STEFANUS DAN GEREJA (KISAH PARA RASUL 7:54-8:4)

PDT. BUDI ASALI. M. DIV.
STEFANUS DAN GEREJA (KISAH PARA RASUL 7:54-8:4)STEFANUS DAN GEREJA (KISAH PARA RASUL 7:54-8:4). Kisah Para Rasul 7:54-8:4 - “(7:54) Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, sangat tertusuk hati mereka. Maka mereka menyambutnya dengan gertakan gigi. (7:55) Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. (7:56) Lalu katanya: ‘Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.’ (7:57) Maka berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga serentak menyerbu dia. (7:58) Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya. Dan saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang muda yang bernama Saulus. (7:59) Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: ‘Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.’ (7:60) Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: ‘Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!’ Dan dengan perkataan itu meninggallah ia. (8:1) Saulus juga setuju, bahwa Stefanus mati dibunuh. Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria. (8:2) Orang-orang saleh menguburkan mayat Stefanus serta meratapinya dengan sangat. (8:3) Tetapi Saulus berusaha membinasakan jemaat itu dan ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara. (8:4) Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil.”.

Pengantar: 

I) Kematian Stefanus.

1) Orang-orang Yahudi menjadi marah (Kisah Para Rasul  7:54).

Kisah Para Rasul 7:54 - “Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, sangat tertusuk hati mereka. Maka mereka menyambutnya dengan gertakan gigi.”.

Dalam Kisah Para Rasul  7:2-53 Stefanus mengadakan pembelaan, tetapi ia sekaligus memberitakan Firman Tuhan / menyerang mereka / menegur dosa-dosa mereka. Ibrani 4:12 mengatakan bahwa Firman Tuhan lebih tajam dari pedang bermata dua manapun dan Firman Tuhan menusuk amat dalam. Tetapi ada dua macam ‘tertusuk’:

a) Tertusuk lalu bertobat.

Ini terjadi dalam Kisah Para Rasul 2:37.

Kis 2:37 - “Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: ‘Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?’”.

Kitab Suci bahasa Indonesia secara salah menterjemahkan ‘terharu’; terjemahan yang benar adalah ‘tertusuk’ / ‘teriris hatinya’.

b) Tertusuk dalam arti marah.

Ini terjadi dalam Kis 5:33 dan  Kisah Para Rasul Kisah Para Rasul 7:54 ini.

Kis 5:33 - “Mendengar perkataan itu sangatlah tertusuk hati mereka dan mereka bermaksud membunuh rasul-rasul itu.”.

Kisah Para Rasul  7:54 - “Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, sangat tertusuk hati mereka. Maka mereka menyambutnya dengan gertakan gigi.”.

Yang mana yang sering menjadi reaksi saudara pada waktu mendengar Firman Tuhan?

2) Stefanus.

a) Stefanus penuh dengan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 7:55).

Kisah Para Rasul 7:55 - “Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah.”.

Ini berarti ia dikuasai dan dipimpin sepenuhnya oleh Roh Kudus.

b) Menatap ke langit (Kisah Para Rasul 7:55).

Kis 7:55 - “Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah.”.

Ia menujukan pandangannya kepada Allah! Biasanya orang yang sedang menderita / mengalami sesuatu yang berbahaya / menakutkan terus menujukan pandangannya pada penderitaannya atau pada sesuatu yang menakutkan itu!

Contoh:

1. Yakub dalam Kej 37:33-35.

Kejadian 37:33-35 - “(33) Ketika Yakub memeriksa jubah itu, ia berkata: ‘Ini jubah anakku; binatang buas telah memakannya; tentulah Yusuf telah diterkam.’ (34) Dan Yakub mengoyakkan jubahnya, lalu mengenakan kain kabung pada pinggangnya dan berkabunglah ia berhari-hari lamanya karena anaknya itu. (35) Sekalian anaknya laki-laki dan perempuan berusaha menghiburkan dia, tetapi ia menolak dihiburkan, serta katanya: ‘Tidak! Aku akan berkabung, sampai aku turun mendapatkan anakku, ke dalam dunia orang mati!’ Demikianlah Yusuf ditangisi oleh ayahnya.”.

2. Ibu bayi-bayi Betlehem yang dibunuh Herodes (Mat 2:18).

Mat 2:18 - “‘Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi.’”.

Ini justru salah. Kita harus menujukan pandangan kita kepada Allah. Kita harus merenungkan kasih, kuasa, kesetiaan, keadilan Allah, dsb. Semua ini bisa menguatkan kita menghadapi bahaya / penderitaan itu.

c) Melihat penglihatan (Kisah Para Rasul  7:55).

Kis 7:55 - “Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah.”.

1. Penglihatan ini hanya terlihat oleh Stefanus. Andaikata semua orang Yahudi itu juga bisa melihatnya, mereka pasti tidak berani membunuh Stefanus.

2. Biasanya mujijat diberikan untuk mengkonfirmasikan bahwa seseorang itu adalah seorang hamba Tuhan / rasul / nabi (bdk. 2Kor 12:12)

2Kor 12:12 - “Segala sesuatu yang membuktikan, bahwa aku adalah seorang rasul, telah dilakukan di tengah-tengah kamu dengan segala kesabaran oleh tanda-tanda, mujizat-mujizat dan kuasa-kuasa.”.

Tetapi di sini jelas itu bukan tujuannya, karena penglihatan itu hanya terlihat oleh Stefanus. Di sini, tujuan dari mujijat / penglihatan itu adalah untuk menghibur / menguatkan Stefanus. Stefanus sedang menghadapi maut dan Tuhan memberikan sesuatu yang luar biasa bagi dia untuk menguatkan dia. Dari peristiwa ini bisa kita pelajari bahwa kalau bahaya besar / penderitaan besar, maka kasih karunia Allah juga makin besar. Itu menyebabkan kita tidak akan pernah kekurangan kasih karunia Allah.

Bdk. 2Korintus 12:9 - “Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ‘Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna.’ Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.”.

d) Memberitakan penglihatan itu kepada orang Yahudi (Kisah Para Rasul 7:56).

Kisah Para Rasul 7:56 - “Lalu katanya: ‘Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.’”.

Dengan kata lain Stefanus berkata: Yesus yang kalian musuhi dan bunuh itu ada di surga di tempat yang paling terhormat!

Catatan: sebelah kanan Allah tidak boleh diartikan secara hurufiah. Ingat Allah itu maha ada. Kedudukan di sebelah kanan Allah menunjukkan kedudukan yang paling terhormat.

Dalam keadaan yang berbahaya seperti itu Stefanus masih berani memberitakan penglihatan tentang Yesus. Ini betul-betul luar biasa, dan ini sesuai dengan kata-kata Paulus dalam 2Tim 4:2 - “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.”.

Kalau dalam keadaan tidak berbahaya saja saudara tidak mau / tidak berani memberitakan Injil, bagaimana dalam keadaan berbahaya?

3) Tanggapan orang-orang Yahudi.

a) Berteriak-teriak dan menutup telinga (Kisah Para Rasul 7:57).

Kisah Para Rasul 7:57 - “Maka berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga serentak menyerbu dia.”.

Ini mereka lakukan karena mereka menganggap kata-kata Stefanus sebagai hujatan dan mereka tidak mau mendengar hujatan itu lebih banyak lagi.

Penerapan:

Pada saat saudara mendengar Firman Tuhan (yang menegur saudara), apakah saudara juga sering berhenti mendengar? Ini bisa saudara lakukan dengan sekedar tidak mempedulikan firman atau dengan berbicara kepada orang di sebelah saudara, dsb. Bandingkan sikap ini dengan Yak 1:19 yang berbunyi: “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;”.

b) Menyerbu, menyeret dan merajam Stefanus (Kisah Para Rasul 7:57-58).

Kis 7:57-58 - “(57) Maka berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga serentak menyerbu dia. (58) Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya. Dan saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang muda yang bernama Saulus.”.

1. Hukum Taurat memang mengatakan bahwa seorang penghujat harus dihukum mati dengan dirajam (Im 24:10-16,23 bdk. Yohanes 10:31-33).

Imamat 24:10-16,23 - “(10) Pada suatu hari datanglah seorang laki-laki, ibunya seorang Israel sedang ayahnya seorang Mesir, di tengah-tengah perkemahan orang Israel; dan orang itu berkelahi dengan seorang Israel di perkemahan. (11) Anak perempuan Israel itu menghujat nama TUHAN dengan mengutuk, lalu dibawalah ia kepada Musa. Nama ibunya ialah Selomit binti Dibri dari suku Dan. (12) Ia dimasukkan dalam tahanan untuk menantikan keputusan sesuai dengan firman TUHAN. (13) Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: (14) ‘Bawalah orang yang mengutuk itu ke luar perkemahan dan semua orang yang mendengar haruslah meletakkan tangannya ke atas kepala orang itu, sesudahnya haruslah seluruh jemaah itu melontari dia dengan batu. (15) Engkau harus mengatakan kepada orang Israel, begini: Setiap orang yang mengutuki Allah harus menanggung kesalahannya sendiri. (16) Siapa yang menghujat nama TUHAN, pastilah ia dihukum mati dan dilontari dengan batu oleh seluruh jemaah itu. Baik orang asing maupun orang Israel asli, bila ia menghujat nama TUHAN, haruslah dihukum mati. ... (23) Demikianlah Musa menyampaikan firman itu kepada orang Israel, lalu dibawalah orang yang mengutuk itu ke luar perkemahan, dan dilontarilah dia dengan batu. Maka orang Israel melakukan seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.”.

Yoh 10:31-33 - “(31) Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. (32) Kata Yesus kepada mereka: ‘Banyak pekerjaan baik yang berasal dari BapaKu yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?’ (33) Jawab orang-orang Yahudi itu: ‘Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diriMu dengan Allah.’”.

2. Tetapi pada saat itu Palestina ada dibawah kekuasaan Romawi sehingga sebetulnya Sanhedrin / Mahkamah Agama itu tidak berhak membunuh / menghukum mati seseorang (Yoh 18:31).

Yohanes 18:31 - “Kata Pilatus kepada mereka: ‘Ambillah Dia dan hakimilah Dia menurut hukum Tauratmu.’ Kata orang-orang Yahudi itu: ‘Kami tidak diperbolehkan membunuh seseorang.’”.

Tetapi saking marahnya, mereka mengabaikan semua ini.

3. ‘Saksi-saksi’ (7:58) adalah saksi-saksi palsu dalam Kis 6:13.

Kisah Para Rasul 7:58 - “Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya. Dan saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang muda yang bernama Saulus.”.

Kisah Para Rasul 6:13 - “Lalu mereka memajukan saksi-saksi palsu yang berkata: ‘Orang ini terus-menerus mengucapkan perkataan yang menghina tempat kudus ini dan hukum Taurat,”.

Menurut Ul 17:7 pada saat merajam, maka para saksi harus melempar batu pertama.

Ulangan 17:7 - “Saksi-saksi itulah yang pertama-tama menggerakkan tangan mereka untuk membunuh dia, kemudian seluruh rakyat. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu.’”.

4. Mereka melepas jubah dan meletakkannya di bawah kaki Saulus (7:58), karena mereka mau merajam Stefanus.

Kis 7:58 - “Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya. Dan saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang muda yang bernama Saulus.”.

4) Stefanus berdoa (Kisah Para Rasul 7:59-60).

Kis 7:59-60 - “(59) Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: ‘Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.’ (60) Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: ‘Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!’ Dan dengan perkataan itu meninggallah ia.”.

a) Stefanus berdoa biasa, bukan dengan bahasa roh (padahal ia penuh Roh Kudus).

b) Stefanus menujukan doanya kepada Yesus (Kisah Para Rasul  7:59) dan saat itu ia dipenuhi Roh Kudus sehingga jelas bahwa tindakannya itu dipimpin oleh Roh Kudus dan tidak mungkin salah!

Jadi, berdoa kepada Yesus tidak salah! Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah Allah, sehingga kita boleh berdoa kepada yang manapun dari Mereka!

Bandingkan dengan ajaran Saksi Yehuwa yang melarang kita untuk berdoa kepada Yesus!

c) Stefanus tetap tenang, sekalipun ia menghadapi kematian yang mengerikan.

Mengapa Stefanus bisa tetap tenang sekalipun ia menghadapi kematian yang mengerikan, sedangkan banyak orang lain menghadapi kematian yang ‘enak’ / ‘tenang’ tetapi mereka menghadapinya dengan takut / gelisah? Karena Stefanus memiliki Yesus dan orang-orang itu tidak! Kalau saat ini saudara menghadapi kematian, bisakah saudara tenang? Kalau tidak, datanglah kepada Yesus dan terimalah Dia sebagai Juruselamat saudara!

d) Stefanus betul-betul penuh dengan kasih!

Ia mempraktekkan Mat 5:44 dengan berdoa bagi musuh-musuhnya (Kisah Para Rasul  7:60).

Matius 5:44 - “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”.

Kisah Para Rasul 7:60 - “Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: ‘Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!’ Dan dengan perkataan itu meninggallah ia.”.

Dan doa ini, setidaknya sebagian dari doa ini, dijawab / dikabulkan oleh Tuhan, karena akhirnya Saulus bertobat dan bahkan menjadi rasul yang terbesar! Mungkin Stefanus sendiri tidak pernah mengira bahwa doanya akan menghasilkan sesuatu yang begitu hebat. Memang Allah bisa mengabulkan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan (Ef 3:20).

Efesus 3:20 - “Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita,”.

Karena itu banyaklah berdoa, khususnya untuk orang-orang yang belum percaya.

e) Stefanus ingat akan Firman Tuhan / tindakan / kata-kata Yesus pada saat ia ada dalam bahaya / mengalami rasa sakit / hampir mati.

1. Kata-katanya dalam 7:59 mirip dengan kata-kata Yesus dalam Luk 23:46.

Kis 7:59 - “Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: ‘Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.’”.

Lukas 23:46 - “Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: ‘Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu.’ Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawaNya.”.

2. Kata-katanya dalam 7:60 mirip dengan kata-kata Yesus dalam Luk 23:34.

Kis 7:60 - “Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: ‘Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!’ Dan dengan perkataan itu meninggallah ia.”.

Lukas 23:34 - “Yesus berkata: ‘Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.’ Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaianNya.”.

Jelas bahwa ia bisa melakukan semua itu karena ia banyak mempelajari / merenungkan Firman Tuhan. Memang pada jaman Stefanus itu keempat kitab Injil belum ada, tetapi jelas bahwa rasul-rasul dalam pengajarannya banyak menceritakan tindakan dan kata-kata Yesus, khususnya di sekitar penderitaan / salib. Dan Stefanus mendengar semua ini dari pengajaran Firman Tuhan dari rasul-rasul.

Penerapan:

Karena itu saudara juga harus rajin / tekun dalam membaca, belajar dan merenungkan Firman Tuhan, baik dalam Saat Teduh, dalam Pemahaman Alkitab, dalam Kebaktian! Ini akan banyak manfaatnya khususnya pada waktu saudara menghadapi problem, penderitaan, penganiayaan, bahkan kematian.

II) Penganiayaan terhadap Gereja.

Setelah Stefanus mati, orang-orang Yahudi bukannya bertobat ataupun puas, tetapi malah menjadi makin haus darah! Sekarang mereka menyerang gereja!

Kis 8:1b,3 - “(1b) Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria. ... (3) Tetapi Saulus berusaha membinasakan jemaat itu dan ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara.”.

Jadi, orang kristen ditangkapi, dipenjarakan, disiksa, dipaksa menyangkal iman dan bahkan dibunuh. Ini terlihat dari kesaksian Paulus sendiri dalam Kis 22:4-5 dan Kis 26:10-11.

Kis 22:4-5 - “(4) Dan aku telah menganiaya pengikut-pengikut Jalan Tuhan sampai mereka mati; laki-laki dan perempuan kutangkap dan kuserahkan ke dalam penjara. (5) Tentang hal itu baik Imam Besar maupun Majelis Tua-Tua dapat memberi kesaksian. Dari mereka aku telah membawa surat-surat untuk saudara-saudara di Damsyik dan aku telah pergi ke sana untuk menangkap penganut-penganut Jalan Tuhan, yang terdapat juga di situ dan membawa mereka ke Yerusalem untuk dihukum.”.

Kis 26:10-11 - “(10) Hal itu kulakukan juga di Yerusalem. Aku bukan saja telah memasukkan banyak orang kudus ke dalam penjara, setelah aku memperoleh kuasa dari imam-imam kepala, tetapi aku juga setuju, jika mereka dihukum mati. (11) Dalam rumah-rumah ibadat aku sering menyiksa mereka dan memaksanya untuk menyangkal imannya dan dalam amarah yang meluap-luap aku mengejar mereka, bahkan sampai ke kota-kota asing.’”.

Hal yang perlu direnungkan / dipikirkan adalah bahwa hal ini juga bisa terjadi pada diri kita. Menjelang akhir jaman, dengan kedatangan anti Kristus, dsb, maka kita akan memasuki masa kesukaran besar. Kita / orang kristen bukannya akan mengalami rapture / pengangkatan sehingga terluput dari masa kesukaran besar seperti yang jaman sekarang banyak diajarkan (bdk. Wah 7:14 - “mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan besar”). Karena itu penganiayaan seperti itu bisa menjadi pengalaman kita! Apakah saudara siap menghadapi penganiayaan? Karena itu, gunakan masa ini baik-baik untuk menguatkan iman saudara sehingga kalau masa kesukaran besar itu datang, saudara bisa berdiri teguh!

III) Apa yang dilakukan oleh Gereja?

1) Jemaat menguburkan dan meratapi Stefanus (Kisah Para Rasul  8:2).

Kis 8:2 - “Orang-orang saleh menguburkan mayat Stefanus serta meratapinya dengan sangat.”.

Kita tidak pernah membaca dalam Kitab Suci bahwa orang-orang kristen pada saat itu lalu menyalahkan Stefanus. Sebaliknya dari penguburan dan peratapan terhadap Stefanus yang diceritakan di sini, jelas bahwa jemaat tidak menyalahkan Stefanus!

Coba bayangkan, andaikata saat ini ada orang yang berkobar-kobar memberitakan Injil dengan cara benar sehingga ia lalu dibunuh. Dan setelah itu muncul penganiayaan terhadap orang kristen, termasuk pada saudara, apakah saudara tidak akan menyalahkan kefanatikan orang itu? Kalau saudara menyalahkan, saudara salah! Tidak peduli betapa hebatnya akibat negatif yang timbul akibat tindakan benar seseorang, kita tidak boleh menyalahkan orang itu!

2) Jemaat tersebar (Kisah Para Rasul 8:1b).

Kis 8:1b - “Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria.”.

Apakah ‘lari’ dari penganiayaan seperti itu adalah dosa? Perlu diketahui bahwa kalau kita mau dibunuh / dianiaya, maka kita tidak boleh menyerahkan diri kita begitu saja, karena ini sama dengan bunuh diri / tidak mengasihi diri sendiri. Jadi, kecuali ada alasan khusus, maka dalam keadaan seperti itu sebetulnya kita justru harus lari.

Sekalipun dalam keadaan seperti itu kita boleh lari, tetapi itu bisa merupakan dosa, kalau larinya dengan takut / tidak beriman seperti yang terjadi dalam Mark 14:50-52.

Mark 14:50-52 - “(50) Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri. (51) Ada seorang muda, yang pada waktu itu hanya memakai sehelai kain lenan untuk menutup badannya, mengikuti Dia. Mereka hendak menangkapnya, (52) tetapi ia melepaskan kainnya dan lari dengan telanjang.”.

Tetapi juga bisa bukan dosa kalau seperti dalam Mat 12:14-15 & Kis 9:23-26, dimana orangnya lari / menyingkir hanya untuk melindungi nyawanya, tetapi tetap dengan beriman kepada Tuhan dan dengan tidak takut.

Matius 12:14-15 - “(14) Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan bersekongkol untuk membunuh Dia. (15) Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana. Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya.”.

Kis 9:23-26 - “(23) Beberapa hari kemudian orang Yahudi merundingkan suatu rencana untuk membunuh Saulus. (24) Tetapi maksud jahat itu diketahui oleh Saulus. Siang malam orang-orang Yahudi mengawal semua pintu gerbang kota, supaya dapat membunuh dia. (25) Sungguhpun demikian pada suatu malam murid-muridnya mengambilnya dan menurunkannya dari atas tembok kota dalam sebuah keranjang. (26) Setibanya di Yerusalem Saulus mencoba menggabungkan diri kepada murid-murid, tetapi semuanya takut kepadanya, karena mereka tidak dapat percaya, bahwa ia juga seorang murid.”.


Jemaat abad pertama ini tidak takut. Apa buktinya? Mereka berani menguburkan dan meratapi Stefanus (Kisah Para Rasul  8:2), bukannya bersikap seolah-olah mereka tidak kenal dia!

3) Rasul-rasul tidak lari, mereka tetap di Yerusalem (Kisah Para Rasul 8:1b). Mengapa?

a) Mungkin karena mereka disuruh Tuhan untuk tetap di Yerusalem (bdk. Kis 18:5-11).

Kis 18:5-11 - “(5) Ketika Silas dan Timotius datang dari Makedonia, Paulus dengan sepenuhnya dapat memberitakan firman, di mana ia memberi kesaksian kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesus adalah Mesias. (6) Tetapi ketika orang-orang itu memusuhi dia dan menghujat, ia mengebaskan debu dari pakaiannya dan berkata kepada mereka: ‘Biarlah darahmu tertumpah ke atas kepalamu sendiri; aku bersih, tidak bersalah. Mulai dari sekarang aku akan pergi kepada bangsa-bangsa lain.’ (7) Maka keluarlah ia dari situ, lalu datang ke rumah seorang bernama Titius Yustus, yang beribadah kepada Allah, dan yang rumahnya berdampingan dengan rumah ibadat. (8) Tetapi Krispus, kepala rumah ibadat itu, menjadi percaya kepada Tuhan bersama-sama dengan seisi rumahnya, dan banyak dari orang-orang Korintus, yang mendengarkan pemberitaan Paulus, menjadi percaya dan memberi diri mereka dibaptis. (9) Pada suatu malam berfirmanlah Tuhan kepada Paulus di dalam suatu penglihatan: ‘Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! (10) Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorangpun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umatKu di kota ini.’ (11) Maka tinggallah Paulus di situ selama satu tahun enam bulan dan ia mengajarkan firman Allah di tengah-tengah mereka.”.

b) Mungkin mereka bersikap sebagai gembala yang harus mempertahankan domba-domba mereka (bdk. Yoh 18:3-9 Yoh 10:11-13).

Yohanes 18:3-9 - “(3) Maka datanglah Yudas juga ke situ dengan sepasukan prajurit dan penjaga-penjagaBait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi lengkap dengan lentera, suluh dan senjata. (4) Maka Yesus, yang tahu semua yang akan menimpa diriNya, maju ke depan dan berkata kepada mereka: ‘Siapakah yang kamu cari?’ (5) Jawab mereka: ‘Yesus dari Nazaret.’ KataNya kepada mereka: ‘Akulah Dia.’ Yudas yang mengkhianati Dia berdiri juga di situ bersama-sama mereka. (6) Ketika Ia berkata kepada mereka: ‘Akulah Dia,’ mundurlah mereka dan jatuh ke tanah. (7) Maka Ia bertanya pula: ‘Siapakah yang kamu cari?’ Kata mereka: ‘Yesus dari Nazaret.’ (8) Jawab Yesus: ‘Telah Kukatakan kepadamu, Akulah Dia. Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi.’ (9) Demikian hendaknya supaya genaplah firman yang telah dikatakanNya: ‘Dari mereka yang Engkau serahkan kepadaKu, tidak seorangpun yang Kubiarkan binasa.’”.

Yohanes 10:11-13 - “(11) Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; (12) sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. (13) Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu.”.

c) Mungkin kalau mereka lari, maka ‘predikat pengecut’ akan merugikan gereja dan melemahkan iman orang-orang kristen yang lain.

Jadi, kalau terjadi hal seperti itu, seorang hamba Tuhan boleh lari atau tidak, tergantung pada:

1. Kehendak Allah.

2. Lari itu menguntungkan atau merugikan gereja / kekristenan?

Tetapi ternyata Allah melindungi rasul-rasul itu dan tidak ada yang ditangkap / dibunuh. Ingat bahwa sekalipun Allah bisa saja melindungi, tetapi tidak selalu Ia mau melindungi. Kenyataannya 10 dari 12 rasul mati syahid (kecuali Yudas Iskariot dan Yohanes)!

4) Jemaat memberitakan Injil (Kisah Para Rasul  8:4).

Kisah Para Rasul 8:4 - “Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil.”.

a) Ini bukti lain bahwa sekalipun mereka lari, tetapi mereka tidak takut.

Mereka lari bukan untuk bersembunyi dan menunggu saat yang baik. Mereka memberitakan Injil (bdk. 2Timotius 4:2). Jelas bahwa mereka menggunakan akal sehatnya (lari, tidak mau mati konyol), tetapi akal sehat mereka tetap tidak membuat mereka kehilangan keberanian untuk memberitakan Injil. Ada banyak orang yang berani memberitakan Injil tanpa menggunakan akal sehatnya! Tetapi sebaliknya juga ada yang menggunakan akal sehat terlalu banyak, sehingga lalu tidak memberitakan Injil.

b) Jemaat / orang kristen saat itu tetap setia kepada Tuhan sekalipun harus menderita.

Mereka kehilangan rumah, pekerjaan, harta, bahkan mungkin keluarga. Tetapi mereka tetap setia kepada Tuhan dan itu mereka tunjukkan dengan memberitakan Injil. Bagaimana dengan saudara? Maukah tetap setia kepada kekristenan meskipun harus kehilangan segala sesuatu? Kalau tanpa penderitaanpun saudara sudah tidak setia, sukar diharapkan bahwa dalam penderitaan saudara bisa setia!

c) Kekristenan makin ditekan, makin berkembang! (bdk. Kel 1:12).

Keluaran 1:12 - “Tetapi makin ditindas, makin bertambah banyak dan berkembang mereka, sehingga orang merasa takut kepada orang Israel itu.”.

Mungkin sekali, penganiayaan terjadi karena orang kristen terus berkumpul di Yerusalem dan tidak melakukan Kis 1:8!

Kisah Para Rasul 1:8 - “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.’”.

Tuhan memberikan penganiayaan supaya kekristenan berkembang! Apakah saudara menunggu Tuhan memberikan penganiayaan baru saudara mau memberitakan Injil?

d) Yang memberitakan Injil adalah jemaat biasa!

Ingat bahwa rasul-rasul tetap di Yerusalem. Jadi yang tersebar dan memberitakan Injil adalah jemaat biasa. Berdasarkan hal itu, jangan menganggap saudara tidak perlu memberitakan Injil karena saudara bukan pendeta, penginjil, majelis, dsb.

Penutup:

Pokoknya saudara adalah orang kristen, saudara harus memberitakan Injil! Maukah saudara memberitakan Injil? Baca Mat 12:30!

Matius 12:30 - “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.”.

STEFANUS DAN GEREJA (KISAH PARA RASUL 7:54-8:4)
-AMIN-
Next Post Previous Post