1 YOHANES 4:1-6 (PENGAJAR DAN PENGIKUT)

Pdt.Budi Asali, M.Div.
1Yohanes 4:1-6 - “(1 Yohanes 4:1) Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. (2) Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, (3) dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia. (4) Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia. (5) Mereka berasal dari dunia; sebab itu mereka berbicara tentang hal-hal duniawi dan dunia mendengarkan mereka. (6) Kami berasal dari Allah: barangsiapa mengenal Allah, ia mendengarkan kami; barangsiapa tidak berasal dari Allah, ia tidak mendengarkan kami. Itulah tandanya Roh kebenaran dan roh yang menyesatkan”.
1 YOHANES 4:1-6 (PENGAJAR DAN PENGIKUT)
bisnis, gadget
I) Pengajar-pengajar.

1Yohanes 4: 1-3: “(1) Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. (2) Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, (3) dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia”.

1) Arti dari kata ‘roh’ di sini.

Yang disebut ‘roh’ dalam text ini adalah ‘pengajar Firman Tuhan’. Ini tidak berarti bahwa kata ‘roh’ (PNEUMA) memang mempunyai arti seperti itu. Kata ‘roh’ tidak berarti ‘pengajar’. Di sini kata ‘roh’ digunakan dalam arti ‘pengajar’ karena semua pengajar mengaku dipimpin oleh Roh Kudus.

Adam Clarke: “the term ‘spirit’ was used to express the man who pretended to be and teach under the Spirit’s influence” (= istilah ‘roh’ digunakan untuk menyatakan orang yang menganggap diri sebagai, dan mengajar, di bawah pengaruh Roh).

Jamieson, Fausset & Brown: “‘Every spirit’ - i. e., Every teacher claiming inspiration by THE HOLY SPIRIT” (= ‘Setiap roh’ - yaitu, setiap pengajar yang mengclaim pengilhaman oleh Roh Kudus).

Editor dari Calvin’s Commentary: “It appears that by ‘spirit’ throughout this passage, we are to understand a teacher claiming, rightly or falsely, to be influenced by God’s Spirit. Not would it be improper, but suitable to the context, to consider ‘the spirit of God’ in this verse as meaning a teacher guided by God” (= Kelihatannya kata ‘roh’ dalam sepanjang text ini harus dimengerti sebagai claim dari seorang pengajar, secara benar atau salah, bahwa ia diilhami oleh Roh Allah. Juga bukannya tidak benar, tetapi cocok dengan kontext, untuk menganggap ‘Roh Allah’ dalam ayat ini (1Yohanes 4: 2)sebagai seorang pengajar yang dipimpin oleh Allah) - hal 232 (footnote).

Catatan: saya berpendapat bahwa kata ‘ilham’ di sini tidak digunakan dalam arti tehnis, seperti pada waktu kita berkata bahwa para penulis Kitab Suci diilhami oleh Roh Kudus. Jadi di sini artinya hanya bahwa para pengajar itu mengaku dipimpin oleh Roh Kudus, atau bahwa ajaran mereka berasal dari Roh Kudus.

Ayat lain dimana kata ‘roh’ juga mempunyai arti seperti itu adalah 1Korintus 12:10 - “Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu”.

‘Karunia untuk membedakan bermacam-macam roh’ ini tidak menunjuk kepada karunia untuk melihat setan, tetapi kepada karunia untuk membedakan pengajar yang benar dari nabi palsu.

2) Harus menguji pengajar.

1Yohanes 4: 1a: “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah”.

Perintah menguji seperti ini juga ditekankan oleh Paulus dalam 1Tesalonika 5:21 - “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik”.

Ini jelas menunjukkan bahwa orang Kristen tidak boleh menerima seadanya ajaran tanpa melakukan pemeriksaan apakah itu adalah ajaran benar atau sesat. Juga tak boleh menerima seadanya orang yang mengaku sebagai hamba Tuhan, tanpa memeriksa apakah ia betul-betul seorang hamba Tuhan atau nabi palsu.

Ada orang yang kalau dengar khotbah selalu manggut-manggut (mengangguk-angguk). Biasanya pengkhotbah senang melihat hal itu, karena kelihatannya orang itu mendengar dan setuju dengan apa yang diberitakan. Tetapi kalau setiap mendengar pendeta / pengkhotbah yang manapun, termasuk yang ajarannya sesat, dia selalu manggut-manggut, pasti ada sesuatu yang tidak beres dalam diri orang itu.

A dan B gegeran, dan C dan D berusaha melerai / mendamaikan. Pada waktu A ceritakan versinya, C berkata: ‘Ya kamu benar’. Tetapi waktu B ceritakan versinya, yang bertentangan dengan versi A, C juga berkata: ‘Ya kamu juga benar’. D mendengar semua itu dan berkata: ‘Cerita mereka bertentangan, jadi tidak mungkin keduanya benar’. C menjawab: ‘Ya kamu juga benar’.

Kalau dalam hal rohani saudara bersikap seperti C ini, maka saudara tidak mentaati kata-kata Yohanes di sini, dan saudara pasti mudah disesatkan.

1Yohanes 4: 1a: “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah”.

Bdk. Amsal 14:15 - “Orang yang tak berpengalaman percaya kepada setiap perkataan, tetapi orang yang bijak memperhatikan langkahnya”.

John Stott (Tyndale): “There is an urgent need for discernment among Christians. We are often too gullible, and exhibit a naive readiness to credit messages and teachings which purport to come from the spirit-world. There is such a thing, however, as a misguided charity and tolerance towards false doctrine. Unbelief (‘believe not very spirit’) can be as much a mark of spiritual maturity as belief. We need to preserve the biblical balance, avoiding on the one hand the extreme superstition which believes everything and on the other the extreme suspicion which believes nothing” [= Di sini ada suatu kebutuhan yang mendesak untuk melakukan pembedaan di antara orang-orang kristen. Kita sering terlalu mudah tertipu, dan menunjukkan suatu kesediaan yang naif untuk menghargai berita-berita dan ajaran-ajaran yang mengaku / mengclaim datang dari dunia roh. Tetapi ada kasih / kemurahan hati dan toleransi yang salah-jalan terhadap ajaran yang palsu. Ketidak-percayaan (‘janganlah percaya akan setiap roh’) bisa merupakan suatu tanda kematangan rohani, sama seperti kepercayaan. Kita perlu untuk mempertahankan keseimbangan yang alkitabiah, menghindari di satu sisi takhyul extrim yang mempercayai segala sesuatu, dan di sisi yang lain kecurigaan extrim yang tidak mempercayai apapun] - hal 153.

3) Pengujian harus dilakukan dengan Firman Tuhan.

Dalam melakukan pengujian, kita harus menggunakan Firman Tuhan, bukan pikiran / logika atau perasaan kita. Memang pikiran harus digunakan, untuk mengerti apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan, dan untuk membandingkannya dengan ajaran yang kita uji itu. Tetapi kalau kita semata-mata menggunakan pikiran / logika, itu pasti salah.

Barnes’ Notes: “There were those in the early Christian church who had the gift of ‘discerning spirits,’ ... but it is not certain that the apostle refers here to any such supernatural power. It is more probable, as he addresses this command to Christians in general, that he refers to the ability of doing this by a comparison of the doctrines which they professed to hold with what was revealed, and by the fruits of their doctrines in their lives. ... It may be remarked, that it is just as proper and as important now to examine the claims of all who profess to be teachers of religion, as it was then. In a matter so momentous as religion, and where there is so much at stake, it is important that all pretensions of this kind should be subjected to a rigid examination. No one should be received as a religious teacher without the clearest evidence that he has come in accordance with the will of God, nor unless he inculcates the very truth which God has revealed” [= Ada orang-orang dalam gereja Kristen mula-mula yang mempunyai karunia ‘membedakan roh’ ... tetapi tidak pasti apakah sang rasul menunjuk di sini kepada kuasa supranatural seperti itu. Karena ia menujukan perintah ini kepada orang-orang kristen secara umum, adalah lebih mungkin bahwa ia menunjuk kepada kemampuan untuk melakukan hal ini dengan suatu perbandingan antara ajaran-ajaran yang mereka akui untuk dipercaya, dengan apa yang dinyatakan (dalam Firman Tuhan), dan oleh buah-buah dari ajaran itu dalam kehidupan mereka. ... Bisa dikatakan bahwa juga merupakan sesuatu yang benar dan penting pada saat ini untuk memeriksa claim dari semua yang mengaku sebagai pengajar agama, seperti pada saat itu. Dalam suatu persoalan yang begitu penting seperti agama, dan dimana di sana ada begitu banyak yang dipertaruhkan, adalah penting bahwa semua claim jenis ini ditundukkan pada suatu pemeriksaan yang keras / kaku. Tak seorangpun harus diterima sebagai seorang guru agama tanpa bukti yang paling jelas bahwa ia telah datang sesuai dengan kehendak Allah, atau kecuali ia mengajarkan kebenaran yang telah Allah nyatakan].

Herschel H. Hobbs: “We are not to judge of doctrine by miracles, but miracles by doctrine. A miracle enforcing what contradicts the teaching of Christ and His apostles is not ‘of God’ and is no authority for Christians” (= Kita tidak boleh menghakimi / menilai ajaran dengan menggunakan mujijat, tetapi menghakimi / menilai mujijat dengan menggunakan ajaran. Suatu mujijat yang melaksanakan apa yang bertentangan dengan ajaran dari Kristus dan rasul-rasulNya bukan ‘dari Allah’ dan tidak mempunyai otoritas untuk orang-orang kristen) - hal 99.

Bdk. Ulangan 13:1-3 - “(1) Apabila di tengah-tengahmu muncul seorang nabi atau seorang pemimpi, dan ia memberitahukan kepadamu suatu tanda atau mujizat, (2) dan apabila tanda atau mujizat yang dikatakannya kepadamu itu terjadi, dan ia membujuk: Mari kita mengikuti allah lain, yang tidak kaukenal, dan mari kita berbakti kepadanya, (3) maka janganlah engkau mendengarkan perkataan nabi atau pemimpi itu; sebab TUHAN, Allahmu, mencoba kamu untuk mengetahui, apakah kamu sungguh-sungguh mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu”.

Jamieson, Fausset & Brown: “Even an angel’s message should be tested by the Word of God; much more men’s teachings, however holy the teachers seem (Gal. 1:8).” [= Bahkan berita / pesan dari seorang malaikat harus diuji dengan Firman Allah; apalagi ajaran manusia, bagaimanapun kudusnya guru-guru itu kelihatannya (Gal 1:8)].

Galatia 1:6-9 - “(6) Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, (7) yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. (8) Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. (9) Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia”.

Teladan yang baik bisa kita dapatkan dari orang-orang Kristen Berea yang bahkan menguji ajaran Paulus, yang adalah seorang rasul, dengan menggunakan Firman Tuhan.

Kisah Para Rasul 17:11 - “Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian”.

Tetapi bagaimana dengan orang yang tak mengerti Firman Tuhan? Calvin mengatakan (hal 230-231) bahwa dari sini kita harus menyimpulkan bahwa setiap orang percaya pasti diberi Roh kebijaksanaan / pembedaan yang dibutuhkan dalam hal ini, asal mereka memintanya dari Tuhan. Tetapi Roh hanya akan membimbing mereka yang betul-betul tunduk kepada Firman Tuhan.

Tetapi ini tentu tak bisa diartikan bahwa orang Kristen tak perlu belajar Firman Tuhan. Mereka harus belajar Firman Tuhan supaya bisa menggunakannya untuk mengechek apakah seorang nabi asli atau palsu.

4) Banyak nabi-nabi palsu / pengajar-pengajar sesat.

a) Kitab Suci memberikan banyak peringatan tentang nabi-nabi palsu.

1. Matius 7:15-23 - “(15) ‘Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. (16) Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? (17) Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. (18) Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. (19) Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. (20) Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. (21) Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga. (22) Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, dan mengusir setan demi namaMu, dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga? (23) Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan!"”.

2. Markus 13:22-23 - “(22) Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat dengan maksud, sekiranya mungkin, menyesatkan orang-orang pilihan. (23) Hati-hatilah kamu! Aku sudah terlebih dahulu mengatakan semuanya ini kepada kamu.’”.

3. Kisah Para Rasul 20:28-30 - “(28) Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperolehNya dengan darah AnakNya sendiri. (29) Aku tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. (30) Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka”.

4. 2Petrus 2:1 - “Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka”.

b) 1Yohanes 4: 1b merupakan alasan mengapa orang Kristen harus menguji ‘roh’ / pengajar.

Ay 1b: “sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia”.

Perhatikan hal-hal ini:

1. Banyak nabi palsu!

2. Mereka ini bukan akan muncul, tetapi sudah muncul.

3. Mereka pergi keseluruh dunia.

Ini menunjukkan kerajinan para nabi palsu dalam menyebarkan ajaran sesatnya. Saksi-Saksi Yehuwa berulangkali membanggakan bahwa mereka sudah tersebar dalam 230 negara atau lebih.

Tentang banyaknya pelayanan Charles Taze Russell (pendiri Saksi Yehuwa) dalam sepanjang hidupnya, seorang penulis internet mengatakan: “By the time of his death, Charles Taze Russell had travelled more than a million miles dan preached more than 30,000 sermons. He had authored works totaling some 50,000 printed pages, and nearly 20,000,000 copies of his books and booklets had been sold” (= Pada saat kematiannya, Charles Taze Russell telah menempuh lebih dari satu juta mil dan mengkhotbahkan lebih dari 30.000 khotbah. Ia telah mengarang sekitar 50.000 halaman cetak, dan hampir 20 juta buku dan buku tipisnya telah terjual).

Karena itu kita juga harus giat dan bersemangat dalam memberitakan kebenaran dan melawan kesesatan.

5) Cara menguji pengajar.

1Yohanes 4: 2-3: “(2) Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, (3) dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia”.

a) Ini adalah cara khusus, untuk menghadapi pengajar sesat yang khusus.

Di atas telah diberi cara yang umum, yaitu menggunakan Firman Tuhan, dan membandingkan Firman Tuhan itu dengan ajaran mereka. Tetapi di sini diberikan cara yang khusus, karena Yohanes memaksudkannya untuk menghadapi pengajar-pengajar sesat pada jamannya.

b) Pada saat itu memang ada beberapa ajaran sesat yang menolak keilahian dan kemanusiaan Yesus, yang berusaha menyesatkan orang-orang yang sudah percaya kepada Kristus:

1. Gnosticism.

Gnosticism ini mengajarkan sebagai berikut: Pada mulanya ada Allah dan matter (= zat / bahan / materi). Matter ini sudah ada sejak kekal, dan merupakan bahan mentah dari mana dunia / alam semesta diciptakan. Matter itu cacat dan tidak sempurna, sedangkan Allah itu adalah roh yang murni dan sempurna, dan karena itu Allah tidak bisa menyentuh matter. Karena itu, maka Allah tidak bisa menciptakan segala sesuatu.

Allah lalu mengeluarkan serangkaian / serentetan emanations (= emanasi / sesuatu yang keluar dari suatu sumber). Tiap emanasi makin jauh dari Allah, dan makin sedikit tahu tentang Allah. Sampai setengah jalan dari rangkaian emanasi itu, terdapat suatu emanasi yang sama sekali tidak kenal Allah. Selanjutnya ada emana­si yang bukan hanya tidak kenal Allah, tetapi juga memusuhi Allah. Pada akhir dari rangkaian emanasi itu, terdapat suatu emanasi yang sama sekali tidak mengenal Allah, dan juga memusuhi Allah secara total. Emanasi ini bisa menyentuh matter dan men­ciptakan alam semesta.

Lalu ajaran ini mengatakan bahwa emanasi itu adalah Yesus!

2. Cerinthus.

Cerinthus mengajarkan bahwa Yesus adalah manusia biasa, anak Yusuf dan Maria. Tetapi pada saat baptisan, Kristus turun kepada Yesus, tetapi lalu meninggalkan Yesus lagi, sesaat sebelum penyaliban.

3. Docetism.

Ajaran ini menganggap bahwa Yesus hanya kelihatannya saja adalah manusia, tetapi sebetulnya bukan manusia.

c) Karena itu Yohanes memberikan cara pengujian yang khusus, yang ia berikan dalam ay 2-3 tadi. 1Yohanes 4: 2 menyatakannya secara positif, dan ay 3 secara negatif. Perhatikan bahwa rasul / Kitab Suci bukan hanya mengajar secara positif, tetapi juga secara negatif.

Ay 2: “Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah”.

KJV: ‘Hereby know ye the Spirit of God: Every spirit that confesseth that Jesus Christ is come in the flesh is of God’ (= Dengan ini kamu tahu Roh Allah: Setiap roh yang mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang dalam daging adalah dari Allah).

1. Terjemahan yang lain.

John Stott memberikan terjemahan lain yang menurutnya lebih benar, yaitu: ‘Every spirit that confesses Jesus, as Christ has come in the flesh, is of God’ (= Setiap roh yang mengaku Yesus, sebagai Kristus yang telah datang dalam daging, adalah dari Allah).

Stott lebih setuju dengan ini, karena ia berkata: “it was not until after the incarnation that He was called ‘Jesus’” (= baru setelah inkarnasi Ia disebut ‘Yesus’) - hal 156.

2. Perbandingan ay 2 ini dengan 2Yoh 7.

1Yohanes 4: 2: “Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah”.

2Yoh 7 - “Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus”. Ini salah terjemahan karena kata yang diterjemahkan ada dalam bentuk present participle.

NIV: ‘Many deceivers, who do not acknowledge Jesus Christ as coming in the flesh, have gone out into the world. Any such person is the deceiver and the antichrist’ (= Banyak penipu, yang tidak mengakui Yesus Kristus sebagai datang dalam daging, telah keluar ke dalam dunia. Orang seperti itu adalah penipu dan antikristus).

John Stott (Tyndale): “The perfect tense ‘come’ (ELELUTHOTA) compared with the present tense in 2John 7 (ERCHOMENON), seems to emphasize that the flesh assumed by the Son of God in the incarnation has become His permanent possession. Far from coming upon Jesus at the baptism and leaving Him before the cross, the Christ actually came in the flesh and has never laid it aside” [= Bentuk perfect tense ‘come’ (ELELUTHOTA) dibandingkan dengan bentuk present tense dalam 2Yoh 7 (ERCHOMENON), kelihatannya menekankan bahwa daging yang diambil oleh Anak Allah dalam inkarnasi telah menjadi milikNya secara permanen. Kristus bukannya datang kepada Yesus pada baptisan dan meninggalkan Dia sebelum salib (ajaran Cerinthus), tetapi sungguh-sungguh datang dalam daging dan tidak pernah meninggalkan daging itu] - hal 154.

3. Pengujian ini mencakup:

a. Keilahian Kristus.

b. Kemanusiaan Kristus.

c. Bahkan ada yang menganggap juga mencakup tujuan kedatanganNya, yaitu penebusanNya.

John Stott (Tyndale): “The Person of Christ is central. No system can be tolerated, however loud its claims or learned its adherents, if it denies that Jesus is the Christ come in the flesh, that is, if it denies either His eternal deity or His historical humanity. Its teachers are false prophets and its origin is the spirit of antichrist” (= Pribadi dari Kristus adalah sentral. Tidak ada sistim yang bisa ditoleransi, betapapun keras claimnya atau terpelajarnya para pengikutnya, jika itu menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus yang datang dalam daging, yaitu, jika itu menyangkal atau keilahianNya yang kekal atau kemanusiaanNya yang bersifat sejarah. Pengajar-pengajarnya adalah nabi-nabi palsu dan asal usulnya adalah roh antikristus) - hal 155.

Calvin: “as Christ is the object at which faith aims, so he is the stone at which all heretics stumble. ... when the Apostle says that Christ ‘came’, we hence conclude that he was before with the Father; by which his eternal divinity is proved. By saying that he came ‘in the flesh,’ he means that by putting on flesh, he became a real man, of the same nature with us, that he might become our brother, except that he was free from every sin and corruption. And lastly, by saying that he came, the cause of his coming must be noticed, for he was not sent by the Father for nothing. Hence on this depend the office and merits of Christ” (= karena Kristus adalah obyek kepada mana iman ditujukan, demikianlah Ia adalah batu pada mana semua orang-orang sesat tersandung. ... pada waktu sang Rasul berkata bahwa Kristus ‘datang’, dari sini kita menyimpulkan bahwa tadinya Ia bersama dengan Bapa; dengan mana keilahianNya yang kekal dibuktikan. Dengan mengatakan bahwa Ia datang ‘dalam daging’, ia memaksudkan bahwa oleh pengenaan daging, Ia menjadi manusia yang sungguh-sungguh, dengan hakekat yang sama dengan kita, supaya Ia bisa menjadi saudara kita, kecuali bahwa Ia bebas dari setiap dosa dan kerusakan. Dan terakhir, dengan mengatakan bahwa Ia datang, alasan kedatanganNya harus diperhatikan, karena Ia bukannya diutus oleh Bapa tanpa tujuan apa-apa. Karena itu, pada hal ini tergantung jabatan / tugas dan jasa dari Kristus) - hal 232.

Tentang Katolik, Calvin berkata: “though they confess Christ to be God and man, yet they by no means retain the confession which the Apostle requires, because they rob Christ of his own merit; for where free-will, merits of works, fictitious modes of worship, satisfactions, the advocacy of saints, are set up, how very little remains for Christ!” (= sekalipun mereka mengaku Kristus sebagai Allah dan manusia, tetapi mereka sama sekali tidak mempertahankan pengakuan yang dituntut oleh sang Rasul, karena mereka merampok Kristus dari jasaNya sendiri; karena dimana kehendak-bebas, jasa dari perbuatan baik, cara-cara khayalan dari ibadah, tindakan penebusan dosa, dukungan dari orang-orang suci, ditegakkan, alangkah sedikitnya yang tersisa bagi Kristus!) - hal 232.

Jamieson, Fausset & Brown: “‘Jesus Christ is come in the flesh.’ - a twofold truth confessed: that Jesus is the Christ; and that He is come (ELEELUTHOTA, perfect; not a mere past historical fact, but present, and continuing in its blessed effects) in the flesh (‘invested with flesh;’ not with a seeming humanity, as the Docetae afterward taught). He therefore was previously something far above flesh. His flesh implies His death for us; for only by assuming flesh could He die (as God He could not, Heb. 2:9,16), and His death implies His LOVE for us (John 15:13)” [= ‘Yesus Kristus telah datang dalam daging’. - suatu kebenaran yang berlipat dua diakui: bahwa Yesus adalah Kristus; dan bahwa Ia ‘telah datang’ (ELEELUTHOTA, perfect; bukan semata-mata suatu bentuk lampau yang bersifat historis, tetapi present / sekarang , dan berlangsung terus dalam akibat / hasilnya yang diberkati) dalam daging (‘dipakaiani dengan daging’; bukan dengan apa yang kelihatannya adalah manusia, seperti yang diajarkan Docetae setelahnya). Karena itu, sebelum itu Ia merupakan sesuatu yang jauh di atas daging. DagingNya secara tak langsung menunjuk kepada kematianNya untuk kita, karena hanya dengan mengambil daging Ia bisa mati (sebagai Allah Ia tidak bisa mati, Ibrani 2:9,16), dan kematianNya secara tak langsung menunjuk kepada kasihNya untuk kita (Yohanes 15:13)].

Barnes’ Notes: “the fact that there was a real incarnation is essential to all just views of the atonement. If he was NOT truly a man, if he did not literally shed his blood on the cross, of course all that was done was in appearance only, and the whole system of redemption as revealed was merely a splendid illusion. There is little danger that this opinion will be held now, for those who depart from the doctrine laid down in the New Testament in regard to the person and work of Christ, are more disposed to embrace the opinion that he was a mere man; but still it is important that the truth that he was truly incarnate should be held up constantly before the mind, for in no other way can we obtain just views of the atonement” (= fakta bahwa di sana ada suatu inkarnasi yang sungguh-sungguh merupakan sesuatu yang bersifat hakiki bagi semua pandangan yang benar tentang penebusan. Jika Ia BUKAN sungguh-sungguh manusia, jika Ia tidak secara hurufiah mencurahkan darahNya pada kayu salib, tentu saja semua yang dilakukan hanya kelihatannya saja, dan seluruh sistim penebusan seperti yang dinyatakan hanyalah semata-mata suatu ilusi / khayalan yang bagus sekali. Sedikit bahayanya bahwa pandangan ini akan dipegang sekarang, karena mereka yang meninggalkan doktrin yang diletakkan dalam Perjanjian Baru berkenaan dengan pribadi dan pekerjaan Kristus, lebih condong untuk memeluk pandangan bahwa Ia adalah semata-mata manusia; tetapi adalah tetap penting bahwa kebenaran bahwa Ia betul-betul berinkarnasi harus dipegang / ditegakkan secara terus menerus di hadapan pikiran, karena tidak ada jalan lain kita bisa mendapatkan pandangan-pandangan yang benar tentang penebusan).

John Stott (Tyndale): “By this confession is meant not merely a recognition of His identity, but a profession of faith in Him ‘openly and boldly’ ... Even evil or unclean spirits recognized the deity of Jesus during His ministry ... But though they knew Him, they did not acknowledge or ‘confess’ Him” (= Yang dimaksudkan dengan pengakuan ini bukanlah semata-mata suatu pengenalan tentang identitasNya, tetapi suatu pengakuan iman kepadaNya ‘secara terbuka dan berani’ ... Bahkan roh-roh jahat atau najis mengenali keilahian Yesus dalam sepanjang pelayananNya. Tetapi sekalipun mereka mengenal Dia, mereka tidak mengakui atau ‘mengaku’ Dia) - hal 154.

Ini bukan merupakan semua hal yang dibutuhkan untuk menganggap seseorang sebagai pengajar yang benar.

Wycliffe Bible Commentary: “From this verse we are not to suppose that this is the only test of orthodoxy, but it is a major one and it was the most necessary one for the errors of John’s day”(= Dari ayat ini kita tidak boleh menganggap bahwa ini adalah satu-satunya test tentang ke-orthodox-an, tetapi ini merupakan suatu test yang besar dan ini adalah yang paling penting untuk kesalahan-kesalahan pada jaman Yohanes).

Barnes’ Notes: “nor does it mean that the acknowledgment of this truth was ALL which it was essential to be believed in order that one might be recognised as a Christian; but it means that it was ESSENTIAL that this truth should be admitted by everyone who truly came from God” (= juga itu tidak berarti bahwa pengakuan dari kebenaran ini adalah SEMUA hal-hal yang bersifat hakiki yang harus dipercaya supaya seseorang bisa dikenali sebagai seorang Kristen; tetapi itu berarti bahwa merupakan sesuatu yang bersifat HAKIKI bahwa kebenaran ini harus diakui oleh setiap orang yang sungguh-sungguh datang dari Allah).

Kalau seseorang salah dalam salah satu dari hal-hal ini, maka ia adalah orang kristen KTP / pengajar sesat. Tetapi kalau seseorang benar dalam hal-hal ini, belum tentu ia orang kristen yang sejati / pengajar yang benar!

Barnes’ Notes: “‘Is of God.’ This does not necessarily mean that everyone who confessed this was personally a true Christian, for it is clear that a doctrine might be acknowledged to be true, and yet that the heart might not be changed” (= ‘Adalah dari Allah’. Ini tidak harus berarti bahwa setiap orang yang mengaku ini adalah seorang Kristen yang sejati, karena adalah jelas bahwa suatu ajaran / doktrin bisa diakui sebagai benar, tetapi bahwa hati tidak berubah).

1Yohanes 4: 3: “dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia”.


Matthew Henry: “It was foreknown by God that antichrists would arise, ... we have been forewarned that such opposition would arise; ... the more we see the word of Christ fulfilled the more confirmed we should be in the truth of it” (= Telah diketahui lebih dulu oleh Allah bahwa antikristus-antikristus akan muncul, ... kita telah diperingati lebih dulu bahwa oposisi seperti itu akan muncul; ... makin kita melihat firman Kristus digenapi, makin kita harus diteguhkan dalam kebenaran darinya).

Barnes’ Notes: “‘And this is that spirit of antichrist.’ This is one of the things which characterize antichrist. John here refers not to an individual who should be known as antichrist, but to a class of persons. This does not, however, forbid the idea that there might be some one individual, or a succession of persons in the church, to whom the name might be applied by way of eminence” (= ‘Dan ini adalah roh antikristus’. Ini adalah satu dari hal-hal yang menjadi karakteristik dari antikristus. Di sini Yohanes tidak menunjuk kepada seorang individu yang akan dikenal sebagai antikristus, tetapi kepada segolongan orang. Tetapi ini tidak melarang gagasan bahwa di sana bisa ada seseorang individu, atau rangkaian / iring-iringan orang-orang dalam gereja, kepada siapa nama itu bisa diterapkan dengan cara yang menyolok).

II) Pengikut / pendengar dari pengajar.

Wycliffe mengatakan bahwa 1Yohanes 4: 2-3 menunjukkan pemeriksaan terhadap pengakuan / ajaran dari para pengajar, sedangkan 1Yohanes 4: 4-6 menunjukkan pemeriksaan terhadap pengikut dari para pengajar itu.

1Yohanes 4: 4-6: “(4) Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia. (5) Mereka berasal dari dunia; sebab itu mereka berbicara tentang hal-hal duniawi dan dunia mendengarkan mereka. (6) Kami berasal dari Allah: barangsiapa mengenal Allah, ia mendengarkan kami; barangsiapa tidak berasal dari Allah, ia tidak mendengarkan kami. Itulah tandanya Roh kebenaran dan roh yang menyesatkan”.

Sekarang mari kita soroti ay 4-6 satu per satu.

1) 1Yohanes 4: 4: “Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia”.

a) Kata ‘mengalahkan’ tidak boleh diartikan ‘mengalahkan secara jasmani / duniawi’, tetapi mengalahkan dengan pikiran. Kita tidak termakan oleh kesesatan mereka, bahkan sebaliknya, kita bisa membongkar kepalsuan mereka.

Barnes’ Notes: “The meaning is, that they had frustrated or thwarted all their attempts to turn them away from the truth” (= Artinya adalah bahwa mereka telah membuat frustrasi atau menggagalkan semua usaha mereka untuk menyimpangkan mereka dari kebenaran).

b) ‘sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia’.

1. Lit: ‘because greater is the one in you than the one in the world’.

Kata yang diterjemahkan ‘the one’ dalam bahasa Yunaninya adalah HO, yang mempunyai jenis kelamin laki-laki, padahal ini jelas menunjuk kepada Roh Allah / Roh Kudus, dan kata ‘Roh’ dalam bahasa Yunaninya adalah PNEUMA, yang mempunyai jenis kelamin netral. Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus adalah seorang pribadi. Ia bukan ‘sesuatu’ tetapi ‘seseorang’.

2. Editor dari Calvin’s Commentary: “‘The world’ is in this verse identified with ‘the false prophets;’” (= ‘Dunia’ dalam ayat ini diidentikkan dengan ‘nabi-nabi palsu’) - hal 235 (footnote).

3. Kata-kata terakhir dari ayat ini menunjukkan bahwa setan memang besar, tetapi kita boleh bersyukur bahwa Roh Kudus yang dianugerahkan kepada kita lebih besar dari setan. Ini yang menyebabkan kita pasti bisa mengalahkan nabi-nabi palsu itu.

Matthew Henry: “He gives them hope of victory: And have overcome them, v. 4. You have hitherto overcome these deceivers and their temptations, and there is good ground of hope that you will do so still, ...Because greater is he that is in you than he that is in the world, v. 4. The Spirit of God dwells in you, and that Spirit is more mighty than men of devils. It is a great happiness to be under the influence of the Holy Ghost” (= Ia memberi mereka pengharapan kebenaran: Dan ‘telah mengalahkan mereka’, ay 4. Sampai sekarang ini kamu telah mengalahkan penipu-penipu ini dan pencobaan-pencobaan mereka, ada dasar pengharapan yang baik bahwa engkau akan tetap mengalahkan mereka, ... Karena Ia yang ada di dalam kamu lebih besar dari pada ia yang ada di dalam dunia, ay 4. Roh Allah tinggal di dalam kamu, dan Roh itu lebih kuat dari pada orang-orang dari setan. Merupakan suatu kebahagiaan yang besar untuk berada di bawah pengaruh dari Roh Kudus).

Barnes’ Notes: “The apostle meant to say that it was by no power of their own that they achieved this victory, but it was to be traced solely to the fact that God dwelt among them, and had preserved them by his grace. What was true then is true now. He who dwells in the hearts of Christians by his Spirit, is infinitely more mighty than Satan, ‘the ruler of the darkness of this world;’ and victory, therefore, over all his arts and temptations may be sure. In his conflicts with sin, temptation, and error, the Christian should never despair, for his God will insure him the victory” (= Sang rasul bermaksud untuk mengatakan bahwa bukan oleh kuasa mereka sendiri mereka mencapai kemenangan ini, tetapi itu harus ditelusuri jejaknya sampai pada fakta bahwa Allah tinggal di antara mereka, dan telah memelihara / melindungi mereka dengan kasih karuniaNya. Apa yang benar pada saat itu, juga benar pada saat ini. Ia yang tinggal dalam hati dari orang-orang kristen oleh RohNya, lebih kuat secara tak terbatas dari setan, ‘pemerintah / penguasa dari kegelapan dari dunia ini’; dan karena itu, kemenangan atas semua keahlian dan pencobaannya bisa pasti. Dalam konflik dengan dosa, pencobaan, dan kesalahan, orang Kristen tidak pernah boleh putus asa, karena Allahnya akan menjamin kemenangannya).

c) Seluruh 1Yohanes 4: 4 ini menunjukkan bahwa dengan pertolongan Roh Kudus, orang Kristen bisa membongkar kesesatan dari para penyesat ini. Sebagai contoh, perhatikan bagaimana Stefanus yang dipenuhi / dipimpin Roh Kudus berdebat dengan orang-orang Yahudi yang sesat.

Kisah Para Rasul 6:8-10 - “(8) Dan Stefanus, yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak. (9) Tetapi tampillah beberapa orang dari jemaat Yahudi yang disebut jemaat orang Libertini - anggota-anggota jemaat itu adalah orang-orang dari Kirene dan dari Aleksandria - bersama dengan beberapa orang Yahudi dari Kilikia dan dari Asia. Orang-orang itu bersoal jawab dengan Stefanus, (10) tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara”.

Alangkah berbedanya cerita ini dengan orang-orang yang mengaku dipenuhi Roh Kudus pada jaman ini, yang pada umumnya takut untuk berdebat, dengan alasan ‘cinta damai’, ‘kasih’, ‘tak boleh gegeran’, dan sebagainya. Ada lagi hamba Tuhan yang mengajarkan ‘kegilaan’ bahwa berdebat merupakan sesuatu yang salah, karena tak ada gunanya! Bagaimana hamba Tuhan itu menafsirkan ayat tentang Stefanus di atas ini? Apakah ia berani menyalahkan Stefanus, yang berarti ia juga menyalahkan Roh Kudus sendiri?

2) 1Yohanes 4: 5: “Mereka berasal dari dunia; sebab itu mereka berbicara tentang hal-hal duniawi dan dunia mendengarkan mereka”.

a) ‘Mereka berasal dari dunia; sebab itu mereka berbicara tentang hal-hal duniawi’.

KJV: ‘They are of the world: therefore speak they of the world, and the world heareth them’ (= Mereka dari dunia: karena itu mereka berbicara tentang dunia, dan dunia mendengarkan mereka).

Editor dari Calvin’s Commentary mengatakan (footnote, hal 235) bahwa kata ‘of’ (= tentang) itu salah. Menurut dia seharusnya adalah ‘according to’ (= menurut). Jadi nabi-nabi palsu itu berbicara / mengajar menurut pandangan-pandangan dan prinsip-prinsip dunia.

Bandingkan dengan orang Katolik dari Belanda yang tidak setuju pada waktu saya memberitakan Injil, karena menurut dia orang-orang yang hadir mempunyai hak azasi untuk menganut kepercayaannya masing-masing. Lucu, apakah saya tidak mempunyai hak azasi untuk memberitakan Injil?

Barnes’ Notes: “This may mean either that their conversation pertained to the things of this world, or that they were wholly influenced by the love of the world, and not by the Spirit of God, in the doctrines which they taught. The general sense is, that they had no higher ends and aims than they have who are influenced only by worldly plans and expectations. It is not difficult to distinguish, even among professed Christians and Christian teachers, those who are heavenly in their conversation from those who are influenced solely by the spirit of the world. ‘Out of the abundance of the heart the mouth speaketh,’” (= Ini bisa berarti atau bahwa pembicaraan mereka menyinggung hal-hal dari dunia ini, atau bahwa mereka sepenuhnya dipengaruhi oleh cinta dari / kepada dunia, dan bukan oleh Roh Allah, dalam doktrin-doktrin yang mereka ajarkan. Arti yang umum adalah bahwa mereka tidak mempunyai tujuan dan sasaran yang lebih tinggi dari mereka yang hanya dipengaruhi oleh rencana-rencana dan pengharapan-pengharapan duniawi. Tidak sukar untuk membedakan, bahkan di antara orang-orang yang mengaku Kristen dan pengajar-pengajar Kristen, mereka yang pembicaraannya bersifat surgawi dari mereka yang dipengaruhi semata-mata oleh roh dari dunia ini. ‘Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati’).

Catatan: kutipan ayat dari Matius 12:34b.

Contoh: theologia kemakmuran dan ajaran Kharismatik pada umumnya.

b) ‘dunia mendengarkan mereka’.

Matthew Henry: “The world heareth them, v. 5. They are followed by such as themselves: the world will love its own, and its own will love it” (= Dunia mendengarkan mereka, ay 5. Mereka diikuti oleh orang-orang yang seperti mereka sendiri: dunia akan mengasihi miliknya sendiri, dan miliknya akan mengasihinya).

Barnes’ Notes: “‘And the world heareth them.’ The people of the world - the frivoulous ones, the rich, the proud, the ambitious, the sensual - receive their instructions, and recognize them as teachers and guides, for their views accord with their own. ... A professedly religious teacher may always determine much about himself by knowing what class of people are pleased with him. A professed Christian of any station in life may determine much about his evidences of piety, by asking himself what kind of persons desire his friendship, and wish him for a companion” (= ‘Dan dunia mendengarkan mereka’. Orang-orang dunia - orang-orang yang sembrono, orang kaya, orang sombong, orang yang ambisius, orang yang dikuasai hawa nafsu - menerima pengajaran mereka, dan mengakui mereka sebagai pengajar-pengajar dan pembimbing-pembimbing, karena pandangan-pandangan mereka sesuai dengan pandangan mereka sendiri. Seorang yang diakui sebagai pengajar agama bisa selalu mengetahui banyak tentang dirinya sendiri, dengan mengenal golongan orang-orang apa yang senang dengan dia. Seorang yang dikenal sebagai orang Kristen dari tempat manapun dalam kehidupan bisa mengetahui banyak secara tepat tentang bukti-bukti kesalehannya, dengan menanyakan dirinya sendiri jenis orang-orang apa yang menginginkan persahabatannya, dan menginginkannya sebagai seorang teman).

3) 1Yohanes 4: 6: “Kami berasal dari Allah: barangsiapa mengenal Allah, ia mendengarkan kami; barangsiapa tidak berasal dari Allah, ia tidak mendengarkan kami. Itulah tandanya Roh kebenaran dan roh yang menyesatkan”.

a) ‘Kami berasal dari Allah: barangsiapa mengenal Allah, ia mendengarkan kami; barangsiapa tidak berasal dari Allah, ia tidak mendengarkan kami’.

Bdk. Yohanes 8:47 - “Barangsiapa berasal dari Allah, ia mendengarkan firman Allah; itulah sebabnya kamu tidak mendengarkannya, karena kamu tidak berasal dari Allah.’”.

Kata ‘mendengar’ di sini tidak boleh diartikan ‘sekedar mendengar’, tetapi ‘mendengar dengan sikap positif’ atau ‘mendengar dan mempercayai’.

Barnes’ Notes: “They who do not receive the plain doctrines laid down in the word of God, whatever pretensions they may make to piety, or whatever zeal they may evince in the cause which they have espoused, can have no well-founded claims to the name Christian. One of the clearest evidences of true piety is a readiness to receive all that God has taught” (= Mereka yang tidak menerima doktrin-doktrin / ajaran-ajaran yang jelas yang diletakkan dalam firman Allah, apapun kepura-puraan yang mereka buat untuk kesalehan, atau semangat apapun yang bisa mereka tunjukkan dalam perkara yang mereka dukung, tidak bisa mempunyai claim yang cukup beralasan untuk nama ‘Kristen’. Salah satu dari bukti-bukti yang paling jelas tentang kesalehan yang benar adalah kesediaan untuk menerima semua yang Allah telah ajarkan).

Matthew Henry: “He that knoweth God ... heareth us,’ v. 6. As, on the contrary, ‘He that is not of God heareth not us. He who knows not God regards not us. He that is not born of God ... walks not with us. The further any are from God ... the further they are from Christ and his faithful servants; and the more addicted persons are to this world the more remote they are from the spirit of Christianity” (= ‘Ia yang mengenal Allah ... mendengar kami’, ay 6. Sebaliknya, ‘Ia yang bukan dari Allah tidak mendengar kami’. Ia yang tidak mengenal Allah tidak memperhatikan / menghormati kami. Ia yang tidak dilahirkan dari Allah ... tidak berjalan dengan kami. Makin jauh seseorang dari Allah ... makin jauh ia dari Kristus dan pelayan-pelayanNya yang setia; dan makin seseorang kecanduan pada dunia ini, makin jauh ia dari roh kekristenan).

Calvin: “By these words he intimates that the vast multitude to whom the Gospel is not acceptable, do not hear the faithful and true servants of God, because they are alienated from God himself. It is then no diminution to the authority of the Gospel that many reject it” (= Dengan kata-kata ini ia mengisyaratkan bahwa, orang banyak, bagi siapa Injil itu tidak diterima, tidak mendengar pelayan-pelayan yang setia dan benar dari Allah, karena mereka menjauhkan diri dari Allah sendiri. Maka, bukanlah merupakan suatu pengurangan terhadap otoritas dari Injil bahwa banyak orang menolaknya) - hal 236.

b) ‘Itulah tandanya Roh kebenaran dan roh yang menyesatkan’.

KJV: ‘Hereby know we the spirit of truth, and the spirit of error’ (= Dengan ini kami mengenal roh kebenaran, dan roh kesalahan).

NIV: ‘This is how we recognize the Spirit of truth and the spirit of falsehood’ (= Ini adalah bagaimana kami mengenali Roh kebenaran dan roh kepalsuan).

Adam Clarke: “‘Hereby know we the Spirit of truth.’ The doctrine and teacher most prized and followed by worldly men, and by the gay, giddy, and garish multitude, are not from God; they savour of the flesh, lay on no restraints, prescribe no cross-bearing, and leave everyone in full possession of his heart’s lusts and easily besetting sins. And by this, false doctrine and false teachers are easily discerned” (= ‘Dengan ini kami mengenal Roh kebenaran’. Doktrin dan pengajar yang paling dihargai dan diikuti oleh orang-orang duniawi, dan oleh orang banyak yang periang, sembrono dan yang berkilauan / menyolok, bukanlah dari Allah; mereka berbau daging, tidak memberikan pengekangan, tidak memerintahkan pemikulan salib, dan membiarkan setiap orang mempunyai nafsu-nafsu hatinya dan dosa-dosa yang dengan mudah menimpa. Dan dengan ini, doktrin-doktrin yang salah dan pengajar-pengajar yang salah dengan mudah dikenali / dibedakan).

Kata yang saya terjemahankan ‘periang’ maksudnya orang yang senang hura-hura dan kerjanya mencari kesenangan.

Kesimpulan / Penutup.

Ujilah setiap pengajar, ikutilah pengajar yang benar, dan jauhilah pengajar yang sesat. Tuhan memberkati saudara.

Catatan: Pdt. Budi Asali, M.Div:  meraih gelar Master of Divinity (M.Div) dari Reformed Theological Seminary (RTS), Jackson, Mississippi, United States of America
-AMIN-
Next Post Previous Post