BAPTIS DAN KESELAMATAN: MARKUS 16:16

Pdt.Budi Asali,M.Div.
BAPTIS DAN KESELAMATAN: Markus 16:16. Markus 16:16: “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum”.

Bible Knowledge Commentary: “Though the New Testament writers generally assume that under normal circumstances each believer will be baptized, Markus 16:16 does not mean that baptism is a necessary requirement for personal salvation. The second half of the verse indicates by contrast that one who does not believe the gospel will be condemned by God (implied) in the day of final judgment (cf. 9:43-48). The basis for condemnation is unbelief, not the lack of any ritual observance. ... Thus the only requirement for personally appropriating God’s salvation is faith in Him (cf. Rom 3:21-28; Eph 2:8-10)” [= Sekalipun penulis-penulis Perjanjian Baru secara umum menganggap bahwa di bawah kondisi yang normal setiap orang percaya akan dibaptis, Markus 16:16 tidak berarti bahwa baptisan adalah syarat yang perlu untuk keselamatan pribadi. Setengah bagian yang kedua dari ayat itu menunjukkan oleh kontras bahwa orang yang tidak percaya injil akan dihukum oleh Allah (secara implicit) pada hari penghakiman terakhir (bdk. 9:43-48). Dasar dari penghukuman adalah ketidak-percayaan, bukan tidak adanya ketaatan yang bersifat upacara yang manapun. ... Jadi, satu-satunya syarat untuk secara pribadi mengambil keselamatan Allah bagi diri sendiri adalah iman kepadaNya (bdk. Roma 3:21-28; Efesus 2:8-10)].
BAPTIS DAN KESELAMATAN: Markus 16:16
otomotif, gadget, bisnis
A. T. Robertson: “The omission of baptized with ‘disbelieveth’ would seem to show that Jesus does not make baptism essential to salvation. Condemnation rests on disbelief, not on baptism. So salvation rests on belief. Baptism is merely the picture of the new life not the means of securing it. So serious a sacramental doctrine would need stronger support anyhow than this disputed portion of Mark” (=Penghapusan / penghilangan dari ‘dibaptis’ dengan ‘tidak percaya’ kelihatannya menunjukkan bahwa Yesus tidak membuat baptisan mutlak perlu untuk keselamatan. Penghukuman disandarkan pada ketidak-percayaan, bukan pada baptisan. Jadi keselamatan didasarkan pada kepercayaan. Baptisan adalah semata-mata gambaran dari kehidupan yang baru, bukan cara untuk memastikan hal itu. Doktrin tentang sakramen yang begitu serius memerlukan dukungan yang lebih kuat dari bagian yang diperdebatkan dari Markus ini).

Wycliffe Bible Commentary: “This verse has been used by some to attempt to prove that baptism is necessary for salvation. In the first place, the fact that the statement appears only in this questionable conclusion to the book of Mark should indicate the need for caution in the use of the verse as a proof-text. And then, it should be noted that in the second half of the verse the only basis for condemnation is a refusal to believe. It may therefore be concluded that the only basis of salvation is belief. Such an interpretation is in full harmony with the teaching of the NT as a whole on the subject (cf. Roma 3:28; Eph 2:8-9)” [= Ayat ini telah digunakan oleh beberapa orang untuk berusaha membuktikan bahwa baptisan adalah perlu untuk keselamatan. Pertama, fakta bahwa pernyataan itu muncul hanya di penutup yang dipertanyakan bagi kitab Markus ini harus menunjukkan perlunya kehati-hatian dalam penggunaan dari ayat ini sebagai suatu ayat bukti. Dan lalu, harus diperhatikan bahwa dalam separuh kedua dari ayat itu satu-satunya dasar untuk penghukuman adalah suatu penolakan untuk percaya. Karena itu bisa disimpulkan bahwa satu-satunya dasar dari keselamatan adalah kepercayaan. Penafsiran seperti itu sesuai sepenuhnya dengan ajaran dari PB secara keseluruhan tentang pokok ini (bdk. Roma 3:28 Efesus 2:8-9)].

Roma 3:28 - “Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat”.

Efesus 2:8-9 - “(8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”.

Ada 3 hal yang ingin saya berikan sebagai komentar terhadap kata-kata Wycliffe dan A. T. Robertson ini:

1) Memang ada orang-orang yang menggunakan ayat ini sebagai ayat bukti bahwa keselamatan didapatkan bukan hanya dengan iman saja, tetapi dengan iman + baptisan. Contoh: Gereja Roma Katolik.

‘Catechism of the Catholic Church’ No 977: “Our Lord tied the forgiveness of sins to faith and Baptism: ‘Go into all the world and preach the gospel to the whole creation. He who believes and is baptized will be saved.’ Baptism is the first and chief sacrament of forgiveness of sins because it unites us with Christ, who died for our sins and rose for our justification, so that ‘we too might walk in newness of life.’” (= Tuhan kita mengikatkan / menghubungkan pengampunan dosa-dosa kepada iman dan baptisan: ‘Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan’. Baptisan adalah sakramen yang pertama dan terutama dari pengampunan dosa-dosa karena itu mempersatukan kita dengan Kristus, yang telah mati untuk dosa-dosa kita dan bangkit untuk pembenaran kita, sehingga ‘kita juga bisa berjalan dalam hidup yang baru’.).

Catatan: dalam kutipan ini ada dua ayat yang dikutip, yang pertama dari Markus 16:15-16 (tetapi kurang ajarnya adalah bahwa potongan terakhir dari Markus 16:16 dibuang!), dan yang kedua dari Roma 6:4.

‘Catechism of the Catholic Church’ No 980: “It is through the sacrament of Penance that the baptized can be reconciled with God and with the Church: Penance has rightly been called by the holy Fathers ‘a laborious kind of baptism.’ This sacrament of Penance is necessary for salvation for those who have fallen after Baptism, just as Baptism is necessary for salvation for those who have not yet been reborn.” (= Adalah melalui sakramen pengampunan / pengakuan dosa bahwa orang yang telah dibaptis bisa diperdamaikan dengan Allah dan dengan Gereja: Pengampunan / pengakuan dosa secara benar telah disebut oleh Bapa-bapa kudus ‘suatu jenis baptisan yang membutuhkan banyak tenaga / jerih payah’. Sakramen pengampunan / pengakuan dosa ini perlu untuk keselamatan bagi mereka yang telah jatuh setelah baptisan, sama seperti Baptisan adalah perlu untuk keselamatan bagi mereka yang belum dilahirkan kembali).

‘Catechism of the Catholic Church’ No 1213: “Holy Baptism is the basis of the whole Christian life, the gateway to life in the Spirit (vitae spiritualis ianua), and the door which gives access to the other sacraments. Through Baptism we are freed from sin and reborn as sons of God; we become members of Christ, are incorporated into the Church and made sharers in her mission: ‘Baptism is the sacrament of regeneration through water in the word.’” [= Baptisan Kudus adalah dasar dari seluruh kehidupan Kristen, pintu gerbang pada kehidupan dalam Roh (vitae spiritualis ianua), dan pintu yang memberikan jalan masuk kepada sakramen-sakramen yang lain. Melalui Baptisan kita dibebaskan dari dosa dan dilahirkan kembali sebagai anak-anak Allah; kita menjadi anggota-anggota dari Kristus, dimasukkan / digabungkan ke dalam Gereja dan dibuat pengambil bagian dalam missinya: ‘Baptisan adalah sakramen dari kelahiran baru melalui air dalam firman’].

Catatan: sebetulnya ada jauh lebih banyak lagi point-point dalam ‘Catechism of the Catholic Church’ yang menekankan mutlak perlunya baptisan untuk keselamatan, tetapi saya tidak memberikan semuanya di sini.

Pulpit Commentary: “A great alternative is propounded. There is no middle course supposed. Belief and baptism are the condition of salvation; disbelief ensures condemnation” (= Suatu alternatif /pilihan diajukan. Di sana dianggap tidak ada jalan tengah. Kepercayaan dan baptisan adalah syarat dari keselamatan; ketidak-percayaan memastikan penghukuman).


Catatan: kata-kata yang saya beri garis bawah ganda salah / sesat! Jadi penafsiran yang seperti tafsiran Katolik ini, juga ada dalam kalangan Protestan!

2) Saya kira ada ayat lain, yang tidak diragukan keasliannya, yang juga berbicara dengan nada serupa, yaitu Kis 2:38 - “Jawab Petrus kepada mereka: ‘Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus”. Karena itu, tidak cukup untuk menentang perlunya baptisan untuk keselamatan dengan mengatakan bahwa Markus 16:16 itu palsu. Kita harus menafsirkan ayat-ayat seperti itu dengan menafsirkannya bersama-sama dengan seluruh ayat-ayat lain dalam Alkitab, yang berbicara tentang hal itu.

3) Kalau kita mau menyoroti Markus 16:16 saja, maka apa yang harus diperhatikan dari ayat ini adalah bagian negatifnya yang mengatakan ‘siapa yang tidak percaya akan dihukum’, tanpa kata-kata ‘tidak dibaptis’!!!

Calvin: “Baptism is joined to the faith of the gospel, in order to inform us that the mark of our salvation is engraved on it; for had it not served to testify the grace of God, it would have been improper in Christ to have said, that they who shall believe and be baptized shall be saved. Yet, at the same time, we must hold that it is not required as absolutely necessary to salvation, so that all who have not obtained it must perish; for it is not added to faith, as if it were the half of the cause of our salvation, but as a testimony. I readily acknowledge that men are laid under the necessity of not despising the sign of the grace of God; but though God uses such aids in accommodation to the weakness of men, I deny that his grace is limited to them. In this way we will say that it is not necessary in itself, but only with respect to our obedience” (= Baptisan digabungkan dengan iman dari injil, untuk memberi informasi kepada kita bahwa tanda dari keselamatan kita diukirkan padanya; karena seandainya itu tidak berguna untuk memberi kesaksian tentang kasih karunia Allah, maka adalah tidak benar bagi Kristus untuk mengatakan bahwa mereka yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan. Tetapi pada saat yang sama, kita harus memegang / mempercayai bahwa itu tidaklah diperlukan / diharuskan sebagai keperluan secara mutlak bagi keselamatan, sehingga semua yang tidak / belum mendapatkannya harus binasa; karena hal itu tidak ditambahkan pada iman, seakan-akan itu adalah setengah dari penyebab dari keselamatan kita, tetapi sebagai suatu kesaksian.


Saya siap untuk mengakui bahwa manusia diletakkan di bawah keharusan untuk tidak meremehkan tanda dari kasih karunia Allah; tetapi sekalipun Allah menggunakan bantuan / pertolongan seperti itu untuk menyesuaikan dengan kelemahan manusia, saya menyangkal bahwa kasih karuniaNya dibatasi pada mereka. Dengan cara ini kami mengatakan bahwa itu bukanlah perlu dalam dirinya sendiri, tetapi hanya berkenaan dengan ketaatan kita).

Matthew Henry: “Dr. Whitby here observes, that they who hence infer ‘that the infant seed of believers are not capable of baptism, because they cannot believe, must hence also infer that they cannot be saved; faith being here more expressly required to salvation than to baptism. And that in the latter clause baptism is omitted, because it is not simply the want of baptism, but the contemptuous neglect of it, which makes men guilty of damnation, otherwise infants might be damned for the mistakes or profaneness of their parents.’” (= Dr. Whitby di sini mengamati, bahwa mereka yang dari sini menyimpulkan ‘bahwa benih bayi dari orang-orang percaya tidak boleh dibaptis karena mereka tidak bisa percaya, karena hal itu harus juga menyimpulkan bahwa mereka tidak bisa diselamatkan; karena iman di sini dibutuhkan dengan lebih jelas bagi keselamatan dari pada bagi baptisan. Dan bahwa dalam anak kalimat belakangan baptisan dihapuskan, karena bukanlah sekedar karena tidak adanya baptisan, tetapi kelalaian yang bersifat menghina / merendahkan terhadapnya, yang membuat orang-orang bersalah yang menyebabkan penghukuman, atau bayi-bayi bisa dihukum untuk kesalahan-kesalahan atau keduniawian dari orang tua mereka’).

Barnes’ Notes: “It is worthy of remark that Jesus has made ‘baptism’ of so much importance. He did not say, indeed, that a man could not be saved without baptism, but he has strongly implied that where this is neglected ‘knowing it to be a command of the Saviour,’ it endangers the salvation of the soul. Faith and baptism are the beginnings of a Christian life: the one the beginning of piety in the soul, the other of its manifestation before men or of a profession, of religion” (= Layak diperhatikan bahwa Yesus telah membuat ‘baptisan’ begitu penting. Ia memang tidak berkata bahwa seseorang tidak bisa diselamatkan tanpa baptisan, tetapi Ia secara kuat menunjukkan secara implicit bahwa dimana hal ini diabaikan ‘dengan mengetahuinya sebagai suatu perintah dari sang Juruselamat’, itu membahayakan keselamatan dari jiwa. Iman dan baptisan adalah permulaan dari suatu kehidupan Kristen: yang satu permulaan dari kesalehan dalam jiwa, yang lain dari manifestasi / perwujudannya di hadapan manusia atau dari suatu pengakuan, tentang / dari agama).

PENUTUP:

Pulpit Commentary: “He that believeth and is baptized shall be saved; but he that disbelieveth shall be condemned. These words are very important. The first clause opposes the notion that faith alone is sufficient for salvation, without those works which are the fruit of faith. He that believeth and is baptized shall be saved; that is, he that believeth, and as an evidence of his faith accepts Christ’s baptism, and fulfils the promises and vows which he then took upon himself, working out his own salvation with fear and trembling, shall be saved” (= Ia yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan; tetapi ia yang tidak percaya akan dihukum. Kata-kata ini sangat penting. Anak kalimat yang pertama menentang pikiran / gagasan bahwa iman saja cukup untuk keselamatan, tanpa pekerjaan / perbuatan baik itu, yang adalah buah dari iman. Ia yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan; artinya, ia yang percaya, dan sebagai suatu bukti dari imannya menerima baptisan Kristus, dan menggenapi janji-janji dan nazar-nazar yang pada saat itu ia ambil bagi dirinya sendiri, mengerjakan keselamatannya dengan takut dan gentar, akan diselamatkan).


Catatan: Pdt. Budi Asali, M.Div:  meraih gelar Master of Divinity (M.Div) dari Reformed Theological Seminary (RTS), Jackson, Mississippi, United States of America
Next Post Previous Post