Zakharia 5:1–2: Gulungan Kitab yang Terbang
.jpg)
Pendahuluan
Kitab Zakharia merupakan salah satu kitab nabi kecil yang paling kaya akan simbolisme apokaliptik dalam Perjanjian Lama. Melalui penglihatan-penglihatan yang penuh lambang, Allah menyatakan maksud-Nya bagi umat-Nya yang baru kembali dari pembuangan Babel. Salah satu penglihatan yang paling mencolok dan menggentarkan adalah penglihatan tentang gulungan kitab yang terbang, sebagaimana dicatat dalam Zakharia 5:1–2.
Penglihatan ini bukan sekadar gambaran visual yang aneh, melainkan pewahyuan ilahi yang sarat dengan makna teologis mengenai kekudusan hukum Allah, keadilan-Nya yang mutlak, dan kepastian penghakiman atas dosa. Dalam tradisi teologi Reformed, bagian ini dipahami sebagai penegasan bahwa Allah yang beranugerah adalah juga Allah yang kudus, yang tidak membiarkan pelanggaran hukum-Nya tanpa konsekuensi.
Artikel ini bertujuan untuk memberikan eksposisi mendalam terhadap Zakharia 5:1–2, dengan menelusuri latar belakang historis, analisis teks, makna simbolik, serta pandangan para teolog Reformed seperti John Calvin, Matthew Henry, Geerhardus Vos, O. Palmer Robertson, dan Meredith G. Kline. Dengan demikian, kita akan melihat bagaimana penglihatan ini relevan bagi kehidupan iman umat Allah di segala zaman.
Latar Belakang Historis dan Teologis Kitab Zakharia
Zakharia melayani sebagai nabi pada masa pasca-pembuangan, sekitar tahun 520–518 SM, sezaman dengan nabi Hagai. Bangsa Yehuda baru saja kembali dari pembuangan Babel dan menghadapi tantangan besar: membangun kembali Bait Suci, memulihkan kehidupan rohani, dan menata ulang identitas mereka sebagai umat perjanjian Allah.
Namun masalah utama mereka bukanlah kekurangan sumber daya, melainkan kemandekan rohani. Ibadah belum sepenuhnya dipulihkan, keadilan sosial diabaikan, dan pelanggaran terhadap hukum Taurat masih marak. Dalam konteks inilah Allah memberikan serangkaian penglihatan kepada Zakharia untuk menegur, menghibur, dan mengarahkan umat-Nya.
Menurut O. Palmer Robertson, penglihatan-penglihatan dalam Zakharia 1–6 membentuk satu kesatuan teologis yang menegaskan bahwa pemulihan umat Allah tidak dapat dipisahkan dari pemulihan kekudusan hidup. Allah tidak hanya membangun kembali tembok dan Bait-Nya, tetapi juga menuntut pembaruan moral dan ketaatan perjanjian.
Teks Zakharia 5:1–2
“Aku melihat lagi, tampak sebuah gulungan kitab yang terbang. Kata malaikat yang berbicara dengan aku itu kepadaku: ‘Apakah yang kaulihat?’ Jawabku: ‘Aku melihat sebuah gulungan kitab yang terbang; panjangnya dua puluh hasta dan lebarnya sepuluh hasta.’”
(Zakharia 5:1–2)
Struktur dan Posisi Zakharia 5:1–2 dalam Rangkaian Penglihatan
Penglihatan tentang gulungan kitab yang terbang merupakan penglihatan keenam dari delapan penglihatan malam dalam kitab Zakharia. Menariknya, penglihatan ini langsung diikuti oleh penglihatan tentang perempuan dalam gantang (Zakharia 5:5–11), yang berbicara tentang pembuangan kefasikan.
Menurut Meredith G. Kline, urutan ini bukan kebetulan. Gulungan kitab melambangkan penghakiman hukum, sedangkan perempuan dalam gantang melambangkan pembersihan komunitas perjanjian dari kejahatan yang mengakar. Dengan kata lain, Allah terlebih dahulu menyatakan standar hukum-Nya, lalu menyingkirkan dosa dari tengah umat-Nya.
Eksposisi Zakharia 5:1: Gulungan Kitab yang Terbang
1. Makna “Gulungan Kitab”
Dalam dunia Ibrani kuno, gulungan kitab adalah media utama untuk menyimpan firman Allah, khususnya Taurat. Dengan demikian, gulungan ini secara alami dipahami sebagai firman hukum Allah.
John Calvin, dalam tafsirnya atas Zakharia, menegaskan bahwa gulungan kitab ini adalah lambang dari hukum Allah yang tertulis dan diwartakan secara terbuka. Calvin menolak anggapan bahwa gulungan ini adalah pesan rahasia atau terbatas, melainkan suatu deklarasi ilahi yang berlaku bagi seluruh umat.
2. Gulungan yang “Terbang”
Kata “terbang” menunjukkan gerakan aktif dan jangkauan universal. Firman Allah tidak diam, tidak terkurung, dan tidak dapat dihindari.
Menurut Geerhardus Vos, simbol terbang menandakan bahwa firman Allah bersifat transenden sekaligus imanen—datang dari surga, tetapi bekerja nyata di bumi. Tidak ada sudut kehidupan manusia yang tersembunyi dari pengamatan dan penilaian firman Allah.
Dalam perspektif Reformed, ini menegaskan doktrin otoritas firman Tuhan yang mutlak dan aktif. Firman bukan sekadar teks mati, melainkan alat Allah untuk menyatakan kehendak-Nya dan melaksanakan penghakiman-Nya.
Eksposisi Zakharia 5:2: Ukuran Gulungan Kitab
1. Panjang Dua Puluh Hasta dan Lebar Sepuluh Hasta
Ukuran gulungan kitab ini sangat spesifik dan tidak lazim. Panjang dua puluh hasta dan lebar sepuluh hasta persis sama dengan ukuran serambi Bait Suci Salomo (1 Raja-raja 6:3).
Matthew Henry melihat hubungan ini sebagai petunjuk bahwa penghakiman Allah dimulai dari rumah-Nya sendiri. Hukum yang sama yang mengatur ibadah di Bait Suci kini digunakan untuk mengukur dan menghakimi kehidupan umat.
2. Simbol Universalitas dan Kesempurnaan
Ukuran besar gulungan ini menandakan bahwa isi hukumnya mencakup seluruh aspek kehidupan. Tidak ada dosa yang terlalu kecil untuk diperhitungkan, dan tidak ada pelanggaran yang luput dari perhatian Allah.
Menurut O. Palmer Robertson, ukuran ini menunjukkan bahwa hukum Allah cukup luas untuk menjangkau seluruh komunitas perjanjian dan cukup jelas untuk dipahami oleh semua orang. Tidak ada alasan untuk ketidaktahuan atau pembenaran diri.
Dimensi Teologis: Hukum, Kekudusan, dan Penghakiman
1. Hukum Allah sebagai Cerminan Kekudusan-Nya
Dalam teologi Reformed, hukum Allah bukanlah beban sewenang-wenang, melainkan refleksi dari karakter Allah sendiri. Gulungan kitab yang terbang mengingatkan umat bahwa pelanggaran terhadap hukum adalah pelanggaran terhadap kekudusan Allah.
Calvin menulis bahwa Allah “tidak pernah menurunkan standar-Nya demi kenyamanan manusia, tetapi menuntut ketaatan yang sempurna sesuai dengan sifat-Nya yang kudus.”
2. Penghakiman sebagai Bagian dari Anugerah
Meskipun terdengar keras, penghakiman dalam Zakharia 5 tidak boleh dipisahkan dari konteks anugerah. Allah menyingkapkan dosa bukan untuk membinasakan umat-Nya, melainkan untuk memurnikan mereka.
Meredith Kline menekankan bahwa penghakiman perjanjian selalu bersifat pedagogis, yakni mendidik umat agar kembali kepada Allah.
Relevansi Kristologis
Dalam terang Perjanjian Baru, gulungan kitab yang berisi kutuk hukum menemukan penggenapannya di dalam Yesus Kristus. Kristus adalah Dia yang menanggung kutuk hukum (Galatia 3:13) sehingga umat pilihan dibebaskan dari penghukuman kekal.
Namun, ini tidak meniadakan fungsi hukum. Sebaliknya, seperti ditegaskan oleh John Calvin, hukum tetap berfungsi sebagai:
-
Cermin dosa
-
Penuntun kepada Kristus
-
Pedoman hidup orang percaya
Gulungan kitab yang terbang mengingatkan bahwa Injil tidak meniadakan hukum, melainkan menggenapinya di dalam Kristus.
Aplikasi Pastoral bagi Gereja Masa Kini
-
Keseriusan terhadap Dosa
Gereja modern sering meremehkan dosa. Zakharia 5:1–2 memanggil gereja untuk kembali pada kesadaran akan kekudusan Allah. -
Otoritas Firman Tuhan
Firman Allah tetap berdaulat, aktif, dan menghakimi. Tidak boleh direduksi menjadi sekadar inspirasi moral. -
Pertobatan yang Sejati
Penghakiman Allah bertujuan membawa umat kepada pertobatan dan pemulihan, bukan keputusasaan.
Penutup
Zakharia 5:1–2 menghadirkan gambaran yang kuat dan menggentarkan tentang firman hukum Allah yang aktif, universal, dan tak terelakkan. Dalam terang teologi Reformed, penglihatan ini menegaskan bahwa Allah yang beranugerah adalah juga Allah yang kudus dan adil.
Melalui gulungan kitab yang terbang, Allah memanggil umat-Nya—baik pada zaman Zakharia maupun gereja masa kini—untuk hidup dalam ketaatan, pertobatan, dan iman yang sejati, sambil memandang kepada Kristus sebagai satu-satunya penggenapan hukum dan pengharapan keselamatan.
“Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pedang bermata dua.”
(Ibrani 4:12)