LUKAS 1:26-38 (DIALOG GABRIEL DENGAN MARIA)

Pdt.Budi Asali, M.Div.
BACAAN: LUKAS 1:26-38.

I) Gabriel datang kepada Maria (Lukas 1: 26-28a):
LUKAS 1:26-38 (DIALOG GABRIEL DENGAN MARIA)
otomotif, tutorial, gadget
1) ‘Bulan keenam’ (Lukas 1: 26).

Maksudnya adalah bulan keenam setelah malaikat datang kepada Zakharia / bulan keenam setelah Elisabet mulai mengandung (bdk. ay 36b). Ini menunjukkan bahwa usia Yesus lebih muda sekitar 6 bulan dari Yohanes Pembaptis. Tentu saja dalam hal ini Yesus ditinjau sebagai manusia! Sebagai Allah Ia kekal dan lebih tua dari siapapun!

2) ‘sebuah kota di Galilea bernama Nazaret’ (Lukas 1: 26).

Ini adalah kota / tempat yang hina (Yohanes 1:46 7:41,52).

Ditinjau dari banyak sudut, baik pemberitaan tentang kelahiran Yohanes Pembaptis maupun kelahiran Yohanes Pembaptis kelihatannya lebih hebat / mentereng dari pada pemberitaan tentang kelahiran Yesus dan kelahiran Yesus. Kelahiran Yohanes Pembaptis diberitakan di dalam Bait Allah di Yerusalem, sedangkan kelahiran Yesus diberitakan di rumah Maria di Nazaret di Galilea (Lukas 1: 26,28a). Kelahiran Yohanes Pembaptis diberitakan kepada seorang imam yaitu Zakharia, sedangkan kelahiran Yesus diberitakan kepada seorang gadis desa yaitu Maria. Yohanes Pembaptis dilahirkan dalam rumah / keluarga imam, sedangkan Yesus dilahirkan di tempat hewan / keluarga tukang kayu yang miskin (Lukas 2:6-7 Mat 13:55a). Kelahiran Yohanes Pembaptis diketahui banyak orang, sedangkan kelahiran Yesus hampir tidak diketahui orang (Lukas 2:6-7).

Bandingkan semua ini dengan Yes 53:2b, yang berbunyi:

"Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya"

Tetapi jelas bahwa Yesus jauh lebih besar dari Yohanes Pembaptis. Ini mengajar kita untuk tidak menilai Yesus secara jasmani (bdk. 2Korintus 5:16). Kalau saudara menilai Yesus secara jasmani, saudara tidak akan pernah mau datang dan percaya kepada Dia, dan itu akan membawa penghukuman kekal bagi saudara!

Juga dalam menilai hal-hal lain, banyak orang menilainya secara jasmani / lahiriah, misalnya:
dalam menilai suatu agama mereka memperhatikan berapa banyak jumlah umatnya, populernya agama tersebut, dsb.

dalam menilai gereja mereka memperhatikan kemegahan gedungnya, banyaknya jemaatnya, banyaknya cabang yang dimiliki, nama / merk gereja yang ngetop, dsb.

dalam menilai pendeta mereka melihat gagahnya si pendeta, gelarnya yang hebat, IQ tinggi yang ia miliki, sekolah yang hebat di luar negeri tempat ia mendapatkan pendidikan theologia, dsb.

dalam menilai buku rohani mereka melihat bentuk bukunya, warna dan cetakannya yang menarik, dsb.

Ini semua salah, karena kita harus menilainya secara rohani! Bagaimana mutu rohaninya, itulah yang harus dipertanyakan!

3) Maria adalah seorang perawan yang masih dalam status bertunangan dengan Yusuf (Lukas 1: 27).

a) Pandangan William Barclay tentang kelahiran Yesus dari seorang perawan (Virgin Birth):

"... the Virgin Birth. The Church does not insist that we believe in this doctrine" (= ... kelahiran dari perawan. Gereja tidak mendesak / memaksa supaya kita percaya pada doktrin ini).

Komentar saya: hanya gereja yang sesat yang tidak mendesak kepercayaan terhadap doktrin ini.

Barclay lalu mengatakan bahwa ada alasan untuk menerima doktrin Virgin Birth ini yaitu penafsiran hurufiah dari Lukas 1:26-38 dan Matius 1:18-25.

Tetapi juga ada alasan untuk menolak doktrin Virgin Birth ini, yaitu:
Silsilah Yesus (Matius 1:1-17 Lukas 3:23-38) melalui Yusuf. Aneh kalau Yusuf bukanlah ayah Yesus yang sesungguhnya.

Jawab:

Secara hukum, Yesus adalah anak Yusuf! Karena itu tidak aneh, kalau silsilahNya dibuat melalui Yusuf. Disamping itu, saya berpendapat bahwa silsilah Yesus dalam Lukas 3:23-38 adalah melalui Maria. Untuk itu lihat pelajaran Luk 3:23-38 di belakang.

Maria menyebut Yusuf sebagai ayah Yesus (Luk 2:48).

Jawab:

o ayah tiri biasa disebut ayah, dan secara sah / secara hukum Yusuf memang adalah ayah Yesus.

o Terhadap kata-kata Maria dalam Lukas 2:48 itu Yesus menjawab:

"Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah BapaKu?" (Lukas 2:49). Dengan kata lain, Ia mengatakan bahwa Yusuf bukanlah bapaNya, karena Allahlah yang adalah BapaNya.

Matius 13:55 dan Yohanes 6:42 mengatakan bahwa Yesus adalah anak Yusuf.

Jawab:

Bandingkan dengan Lukas 3:23 - "menurut anggapan orang Ia adalah anak Yusuf". Ini jelas menunjukkan bahwa sebetulnya Yesus bukanlah anak Yusuf.
sisa Perjanjian Baru tidak berbicara apa-apa tentang Virgin Birth.

Jawab:

Bahwa Perjanjian Lama, dalam Yesaya 7:14, menubuatkan kelahiran Yesus dari seorang perawan, dan Perjanjian Baru, dalam Matius 1:23, menganggap kelahiran Yesus sebagai penggenapan nubuat itu, adalah sesuatu yang lebih dari cukup untuk mempertahankan doktrin kelahiran Yesus dari seorang perawan.

Barclay lalu berkata:

"The Jews had a saying that in the birth of every child there are three partners - the father, the mother and the Spirit of God. They believed that no child could be born without the Spirit. And it may well be that the New Testament stories of the birth of Jesus are lovely, poetical ways of saying that, even if he had a human father, the Holy Spirit of God was operative in his birth in a unique way.

In this matter we may make our own decision. It may be that we will desire to cling to the literal doctrine of the virgin birth; it may be that we will prefer to think of it as a beautiful way of stressing the presence of the Spirit of God in family life".

(= Orang-orang Yahudi mempunyai pepatah yang berkata bahwa dalam kelahiran dari setiap anak ada 3 orang yang bekerja sama - sang ayah, sang ibu dan Roh Allah. Mereka percaya bahwa tidak ada anak yang bisa dilahirkan tanpa Roh. Dan bisa saja bahwa cerita-cerita Perjanjian Baru tentang kelahiran Yesus adalah cara yang indah dan puitis untuk mengatakan bahwa kalaupun Yesus mempunyai ayah manusia, Roh Kudus Allah bekerja dalam kelahiranNya dalam suatu cara yang unik.

Dalam persoalan ini kita boleh membuat keputusan kita sendiri. Bisa saja bahwa kita mau berpegang pada doktrin hurufiah tentang kelahiran dari perawan; bisa saja bahwa kita lebih memilih untuk menganggapnya sebagai suatu cara yang indah untuk menekankan kehadiran dari Roh Allah dalam kehidupan keluarga).

Komentar / tanggapan saya: Lukas 1:26-38 dan Matius 1:18-25 merupakan historical narrative (= cerita sejarah), sehingga memang harus ditafsirkan secara hurufiah, dan tidak boleh diartikan sebagai puisi!

b) Doktrin kelahiran Yesus dari seorang perawan adalah doktrin benar yang sangat penting yang harus dipertahankan.

Perlu saudara ketahui bahwa:
Kata Yunani yang diterjemahkan ‘perawan’ adalah PARTHENOS dan kata ini tidak pernah digunakan untuk menunjuk kepada perempuan yang sudah menikah.

Disamping itu, kata-kata Maria dalam Lukas 1: 34 yang berbunyi ‘aku belum bersuami’ terjemahan hurufiahnya adalah seperti yang diberikan oleh KJV, yaitu: ‘I know not a man’ (= aku tidak tahu / kenal laki-laki), dan ini jelas menunjukkan bahwa ia betul-betul masih perawan.
Kalau Yesus tidak dilahirkan oleh seorang perawan yang mengandung dari Roh Kudus, tetapi dari pernikahan biasa atau dari perzinahan, maka:

nubuat Firman Tuhan dalam Yesaya 7:14 tidak tergenapi.

Ia bukanlah Allah dan manusia tetapi hanyalah manusia biasa.

Ia tidak bisa lahir suci. Dan kalau Ia lahir sebagai manusia berdosa, maka Ia tidak bisa menebus dosa manusia.

Jadi terlihat bahwa ada banyak doktrin-doktrin besar / dasar kekristenan, termasuk doktrin keilahian Kristus dan doktrin tentang penebusan dosa oleh Kristus, yang didasarkan atas doktrin kelahiran Yesus dari seorang perawan ini. Dengan demikian, kalau doktrin kelahiran dari perawan itu ditolak, itu sama dengan menolak seluruh kekristenan!

Orang yang tidak percaya pada doktrin kelahiran Yesus dari seorang perawan, pastilah bukan orang yang sungguh-sungguh beriman!

II) Dialog Gabriel dengan Maria (Lukas 1: 28-38):

1) Gabriel memberi salam kepada Maria (Lukas 1: 28).

a) Lukas 1: 28: ‘Salam, hai engkau yang dikaruniai’.

NASB: Hail, favored one (= Salam, orang yang disayangi).

NIV: Greetings, you who are highly favored (= Salam, engkau yang sangat disayangi).

KJV: Hail, thou that art highly favoured (= Salam, engkau yang sangat disayangi).

RSV: Hail, O favoured one (= Salam, hai orang yang disayangi).

Kata Yunani yang dipakai adalah KECHARITOMENE. Perhatikan adanya kata CHARIS (= grace / kasih karunia), yaitu sesuatu yang ada pada Allah yang menyebabkan Ia memberikan karunia kepada orang yang tidak berlayak untuk menerimanya.

Karena itu Calvin menafsirkan bahwa kata Yunani ini menunjuk pada undeserved favour of God (= kebaikan dari Allah yang tidak layak didapatkan).

Semua ini menunjukkan bahwa Maria tidak layak menerima karunia ini dan ini jelas menunjukkan bahwa Maria itu bukannya suci murni tanpa dosa.

b) Salam dari Gabriel kepada Maria ini oleh gereja Roma Katolik lalu diubah menjadi doa Salam Maria, yaitu suatu doa yang mereka naikkan kepada Maria.

Calvin mengatakan bahwa ada 3 ketidakcocokan antara kata-kata Gabriel dalam Lukas 1: 28 ini dan doa Salam Maria
Lukas 1: 28 itu bukanlah suatu doa; tetapi Salam Maria adalah suatu doa.

Lukas 1: 28 itu diucapkan oleh malaikat; tetapi Salam Maria dinaikkan / diucapkan oleh manusia.

ay 28 ini diucapkan kepada Maria yang ada dalam keadaan hidup di dunia ini, sedangkan doa Salam Maria dinaikkan / diucapkan kepada Maria yang sudah mati.

2) Maria terkejut (Lukas 1: 29) dan menjadi takut (Lukas 1: 30a).

NIV/NASB: greatly troubled (= sangat bingung).

3) Gabriel memberitakan kelahiran Yesus (Lukas 1: 30-33).

a) Lukas 1: 30b: ‘engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah’.

NIV: you have found favor with God (= NASB/KJV/RSV).

Yunani: CHARIN à CHARIS (grace / kasih karunia).

Ini lagi-lagi menunjukkan bahwa Maria sebetulnya tidak berlayak menerima anugerah itu.

b) Lukas 1: 31: bdk. Yesaya 7:14.

c) Lukas 1: 32-33:
‘akan disebut Anak Allah’.

Ini tak berarti bahwa sebelum jadi manusia Yesus bukanlah Anak Allah. Artinya: dulu Ia sudah adalah Anak Allah, lalu Ia menjadi manusia dan manusia akan tahu dan mengakui / menyebutNya sebagai Anak Allah.

‘Ia akan menjadi besar ... Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepadaNya tahta Daud, bapa leluhurNya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan KerajaanNya tidak akan berkesudahan’.

kata ‘mengaruniakan’ di sini sebetulnya salah terjemahan, karena dalam bahasa Yunaninya tidak mengandung kata CHARIS (= grace / kasih karunia). NIV/NASB menterjemahkan give (= memberikan). Yesus memang bukannya tidak berlayak, tetapi sebaliknya layak menerima hal itu!

Bahwa Yesus akan menjadi besar dan mewarisi tahta Daud, merupakan penggenapan dari nubuat dalam Yesaya 9:5-6.

Dalam Perjanjian Lama dikatakan bahwa kerajaan Daud tidak akan berakhir (2Samuel 7:12-16).

Penggenapan nubuat ini ada dalam diri Yesus.

4) Ketidakpercayaan / kebingungan Maria (Lukas 1: 34).

Kelihatannya reaksi Maria ini sama dengan reaksi Zakharia dalam Lukas 1:18. Tetapi Maria tidak dihukum, dan ini menunjukkan bahwa Maria mempunyai sikap hati yang berbeda.

5) Jawaban Gabriel (Lukas 1: 35-37).

a) Lukas 1: 35:
Gabriel menjelaskan bahwa bisanya Maria yang masih perawan itu mengandung adalah karena Roh Kudus.

Penjelasan Gabriel memang tidak tuntas. Maria tidak harus mengerti semua, tetapi harus percaya dan tunduk.

Penerapan: Dalam hidup saudara ada banyak hal yang saudara tidak bisa mengerti, misalnya mengapa saudara harus mengalami penderitaan ini dan itu. Sekalipun demikian, tetaplah percaya dan tunduk!
Ia melanjutkan dengan mengatakan bahwa karena Maria mengandung karena Roh Kudus, maka ‘anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah’ (Lukas 1: 35b).

NIV: ‘so the holy one to be born shall be called the Son of God’ (= maka orang yang kudus yang akan dilahirkan itu akan disebut Anak Allah).

Ini menunjukkan bahwa karena Maria mengandung dari Roh Kudus, maka Yesus lahir kudus / suci. Ia adalah satu-satunya manusia yang lahir tanpa dosa asal! Kalau tidak demikian, Ia tidak bisa menjadi Penebus dosa kita!

b) Lukas 1: 36:

Ini suatu tanda bagi Maria. Tuhan bisa membuat Elisabet yang sudah tua dan mandul itu mengandung. Karena itu Tuhan juga bisa membuatnya mengandung, sekalipun ia masih perawan!

Penerapan: Sesuatu yang besar yang Allah lakukan bagi orang lain, bisa menguatkan iman kita. Kalau Allah bisa melakukan hal yang besar bagi seseorang, Ia tentu juga bisa melakukannya untuk kita. Tetapi pada saat yang sama kita juga harus ingat bahwa kalau Allah mau melakukan sesuatu yang besar bagi seseorang, tidak selalu Ia mau melakukan hal yang sama bagi kita. Misalnya, Yesus membuat Petrus bisa berjalan di atas air, tetapi Ia tidak pernah mau mengulang hal itu terhadap orang lain.

c) Lukas 1: 37: ‘Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil’.

Lit: ‘Because with God every RHEMA will not be impossible’ (= karena bagi Allah setiap RHEMA tidak akan mustahil).

Kata RHEMA bisa diterjemahkan ‘word’ (= kata / firman). Jadi maksudnya adalah setiap kata yang tadi Tuhan janjikan dalam Lukas 1: 31-33, tidaklah mustahil (bdk. Roma 4:20-21).

bisa juga bahwa sekalipun Lukas menulis dalam bahasa Yunani, ia mengikuti pemikiran Yahudi, dimana ‘word’ (= kata) bisa diartikan ‘thing’ (= benda / suatu).


Catatan: dalam bahasa Ibrani, kata DABAR memang bisa berarti ‘word’ atau ‘thing’. Dengan demikian, maka kata-kata dalam Lukas 1: 37 itu bisa diterjemahkan: ‘Because with God everything will not be impossible’ (= karena bagi Allah segala sesuatu tidaklah mustahil).

Yang manapun yang benar, ini memberikan jaminan kepada Maria bahwa Allah pasti bisa melakukan apa yang sudah Ia firmankan, baik kepada Zakharia maupun kepada Maria.

6) Ketundukan Maria (Lukas 1: 38).

Bagi Maria ketundukan / penyerahannya ini mempunyai resiko tinggi, yaitu:
kesalahpahaman Yusuf (bdk. Matius 1:18-19).

kesalahpahaman, ejekan dan hinaan dari orang-orang di sekitarnya, bahkan dari keluarganya sendiri.

kemungkinan ia akan dihukum mati berdasarkan hukum Perjanjian Lama dalam Ulangan 22:20-21.

Tetapi Maria tetap tunduk dan tidak membantah. Ini menunjukkan iman yang hebat.

Calvin:

"This is the real proof of faith, when we restrain our minds, and as it were, hold them captive, so that they dare not reply this or that to God: for boldness in disputing, on the other hand, is the mother of unbelief" (= Ini merupakan bukti nyata dari iman, kalau kita mengekang pikiran kita, dan menaklukkannya, sehingga tidak berani menjawab ini atau itu kepada Allah: karena keberanian dalam berbantah adalah ibu dari ketidakpercayaan).

Penerapan:
Kalau Tuhan memberikan firman yang kelihatannya tidak logis bagi saudara, maukah saudara percaya?

Kalau Tuhan memberikan perintah yang kalau saudara taati akan memberikan resiko / kerugian besar bagi saudara, maukah saudara tunduk?


Catatan: Pdt. Budi Asali, M.Div:  meraih gelar Master of Divinity (M.Div) dari Reformed Theological Seminary (RTS), Jackson, Mississippi, United States of America
-AMIN-
Next Post Previous Post