Materialisme: Mitos yang Disingkapkan
.jpg)
Pendahuluan
Materialisme adalah salah satu “roh zaman” yang paling kuat dalam dunia modern. Ia bukan sekadar kecintaan pada harta benda, melainkan sebuah cara pandang hidup yang menempatkan materi—uang, kepemilikan, kenyamanan, dan status—sebagai sumber makna, keamanan, dan kebahagiaan utama. Dalam masyarakat kontemporer, materialisme sering kali dipromosikan sebagai sesuatu yang wajar, rasional, bahkan perlu demi kelangsungan hidup dan kemajuan manusia. Namun Alkitab dengan tegas menyingkap materialisme sebagai sebuah mitos—janji palsu yang tampak menjanjikan hidup, tetapi pada akhirnya membawa kehampaan dan kebinasaan rohani.
Dalam tradisi teologi Reformed, materialisme dipahami bukan hanya sebagai masalah etika, melainkan sebagai masalah teologis yang menyentuh inti penyembahan manusia. Yohanes Calvin menyatakan bahwa hati manusia adalah “pabrik berhala.” Ketika Allah tidak lagi menjadi pusat hidup, maka sesuatu yang lain—termasuk materi—akan menggantikan posisi-Nya. Dengan demikian, materialisme adalah bentuk penyembahan berhala modern.
Artikel ini akan membongkar mitos materialisme melalui eksposisi ayat-ayat Alkitab dan pandangan beberapa pakar teologi Reformed seperti Yohanes Calvin, Herman Bavinck, Louis Berkhof, dan R.C. Sproul. Tujuannya adalah menyingkap kebohongan materialisme, menegaskan kebenaran Alkitab tentang harta dan hidup, serta menunjukkan bagaimana Injil Kristus membebaskan manusia dari perbudakan materi.
I. Definisi Materialisme dalam Perspektif Alkitab dan Teologi Reformed
1. Apa Itu Materialisme?
Materialisme secara sederhana adalah pandangan hidup yang menganggap materi sebagai realitas tertinggi dan sumber utama kebahagiaan serta keamanan. Dalam bentuk ekstrem, materialisme menyangkal realitas rohani. Dalam bentuk yang lebih halus—yang paling berbahaya—materialisme tetap mengakui Allah, tetapi menjadikan harta sebagai pusat kepercayaan praktis.
Louis Berkhof menjelaskan bahwa dosa sering kali tidak muncul dalam bentuk penolakan terang-terangan terhadap Allah, tetapi dalam penggantian Allah dengan sesuatu yang tampak “netral” atau “berguna.” Materi menjadi ilah karena ia dipercaya memberi hidup.
2. Materialisme sebagai Penyembahan Berhala
Kolose 3:5 berkata:
“Matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi… dan keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala.”
Ayat ini dengan jelas menyamakan keserakahan dengan penyembahan berhala. Dalam kerangka Reformed, ini berarti materialisme bukan sekadar kelemahan moral, tetapi dosa terhadap perintah pertama: “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.”
Calvin menegaskan bahwa setiap kali manusia menggantungkan pengharapan, rasa aman, dan sukacitanya pada sesuatu selain Allah, ia sedang menyembah berhala.
II. Mitos Utama Materialisme dan Penyingkapannya oleh Alkitab
Materialisme bertahan karena ia dibangun di atas beberapa mitos besar. Alkitab secara konsisten menyingkap kebohongan-kebohongan ini.
Mitos 1: Materi Memberi Keamanan Sejati
Amsal 18:11 berkata:
“Kota yang kuat bagi orang kaya ialah hartanya, dan seperti tembok yang tinggi menurut anggapannya.”
Ayat ini menunjukkan ilusi keamanan yang ditawarkan harta. Kata “menurut anggapannya” sangat penting—keamanan itu subjektif, bukan nyata.
R.C. Sproul menekankan bahwa harta memberi rasa aman semu. Ketika krisis datang—penyakit, kematian, atau penghakiman Allah—materi sama sekali tidak berdaya.
Yesus sendiri berkata:
“Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidak tergantung dari kekayaannya itu.” (Lukas 12:15)
Mitos 2: Kekayaan Menghasilkan Kebahagiaan
Pengkhotbah 5:10 menyatakan:
“Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang.”
Ini adalah diagnosis ilahi terhadap materialisme. Harta menjanjikan kepuasan, tetapi tidak pernah benar-benar memberikannya.
Herman Bavinck menulis bahwa manusia diciptakan untuk relasi dengan Allah. Ketika manusia mencoba mengisi kekosongan rohani dengan materi, yang terjadi adalah frustrasi eksistensial.
Mitos 3: Hidup Berarti Memiliki Lebih Banyak
Budaya modern mengukur keberhasilan hidup dari akumulasi: rumah lebih besar, gaji lebih tinggi, gaya hidup lebih mewah. Namun Alkitab menawarkan definisi hidup yang sangat berbeda.
Yesus berkata:
“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya?” (Markus 8:36)
Dalam teologi Reformed, ayat ini menegaskan supremasi realitas rohani atas materi. Hidup sejati tidak diukur dari apa yang dimiliki, tetapi dari relasi dengan Allah.
III. Materialisme dalam Terang Doktrin Kejatuhan (Total Depravity)
1. Hati Manusia dan Daya Tarik Materi
Doktrin total depravity tidak berarti manusia selalu sejahat mungkin, tetapi bahwa seluruh aspek hidup manusia telah tercemar dosa, termasuk cara memandang harta.
Calvin menyatakan bahwa setelah kejatuhan, manusia cenderung mencari kepuasan pada ciptaan, bukan Pencipta. Materialisme adalah ekspresi alami dari natur yang telah jatuh.
2. Kekayaan sebagai Ujian Rohani
Alkitab tidak mengajarkan bahwa harta itu jahat pada dirinya. Namun harta adalah ujian berat bagi hati manusia.
1 Timotius 6:9–10 berkata:
“Mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan… karena akar segala kejahatan ialah cinta uang.”
Berkhof menegaskan bahwa bahaya utama bukanlah memiliki harta, tetapi mengasihi harta.
IV. Yesus Kristus dan Kritik Radikal terhadap Materialisme
1. Khotbah di Bukit: Harta dan Hati
Matius 6:19–21:
“Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”
Yesus tidak memisahkan kehidupan rohani dan ekonomi. Cara seseorang memperlakukan harta mengungkap siapa yang ia sembah.
Sproul menegaskan bahwa pernyataan ini adalah diagnosis spiritual, bukan sekadar nasihat etis.
2. Tidak Bisa Mengabdi kepada Dua Tuan
Matius 6:24:
“Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”
Yesus tidak berkata “sulit,” tetapi “tidak dapat.” Ini adalah pernyataan eksklusivitas.
Dalam teologi Reformed, ini menegaskan bahwa penyembahan sejati menuntut loyalitas total.
V. Pandangan Para Teolog Reformed tentang Materialisme
1. Yohanes Calvin
Calvin melihat kekayaan sebagai karunia Allah yang harus digunakan untuk kemuliaan-Nya dan kesejahteraan sesama. Namun ia sangat keras terhadap keserakahan.
Menurut Calvin, materialisme membutakan manusia dari realitas kekekalan dan menumpulkan kepekaan rohani.
2. Herman Bavinck
Bavinck menempatkan materialisme dalam kerangka besar konflik antara Kerajaan Allah dan dunia yang jatuh. Ia menegaskan bahwa Injil tidak menolak dunia materi, tetapi menempatkannya kembali di bawah kedaulatan Allah.
3. Louis Berkhof
Berkhof menekankan bahwa materialisme adalah kegagalan memahami tujuan akhir manusia. Manusia diciptakan untuk memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamanya, bukan untuk menimbun harta.
4. R.C. Sproul
Sproul menyoroti aspek penyembahan. Menurutnya, materialisme adalah teologi yang salah tentang Allah dan manusia—Allah direduksi menjadi alat berkat, dan manusia menjadi pusat segalanya.
VI. Materialisme dan Gereja Masa Kini
1. Injil Kemakmuran sebagai Bentuk Materialisme Religius
Salah satu bentuk paling berbahaya dari materialisme adalah ketika ia menyusup ke dalam gereja melalui Injil kemakmuran.
Sproul menyebut Injil kemakmuran sebagai “pengkhianatan terhadap salib Kristus,” karena salib berbicara tentang penyangkalan diri, bukan pemuasan diri.
2. Ukuran Keberhasilan Pelayanan
Dalam konteks gereja modern, keberhasilan sering diukur dari gedung besar, jumlah jemaat, dan pemasukan keuangan.
Bavinck mengingatkan bahwa kerajaan Allah bertumbuh melalui kesetiaan, bukan kemegahan lahiriah.
VII. Kristus sebagai Jawaban terhadap Materialisme
1. Inkarnasi dan Penyangkalan Diri Kristus
2 Korintus 8:9:
“Ia yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya.”
Kristus secara radikal menentang materialisme melalui hidup-Nya sendiri. Ia tidak datang dengan kemewahan, tetapi kerendahan hati.
Calvin melihat inkarnasi sebagai kritik ilahi terhadap kesombongan dan ketamakan manusia.
2. Salib sebagai Pembebasan dari Perbudakan Materi
Salib menunjukkan bahwa hidup sejati ditemukan dalam pemberian diri, bukan akumulasi.
Sproul menegaskan bahwa salib membebaskan orang percaya dari keharusan membuktikan nilai diri melalui kepemilikan.
VIII. Hidup sebagai Penatalayan, Bukan Pemilik
Teologi Reformed menekankan bahwa manusia adalah penatalayan, bukan pemilik mutlak.
Mazmur 24:1:
“Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya.”
Berkhof menyatakan bahwa pemahaman ini menghancurkan fondasi materialisme: manusia tidak memiliki apa pun secara absolut.
IX. Aplikasi Praktis bagi Orang Percaya
-
Menguji hati: Apakah keamanan kita bersumber dari Allah atau dari harta?
-
Menggunakan harta untuk kemuliaan Allah dan pelayanan sesama.
-
Hidup sederhana sebagai kesaksian iman.
-
Mengarahkan hati pada kekekalan, bukan hanya kenyamanan sementara.
X. Dimensi Eskatologis: Materialisme dan Kekekalan
Alkitab mengingatkan bahwa dunia dan segala isinya akan berlalu (1 Yohanes 2:17).
Bavinck menegaskan bahwa hanya apa yang dilakukan bagi kemuliaan Allah yang memiliki nilai kekal.
Kesimpulan
Materialisme adalah mitos besar yang menjanjikan hidup, tetapi menghasilkan kehampaan. Alkitab, dalam terang teologi Reformed, menyingkap bahwa materialisme adalah bentuk penyembahan berhala yang halus namun mematikan. Ia mengalihkan hati manusia dari Allah kepada ciptaan, dari kekekalan kepada yang sementara.
Namun Injil Yesus Kristus menawarkan pembebasan sejati. Di dalam Kristus, manusia dipulihkan untuk hidup bukan bagi materi, melainkan bagi kemuliaan Allah. Orang percaya dipanggil bukan untuk menolak dunia materi, tetapi untuk menundukkannya di bawah kedaulatan Kristus.
Kiranya melalui pemahaman ini, gereja dan setiap orang percaya dapat hidup sebagai saksi Injil di tengah dunia yang memuja materi, sambil menyatakan dengan hidup dan iman bahwa:
“Tuhanlah bagianku… aku menaruh harapanku kepada firman-Mu.” (Mazmur 119:57)