YUNUS 1:1-17 (KEADAAN MANUSIA, TUHAN MENCARI MANUSIA DAN TINDAKAN ALLAH TERHADAP YUNUS)

Pdt.Budi Asali, M.Div.
YUNUS 1:1-17 (KEADAAN MANUSIA, TUHAN MENCARI MANUSIA DAN TINDAKAN ALLAH TERHADAP YUNUS)
I. Keadaan manusia.

Dalam bagian ini saya tidak hanya membahas keadaan dari orang Niniwe saja, tetapi juga orang-orang lain dalam bacaan ini.

1. Dosanya menumpuk (Yunus 1: 2: ‘kejahatannya telah sampai kepadaKu’).

Penerapan:

Hal seperti ini tidak hanya berlaku untuk orang-orang Niniwe saja, tetapi untuk semua manusia (bdk. Roma 3:10-18). Apakah saudara menyadari bahwa saudara adalah orang yang penuh dengan dosa seperti ini?

2. Tidak mencari Tuhan, kecuali kalau butuh.

Kalau tidak ada badai, mereka tidak berdoa. Tetapi pada waktu badai datang, mereka berdoa (ay 5,14). Jelas sekali bahwa mereka sebetulnya tidak mencari Tuhan, tetapi hanya mencari pertolongan dan berkat dari Tuhan! (bdk. Roma 3:11).

Penerapan:

Mungkin saudara sudah lama menjadi orang kristen. Tetapi, renungkanlah! Apakah selama ini saudara betul-betul mencari Tuhan? Atau saudara hanya sekedar mencari berkat / pertolongan Tuhan? Atau saudara sekedar pergi ke gereja sebagai suatu tradisi?

3. Waktu mereka merasa butuh Tuhan, mereka berdoa. Tapi begitu butanya mereka (secara rohani), sehingga mereka datang kepada allah yang salah (Yunus 1: 5).

Memang semua kita adalah manusia yang buta secara rohani, sehingga kalau Tuhan tidak menerangi hati dan pikiran kita, maka kita pasti akan salah jalan di dalam mencari Tuhan.

4. Pada waktu kesukaran, mereka mencari / menggunakan seadanya cara (Yunus 1: 6: harapan dari nahkoda adalah supaya setiap orang berseru kepada allahnya masing-masing, dengan harapan moga-moga salah satu akan berhasil). Ini lagi-lagi menunjukkan kebutaan mereka!

Penerapan:

Banyak orang pada waktu mengalami kesukaran / penyakit, lalu mencari / menggunakan seadanya cara. Mereka berdoa kepada Tuhan dengan cara kristen, tetapi mereka juga berdoa kepada Maria / orang-orang suci, pergi ke dukun-dukun, ke klenteng / Gunung Kawi dsb, dengan harapan bahwa salah satu dari hal-hal itu, bisa menolong mereka! Apakah saudara juga demikian? Ingatlah bahwa kalau saudara betul-betul percaya kepada Yesus, saudara tidak akan mencari ‘serep’!

5. Mereka merasa diri mereka tidak bersalah, sehingga tidak layak untuk dihukum.

Dalam Yunus 1: 7, mereka membuang undi, karena menganggap hanya satu saja yang salah. Dan dalam Yunus 1: 14, terlihat bahwa mereka merasa diri mereka tidak bersalah, dan hanya Yunus yang bersalah.

Ini adalah keadaan yang paling gawat dari orang berdosa. Mereka tidak sadar dosanya (bdk. Matius 9:9-13).

Illustrasi:

Adalah sesuatu yang betul-betul gawat kalau seseorang sakit, tetapi menganggap dirinya sehat. Juga kalau seseorang itu bodoh, tetapi menganggap dirinya pandai. Ini merupakan keadaan yang paling tidak bisa diperbaiki! Demikian juga kalau orang berdosa menganggap dirinya baik!

Penerapan:

Bagaimana dengan diri saudara sendiri? Apakah saudara menganggap diri saudara sendiri baik, atau lumayan baik sekalipun berdosa, atau penuh dengan dosa?

6. Mereka berusaha ‘berbuat baik’, tetapi kebaikan mereka bertentangan dengan kehendak Tuhan (Yunus 1: 12-13). Mereka ingin melindungi Yunus yang terang-terangan lari dari panggilan Tuhan. Ini lagi-lagi menunjukkan kebutaan mereka.

Penerapan:

Ada banyak orang yang melakukan suatu ‘kebaikan’, yang sebetulnya adalah dosa. Contoh:
memberi rokok sebagai tanda terima kasih. Ini sama seperti menyuruh orang itu bunuh diri pelan-pelan!
melindungi seseorang / menutupi kesalahan seseorang dengan jalan berdusta.
memberitahu tetangga pada waktu ulangan / ujian.

II. Tuhan mencari manusia.

Sekalipun manusia begitu brengsek dan berdosa, tetapi Tuhan tetap mencintai manusia dan Ia mencari manusia berdosa itu. Di sini kita melihat perbedaan yang sangat dasari antara kristen dan semua agama yang lain. Semua agama lain mengajar ‘manusia harus mencari Allah’. Tetapi kristen mengajar bahwa ‘Allahlah yang mencari manusia’. Yang mana yang benar?

Baca Roma 3:11. Juga perhatikan Kej 3. Pada waktu manusia jatuh dalam dosa, siapa yang mencari siapa?

Allah mencari manusia dengan cara:
Ia datang ke dunia di dalam diri Tuhan kita Yesus Kristus untuk mencari orang berdosa (Luk 19:10).
Ia bisa menggunakan malaikat (Lukas 2:8 dst), tetapi pada umumnya Allah menggunakan manusia. Dalam cerita ini, Allah mau memakai Yunus untuk menyelamatkan kota Niniwe (Yunus 1: 1-2), tetapi Allah juga mau memakai saudara dan karena itu ia menyuruh setiap saudara (orang kristen) untuk memberitakan Injil (Matius 28:19-20). Maukah saudara melaksanakan hal ini?

III. Sikap Yunus terhadap panggilan Allah.

1. Dia menolak panggilan untuk pergi ke Niniwe itu (Yunus 1: 3).

Ada beberapa kemungkinan alasan mengapa ia menolak:
ia merasa aneh, karena dirinya adalah seorang nabi tetapi disuruh memberitakan Firman Tuhan kepada orang kafir / non Israel.
ia menganggap hal itu tidak mungkin berhasil.
ia takut terhadap reaksi orang Niniwe yang terkenal jahatnya itu.
ia benci kepada orang Niniwe dan ia tidak ingin mereka bertobat dan diselamatkan.

Apapun alasannya, yang jelas ia menolak panggilan Tuhan dengan sengaja.

Penerapan:

Seringkah saudara menolak panggilan / perintah Tuhan untuk memberitakan Injil? Kalau saudara menolak untuk memberitakan Injil, apapun alasannya, saudara berdosa!

2. Ia bukan hanya menolak panggilan itu, tetapi ia juga lari (Yunus 1: 3).

Ada yang menafsirkan bahwa ayat ini tidak berarti bahwa Yunus mengira ia bisa betul-betul lari dari hadapan Allah. Ia pasti tahu bahwa Allah itu maha ada. Arti ayat ini: ia memberontak, ia tidak mau ada dibawah otoritas Allah.

Lalu apa yang terjadi ?

a. Ia pergi ke Yafo, lalu mendapatkan kapal yang pergi ke Tarsis.

Perhatikan bahwa sekalipun ‘jalan / pintu yang terbuka’ bisa datang / diberikan oleh Tuhan, seperti misalnya dalam 2Kor 2:12, tetapi tidak setiap ‘jalan / pintu yang terbuka’ merupakan jalan yang benar / dari Tuhan, seperti dalam kasus Yunus ini. Jalan / pintu memang terbuka bagi dia untuk lari dari Tuhan. Pada waktu ia mau naik kapal, ia berhasil mendapatkan tempat di kapal itu. Tetapi jelas bahwa ini bukan jalan yang benar bagi Yunus!

b. Yunus tidur (Yunus 1: 5).

Dalam Yunus 1: 6 nakhoda membangunkan dia dan berkata: ‘Bagaimana mungkin engkau tidur begitu nyenyak?’. Editor Calvin’s Commentary mengatakan bahwa dalam Septuaginta bagian ini diterjemahkan: ‘Why dost thou snore?’ (= Mengapa engkau mendengkur?).

Kelihatannya Yunus hidup dalam ‘damai’, padahal ia jelas sedang melarikan diri dari kehendak Tuhan! Memang pada saat seseorang berada di luar kehendak Tuhan, kadang-kadang ia bisa mempunyai ‘damai yang palsu’.

BACA JUGA: SERI KHOTBAH KITAB YUNUS

Karena itu, bisnis / study yang berjalan lancar, hidup yang enak, keluarga yang ada dalam keadaan baik-baik, hati yang tenteram dsb, tidak boleh dijadikan ukuran untuk menentukan apakah kita ada di dalam kehendak Tuhan atau tidak. Ukuran / standard yang benar adalah Firman Tuhan!

Editor dari Calvin’s Commentary memberikan 2 kutipan:
kata-kata Marckius yang berbunyi sebagai berikut:

"God sometimes not only suffers the wicked to advance prosperously in their sins, but does not immediately restore the godly in their declensions; nay, he gives them every facility for a time in their downward course, in order that they may know themselves more, and that the glory of God may become thereby more manifest. Foolish then is the sinner, who, having begun life prosperously, concludes that the end will be equally happy" (= Allah kadang-kadang bukan hanya membiarkan orang jahat untuk menjadi makmur dalam dosa mereka, tetapi juga tidak segera memulihkan orang saleh dalam kejatuhan mereka; tidak, ia memberi mereka semua fasilitas untuk sementara dalam jalan mereka yang turun ke bawah, supaya mereka bisa lebih mengenal diri mereka, dan supaya dengan demikian kemuliaan Allah bisa lebih dinyatakan. Jadi, bodohlah orang berdosa, yang memulai hidupnya dengan makmur, dan lalu menyimpulkan bahwa akhirnya juga akan sama bahagianya) - hal 30.
kata-kata Matthew Henry yang berbunyi sebagai berikut:

"Providence seemed to favour his design, and gave him an opportunity to escape: we may be out of the way of duty, and yet may meet with a favourable gale. The ready way is not always the right way" (= Providence kelihatannya baik terhadap rencananya, dan memberinya suatu kesempatan untuk lari / lolos: kita bisa ada di luar jalan kewajiban, tetapi mendapat angin yang menyenangkan. Jalan yang siap / mudah tidak selalu merupakan jalan yang benar) - hal 30.

IV. Tindakan Allah terhadap Yunus.

1. Allah mengirim badai (Yunus 1: 4).

a. Perhatikan bahwa Yunus 1: 4 ini mengatakan bahwa ‘TUHAN menurunkan angin ribut ke laut’.

Calvin: "He then says that a tempest arose in the sea; but he at the same time tells us, that this tempest did not arise by chance, as ungodly men are wont to say, who ascribe everything that happens to fortune. God, he says, sent a strong wind on the sea. ... Though indeed the Prophet speaks here only of one tempest, we may yet hence generally gather that no storms, nor any changes in the air, which produce rain or stir up tempests on the sea, happen by chance, but that heaven and earth are so regulated by a Divine power, that nothing takes place without being foreseen and decreed" (= Ia lalu mengatakan bahwa badai muncul di laut; tetapi pada saat yang sama ia menceritakan kepada kita bahwa badai ini tidak muncul secara kebetulan, seperti yang biasa dikatakan oleh orang-orang yang tak beriman, yang menganggap bahwa segala sesuatu yang terjadi sebagai kebetulan. Allah, ia berkata, mengirimkan angin yang kuat ke laut. ... Sekalipun memang sang nabi di sini hanya berbicara tentang satu badai, tetapi kita boleh menyimpulkan secara umum bahwa tidak ada badai, ataupun perubahan apapun di udara, yang menghasilkan hujan atau menimbulkan badai di laut, terjadi secara kebetulan, tetapi bahwa langit / surga dan bumi begitu diatur oleh kuasa Ilahi, sehingga tidak ada suatu apapun yang terjadi tanpa dilihat lebih dulu dan ditentukan) - hal 32,33.

b. Pelaut adalah orang yang sudah biasa menghadapi badai. Bahwa pelaut-pelaut itu sampai ketakutan dan membuang undi, menunjukkan bahwa itu bukan badai biasa!

c. Ada orang yang mempertanyakan: adilkah Allah, pada waktu mau menghajar satu orang (Yunus), lalu mendatangkan badai yang mengenai banyak orang yang ada di kapal yang sama dan bahkan di kapal-kapal lain yang sedang berlayar saat itu?

Calvin menjawab:
"though God had a regard only, in a special manner, to the case of Jonah, yet there were hidden reasons why he might justly involve others in the same danger. ... though the Lord may involve many men in the same punishment, when he especially intends to pursue only one man, yet there is never wanting a reason why he might not call before his tribunal any one of us, even such as appear the most innocent. ... God can punish one man, as to humble some others at the same time, and to chastise others for their various sins, and also to try their patience" (= sekalipun Allah hanya memperhatikan / melihat, dengan cara yang khusus, kepada kasus Yunus, tetapi di sana ada alasan-alasan tersembunyi mengapa Ia bisa secara benar / adil melibatkan orang-orang lain dalam bahaya yang sama. ... sekalipun Tuhan bisa melibatkan banyak orang dalam hukuman yang sama, pada waktu Ia secara khusus bermaksud mengejar satu orang saja, tetapi Ia tidak pernah kekurangan alasan mengapa Ia tidak memanggil ke depan pengadilanNya setiap orang di antara kita, bahkan yang kelihatannya paling tidak bersalah. ... Allah bisa menghukum seseorang, dengan maksud merendahkan beberapa orang lain pada saat yang sama, dan menghajar yang lain untuk bermacam-macam dosa mereka, dan juga untuk menguji kesabaran mereka) - hal 33.

2. Allah mengatur segala sesuatu sehingga Yunus dilempar keluar kapal.

Yunus 1: 13,15 menunjukkan bahwa Allah memang memakai badai itu untuk memaksa para pelaut itu untuk membuang Yunus keluar kapal. Karena itu dalam Yunus 2:3, Yunus berkata: ‘Telah Kaulemparkan aku..’.

Jadi Allah mengatur:
badai (ay 4,11,13,15).
nakhoda (ay 6).
undi (Yunus 1: 7 bdk. Amsal 16:33 - "Undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari pada TUHAN").

sehingga Yunus akhirnya dilempar ke laut.

3. Allah mengirim seekor ikan besar untuk menelan Yunus. Ini akhirnya membuat nabi bandel ini takluk kepada Allah.

BACA JUGA: YESUS: PENCIPTA, HIDUP DAN TERANG

Catatan: Kitab Suci tidak mengatakan bahwa ikan yang menelan Yunus adalah ‘ikan Paus’. Kitab Suci hanya mengatakan ‘ikan besar’.

Kesimpulan / Penutup.

Karena Yunus menolak panggilan / perintah Tuhan, maka Tuhan bekerja sedemikian rupa untuk menghajar Yunus sehingga ia akhirnya takluk.

Tuhan juga mempunyai banyak perintah bagi saudara. Misalnya:
perintah untuk memberitakan Injil.
perintah untuk rajin belajar Firman Tuhan.
perintah untuk melayani Tuhan sesuai dengan karunia saudara.
perintah untuk memberi persembahan perpuluhan.
perintah untuk rajin berbakti kepada Tuhan.
perintah untuk mengasihi sesama manusia.
perintah untuk mengampuni orang yang bersalah.
perintah untuk hidup jujur dan membuang dusta.

Apakah saudara mau taat langsung, atau saudara minta dihajar dulu / dipaksa seperti Yunus?

Catatan: Pdt. Budi Asali, M.Div:  meraih gelar Master of Divinity (M.Div) dari Reformed Theological Seminary (RTS), Jackson, Mississippi, United States of America
Next Post Previous Post