:

“Dalam salib Kristus, Allah tidak mengabaikan dosa, melainkan menghukumnya secara penuh di dalam Anak-Nya.”

Dengan demikian, pembenaran bukan kompromi terhadap kekudusan Allah, melainkan pemenuhannya.

4.2 Substitusi Penal sebagai Dasar Pembenaran

Teologi Reformed menekankan penal substitution, yaitu Kristus menggantikan orang berdosa dan menanggung hukuman mereka. Tanpa doktrin ini, pembenaran oleh iman kehilangan dasar hukumnya.

5. Hubungan Pembenaran dan Perbuatan Baik

5.1 Yakobus 2 dan Pembenaran

Yakobus berkata bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Pernyataan ini tidak bertentangan dengan Paulus. Paulus berbicara tentang dasar pembenaran, sementara Yakobus berbicara tentang bukti iman sejati.

Berkhof menegaskan bahwa perbuatan baik bukan akar keselamatan, melainkan buahnya.

5.2 Bahaya Legalisme dan Antinomianisme

Teologi Reformed menolak dua ekstrem:

  • Legalisme: Menambahkan perbuatan sebagai syarat pembenaran.

  • Antinomianisme: Menyangkal pentingnya ketaatan setelah dibenarkan.

Pembenaran oleh iman menghasilkan hidup yang diperbarui, bukan hidup yang sembarangan.

6. Kesaksian Para Reformator

6.1 Martin Luther

Luther menyebut pembenaran oleh iman sebagai “kebenaran asing” (alien righteousness), karena kebenaran itu bukan berasal dari manusia, melainkan dari Kristus.

6.2 John Calvin

Calvin mengajarkan bahwa pembenaran dan pengudusan adalah dua anugerah yang tidak terpisahkan, tetapi berbeda. Iman mempersatukan orang percaya dengan Kristus, dan dari persatuan itu mengalir seluruh berkat keselamatan.

7. Pembenaran dalam Teologi Reformed Kontemporer

7.1 R.C. Sproul

Sproul menekankan bahwa pembenaran memberikan kepastian keselamatan, karena status orang percaya tidak bergantung pada perasaan atau performa rohani, melainkan pada karya Kristus yang sempurna.

7.2 Sinclair Ferguson

Ferguson menekankan dimensi persekutuan dengan Kristus (union with Christ), di mana pembenaran tidak berdiri sendiri, tetapi mengalir dari persatuan dengan Sang Juruselamat.

8. Implikasi Pastoral dan Praktis

8.1 Kepastian Keselamatan

Orang yang dibenarkan oleh iman memiliki damai sejahtera dengan Allah (Roma 5:1). Kepastian ini tidak melahirkan kesombongan, tetapi kerendahan hati.

8.2 Kebebasan dalam Kristus

Pembenaran oleh iman membebaskan orang percaya dari rasa bersalah dan ketakutan akan hukuman. Ia melayani Allah bukan untuk mendapatkan penerimaan, tetapi karena telah diterima.

8.3 Dorongan untuk Hidup Kudus

Anugerah pembenaran justru mendorong kehidupan yang taat dan penuh syukur.

Kesimpulan

Doktrin dibenarkan oleh iman adalah inti Injil dan pusat teologi Reformed. Melalui iman kepada Kristus, orang berdosa dinyatakan benar di hadapan Allah berdasarkan kebenaran Kristus yang diperhitungkan kepadanya. Doktrin ini memuliakan Allah, merendahkan kesombongan manusia, dan memberikan pengharapan yang teguh bagi setiap orang percaya.

Sebagaimana dikatakan oleh Calvin:

“Selama Kristus berada di luar kita, segala sesuatu yang Ia lakukan tidak berarti apa-apa bagi kita.”

Namun, melalui iman, Kristus menjadi milik kita, dan di dalam Dia kita dibenarkan untuk selama-lamanya.

Next Post Previous Post