LUKAS 1:57-66 (PEMBERIAN NAMA YOHANES)

Pdt.Budi Asali, M.Div.
I) Kelahiran Yohanes Pembaptis:

1) Elisabet melahirkan anak laki-laki (Lukas 1:57).
LUKAS 1:57-66 (PEMBERIAN NAMA YOHANES)
otomotif, tutorial, gadget
a) Orang Tionghoa, apalagi yang totok, lebih senang mendapatkan anak laki-laki dari pada anak perempuan. Tetapi pada orang Yahudi hal ini jauh lebih extrim.

William Barclay berkata bahwa pada itu tradisinya adalah sebagai berikut: pada saat bayi mau lahir, teman-teman dan para pemain musik berkumpul. Kalau lahir bayi laki-laki, mereka menyanyi dan main musik. Tetapi kalau lahir bayi perempuan, mereka pergi dengan diam-diam dan dengan menyesal.

Barclay juga mengatakan bahwa ada pepatah yang berbunyi: "The birth of a male child causes universal joy, but the birth of a female child causes universal sorrow" (= kelahiran anak laki-laki menyebabkan sukacita universal, tetapi kelahiran anak perempuan menyebabkan kesedihan universal).

b) Dengan kelahiran anak laki-laki ini, tergenapilah Firman / janji Tuhan yang diberikan melalui malaikat kepada Zakharia dalam Lukas 1:13.

Sekalipun hal yang dijanjikan itu kelihatannya mustahil karena mereka berdua sudah tua dan Elisabet mandul, tetapi ternyata janji itu ter-genapi. Memang bagi Allah tidak ada yang mustahil ( Lukas 1:37).

Penerapan:

Kitab Suci mengandung banyak sekali janji Tuhan bagi saudara. Adakah yang saudara ragukan karena rasanya tidak mungkin terjadi? Percayalah, kalau Allah menjanjikan, itu pasti terjadi, karena Allah tidak mungkin berdusta (Ibrani 6:18).

2) Para tetangga dan keluarga mendengar hal itu (Lukas 1: 58).

a) Mendapat anak dianggap sebagai tindakan Allah yang menunjukkan rahmat (Lukas 1: 58).

Dalam NIV/NASB, kata ‘rahmat’ diterjemahkan ‘great mercy’ (= belas kasihan yang besar).

b) Reaksi mereka adalah: bersukacita bersama-sama dengan dia (Lukas 1: 58b).
kata ‘dia’ dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan ‘her’ (= dia perempuan), dan karena itu jelas menunjuk kepada Elisabet.

Orang-orang ini menunjukkan reaksi yang benar dan baik terhadap berkat yang diterima Elisabet. Mereka bukannya iri hati, tetapi mereka bersukacita dengan orang yang bersukacita (bdk. Roma 12:15).

Penerapan:

o bagaimana reaksi saudara kalau teman sekerja saudara dinaikkan pangkat / gajinya?

o bagaimana reaksi saudara kalau ada keluarga saudara yang mendapat hadiah mobil dari bank?

o bagaimana reaksi saudara kalau teman saudara mendapatkan seorang pacar yang cantik?

o dalam pelayanan, bagaimana reaksi saudara kalau orang lain diberkati pelayanannya sehingga berkembang dengan baik?

Apakah saudara menjadi iri hati, atau saudara bersukacita dengan orang yang bersukacita?

II) Pemberian nama Yohanes:

1) Pada hari kedelapan, sesuai dengan Firman Tuhan, maka Zakharia menyunatkan anaknya (Kejadian 17:10-14).

Ini mengajar kita untuk tidak mengabaikan sakramen yang diperintahkan Tuhan! Bdk. Keluaran 4:24-26 dimana Musa hampir dibunuh Tuhan karena lalai menyunatkan anaknya.

Jaman Perjanjian Baru ini kita mempunyai 2 sakramen, yaitu:

a) Baptisan, yang menggantikan sunat.

Jangan melalaikan Baptisan, baik untuk diri saudara sendiri, maupun untuk anak saudara!

b) Perjamuan Kudus, yang menggantikan perjamuan Paskah.

Kecuali karena sakit, jangan sampai absen pada waktu Perjamuan Kudus. Sebetulnya sekalipun tidak ada Perjamuan Kudus, kita tetap hanya boleh absen kalau sakit, tetapi kalau ada Perjamuan Kudus hal itu lebih ditekankan lagi!

2) Pemberian nama Yohanes.

a) Pada hari penyunatan itu juga dilakukan pemberian nama kepada anak itu (Lukas 1: 59).

Karena sukar mencari nama / kehabisan nama, maka orang Yahudi sering memberikan nama nenek moyang dari anak yang baru lahir itu. Untuk anak laki-laki pertama, biasanya diberikan nama ayahnya. Karena itulah para tetangga dan keluarga ingin memberikan nama ‘Zakharia’ kepada anak itu (Lukas 1: 59).

b) Tetapi Elisabet dengan tegas menolak usul itu dan berkata bahwa anak itu harus diberi nama Yohanes (Lukas 1: 60).

Mengapa Yohanes? Karena dalam Lukas 1:13 malaikat menyampaikan Firman Tuhan yang memerintahkan supaya anak itu diberi nama Yohanes.

Jadi di sini kita melihat suatu teladan yang baik dari Elisabet. Ia berani menentang tradisi dan usul dari banyak orang, demi ketaatannya kepada Tuhan.

c) Para tetangga dan keluarga memprotes hal itu dengan alasan bahwa di antara keluarga Elisabet dan Zakharia tidak ada yang bernama Yohanes (Lukas 1: 61).

Ini adalah kritik / protes yang semata-mata didasarkan pada tradisi, dan sama sekali tidak punya dasar Kitab Suci! Hati-hatilah supaya saudara tidak melakukan hal seperti ini!

Contoh:
mengharuskan orang yang akan dibaptis memakai pakaian putih.

mengharuskan pendeta memakai toga.

mengharuskan pemberkatan nikah dilakukan di gedung gereja.

d) Mereka lalu menanyakan kepada Zakharia apa nama yang akan diberikan kepada anak itu (Lukas 1: 62).

Mereka bertanya kepada Zakharia dengan menggunakan isyarat (Lukas 1: 62). Ini menunjukkan bahwa Zakharia bukan sekedar bisu tetapi juga tuli.

e) Zakharia lalu menuliskan ‘Namanya adalah Yohanes’ (Lukas 1: 63).
Dalam bahasa Yunaninya, kata ‘Yohanes’ itu diletakkan di depan, sehingga menimbulkan penekanan. Jadi terjemahan seharusnya adalah: ‘John is his name’ (= Yohanes adalah namanya).

Sama seperti Elisabet, Zakharia juga lebih mentaati Tuhan dari pada tradisi maupun usul / desakan orang banyak.

f) Akibat dari semua ini adalah:
semua orang menjadi heran (Lukas 1: 63b).

Zakharia bisa berbicara kembali dan ia lalu memuji Allah (Lukas 1: 64).

Pada waktu Zakharia berdosa karena tidak percaya pada Firman / janji Tuhan, maka ia dihukum menjadi bisu. Sekarang pada waktu ia mentaati Tuhan dengan memberikan nama Yohanes kepada anaknya, maka hukuman itu dicabut oleh Tuhan.

Sesuatu yang menarik ialah: setelah ia bisu selama sekitar 9 bulan, pada waktu ia pertama kali bisa berbicara kembali, ia langsung menggunakan kemampuan bicaranya itu untuk memuji Allah (Lukas 1: 64b).

Penerapan:

Saudara yang tidak bisu / tidak pernah jadi bisu, mestinya lebih memuji Allah!

o kata ‘memuji Allah’ secara hurufiah adalah ‘blessing God’ (= memberkati Allah), tetapi memang tidak bisa diterjemahkan begitu karena adanya Ibrani 7:7 yang berbunyi:

"Memang tidak dapat disangkal, bahwa yang lebih rendah diberkati oleh yang lebih tinggi".

Karena itu bagian ini harus diterjemahkan ‘memuji Allah’.
Orang-orang menjadi takut (Lukas 1: 65a).

Clarke mengatakan bahwa ini adalah religious fear / reverence (= rasa takut yang bersifat religius / hormat).
Orang-orang membicarakan hal itu, merenungkannya, dan bertanya-tanya: ‘Menjadi apakah anak ini nanti?’ (Lukas 1: 65b-66).

dari pada membicarakan gossip, mengapa kita tidak meniru orang-orang ini, yaitu membicarakan perbuatan Tuhan?

kata ‘merenungkannya’ merupakan terjemahan yang salah.

Yang benar adalah ‘menaruhnya / menyimpannya di dalam hati’.

Penutup:

Dengan demikian, terlihat bahwa:
hal-hal yang tidak menyenangkan, seperti
tidak punya anaknya Zakharia dan Elisabet sampai pada masa tuanya.

mandulnya Elisabet.

bisunya Zakharia.

hal yang berdosa, seperti ketidak percayaan Zakharia.
mujijat kelahiran Yohanes Pembaptis.

semuanya diatur dan dipakai oleh Tuhan untuk satu tujuan tertentu, yaitu supaya Yohanes Pembaptis menjadi terkenal pada saat dilahirkan. Hal ini tentu menjadi suatu bekal yang sangat berharga nanti pada saat dia mulai melayani.

Karena itu benarlah Roma 8:28 yang berbunyi: "Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah".

Karena itu, apapun yang saudara alami, tetaplah percaya pada Roma 8:28.


Catatan: Pdt. Budi Asali, M.Div:  meraih gelar Master of Divinity (M.Div) dari Reformed Theological Seminary (RTS), Jackson, Mississippi, United States of America
-AMIN-
Next Post Previous Post