KARAKTER KRISTEN: SOLUSI TERHADAP MASALAH-MASALAH MORALITAS

Pdt.Samuel T. Gunawan,  M.Th.
KARAKTER KRISTEN: SOLUSI TERHADAP MASALAH-MASALAH MORALITAS
KARAKTER KRISTEN: SOLUSI TERHADAP MASALAH-MASALAH MORALITAS. Dr. Tim La Haye dalam bukunya yang berjudul You and Your Family, memberikan diagram silsilah dua orang yang hidup pada abad 18. Max Jukes, seorang penyelundup alkohol yang tidak bermoral, dan Dr. Jonathan Edwards, seorang pendeta yang saleh dan pengkhotbah kebangunan rohani. 

Jonathan Edwards ini menikah dengan seorang wanita yang mempunyai iman dan filsafat hidup yang baik. Melalui silsilah kedua orang ini ditemukan bahwa dari Max Jukes terdapat 1.026 keturunan : 300 orang mati muda, 100 orang dipenjara, 190 orang pelacur, 100 orang peminum berat. Dari Dr. Edwards terdapat 729 keturunan : 300 orang pengkhotbah, 65 orang profesor di universitas, 13 orang penulis, 3 orang pejabat pemerintah, dan 1 orang wakil presiden Amerika. Kisah ini mengantarkan kita pada persoalan sangat penting, karakter Kristen.

Apakah karakter Kristen itu?

Kamus Umum Bahasa Indonesia menyebutkan karakter sebagai, “tabiat; watak; sifat-sifat kejiwaan atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lainnya”. Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan bahwa karakter adalah istilah psikologis yang menunjuk kepada “sifat khas yang dimiliki oleh individu yang membedakannya dari individu lainnya”. 

Jadi pada dasarnya karakter adalah sifat-sifat  yang melekat pada kepribadian seseorang.  Sedangkan kata “Kristen” adalah sebutan bagi seseorang yang telah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi serta meneladani hidup dan ajaran Kristus dalam kehidupan sehari-hari.  Dengan demikian, karakter Kristen adalah kualitas (sifat-sifat) rohani yang dimiliki seorang Kristen.   

Mengapa kita perlu mengajarkan dan menularkan karakter Kristen?

Saat ini, kenakalan remaja dan berbagai penyimpangannya merupakan tanda kurangnya keteladan orang tua.  Korupsi bukanlah masalah ekonomi dan kurangnya pendidikan akademis, melainkan masalah moral dan etika, yaitu keserakahan yang tidak terkendali. 

Ketidak-adilan bukanlah masalah hukum yang belum ditetapkan dengan benar, melainkan masalah kompromi dengan uang dan kekuasaan. Kemiskinan bukanlah masalah tidak adanya sumber daya alam, melainkan karena masalah ketidakadilan, ketiadaan pemerataan, dan keserakahan. Kebencian dan pertikaian antar kelompok bukanlah masalah sosial budaya, melainkan kurangnya kasih dan rendahnya spiritual masyarakat. 

Tepat seperti yang dikatakan Jimmy B. Oentoro,  seorang pemimpin gereja Kharismatik di Indonesia, “bila dicermati, masalah-masalah yang terjadi disekitar kita biasanya berakar pada hal-hal moral, etika dan spiritual”. 

Demikian juga pendapat William Bennet, mantan anggota kabinet Amerika Serikat  yang berkata, “masalah-masalah yang paling serius yang menimpa masyarakat masa kini sudah jelas menyangkut moral, perilaku dan keagamaan, maka dari itu jelas-jelas tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah”. Ironinya, ketika para pemimpin agama dan politikus mengatakan bahwa solusi dari masalah-masalah saat ini menyakut spiritualitas,  banyak orang justru bertindak seakan-akan politik adalah pemecahan masalahnya.  


Karena itu, setidaknya ada tiga alasan urgensi yang mengharuskan orang Kristen mengajarkan dan menampilkan karakter Kristen, yaitu: 

(1) Kemerosotam moral. 

Saat ini sudah begitu luas kalangan merasakan terjadinya kemerosotan moral. Pengajaran karakter adalah suatu perlawanan terhadap kemerosotan moral dan terhadap etika modern yang rasionalistik yang dipengaruhi oleh pencerahan dan individualistik; 

(2) Bahaya Pluralisme. 

Di era globalisasi dari postmodern saat ini kita semakin menyadari berbagai aturan moral yang berbeda dari berbagai budaya yang berbeda. Saat ini kita hidup disuatu era perjumpaan global dan keragaman budaya, dan itu membutuhkan kemampuan untuk beradaptasi; 

(3) Pudarnya semangat keteladan. 

Karakter dibentuk oleh orang-orang lain yang menjadi model atau mentor yang diikuti.  Orang tua (dirumah), guru (disekolah), pembina rohani (digereja) yang menjadi model atau teladan turut membentuk karakter seseorang. Sayangnya, kebanyakan teori etika individualistik dan rasionalistik modern kurang memperhatikan pengaruh-pengaruh keteladanan ini; atau dengan kata lain, semangat untuk mewarisi keteladanan ini telah semakin memudar.

Bagaimana solusi Kristen melawan kekuatan dari rasionalisme, liberalisme, dan individualisme modern yang menghancurkan ini?

Beberapa pakar etika Kristen bersikeras bahwa kita perlu berfokus bukan hanya pada keputusan benar atau salah, tetapi juga pada apa yang membentuk karakter dari orang-orang yang membuat keputusan dan melakukan perbuatan. Sudah tiba saatnya orang-orang Kristen harus lebih berani dan lebih tegas lagi mengajarkan, menampilkan dan menularkan karakter Kristen dimana pun mereka berada. Kita mengetahui bahwa identitas orang Kristen dikenal lewat dua kualitas transformatif yang secara metaforis dinyatakan sebagai “garam” dan “terang” dunia (Matius 5:13,14). 

Kedua metafora ini mengacu kepada “perbedaan” dan “pengaruh” yang harus dimanifestasikan murid-murid  Yesus kepada dunia ini, dan dapat diartikan sebagai “penetrating power of the Gospel yang harus dinyatakan oleh murid-murid Yesus yang sudah lebih dahulu mengalami transformasi. Implikasi dari penegasan ini  cukup serius, yaitu bahwa orang Kristenharus memikul beban moral dari metafora-metafora ini secara konsisten dan konsekuen. 

Lebih jauh, implikasi ini bukan sekedar penegasan, tetapi merupakan sebuah panggilan bagi orang Kristen untuk melibatkan diri dan memberi solusi dalam masalah-masalah seperti: masalah kenakalan remaja, penyimpangan dan kejahatan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, aborsi, perusakan lingkungan, dan lain sebagainya.

Ringkasnya

Pengaruh kurangnya karakter yang baik merupakan aspek yang dapat merusak kesaksian Kristen. Jika garam menjadi tawar maka ia tidak berguna; dan jika terang disembunyikan di bawah gantang maka ia tidak dapat menerangi semua orang (Matius 5:13,15). Karena itu Kristus menegaskan, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik (kalá erga)dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Matius 5:16). 

Kata Yunani  “kalá erga”  menunjuk kepada perbuatan baik dalam pengertian moral, kualitas dan manfaat. Jadi, perbuatan baik adalah cermin dari kualitas karakter seseorang. Karakter yang baik menghasilkan perbuatan baik yang bermanfaat bagi kehidupan, seperti: integritas menghasilkan kewibawaan, tanggung jawab menghasilkan kedewasaan, kejujuran menghasilkan kepercayaan, ketulusan menghasilkan persahabatan, iman menghasilkan kekuatan, ketekunan menghasilkan pengharapan, dan lain sebagainya.


Kristus berkata, Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik (Matius 7:17-18). Disinilah peranan orang tua, pendidik, dan para rohaniawan Kristen dalam mengajarkan dan menularkan karakter Kristen semakin terasa urgensinya. KARAKTER KRISTEN: SOLUSI TERHADAP MASALAH-MASALAH MORALITAS. https://teologiareformed.blogspot.com/
Next Post Previous Post