2 PETRUS 1:3-15 ( 7 CIRI ORANG KRISTEN YANG BERTUMBUH )

2 PETRUS 1:3-15 ( 7 CIRI ORANG KRISTEN YANG BERTUMBUH )
gadget, otomotif
Ada 7 (tujuh) ciri orang percaya / Kristen yang hidup di dalam anugerah dan janji yang diberikan Allah adalah: 

1. Berusaha menambahkan iman kebajikan (2 Petrus 1: 5). 

Iman kebajikan adalah iman yang mendatangkan kebaikan (keselamatan, keberuntungan); perbuatan baik. Allah sebagai pemberi anugerah maka ada usaha, tindakan nyata yang dinyatakan oleh percaya di dalam Tuhan adalah berusaha menambahkan iman kebajikan. Kabajikan “aretẽ” keajaiban, kebajikan, kuasa (Allah). 

Dalam BIS “Oleh sebab itu, berusahalah sungguh-sungguh supaya kalian tetap percaya kepada Kristus dan percayamu itu ditunjang oleh hidup yang baik..” Baik/kebajikan (Ibr. Tov “menyenangkan; menggembirakan; ramah). 

LXX menerjemahkan tov dengan agathos sebagai kualitas jasmani atau moral, dan kalos (harfiah, cantik): mulia yang terhormat dan mengagumkan. Jadi, kriteria orang percaya adalah berusaha menambahkan iman kebajikan. Karena iman yang dimiliki sebagai sumber kebenaran yang membedakan gnostik (yang benar hanya pengetahuan). 

Tetapi maksud penulis adalah perbuatan yang baik sesuai dengan iman kepada Kristus. Perbuatan yang benar mendatangkan kebaikan moral di hadapan Tuhan sebagai ciri orang percaya. Sumber iman adalah Allah bukan berdasarkan pengetahuan (gnostik) yang dicari oleh manusia. Iman diberikan atas kasih karunia Allah. 

2. Mampu memiliki pengetahuan secara benar 

Pengetahuan (Ibr. Yarda: mengenal Allah). Pengetahuan itu mencankup emosi (bukan hanya intelektual) dan hubungan-hubungan personal. Pengetahuan yang dimasudkan adalah pengetahuan tentang Allah, tentang pekerjaan Allah yang digenapi di dalam Yesus. Berbeda dengan Gnostik atau Gnosis: pengetahuan yang mempunyai teologi, kultus dan etika yang menganggap “keselamatan itu dicapai melalui pengetahuan khusus oleh perantaraan suatu wahyu surgawi”. Menurut Paulus bahwa ia menolak hal demikian akan agama-agama misteri dan filsafat itu. 

Dalam teks menggunakan gnosis artinya pengetahuan; pengetahuan yang disebutkan adalah satu ajaran bidat. Orang percaya sebenarnya harus mengenal Tuhan berdasarkan iman bukan dengan pengetahuan secara filsafat, dan etika. Hal ini tidak menjamin ciri sebagai orang percaya karena pengenalan kepada Allah bukanlah bersumber pengetahuan (ajaran gnostik) yang dicari-cari dengan ilmu pengetahuan tetapi adalah anugerah dan pekerjaan Roh Kudus kepada setiap orang yang beriman. Jadi sikap orang percaya adalah mengenal Tuhan secara benar dengan iman. 

Jadi, kriteria orang percaya yang dimasudkan adalah mampu membedakan pengetahuan/ pengenalan akan Allah sebagai sumber kasih dan mampu juga membedakan pengetahuan aliran Gnostik yang menyesatkan. 

3. Memiliki penguasaan diri 

Penguasaan diri (engkrateia: penguasaan diri). Penguasaan diri menyangkut proses, cara, perbuatan atau menguasakan diri terhadap nafsu duniawi (2 Petrus 1: 4). Penguasaan diri yang dimaksudkan adalah bersama-sama dengan Kristus untuk mengendalikan kehidupan rohani/batin melalui tuntunan-Nya ke dalam jalan yang benar sebagai sumber kasih. 

Jadi, orang percaya harus memiliki penguasaan diri, kesabaran menantikan kedatangan Kristus (parousia-Nya) karena kita tidak tahu saat dan waktunya. Dengan demikian, kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus (2 Petrus 1:11). 

4. Memiliki ketekunan 

Ciri orang percaya / kristen adalah memiliki ketekunan (hupomone: ketekunan, kesabaran, ketabahan, ketekunan menantikan; patience: kesabaran, ketekunan). Menantikan kedatangan Kristus ke dunia. orang percaya harus seperti Allah yang memiliki sifat panjang sabar dan bukan sifat yang pasif, tetapi penguasaan atau pengekangan (pengendalian diri) dalam menantikan Dia. Seperti Allah menghadapi perlawanan dan hal-hal lain yang menimbulkan amarah-Nya. 

Sifat ini dikaitkan sebagai sifat kasih sayang dan kemurahan Allah terhadap orang-orang berdosa dan pemberontak yang sebenarnya patut kena murka-Nya. Kesabaran manusia harus seperti kesabaran Allah akan hubungan satu dengan yang lain terlebih kesabaran dalam menantikan Yesus Kristus. Ketekunan adalah kesanggupan untuk berpegang teguh mencapai tujuan walaupun ada pertentangan dan penganiayaan, memikul salib dan menanggung beban selama hidup di dalam dunia. 

5. Memiliki kesalehan 

Kesalehan (eusebeia: kesalehan). 

Penekanan yang diutamakan adalah kesalehan dalam kehidupan secara jasmani. Kehidupan mencerminkan Kristus yang harus diwujudkan . Eusebeia dalam PB menunjukkan maksud dalam sastra kafir adalah rasa hormat yang tepat dan patut diberikan kepada manusia dan para ilah khususnya dalam surat-surat penggemabalaan. Eusebeia berarti pelayanan kepada Allah yang menunjukkan ketaatan penuh hormat kepada hukum-hukumNya. 

Bentuk jamak eusebeia mengartikan tindakan-tindakan khusus saleh di hadapan Tuhan Yesus. Sikap yang taat, saleh adalah ciri dari orang percaya. Menurut Scott memandang eusebeia sebagai sifat khas dari Surat-surat penggembalaan, dan melihat di dalamnya pada satu pihak kepercayaan yang benar dan pada pihak yang berperilaku benar atau sikap pribadi yang tepat terhadap Allah. 

6. Memiliki kasih persaudaraan 

Kasih persaudaraan (Philadelphia: kasih terhadap saudara seiman). Hubungan yang berlaku di antara anggota-anggota jemaat. Bukan secara kiasan kasih seperti saudara, melainkan kasih dari mereka yang disatukan dalam persaudaraan Kristen. Dalam PL saudara seperti tetangga, berarti rekan Israel. Tetapi dalam Perjanjian Baru Yesus menekankan akan kasih kepada sesama manusia (tanpa memandang status, umur, jenis kelamin, etnis, dan budaya). 


Kasih akan saudara-saudara ditekankan sebagai buah dari kelahiran baru. Sebagai ciri khas dari murid-murid Kristus (Yohanes 13:34-35) karena kasih adalah makhota dari semua kabajikan Kristen (I Korintus 13, Kolose 3:14). Orang percaya harus tetap memiliki kasih persaudaraan yang konkret terhadapa sesama di dalam jemaat baik kepada golongan gnostik maupun kepada saudara seiman. Orang percaya harus mencerminkan kasih yang nyata kepada setiap orang tanpa pandang golongan yang ada di dalam jemaat. 

7. Tidak buta 

Cerminan orang percaya adalah tidak buta. Buta dapat diartikan sebagai “thupos” menunjukkan yang “tidak sanggup dimengerti” bukan berarti buta secara jasmani yang disebabkan karena penderitaan, penyakit, kerasukan setan, tumor, dan kecelakaan yang mengakibatkan matanya tidak dapat melihat. Dalam hal ini kebutaan adalah secara kerohanian dalam menghadapi kedatangan Kristus karena aliran gnostik bosan dalam menantikan kedatangan Kristus. 

Pengetahuan membuat kebutaan rohani di dalam Kristus. Sebenarnya kedatangan Kristus tidak dapat diramalkan secara pengetahuan. Jauh melebihi pengetahuan manusia akan rencana dan kedatangan-Nya. Jadi, orang percaya tetap sabar, menguasai diri dan memiliki iman yang benar dalam menyambut kedatangan Kristus. 

Dampak yang dapat diperoleh apabila orang percaya yang bertumbuh kerohaniannya di atas adalah: 

a. Tidak tersandung (2 Petrus 1:10) 

“Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung” tersandung (ptaito: tersandung, bersalah dan binasa). Jadi dalam teks ini lebih menunjukkan kepada ketidakbinasaan ke dalam kegelapan. Ketidakbinasaan orang yang percaya adalah mampu mencerminkan ketujuh gambaran sebagai orang percaya. Tindakan orang percaya harus sungguh-sungguh berusaha merealitakannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai wujud dan buah orang percaya. 

b. Memperoleh Kerajaan Kekal “Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus” Kerajaan surga menurut Agustinus menyamakan kerajaan Allah dengan gereja di dunia. melalui hierarki gereja, Kristus diwujudkan sebagai Raja Kerajaan Allah, ruang lingkup Kerajaan Allah sama dengan batas kekuatan dan kekuasaan gereja dunia, menurut para Reformator menekankan makna rohani dan tidak terlihatnya kerajaan itu. 

Menurut teologi liberal bahwa terutama di bawah pengaruh Kant, pandangan ini dikembangkan secara moralitas sehingga kerajaan disamakan dengan tersebarnya damai, kasih dan kebenaran. Jadi, Kerajaan Allah yang menurut penulis adalah akhir zaman. Memperoleh Kerajaan kekal itu adalah satu anugerah kepada orang percaya. 

IMPLEMENTASI

Permasalahan yang seering terjadi dalam gereja adalah masalah secara internal. Maksudnya adalah gereja lebih mempermasalahkan dan menyibukkan dirinya di dalam. Contohnya di dalam gereja mempermasalahkan keuangan. Gereja tidak sibuk dengan ideology dan misi serta peranan eksistensinya sebagai wadah pelayanan. 

Demikian juga dalam keluarga lebih sibuk dengan kegiatan sehari-hari daripada meluangkan waktunya untuk datang bersekutu di dalam gereja atau persekutuan. Sama halnya juga dengan masalah gnostik yang hanya mengandalkan pola pengetahuan tanpa iman dan kesibukan membahas kedatangan Kristus. Carilah dahulu Kerajaan Allah bukan hal-hal duniawi yang fana.

KESIMPULAN

Dalam pembahasan di atas maka sebagai orang percaya tentunya semua itu didasarkan atas janji anugerah Allah kepada manusia yang berdosa. Maka Kristus menghendaki kriteria orang percaya adalah berusaha menambahkan iman kebajikan, memiliki pengetahuan yang benar dalam Kristus, penguasaan diri, ketekunan menantikan parousia, memiliki kesalehan, mengutamakan kasih persaudaraan, tidak buta rohani dan sehingga tidak disesatkan oleh hal ihwal dunia filsafat khususnya Gnostisisme. 

Ke tujuh cerminan orang perrcaya inilah yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai orang percaya kepada Kristus. Cerminan ini adalah buah dari kepercayaan kepada Kristus bukan berdasarkan kepercayaan kepada mazhab gnostis.

2 PETRUS 1:3-15 ( 7 CIRI ORANG KRISTEN YANG BERTUMBUH ).AMIN_
Next Post Previous Post