Kisah Para Rasul 13:24–25: Yohanes Pembaptis sebagai Pendahulu

Pendahuluan
Kitab Kisah Para Rasul mencatat perkembangan gereja mula-mula setelah kebangkitan dan kenaikan Tuhan Yesus Kristus. Di dalam kitab ini kita melihat bagaimana Injil diberitakan kepada berbagai bangsa melalui pelayanan para rasul. Salah satu bagian penting adalah khotbah Rasul Paulus di Antiokhia Pisidia yang dicatat dalam Kisah Para Rasul pasal 13.
Dalam khotbah tersebut, Paulus menjelaskan sejarah keselamatan yang Allah kerjakan bagi bangsa Israel. Ia menelusuri karya Allah mulai dari pemilihan Israel, kepemimpinan raja Daud, hingga kedatangan Yesus Kristus sebagai Mesias yang dijanjikan. Di tengah uraian tersebut, Paulus menyebut pelayanan Yohanes Pembaptis sebagai tokoh yang mempersiapkan jalan bagi kedatangan Kristus.
Kisah Para Rasul 13:24–25 berbunyi:
“Menjelang kedatangan-Nya Yohanes telah menyerukan kepada seluruh bangsa Israel supaya mereka bertobat dan memberi diri dibaptis. Dan ketika Yohanes hampir selesai dengan tugasnya, ia berkata: Siapakah aku ini menurut kamu? Aku bukan Dia. Tetapi Ia akan datang kemudian dari padaku. Membuka kasut dari kaki-Nya pun aku tidak layak.”
Ayat ini tampaknya singkat, namun mengandung makna teologis yang sangat dalam. Kita melihat di sini peranan Yohanes Pembaptis dalam sejarah penebusan, panggilan pertobatan kepada Israel, serta kesaksian yang jelas bahwa Yesus adalah Mesias.
Dalam tradisi teologi Reformed, bagian ini dipahami sebagai bagian penting dari penggenapan janji Allah dalam Perjanjian Lama. Para teolog seperti John Calvin, Herman Bavinck, dan Charles Spurgeon menekankan bahwa pelayanan Yohanes Pembaptis merupakan jembatan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Artikel ini akan membahas Kisah Para Rasul 13:24–25 secara mendalam dengan pendekatan eksposisi ayat demi ayat serta pandangan dari para teolog Reformed.
Konteks Kisah Para Rasul 13
Sebelum membahas ayat 24–25 secara khusus, penting untuk memahami konteks khotbah Paulus dalam pasal ini.
Paulus sedang berada di Antiokhia Pisidia, sebuah kota penting di wilayah Asia Kecil. Di sana ia masuk ke rumah ibadat orang Yahudi dan diberi kesempatan untuk berbicara.
Dalam khotbahnya, Paulus melakukan sesuatu yang sangat khas dalam pemberitaan Injil kepada orang Yahudi: ia menelusuri sejarah keselamatan.
Ia mulai dengan:
-
pemilihan bangsa Israel
-
pembebasan dari Mesir
-
masa para hakim
-
pemerintahan raja Saul
-
raja Daud
Kemudian Paulus menyatakan bahwa dari keturunan Daud Allah membangkitkan Yesus sebagai Juruselamat.
Namun sebelum kedatangan Yesus, Allah terlebih dahulu mengutus Yohanes Pembaptis untuk mempersiapkan jalan.
Inilah yang dijelaskan dalam ayat 24–25.
Eksposisi Kisah Para Rasul 13:24
“Menjelang kedatangan-Nya Yohanes telah menyerukan kepada seluruh bangsa Israel”
Ayat ini menunjukkan bahwa pelayanan Yohanes Pembaptis terjadi sebelum kedatangan Kristus secara publik.
Yohanes berfungsi sebagai pendahulu Mesias.
Peran ini telah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama, khususnya dalam kitab Maleakhi.
Maleakhi 3:1 berkata:
“Sesungguhnya Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku.”
Dalam Injil kita mengetahui bahwa Yohanes Pembaptis adalah penggenapan dari nubuat tersebut.
Pandangan John Calvin
John Calvin menjelaskan bahwa Allah tidak pernah melakukan karya besar dalam sejarah penebusan tanpa terlebih dahulu mempersiapkan umat-Nya.
Menurut Calvin, pelayanan Yohanes bertujuan membangunkan kesadaran rohani bangsa Israel agar mereka siap menerima Mesias.
Calvin menulis bahwa Yohanes adalah seperti pagi hari yang mendahului matahari terbit.
Ia bukan terang itu sendiri, tetapi ia mempersiapkan dunia untuk kedatangan terang sejati yaitu Kristus.
Seruan Pertobatan Yohanes
Ayat tersebut mengatakan bahwa Yohanes menyerukan pertobatan kepada seluruh bangsa Israel.
Pesan utama Yohanes sangat jelas:
“Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat.”
Ini menunjukkan bahwa pertobatan adalah persiapan utama untuk menerima Mesias.
Herman Bavinck menjelaskan bahwa Injil selalu dimulai dengan pertobatan.
Manusia tidak dapat menerima anugerah keselamatan jika mereka tidak terlebih dahulu menyadari dosa mereka.
Karena itu Yohanes mempersiapkan hati manusia melalui panggilan pertobatan.
Baptisan Yohanes
Ayat tersebut juga menyebutkan bahwa Yohanes menyerukan supaya orang memberi diri dibaptis.
Baptisan Yohanes merupakan tanda lahiriah dari pertobatan.
Namun baptisan Yohanes berbeda dari baptisan Kristen setelah kebangkitan Kristus.
Baptisan Yohanes menunjuk ke depan kepada Mesias yang akan datang, sedangkan baptisan Kristen menunjuk kepada karya keselamatan yang telah digenapi oleh Kristus.
Charles Spurgeon menjelaskan bahwa baptisan Yohanes adalah baptisan persiapan.
Melalui baptisan tersebut, orang Israel mengakui bahwa mereka berdosa dan membutuhkan keselamatan.
Eksposisi Kisah Para Rasul 13:25
“Ketika Yohanes hampir selesai dengan tugasnya”
Ayat ini menunjukkan bahwa pelayanan Yohanes memiliki tujuan yang jelas dan terbatas.
Yohanes bukan Mesias.
Ia hanya seorang utusan yang mempersiapkan jalan.
Ketika misinya selesai, ia dengan rendah hati mengarahkan orang-orang kepada Kristus.
Pandangan Herman Bavinck
Bavinck menekankan bahwa Yohanes adalah contoh yang indah dari seorang pelayan Allah yang sejati.
Ia tidak mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri.
Sebaliknya, ia menunjukkan kepada Kristus sebagai pusat keselamatan.
Kerendahan Hati Yohanes
Yohanes berkata:
“Siapakah aku ini menurut kamu? Aku bukan Dia.”
Pada masa itu banyak orang mengira Yohanes mungkin adalah Mesias.
Namun Yohanes dengan tegas menolak anggapan tersebut.
Ini menunjukkan kerendahan hati yang luar biasa.
John Calvin menulis bahwa Yohanes memberikan teladan penting bagi semua pelayan Injil.
Pelayan Tuhan tidak boleh mencari kemuliaan bagi diri sendiri, tetapi harus mengarahkan semua orang kepada Kristus.
“Ia akan datang kemudian dari padaku”
Kalimat ini menegaskan bahwa Mesias yang sejati akan datang setelah Yohanes.
Dalam Injil Yohanes 1:30 Yohanes Pembaptis berkata:
“Sesudah aku akan datang seorang yang telah mendahului aku.”
Meskipun secara kronologis Yesus lahir setelah Yohanes, Yohanes mengakui bahwa Kristus lebih besar darinya karena Kristus adalah Anak Allah yang kekal.
“Membuka kasut dari kaki-Nya pun aku tidak layak”
Ungkapan ini sangat kuat dalam budaya Yahudi.
Melepaskan kasut adalah tugas seorang budak.
Dengan kata lain, Yohanes mengatakan bahwa ia bahkan tidak layak menjadi budak Kristus.
Charles Spurgeon mengatakan bahwa pernyataan ini menunjukkan kemuliaan Kristus yang sangat besar.
Jika nabi sebesar Yohanes merasa tidak layak membuka kasut-Nya, maka kita dapat melihat betapa agungnya Kristus.
Yohanes sebagai Penghubung Dua Perjanjian
Dalam teologi Reformed, Yohanes Pembaptis sering dipahami sebagai nabi terakhir dari Perjanjian Lama sekaligus nabi pertama dari era Perjanjian Baru.
Ia berdiri di antara dua zaman:
-
zaman nubuat
-
zaman penggenapan
John Calvin mengatakan bahwa Yohanes adalah seperti pintu gerbang yang menghubungkan dua bagian sejarah penebusan.
Semua nabi sebelumnya menunjuk ke masa depan.
Namun Yohanes memiliki keistimewaan karena ia benar-benar melihat Mesias yang datang.
Kesaksian Yohanes tentang Kristus
Hal paling penting dari pelayanan Yohanes adalah kesaksiannya tentang Kristus.
Ia berkata:
“Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.”
Ungkapan ini sangat kaya secara teologis.
Yesus disebut Anak Domba Allah, yang menunjuk kepada korban penghapus dosa dalam sistem korban Perjanjian Lama.
Herman Bavinck menjelaskan bahwa seluruh sistem korban dalam Perjanjian Lama menunjuk kepada satu korban yang sempurna yaitu Yesus Kristus.
Pandangan Para Teolog Reformed
John Calvin
Calvin menekankan bahwa pelayanan Yohanes memiliki dua tujuan utama:
-
memanggil manusia kepada pertobatan
-
menunjuk kepada Kristus sebagai Juruselamat
Calvin juga menekankan bahwa Yohanes tidak mendirikan suatu gerakan terpisah dari Kristus, tetapi sepenuhnya mempersiapkan orang untuk menerima Kristus.
Charles Spurgeon
Spurgeon melihat Yohanes sebagai contoh yang sangat kuat tentang kerendahan hati dalam pelayanan.
Menurut Spurgeon, seorang pengkhotbah sejati harus seperti Yohanes: menunjuk kepada Kristus dan bukan kepada dirinya sendiri.
Herman Bavinck
Bavinck menekankan bahwa pelayanan Yohanes merupakan bagian dari sejarah penebusan yang progresif.
Allah secara bertahap menyatakan rencana keselamatan-Nya hingga akhirnya mencapai puncaknya dalam Kristus.
Aplikasi bagi Gereja Masa Kini
Kisah Para Rasul 13:24–25 memberikan beberapa pelajaran penting bagi gereja.
Pentingnya pertobatan
Injil selalu dimulai dengan panggilan pertobatan.
Gereja tidak boleh mengabaikan pesan ini.
Tanpa kesadaran akan dosa, manusia tidak akan memahami kebutuhan mereka akan Kristus.
Kerendahan hati dalam pelayanan
Yohanes memberikan teladan yang luar biasa bagi para pelayan Tuhan.
Pelayanan bukan tentang mencari popularitas atau kemuliaan pribadi.
Tujuan pelayanan adalah menunjuk kepada Kristus.
Kristus sebagai pusat Injil
Semua pelayanan gereja harus berpusat pada Kristus.
Yohanes tidak memusatkan perhatian pada dirinya sendiri, tetapi pada Mesias yang datang.
Hal yang sama harus menjadi fokus gereja masa kini.
Kesimpulan
Kisah Para Rasul 13:24–25 memberikan gambaran yang indah tentang pelayanan Yohanes Pembaptis sebagai pendahulu Mesias.
Yohanes dipanggil untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Kristus melalui pemberitaan pertobatan dan baptisan.
Namun yang paling penting, Yohanes dengan rendah hati menunjuk kepada Yesus sebagai Mesias yang sejati.
Para teolog Reformed seperti John Calvin, Charles Spurgeon, dan Herman Bavinck melihat pelayanan Yohanes sebagai bagian penting dari sejarah penebusan yang mengarah kepada Kristus.
Melalui pelayanan Yohanes, Allah mempersiapkan hati manusia untuk menerima Juruselamat.
Pesan ini tetap relevan bagi gereja masa kini: panggilan pertobatan, kerendahan hati dalam pelayanan, dan fokus yang jelas pada Kristus sebagai pusat Injil.
Pada akhirnya, seperti Yohanes Pembaptis, gereja dipanggil untuk berkata kepada dunia:
“Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.”