KESELAMATAN HANYA OLEH IMAN FONDASI GOLGOTA

Pdt.Budi Asali, M.Div.

A) Kita diselamatkan oleh ‘iman saja’, bukan oleh ‘perbuatan baik’ atau oleh ‘iman dan perbuatan baik’.

Salah satu semboyan reformasi adalah SOLA FIDE, yang artinya ‘only faith’ (= hanya iman). Jadi, yang menyelamatkan kita hanyalah iman. Perbuatan baik sama sekali tidak mempunyai andil untuk menyelamatkan / membawa kita ke surga.

1) Perbuatan baik tidak bisa menyelamatkan kita. Mengapa?

a) Karena manusia di luar Kristus sama sekali tidak bisa berbuat baik.

Kita lahir sebagai orang yang berdosa, dan karena itu kita mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa. Ini menyebabkan manusia di luar Kristus itu sebetulnya sama sekali tidak bisa berbuat baik. Hal ini bisa terlihat dari ayat-ayat di bawah ini:

1. Kejadian 6:5 - “Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala (bukan ‘sebagian’ tetapi ‘segala’) kecenderungan hatinya selalu (bukan ‘kadang-kadang’ / ‘sering’ tetapi ‘selalu’) membuahkan kejahatan semata-mata,”.

Kata ‘semata-mata’ diterjemahkan ‘continually’ (= terus menerus) oleh KJV/RSV/NASB, dan ‘all the time’ (= selalu / setiap saat) oleh NIV.

Bahkan Adam Clarke, yang adalah seorang Arminian, menafsirkan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa manusia hanya bisa berbuat dosa, dan tak ada perbuatan baiknya sama sekali.

2. Kej 8:21b - “Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya,”.

3. Roma 6:20 - “Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran.”.

4. Roma 8:7-8 - “(7) Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. (8) Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.”.

5. Titus 1:15 - “Bagi orang suci semuanya suci; tetapi bagi orang najis dan bagi orang tidak beriman suatupun tidak ada yang suci, karena baik akal maupun suara hati mereka najis.”.

Ini menunjukkan bahwa segala sesuatu yang dilakukan orang yang tidak beriman adalah dosa. Jadi, tindakan-tindakan yang kelihatannya baik sekalipun (seperti menolong orang miskin, dsb) tetap dianggap dosa. Mengapa?

1. Karena tindakan itu tidak lahir dari iman.

Roma 1:5 - “Dengan perantaraanNya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada namaNya.”.

Kata-kata ‘percaya dan taat’ ini salah terjemahan; entah dari mana muncul kata ‘dan’ itu.

KJV: ‘obedience to the faith’ (= ketaatan kepada iman). Ini juga salah terjemahannya. Jamieson, Fausset & Brown juga menganggap ini salah terjemahan, dan ia menterjemahkan seperti RSV/NASB.

RSV/NASB: ‘the obedience of faith’ (= ketaatan dari iman).

NIV: ‘the obedience that comes from faith’ (= ketaatan yang datang dari iman).

Menurut saya, terjemahan NIV, sekalipun tidak hurufiah, memberikan arti yang benar.

Inilah ketaatan yang betul-betul adalah ketaatan, yaitu ketaatan yang lahir dari iman kepada Yesus, atau datang dari iman kepada Yesus.

Adam Clarke (tentang Roma 1:5): “Of obedience, as the necessary consequence of genuine faith.” (= Tentang ketaatan, sebagai suatu konsekwensi yang perlu dari iman yang sejati / asli / sungguh-sungguh.).

Barnes’ Notes (tentang Ro 1:5): “‘For obedience to the faith.’ In order to produce, or promote obedience to the faith; that is, to induce them to render that obedience to God which faith produces. There are two things therefore implied. (1) That the design of the gospel and of the apostleship is to induce men to obey God. (2) That the tendency of faith is to produce obedience. There is no true faith which does not produce that.” [= ‘Untuk ketaatan kepada iman’. Untuk menghasilkan, atau memajukan / mengembangkan ketaatan kepada iman; yaitu, untuk menyebabkan mereka untuk memberikan ketaatan itu kepada Allah, yang iman hasilkan. Karena itu, ada dua hal yang ditunjukkan secara implicit. (1) Bahwa rancangan dari injil dan dari kerasulan adalah untuk menyebabkan orang-orang untuk mentaati Allah. (2) Bahwa kecenderungan dari iman adalah untuk menghasilkan ketaatan. Tidak ada iman yang benar / sejati yang tidak menghasilkan itu.].

William Hendriksen (tentang Ro 1:5): “The purpose for which Paul was appointed was to bring about obedience of faith. Such obedience is based on faith and springs from faith. In fact, so very closely are faith and obedience connected that they may be compared to inseparable identical twins. When you see the one you see the other. A person cannot have genuine faith without having obedience, nor vice versa.” (= Tujuan untuk mana Paulus ditetapkan adalah untuk menyebabkan ketaatan dari iman. Ketaatan seperti itu didasarkan pada iman dan muncul dari iman. Dalam faktanya / sebenarnya, begitu sangat dekatnya hubungan iman dan ketaatan sehingga mereka bisa dibandingkan dengan kembar identik yang tak terpisahkan. Pada waktu kamu melihat yang satu kamu melihat yang lain. Seseorang tidak bisa mempunyai iman yang sejati / asli / sungguh-sungguh tanpa mempunyai ketaatan, ataupun sebaliknya.).

A. T. Robertson (tentang Roma 1:5): “‎the obedience which springs from faith” (= ketaatan yang muncul dari iman).

Vincent (tentang Ro 1:5): “‎The English Revised Version (1885): ‘unto obedience of faith.’ ‘Unto’ marks the object of the grace and apostleship: ‘in order to bring about.’ Obedience of faith is the obedience which characterizes and proceeds from faith.” [= The English Revised Version (1885): ‘kepada ketaatan dari iman’. ‘Kepada’ menunjukkan tujuan dari kasih karunia dan kerasulan: ‘untuk menyebabkan’. Ketaatan dari iman adalah ketaatan yang memberi ciri kepada, dan keluar dari, iman.].

Catatan: Calvin, Hodge, John Murray, Jamieson, Fausset & Brown menafsirkan bahwa istilah ini artinya ketaatan kepada iman (dalam arti Injil). Tetapi saya tak setuju dengan penafsiran ini.

2. Karena tindakan itu tidak dilakukan berdasarkan kasih kepada Allah / Yesus.

Yohanes 14:15 - “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahKu.”.

3. Karena tindakan itu tidak dilakukan untuk memuliakan Allah.

1Korintus 10:31 - “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”.

Suatu ‘ketaatan / perbuatan baik’, yang dilakukan oleh orang yang tidak percaya kepada Yesus, dan dilakukan bukan karena hati yang mengasihi Tuhan, dan dilakukan bukan untuk kemuliaan Allah, pada dasarnya adalah ‘ketaatan / perbuatan baik’ yang dilakukan tanpa mempedulikan Allah. Sekarang pikirkan sendiri, bisakah perbuatan demikian disebut baik?

b) Firman Tuhan memberikan gambaran yang menjijikkan tentang kehidupan manusia di hadapan Allah.

1. Kesalehan manusia digambarkan seperti kain kotor.

Yes 64:6a - “Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor;”.

Perhatikan bahwa Yesaya bukan mengatakan ‘segala dosa kami seperti kain kotor’. Ia mengatakan ‘segala kesalehan kami seperti kain kotor’.

Ia juga tidak mengatakan ‘sebagian kesalehan kami seperti kain kotor’. Ia mengatakan ‘segala kesalehan kami seperti kain kotor’.

Jadi, sebetulnya semua kesalehan orang percayapun seperti kain kotor di hadapan Allah!

2. Dosa / kejahatan manusia digambarkan seperti cemar kain.

Sekarang, kalau ‘segala kesalehan’ kita digambarkan seperti ‘kain kotor’ di hadapan Allah, bagaimana dengan ‘dosa’ kita? Perhatikan ayat di bawah ini.

Yeh 36:17 - “‘Hai anak manusia, waktu kaum Israel tinggal di tanah mereka, mereka menajiskannya dengan tingkah laku mereka; kelakuan mereka sama seperti cemar kain di hadapanKu.”.

Dosa / kejahatan kita digambarkan seperti ‘cemar kain’. Apakah ‘cemar kain’ itu? NIV menterjemahkannya: ‘a woman’s monthly uncleanness’ (= kenajisan bulanan dari seorang perempuan).

Bandingkan juga dengan Im 15:20,24 - “(20) Segala sesuatu yang ditidurinya selama ia cemar kain menjadi najis. Dan segala sesuatu yang didudukinya menjadi najis juga. ... (24) Jikalau seorang laki-laki tidur dengan perempuan itu, dan ia kena cemar kain perempuan itu, maka ia menjadi najis selama tujuh hari, dan setiap tempat tidur yang ditidurinya menjadi najis juga.”.

Untuk kata ‘cemar kain’ yang pertama (ay 20) NIV menterjemahkan ‘her period’ (= masa datang bulannya), sedangkan untuk kata ‘cemar kain’ yang kedua (ay 24) NIV menterjemahkan ‘her monthly flow’ (= aliran bulanannya).

Jadi, kelihatannya yang dimaksudkan dengan ‘cemar kain’ itu adalah cairan darah yang dikeluarkan seorang perempuan pada saat datang bulan.

Dengan demikian Kitab Suci menggambarkan segala kesalehan kita seperti kain kotor, dan menggambarkan dosa / kejahatan kita seperti cairan yang dikeluarkan oleh seorang perempuan pada saat mengalami datang bulan! Merupakan suatu pemikiran yang sangat tidak beres, kalau kita berpikir bahwa dengan hal-hal menjijikkan itu kita bisa layak untuk masuk surga!

Siapapun yang menganggap dirinya suci atau lumayan baik, dan bisa mengusahakan kesucian / kekudusan dengan kekuatannya sendiri, apalagi bisa layak masuk surga dengan perbuatan baiknya sendiri, harus merenungkan bagian ini!

Keberatan: tetapi mengapa dalam Kitab Suci kadang-kadang diceritakan tentang orang yang saleh, tak bercacat, seperti Nuh, Ayub, Zakharia, dsb?

Kejadian 6:8-9 - “(8) Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN. (9) Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.”.

Ayub 1:1 - “Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.”.

Lukas 1:5-6 - “(5) Pada zaman Herodes, raja Yudea, adalah seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Isterinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet. (6) Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat.”.

Jawab:

1. Mereka bisa saleh karena mereka jelas adalah orang-orang yang beriman.

2. Kesalehan mereka itu tidak boleh diartikan ‘suci’, karena akan bertentangan dengan Roma 3:23 yang menyatakan semua orang berdosa. Satu-satunya yang dikecualikan hanyalah Yesus sendiri (Ibrani 4:15 2Korintus 5:21). Jadi, kesalehan mereka ini harus diartikan hanya dalam perbandingan dengan orang-orang lain di sekitar mereka. Tetapi kalau kehidupan mereka dibandingkan dengan Firman Tuhan / Kitab Suci, maka jelas mereka tetap penuh dengan dosa.

c) Seandainya ia bisa berbuat baik, perbuatan baik itu tidak bisa menghapuskan dosa.

Bahwa dosa tidak bisa ditebus dengan perbuatan baik, dinyatakan oleh Gal 2:16,21 yang berbunyi: “(16a) Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. ... (21b) Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus.”.

Illustrasi: Seseorang ditangkap polisi karena melanggar peraturan lalu lintas dan 1 minggu setelahnya harus menghadap ke pengadilan. Dalam waktu satu minggu itu ia lalu banyak berbuat baik untuk menebus dosanya. Ia menolong tetangga, memberi uang kepada pengemis, dsb. Pada waktu persidangan, ia membawa semua orang kepada siapa ia sudah melakukan kebaikan itu sebagai saksi. Pada waktu hakim bertanya: ‘Benarkah saudara melanggar peraturan lalu lintas?’, ia lalu menjawab: ‘Benar pak hakim, tetapi saya sudah banyak berbuat baik untuk menebus dosa saya. Ini saksi-saksinya’. Sekarang pikirkan sendiri, kalau hakim itu waras, apakah hakim itu akan membebaskan orang itu? Jawabnya jelas adalah ‘tidak’! Jadi terlihat bahwa dalam hukum duniapun kebaikan tidak bisa menutup / menebus / menghapus dosa! Demikian juga dengan dalam hukum Tuhan / Kitab Suci!

2) Keselamatan karena iman saja.

a) Ayat-ayat yang menunjukkan bahwa keselamatan itu hanya karena iman adalah:

1. Roma 3:24 - “dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.”.

Perhatikan kata ‘dengan cuma-cuma’ di sini. Kalau perbuatan baik punya andil dalam membawa kita ke surga, tidak mungkin ada kata ‘dengan cuma-cuma’ di sini.

Bdk. Yesaya 55:1-2 - “(1) Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran! (2) Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat.”.

2. Roma 3:27-28 - “(27) Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! (28) Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.”.

3. Gal 2:16,21 - “(16) Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: ‘tidak ada seorangpun yang dibenarkan’ oleh karena melakukan hukum Taurat. ... (21) Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus.”.

4. Efesus 2:8-9 - “(8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”.

5. Filipi 3:8-9 - “(8) Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, (9) dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.”.

6. Roma 9:30-10:3 - “(9:30) Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Ini: bahwa bangsa-bangsa lain yang tidak mengejar kebenaran, telah beroleh kebenaran, yaitu kebenaran karena iman. (9:31) Tetapi: bahwa Israel, sungguhpun mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah sampai kepada hukum itu. (9:32) Mengapa tidak? Karena Israel mengejarnya bukan karena iman, tetapi karena perbuatan. Mereka tersandung pada batu sandungan, (9:33) seperti ada tertulis: ‘Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu sentuhan dan sebuah batu sandungan, dan siapa yang percaya kepadaNya, tidak akan dipermalukan.’ (10:1) Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya mereka diselamatkan. (10:2) Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. (10:3) Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah.”.

7. Kisah Para Rasul 15:1-11 - “(1) Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: ‘Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan.’ (2) Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu. (3) Mereka diantarkan oleh jemaat sampai ke luar kota, lalu mereka berjalan melalui Fenisia dan Samaria, dan di tempat-tempat itu mereka menceriterakan tentang pertobatan orang-orang yang tidak mengenal Allah. Hal itu sangat menggembirakan hati saudara-saudara di situ. (4) Setibanya di Yerusalem mereka disambut oleh jemaat dan oleh rasul-rasul dan penatua-penatua, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka. (5) Tetapi beberapa orang dari golongan Farisi, yang telah menjadi percaya, datang dan berkata: ‘Orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa.’ (6) Maka bersidanglah rasul-rasul dan penatua-penatua untuk membicarakan soal itu. (7) Sesudah beberapa waktu lamanya berlangsung pertukaran pikiran mengenai soal itu, berdirilah Petrus dan berkata kepada mereka: ‘Hai saudara-saudara, kamu tahu, bahwa telah sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraan mulutku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya. (8) Dan Allah, yang mengenal hati manusia, telah menyatakan kehendakNya untuk menerima mereka, sebab Ia mengaruniakan Roh Kudus juga kepada mereka sama seperti kepada kita, (9) dan Ia sama sekali tidak mengadakan perbedaan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman. (10) Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu kuk, yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri? (11) Sebaliknya, kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga.’”.

Bdk. ay 11b dengan Roma 11:5-6 - “(5) Demikian juga pada waktu ini ada tinggal suatu sisa, menurut pilihan kasih karunia. (6) Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia.”.

Jelas terlihat bahwa Sidang Gereja Yerusalem membenarkan Paulus dan Barnabas yang mengajarkan keselamatan hanya oleh iman saja, dan menyalahkan orang-orang kristen Yahudi, yang menekankan bahwa untuk selamat, mereka juga harus mentaati hukum Taurat (ay 1).

8. Lukas 23:42-43 - “(42) Lalu ia berkata: ‘Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.’ (43) Kata Yesus kepadanya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.’”.

Penjahat yang boleh dikatakan tak punya perbuatan baik sama sekali ini, dan bahkan tak pernah ke gereja, belum dibaptis, dsb, ternyata dijamin keselamatannya oleh Yesus, hanya karena ia percaya kepada Yesus.

b) Lalu bagaimana dengan ayat-ayat Alkitab yang seolah-olah menunjukkan bahwa perbuatan baik itu menyelamatkan / punya andil dalam keselamatan?

Sebelum kita melihat ayat-ayat itu, saya tegaskan dulu, bahwa bagaimanapun bunyi ayat-ayat itu, kita tak boleh menafsirkan ayat-ayat itu sehingga menjadi bertentangan dengan kelompok ayat-ayat di atas, yang menunjukkan bahwa keselamatan itu oleh iman saja dan sama sekali bukan oleh perbuatan baik / ketaatan kita. Merupakan suatu prinsip Hermeneutics yang sangat penting, bahwa dua kebenaran / ayat Alkitab tidak bisa saling bertentangan.

Sekarang mari kita perhatikan ayat-ayat itu:

1. Matius 7:21 - “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga.”.

Jawab: Sepintas lalu memang ayat ini menekankan perbuatan baik / ketaatan supaya bisa masuk surga. Tetapi kontext menunjukkan bahwa ayat ini ditujukan kepada nabi-nabi palsu (Mat 7:15), dan karena itu Yesus tidak pernah mengenal mereka, dan mereka disebut sebagai ‘pembuat kejahatan’ (Maiust 7:23).

Matius 7:15-23 - “(15) ‘Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. (16) Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? (17) Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. (18) Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. (19) Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. (20) Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. (21) Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga. (22) Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, dan mengusir setan demi namaMu, dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga? (23) Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan!’”.

Karena mereka bukan orang percaya / tidak pernah menjadi orang percaya, maka Yesus berkata bahwa Ia tidak pernah mengenal mereka, dan mereka selalu berbuat dosa sehingga disebut sebagai ‘pembuat kejahatan’. Jadi, Mat 7:21 yang sedang dipersoalkan, memang cocok dengan mereka, karena sebagai nabi-nabi mereka banyak bicara tentang ‘Tuhan’, tetapi sebagai nabi-nabi palsu, mereka sama sekali tidak melakukan kehendak Bapa. Calvin menghubungkan kata-kata ‘melakukan kehendak Bapa’ ini dengan Yoh 6:40.

Yohanes 6:40 - “Sebab inilah kehendak BapaKu, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.’”.

Bdk. Yohanes 6:28-29 - “(28) Lalu kata mereka kepadaNya: ‘Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?’ (29) Jawab Yesus kepada mereka: ‘Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.’”.

Kata ‘pekerjaan’ dalam ay 28 ada dalam bentuk jamak (ERGA = works), tetapi kata ‘pekerjaan’ dalam ay 29 ada dalam bentuk tunggal (ERGON = work). Jadi, Yesus memaksudkan: hanya satu hal yang Allah kehendaki untuk kamu lakukan, yaitu percaya kepada Yesus! Calvin berkata bahwa pada waktu Yesus menyebut iman sebagai work / pekerjaan, Ia tidak berbicara dengan akurasi yang ketat. Tentu bukan maksud Calvin untuk mengatakan bahwa Yesus salah bicara! Maksudnya Ia menggunakan kata itu bukan dalam arti teologis yang ketat. Alasan Calvin adalah: Ro 3:27-28 mengatakan bahwa iman tidak termasuk sebagai work / pekerjaan.

Roma 3:27-28 - “(27) Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! (28) Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.”.

Jadi, orang-orang dalam Matius 7:21 adalah nabi-nabi palsu yang bukan orang-orang percaya, dan mereka tidak punya perbuatan baik sama sekali, dan karena itu mereka tak bisa masuk surga. Karena itu, ayat ini tidak ada urusannya sama sekali dengan keselamatan karena perbuatan baik!

Calvin (tentang Mat 7:21): “Christ extends his discourse farther: for he speaks not only of false prophets, who rush upon the flock to tear and devour, but of hirelings, who insinuate themselves, under fair appearances, as pastors, though they have no feeling of piety. This doctrine embraces all hypocrites, whatever may be their rank or station, but at present he refers particularly to pretended teachers, who seem to excel others. ... In a word, he declares that, so soon as the doctrine of the Gospel shall have begun to bear fruit by obtaining many disciples, there will not only be very many of the common people who falsely and hypocritically submit to it, but even in the rank of pastors there will be the same treachery, so that they will deny by their actions and life what they profess with the mouth.” (= Kristus memperluas pembicaraannya lebih jauh: karena Ia berbicara bukan hanya tentang nabi-nabi palsu, yang lari kepada kawanan domba untuk mencabik-cabik dan menelan, tetapi tentang orang-orang upahan, yang memasukkan diri mereka sendiri, dibawah penampilan yang bagus, sebagai pendeta-pendeta, sekalipun mereka tidak mempunyai perasaan tentang kesalehan. Doktrin ini mencakup semua orang-orang munafik, apapun tingkat atau kedudukan mereka, tetapi pada saat ini Ia secara khusus menunjuk kepada pengajar-pengajar yang pura-pura, yang kelihatannya melampaui orang-orang lain. ... Singkatnya, Ia menyatakan bahwa, begitu doktrin dari Injil mulai mengeluarkan buah dengan mendapatkan banyak murid-murid, di sana bukan saja akan ada banyak dari orang-orang awam yang secara palsu dan munafik tunduk kepadanya, tetapi bahkan dalam tingkat dari pendeta-pendeta akan ada banyak pengkhianatan yang sama, sehingga mereka akan menyangkal oleh tindakan-tindakan dan kehidupan mereka apa yang mereka akui dengan mulut mereka.).

Calvin (tentang Mat 7:21): “To do the will of the Father not only means, to regulate their life and manners, (as philosophers talked) by the rule of virtues, but also to believe in Christ, according to that saying, ‘This is the will of him that sent me, that every one which seeth the Son, and believeth on him, may have everlasting life,’ (John 6:40.) These words, therefore, do not exclude faith, but presuppose it as the principle from which other good works flow.” [= Melakukan kehendak Bapa bukan hanya berarti mengatur kehidupan dan kelakuan mereka, (seperti dibicarakan oleh ahli-ahli filsafat) oleh peraturan-peraturan tentang kebaikan-kebaikan, tetapi juga percaya kepada Kristus, sesuai dengan perkataan itu, ‘Inilah kehendak Dia yang mengutus Aku, supaya setiap orang yang melihat Anak, dan percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal’, (Yoh 6:40). Karena itu, kata-kata ini tidak membuang / mengeluarkan iman, tetapi mensyaratkannya sebagai suatu sumber dari mana pekerjaan-pekerjaan baik yang lain mengalir.].

Bdk. 2Timotius 2:19 - “Tetapi dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya ialah: ‘Tuhan mengenal siapa kepunyaanNya’ dan ‘Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan.’”.

Barnes’ Notes (tentang Mat 7:23): “‘I never knew you.’ ... This proves that, with all their pretensions, they had never been true followers of Christ. Jesus will not then say to false prophets and false professors of religion that he had once known them and then rejected them; that they had been once Christians and then had fallen away; that they had been pardoned and then had apostatized but that he had never known them - THEY HAD NEVER BEEN TRUE CHRISTIANS. Whatever might have been their pretended joys, their raptures, their hopes, their self-confidence, their visions, their zeal, they had never been regarded by the Saviour as his true friends.” (= ‘Aku tidak pernah mengenal kamu’. ... Ini membuktikan bahwa, dengan semua kepura-puraan mereka, mereka tidak pernah adalah pengikut-pengikut sejati dari Kristus. Pada saat itu Yesus tidak akan mengatakan kepada nabi-nabi palsu dan pengaku-pengaku palsu dari agama, bahwa Ia pernah sekali mengenal mereka, dan lalu menolak mereka; bahwa mereka pernah sekali adalah orang-orang Kristen dan lalu meninggalkan; bahwa mereka pernah diampuni dan lalu telah murtad, tetapi bahwa Ia tidak pernah mengenal mereka - MEREKA TIDAK PERNAH MERUPAKAN ORANG-ORANG KRISTEN SEJATI. Bagaimanapun mereka berpura-pura akan sukacita, kegembiraan, pengharapan, keyakinan diri sendiri, visi, semangat, mereka tidak pernah dianggap oleh sang Juruselamat sebagai sahabat-sahabatNya yang sejati.).

2. Yohanes 5:28-29 - “(28) Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suaraNya, (29) dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.”.

Karena arahnya sama, maka saya gabungkan di sini text di bawah ini.

Galatia 6:7-8 - “(7) Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diriNya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. (8) Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.”.

Galatia 6:8 (KJV): ‘For he that soweth to his flesh shall of the flesh reap corruption; but he that soweth to the Spirit shall of the Spirit reap life everlasting.’ (= Karena ia yang menabur kepada dagingnya akan menuai kerusakan / kebusukan dari daging; tetapi ia yang menabur kepada Roh akan menuai hidup yang kekal dari Roh.).

Gal 6:8 (NIV): ‘The one who sows to please his sinful nature, from that nature will reap destruction; the one who sows to please the Spirit, from the Spirit will reap eternal life.’ (= Orang yang menabur untuk menyenangkan natur berdosanya, akan menuai kebinasaan dari natur itu; orang yang menabur untuk menyenangkan Roh, akan menuai hidup yang kekal dari Roh.).

Jawab: Lagi-lagi, kalau dilihat sepintas, 2 text di atas ini menekankan bahwa orang yang berbuat jahat / tidak berbuat baik akan masuk neraka dan orang yang berbuat baik akan masuk surga. Tetapi mari kita analisa / pelajari dengan lebih mendalam.

Di atas / dalam pelajaran yang baru lalu, saya telah membahas bahwa manusia berdosa di luar Kristus sama sekali tidak bisa berbuat baik. Hanya kalau seseorang sudah percaya kepada Kristus, maka ia menerima Roh Kudus (Kisah Para Rasul 2:38 Efesus 1:13), sehingga ia mulai bisa berbuat baik (Gal atia 5:22-23 - buah Roh Kudus).

Karena itu, pada waktu dikatakan bahwa orang-orang yang berbuat baik akan masuk surga dalam kedua text di atas, mereka jelas adalah orang-orang yang beriman kepada Kristus, dan imannya yang menyelamatkan, bukan perbuatan baiknya. Tetapi mengapa perbuatan baiknya yang ditekankan?

a. Karena iman tidak kelihatan, sedangkan perbuatan baik kelihatan, maka yang ditekankan adalah perbuatan baik, yang sebetulnya hanya merupakan bukti dari iman. Sedangkan orang-orang yang berbuat jahat / tidak berbuat baik itu menunjukkan bahwa mereka bukan orang percaya, dan karena itu mereka masuk neraka. Jadi perbuatan merupakan sesuatu yang membedakan orang percaya dan orang yang tidak percaya.

b. Untuk mendorong orang-orang percaya untuk berbuat baik.

Calvin (tentang Yoh 5:29): “He points out believers by good works, as he elsewhere teaches that a tree is known by its fruit, (Matthew 7:16; Luke 6:44.)” [= Ia menunjukkan orang-orang percaya oleh perbuatan-perbuatan baik, seperti Ia di tempat lain mengajar bahwa sebuah pohon dikenal oleh buahnya, (Mat 7:16; Lukas 6:44).].

Calvin (tentang Yohanes 5:29): “The inference which the Papists draw from those passages - that eternal life is suspended on the merits of works - may be refuted without any difficulty. For Christ does not now treat of the cause of salvation, but merely distinguishes the elect from the reprobate by their own mark; and he does so in order to invite and exhort his own people to a holy and blameless life. And indeed we do not deny that the faith which justifies us is accompanied by an earnest desire to live well and righteously; but we only maintain that our confidence cannot rest on any thing else than on the mercy of God alone.” (= Kesimpulan yang para pengikut Paus tarik dari text-text itu - bahwa hidup yang kekal digantungkan pada jasa dari pekerjaan-pekerjaan / perbuatan-perbuatan baik - bisa dibantah tanpa kesukaran apapun. Karena Kristus sekarang ini tidak membahas penyebab dari keselamatan, tetapi semata-mata membedakan orang-orang pilihan dari orang-orang non pilihan oleh ciri mereka sendiri; dan Ia melakukan seperti itu untuk mengundang dan mendesak umatNya sendiri pada suatu kehidupan yang kudus dan tak bercacat. Dan memang kita tidak menyangkal bahwa iman yang membenarkan kita disertai oleh suatu keinginan yang sungguh-sungguh untuk hidup dengan baik dan benar; tetapi kami hanya mempertahankan bahwa keyakinan kami tidak bisa didasarkan pada apapun yang lain selain belas kasihan Allah saja.).

Barnes’ Notes (tentang Yohanes 5:29): “‘They that have done good.’ That is, they who are righteous, or they who have by their good works ‘shown’ that they were the friends of Christ. See Matt 25:34-36.” (= ‘Mereka yang telah berbuat baik’. Artinya, mereka yang adalah orang benar, atau mereka yang telah ‘menunjukkan’ oleh perbuatan-perbuatan baik mereka, bahwa mereka adalah sahabat-sahabat Kristus. Lihat Matius 25:34-36.).

William Hendriksen (tentang Gal 6:8): “‘Sowing to the flesh’ means to allow the old nature to have its way. So also, ‘sowing to the Spirit’ means to allow the Holy Spirit to have his way. The one who does the latter is walking by the Spirit (5:16), and is being led by the Spirit (5:18).” [= ‘Menabur kepada daging’ berarti mengijinkan natur yang lama mendapatkan apa yang diinginkannya. Demikian juga, ‘menabur kepada Roh’ berarti mengijinkan Roh Kudus untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Orang yang melakukan yang belakangan sedang berjalan / hidup oleh Roh (5:16), dan sedang dipimpin oleh Roh (5:18).].

Calvin (tentang Galatia 6:8): “If the Papists shall endeavor, in their usual manner, to build upon these words the righteousness of works, we have already shewn how easily their absurdities may be exposed. Though eternal life is a reward, it does not follow either that we are justified by works, or that works are meritorious of salvation. The undeserved kindness of God appears in the very act of honoring the works which his grace has enabled us to perform, by promising to them a reward to which they are not entitled. Is a more complete solution of the question demanded? 1. We have no good works which God rewards but those which we derive from his grace. 2. The good works which we perform by the guidance and direction of the Holy Spirit, are the fruits of that adoption which is an act of free grace. 3. They are not only unworthy of the smallest and most inconsiderable reward, but deserve to be wholly condemned, because they are always stained by many blemishes; and what have pollutions to do with the presence of God? 4. Though a reward had been a thousand times promised to works, yet it is not due but by fulfilling the condition of obeying the law perfectly; and how widely distant are we all from that perfection! Let Papists now go and attempt to force their way into heaven by the merit of works. We cheerfully concur with Paul and with the whole Bible in acknowledging, that we are unable to do anything but by the free grace of God, and yet that the benefits resulting from our works receive the name of a reward.” [= Jika para pengikut Paus (orang Katolik) berusaha, dengan cara mereka yang biasa, untuk membangun pada kata-kata ini kebenaran oleh perbuatan baik, kami telah menunjukkan betapa mudah kekonyolan mereka bisa disingkapkan. Sekalipun hidup yang kekal adalah suatu pahala / upah, itu tidak berarti atau bahwa kita dibenarkan oleh perbuatan baik, atau bahwa perbuatan baik mempunyai jasa untuk keselamatan. Kebaikan Allah yang tak layak kita dapatkan terlihat dalam tindakan menghormati perbuatan baik yang kasih karuniaNya telah memampukan kita untuk lakukan, dengan menjanjikan kepada mereka suatu pahala / upah untuk mana mereka tidak berhak. Apakah dituntut suatu penyelesaian yang lebih lengkap tentang pertanyaan ini? 1. Kita tidak mempunyai perbuatan baik yang Allah beri pahala / upah kecuali perbuatan-perbuatan baik yang kita dapatkan dari kasih karuniaNya. 2. Perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan oleh bimbingan dan pengarahan dari Roh Kudus, adalah buah-buah dari pengadopsian itu, yang merupakan suatu tindakan kasih karunia yang cuma-cuma. 3. Kita bukan hanya sama sekali tidak layak tentang pahala / upah yang terkecil dan paling tidak berarti, tetapi kita layak untuk dikecam / dihukum sepenuhnya, karena perbuatan-perbuatan baik itu selalu dikotori oleh banyak cacat cela; dan apa urusannya polusi-polusi dengan kehadiran Allah? 4. Sekalipun suatu pahala / upah telah dijanjikan 1000 kali pada perbuatan-perbuatan baik, tetapi itu tidak seharusnya kecuali oleh penggenapan syarat mentaati hukum Taurat secara sempurna; dan betapa jauhnya kita semua dari kesempurnaan itu! Biarlah para pengikut Paus sekarang pergi dan berusaha untuk memaksakan jalan mereka ke surga oleh jasa dari perbuatan-perbuatan baik. Kami dengan sukacita setuju dengan Paulus dan dengan seluruh Alkitab dalam mengakui, bahwa kami tidak bisa melakukan apapun kecuali oleh kasih karunia yang cuma-cuma dari Allah, tetapi bahwa manfaat yang dihasilkan dari perbuatan-perbuatan baik kita menerima sebutan dari suatu pahala / upah.].

3. Matius 25:31-46 - “(31) ‘Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaanNya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaanNya. (32) Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapanNya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, (33) dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kananNya dan kambing-kambing di sebelah kiriNya. (34) Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kananNya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh BapaKu, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. (35) Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; (36) ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. (37) Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? (38) Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? (39) Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? (40) Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. (41) Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiriNya: Enyahlah dari hadapanKu, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. (42) Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; (43) ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. (44) Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? (45) Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. (46) Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.’”.

a. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa sebutan ‘domba’ dan ‘kambing’ dalam Mat 25:32-33 sudah jelas menunjukkan bahwa kelompok yang pertama adalah orang-orang yang percaya, dan kelompok yang kedua adalah orang-orang yang tidak percaya.

Juga perhatikan bahwa ‘domba-domba’ itu 2 x disebut sebagai ‘orang benar’ (ay 37,46b)

Adam Clarke (tentang Matius 25:33): “SHEEP, which have ever been considered as the emblems of mildness, simplicity, patience, and usefulness, represent here the genuine disciples of Christ. GOATS, which are naturally quarrelsome, lascivious, and excessively ill-scented, were considered as the symbols of riotous, profane, and impure men. They here represent all who have lived and died in their sins.” (= DOMBA-DOMBA, yang telah dianggap sebagai simbol dari kelembutan, kesederhanaan, kesabaran, dan kebergunaan, menggambarkan di sini murid-murid yang sejati / asli dari Kristus. KAMBING-KAMBING, yang secara alamiah suka bertengkar, ceroboh / bernafsu, dan berbau sangat busuk, dianggap sebagai simbol dari orang-orang yang liar / suka mengacau, duniawi, dan tidak murni. Di sini mereka menggambarkan semua orang yang telah hidup dan mati dalam dosa-dosa mereka.).

b. Kata-kata ‘terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan’ jelas menunjukkan bahwa domba-domba / orang-orang percaya itu adalah orang-orang pilihan.

c. Ayat ini merupakan suatu dorongan bagi orang-orang percaya untuk berbuat baik.

Calvin (tentang Matius 25:35): “If Christ were now speaking of the cause of our salvation, the Papists could not be blamed for inferring that we merit eternal life by good works; but as Christ had no other design than to exhort his people to holy and upright conduct, it is improper to conclude from his words what is the value of the merits of works.” (= Seandainya Kristus sekarang sedang berbicara tentang penyebab dari keselamatan kita, para pengikut Paus tidak bisa disalahkan untuk menyimpulkan bahwa kita layak mendapatkan hidup yang kekal oleh perbuatan-perbuatan baik; tetapi karena Kristus tidak mempunyai rancangan lain dari pada untuk mendesak umatNya kepada tingkah laku yang kudus dan benar / jujur, adalah tidak tepat untuk menyimpulkan dari kata-kataNya apa nilai dari jasa dari perbuatan-perbuatan baik.).

d. Orang-orang yang tidak berbuat baik, menunjukkan bahwa mereka bukan orang percaya.

Adam Clarke (tentang Matius 25:44): “It is want of faith which in general produces hard-heartedness to the poor.” (= Adalah tidak adanya iman yang secara umum menghasilkan hati yang keras terhadap orang-orang miskin.).

4. Roma 2:6-13 - “(6) Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, (7) yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, (8) tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman. (9) Penderitaan dan kesesakan akan menimpa setiap orang yang hidup yang berbuat jahat, pertama-tama orang Yahudi dan juga orang Yunani, (10) tetapi kemuliaan, kehormatan dan damai sejahtera akan diperoleh semua orang yang berbuat baik, pertama-tama orang Yahudi, dan juga orang Yunani. (11) Sebab Allah tidak memandang bulu. (12) Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat; dan semua orang yang berdosa di bawah hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat. (13) Karena bukanlah orang yang mendengar hukum Taurat yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Tauratlah yang akan dibenarkan.”.

Ay 7,10 kelihatannya menunjukkan bahwa orang yang berbuat baik akan masuk surga dan ay 8,9 kelihatannya menunjukkan bahwa orang-orang yang berbuat jahat akan dihukum / masuk neraka. Lalu ay 13 juga kelihatannya menunjukkan bahwa orang-orang yang mentaati hukum Taurat akan dibenarkan.

Jawab:

a. Sekalipun Tuhan memang menjanjikan pahala bagi orang-orang yang berbuat baik, itu tak berarti bahwa mereka layak mendapatkannya. 

Calvin (tentang Roma 2:6): “there is not so much difficulty in this verse, as it is commonly thought. For the Lord, by visiting the wickedness of the reprobate with just vengeance, will recompense them with what they have deserved: and as he sanctifies those whom he has previously resolved to glorify, he will also crown their good works, but not on account of any merit: nor can this be proved from this verse; for though it declares what reward good works are to have, it does yet by no means show what they are worth, or what price is due to them. And it is an absurd inference, to deduce merit from reward.” [= Disana tidak ada begitu banyak kesukaran dalam ayat ini, seperti yang dipikirkan pada umumnya. Karena Tuhan, dengan mengunjungi kejahatan dari orang-orang yang ditentukan untuk binasa dengan pembalasan yang adil, akan membalas mereka dengan apa yang layak mereka dapatkan: dan karena Ia menguduskan mereka yang sebelumnya telah Ia putuskan untuk dimuliakan, Ia juga akan memahkotai perbuatan-perbuatan baik mereka, tetapi bukan karena jasa / kelayakan apapun: juga ini tidak bisa dibuktikan dari ayat ini; karena sekalipun itu menyatakan pahala apa yang akan didapatkan dari perbuatan-perbuatan baik, itu sama sekali tidak menunjukkan apa nilai dari perbuatan-perbuatan baik, atau harga yang layak bagi perbuatan-perbuatan baik. Dan merupakan suatu kesimpulan yang menggelikan, untuk menyimpulkan jasa / kelayakan dari pahala.].

b. Ay 7,10 harus diartikan sama seperti penjelasan di atas, bahwa mereka ini adalah orang-orang beriman, karena kalau tidak, mereka tidak akan bisa berbuat baik. Perbuatan-perbuatan baik selalu merupakan buah dari iman.

c. Perhatikan kata ‘tekun’ dalam ay 7.

Ay 7: “yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan,”.

Kalau ini mau diartikan sebagai keselamatan karena perbuatan baik, maka ini menunjukkan bahwa orang berbuat baik bisa selamat, kalau ia terus menerus, tanpa pernah jatuh satu kalipun, berbuat baik. Dan jelas tidak mungkin ada orang yang bisa seperti itu. Ini berlaku untuk ay 7,10,13.

Calvin (tentang Roma 2:13): “The import then of this verse is the following, - ‘That if righteousness be sought from the law, the law must be fulfilled; for the righteousness of the law consists in the perfection of works.’ They who pervert this passage for the purpose of building up justification by works, deserve most fully to be laughed at even by children.” [= Maka maksud dari ayat ini adalah sebagai berikut, - ‘Bahwa jika kebenaran dicari dari hukum Taurat, hukum Taurat harus digenapi; karena kebenaran dari hukum Taurat terdiri dari kesempurnaan dari perbuatan-perbuatan baik’. Mereka yang membengkokkan text ini untuk tujuan membangun pembenaran dari perbuatan-perbuatan baik, layak ditertawai sepenuhnya bahkan oleh anak-anak.].

Penafsiran ini sesuai dengan Gal 3:10 - “Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: ‘Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat.’”.

Kata-kata ‘orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat’ menunjuk kepada ‘orang-orang yang berusaha masuk surga dengan berbuat baik’. Perhatikan bahwa Paulus mengatakan mereka itu ‘berada di bawah kutuk’. Mengapa? Karena Gal 3:10b menyatakan bahwa orang yang ‘tidak setia’ melakukan ‘segala sesuatu’ dari hukum Taurat, adalah orang terkutuk. Ini jelas tuntutan untuk taat secara sempurna, atau, orangnya terkutuk.

Kalau mau dibahas lebih dalam, maka Galatia 3:10 dikutip dari Ulangan 27:26.

Ul 27:26a - “Terkutuklah orang yang tidak menepati perkataan hukum Taurat ini dengan perbuatan.”.

Ada perbedaan antara Gal 3:10b dengan Ul 27:26. Bedanya adalah, dalam Gal 3:10b ini, Paulus mengatakan / menambahkan kata-kata ‘segala sesuatu’.

Dalam KJV/NKJV, Ul 27:26 mengandung kata ‘all’ (= semua), sedangkan dalam RSV/NIV/NASB, Ul 27:26 tidak mempunyai kata itu. Dalam semua manuscript bahasa Ibrani, Ul 27:26 tidak mengandung kata ‘all’, sehingga ada yang menganggap bahwa penyalin Kitab Suci sengaja membuang kata ini, supaya tidak terlihat bahwa kita harus taat secara sempurna baru tidak terkutuk. Tetapi ada 6 manuscript non Ibrani, termasuk Septuaginta / LXX (Perjanjian Lama yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani), dimana Ul 27:26 mengandung kata ‘all’.

Dari semua ini bisa disimpulkan adanya beberapa kemungkinan:

(1) Ulangan 27:26 ini di dalam autographnya (= manuscript aslinya) memang mengandung kata ‘all’ tetapi lalu dibuang oleh para penyalin. Kalau ini yang benar, maka ini menunjukkan kurang ajarnya para penyalin itu. Tetapi saya sendiri tidak terlalu yakin akan kemungkinan ini.

(2) Ulangan 27:26 tidak mempunyai kata ‘all’ tetapi secara implicit kata itu ada.

(3) Bisa juga bahwa sebetulnya Ul 27:26 memang tidak mengandung kata ‘all’, tetapi karena dalam Ul 28:1,15 ada kata ‘all’, maka Paulus menambahkan kata itu pada waktu mengutip Ul 27:26.

Ul 28:1,15 - “(1) ‘Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintahNya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. ... (15) ‘Tetapi jika engkau tidak mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan tidak melakukan dengan setia segala perintah dan ketetapanNya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka segala kutuk ini akan datang kepadamu dan mencapai engkau:”.

Catatan: Ulangan 28:1 terletak persis setelah Ulangan 27:26, yang merupakan ayat terakhir dari Ul 27.

(4) Paulus menafsirkan bahwa Ul 27:26 itu maksudnya adalah ‘all the words of the law’ (= semua kata-kata hukum Taurat).

Ingat bahwa kalau penulis Perjanjian Baru menafsirkan Perjanjian Lama pada saat mereka menuliskan Firman Tuhan / Kitab Suci, maka tafsiran mereka infallible (= tidak bisa salah), karena mereka diilhami oleh Roh Kudus!

Jadi, keselamatan oleh perbuatan baik itu hanya ada secara teori, tetapi secara praktis, itu sama sekali mustahil, karena tak ada orang yang bisa taat secara sempurna (kecuali Yesus)!

Kita harus menafsirkan ayat-ayat di bawah ini secara sama, yaitu bahwa Tuhan menghendaki ketaatan yang sempurna.

Imamat 18:4-5 - “(4) Kamu harus lakukan peraturanKu dan harus berpegang pada ketetapanKu dengan hidup menurut semuanya itu; Akulah TUHAN, Allahmu. (5) Sesungguhnya kamu harus berpegang pada ketetapanKu dan peraturanKu. Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya; Akulah TUHAN.”.

Calvin (tentang Imamat 18:5): “We must observe, however, that salvation is not to be expected from the Law unless its precepts be in every respect complied with; for life is not promised to one who shall have done this thing, or that thing, but, by the plural word, full obedience is required of us. The pratings of the Popish theologians about partial righteousness are frivolous and silly, since God embraces at once all the commandments; and who is there that can boast of having thoroughly fulfilled them? If, then, none was ever clear of transgression, or ever will be, although God by no means deceives us, yet the promise becomes ineffectual, because we do not perform our part of the agreement.” [= Tetapi kita harus memperhatikan, bahwa keselamatan tidak boleh diharapkan dari hukum Taurat kecuali ajaran-ajaran / perintah-perintahnya ditaati dalam setiap hal; karena hidup tidak dijanjikan kepada orang yang telah melakukan hal ini atau hal itu, tetapi oleh kata bentuk jamak, ketaatan sepenuhnya dituntut dari kita. Ocehan dari ahli-ahli theologia Katolik tentang kebenaran sebagian adalah sembrono dan tolol, karena Allah mencakup sekaligus semua perintah-perintah / hukum-hukum; dan siapa disana yang bisa bermegah bahwa ia telah sepenuhnya menggenapi mereka? Maka, jika tidak ada yang pernah bebas, atau akan bebas, dari pelanggaran, sekalipun Allah sama sekali tidak menipu kita, tetapi janji itu menjadi tidak efektif, karena kita tidak melakukan bagian kita dari perjanjian itu.] - hal 205.

Catatan: kata-kata ‘peraturan’ dan ‘ketetapan’ dalam Im 18:4 dan dalam Im 18:5 ada dalam bentuk jamak. Kata-kata ‘semuanya itu’ sebetulnya tidak ada.

KJV: ‘Ye shall do my judgments, and keep mine ordinances, to walk therein: I am the LORD your God.’. Perhatikan bahwa tak ada kata-kata yang bisa diterjemahkan ‘semuanya itu’. Dalam Alkitab-Alkitab bahasa Inggris yang lain juga sama. Tetapi Calvin menafsirkan bahwa penggunaan kata bentuk jamak ini maksudnya keseluruhan.

5. Yeh 18:5-9,21-22,24,26-28 - “(5) Kalau seseorang adalah orang benar dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, (6) dan ia tidak makan daging persembahan di atas gunung atau tidak melihat kepada berhala-berhala kaum Israel, tidak mencemari isteri sesamanya dan tidak menghampiri perempuan waktu bercemar kain, (7) tidak menindas orang lain, ia mengembalikan gadaian orang, tidak merampas apa-apa, memberi makan orang lapar, memberi pakaian kepada orang telanjang, (8) tidak memungut bunga uang atau mengambil riba, menjauhkan diri dari kecurangan, melakukan hukum yang benar di antara manusia dengan manusia, (9) hidup menurut ketetapanKu dan tetap mengikuti peraturanKu dengan berlaku setia - ialah orang benar, dan ia pasti hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH. ... (21) Tetapi jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya dan berpegang pada segala ketetapanKu serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, ia tidak akan mati. (22) Segala durhaka yang dibuatnya tidak akan diingat-ingat lagi terhadap dia; ia akan hidup karena kebenaran yang dilakukannya. ... (24) Jikalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan seperti segala kekejian yang dilakukan oleh orang fasik - apakah ia akan hidup? Segala kebenaran yang dilakukannya tidak akan diingat-ingat lagi. Ia harus mati karena ia berobah setia dan karena dosa yang dilakukannya. ... (26) Kalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan sehingga ia mati, ia harus mati karena kecurangan yang dilakukannya. (27) Sebaliknya, kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, ia akan menyelamatkan nyawanya. (28) Ia insaf dan bertobat dari segala durhaka yang dibuatnya, ia pasti hidup, ia tidak akan mati.”.

Jawab:

a. Yeh 18:5-9 berbicara tentang orang benar (orang percaya) yang membuktikan imannya melalui perbuatan baiknya. Maka ia akan hidup / selamat.

b. Yeh 18:21-22,27-28 menunjuk kepada orang jahat yang bertobat (tentu harus beriman), dan lalu membuktikan imannya melalui perbuatan baiknya, maka ia juga akan hidup / selamat.

c. Sedangkan Yeh 18:24,26 menunjuk kepada orang yang hanya secara lahiriah kelihatan benar. Kalau ia betul-betul adalah orang benar, tidak mungkin ia murtad (1Yoh 2:19).

1Yoh 2:18-19 - “(18) Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir. (19) Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita.”.

Bahwa ia murtad, menunjukkan bahwa ia bukan betul-betul orang benar, dan tentu saja karena hal itu ia akan binasa.

Catatan: dalam komentarnya tentang 1Yoh 2:19, Adam Clarke hanya membahas bahwa Anti Kristus - Anti Kristus itu tidak sungguh-sungguh Kristen, tetapi potongan kalimat “sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita.” dalam 1Yoh 2:19 sama sekali tidak ia komentari!

Kasus yang sama dengan Yeh 18:24,26 terjadi dalam Yeh 3:20a - “Jikalau seorang yang benar berbalik dari kebenarannya dan ia berbuat curang, dan Aku meletakkan batu sandungan di hadapannya, ia akan mati.”.

Kasus yang lain lagi yang sama dengan ini adalah Yeh 33:13,18 - “(13) Kalau Aku berfirman kepada orang benar: Engkau pasti hidup! - tetapi ia mengandalkan kebenarannya dan ia berbuat curang, segala perbuatan-perbuatan kebenarannya tidak akan diperhitungkan, dan ia harus mati dalam kecurangan yang diperbuatnya. ... (18) Jikalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan, ia harus mati karena itu.”.

Calvin (tentang Yeh 3:20): “Here it may be asked, how can the just turn aside, since there is no righteousness without the spirit of regeneration? But the seed of the Spirit is incorruptible, (1Pet. 1:23,) nor can it ever happen that his grace is utterly extinguished; for the Spirit is the earnest and the seal of our adoption, for God’s adoption is without repentance, as Paul says. (Rom. 11:29.) Hence it may seem absurd to say, that the just recedes and turns aside from the right way. That passage of John is well known - if they had been of us, they had remained with us, (1John 2:19,) but because they have departed, that falling away proves sufficiently that they were never ours. But we must here mark, that ‘righteousness’ is here called so, which has only the outward appearance and not the root: for when once the spirit of regeneration begins to flourish, as I have said, it remains perpetually” [= Di sini bisa ditanyakan: bagaimana orang benar bisa menyimpang / berbalik, karena disana tidak ada kebenaran tanpa kelahiran baru? Tetapi benih dari Roh tidak dapat binasa (1Pet 1:23), juga tidak pernah bisa terjadi bahwa kasih karuniaNya dipadamkan secara total; karena Roh itu adalah jaminan dan meterai dari pengadopsian kita, karena pengadopsian Allah tidak akan disesali, seperti yang dikatakan oleh Paulus (Ro 11:29). Karena itu adalah menggelikan untuk mengatakan bahwa orang benar mundur dan menyimpang dari jalan yang benar. Text dari Yohanes merupakan text yang terkenal - ‘jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita’ (1Yoh 2:19), tetapi karena mereka telah meninggalkan kita, kemurtadan itu membuktikan secara cukup bahwa mereka tidak pernah termasuk pada kita. Tetapi di sini kita harus memperhatikan, bahwa ‘kebenaran’ di sini disebut demikian, yang hanya mempunyai penampilan lahiriah dan tidak mempunyai akarnya: karena kalau satu kali roh kelahiran baru mulai tumbuh dengan subur, seperti yang telah saya katakan, itu akan tinggal secara kekal] - hal 159.

1Petrus 1:23 - “Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal.”.

Roma 11:29 - “Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilanNya.”.

Calvin (tentang Yeh 18:24): “In what sense, then, does Ezekiel mean that the just fall away? That question is easily answered, since he is not here treating of the living root of justice, but of the outward form or appearance, as we commonly say. Paul reminds us that God knows us, but adds, that this seal remains. (2Timothy 2:19.) God therefore claims to himself alone the difference between the elect and the reprobate, since many seem to be members of his Church who are only outwardly such. And that passage of Augustine is true, that there are many wolves within, and many sheep without. For before God demonstrates his election, the sheep wander, and seem altogether strangers to the hope of salvation. Meanwhile many hypocrites make use of the name of God, and openly boast themselves pre-eminent in the Church, but inwardly they are wolves. But because it often happens that some make the greatest show of piety and justice, the Prophet very properly says, that if such fall away, they cannot boast of their former righteousness before God, since its remembrance will be blotted out.” [= Lalu, dalam arti apa, Yehezkiel memaksudkan bahwa orang benar murtad? Pertanyaan itu dijawab dengan mudah, karena di sini ia tidak sedang membahas tentang akar yang hidup dari keadilan / kebenaran, tetapi tentang bentuk lahiriah / luar atau kelihatannya, seperti yang biasanya kita katakan. Paulus mengingatkan kita bahwa Allah mengenal kita, tetapi menambahkan, bahwa meteraiNya tetap. (2Tim 2:19). Karena itu Allah mengclaim bagi diriNya sendiri perbedaan antara orang-orang pilihan dan orang-orang non pilihan / reprobate, karena banyak orang kelihatannya adalah anggota-anggota dari GerejaNya yang hanya secara lahiriah seperti itu. Dan text dari Agustinus itu adalah benar, bahwa disana ada banyak serigala di dalam, dan banyak domba di luar. Karena sebelum Allah mendemonstrasikan pemilihanNya, domba-domba mengembara, dan kelihatannya sama sekali merupakan orang-orang asing bagi pengharapan keselamatan. Sementara itu, banyak orang-orang munafik menggunakan nama Allah, dan secara terbuka membanggakan diri mereka sendiri menonjol dalam Gereja, tetapi secara batin mereka adalah serigala-serigala. Tetapi karena sering terjadi bahwa beberapa / sebagian orang membuat pertunjukan terbesar tentang kesalehan dan keadilan / kebenaran, sang Nabi dengan sangat tepat mengatakan, bahwa jika orang seperti itu murtad, mereka tidak bisa membanggakan kebenaran mereka yang terdahulu di hadapan Allah, karena ingatan tentangnya akan dihapuskan.].

2Timotius 2:19 - “Tetapi dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya ialah: ‘Tuhan mengenal siapa kepunyaanNya’ dan ‘Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan.’”.

Calvin (tentang Yeh 18:24): “In fine, we see that the word ‘righteousness’ is referred to our senses, and not to God’s hidden judgment; so that the Prophet does not teach anything but what we perceive daily” (= Kesimpulannya, kita melihat bahwa kata ‘kebenaran’ dihubungkan dengan panca indera kita, dan bukannya dengan penghakiman / penilaian yang tersembunyi dari Allah; sehingga sang nabi tidak mengajar apapun kecuali apa yang kita rasakan / mengerti sehari-hari) - ‘Commentary on Ezekiel’, hal 251.

Sekarang mari kita membandingkan dengan Yeh 36:26-27 yang menjamin bahwa orang percaya tidak mungkin murtad.

Yeh 36:26-27 - “(26) Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. (27) RohKu akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapanKu dan tetap berpegang pada peraturan-peraturanKu dan melakukannya.”.

Mungkinkah Yehezkiel menentang sendiri ucapannya di sini?

Keberatan terhadap penafsiran Calvin.

Yeh 33:13 - “Kalau Aku berfirman kepada orang benar: Engkau pasti hidup! - tetapi ia mengandalkan kebenarannya dan ia berbuat curang, segala perbuatan-perbuatan kebenarannya tidak akan diperhitungkan, dan ia harus mati dalam kecurangan yang diperbuatnya.”.

Dalam ayat ini Tuhan sendiri yang mengatakan bahwa orang itu pasti hidup. Karena itu jelaslah bahwa istilah ‘orang benar’ menunjuk kepada orang yang betul-betul adalah orang benar.

Jawaban saya:

Sekalipun Tuhan sendiri yang berbicara, Ia tetap sering berbicara dari sudut pandang manusia. Misalnya:

1. Dalam Yer 18:8 dan 1Sam 15:11 - Tuhan sendiri yang berkata bahwa Ia menyesal.

Yeremia 18:8 - “Tetapi apabila bangsa yang terhadap siapa Aku berkata demikian telah bertobat dari kejahatannya, maka menyesallah Aku, bahwa Aku hendak menjatuhkan malapetaka yang Kurancangkan itu terhadap mereka.”.

1Sam 15:11a - “‘Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firmanKu.’”.

Ini tetap harus dianggap dari sudut pandang manusia, dan demikian juga semua ayat Kitab Suci yang mengatakan bahwa Allah menyesal, karena:

a. Allah yang maha tahu tidak mungkin menyesal, karena ‘menyesal’ hanya bisa terjadi kalau kita tahu apa yang tadinya kita tidak tahu. Tetapi Allah itu maha tahu sehingga Ia mengetahui segala-galanya dari semula, dan karena itu Ia tidak mungkin menyesal!

b. Bil 23:19a dan 1Sam 15:29 mengatakan bahwa Allah bukanlah manusia sehingga harus menyesal.

Bil 23:19a - “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal.”.

1Samuel 15:29 - “Lagi Sang Mulia dari Israel tidak berdusta dan Ia tidak tahu menyesal; sebab Ia bukan manusia yang harus menyesal.’”.

Catatan: perhatikan bahwa dalam 1Sam 15 itu, mula-mula dikatakan ‘Allah menyesal’ (ay 11), lalu dikatakan ‘Allah tidak tahu menyesal’ (ay 29), dan akhirnya dikatakan ‘Allah menyesal’ lagi (ay 35b).

Saya berpendapat bahwa hanya ada satu cara untuk mengharmoniskan ayat-ayat yang kelihatannya kontradiksi ini, yaitu dengan menganggap bahwa bagian yang mengatakan ‘Allah menyesal’ merupakan bagian yang menggambarkan peninjauan dari sudut manusia, sedangkan bagian yang mengatakan ‘Allah tidak menyesal’ merupakan bagian yang menggambarkan peninjauan dari sudut Allah.

2. 2Raja-raja 20:1-6 - “(1) Pada hari-hari itu Hizkia jatuh sakit dan hampir mati. Lalu datanglah nabi Yesaya bin Amos, dan berkata kepadanya: ‘Beginilah firman TUHAN: Sampaikanlah pesan terakhir kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi.’ (2) Lalu Hizkia memalingkan mukanya ke arah dinding dan ia berdoa kepada TUHAN: (3) ‘Ah TUHAN, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapanMu dengan setia dan dengan tulus hati dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik di mataMu.’ Kemudian menangislah Hizkia dengan sangat. (4) Tetapi Yesaya belum lagi keluar dari pelataran tengah, tiba-tiba datanglah firman TUHAN kepadanya: (5) ‘Baliklah dan katakanlah kepada Hizkia, raja umatKu: Beginilah firman TUHAN, Allah Daud, bapa leluhurmu: Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu; sesungguhnya Aku akan menyembuhkan engkau; pada hari yang ketiga engkau akan pergi ke rumah TUHAN. (6) Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi dan Aku akan melepaskan engkau dan kota ini dari tangan raja Asyur; Aku akan memagari kota ini oleh karena Aku dan oleh karena Daud, hambaKu.’”.

Lagi-lagi di sini Tuhan bicara dari sudut pandang manusia, karena kalau dari sudut pandang Allah kematian itu jelas sudah ditentukan waktunya dan tidak bisa diubah, bahkan oleh Allah sendiri.

Jadi, dengan dua contoh di atas ini terlihat bahwa sekalipun Tuhan sendiri yang berbicara, Ia sering menyesuaikan kata-kataNya dengan kapasitas pengertian kita yang terbatas! Dan itu juga yang terjadi dengan Yeh 33:13! Jadi, orang itu hanya kelihatannya saja adalah orang benar, tetapi sebetulnya tidak demikian.

6. Yohanes 3:36 - “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.’”.

KJV: ‘and he that believeth not the Son’ (= dan Ia yang tidak percaya kepada Anak).

RSV: ‘he who does not obey the Son’ (= ia yang tidak mentaati Anak).

NIV: ‘but whoever rejects the Son’ (= tetapi siapapun menolak Anak).

NASB: ‘but he who does not obey the Son’ (= tetapi ia yang tidak mentaati Anak).

Kata Yunani yang digunakan adalah APEITHON dari kata dasar APEITHEO, yang bisa berarti ‘tidak percaya’, ‘menolak untuk diyakinkan’, ‘tidak taat’ (Bible Works 7).

Calvin menafsirkan kata ini sebagai ‘tidak percaya’, dan banyak penafsir juga demikian. A. T. Robertson mengartikan kata ini sebagai ‘tidak taat’ tetapi selanjutnya ia tidak menafsirkan ayat ini. Pulpit Commentary menafsirkan kata Yunani ini sebagai ‘menolak untuk diyakinkan’. Adam Clarke kelihatannya menganggap bahwa artinya adalah ‘tidak percaya’, dan karena tidak percaya, maka tidak ada ketaatan.

Adam Clarke: “‘He that believeth not’ Or, obeyeth not - ‎apeithoon‎: from ‎a‎, the alpha negative, and ‎peithoo‎, to persuade, or peithomai, to obey - the want of the obedience of faith. The person who will not be persuaded, in consequence, does not believe; and, not having believed, he cannot obey.” [= ‘Ia yang tidak percaya’ Atau, tidak taat - APEITHOON: dari A, alfa negatif, dan PEITHOO, meyakinkan, atau PEITHOMAI, taat - tidak adanya ketaatan dari iman. Orang yang tidak mau diyakinkan, dan konsekwensinya, tidak percaya; dan, karena tidak percaya, ia tidak bisa taat].

Catatan: alfa negatif itu A yang artinya ‘tidak / tidak ada’. Misalnya Atheis (tak ada Allah).

Jadi, saya kira tentang ayat tak ada persoalan. Penafsirannya adalah: atau orang itu tidak percaya, atau orang itu tidak mempunyai ketaatan sebagai bukti dari iman.

7. Filipi 2:12 - “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir,”.

Jawab:

a. Calvin (hal 69) berkata bahwa kata ‘keselamatan’ di sini artinya adalah ‘the entire course of our calling’ (= seluruh jalan panggilan kita).

Jadi di sini kata ‘keselamatan’ itu mempunyai arti yang berbeda dari biasanya. Di sini, ‘keselamatan’ itu mencakup daerah mulai saat kita percaya sampai saat kita masuk surga.

b. Kata ‘kerjakan’ dalam bahasa Yunaninya adalah KATERGAZESTHE, yang berasal dari kata kerja yang berarti ‘to bring to completion’ (= menyelesaikan).

Jadi, ‘tetaplah kerjakan keselamatanmu’ berarti: dalam jalan saudara ikut Tuhan, jangan berhenti di tengah jalan! Ikutlah terus dengan tekun, sampai akhir!

c. Kata-kata ‘dengan takut dan gentar’.

(1) Kata-kata ini tentu tak berarti bahwa kita betul-betul harus ikut Tuhan dengan gemetaran! Artinya adalah: Paulus menghen­daki suatu usaha yang serius!

A. T. Robertson: “Paul has no sympathy with a cold and dead orthodoxy or formalism that knows nothing of struggle and growth” (= Paulus tidak bersimpati dengan kekolotan dan formalisme yang dingin dan mati, yang tidak mengenal pergumulan dan pertum­buhan).

(2) Kata-kata ini juga menunjukkan bahwa dalam berusaha kita harus punya kerendahan hati, yang diwujudkan dengan suatu kesadaran bahwa kita sebetulnya tidak bisa melakukan hal itu dengan kekuatan kita sendiri.

Calvin: “‘With fear and trembling.’ In this way he would have the Philippians testify and approve their obedience - by being submissive and humble. Now the source of humility is this - acknowledging how miserable we are, and devoid of all good. To this he calls them in this statement. For whence comes pride, but from the assurance which blind confidence produces, when we please ourselves, and are more puffed up with confidence in our own virtue, than prepared to rest upon the grace of God. In contrast with this vice is that fear to which he exhorts.” (= ‘Dengan takut dan gentar’. Dengan cara ini ia menginginkan orang-orang Filipi untuk menyaksikan dan menunjukkan ketaatan mereka - dengan tunduk dan rendah hati. Sumber dari kerendahan hati adalah ini - pengakuan betapa menyedihkan adanya kita, dan tidak mempunyai apapun yang baik. Kepada hal ini ia memanggil mereka dalam pernyataan ini. Karena dari mana datangnya kesombongan, kecuali dari kepastian yang dihasilkan oleh keyakinan yang buta, pada waktu kita menyenangkan diri kita sendiri, dan makin sombong dengan keyakinan dalam kebaikan kita sendiri, dari pada siap untuk bersandar pada kasih karunia Allah. Sebagai kontras dengan kejahatan ini adalah rasa takut itu, kepada mana ia mendesak.).

Kesimpulan: ayat ini menekankan tanggung jawab kita. Sekalipun kita diselamatkan oleh iman saja, dan sekalipun keselamatan kita dijamin tidak bisa hilang, itu tak berarti kita boleh hidup santai / semau gue, tetapi harus terus berusaha taat, bukan dengan sombong / keyakinan yang buta, tetapi dengan rendah hati dan bersandar kepada Allah!

8. Wahyu 21:27 - “Tetapi tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta, tetapi hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu.”.

Ibr 12:14 - “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.”.

Pdt. Yesaya Pariadji menggunakan Wahyu 21:27 itu sebagai dasar bahwa untuk masuk surga harus suci. Tetapi baik Wah 21:27 maupun Ibr 12:14 jelas tak mengajarkan kesucian / kekudusan sebagai dasar untuk masuk surga, tetapi ini merupakan bukti iman, sehingga orang yang mempunyainya menunjukkan dirinya sebagai orang beriman, dan itu yang menyebabkan dia masuk surga. Perhatikan juga bahwa orang yang namanya tertulis dalam kitab kehidupan (Wah 21:27b) jelas adalah orang percaya.

Barnes’ Notes (tentang Ibr 12:14): “No one has ever been admitted to heaven in his sins;. ... God will not admit one unrepenting and unpardoned sinner to heaven.” (= Tak seorangpun telah pernah diterima di surga dalam dosa-dosanya; ... Allah tidak akan menerima satu orang berdosa yang tidak bertobat dan tidak diampuni di surga.).

9. Kisah Para Rasul 10:34-36 - “(34) Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: ‘Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. (35) Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepadaNya. (36) Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang.”.

Calvin (tentang Kisah Para Rasul 10:35): “But it seemeth that this place doth attribute the cause of salvation unto the merits of works. For if works purchase favor for us with God, they do also win life for us which is placed in the love of God towards us. Some do also catch at the word ‘righteousness,’ that they may prove that we are not justified freely by faith, but by works. But this latter thing is too frivolous.” [= Tetapi kelihatannya tempat ini memang menghubungkan penyebab dari keselamatan dengan jasa dari perbuatan-perbuatan baik. Karena jika perbuatan-perbuatan baik membeli kebaikan / kemurahan Allah bagi kita, maka perbuatan-perbuatan baik juga memenangkan hidup untuk kita yang ditempatkan dalam kasih Allah terhadap kita. Sebagian orang juga memegang kata ‘kebenaran’, sehingga / supaya mereka bisa membuktikan bahwa kita tidak dibenarkan dengan cuma-cuma oleh iman, tetapi oleh perbuatan-perbuatan baik. Tetapi hal yang belakangan ini adalah terlalu sembrono / tolol.].

Ada beberapa hal yang perlu dipersoalkan tentang text ini:

a. Penekanan dari ayat ini, kalau dilihat dari seluruh kontext (Kis 10), adalah bahwa Tuhan tidak membedakan antara orang Yahudi dan orang non Yahudi.

Dalam Perjanjian Lama, memang keduanya sangat dibedakan, tetapi dalam Perjanjian Baru (sejak kematian dan kebangkitan Kristus), maka tembok pemisah antara keduanya sudah diruntuhkan, dan tak ada lagi pembedaan.

Efesus 2:11-21 - “(11) Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu - sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya ‘sunat’, yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, - (12) bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. (13) Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu ‘jauh’, sudah menjadi ‘dekat’ oleh darah Kristus. (14) Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, (15) sebab dengan matiNya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diriNya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, (16) dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. (17) Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang ‘jauh’ dan damai sejahtera kepada mereka yang ‘dekat’, (18) karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa. (19) Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, (20) yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. (21) Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.”.

Roma 10:12 - “Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepadaNya.”.

1Korintus 12:13 - “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.”.

Galatia 3:28 - “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.”.

Kolose 3:11 - “dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.”.

b. Ay 35 mengatakan ‘takut akan Dia dan mengamalkan kebenaran’.

Kebanyakan penafsir yang menganggap bahwa kata-kata ‘takut akan Allah’ menunjuk pada kesalehan terhadap Allah, sedangkan kata-kata ‘mengamalkan kebenaran’ menunjuk pada kesalehan terhadap sesama manusia.

Barnes’ Notes: “‘He that feareth him.’ This is put for piety toward God in general. ... ‘And worketh righteousness.’ Does what is right and just. This refers to his conduct toward man. ... These two things comprehend the whole of religion, the sum of all the requirements of God - piety toward God, and justice toward people; and as Cornelius had showed these, he showed that, though a Gentile, he was actuated by true religion.” [= ‘Ia yang takut akan Dia’. Ini dikemukakan untuk kesalehan terhadap Allah secara umum. ... ‘Dan mengamalkan kebenaran’. Melakukan apa yang benar dan adil. Ini menunjuk kepada tingkah lakunya terhadap manusia. ... Kedua hal ini mencakup seluruh agama, total dari semua tuntutan Allah - kesalehan terhadap Allah, dan keadilan terhadap orang-orang; dan karena Kornelius telah menunjukkan hal-hal ini, ia menunjukkan bahwa, sekalipun ia seorang non Yahudi, ia digerakkan oleh agama yang benar.].

Adam Clarke: “‘fears God,’ worships him alone (for this is the true meaning of the word), and ‘worketh righteousness,’ abstains from all evil, gives to all their due, injures neither the body, soul, nor reputation of his neighbour,” [= ‘takut akan Allah’, menyembah Dia saja (karena ini adalah arti yang benar dari kata ini), dan ‘mengamalkan kebenaran’, menjauhkan diri dari semua kejahatan, memberikan kepada semua orang hak mereka, tidak menyakiti / melukai tubuh, jiwa ataupun reputasi / nama baik dari sesamanya,].

Matthew Henry: “Observe, Fearing God, and working righteousness, must go together; for, as righteousness towards men is a branch of true religion, so religion towards God is a branch of universal righteousness. Godliness and honesty must go together, and neither will excuse for the want of the other” [= Perhatikan, Takut akan Allah, dan mengamalkan kebenaran, harus berjalan bersama-sama; karena sebagaimana kebenaran terhadap sesama manusia merupakan suatu cabang dari agama yang benar, demikian juga agama terhadap Allah merupakan suatu cabang dari kebenaran universal. Kesalehan dan kejujuran harus berjalan bersama-sama, dan tidak ada satu yang memberi alasan absennya yang lain].

Calvin: “‘He which feareth God, and doth righteousness.’ In these two members is comprehended the integrity of all the whole life. For ‘the fear of God’ is nothing else but godliness and religion; and ‘righteousness’ is that equity which men use among themselves, taking heed lest they hurt any man, and studying to do good to all men. As the law of God consisteth upon (of) these two parts, (which is the rule of good life) so no man shall prove himself to God but he which shall refer and direct all his actions to this end, neither shall there be any sound thing in all offices, (duties,) unless the whole life be grounded in the fear of God” [= ‘Ia yang takut akan Allah, dan mengerjakan kebenaran’. Dalam kedua anggota / bagian ini tercakup integritas / kelurusan dari seluruh kehidupan. Karena ‘rasa takut akan Allah’ bukan lain dari kesalehan dan agama; dan ‘kebenaran’ adalah keadilan yang digunakan manusia di antara diri mereka sendiri, dengan memperhatikan supaya mereka tidak menyakiti manusia manapun, dan belajar untuk melakukan apa yang baik kepada semua manusia. Seperti hukum Taurat Allah terdiri dari kedua bagian ini, (yang adalah peraturan dari kehidupan yang baik) demikianlah tidak ada seorangpun yang akan membuktikan dirinya kepada Allah kecuali ia yang menyerahkan dan mengarahkan semua tindakan-tindakannya pada tujuan ini, dan tidak ada hal yang sehat apapun dalam semua kewajiban, kecuali seluruh kehidupan didasarkan pada rasa takut akan Allah].

c. Kornelius jelas adalah orang yang sudah beriman.

Sekalipun ia adalah orang non Yahudi, tetapi pasti sudah mendengar Firman Tuhan (Perjanjian Lama). Kornelius pasti adalah orang beriman, biarpun imannya merupakan iman Perjanjian Lama (percaya kepada Mesias yang akan datang). Berdasarkan apa saya yakin bahwa ia mempunyai iman Perjanjian Lama? Perhatikan text di bawah ini.

Kisah Para Rasul 10:2-3,22,30 - “(2) Ia saleh, ia serta seisi rumahnya takut akan Allah dan ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah. (3) Dalam suatu penglihatan, kira-kira jam tiga petang, jelas tampak kepadanya seorang malaikat Allah masuk ke rumahnya dan berkata kepadanya: ‘Kornelius!’ ... (22) Jawab mereka: ‘Kornelius, seorang perwira yang tulus hati dan takut akan Allah, dan yang terkenal baik di antara seluruh bangsa Yahudi, telah menerima penyataan Allah dengan perantaraan seorang malaikat kudus, supaya ia mengundang engkau ke rumahnya dan mendengar apa yang akan kaukatakan.’ ... (30) Jawab Kornelius: ‘Empat hari yang lalu kira-kira pada waktu yang sama seperti sekarang, yaitu jam tiga petang, aku sedang berdoa di rumah. Tiba-tiba ada seorang berdiri di depanku, pakaiannya berkilau-kilauan”.

Dari text ini terlihat bahwa:

(1) Ia berdoa pada pk 3 petang, yang merupakan jam doa Yahudi (ay 3,30).

Adam Clarke: “I‎t was about the ninth hour of the day, answering to our three o’clock in the afternoon (see note at Acts 3:1), the time of public prayer, according to the custom of the Jews” [= Itu kira-kira jam yang ke 9 dari hari itu, sesuai dengan pk. 3 petang (lihat catatan pada Kis 3:1), saat doa umum, menurut kebiasaan orang-orang Yahudi].

(2) Ia banyak memberi sedekah kepada orang-orang Yahudi (ay 2)!

Perhatikan bahwa di sini dikatakan bahwa ia memberi banyak sedekah secara khusus kepada umat Yahudi. Ia bisa melakukan hal itu, tidak bisa tidak, karena ia setuju dengan ajaran agama mereka, dan merasa berhutang budi pada ajaran agama mereka yang telah ia terima sebagai kebenaran!

Lenski: “Cornelius cultivated the two outstanding virtues of the Jewish religion: he gave abundant alms and he was diligent in prayer. The beneficiaries of his charity were ‘the people,’ LAOS so often signifying the Jewish people. He had found so much through them that he made generous and grateful return” [= Kornelius mengusahakan 2 hal baik yang menonjol / terkemuka dalam agama Yahudi: ia memberi banyak sedekah dan ia rajin / tekun dalam doa. Penerima dari kemurahan hatinya adalah ‘bangsa itu’, LAOS begitu sering menunjuk kepada bangsa Yahudi. Ia telah mendapatkan begitu banyak melalui mereka sehingga ia melakukan balasan yang murah hati dan penuh terima kasih] - hal 395.

(3) Ia terkenal baik di antara seluruh bangsa Yahudi (ay 22).

Calvin (tentang ay 22): “‘Cornelius, a just man.’ Cornelius’ servants commend their master not ambitiously, or to the end they may flatter him, but that Peter may the less abhor his company. And for this cause they say that he was approved of the Jews, that Peter may know that he was not estranged from true and sincere godliness. For even those which were superstitious, though they served idols, did boast that they were worshippers of God. But Cornelius could not have the Jews, who retained the worship of the true God alone, to be witnesses of his godliness, unless he had professed that he worshipped the God of Abraham with them” (= ‘Kornelius, orang benar’. Pelayan-pelayan Kornelius memuji tuan mereka bukan secara ambisius, atau dengan tujuan untuk menjilatnya, tetapi supaya Petrus bisa berkurang dalam kejijikannya terhadap kumpulannya. Dan untuk alasan ini mereka berkata bahwa ia direstui oleh orang-orang Yahudi, supaya Petrus tahu bahwa ia bukanlah orang yang asing / jauh dari kesalehan yang benar dan tulus. Karena bahkan mereka yang mempercayai takhyul, sekalipun mereka menyembah berhala, membanggakan diri bahwa mereka adalah penyembah-penyembah Allah. Tetapi Kornelius tidak bisa mempunyai orang-orang Yahudi, yang mempertahankan penyembahan terhadap Allah yang benar saja, menjadi saksi-saksi dari kesalehannya, kecuali ia telah mengaku bahwa ia menyembah Allah dari Abraham bersama mereka).

Calvin, dalam kata-katanya yang telah saya kutip di atas ini, secara benar menjadikan ini sebagai bukti bahwa Kornelius pasti setuju dengan agama Yahudi, karena kalau tidak, tidak mungkin ia akan terkenal baik dalam kalangan bangsa Yahudi.

Ingat bahwa orang-orang Yahudi adalah bangsa yang sangat fanatik dalam hal agama, dan karena itu tidak mungkin sekedar karena sedekah dari Kornelius kepada orang-orang Yahudi menyebabkan ia bisa terkenal baik dalam kalangan orang-orang Yahudi, kalau ia tidak setuju dengan agama Yahudi.

(4) Ia disebut sebagai ‘orang yang benar’.

Dalam ay 22 Kitab Suci Indonesia menyebutkan Kornelius sebagai seorang perwira yang ‘tulus hati’. Ini terjemahan yang salah.

KJV: ‘a just man’ (= seorang yang adil / benar).

RSV: ‘an upright ... man’ (= seorang ... yang lurus / jujur).

NIV/NASB: ‘a righteous ... man’ (= seorang ... yang benar).

Kata Yunani yang dipakai adalah DIKAIOS, dan menurut saya terjemahan ‘orang benar’ adalah yang terbaik.

Bdk. Roma 3:10 - “seperti ada tertulis: ‘Tidak ada yang benar, seorangpun tidak”.

Ia hanya bisa dikatakan sebagai ‘orang benar’ kalau ia mempunyai iman, dan ia tidak mungkin bisa mempunyai iman Perjanjian Baru, karena ia belum pernah mendengar Injil Perjanjian Baru sepenuhnya.

(5) Juga kalau dilihat dari Kis 10:4,31,35 jelas bahwa Kornelius berkenan di hadapan Allah.

Kisah Para Rasul 10:4,31,35 - “(4) Ia menatap malaikat itu dan dengan takut ia berkata: ‘Ada apa, Tuhan?’ Jawab malaikat itu: ‘Semua doamu dan sedekahmu telah naik ke hadirat Allah dan Allah mengingat engkau. ... (31) dan ia berkata: Kornelius, doamu telah didengarkan Allah dan sedekahmu telah diingatkan di hadapanNya. ... (35) Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepadaNya.”.

Ia tidak mungkin bisa berkenan kepada Allah kecuali ia beriman!

Bdk. Ibr 11:4-6 - “(4) Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati. (5) Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah. (6) Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.”.

Calvin (tentang Ibr 11:4): “‘By faith Abel offered,’ etc. The Apostle’s object in this chapter is to show, that however excellent were the works of the saints, it was from faith they derived their value, their worthiness, and all their excellences; and hence follows what he has already intimated, that the fathers pleased God by faith alone” (= ‘Karena iman Habel telah mempersembahkan’, dst. Tujuan sang rasul dalam pasal ini adalah untuk menunjukkan bahwa, bagaimanapun bagus / hebatnya pekerjaan / perbuatan baik dari orang-orang kudus, adalah dari iman pekerjaan / perbuatan baik itu mendapatkan nilai mereka, kelayakan mereka, dan semua kebagusan mereka; dan karena itu maka mengikutilah apa yang telah ia isyaratkan, bahwa bapa-bapa memperkenan Allah hanya oleh iman).

Calvin (tentang Ibrani 11:4): “He says, first, that Abel’s sacrifice was for no other reason preferable to that of his brother, except that it was sanctified by faith: for surely the fat of brute animals did not smell so sweetly, that it could, by its odor, pacify God. The Scripture indeed shows plainly, why God accepted his sacrifice, for Moses’s words are these, ‘God had respect to Abel, and to his gifts.’ It is hence obvious to conclude, that his sacrifice was accepted, because he himself was graciously accepted. But how did he obtain this favor, except that his heart was purified by faith” (= Ia berkata, pertama, bahwa persembahan Habel bukan karena alasan apapun lebih diterima dari persembahan saudaranya, kecuali bahwa itu dikuduskan oleh iman: karena pastilah lemak dari binatang tidak berbau begitu harum, sehingga oleh baunya itu bisa menenangkan Allah. Kitab Suci menunjukkan dengan jelas mengapa Allah menerima persembahannya, karena kata-kata Musa adalah ini: ‘Allah / TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu’ (Kej 4:4b). Jadi jelas bahwa kesimpulannya adalah, bahwa persembahannya diterima karena ia sendiri diterima dengan kasih karunia. Tetapi bagaimana ia mendapatkan kebaikan ini, kecuali bahwa hatinya dimurnikan oleh iman).

Calvin (tentang Ibrani 11:4): “‘God testifying,’ etc. He confirms what I have already stated, that no works, coming from us can please God, until we ourselves are received into favor, or to speak more briefly, that no works are deemed just before God, but those of a just man: for he reasons thus, - God bore a testimony to Abel’s gifts; then he had obtained the praise of being just before God. This doctrine is useful, and ought especially to be noticed, as we are not easily convinced of its truth; for when in any work, anything splendid appears, we are immediately rapt in admiration, and we think that it cannot possibly be disapproved of by God: but God, who regards only the inward purity of the heart, heeds not the outward masks of works. Let us then learn, that no right or good work can proceed from us, until we are justified before God” (= ‘Allah bersaksi’ dst / ‘ia memperoleh kesaksian’. Ia menegaskan apa yang telah saya nyatakan, bahwa tak ada pekerjaan / perbuatan baik, yang datang dari kita yang dianggap benar di hadapan Allah, kecuali pekerjaan / perbuatan baik dari orang yang benar: karena ia berargumentasi sebagai berikut, - Allah memberi suatu kesaksian pada persembahan Habel; pada saat itu ia telah mendapatkan pujian bahwa ia benar di hadapan Allah. Doktrin ini berguna, dan harus diperhatikan secara khusus, karena kita tidak mudah diyakinkan tentang kebenarannya: karena pada waktu dalam pekerjaan / perbuatan baik apapun, terlihat adanya apapun yang baik, kita segera dipenuhi dengan kekaguman, dan kita berpikir bahwa itu tidak mungkin bisa tidak direstui oleh Allah: tetapi Allah, yang hanya memandang / melihat pada kemurnian batin dari hati, tidak memperhatikan topeng lahiriah dari pekerjaan / perbuatan baik. Maka, hendaklah kita belajar, bahwa tidak ada pekerjaan / perbuatan baik atau benar bisa keluar dari kita, sampai kita dibenarkan di hadapan Allah).

Calvin (tentang Ibrani 11:5): “Moses indeed tells us, that he was a righteous man, and that he walked with God; but as righteousness begins with faith, it is justly ascribed to his faith, that he pleased God” [= Musa memang memberitahu kita, bahwa ia (Henokh) adalah orang benar, dan bahwa ia berjalan dengan Allah; tetapi karena kebenaran dimulai dengan iman, maka dengan benar hal itu dianggap berasal dari imannya, sehingga ia memperkenan Allah].

Calvin (tentang Ibr 11:6): “The reason he assigns why no one can please God without faith, is this, - because no one will ever come to God, except he believes that God is, and is also convinced that he is a remunerator to all who seek him. If access then to God is not opened, but by faith, it follows, that all who are without it, are the objects of God’s displeasure” (= Alasan yang ia berikan mengapa tak seorangpun bisa memperkenan Allah tanpa iman, adalah ini, - karena tak seorangpun akan pernah datang kepada Allah, kecuali ia percaya bahwa Allah ada, dan juga diyakinkan bahwa Ia adalah seorang yang memberi pahala kepada semua orang yang mencariNya. Jika jalan masuk kepada Allah tidak terbuka kecuali oleh iman, maka akibatnya adalah bahwa semua orang yang tanpa iman merupakan obyek dari ketidak-senangan Allah).

Lenski: “what makes any man well-pleasing to God is faith; without it there is no possibility of pleasing God” (= apa yang membuat manusia manapun berkenan kepada Allah adalah iman; tanpa itu tidak ada kemungkinan untuk memperkenan Allah) - hal 386.

John Owen: “faith is the only way and means whereby any one may please God” (= iman adalah satu-satunya jalan dan cara dengan mana seseorang bisa memperkenan Allah) - ‘Hebrews’, vol 7, hal 37.

John Owen: “‘All pleasing of God is, and must be, by faith, it being impossible it should be otherwise.’” (= Semua yang memperkenan Allah adalah, dan haruslah, oleh iman, dan tidak mungkin lainnya) - ‘Hebrews’, vol 7, hal 37.

John Owen: “‘It is impossible to please God any other way but by faith.’ Let men desire, design, and aim at it whilst they please, they shall never attain unto it. ... Hereunto Scripture bears testimony from first to last, namely, that none can, that none shall, ever please God but by faith” (= ‘Adalah tidak mungkin untuk memperkenan Allah dengan jalan lain kecuali oleh iman’. Hendaklah manusia menginginkan, merencanakan dan mengarahkan padanya semau mereka, mereka tidak akan pernah mencapainya. ... Dengan ini Kitab Suci memberi kesaksian dari awal sampai akhir, yaitu, bahwa tak seorangpun bisa, bahwa tak seorangpun akan, pernah memperkenan Allah kecuali oleh iman) - ‘Hebrews’, vol 7, hal 38.

Jadi, kalau Kornelius bisa dipuji-puji karena tindakan-tindakan salehnya, tidak bisa tidak, ia pasti adalah orang beriman. 

Supaya saudara tidak menganggap bahwa yang dimaksud dengan ‘iman’ dalam Ibr 11:6 ini sekedar ‘suatu kepercayaan bahwa Allah itu ada’, tetapi juga berhubungan dengan keselamatan, perhatikan komentar-komentar di bawah ini! 

Calvin (tentang Ibrani 11:6): “The second clause is that we ought to be fully persuaded that God is not sought in vain; and this persuasion includes the hope of salvation and eternal life, for no one will be in a suitable state of heart to seek God except a sense of the divine goodness be deeply felt, so as to look for salvation from him. We indeed flee from God, or wholly disregard him, when there is no hope of salvation” (= Anak kalimat yang kedua adalah bahwa kita harus diyakinkan sepenuhnya bahwa Allah tidak dicari dengan sia-sia; dan keyakinan ini mencakup pengharapan keselamatan dan hidup kekal, karena tak seorangpun akan berada dalam keadaan hati yang cocok untuk mencari Allah kecuali suatu perasaan tentang kebaikan ilahi dirasakan secara mendalam, sehingga orang itu mencari keselamatan dari Dia. Kita akan lari dari Allah, atau sepenuhnya mengabaikanNya, pada saat tidak ada pengharapan keselamatan).

Calvin (tentang Ibr 11:6): “But many shamefully pervert this clause; for they hence elicit the merits of works, and the conceit about deserving. And they reason thus: ‘We please God by faith, because we believe him to be a rewarder; then faith has respect to the merits of works.’ This error cannot be better exposed, than by considering how God is to be sought; while any one is wandering from the right way of seeking him, he cannot be said to be engaged in the work. Now Scripture assigns this as the right way, - that a man, prostrate in himself, and smitten with the conviction that he deserves eternal death, and in self-despair, is to flee to Christ as the only asylum for salvation. Nowhere certainly can we find that we are to bring to God any merits of works to put us in a state of favor with him. Then he who understands that this is the only right way of seeking God, will be freed from every difficulty on the subject; for reward refers not to the worthiness or value of works but to faith” (= Tetapi banyak orang secara memalukan membengkokkan anak kalimat ini; karena mereka mendapatkan jasa dari pekerjaan / perbuatan baik, dan kesombongan tentang kelayakan. Dan mereka beralasan sebagai berikut: ‘Kita memperkenan Allah oleh iman, karena kita mempercayaiNya sebagai seorang yang memberi upah; maka iman mempunyai rasa hormat pada jasa dari pekerjaan / perbuatan baik’. Kesalahan ini tidak bisa dinyatakan dengan lebih jelas, dari pada dengan mempertimbangkan bagaimana Allah harus dicari; sementara seseorang sedang mengembara / menyimpang dari jalan yang benar untuk mencari Dia, ia tidak bisa dikatakan terlibat dalam pekerjaan / perbuatan baik. Kitab Suci memberikan ini sebagai jalan yang benar, - bahwa seseorang, yang merendahkan dirinya sendiri, dan dipukul oleh suatu keyakinan bahwa ia layak mendapatkan kematian kekal, dan dalam keputus-asaan tentang diri sendiri, harus lari kepada Kristus sebagai satu-satunya perlindungan untuk keselamatan. Pasti kita tidak bisa menemukan dimanapun bahwa kita harus membawa kepada Allah jasa pekerjaan / perbuatan baik apapun untuk meletakkan kita dalam suatu keadaan disukai / disenangi oleh Dia. Maka ia yang mengerti bahwa ini adalah satu-satunya jalan yang benar untuk mencari Allah, akan dibebaskan dari setiap kesukaran tentang pokok ini; karena upah tidak menunjuk pada kelayakan atau nilai dari pekerjaan / perbuatan baik tetapi pada iman).

Calvin (tentang Ibrani 11:6): “From these two clauses, we may learn how, and why it is impossible for man to please God without faith; God justly regards us all as objects of his displeasure, as we are all by nature under his curse; and we have no remedy in our own power. It is hence necessary that God should anticipate us by his grace; and hence it comes, that we are brought to know that God is, and in such a way that no corrupt superstition can seduce us, and also that we become assured of a certain salvation from him” (= Dari dua anak kalimat ini, kita bisa belajar bagaimana dan mengapa merupakan sesuatu yang mustahil bagi manusia untuk memperkenan Allah tanpa iman; Allah dengan benar / adil menganggap kita semua sebagai obyek dari ketidak-senanganNya, karena kita semua secara alamiah ada di bawah kutukNya; dan kita tidak mempunyai obat dalam kuasa kita sendiri. Karena itu merupakan sesuatu yang perlu bahwa Allah mendahului kita dengan kasih karuniaNya; dan lalu terjadilah, bahwa kita dibawa untuk mengetahui bahwa Allah ada, dan dengan cara sedemikian rupa sehingga tak ada takhyul jahat apapun bisa membujuk kita, dan juga sehingga kita yakin tentang suatu keselamatan tertentu dari Dia).

e. Tetapi bagaimanapun juga Kornelius perlu ditambah pengetahuannya tentang Injil, dan karena itu kalau kita lihat Kis 10:36-43, Petrus memberitakan Injil kepada dia dan keluarganya.

Kisah Para Rasul 10:36-43 - “(36) Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang. (37) Kamu tahu tentang segala sesuatu yang terjadi di seluruh tanah Yudea, mulai dari Galilea, sesudah baptisan yang diberitakan oleh Yohanes, (38) yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia. (39) Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu yang diperbuatNya di tanah Yudea maupun di Yerusalem; dan mereka telah membunuh Dia dan menggantung Dia pada kayu salib. (40) Yesus itu telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga, dan Allah berkenan, bahwa Ia menampakkan diri, (41) bukan kepada seluruh bangsa, tetapi kepada saksi-saksi, yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Allah, yaitu kepada kami yang telah makan dan minum bersama-sama dengan Dia, setelah Ia bangkit dari antara orang mati. (42) Dan Ia telah menugaskan kami memberitakan kepada seluruh bangsa dan bersaksi, bahwa Dialah yang ditentukan Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati. (43) Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepadaNya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena namaNya.’”.

Kesimpulan: jelaslah bahwa Kornelius pada saat itu adalah orang beriman, biarpun imannya adalah iman Perjanjian Lama, tetapi ini tetap menyebabkan ia sudah bisa membuahkan perbuatan baik dalam kehidupannya.

Jadi jelas, bahwa Kisah Para Rasul 10:34-35 tidak bisa dipakai sebagai dasar untuk mengajar keselamatan karena perbuatan baik!

10. Lukas 10:25-28 - “(25) Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: ‘Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?’ (26) Jawab Yesus kepadanya: ‘Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?’ (27) Jawab orang itu: ‘Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.’ (28) Kata Yesus kepadanya: ‘Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.’”.

Intinya: ketaatan dalam hal ini (kasih kepada Tuhan dan kepada sesama) juga harus dilakukan SECARA SEMPURNA, dan tak ada orang bisa lakukan ini.

11. Yakobus 2:14-26 - “(14) Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? (15) Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, (16) dan seorang dari antara kamu berkata: ‘Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!’, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? (17) Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. (18) Tetapi mungkin ada orang berkata: ‘Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan’, aku akan menjawab dia: ‘Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.’ (19) Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar. (20) Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong? (21) Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? (22) Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna. (23) Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: ‘Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.’ Karena itu Abraham disebut: ‘Sahabat Allah.’ (24) Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman. (25) Dan bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain? (26) Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.”.

Jawab:

Kalau kita sudah pernah membaca surat-surat Paulus, maka kita akan melihat bahwa kelihatannya bagian surat Yakobus ini ber­tentangan dengan banyak bagian surat-surat Paulus.

Contoh:

a. Roma 3:28 kelihatannya bertentangan dengan Yak 2:24.

Ro 3:28 - “Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.”.

Yakobus 2:24 - “Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.”.

b. Ro 4:1-4 dan Gal 3:6 kelihatannya bertentangan dengan Yak 2:21.

Roma 4:1-4 - “(1) Jadi apakah akan kita katakan tentang Abraham, bapa leluhur jasmani kita? (2) Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. (3) Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? ‘Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.’ (4) Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya.”.

Galatia 3:6 - “Secara itu jugalah Abraham percaya kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.”.

Yakobus 2:21 - “Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?”.

c. Ef 2:8-9 kelihatannya bertentangan dengan Yak 2:24.

Ef 2:8-9 - “(8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”.

Yakobus 2:24 - “Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.”.

Juga kelihatannya Ibr 11:31 bertentangan dengan Yak 2:25.

Ibrani 11:31 - “Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik.”.

Yakobus 2:25 - “Dan bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain?”.

Ada beberapa hal yang perlu dimengerti untuk bisa memperdamai­kan / mengharmoniskan Paulus dan Yakobus:

(1) Adanya perbedaan tujuan.

Paulus menuliskan suratnya untuk orang-orang yang terpengaruh oleh ajaran Yahudi yang menekankan keselamatan karena perbuatan baik.

Bdk. Kis 15:1-2 - “(1) Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: ‘Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan.’ (2) Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu.”.

Karena itu Paulus justru mene­kankan habis-habisan bahwa hanya imanlah yang menyebabkan kita diselamatkan (Galatia 2:16,21 Efesus 2:8-9).

Tetapi Yakobus menulis kepada orang-orang yang sekalipun mengaku sebagai orang kristen, tetapi hidupnya sama sekali tidak mirip hidup kristen. Karena itu ia justru menekankan perbuatan baik.

(2) Adanya perbedaan penggunaan istilah.

(a) Istilah ‘pekerjaan / perbuatan baik’.

Kalau Paulus menggunakan istilah ini maka ia memaksudkannya sebagai sesuatu yang digunakan untuk menyelamatkan diri kita. Karena itu maka ia berkata bahwa perbuatan baik tidak diperlukan (yang menyebabkan kita selamat hanyalah iman!).

Tetapi kalau Yakobus menggunakan istilah ini, ia memaksud­kannya sebagai akibat / hasil dari keselamatan. Karena itu ia mengatakan bahwa perbuatan baik harus ada dalam diri orang kristen. 

(b) Istilah ‘iman / percaya’.

Kalau Paulus menggunakan istilah ini, maka ia menunjuk pada iman kepada Yesus Kristus.

Tetapi kalau Yakobus menggunakan istilah ini, maka ia memaksudkan ‘pengakuan percaya dengan mulut’ (bdk. ay 14 - ‘seorang mengatakan bahwa ia mempunyai iman’). Perkecualiannya adalah Yak 2:23, karena di sana Yakobus mengutip dari Kejadian 15:6.

Calvin: “it appears from the first words, that he speaks of false profession of faith: for he does not begin thus, ‘If any one has faith;’ but, ‘If any says that he has faith;’ by which he certainly intimates that hypocrites boast of the empty name of faith, which really does not belong to them” [= kelihatan dari kata-kata pertama, bahwa ia (Yakobus) berbicara tentang pengakuan iman yang palsu: karena ia tidak memulai demikian, ‘Jika seorang mempunyai iman’; tetapi ‘Jika seorang mengatakan bahwa ia mempunyai iman’; dengan mana ia pasti mengisyaratkan bahwa orang-orang munafik membanggakan tentang nama / sebutan yang kosong dari iman, yang sesungguhnya bukan milik mereka].

(c) Istilah ‘dibenarkan’.

Kalau Paulus menggunakan istilah ini, maka artinya adalah ‘orangnya dibenarkan oleh Allah’.

Tetapi kalau Yakobus memakai istilah ini, maka maksudnya adalah ‘pengakuan orang itu yang dibenarkan’ (artinya: pengakuannya benar / tidak dusta).

Catatan:

· Kita harus membedakan arti dari istilah-istilah ini, karena kalau tidak, maka kita akan betul-betul mendapatkan kontradiksi yang tidak terhamoniskan antara Yakobus dan Paulus.

Pembedaan arti untuk istilah yang sama juga terjadi dalam kasus di bawah ini:

Matius 5:17-18 - “(17) ‘Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. (18) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.”.

Efesus 2:15 - “sebab dengan matiNya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diriNya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera,”.

Dalam kedua text di atas ada istilah ‘hukum Taurat’. Tetapi kalau dalam Mat 5:17-18 dikatakan bahwa hukum Taurat tidak akan ditiadakan, maka dalam Ef 2:15 dikatakan bahwa pada saat kematian Yesus hukum Taurat itu dibatalkan. Satu-satunya cara untuk mengharmoniskan kedua text ini adalah dengan memberikan arti yang berbeda untuk istilah ‘hukum Taurat’ itu. Dalam Matius 5:17-18, istilah ‘hukum Taurat’ harus diartikan hukum moral, sedangkan dalam Efesus 2:15, istilah ‘hukum Taurat’ itu harus diartikan ‘ceremonial law’ (= hukum yang berhubungan dengan upacara keagamaan).

Kalau pembedaan arti untuk istilah yang sama boleh dilakukan di sini, mengapa tidak boleh juga dilakukan untuk mengharmoniskan Yakobus dengan Paulus?

· Kalau saudara mau mengerti Yakobus 2:14-26 ini dengan benar, maka adalah sesuatu yang mutlak penting bagi saudara untuk mengingat dengan baik cara Yakobus menggunakan istilah-istilah di atas!

Kesimpulan: 

Dalam Yakobus 2:14-26 ini Yakobus punya satu tujuan pengajaran: pengakuan percaya tidak boleh / tidak bisa dipisahkan dari perbuatan baik. Sebaliknya pengakuan percaya harus dibuktikan kebenarannya melalui perbuatan baik.

Mungkin ia menuliskan bagian ini untuk memberi keseimbangan terhadap doktrin salvation by faith (= keselamatan oleh iman) yang diajarkan oleh Paulus. 

Calvin: “When Paul says that we are justified by faith, he means no other thing than that by faith we are counted righteous before God. But James has quite another thing in view, even to shew that he who professes that he has faith, must prove the reality of his faith by his works” (= Ketika Paulus mengatakan bahwa kita dibenarkan oleh iman, ia memaksudkan tidak lain dari bahwa oleh iman kita dianggap benar di hadapan Allah. Tetapi Yakobus menujukan pandangannya pada hal yang lain, yaitu untuk menunjukkan bahwa ia yang mengaku bahwa ia mempunyai iman, harus membuktikan realita dari imannya oleh pekerjaan / perbuatan baiknya).

Adam Clarke: “Learned men have spent much time in striving to reconcile these two writers, and to show that Paul and James perfectly accord; one teaching the pure doctrine, the other guarding men against the abuse of it” (= Orang-orang terpelajar telah menghabiskan banyak waktu dalam pergumulan untuk mendamaikan kedua penulis ini, dan untuk menunjukkan bahwa Paulus dan Yakobus sesuai secara sempurna; yang satu mengajarkan doktrin yang murni, yang lain menjaga orang-orang dari penyalah-gunaan doktrin itu).

Jamieson, Fausset & Brown: “At all events the Holy Spirit by James combats, not Paul, but those who abuse Paul’s doctrine” (= Bagaimanapun / apapun yang terjadi, Roh Kudus oleh Yakobus, bukan melawan Paulus, tetapi melawan mereka yang menyalah-gunakan doktrin / ajaran Paulus).

Kemungkinan yang lain adalah: ia menuliskan ini untuk memberi keseimbangan terhadap tulisannya sendiri tentang ‘hukum yang memerdekakan’ (Yak 1:25 2:12). Dengan demikian secara keselu­ruhan ia mengajarkan bahwa sekalipun orang kristen sudah dimer­dekakan dari dosa oleh iman kepada Kristus, itu tidak boleh diartikan bahwa orang kristen lalu merdeka untuk berbuat dosa!

Satu hal yang tak boleh dilupakan adalah bahwa dalam kontext Yakobus 2:14-26 itu sendiri, Yakobus tetap menunjukkan kepercayaan yang sama dengan Paulus, yaitu keselamatan karena iman saja, yaitu dalam Yak 2:23 dimana ia mengutip Kejadian 15:6.

Yakobus 2:23 - “Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: ‘Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.’ Karena itu Abraham disebut: ‘Sahabat Allah.’”.

Hal lain yang harus diperhatikan adalah bahwa iman tidak mungkin digabungkan dengan perbuatan baik sebagai syarat keselamatan, karena adanya ayat ini.

Roma 11:5-6 - “(5) Demikian juga pada waktu ini ada tinggal suatu sisa, menurut pilihan kasih karunia. (6) Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia.”.

Kesimpulan tentang semua ayat-ayat yang seakan-akan menunjukkan keselamatan karena perbuatan baik. Ada beberapa kemungkinan:

(a) Perbuatan baik merupakan bukti dari iman, dan adanya perbuatan baik menunjukkan adanya iman, dan sebaliknya, adanya iman pasti menimbulkan perbuatan baik.

(b) Tujuannya ayat-ayat seperti itu adalah mendorong orang Kristen supaya berbuat baik.

(c) Perbuatan baik hanya menyelamatkan, kalau perbuatan baik itu dilakukan secara sempurna (tanpa pernah gagal / berbuat dosa).

(d) Perbuatan baik itu merupakan tanggung jawab orang percaya.

Yang jelas, tidak ada ayat dimana perbuatan baik betul-betul dinyatakan sebagai sesuatu yang bisa menyelamatkan kita, atau membantu kita dalam keselamatan kita. Kalau untuk keselamatan, maka karya Kristus di atas kayu salib sudah cukup, dan kita hanya perlu percaya kepada Dia.

Cynddylan Jones mengomentari Ef 2:8-9 sebagai berikut: “You might as well try to cross the Atlantic in a paper boat as to get to heaven by your own good works.” (= Kamu bisa mencoba menyeberangi Lautan Atlantik dalam sebuah perahu kertas sama seperti kamu mau ke surga dengan perbuatan-perbuatan baikmu sendiri.) - Haddon W. Robinson, ‘Biblical Preaching’, hal 87.

Martin Luther: “The most damnable and pernicious heresy that has ever plagued the mind of men was the idea that somehow he could make himself good enough to deserve to live with an all-holy God.” (= Ajaran sesat yang paling terkutuk dan jahat / merusak yang pernah menggoda pikiran manusia adalah gagasan bahwa entah bagaimana ia bisa membuat dirinya sendiri cukup baik sehingga layak untuk hidup dengan Allah yang mahasuci.) - Dr. D. James Kennedy, ‘Evangelism Explosion’, hal 31-32.

Archbishop William Temple yang dikutip oleh John Stott sebagai berikut:

“All is of God. The only thing of my very own which I contribute to my redemption is the sin from which I need to be redeemed.” (= Semua dari Allah. Satu-satunya hal dari diriku sendiri yang aku sumbangkan pada penebusanku adalah dosa dari mana aku perlu ditebus.) - ‘The Preacher’s Portrait’, hal 44-45.

c) Ada 2 perbuatan baik yang seringkali dianggap secara salah sebagai hal-hal yang harus ada (bersama-sama dengan iman) supaya seseorang bisa selamat. Sekalipun dua hal ini sebetulnya termasuk dalam perbuatan baik, tetapi karena banyak orang Kristen mengkhususkan 2 hal ini, maka saya membuat pembahasannya secara terpisah di tempat ini.

Pertama: Pengakuan dosa.

Banyak orang berpandangan bahwa dosa yang diakui adalah dosa yang diampuni.

1Yohanes 1:9 - “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”.

Karena itu, mereka lalu menyimpulkan bahwa orang percaya yang tidak sempat mengakui dosanya sebelum mati, tidak diampuni dan tidak selamat.

Anehnya, contoh yang selalu digunakan adalah orang yang mati pada saat berzinah.

Jawaban saya:

1. Apa sebabnya perzinahan selalu digunakan sebagai contoh? Apakah ini dosa khusus? Kalau dosa ini, terhadap mana orangnya tidak sempat bertobat, menyebabkan orangnya masuk neraka, bagaimana dengan dosa-dosa lain, yang semuanya juga bisa dilakukan, dan lalu orangnya mati tanpa sempat mengaku dosa? Misalnya, marah, benci, iri hati, cinta uang, mencuri, bolos gereja, dsb? Dan mengingat manusia begitu berdosa, sehingga tidak ada saat seseorang bisa hidup suci murni, maka apakah semua orang Kristen yang tidak mengaku dosa persis sebelum mati, akan masuk neraka?

2. Ada berapa persen orang Kristen yang persis sebelum mati sempat mengaku dosa?

3. Apakah penjahat yang bertobat di salib itu mengaku dosa dan minta ampun kepada Tuhan atas dosa-dosanya? Ia tidak mengaku dosa, tetapi ia dijamin masuk Firadus / surga.

4. Kristus mati untuk menebus semua dosa dari semua orang-orang pilihanNya.

a. Yeh 36:25 - “Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu”.

b. Kolose 2:13 - “Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita”.

c. 1Yohanes 1:7,9 - “(7) Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, AnakNya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa. ... (9) Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan”.

d. Titus 2:14 - “yang telah menyerahkan diriNya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diriNya suatu umat, kepunyaanNya sendiri, yang rajin berbuat baik”.

e. Kisah Para Rasul 13:39 - “Dan di dalam Dialah setiap orang yang percaya memperoleh pembebasan dari segala dosa, yang tidak dapat kamu peroleh dari hukum Musa.”.

Apakah ada ayat yang mengatakan bahwa Ia hanya mati menebus dosa-dosa yang diakui?

5. Mengatakan bahwa orang percaya yang mati tanpa sempat mengaku dosa itu masuk neraka adalah sama dengan mengakui doktrin sesat keselamatan karena perbuatan baik! Mengapa? Karena jelas pengakuan dosa merupakan tindakan / perbuatan kita!

Kedua: Baptisan / tindakan menyerahkan diri untuk dibaptis.

Bagaimana dengan ayat-ayat yang seolah-olah menunjukkan bahwa kita selamat oleh iman + baptisan? Ada beberapa ayat yang biasanya digunakan untuk ini:

1. Kisah Para Rasul 2:38 - “Jawab Petrus kepada mereka: ‘Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.”.

Calvin mengatakan bahwa Gereja Roma Katolik menggunakan ayat ini untuk mengatakan bahwa dosa-dosa diampuni di dalam baptisan, dan bagi Calvin itu sama dengan membuang injil.

Matthew Henry, Adam Clarke, dan Albert Barnes mengatakan bahwa baptisan ditekankan di sini karena baptisan merupakan suatu pengakuan terbuka bahwa mereka percaya kepada Kristus.

Adam Clarke (tentang Kis 2:38): “‘And be baptized every one of you.’ Take on you the public profession of the religion of Christ, by being baptized in his name; and thus acknowledge yourselves to be his disciples and servants.” (= ‘Dan dibaptislah setiap orang dari kamu’. Tunjukkanlah pengakuan umum tentang agama dari Kristus, dengan dibaptis dalam namaNya; dan dengan demikian mengakui dirimu sendiri sebagai murid-murid dan pelayan-pelayanNya.).

Bdk. Matius 10:32-33 - “(32) Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan BapaKu yang di sorga. (33) Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan BapaKu yang di sorga.’”.

Adam Clarke (tentang Kis 2:38): “‘For the remission of sins.’ ‎... In reference to the remission or removal of sins: baptism pointing out the purifying influences of the Holy Spirit; ... For baptism itself purifies not the conscience; it only points out the grace by which this is to be done.” (= ‘Untuk pengampunan dosa-dosa’. ... Berkenaan dengan pengampunan atau penghapusan dosa-dosa: baptisan menunjukkan pengaruh-pengaruh yang penyucian dari Roh Kudus; ... Karena baptisan itu sendiri tidak menyucikan hati nurani; itu hanya menunjukkan kasih karunia dengan mana ini harus dilakukan.).

Calvin (tentang Yohanes 3:5): “It is true that, by neglecting baptism, we are excluded from salvation; and in this sense I acknowledge that it is necessary; but it is absurd to speak of the hope of salvation as confined to the sign.” (= Adalah benar bahwa, dengan MENGABAIKAN baptisan, kita dikeluarkan dari keselamatan; dan dalam arti ini saya mengakui bahwa baptisan itu perlu; tetapi adalah menggelikan untuk berbicara tentang pengharapan keselamatan sebagai dibatasi pada tanda itu.).

Barnes’ Notes (tentang Kis 2:38): “‘For the remission of sins.’ ... There is nothing in baptism itself that can wash away sin. That can be done only by the pardoning mercy of God through the atonement of Christ. But baptism is expressive of a willingness to be pardoned in that way, and is a solemn declaration of our conviction that there is no other way of remission. He who comes to be baptized, comes with a professed conviction that he is a sinner; that there is no other way of mercy but in the gospel, and with a professed willingness to comply with the terms of salvation, and to receive it as it is offered through Jesus Christ.” (= ‘Untuk pengampunan dosa-dosa’. ... Tak ada apapun dalam baptisan itu sendiri yang bisa mencuci / membersihkan dosa. Itu hanya bisa dilakukan oleh belas kasihan yang mengampuni dari Allah melalui penebusan Kristus. Tetapi baptisan adalah pernyataan dari suatu kerelaan untuk diampuni dengan cara itu, dan adalah suatu pernyataan khidmat dari keyakinan kita bahwa di sana tidak ada jalan lain dari pengampunan. Ia yang datang untuk dibaptis, datang dengan suatu keyakinan yang diakui bahwa ia adalah seorang berdosa; bahwa di sana tidak ada jalan lain dari belas kasihan kecuali dalam injil, dan dengan suatu kerelaan yang diakui untuk memenuhi / menuruti syarat-syarat keselamatan, dan untuk menerimanya sebagaimana itu ditawarkan melalui Yesus Kristus.).

Bible Knowledge Commentary (tentang Kis 2:38): “A problem revolves around the command ‘be baptized’ and its connection with the remainder of 2:38. There are several views: (1) One is that both repentance and baptism result in remission of sins. In this view, baptism is essential for salvation. The problem with this interpretation is that elsewhere in Scripture forgiveness of sins is based on faith alone (John 3:16,36; Rom 4:1-17; 11:6; Gal 3:8-9; Eph 2:8-9; etc.). Furthermore Peter, the same speaker, later promised forgiveness of sins on the basis of faith alone (Acts 5:31; 10:43; 13:38; 26:18). (2) A second interpretation translates 2:38, ‘Be baptized... on the basis of the remission of your sins.’ The preposition used here is ‎EIS ‎which, with the accusative case, may mean ‘on account of, on the basis of.’ It is used in this way in Matt 3:11; 12:41; and Mark 1:4. Though it is possible for this construction to mean ‘on the basis of,’ this is not its normal meaning; ‎EIS ‎with the accusative case usually describes purpose or direction. (3) A third view takes the clause ‘and be baptized, every one of you, in the name of Jesus Christ’ as parenthetical. Several factors support this interpretation: (a) The verb makes a distinction between singular and plural verbs and nouns. The verb ‘repent’ is plural and so is the pronoun ‘your’ in the clause ‘so that your sins may be forgiven’ ... Therefore the verb ‘repent’ must go with the purpose of forgiveness of sins. On the other hand the imperative ‘be baptized’ is singular, setting it off from the rest of the sentence. (b) This concept fits with Peter’s proclamation in Acts 10:43 in which the same expression ‘sins may be forgiven’ (‎APHESIN ‎‎HAMARTION‎) occurs. There it is granted on the basis of faith alone. (c) In Luke 24:47 and Acts 5:31 the same writer, Luke, indicates that repentance results in remission of sins.” [= Suatu problem beredar di sekeliling perintah ‘dibaptislah / hendaklah kamu dibaptis’ dan hubungannya dengan sisa dari Kis 2:38. Ada beberapa pandangan: (1) Salah satu adalah bahwa baik pertobatan maupun baptisan menghasilkan pengampunan dosa. Dalam pandangan ini, baptisan adalah hakiki / mutlak perlu untuk keselamatan. Problem dengan penafsiran ini adalah bahwa di tempat lain dalam Kitab Suci pengampunan dosa di dasarkan pada iman saja (Yoh 3:16,36; Ro 4:1-17; 11:6; Gal 3:8-9; Ef 2:8-9; dsb.). Lebih jauh lagi Petrus, pembicara yang sama, belakangan menjanjikan pengampunan dosa-dosa berdasarkan iman saja (Kis 5:31; 10:43; 13:38; 26:18). (2) Penafsiran yang kedua menterjemahkan Kis 2:38, ‘Dibaptislah / hendaklah kamu dibaptis ... berdasarkan pengampunan dosa-dosamu’. Kata depan yang digunakan di sini adalah EIS yang, dengan kasus akusatif, bisa berarti ‘karena, berdasarkan’. Itu digunakan dengan cara ini dalam Mat 3:11; 12:41; dan Mark 1:4. Sekalipun adalah mungkin bagi konstruksi / susunan ini untuk berarti ‘berdasarkan’, ini bukanlah artinya yang normal; EIS dengan kasus akusatif biasanya menggambarkan tujuan atau arah. (3) Pandangan ketiga menerima anak kalimat ‘dan dibaptislah, setiap orang dari kamu, dalam nama Yesus Kristus’ sebagai berada dalam tanda kurung. Beberapa faktor mendukung penafsiran ini: (a) Kata kerjanya membuat suatu pembedaan antara kata-kata kerja dan kata-kata benda bentuk tunggal dan jamak. Kata kerja ‘bertobatlah’ ada dalam bentuk jamak dan demikian juga kata ganti orang ‘mu’ dalam anak kalimat ‘supaya dosa-dosaMU bisa diampuni’ ... Karena itu kata kerja ‘bertobatlah’ harus cocok / berjalan bersama dengan tujuan dari pengampunan dosa-dosa. Di sisi lain kata perintah ‘dibaptislah / hendaklah kamu dibaptis’ ada dalam bentuk tunggal, berlawanan dengan sisa dari kalimatnya. (b) Konsep ini cocok dengan proklamasi Petrus dalam Kis 10:43 dalam mana ungkapan yang sama ‘dosa-dosanya bisa diampuni’ (APHESIN HAMARTION) muncul. Di sana itu diberikan berdasarkan iman saja. (c) Dalam Lukas 24:47 dan Kis 5:31 penulis yang sama, Lukas, menunjukkan bahwa pertobatan menghasilkan pengampunan dosa-dosa.].

Kisah Para Rasul 5:31 - “Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kananNya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa.”.

Kisah Para Rasul 10:43 - “Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepadaNya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena namaNya.’”.

Kisah Para Rasul 13:38 - “Jadi ketahuilah, hai saudara-saudara, oleh karena Dialah maka diberitakan kepada kamu pengampunan dosa.”.

Kisah Para Rasul 26:18 - “untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka oleh iman mereka kepadaKu memperoleh pengampunan dosa dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan.”.

Lukas 24:47 - “dan lagi: dalam namaNya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.”.

Perhatikan bahwa ayat-ayat referensi yang digunakan ini sama sekali tidak menyinggung baptisan!

F. F. Bruce (NICNT) menambahkan satu ayat lagi, yaitu Kis 3:19 - “Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan,”.

Calvin (tentang Kis 2:38): “Let us know, therefore, that forgiveness of sins is grounded in Christ alone, and that we must not think upon any other satisfaction, save only that which he hath performed by the sacrifice of his death.” (= Karena itu, hendaklah kita mengetahui, bahwa pengampunan dosa-dosa didasarkan pada Kristus saja, dan bahwa kita tidak boleh berpikir atas pemuasan lain apapun, kecuali hanya atas apa yang telah Ia lakukan oleh korban kematianNya.).

Calvin (tentang Kis 2:38): “he commandeth them to be baptized for the remission of sins; for although God hath once reconciled men unto himself in Christ ‘by not imputing unto them their sins,’ (2 Corinthians 5:19,) and doth now imprint in our hearts the faith thereof by his Spirit; yet, notwithstanding, because baptism is the seal whereby he doth confirm unto us this benefit, and so, consequently, the earnest and pledge of our adoption, it is worthily said to be given us for the remission of sins. For because we receive Christ’s gifts by faith, and baptism is a help to confirm and increase our faith, remission of sins, which is an effect of faith, is annexed unto it as unto the inferior mean.” [= ia memerintahkan mereka untuk dibaptis untuk pengampunan dosa-dosa; karena sekalipun Allah telah sekali memperdamaikan manusia dengan diriNya sendiri dalam Kristus ‘dengan tidak memperhitungkan kepada mereka dosa-dosa mereka’, (2Kor 5:19), dan sekarang menanamkan iman dalam hati kita oleh RohNya; tetapi sekalipun demikian, karena baptisan adalah meterai dengan mana Ia meneguhkan kepada kita manfaat ini, dan sebagai akibatnya, jaminan dari pengadopsian kita, itu secara layak dikatakan telah diberikan kepada kita untuk pengampunan dosa-dosa. Karena kita menerima karunia-karunia Kristus oleh iman, dan baptisan adalah suatu pertolongan untuk meneguhkan dan meningkatkan iman kita, pengampunan dosa, yang merupakan suatu hasil / akibat dari iman, dihubungkan dengannya seperti dengan cara yang lebih rendah.].

Calvin (tentang Kis 2:38): “‘In the name of Christ.’ Although baptism be no vain figure, but a true and effectual testimony; notwithstanding, lest any man attribute that unto the element of water which is there offered, the name of Christ is plainly expressed, to the end we may know that it shall be a profitable sign for us then, if we seek the force and effect thereof in Christ, and know that we are, therefore, washed in baptism, because the blood of Christ is our washing; and we do also hereby gather, that Christ is, the mark and end whereunto baptism directeth us; wherefore, every one profiteth so much in baptism as he learneth to look unto Christ.” (= ‘Dalam nama Kristus’. Sekalipun baptisan bukanlah gambaran yang sia-sia, tetapi suatu kesaksian yang benar dan efektif; sekalipun demikian, supaya jangan ada orang yang menghubungkan dengan elemen air apa yang disana ditawarkan, nama Kristus dengan jelas / explicit dinyatakan, dengan tujuan supaya kita bisa tahu bahwa itu akan merupakan suatu tanda yang berguna bagi kita, jika kita mencari kekuatan dan hasil / akibat darinya dalam Kristus, dan karena itu tahu bahwa kita dicuci dalam baptisan, karena darah Kristus adalah pencucian kita; dan dengan ini kita juga mengumpulkan, bahwa Kristus adalah tanda dan tujuan pada mana baptisan mengarahkan kita; karena itu setiap orang mendapatkan keuntungan begitu banyak dalam baptisan pada waktu ia belajar memandang kepada Kristus.).

Saya simpulan kata-kata / tafsiran Calvin tentang baptisan:

a. Baptisan itu sendiri tidak menyelamatkan, hanya iman yang menyelamatkan.

b. Mengapa baptisan dikatakan mengampuni dosa? Karena baptisan adalah meterai / tanda yang Allah sendiri berikan, dan Dia tidak mau tanda itu diabaikan / diremehkan begitu saja.

c. Baptisan hanya ada manfaatnya kalau kita memandang kepada Kristus.

2. Markus 16:15-16 - “(15) Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. (16) Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.”.

Ada orang-orang yang menggunakan ayat ini sebagai ayat bukti bahwa keselamatan didapatkan bukan hanya dengan iman saja, tetapi dengan iman + baptisan. Contoh: Gereja Roma Katolik.

Bukan hanya Gereja Roma Katolik, tetapi Gereja Sidang Jemaat Kristus (Gereja Lokal / Local Church) dan bahkan ada juga dari kalangan gereja Protestan yang mempunyai kepercayaan seperti ini.

Pulpit Commentary: “A great alternative is propounded. There is no middle course supposed. BELIEF AND BAPTISM ARE THE CONDITION OF SALVATION; disbelief ensures condemnation”(= Suatu alternatif / pilihan diajukan. Di sana dianggap tidak ada jalan tengah. KEPERCAYAAN DAN BAPTISAN ADALAH SYARAT DARI KESELAMATAN; ketidak-percayaan memastikan penghukuman).

Catatan: kata-kata yang saya cetak dengan huruf besar ini salah / sesat!

Jawaban saya:

a. Pertama-tama perlu diketahui dan diingat bahwa Mark 16:8b-20 adalah text yang diragukan keasliannya.

Wycliffe Bible Commentary: “This verse has been used by some to attempt to prove that baptism is necessary for salvation. In the first place, the fact that the statement appears only in this questionable conclusion to the book of Mark should indicate the need for caution in the use of the verse as a proof-text.” (= Ayat ini telah digunakan oleh beberapa orang untuk berusaha membuktikan bahwa baptisan adalah perlu untuk keselamatan. Pertama, fakta bahwa pernyataan itu muncul hanya di penutup yang dipertanyakan bagi kitab Markus ini harus menunjukkan perlunya kehati-hatian dalam penggunaan dari ayat ini sebagai suatu ayat bukti.).

Tetapi karena ada ayat lain, yang tidak diragukan keasliannya, yang juga berbicara dengan nada serupa, yaitu Kis 2:38, maka tidak cukup untuk mengatakan bahwa Markus 16:16 itu palsu. Kita harus menafsirkan ayat-ayat seperti itu dengan menafsirkannya bersama-sama dengan seluruh ayat-ayat lain dalam Alkitab, yang berbicara tentang hal itu. Juga karena banyaknya orang yang tetap menerima text ini sebagai text asli dari Alkitab, maka kita harus bisa menafsirkannya.

b. Sekarang mari kita perhatikan Mark 16:16 ini dengan lebih seksama. Kalau dilihat dari bagian awalnya kelihatannya orang yang percaya dan dibaptis yang akan selamat. Tetapi seandainya memang demikian, mengapa pada bagian akhirnya dikatakan bahwa yang dihukum bukan orang yang tidak dibaptis, tetapi orang yang tidak percaya? Mengapa kata ‘dibaptis’ yang ada pada bagian awal, dihapuskan pada bagian akhir dari ayat ini?

Markus 16:16 - “Siapa yang PERCAYA DAN DIBAPTIS akan diselamatkan, tetapi siapa yang TIDAK PERCAYA akan dihukum.”.

Bible Knowledge Commentary: “Though the New Testament writers generally assume that under normal circumstances each believer will be baptized, 16:16 does not mean that baptism is a necessary requirement for personal salvation. The second half of the verse indicates by contrast that one who does not believe the gospel will be condemned by God (implied) in the day of final judgment (cf. 9:43-48). The basis for condemnation is unbelief, not the lack of any ritual observance. ... Thus the only requirement for personally appropriating God’s salvation is faith in Him (cf. Rom 3:21-28; Eph 2:8-10)” [= Sekalipun penulis-penulis Perjanjian Baru secara umum menganggap bahwa di bawah kondisi yang normal setiap orang percaya akan dibaptis, Mark 16:16 tidak berarti bahwa baptisan adalah syarat yang perlu untuk keselamatan pribadi. Setengah bagian yang kedua dari ayat itu menunjukkan oleh kontras bahwa orang yang tidak percaya injil akan dihukum oleh Allah (secara implicit) pada hari penghakiman terakhir (bdk. 9:43-48). Dasar dari penghukuman adalah ketidak-percayaan, bukan tidak adanya ketaatan yang bersifat upacara yang manapun. ... Jadi, satu-satunya syarat untuk secara pribadi mengambil keselamatan Allah bagi diri sendiri adalah iman kepadaNya (bdk. Roma 3:21-28; Efesus 2:8-10)].

A. T. Robertson: “‎The omission of baptized with ‘disbelieveth’ would seem to show that Jesus does not make baptism essential to salvation. Condemnation rests on disbelief, not on baptism. So salvation rests on belief. Baptism is merely the picture of the new life not the means of securing it. So serious a sacramental doctrine would need stronger support anyhow than this disputed portion of Mark” (= Penghapusan / penghilangan dari ‘dibaptis’ dengan ‘tidak percaya’ kelihatannya menunjukkan bahwa Yesus tidak membuat baptisan mutlak perlu untuk keselamatan. Penghukuman disandarkan pada ketidak-percayaan, bukan pada baptisan. Jadi keselamatan didasarkan pada kepercayaan. Baptisan adalah semata-mata gambaran dari kehidupan yang baru, bukan cara untuk memastikan hal itu. Doktrin tentang sakramen yang begitu serius memerlukan dukungan yang lebih kuat dari bagian yang diperdebatkan dari Markus ini).

Wycliffe Bible Commentary: “it should be noted that in the second half of the verse the only basis for condemnation is a refusal to believe. It may therefore be concluded that the only basis of salvation is belief. Such an interpretation is in full harmony with the teaching of the NT as a whole on the subject (cf. Rom 3:28; Eph 2:8-9)” [= harus diperhatikan bahwa dalam separuh kedua dari ayat itu satu-satunya dasar untuk penghukuman adalah suatu penolakan untuk percaya. Karena itu bisa disimpulkan bahwa satu-satunya dasar dari keselamatan adalah kepercayaan. Penafsiran seperti itu sesuai sepenuhnya dengan ajaran dari PB secara keseluruhan tentang pokok ini (bdk. Ro 3:28 Ef 2:8-9)].

Roma 3:28 - “Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.”.

Efesus 2:8-9 - “(8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”.

c. Baptisan ditekankan seakan-akan merupakan syarat keselamatan karena memang kalau seseorang mengabaikan / meremehkan baptisan, ia tidak diselamatkan.

Matthew Henry: “Dr. Whitby here observes, that they who hence infer ‘that the infant seed of believers are not capable of baptism, because they cannot believe, must hence also infer that they cannot be saved; faith being here more expressly required to salvation than to baptism. And that in the latter clause baptism is omitted, because it is not simply the want of baptism, but the contemptuous neglect of it, which makes men guilty of damnation, otherwise infants might be damned for the mistakes or profaneness of their parents.’” (= Dr. Whitby di sini mengamati, bahwa mereka yang dari sini menyimpulkan ‘bahwa benih bayi dari orang-orang percaya tidak boleh dibaptis karena mereka tidak bisa percaya, karena hal itu harus juga menyimpulkan bahwa mereka tidak bisa diselamatkan; karena iman di sini dibutuhkan dengan lebih jelas bagi keselamatan dari pada bagi baptisan. Dan bahwa dalam anak kalimat belakangan baptisan dihapuskan, karena bukanlah sekedar karena tidak adanya baptisan, tetapi kelalaian yang bersifat menghina / merendahkan terhadapnya, yang membuat orang-orang bersalah yang menyebabkan penghukuman, kalau tidak bayi-bayi bisa dihukum untuk kesalahan-kesalahan atau keduniawian dari orang tua mereka’).

Barnes’ Notes: “It is worthy of remark that Jesus has made ‘baptism’ of so much importance. He did not say, indeed, that a man could not be saved without baptism, but he has strongly implied that where this is neglected ‘knowing it to be a command of the Saviour,’ it endangers the salvation of the soul. Faith and baptism are the beginnings of a Christian life: the one the beginning of piety in the soul, the other of its manifestation before men or of a profession, of religion” (= Layak diperhatikan bahwa Yesus telah membuat ‘baptisan’ begitu penting. Ia memang tidak berkata bahwa seseorang tidak bisa diselamatkan tanpa baptisan, tetapi Ia secara kuat menunjukkan secara implicit bahwa dimana hal ini diabaikan ‘dengan mengetahuinya sebagai suatu perintah dari sang Juruselamat’, itu membahayakan keselamatan dari jiwa. Iman dan baptisan adalah permulaan dari suatu kehidupan Kristen: yang satu permulaan dari kesalehan dalam jiwa, yang lain dari manifestasi / perwujudannya di hadapan manusia atau dari suatu pengakuan, tentang / dari agama).

Menurut saya, orang yang mengaku percaya kepada Kristus, tetapi tidak mau dibaptis, jelas bukan orang percaya, dan itu yang menyebabkan dia tidak selamat.

d. Kerelaan untuk dibaptis merupakan buah dari iman, tanpa mana, kita memang tidak akan diselamatkan. Sebetulnya point ini hampir sama dengan point c. di atas.

Pulpit Commentary: “He that believeth and is baptized shall be saved; but he that disbelieveth shall be condemned. These words are very important. The first clause opposes the notion that faith alone is sufficient for salvation, without those works which are the fruit of faith. He that believeth and is baptized shall be saved; that is, he that believeth, and as an evidence of his faith accepts Christ’s baptism, and fulfils the promises and vows which he then took upon himself, working out his own salvation with fear and trembling, shall be saved” (= ‘Ia yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan; tetapi ia yang tidak percaya akan dihukum.’ Kata-kata ini sangat penting. Anak kalimat yang pertama menentang pikiran / gagasan bahwa iman saja cukup untuk keselamatan, tanpa pekerjaan / perbuatan baik itu, yang adalah buah dari iman. Ia yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan; artinya, ia yang percaya, dan sebagai suatu bukti dari imannya menerima baptisan Kristus, dan menggenapi janji-janji dan nazar-nazar yang pada saat itu ia ambil bagi dirinya sendiri, mengerjakan keselamatannya dengan takut dan gentar, akan diselamatkan).

e. Baptisan seakan-akan digabungkan dengan iman sebagai syarat keselamatan, karena baptisan merupakan tanda lahiriah dari iman.

Calvin (tentang Matius 28:19): “‘Baptizing them.’ Christ enjoins that those who have submitted to the gospel, and professed to be his disciples, shall be baptized; partly that their baptism may be a pledge of eternal life before God:, and partly that it may be an outward sign of faith before men. For we know that God testifies to us the grace of adoption by this sign, because he engrafts us into the body of his Son, so as to reckon us among his flock; and, therefore, not only our spiritual washing, by which he reconciles us to himself, but likewise our new righteousness, are represented by it. But as God, by this seal confirms to us his grace, so all who present themselves for baptism do, as it were, by their own signature, ratify their faith.” (= ‘Baptislah mereka’. Kristus memerintahkan supaya mereka yang telah tunduk kepada injil, dan mengaku untuk menjadi murid-muridNya, harus dibaptis; sebagian karena baptisan mereka bisa merupakan suatu janji tentang hidup yang kekal di hadapan Allah; dan sebagian karena itu bisa menjadi suatu tanda lahiriah dari iman di hadapan manusia. Karena kita tahu bahwa Allah menyaksikan kepada kita kasih karunia dari pengadopsian oleh tanda ini, karena Ia mencangkokkan kita ke dalam tubuh dari AnakNya, sehingga menganggap kita di antara kawanan dombaNya; dan karena itu, bukan hanya pembasuhan rohani kita, dengan mana Ia memperdamaikan kita kepada diriNya sendiri, tetapi juga kebenaran kita, diwakili / digambarkan oleh baptisan itu. Tetapi karena Allah, oleh meterai ini meneguhkan kasih karuniaNya kepada kita, maka semua orang yang memberikan diri mereka sendiri untuk dibaptis, seakan-akan memang, oleh tanda tangan mereka sendiri, mensahkan iman mereka.).

Tetapi Calvin secara sangat jelas menekankan bahwa baptisan tidak punya andil dalam menyelamatkan, dan yang menyelamatkan hanyalah iman.

Calvin (tentang Markus 16:16): “Baptism is joined to the faith of the gospel, in order to inform us that the mark of our salvation is engraved on it; for had it not served to testify the grace of God, it would have been improper in Christ to have said, that they who shall believe and be baptized shall be saved. Yet, at the same time, we must hold that it is not required as absolutely necessary to salvation, so that all who have not obtained it must perish; for it is not added to faith, as if it were the half of the cause of our salvation, but as a testimony. I readily acknowledge that men are laid under the necessity of not despising the sign of the grace of God; but though God uses such aids in accommodation to the weakness of men, I deny that his grace is limited to them. In this way we will say that it is not necessary in itself, but only with respect to our obedience” (= Baptisan digabungkan dengan iman dari injil, untuk memberi informasi kepada kita bahwa tanda dari keselamatan kita diukirkan padanya; karena seandainya itu tidak berguna untuk memberi kesaksian tentang kasih karunia Allah, maka adalah tidak benar bagi Kristus untuk mengatakan bahwa mereka yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan. Tetapi pada saat yang sama, kita harus memegang / mempercayai bahwa ITU TIDAKLAH DIPERLUKAN / DIHARUSKAN SEBAGAI KEPERLUAN SECARA MUTLAK BAGI KESELAMATAN, sehingga semua yang tidak / belum mendapatkannya harus binasa; karena HAL ITU TIDAK DITAMBAHKAN PADA IMAN, SEAKAN-AKAN ITU ADALAH SETENGAH DARI PENYEBAB DARI KESELAMATAN KITA, tetapi sebagai suatu kesaksian. Saya siap untuk mengakui bahwa manusia diletakkan di bawah keharusan untuk tidak meremehkan tanda dari kasih karunia Allah; tetapi sekalipun Allah menggunakan bantuan / pertolongan seperti itu untuk menyesuaikan dengan kelemahan manusia, saya menyangkal bahwa kasih karuniaNya dibatasi pada mereka. Dengan cara ini kami mengatakan bahwa ITU BUKANLAH PERLU DALAM DIRINYA SENDIRI, TETAPI HANYA BERKENAAN DENGAN KETAATAN KITA).

KESELAMATAN HANYA OLEH IMAN FONDASI GOLGOTA
Next Post Previous Post