12 KHOTBAH KEBANGUNAN ROHANI (2)

Pdt.Budi Asali, M.Div

1.Sekitar Jum’at Agung

IBRANI 2:9-18

I) Sebelum Jum’at Agung.
12 KHOTBAH KEBANGUNAN ROHANI (2)
1) Yesus kasihan kepada manusia.

Ibrani 2: 16: “Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani”.

a) Kata ‘kasihani’ oleh NASB diterjemahkan ‘give help’ (= memberi pertolongan), dan oleh NIV diterjemahkan ‘help’ (= menolong).

Tetapi Ia menolong, jelas karena adanya kasih / kasihan. Jadi Ia bukan hanya merasa kasihan tetapi tetap berdiam diri, tetapi Ia lalu bertindak menolong (bdk. 1Yohanes 3:18).

Penerapan:

· kalau saudara melihat orang yang ada dalam dosa, apakah saudara kasihan dan berusaha menolongnya, dengan memberitakan Injil kepadanya?

· Apakah kadang-kadang saudara benci melihat orang yang ada dalam dosa, khususnya kalau:

* dosanya merugikan / menyakiti saudara?

* ia adalah orang beragama lain yang anti kristen?

Ingatlah bahwa sikap ini salah! Saudara seharusnya kasihan dan menolongnya dengan memberitakan Injil kepadanya!

b) Ibrani 2: 16 ini menunjukkan bahwa Ia tidak kasihan / menolong malaikat, tetapi kasihan / menolong manusia.

Mengapa? Karena Ia memilih manusia dan bukannya malaikat! Ini kedaulatan Allah. Orang yang tidak percaya pada doktrin tentang Predestinasi harus merenungkan hal ini!

Calvin berkata bahwa ajaran tentang Predestinasi sebetulnya juga terlihat dari akhir ay 13 yang berbunyi: “anak-anak yang telah diberi-kan Allah kepadaKu”. Ini menunjukkan bahwa orang bisa percaya kepada Yesus hanya kalau Allah memberikan orang itu kepada Yesus. Bandingkan dengan Yoh 6:37: “semua yang diberikan Bapa kepadaKu akan datang kepadaKu”.

Jadi jelas bahwa:

· ada orang yang diberikan oleh Bapa kepada Yesus, yang akan menjadi orang percaya.

· ada juga orang yang tidak diberikan oleh Bapa kepada Yesus. Mereka ini tidak mungkin bisa percaya kepada Yesus.

Apakah Allah memberikan seseorang kepada Yesus atau tidak, itu tergantung dari pemilihan / election / Predestinasi!

Tetapi berbeda dengan Allah, kita tidak mempunyai kedaulatan untuk memilih seperti itu! Kita harus berusaha menolong semua orang yang ada dalam dosa dengan memberitakan Injil kepada mereka semua tanpa pilih-pilih!

2) Yesus, yang adalah Allah, menjadi sama dengan manusia.

Ini terlihat dari beberapa ayat:

a) Ay 14: ‘Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka’.

NIV: ‘he too shared in their humanity’ (= Ia juga mendapat bagian dalam kemanusiaan mereka).

b) Ibrani 2: 17: ‘maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudaraNya’.

Ia berbeda dengan kita hanya di dalam hal dosa, tetapi perlu dicamkan bahwa dosa tidak termasuk dalam hakekat manusia. Sebelum Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa mereka sudah adalah manusia! Jadi, bahwa Yesus tidak berdosa tidak menunjukkan bahwa Ia bukan manusia!

c) Ay 11a: ‘Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu’.

NASB: ‘are all of one Father’ (= semua dari satu Bapa).

Kitab Suci Indonesia dan NASB salah, karena kata ‘satu’ diartikan menunjuk kepada Allah.

NIV: ‘are of the same family’ (= semua dari satu keluarga).

RSV: ‘have all one origin’ (= semua mempunyai satu asal mula).

KJV: ‘are all of one’ (= semua dari satu).

Terjemahan-terjemahan ini lebih benar karena kata ‘satu’ sebetulnya bukan menunjuk kepada Allah, tetapi menunjuk kepada Adam, karena maksud bagian ini adalah untuk menunjukkan bahwa Yesus betul-betul telah menjadi manusia yang sama dengan kita.

Ini menunjukkan bahwa Yesus betul-betul berasal dari benih / sel telur Maria! Ini terlihat dengan lebih jelas dalam Luk 1:42 dimana Elisabet, yang penuh dengan Roh Kudus, menyebut Yesus sebagai ‘buah rahim Maria’. Jadi jelaslah bahwa Yesus bukanlah semacam bayi tabung ‘made in heaven’ (= buatan surga) yang lalu dimasukkan ke dalam kandungan Maria!

d) Ay 11b: ‘Ia tidak malu menyebut mereka saudara’.

Calvin mengatakan bahwa istilah ‘tidak malu’ menunjukkan besarnya beda tingkat antara kita dan Kristus. Tetapi toh Ia tidak malu untuk menjadi manusia / menyetingkatkan diriNya dengan kita dan menyebut kita saudara! Ini perlu kita renungkan kalau kita malu mengakui Kristus di depan manusia, atau kalau kita malu melakukan pelayanan yang rendah bagi Dia.

e) Ibrani 2: 9: ‘Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat’ (bdk. ay 7).

Ini (dan juga ay 7) salah terjemahan!

Dalam bahasa Yunaninya ada istilah BRACHU TI, yang artinya adalah a little (= sedikit). Ada 2 kemungkinan untuk istilah ini:

1. Istilah ini dihubungkan dengan waktu, dan diartikan a little time (= waktu yang singkat).

RSV: ‘who for a little while was made lower than the angels’ (= yang untuk waktu yang singkat dijadikan lebih rendah dari malaikat-malaikat).

NASB: ‘who has been made for a little while lower than the angels’ (= yang untuk waktu yang singkat telah dijadikan lebih rendah dari malaikat-malaikat).

2. Istilah ini dihubungkan dengan malaikat, dan diartikan ‘a little lower than angels’ (= sedikit lebih rendah dari malaikat).

NIV: ‘who was made a little lower than angels’ (= yang dijadikan sedikit lebih rendah dari malaikat-malaikat).

KJV: ‘who was made a little lower than the angels’ (= yang dijadikan sedikit lebih rendah dari malaikat-malaikat).

Ada 2 alasan untuk memilih pandangan kedua ini:

a. Bandingkan ini dengan ay 7 yang dikutip dari Maz 8:6 yang dalam terjemahan KJV (Psalm 8:5) berbunyi: ‘For thou hast made him a little lower than angels’ (= Karena Engkau telah membuatNya sedeikit lebih rendah dari malaikat-malaikat), maka kelihatannya tafsiran no 2 yang benar.

b. Arti ‘a little while’ (= waktu yang singkat) tidak cocok karena Yesus tidak menjadi manusia untuk sementara waktu saja, tetapi untuk seterusnya / selama-lamanya.

Jadi arti bagian ini: pada waktu Yesus menjadi manusia Ia dijadikan sedikit lebih rendah dari malaikat.

II) Pada Jum’at Agung.

1) Yesus mengalami penderitaan (ay 10) dan kematian / maut (ay 9).

a) Inilah sebabnya Yesus menjadi manusia! Sebagai Allah Ia tidak bisa menderita ataupun mati. Kalau Ia mau menebus / memikul hukuman dosa manusia, Ia harus menjadi manusia lebih dulu, maka barulah Ia bisa menderita dan mati!

Jadi, supaya Jum’at Agung bisa ada, Natal harus ada!

b) Penderitaan dan kematian yang dialami oleh Yesus.

Hal-hal yang secara khusus perlu direnungkan dari penderitaan Yesus adalah:

1. Pencambukan.

Adam Clarke: “As our Lord was scourged by order of Pilate, it is probable he was scourged in the Roman manner, which was much severe than that of the Jews” (= Karena Tuhan kita disesah oleh perintah dari Pilatus, mungkin Ia disesah dengan cara Romawi, yang jauh lebih berat / hebat dari pada penyesahan Yahudi) - hal 648-649.

Thomas Whitelaw mengatakan (hal 392) bahwa orang Yahudi hanya mencambuki bagian atas dari tubuh, tetapi orang Romawi mencambuki seluruh tubuh.

Cambuk Romawi adalah beberapa tali kulit yang diberi benda-benda tajam, yang merobek-robek orang yang dicambuki.

Pulpit Commentary: “This was no ordinary whip, but commonly a number of leather thongs loaded with lead or armed with sharp bones and spikes, so that every blow cut deeply into the flesh, causing intense pain” (= Ini bukannya cambuk biasa, tetapi biasanya merupakan sejumlah tali kulit yang dimuati / dibebani / diberi timah atau diperlengkapi dengan tulang-tulang runcing dan paku-paku, sehingga setiap cambukan mengiris dalam ke dalam daging, menyebabkan rasa sakit yang sangat hebat) - ‘Matthew’, hal 586.

Pulpit Commentary (tentang Luk 23:23): “This was a horrible punishment. The condemned person was usually stripped and fastened to a pillar or stake, and then scourged with leather throngs tipped with leaden balls or sharp spikes. The effects, described by Romans, and Christians in the ‘Martyrdoms,’ were terrible. Not only the muscles of the back, but the breast, the face, the eyes, were torn; the very entrails were laid bare, the anatomy was exposed, and the sufferer, convulsed with torture, was often thrown down a bloody heap at the feet of the judge. In our Lord’s case this punishment, though not proceeding to the awful consequences described in some of the ‘Martyrologies,’ must have been very severe: this is evident from his sinking under the cross, and from the short time which elapsed before his death upon it” (= Ini adalah hukuman yang mengerikan. Orang hukuman itu biasanya ditelanjangi dan diikat pada sebuah tiang, dan lalu dicambuki dengan tali-tali kulit yang diberi bola-bola timah atau paku-paku yang runcing. Akibatnya, digambarkan oleh orang-orang Romawi dan Kristen dalam ‘Martyrdom’, adalah mengerikan. Bukan hanya otot-otot punggung, tetapi dada, muka, mata, sobek; isi perut terbuka, kerangka terbuka, dan si penderita, dicabik-cabik oleh siksaan, seringkali dilemparkan sebagai suatu onggokan berdarah pada kaki dari hakim. Dalam kasus Tuhan kita hukuman ini, sekalipun tidak berlanjut pada konsekwensi-konsekwensi yang mengerikan yang digambarkan dalam sebagian dari ‘Martyrologies’, haruslah sangat hebat: ini jelas dari robohnya Ia di bawah salib, dan dari waktu yang pendek yang berlalu sebelum kematianNya pada salib itu) - hal 237.

Leon Morris (NICNT): “Scourging was a brutal affair. It was inflicted by a whip of several thongs, each of which was loaded with pieces of bone or metal. It could make pulp of man’s back” (= Pencambukan adalah suatu peristiwa yang brutal. Hal itu diberikan dengan sebuah cambuk yang terdiri dari beberapa tali kulit, yang masing-masing diberi potongan-potongan tulang atau logam. Itu bisa membuat punggung orang menjadi bubur).

Leon Morris (NICNT): “... Josephus tells us that a certain Jesus, son of Ananias, was brought before Albinus and ‘flayed to the bone with scourges’ ... Eusebius narrates that certain martyrs at the time of Polycarp ‘were torn by scourges down to deep-seated veins and arteries, so that the hidden contents of the recesses of their bodies, their entrails and organs, were exposed to sight’ ... Small wonder that men not infrequently died as a result of this torture” (= ... Josephus menceritakan bahwa seorang Yesus tertentu, anak dari Ananias, dibawa ke depan Albinus dan ‘dikuliti sampai tulangnya dengan cambuk’ ... Eusebius menceritakan bahwa martir-martir tertentu pada jaman Polycarp ‘dicabik-cabik oleh cambuk sampai pada pembuluh darah dan arteri yang ada di dalam, sehingga bagian dalam yang tersembunyi dari tubuh mereka, isi perut dan organ-organ mereka, menjadi terbuka dan kelihatan’ ... Tidak heran bahwa tidak jarang orang mati sebagai akibat penyiksaan ini).

Yesus rela mengalami penyesahan itu untuk kita (bdk. Yes 53:5 1Pet 2:24).

Kita yang adalah orang berdosa, dan karena itu kitalah yang seharusnya mengalami hukuman seperti itu. Tetapi Yesus yang tidak bersalah, karena kasihnya kepada kita, rela menanggung hukuman itu bagi kita, supaya kalau kita percaya kepada Dia, kita bebas dari semua hukuman dosa!

2. Penyaliban.

Bayangkan / renungkan bagaimana rasanya pada waktu paku-paku menembus tangan dan kaki Yesus. Bayangkan / renungkan juga pada waktu salib yang mula-mula ditidurkan itu diberdirikan, betapa sakitnya lubang di tangan Yesus yang harus menahan berat badan Yesus! Kitalah yang seharusnya merasakan semua ini sebagai hukuman atas dosa-dosa kita, tetapi Yesus rela memikul semua ini bagi kita!

Pulpit Commentary menyebut penyaliban sebagai: “the most painful, barbarous, and ignominious punishment which the cruelty of man ever invented” (= hukuman yang paling menyakitkan, paling biadab / kejam, dan paling jahat yang pernah ditemukan oleh kekejaman manusia).

Pulpit Commentary: “Nails were driven through the hands and feet, and the body was supported partly by these and partly by a projecting pin of wood called the seat. The rest for the feet, often seen in picture, was never used” (= Paku-paku dipakukan menembus tangan dan kaki, dan tubuh disangga / ditopang sebagian oleh paku-paku ini dan sebagian lagi oleh sepotong kayu yang menonjol yang disebut ‘tempat duduk’. Tempat pijakan kaki, yang sering terlihat dalam gambar, tidak pernah digunakan).

F. F. Bruce: “a piece of wood attached to the upright might serve as a sort of seat (sedecula) - not so much for the victim’s relief as to prolong his life and his agony” [= sepotong kayu dilekatkan pada tiang tegak dan bisa berfungsi sebagai semacam tempat duduk (sedecula) - bukan untuk meringankan penderitaan korban tetapi lebih untuk memperpanjang hidupnya dan penderitaannya] - hal 167.

Pulpit Commentary: “A sedile was arranged to bear a portion of the weight of the body, which would never have been sustained by the gaping wounds” (= Sebuah tempat duduk diatur untuk memikul sebagian berat tubuh, yang tidak akan pernah bisa ditahan oleh luka-luka yang menganga) - hal 426.

William Barclay: “There was no more terrible death than death by crucifixion. Even the Roman themselves regarded it with a shudder of horror. Cicero declared that it was ‘the most cruel and horrifying death.’ Tacitus said that it was a ‘despicable death.’ It was originally a Persian method of execution. It may have been used because, to the Persians, the earth was sacred, and they wished to avoid defiling it with the body of an evil-doer. So they nailed him to a cross and left him to die there, looking to the vultures and the carrion crows to complete the work. The Carthaginians took over crucifixion from the Persians; and the Romans learned it from the Carthaginians. Crucifixion was never used as a method of execution in the homeland, but only in the province, and there only in the case of slaves. It was unthinkable that a Roman citizen should die such a death. ... It was that death, the most dreaded in the ancient world, the death of slaves and criminals, that Jesus died” (= Tidak ada kematian yang lebih mengerikan dari pada kematian melalui penyaliban. Bahkan orang Romawi sendiri memandangnya dengan ngeri. Cicero menyatakan bahwa itu adalah ‘kematian yang paling kejam dan menakutkan’. Tacitus berkata bahwa itu adalah ‘kematian yang tercela / hina / keji’. Pada mulanya itu adalah cara penghukuman mati orang Persia. Itu digunakan karena bagi orang Persia bumi / tanah itu kudus / keramat, dan mereka ingin menghindarkannya dari kenajisan dari tubuh dari pelaku kejahatan. Jadi mereka memakukannya pada salib dan membiarkannya mati di sana, mengharapkan burung nazar dan burung gagak pemakan bangkai menyelesaikan pekerjaan itu. Orang Carthage mengambil-alih penyaliban dari orang Persia, dan orang Romawi mempelajarinya dari orang Carthage. Penyaliban tidak pernah digunakan sebagai cara penghukuman mati di tanah air mereka, tetapi hanya di propinsi-propinsi jajahan mereka, dan hanya dalam kasus budak. Adalah sangat tidak terpikirkan bahwa seorang warga negara Romawi harus mati dengan cara itu. ... Kematian seperti itulah, kematian yang paling ditakuti dalam dunia purba, kematian dari budak dan orang kriminil, yang dialami oleh Yesus) - ‘The Gospel of John’, vol 2, hal 250.

William Barclay (tentang Luk 23:32-38): “The terror of crucifixion was this - the pain of that process was terrible but it was not enough to kill, and the victim was left to die of hunger and thirst beneath the blazing noontide sun and the frost of the night” (= Hal yang mengerikan / menyeramkan dari penyaliban adalah ini - rasa sakit dari proses penyaliban itu luar biasa, tetapi tidak cukup untuk membunuh, dan korban dibiarkan mati oleh kelaparan dan kehausan di bawah sinar matahari yang membakar dan cuaca beku pada malam hari).

William Hendriksen: “It has been well said that the person who was crucified ‘died a thousand deaths.’ Large nails were driven through hands and feet (20:25; cf. Luke 24:40). Among the horrors which one suffered while thus suspended (with the feet resting upon a little tablets, not very far away from the ground) were the following: severe inflammation, the swelling of the wounds in the region of the nails, unbearable pain from torn tendons, fearful discomfort from the strained position of the body, throbbing headache, and burning thirst (19:28)” [= Dikatakan dengan benar bahwa orang yang disalib ‘mati 1000 kali’. Paku-paku besar dipakukan menembus tangan dan kaki (20:25; bdk. Luk 24:40). Di antara hal-hal yang mengerikan yang diderita seseorang pada saat tergantung seperti itu (dengan kaki berpijak pada potongan kayu kecil, tidak terlalu jauh dari tanah) adalah hal-hal berikut ini: peradangan yang sangat hebat, pembengkakan dari luka-luka di daerah sekitar paku-paku itu, rasa sakit yang tidak tertahankan dari tendon-tendon yang sobek, rasa tidak enak yang sangat hebat karena posisi tubuh yang terentang, sakit kepala yang berdenyut-denyut, dan rasa haus yang membakar (19:28)] - hal 427.

Barnes’ Notes: “The manner of the crucifixion was as follows: - After the criminal had carried the cross, attended with every possible jibe and insult, to the place of execution, a hole was dug in the earth to receive the foot of it. The cross was laid on the ground; the persons condemned to suffer was stripped, and was extended on it, and the soldiers fastened the hands and feet either by nails or thongs. After they had fixed the nails deeply in the wood, they elevated the cross with the agonizing sufferer on it; and, in order to fix it more firmly in the earth, they let it fall violently into the hole which they had dug to receive it. This sudden fall must have given to the person that was nailed to it a most violent and convulsive shock, and greatly increased his sufferings. The crucified person was then suffered to hang, commonly, till pain, exhaustion, thirst, and hunger ended his life” (= Cara penyaliban adalah sebagai berikut: - Setelah kriminil itu membawa salib, disertai dengan setiap ejekan dan hinaan yang dimungkinkan, ke tempat penyaliban, sebuah lubang digali di tanah untuk menerima kaki salib itu. Salib diletakkan di tanah; orang yang diputuskan untuk menderita itu dilepasi pakaiannya, dan direntangkan pada salib itu, dan tentara-tentara melekatkan tangan dan kaki dengan paku atau dengan tali. Setelah mereka memakukan paku-paku itu dalam-dalam ke dalam kayu, mereka menaikkan / menegakkan salib itu dengan penderita yang sangat menderita padanya; dan, untuk menancapkannya dengan lebih teguh di dalam tanah, mereka menjatuhkan salib itu dengan keras ke dalam lubang yang telah digali untuk menerima salib itu. Jatuhnya salib dengan mendadak itu pasti memberikan kepada orang yang disalib suatu kejutan yang keras, dan meningkatkan penderitaannya dengan hebat. Orang yang disalib itu lalu menderita tergantung, biasanya, sampai rasa sakit, kehabisan tenaga, kehausan, dan kelaparan mengakhiri hidupnya).

Barnes’ Notes: “As it was the most ignominious punishment known, so it was the most painful. The following circumstances make it a death of peculiar pain: (1.) The position of the arms and the body was unnatural, the arms being extended back and almost immovable. The least motion gave violent pain in the hands and feet, and in the back, which was lacerated with stripes. (2.) The nails, being driven through the parts of the hands and feet which abound with nerves and tendons, created the most exquisite anguish. (3.) The exposure of so many wounds to the air brought on a violent inflammation, which greatly increased the poignancy of the suffering. (4.) The free circulation of the blood was prevented. More blood was carried out in the arteries than could be returned by the veins. The consequence was, that there was a great increase in the veins of the head, producing an intense pressure and violent pain. The same was true of other parts of the body. This intense pressure in the blood vessels was the source of inexpressible misery. (5.) The pain gradually increased. There was no relaxation, and no rest.” [= Itu adalah hukuman yang paling hina / memalukan yang dikenal manusia, dan itu juga adalah hukuman yang paling menyakitkan. Hal-hal berikut ini menyebabkan penyaliban suatu kematian dengan rasa sakit yang khusus: (1.) Posisi lengan dan tubuh tidak alamiah, lengan direntangkan ke belakang dan hampir tidak bisa bergerak. Gerakan yang paling kecil memberikan rasa sakit yang hebat pada tangan dan kaki, dan pada punggung, yang sudah dicabik-cabik dengan cambuk. (2.) Paku-paku, yang dimasukkan melalui bagian-bagian tangan dan kaki yang penuh dengan syaraf dan otot, memberikan penderitaan yang sangat hebat. (3.) Terbukanya begitu banyak luka terhadap udara menyebabkan peradangan yang hebat, yang sangat meningkatkan kepedihan / ketajaman penderitaan. (4.) Peredaran bebas dari darah dihalangi. Lebih banyak darah dibawa keluar oleh arteri-arteri dari pada yang bisa dikembalikan oleh pembuluh-pembuluh darah balik. Akibatnya ialah, terjadi peningkatan yang besar dalam pembuluh darah balik di kepala, yang menghasilkan tekanan dan rasa sakit yang hebat. Hal yang sama terjadi dengan bagian-bagian tubuh yang lain. Tekanan yang hebat dalam pembuluh darah adalah sumber penderitaan yang tidak terlukiskan. (5.) Rasa sakit itu naik secara bertahap. Tidak ada pengendoran, dan tidak ada istirahat].

Saudara adalah orang berdosa, dan sebetulnya saudaralah yang mengalami penyaliban yang mengerikan ini. Tetapi Kristus sudah mengalami penyaliban ini supaya saudara bebas dari hukuman Allah, asal saudara mau percaya dan menerima Dia sebagai Juruselamat dan Tuhan saudara. Sudahkah saudara percaya dan menerimaNya?

3. Saat Yesus ditinggal oleh Bapa (Matius 27:46).

Hubungan Yesus dengan Bapa adalah hubungan yang paling dekat / intim yang bisa dibayangkan. Karena itu jelas bahwa perpisahan ini adalah sangat menyakitkan bagi Yesus! Kalau suami istri / orang yang berpacaran yang saling mencintai harus mengalami perpisahan, itu pasti merupakan sesuatu yang berat dan sangat menyakitkan. Lebih-lebih Yesus, yang hubungannya dengan Bapa lebih dekat / intim dibandingkan suami istri / orang berpacaran yang manapun juga, pastilah merasakan rasa sakit yang luar biasa akibat perpisahan tersebut.

Kitalah yang seharusnya terpisah selama-lamanya dengan Bapa karena segala dosa kita (2Tes 1:9), tetapi Yesus rela mengalami keterpisahan yang menyakitkan itu, supaya kita bisa diperdamaikan dengan Allah!

2) Ia mengalami maut bagi semua manusia (ay 9 akhir).

a) ‘untuk semua manusia’ (for everyone).

Ini tidak menunjuk pada semua manusia, karena ini harus ditafsirkan sesuai dengan:

· ay 10: ‘banyak orang’. Ini salah terjemahan.

Seharusnya adalah many sons (= banyak anak).

Jadi, hanya menunjuk kepada anak Allah.

· ay 11: ‘saudara’ (brothers).

· ay 16: ‘keturunan Abraham’.

A. T. Robertson: “‘The seed of Abraham’. spermatos Abraam. The spiritual Israel (Gal. 3:29), children of faith (Rom. 9:7).” [= Benih / keturunan Abraham. SPERMATOS ABRAAM. Israel rohani (Gal 3:29), anak-anak iman (Ro 9:7)].

Sebagai orang Reformed / Calvinist, saya percaya pada doktrin Limited Atonement (= Penebusan Terbatas), yang mengatakan bahwa tujuan penebusan Kristus bukanlah untuk semua manusia di dunia, tetapi hanya untuk orang-orang pilihan.

Salah satu argumentasinya adalah sebagai berikut: kalau Kristus mati untuk menebus / membayar dosa semua umat manusia, lalu bagaimana dengan orang yang tidak percaya kepada Kristus? Kalau mereka masuk neraka, maka itu berarti bahwa dosa mereka yang sudah dibayar oleh Kristus, ditagih lagi dari mereka oleh Allah. Berarti dosa yang sama dihukum 2 x, 1 x pada diri Kristus, dan 1 x pada diri mereka. Ini jelas tidak adil! Jadi, orang yang mempercayai ‘universal atonement’ (= penebusan universal), atau ‘unlimited atonement’ (= penebusan tak terbatas), seharusnya juga mempercayai Universalisme (= ajaran yang beranggapan bahwa pada akhirnya semua orang akan selamat / masuk surga).

b) Ay 9 akhir (Inggris): taste death (= mengecap / mencicipi kematian).

Calvin tidak mengerti mengapa digunakan istilah taste (= mengecap mencicipi). Tetapi penterjemah Calvin Commentary (Surat Ibrani), yaitu John Owen, berkata: dalam Kitab Suci, ‘to taste food’ / mencicipi makanan sering diartikan sekedar ‘to eat it’ / memakan makanan itu (Kis 10:10 Kis 20:11 Kis 23:14). Jadi, ‘to taste death’ / mencicipi kematian artinya adalah ‘to die, to undergo death’ (= mati, mengalami kematian). Bandingkan dengan:

· Mat 16:28 - ‘tidak akan mati’.

NIV: ‘will not taste death’ (= tidak akan mencicipi kematian).

NASB: ‘shall not taste death’ (= tidak akan mencicipi kematian).

· Luk 9:27 - ‘tidak akan mati’.

NIV: ‘will not taste death’ (= tidak akan mencicipi kematian).

NASB: ‘shall not taste death’ (= tidak akan mencicipi kematian).

Jelas bahwa dalam kedua ayat ini, istilah ‘taste death’ (= mencicipi kematian) ini dipakai dalam arti ‘mati’ / ‘mengalami kematian’.

c) ‘by the grace of God’ (= oleh kasih karunia Allah).

Kata-kata ini menunjukkan bahwa kita tidak layak menerima pengorbanan Yesus ini.

Kita semua adalah orang berdosa yang layaknya menerima kutukan, hukuman, kematian, dan neraka! Tetapi Allah yang penuh kasih karunia memberikan kepada kita apa yang tidak layak kita terima yaitu pengorbanan Kristus untuk menyelamatkan kita!

III) Setelah / akibat Jum’at Agung.

1) Bagi Yesus.

a) Yesus disempurnakan (ay 10).

Ini tentu tidak berarti bahwa Ia tadinya tidak sempurna!

Pada waktu dikatakan bahwa Allah menyempurnakan (to make perfect) Yesus melalui penderitaan, artinya: Allah menjadikan Yesus ‘perfectly qualified’ (= memenuhi syarat secara sempurna) dalam:

1. Penebusan.

2. Bersimpati terhadap saudara-saudaraNya.

b) Yesus dimuliakan (ay 9).

Yesus mengalami perendahan dan derita maut, baru kemuliaan dan hormat!

Pulpit Commentary: “His crowning was the consequence of His suffering” (= PemahkotaanNya merupakan akibat dari penderitaanNya).

Penerapan: Kalau jalan yang dilalui Yesus adalah mengalami penderitaan dan baru kemuliaan, maka kalau kita adalah pengikut Yesus, kita harus melalui jalan yang sama! Karena itu, hati-hatilah dengan ajaran populer jaman ini yang mengatakan bahwa kalau kita ikut Yesus maka segala sesuatu akan menjadi lancar dan enak!

Bdk. Yoh 15:20 - “Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firmanKu, mereka juga akan menuruti perkataanmu”.

c) Yesus adalah ‘the author of salvation’ (ay 10).

Kitab Suci Indonesia menterjemahkan ay 10: ‘yang memimpin mereka kepada keselamatan’. Ini terjemahan yang salah.

Kitab Suci bahasa Inggris menterjemahkan ‘the author of salvation’.

Istilah ‘author’ diterjemahkan dari kata bahasa Yunani ARCHEGOS, yang artinya bisa bermacam-macam, yaitu: head (= kepala), chief (= kepala / ketua), founder (= pendiri), originator (= yang memulai), source (= sumber), origin (= asal usul).

Jadi, ‘author of salvation’ artinya adalah ‘sumber / asal usul keselamatan’. Ini menunjukkan bahwa keselamatan hanya bisa didapatkan dari / melalui Yesus.

Bdk. Kis 4:12 - “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada kita yang olehnya kita dapat diselamatkan”.

Sejalan dengan ay 10 tadi yang menunjuk Yesus sebagai sumber / asal usul keselamatan, maka Kis 4:12 ini menunjukkan bahwa keselamatan ada, dan hanya ada, di dalam Yesus. Kalau saudara menerima Yesus, saudara secara otomatis juga menerima keselamatan, tetapi kalau saudara menolak Yesus, saudara secara otomatis juga menolak keselamatan, tidak peduli apapun agama saudara (kristen sekalipun), dan tidak peduli betapa baiknya saudara hidup! Ingat bahwa sebaik-baik saudara hidup, saudara tetap mempunyai dosa, dan bahkan mempunyai banyak dosa. Tanpa Yesus sebagai Penebus / Juruselamat dosa saudara, saudara harus membayar sendiri dosa-dosa saudara itu di dalam neraka!

2) Bagi setan.

Setan, yang berkuasa atas maut, dimusnahkan (ay 14).

a) Ini tidak berarti setannya betul-betul musnah dalam arti tidak ada lagi, dan juga tidak berarti bahwa setannya dimasukkan ke neraka. Setan baru dimasukkan ke neraka pada akhir jaman (Wah 20:10).

Arti yang benar adalah: setan dikalahkan.

b) Apakah dengan kematianNya Yesus mengalahkan setan?

Memang dalam arti tertentu, kematian Yesus itu merupakan kekalahan (bdk. Kej 3:15 - ‘tumit yang diremukkan’), tetapi kematian Yesus itu jelas juga adalah suatu kemenangan, karena melalui kematian Yesus itulah keselamatan bisa datang kepada manusia berdosa!

Disamping itu kita perlu mengingat kata-kata Calvin sebagai berikut:

“So then, let us remember that whenever mention is made of His death alone, we are to understand at the same time what belongs to His resurrection. Also, the same synecdoche applies to the word ‘resurrection’: whenever it is mentioned separately from death, we are to understand it as including what has to do especially with His death” (= Jadi, hendaklah kita ingat bahwa kalau hanya disebutkan tentang kematianNya, kita harus mengartikan pada saat yang sama, apa yang termasuk dalam kebangkitanNya. Juga ‘synecdoche’ yang sama berlaku terhadap kata ‘kebangkitan’: kalau kata itu disebutkan terpisah dari ‘kematian’, kita harus menafsirkan kata itu beserta apa yang termasuk dalam kematianNya).

Catatan: Synecdoche adalah suatu gaya bahasa dimana yang sebagian mewakili seluruhnya. Jadi yang dimaksud adalah seluruhnya, tetapi disebutkan hanya sebagian. Contoh: Amsal 15:3 - “Mata TUHAN ada di segala tempat”. Ini tentu tidak berarti bahwa hanya ‘mata TUHAN’ saja yang ada di segala tempat, tetapi ‘seluruh TUHANnya’ ada di segala tempat. Jadi, ‘mata TUHAN’ (sebagian) mewakili ‘TUHAN’ (seluruh).

c) Dengan demikian, setan cuma bisa menakuti, tetapi tidak mungkin merugikan atau mengalahkan / menghancurkan kita! Ini tidak berarti bahwa kita boleh meremehkan dia! Kita tidak perlu takut kepada dia, tetapi kita tetap harus waspada terhadap dia.

1Pet 5:8 - “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti seekor singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya”.

3) Bagi kita.

a) Kita dikuduskan (ay 11).

John Owen: istilah dikuduskan / menguduskan dalam ay 11 ini tidak menunjuk pada sanctification (= pengudusan), karena kontex menunjukkan bahwa di sini istilah itu menunjuk pada expiation / atonement (= penebusan).

Bdk. ay 17: ‘mendamaikan dosa seluruh bangsa’.

NASB: ‘to make propitiation for the sins of the people’ (= untuk membuat pendamaian bagi dosa seluruh bangsa).

NIV: ‘he might make atonement for the sins of the people’ (= Ia bisa membuat penebusan untuk dosa seluruh bangsa).

b) Kita menjadi anak Allah / saudara Yesus (ay 12,13,14,17).

Dengan kita menjadi anak-anak Allah, maka kita pasti akan menjadi ahli waris Allah, dan karenanya pasti akan masuk ke surga.

c) Kita dilepaskan dari perhambaan oleh karena ketakutan kepada maut (ay 15).

Orang yang betul-betul percaya kepada Yesus harus yakin akan keselamatannya, dan dengan demikian ia seharusnya tidak lagi takut pada kematian. Orang kristen yang takut mati menunjukkan ada yang sangat tidak beres dengan imannya, karena dengan takut mati ia menunjukkan bahwa ia tidak yakin akan masuk surga pada saat ia mati! Kalau ia memang percaya bahwa Yesus sudah mati untuk membayar semua dosa-dosanya (Kol 2:13 Tit 2:14), lalu dosa yang mana yang menyebabkan ia tidak yakin akan masuk surga? Kalau ia masih berpikir bahwa ia mungkin akan masuk ke neraka, itu menunjukkan bahwa ia tidak percaya bahwa Yesus telah mati untuk menebus semua dosa-dosanya. Mestinya semua orang kristen harus yakin akan keselamatannya, sehingga bisa berkata seperti Paulus: “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Fil 1:21).

Tetapi siapa yang dimaksud dengan ‘kita’? Hanya orang yang percaya kepada Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan! Hanya yang percaya kepada Kristuslah yang dijadikan anak Allah (Yoh 1:12)!

· bukan seadanya orang yang masuk gereja, dibaptis, dsb!

· bukan juga orang yang percaya kepada Kristus sekedar sebagai penyembuh / dokter, pelaku mujijat, pemberi berkat / kekayaan, dsb!

Sudahkah saudara betul-betul percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan sauda

-AMIN-

2.Percaya sekalipun tidak melihat

YOHANES 20:24-29

I) Mengapa orang sukar percaya pada kebangkitan?

1) Karena setan bekerja.

Setan selalu bekerja pada saat manusia mendengar suatu kebenaran rohani.

Ada suatu fakta yang sangat penting untuk diperhatikan, yaitu bahwa pada waktu seseorang mendengar sesuatu dari surat kabar, majalah, TV, bahkan iklan dan gossip, ia dengan mudah percaya, tanpa meminta bukti. Tetapi kalau seseorang mendengar firman Tuhan, maka seringkali ia tidak mau percaya sebelum ada buktinya! Mengapa? Jelas karena dalam kasus pertama, ia mendengar sesuatu yang bersifat jasmani / duniawi, sehingga setan tidak merasa perlu untuk bekerja. Tetapi dalam kasus kedua, ia mendengar suatu kebenaran rohani sehingga setan merasa perlu untuk bekerja supaya orang itu tidak percaya!

Percaya pada kebangkitan orang mati adalah sesuatu yang penting, karena kalau orang menganggap bahwa tidak ada kehidupan setelah kematian, maka ia pasti akan hidup semaunya sendiri.

Bdk. 1Kor 15:32b - “Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka ‘marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati’”.

Kepercayaan pada kebangkitan Yesus dari antara orang mati, lebih-lebih merupakan sesuatu yang sangat vital untuk keselamatan kita. Ini terlihat dari Ro 10:9-10 yang berbunyi: “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan”.

Itu sebabnya dalam pemberitaan Injil, selain menekankan kematian Kristus untuk dosa-dosa kita, Paulus juga menekankan kebangkitan Kristus dari antara orang mati. Ini terlihat dari 1Kor 15:3-4 yang berbunyi: “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci”.

Karena itu jelaslah bahwa pada waktu seseorang mendengar Firman Tuhan, baik tentang kebangkitan orang mati maupun tentang kebangkitan Kristus, setan pasti akan bekerja mati-matian untuk membuat orang itu tidak percaya.

2) Hal itu dianggap tidak rasionil / tidak masuk akal.

Ini biasanya merupakan anggapan dari orang-orang yang membanggakan rasionya / kepandaiannya. Tetapi, kalau mereka sampai pada kesimpulan seperti itu, saya berpendapat bahwa itu menunjukkan kalau sebetulnya mereka justru kurang tajam / kurang teliti dalam menganalisa. Mengapa?

a) Jelas sekali bahwa dalam menganalisa persoalan kebangkitan, mereka tidak memperhitungkan kuasa Allah yang tidak terbatas!

Kalau mereka memperhitungkan kemahakuasaan Allah, maka jelaslah bahwa mereka tidak akan menyimpulkan bahwa kebangkitan adalah sesuatu yang tidak masuk akal.

Bandingkan dengan Kis 26:8 dimana Rasul Paulus berkata: “Mengapa kamu menganggap mustahil, bahwa Allah membangkitkan orang mati?”. Juga bandingkan dengan Lukas 1:37 - “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.’”.

b) Sebetulnya kelahiran seseorang ke dalam dunia, adalah suatu peristiwa yang lebih ajaib, dan lebih ‘tidak masuk akal’, dibandingkan dengan peristiwa kebangkitan. Bagaimana bisa begitu? Perhatikan kata-kata Blaise Pascal di bawah ini:

“What reason have atheists for saying that we cannot rise again? Which is the more difficult, to be born, or to rise again? That what has never been, should be, or that what has been, should be again? Is it more difficult to come into being than to return to it?“ (= Apa alasan orang-orang atheis untuk mengatakan bahwa kita tidak dapat bangkit kembali? Yang mana yang lebih sukar, dilahirkan atau bangkit kembali? Sesuatu yang tidak pernah ada, menjadi ada, atau sesuatu yang sudah ada, menjadi ada lagi? Apakah lebih sukar untuk menjadi ada dari pada untuk kembali ada?) - ‘The Encyclopedia of Religious Quotations’, hal 566.

Keterangan: Saya kira kalimat terakhir (yang digaris-bawahi) susunannya terbalik! Tetapi, bagaimanapun juga maksud dari orang itu jelas sekali. Kelahiran adalah suatu peristiwa dimana seseorang yang tadinya tidak ada, lalu menjadi ada. Ini jelas lebih ajaib / lebih tidak mungkin / lebih sukar dari peristiwa kebangkitan, dimana seseorang yang tadinya sudah ada, lalu menjadi ada lagi! Tetapi anehnya, semua orang percaya pada kelahiran, tetapi tidak percaya pada kebangkitan!

3) Ketidakpercayaan pada Firman Tuhan, dan tidak adanya pekerjaan Roh Kudus dalam diri mereka.

Orang yang betul-betul percaya pada Firman Tuhan, pasti tidak akan sukar untuk mempercayai kebangkitan. Tetapi manusia, yang condong kepada dosa, tidak mungkin bisa percaya pada Firman Tuhan maupun kebangkitan kalau Roh Kudus tidak bekerja dalam dirinya dan memberikan iman kepadanya.

II) Mengapa Tomas tak percaya kebangkitan Yesus?

Selain ketiga alasan di atas, ada juga alasan-alasan lain:

1) Karena Tomas tidak hadir bersama murid-murid yang lain, ketika Yesus menampakkan diri kepada mereka (Yohanes 20: 24 bdk. ay 19-23).

Mungkin kesedihan karena kematian Yesus menyebabkan Tomas menyendiri. Hal ini sebetulnya tidak salah. Salahnya adalah bahwa ia melakukan hal itu secara kelewat batas, sehingga ia sama sekali tidak bersekutu dengan saudara-saudara seimannya.

Kita memang tidak tahu apa tujuan para murid berkumpul pada saat itu, tetapi sedikitnya itu adalah suatu persekutuan. Bahkan ada penafsir yang beranggapan bahwa murid-murid berkumpul pada hari minggu dalam ay 19 itu, untuk berbakti.

Barnes’ Notes: “It is worthy of remark that this is the first assembly that was convened for worship on the Lord’s Day, and in that assembly Jesus was present. Since that time, the day has been observed in the church as the Christian Sabbath, particularly to commemorate the resurrection of Christ” (= Layak diperhatikan bahwa ini adalah perkumpulan pertama yang dilakukan untuk kebaktian pada hari Tuhan, dan dalam perkumpulan itu Yesus hadir. Sejak saat itu, hari itu dihormati dalam gereja sebagai Sabat Kristen, khususnya untuk memperingati kebangkitan Kristus).

Membolosnya Tomas dari kebaktian ini menyebabkan Tomas tidak menerima berkat dan sukacita yang diterima oleh murid-murid lain, karena penampakan Yesus yang terjadi pada saat itu!

Matthew Henry: “by his absence he missed the satisfaction of seeing his Master risen, and of sharing with the disciples in their joy upon that occasion. Note, Those know not what they lose who carelessly absent themselves from the stated solemn assemblies of Christians” (= karena absennya ia tidak mendapatkan kepuasan dari melihat Tuannya bangkit, dan tidak ikut ambil bagian dengan murid-murid dalam sukacita mereka pada peristiwa itu. Perhatikan, Mereka tidak tahu mereka kehilangan apa pada waktu mereka secara ceroboh absen dari perkumpulan khidmat yang ditetapkan dari orang-orang Kristen).

Penerapan: Saudara tidak akan pernah tahu berapa banyak sukacita dan berkat Tuhan yang gagal saudara terima karena saudara membolos dari Kebaktian maupun Pemahaman Alkitab! Karena itu jangan membolos! Tetapi kalau toh terpaksa tidak bisa hadir, mengingat di gereja ini ada rekaman cassette dan makalah khotbah, maka usahakanlah untuk mendengar cassette dan mempelajari makalahnya!

Ada penafsir yang bahkan beranggapan bahwa dengan absennya, Tomas bukan saja tidak menerima hal yang baik, tetapi ia mendapatkan hal yang buruk.

Adam Clarke: “Thomas had lost much good, and gained much evil, and yet was insensible of his state. Behold the consequences of forsaking the assemblies of God’s people! Jesus comes to the meeting - a disciple is found out of his place, who might have been there; and he is not only not blessed, but his heart becomes hardened and darkened through the deceitfulness of sin” (= Tomas kehilangan banyak hal yang baik, dan mendapatkan banyak hal yang buruk / jahat, tetapi ia tidak sadar akan keadaannya. Lihatlah konsekwensi dari tindakan meninggalkan perkumpulan umat Allah! Yesus datang ke pertemuan itu - seorang murid didapati tidak di tempatnya, yang sebetulnya bisa ada di sana; dan ia bukan hanya tidak diberkati, tetapi hatinya menjadi keras dan gelap melalui tipu daya dari dosa).

Kalau pada akhirnya ia toh menerima berkat dan sukacita yang sama, itu terjadi hanya karena kasih karunia Kristus. Tetapi ingat, bahwa tidak selalu hal itu terjadi. Seringkali, berkat / sukacita yang gagal kita dapatkan karena absennya kita dalam kebaktian / Pemahaman Alkitab, tidak akan kita dapatkan selama-lamanya.

2) Tomas adalah seorang skeptis (seorang yang selalu ragu-ragu dan tidak gampang percaya), dan juga secara alamiah adalah seorang pesimis (selalu meninjau masa depan secara negatif).

Ini terlihat dalam Yoh 11:16, dan terlihat lagi di sini!

a) Murid-murid yang lain, yang jumlahnya adalah 10 orang, bercerita kepada Tomas bahwa mereka telah melihat Yesus (ay 25a).

Matthew Henry: “Note, The disciples of Christ should endeavour to build up one another in their most holy faith, both by repeating what they have heard to those that were absent, that they may hear it at second hand, and also by communicating what they have experienced. Those that by faith have seen the Lord, and tasted that he is gracious, should tell others what God has done for their souls” (= Perhatikan, Murid-murid Kristus harus berusaha untuk saling membangun dalam iman mereka yang paling kudus, baik dengan mengulangi apa yang telah mereka dengar kepada mereka yang absen, supaya mereka bisa mendengar dari tangan kedua, dan juga dengan menyampaikan apa yang mereka alami. Mereka yang oleh iman telah melihat Tuhan, dan mengecap bahwa Ia itu murah hati, harus memberi tahu yang lain apa yang telah Allah lakukan untuk jiwa mereka).

b) Tetapi Tomas tetap tidak percaya (ay 25b).

Ada beberapa hal yang bisa kita dapatkan dari kata-kata Tomas dalam ay 25b itu:

1. Ada sesuatu yang bagus dalam sikap / kata-kata Tomas ini, yaitu bahwa ia jujur / tidak munafik tentang ketidak-percayaannya. Ia tidak berpura-pura untuk percaya, sekalipun 10 murid yang lain percaya bahwa Yesus sudah bangkit dari antara orang mati.

William Barclay: “He would never still his doubt by pretending that they did not exist. He was not the kind of man who would rattle off a creed without understanding what it was all about” (= Ia tidak pernah mau menenangkan keraguannya dengan berpura-pura bahwa hal itu tidak ada. Ia bukanlah jenis orang yang mau mengucapkan pengakuan iman tanpa mengerti tentang hal itu).

Penerapan: Apakah saudara sering pura-pura percaya padahal saudara ragu-ragu, atau bahkan tidak percaya? Kemunafikan saudara akan menyebabkan tidak adanya orang menolong saudara dalam hal itu, tetapi sebaliknya, keterusterangan saudara akan memudahkan saudara-saudara seiman saudara untuk menolong saudara!

2. Tetapi ketidakpercayaan Tomas yang diungkapkan dengan kata-kata seperti itu, juga bisa berakibat negatif terhadap orang-orang lain. Jadi, kalau mau menyatakan ketidak-percayaan, lakukan itu kepada orang-orang yang teguh imannya, bukan kepada orang-orang kristen baru / lemah.

3. Sikap Tomas ini bertentangan dengan banyak ayat Kitab Suci / Firman Tuhan.

Ibr 11:1 - “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat”.

2Kor 5:7 - “sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat”.

Yoh 11:40 - “Jawab Yesus: ‘Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?’”.

4. Kata-kata Tomas ini menunjukkan betapa keras kepalanya Tomas itu!

Yohanes 20: 25 akhir: ‘Aku tidak akan percaya’.

NIV: ‘I will not believe’ (= Aku tidak mau percaya).

Adam Clarke: “His unbelief became obstinate: he was determined not to believe on any evidence that it might please God to give him: he would believe according to his own prejudices, or not at all” (= Ketidak-percayaannya menjadi tegar tengkuk: ia berketetapan untuk tidak percaya karena bukti apapun yang Allah berkenan berikan kepadanya: ia mau percaya menurut prasangka / pandangannya sendiri, atau tidak sama sekali).

5. Ini menunjukkan dalamnya kejatuhan Tomas. Ia menjadi seperti orang kafir! Kalau rasul saja bisa jatuh seperti itu, lebih-lebih orang kristen biasa! Karena itu jangan sembarangan menghakimi pada saat saudara melihat orang jatuh!

Calvin: “The same thing happens sometimes with many persons; for they grow wanton for a time, as if they had cast off all fear of God, so that there appears to be no longer any faith in them; but as soon as God has chastised them with a rod, the rebellion of their flesh is subdued, and they return to their right senses” (= Hal yang sama kadang-kadang terjadi dengan banyak orang; mereka hidup sembarangan untuk suatu jangka waktu tertentu, seakan-akan mereka telah membuang semua rasa takut kepada Allah, sehingga kelihatannya tidak lagi ada iman dalam diri mereka; tetapi begitu Allah menghajar mereka dengan tongkat, pemberontakan daging mereka ditundukkan, dan mereka kembali sadar).

Calvin lalu memberi contoh tentang kejatuhan Daud (berzinah dengan Batsyeba, membunuh Uria dsb).

6. Bagaimanapun juga, ketidakpercayaan Tomas ini adalah sesuatu yang aneh dan keterlaluan, karena:

· ia pasti tahu bahwa dalam Perjanjian Lamapun ada orang-orang yang bangkit dari kematian (1Raja 17:17-24 2Raja 4:18-37 2Raja 13:21).

· ia sendiri melihat Yesus membangkitkan orang mati sebanyak 3 x (Mark 5:21-43 Luk 7:11-17 Yoh 11).

· Pada waktu Yesus mati, banyak orang kudus bangkit dari kubur (Mat 27:52-53).

· Yesus sudah berulang-ulang memberitakan / menubuatkan tentang kematian dan kebangkitanNya (Yoh 2:18-22 Matius 16:21 Matius 17:22-23 Mat 20:18-19 Mat 26:2).

· ada 10 murid laki-laki yang bersaksi bahwa mereka telah melihat Yesus!

III) Sikap / tindakan Yesus.

1) Membiarkan Tomas selama 1 minggu.

a) Ay 26: ‘8 hari kemudian’.

Maksudnya adalah 8 hari setelah ay 19. Hari pertama adalah hari Minggu. 8 hari setelah itu / hari ke 8 setelah itu juga adalah hari Minggu! (bandingkan dengan Yesus yang mati pada hari Jum’at, lalu bangkit pada hari ke 3 yang adalah hari Minggu - itulah cara mereka menghitung hari!). Jadi Yesus membiarkan Tomas selama 1 minggu

b) Mengapa Yesus membiarkan selama 1 minggu?

1. Untuk memberi kesempatan kepada Tomas untuk bertobat dari ketidak-percayaannya terhadap kebangkitan Yesus. Mungkin selama itu, karena melihat pada sukacita yang ada dalam diri murid-murid yang lain, Tomas bisa berubah dan menjadi percaya. Tetapi ternyata Tomas tetap tidak bertobat.

2. Supaya Tomas merasakan akibat ketidakpercayaannya.

3. Untuk menekankan perubahan Sabat dari Sabtu menjadi hari pertama (Minggu).

Barnes’ Notes: “‘And after eight days again’. That is, on the return of the first day of the week. From this it appears that they thus early set apart this day for assembling together, and Jesus countenanced it by appearing twice with them. It was natural that the apostles should observe this day, but not probable that they would do it without the sanction of the Lord Jesus. His repeated presence gave such a sanction, and the historical fact is indisputable that from this time this day was observed as the Christian Sabbath. See Acts 20:7; 1 Cor. 16:2; Rev. 1:10.” (= ‘Dan setelah 8 hari lagi’. Yaitu, pada kembalinya hari pertama dari suatu minggu. Dari sini kelihatannya mereka demikian awal memisahkan hari ini untuk berkumpul bersama-sama, dan Yesus menyetujuinya dengan muncul 2 x bersama mereka. Adalah sesuatu yang wajar bahwa rasul-rasul memperingati hari ini, tetapi tidak mungkin bahwa mereka melakukan hal itu tanpa persetujuan dari Tuhan Yesus. KehadiranNya yang terulang memberikan persetujuan seperti itu, dan fakta historis tidak dapat dibantah bahwa sejak saat ini hari ini diperingati sebagai Sabat Kristen. Lihat Kis 20:7; 1Kor 16:2; Wah 1:10).

Jadi Barnes beranggapan bahwa rasul-rasul yang lebih dulu melakukan perubahan Sabat, dan Yesus lalu merestuinya. Tetapi saya lebih condong pada pandangan di bawah ini.

Matthew Henry: “He deferred it so long as seven days. And why so? ... that he might put an honour upon the first day of the week, and give a plain intimation of his will, that it should be observed in his church as the Christian sabbath, the weekly day of holy rest and holy convocations. That one day in seven should be religiously observed was an appointment from the beginning, as old as innocency; and that in the kingdom of the Messiah the first day of the week should be that solemn day this was indication enough, that Christ on that day once and again met his disciples in a religious assembly” (= Ia menunda itu selama 7 hari. Dan mengapa demikian? ... supaya Ia bisa meletakkan suatu penghormatan pada hari pertama dari suatu minggu, dan memberikan suatu isyarat yang jelas dari kehendakNya, bahwa hari itu harus diperingati / dihormati dalam gerejaNya sebagai Sabat Kristen, hari libur mingguan dan pertemuan kudus mingguan).

Jamieson, Fausset & Brown: “‘And after eight days’ - that is, on the eighth or first day of the following week. They themselves probably met every day during the preceding week, but their Lord designedly reserved His second appearance among them until the recurrence of His resurrection-day, that He might thus inaugurate the delightful sanctities of THE LORD’S DAY (Rev. 1:10).” [= ‘Dan setelah 8 hari’ - yaitu, pada hari ke 8 atau hari pertama dari minggu berikutnya. Mereka sendiri mungkin bertemu setiap hari dalam sepanjang minggu yang lalu, tetapi Tuhan mereka dengan terencana menahan pemunculanNya yang kedua di antara mereka sampai kembalinya hari kebangkitanNya, supaya dengan demikian Ia bisa melantik kekudusan yang menggembirakan dari HARI TUHAN (Wah 1:10)].

Jelas bahwa inisiatif perubahan Sabat itu tidak mungkin datang dari rasul-rasul, yang lalu disetujui oleh Yesus. Inisiatif itu datang dari Yesus sendiri, yang secara sengaja dan terencana melakukan 2 x pemunculan pada hari Minggu, dan dengan demikian memberikan isyarat yang jelas tentang hal itu.

2) Menampakkan diri lagi (ay 26-27).

a) Mereka semua, termasuk Tomas, sedang berkumpul (ay 26).

· Tomas tidak mereka kucilkan. Para murid yang lain ingin menolong Tomas yang sedang jatuh (bdk. Luk 22:32).

· ay 26 mirip sekali dengan ay 19, dan memang merupakan pengulangan dari ay 19! Jadi, ini adalah pengulangan ‘warta berita’, khusus untuk Tomas!

b) Yesus menampakkan diri dan mengijinkan Tomas merabaNya.

Ay 27: “Kemudian Ia berkata kepada Tomas: ‘Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tanganKu, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambungKu dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.’”.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

1. Di sini Tomas diberi mujijat sesuai permintaannya, tetapi ingat bahwa tidak setiap orang yang menginginkan mujijat / bukti lalu diberi mujijat / bukti oleh Tuhan. Bandingkan dengan:

· Luk 16:27-31 - “(27) Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, (28) sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. (29) Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu. (30) Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. (31) Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.’”.

· 1Kor 1:22-23 - “(22) Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, (23) tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan”.

Karena itu kalau saudara hanya mau percaya kepada Yesus hanya kalau saudara melihat mujijat, sikap itu bisa membawa saudara ke neraka!

2. Dalam ay 27 (bdk. ay 25), Yesus berkata tentang ‘tanganNya’:

· bukan ‘pergelangan tangan’. Jadi, yang dipaku adalah tangan, dan bukan pergelangan tangan! Ada orang yang mengatakan bahwa dalam kedokteran kata ‘tangan’ menunjuk pada seluruh lengan atas sampai tangan, dan karena itu adalah mungkin bahwa yang dimaksud dengan ‘tangan’ di sini adalah ‘pergelangan tangan’. Problem dari pandangan ini adalah: mungkinkah rasul Yohanes, yang adalah seorang nelayan, menggunakan istilah ‘tangan’ dengan arti yang dimaksud oleh ilmu kedokteran modern?

· apakah kaki Yesus tidak dipaku? Dari Maz 22:17b dan Luk 24:39-40, terlihat dengan jelas bahwa kaki Yesus juga dipaku!

3. Kata-kata Yesus dalam ay 27 ini sangat sesuai dengan tuntutan Tomas dalam ay 25b, dan ini menunjukkan bahwa Yesus mendengar kata-kata Tomas itu, dan ini membuktikan bahwa Ia memang hidup.

Wycliffe Bible Commentary: “By his very language the Lord revealed that he knew what Thomas had asserted. Therefore he must have been alive when the doubting apostle spoke those words about the hands and the side” (= Oleh kata-kataNya Tuhan menyatakan bahwa Ia tahu apa yang ditegaskan oleh Tomas. Karena itu Ia pasti telah hidup pada waktu rasul yang ragu-ragu ini mengucapkan kata-kata tentang tangan dan sisi / rusuk).

c) Yesus menghendaki supaya Tomas percaya pada kebangkitanNya (ay 27 akhir).

· Ay 27 ini merupakan suatu teguran.

Seseorang mengatakan: “to suspend our believing upon our sight is reproof-worthy” (= menggantungkan kepercayaan kita pada penglihatan adalah sesuatu yang layak dicela).

· Yesus tidak menegur dengan keras, tetapi dengan lemah lembut. Ini adalah sesuatu yang harus kita tiru dalam menghadapi orang yang jatuh!

Matthew Henry: “He will not break the bruised reed, but, as a good shepherd, gathers that which was driven away, Ezek. 34:16. We ought thus to bear the infirmities of the weak, Rom. 15:1-2.” [= Ia tidak akan memutuskan buluh yang patah terkulai (Yes 42:3), tetapi, seperti seorang gembala yang baik, mengumpulkan domba-domba yang hilang / tersesat, Yeh 34:16. Demikianlah kita harus menanggung kelemahan dari orang-orang yang lemah, Ro 15:1-2].

· Ini menunjukkan betapa pentingnya kepercayaan pada kebangkitan Yesus!

IV) Reaksi Tomas.

1) Tomas percaya.

Banyak orang mempertanyakan apakah Tomas meraba lubang paku / tombak itu atau tidak?

a) Ada yang menganggap ya. Alasannya:

· Yesus memerintahnya untuk meraba (ay 27).

· Sekalipun ay 28 memang tidak menceritakan bahwa Tomas meraba / mencucukkan jari dan tangannya, itu tidak membuktikan bahwa ia tidak meraba / mencucukkan jarinya. Dalam Luk 24:39-43, pada waktu Yesus mempersilahkan murid-murid untuk meraba, juga tidak diceritakan bahwa mereka meraba, tetapi toh dari 1Yoh 1:1 kelihatannya Yohanes meraba Yesus.

1Yoh 1:1 - “Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup - itulah yang kami tuliskan kepada kamu”.

b) Ada yang menganggap tidak. Alasannya:

· ay 28 tidak mengatakan bahwa ia meraba.

· ay 29: ‘Engkau telah melihat Aku’, bukan ‘Engkau telah meraba Aku’.

Saya lebih condong pada pandangan ini.

2) Menyebut Yesus ‘Tuhanku dan Allahku’ (ay 28).

Ay 28: ‘Tomas menjawab Dia’.

NASB / Lit: “Thomas answered and said to him” (= Tomas menjawab dan berkata kepada Dia).

Jelaslah bahwa kata-kata ini:

· tidak ditujukan kepada Bapa.

· bukan sekedar kata-kata yang terlontar karena kaget, yang pada dasarnya tidak ditujukan kepada siapa-siapa. Kalau itu hanya sekedar kata-kata yang terlontar karena kaget, maka itu merupakan pelanggaran terhadap hukum ke 3 dari 10 hukum Tuhan, dan Yesus pasti tidak akan mengucapkan ay 29 terhadap orang yang melanggar hukum ke 3 tersebut.

Barnes’ Notes: “In this passage the name God is expressly given to Christ, in his own presence and by one of his own apostles. ... If this was not the meaning of Thomas, then his exclamation was a mere act of profaneness, and the Saviour would not have commended him for taking the name of the Lord his God in vain” (= Dalam text ini nama Allah secara jelas diberikan kepada Kristus, pada saat Ia sendiri hadir, dan oleh satu dari rasul-rasulNya sendiri. ... Jika ini bukan maksud dari Tomas, maka seruan ini semata-mata merupakan tindakan kecemaran / tidak hormat, dan sang Juruselamat tidak akan memuji dia untuk penyebutan nama Tuhan Allahnya dengan sia-sia).

Kedua penafsiran salah di atas sering dipaksakan kepada ayat ini untuk menghindari keilahian Yesus. Tetapi penafsiran-penafsiran itu pasti salah. Kata-kata Tomas itu jelas ditujukan kepada Yesus, dan dengan demikian:

¨ Ia mengakui Yesus sebagai Tuhan (bdk. Ro 10:9 1Kor 12:3).

¨ Ia mengakui Yesus sebagai Allah.

Adam Clarke: “The resurrection from the dead gave them the fullest proof of the divinity of Christ” (= Kebangkitan dari orang mati memberikan mereka bukti yang paling penuh tentang keilahian dari Kristus).

Ro 1:4 - “dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitanNya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita”.

¨ Ia mengakui Yesus sebagai ‘Tuhanku dan Allahku’!

Penerapan: apakah saudara mengakui Yesus sama seperti ini?

V) Kata-kata Yesus (ay 29).

1) Ay 29a: ‘karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya’.

a) Sebetulnya murid-murid lainpun juga begitu (bdk. ay 8 Luk 24:9-11).

b) Mengapa disebut ‘percaya’ padahal sudah melihat? Bandingkan dengan:

· 2Kor 5:7 - “sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat”.

· Ibr 11:1 - “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat”.

Illustrasi: kalau saya berkata kepada saudara bahwa saya mempunyai uang 1 milyar, dan saudara percaya hanya berdasarkan kata-kata saya itu, maka saudara memang percaya kepada saya. Tetapi kalau saya menunjukkan surat deposito dari bank atas nama saya dengan jumlah 1 milyar, dan saudara percaya akan hal itu, apakah itu bisa disebut ‘percaya’? Rasanya tidak. Itu bukan ‘percaya’, tetapi ‘tahu’.

Lalu mengapa Tomas tetap disebut percaya, sekalipun sudah melihat? Calvin menjawab: karena ia percaya bukan sekedar karena melihat, tetapi karena setelah Allah yang membangunkan dia dari ‘tidur’nya, ia ingat pada ajaran / Firman Tuhan yang tadinya hampir ia lupakan.

Mungkin bisa ditambahkan bahwa kalaupun seseorang melihat Yesus bisa saja ia tetap tidak percaya, dan menganggapNya sebagai hantu / setan dan sebagainya. Jadi memang tetap dibutuhkan pekerjaan Allah supaya Tomas bisa percaya.

2) Kata-kata Yesus dalam ay 29a, secara implicit menunjukkan bahwa Ia menerima pengakuan Tomas pada ay 28, dan ini membuktikan bahwa Yesus memang adalah Tuhan dan Allah sendiri!

Adam Clarke: “Dr. Pearce says here: ‘Observe that Thomas calls Jesus his God, and that Jesus does not reprove him for it, though probably it was the first time he was called so.’ And, I would ask, could Jesus be jealous of the honour of the true God - could he be a prophet - could he be even an honest man, to permit his disciple to indulge in a mistake so monstrous and destructive, if it had been one?” (= Dr. Pearce berkata di sini: ‘Perhatikan bahwa Tomas menyebut Yesus Allahnya, dan bahwa Yesus tidak memarahinya untuk hal itu, sekalipun mungkin itu adalah untuk pertama kalinya Ia disebut demikian’. Dan saya bertanya: bisakah Yesus sangat menghormati Allah yang benar - bisakah Ia adalah seorang nabi - bisakah Ia bahkan adalah seorang manusia yang jujur, dengan mengijinkan muridNya menuruti hatinya dalam suatu kesalahan yang begitu besar dan menghancurkan / merusak, seandainya kata-kata Tomas itu memang adalah suatu kesalahan seperti itu?).

Memang, kalau Yesus bukan Tuhan / Allah, tetapi tidak menegur Tomas, dan sebaliknya mau menerima pengakuan Tomas tentang diriNya sebagai Tuhan dan Allah, maka Ia betul-betul adalah orang brengsek! Yang mana yang saudara percayai, ‘Yesus adalah Tuhan / Allah’, atau ‘Yesus adalah orang brengsek’?

3) Ay 29b: ‘Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya’ (bdk. 1Pet 1:8).

Barnes’ Notes: “Many now are unwilling to believe because they do not see the Lord Jesus, and with just as little reason as Thomas had. The testimony of those eleven men - including Thomas who saw him alive after he was crucified; who were willing to lay down their lives to attest that they had seen him alive; who had nothing to gain by imposture, and whose conduct was removed as far as possible from the appearance of imposture, should be regarded as ample proof of the fact that he rose from the dead” (= Sekarangpun banyak orang tidak mau percaya karena mereka tidak melihat Tuhan Yesus, dan dengan alasan yang sama sedikitnya seperti yang dipunyai Tomas. Kesaksian dari 11 orang itu, termasuk Tomas, yang melihatNya hidup setelah Ia disalibkan; yang rela untuk meletakkan / menyerahkan nyawa mereka untuk menegaskan bahwa mereka telah melihatNya hidup; yang tidak mendapatkan keuntungan apa-apa oleh penipuan seperti ini, seharusnya dianggap sebagai bukti yang cukup tentang fakta bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati).

Adalah sesuatu yang alamiah kalau manusia ingin melihat seperti Tomas. Tetapi, bagaimanapun juga, keinginan ini tidak cocok dengan kata-kata Yesus dalam ay 29b ini!

Matthew Henry: “he never showed himself alive after his resurrection to all the people, Acts 10:40-41. We should have said, ‘Let his ignominious death be private, and his glorious resurrection public.’ But God’s thoughts are not as ours; and he ordered it that his death should be public before the sun, by the same token that the sun blushed and hid his face upon it. But the demonstrations of his resurrection should be reserved as a favour for his particular friends, and by them be published to the world, that those might be blessed who have not seen, and yet have believed” (= Ia tidak pernah menunjukkan diriNya sendiri hidup setelah kebangkitanNya kepada seluruh bangsa, Kis 10:40-41. Kita seharusnya berkata: ‘Hendaklah kematianNya yang memalukan / hina bersifat rahasia / tidak terbuka untuk umum, dan kebangkitanNya yang mulia bersifat umum’. Tetapi pikiran Allah bukan pikiran kita; dan Ia menetapkan / mengaturnya bahwa kematianNya harus bersifat umum di depan matahari, begitu pula bahwa matahari menjadi malu dan menyembunyikan wajahnya terhadapnya. Tetapi demonstrasi dari kebangkitanNya harus dibatasi sebagai suatu kebaikan untuk sahabat-sahabatNya yang khusus, dan oleh mereka dipublikasikan kepada dunia, supaya mereka yang tidak melihat tetapi percaya, bisa diberkati).

Kis 10:40-41 - “Yesus itu telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga, dan Allah berkenan, bahwa Ia menampakkan diri, bukan kepada seluruh bangsa, tetapi kepada saksi-saksi, yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Allah, yaitu kepada kami yang telah makan dan minum bersama-sama dengan Dia, setelah Ia bangkit dari antara orang mati”.

Setelah kebangkitanNya Yesus memang menampakkan diri hanya kepada relatif sedikit orang, paling banyak 500 orang (1Kor 15:6). Mengapa Ia tidak menampakkan diri kepada Pontius Pilatus, Herodes, para tentara Romawi, orang-orang Farisi, ahli-ahli Taurat, imam-imam, Sanhedrin / Mahkamah Agama, masyarakat Yahudi, atau singkatnya kepada dunia? Bukankah kalau Ia melakukan hal itu semua menjadi Kristen? Ia tidak melakukannya, karena Ia tidak ingin manusia percaya setelah melihat. Ia ingin manusia percaya sekalipun tidak melihat. Kita harus percaya hanya berdasarkan pemberitaan Firman Tuhan.

Saudara tidak pernah melihat Yesus. Tetapi saudara mendengar tentang Dia, kematianNya, kebangkitanNya, dari Kitab Suci / Firman Tuhan. Maukah saudara percaya, sekalipun tidak melihat?

-AMIN-

3.Kristus adalah pengganti kita

II KORINTUS 5:15 YESAYA 53:4-6

I) Keselamatan karena perbuatan baik.

Sebagian besar manusia di muka bumi ini, dan juga semua agama-agama lain di luar kristen, percaya / mengajarkan bahwa orang bisa selamat / masuk surga karena perbuatan baik.

Tetapi sebetulnya ini adalah sesuatu yang tidak mungkin terjadi karena:

1) Manusia tidak bisa berbuat baik.

Ini dinyatakan secara jelas oleh Kitab Suci.

· Kej 6:5 - “Ketika dilihat TUHAN bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, ...”.

· Kej 8:21b - “Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya”.

· Mazmur 58:4 - “Sejak lahir orang-orang fasik telah menyimpang, sejak dari kandungan pendusta-pendusta telah sesat”.

· Titus 1:15 - “Bagi orang suci semuanya suci; tetapi bagi orang najis dan orang tidak beriman suatupun tidak ada yang suci, karena baik akal maupun suara hati mereka najis”.

Apakah benar bahwa manusia tidak bisa berbuat baik? Tidak bisakah seseorang, pada waktu melihat orang miskin / menderita, lalu menolongnya tanpa pamrih? Tentu bisa! Lalu apakah itu bisa disebut sebagai perbuatan baik? Dalam pandangan manusia, ya! Tetapi dalam pandangan Tuhan, tidak! Mengapa? Karena dalam pandangan Tuhan, supaya suatu perbuatan bisa disebut baik, maka harus dipenuhi syarat-syarat ini:

a) Perbuatan baik itu harus dilakukan untuk kemuliaan Allah.

1Kor 10:31 - “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah”.

b) Perbuatan baik itu harus dilakukan karena cinta kepada Allah.

Yoh 14:15 - “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahKu”.

Ingat bahwa 2 hal di atas ini tak mungkin bisa dilakukan oleh orang yang ada di luar Kristus! Bdk. Ro 3:10,11,18 yang mengatakan bahwa tidak ada manusia (ini jelas menunjuk kepada manusia di luar Kristus, tanpa pekerjaan Roh Kudus dalam dirinya) yang benar, yang berakal budi, yang mencari Allah, atau yang takut kepada Allah.

Manusia bisa saja berusaha berbuat baik, berjuang bagi agamanya, ingin masuk surga, dsb. Tetapi ‘mengasihi Allah’ dan ‘hidup untuk kemuliaan Allah’ adalah 2 hal yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh manusia di luar Kristus.

Kalau 2 hal di atas ini tidak dipenuhi, maka bisalah dikatakan bahwa perbuatan baik itu dilakukan tanpa mempedulikan Allah! Bisakah itu disebut baik?

2) Andaikatapun manusia bisa berbuat baik, bagaimana dengan dosa-dosa yang telah ia lakukan maupun yang akan ia lakukan? Ingat bahwa perbuatan baik tidak bisa menghapus dosa!

Kitab Suci dengan jelas menyatakan hal itu.

· Gal 2:16a - “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus”.

· Gal 2:21b - “... sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus”.

Illustrasi: Misalnya suatu hari saudara naik kendaraan bermotor dan melanggar rambu lalu lintas, dan lalu seorang polisi menilang saudara. Saudara akan disidang 1 minggu yang akan datang. Sementara menunggu saat persidangan, saudara lalu mau ‘menebus dosa’ saudara dengan berbuat baik. Saudara menghibur tetangga yang kesusahan, membelikan obat untuk tetangga yang sakit, dsb. Pada saat persidangan, hakim bertanya: Apakah saudara, pada tanggal ini, di jalan ini, melanggar rambu lalu lintas ini? Saudara lalu menjawab: Benar Pak Hakim, tetapi, saya sudah menebus dosa dengan berbuat baik. Ini ada 3 saksi yang menerima kebaikan saya. Sekarang pertanyaannya: kalau hakim itu waras, apakah orang itu akan dibebaskan dari hukuman?

Illustrasi ini jelas menunjukkan bahwa ditinjau dari sudut hukum dunia / negarapun, tidak mungkin perbuatan baik bisa menutup dosa!

Allah tahu akan hal ini (yaitu bahwa manusia tidak bisa selamat karena perbuatan baiknya), tetapi Ia mau menyelamatkan manusia yang berdosa itu. Lalu bagaimana caranya? Memasukkan manusia berdosa ke surga begitu saja? Memang ada agama yang percaya hal ini. Mereka percaya bahwa Allah itu maha pengasih dan pengampun, sehingga Ia akan memasukkan orang berdosa ke surga begitu saja, tanpa ada yang membayar dosa-dosanya. Tetapi ini tidak mungkin! Ia tidak bisa berbuat demikian karena Ia adalah Allah yang suci, yang tidak bisa bersatu dengan manusia berdosa, dan Ia adalah Allah yang adil, yang tidak bisa tidak menghukum manusia yang berdosa!

Jadi bagaimana? Ia sendiri yang harus menebus dosa itu / membayar hutang dosa itu! Dan karena ‘upah dosa ialah maut’ (Ro 6:23), sedangkan sebagai Allah Ia tidak bisa mati, maka Allah harus menjadi manusia, yaitu Yesus Kristus, supaya Ia bisa mati menebus dosa kita!

II) Kristus adalah substitute (= pengganti) kita.

Bahwa Kristus adalah substitute (= pengganti) kita terlihat dari text khotbah hari ini, yaitu Yes 53:4-6 dan 2Kor 5:15.

Yes 53:4-6 - “(4) Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. (5) Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. (6) Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian”.

2Kor 5:15 - “Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka”.

Tetapi hal itu juga bisa terlihat dari:

1) Fakta bahwa Kristus tidak berdosa (2Kor 5:21 Ibr 4:15).

Andaikata Ia berdosa, maka pada saat Ia mati, Ia mengalami hukuman untuk diriNya sendiri. Tetapi karena Ia suci, maka pada saat Ia mati, Ia mengalaminya untuk kita!

2) Jenis hukuman mati yang Ia alami adalah salib, bukan penggal, rajam dsb. Mengapa harus salib? Karena salib adalah hukuman yang terkutuk, dan dengan mengalami kematian yang terkutuk itu, Ia menanggung kutuk yang seharusnya untuk kita (Ul 21:23 Gal 3:10,13).

3) Penderitaan yang luar biasa yang Ia alami.

Kristus mengalami penderitaan yang luar biasa hebatnya, seperti:

· pencambukan.

Ingat bahwa Ia dicambuki dengan cambuk Romawi, yaitu tali-tali kulit yang diberi besi-besi tajam, tulang-tulang yang diruncingkan, sehing-ga pencambukan itu betul-betul menghancurkan punggungNya.

· penyaliban.

Bisakah saudara bayangkan sakitnya kalau paku-paku menebus tangan dan kaki saudara? Dan bagaimana penderitaan saudara kalau setelah itu saudara digantungkan selama berjam-jam sampai saudara mati? Itulah yang Yesus alami bagi saudara!

Kristus memang harus mengalami penderitaan yang luar biasa ini, karena penderitaan di neraka juga luar biasa hebatnya!

4) Kristus menolak anggur bius (Mat 27:34).

Banyak penafsir beranggapan bahwa Ia menolak anggur itu, karena anggur itu mengandung sejenis ramuan bius, yang bisa mengurangi rasa sakit. Yesus sadar bahwa saat itu Ia sedang menggantikan kita dalam memikul hukuman dosa, dan karena itu Ia tidak mau rasa sakitnya dikurangi. Ia mau memikul 100 % hukuman dosa kita!

5) Kristus mengalami kehausan (Yoh 19:28 bdk. Maz 22:16).

Ingat bahwa orang di neraka pasti mengalami kehausan yang luar biasa. Bandingkan dengan kehausan dari orang kaya di neraka dalam Luk 16:23-24. Kristus menggantikan kita memikul hukuman itu, dan karenanya Ia harus mengalami kehausan yang luar biasa. Ini menyebabkan kita tidak perlu mengalami kehausan di neraka, asal kita mau percaya kepada Yesus!

6) Kristus mengalami keterpisahan dengan Allah (Mat 27:46).

Keterpisahan dengan Allah merupakan hukuman dosa (Yes 59:1-2 2Tes 1:9). Kristus menggantikan kita memikul hukuman dosa, dan karena itu Ia harus mengalami keterpisahan dengan Allah / BapaNya.

7) Kristus mati.

Upah dosa ialah maut (Ro 6:23), dan karena itu Kristus, yang menggantikan kita untuk memikul hukuman dosa, harus mengalami kematian.

Karena itu, orang yang percaya Yesus, sekalipun tetap mengalami kematian, tetapi tidak mengalami kematian itu sebagai hukuman dosa, tetapi sebagai pintu gerbang menuju surga!

III) Keselamatan karena iman.

Karena Kristus sudah menjadi substitute (= pengganti) kita, maka sekarang untuk selamat / masuk surga kita tidak perlu melakukan apa-apa! Hanya percaya / beriman kepada Yesus!

Ini terlihat dari ayat-ayat di bawah ini:

· Ro 3:27-28 - “Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat”.

· Gal 2:16a - “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus”.

· Ef 2:8-9 - “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”.

Sudahkah saudara selamat / percaya kepada Yesus? Kalau ya, saudara harus memenuhi 2 tanda ini:

1) Keyakinan akan keselamatan.

Adalah sesuatu yang tak masuk akal bahwa ada banyak orang mengaku kalau mereka percaya bahwa Yesus sudah mati memikul semua dosa-dosa mereka, tetapi pada saat yang sama mereka masih ragu-ragu / tidak yakin bahwa mereka akan masuk ke surga! Ini adalah suatu kontradiksi! Kalau memang saudara percaya bahwa Yesus sudah membayar semua dosa saudara, lalu dosa apalagi yang menyebabkan saudara mengira masih bisa masuk neraka?

2) Ada perubahan hidup ke arah yang positif dalam diri saudara.

Sekalipun perbuatan baik tidak punya andil dalam menyelamatkan kita, tetapi perbuatan baik / perubahan hidup ke arah positif pasti ada dalam diri orang yang betul-betul percaya kepada Yesus! Mengapa? Karena orang yang percaya pasti menerima Roh Kudus (Yoh 7:38-39 Ef 1:13-14), yang akan mengeluarkan buah Roh (Gal 5:22-23).

Perubahan hidup itu harus ada:

a) Dalam hal rohani.

Misalnya: kerinduan akan Firman Tuhan, doa, berbakti dsb.

b) Dalam hidup sehari-hari.

Misalnya: menjadi lebih sabar, membuang perzinahan, dusta dan segala dosa-dosa lain.

Penutup / kesimpulan:

Apakah saudara sudah mempunyai keyakinan akan keselamatan saudara dan perubahan hidup ke arah yang positif sebagai bukti iman saudara? Kalau belum, saudara belum selamat! Percayalah kepada Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan saudara saat ini juga, supaya saudara betul-betul diselamatkan!

-AMIN-

4.Apa yang Kristus alami bagi kita

YOHANES 19:1-5,16-30

I) Penderitaan dan kematian Kristus.

1) Kristus dicambuki (Yohanes 19: 1).

a) Berapa set pencambukan yang dialami oleh Yesus?

Kalau kita melihat dalam Injil Yohanes, maka Pontius Pilatus dihadap-kan pada 2 pilihan:

· Melepaskan Yesus, tetapi menghadapi kemarahan orang-orang Yahudi. Sebetulnya inilah yang ia inginkan dan inilah yang seha-rusnya ia lakukan, karena ia tahu bahwa Yesus tidak bersalah.

· Menyalibkan Yesus yang tidak bersalah sesuai dengan keinginan orang-orang Yahudi itu.

Pontius Pilatus lalu ingin mengambil jalan tengah (kompromi), dengan jalan mencambuki Yesus. Ia pikir mungkin dengan demikian orang-orang Yahudi itu sudah cukup puas, dan tidak meneruskan tuntutan mereka untuk menyalibkan Yesus. Jadi dalam Injil Yohanes (juga dalam Luk 23:16,22), pencambukan diberikan kepada Yesus dengan tujuan untuk melepaskan Yesus, dan ini dilakukan sebelum sidang selesai. Tetapi dalam Injil Matius dan Markus (Mat 27:26 Mark 15:15) pencambukan dilakukan sebagai pendahuluan penyaliban, dan dilakukan setelah persidangan selesai. Karena itu ada orang yang berpendapat bahwa Yesus dicambuki 2 x (2 set pencambukan). Tetapi banyak penafsir yang tidak setuju dengan ini.

Kalaupun Yesus hanya mengalami 1 set pencambukan, tahukah sau-dara berapa kali cambuk itu menghajar punggung Yesus? Orang Ya-hudi terikat oleh hukum Tuhan dalam Ul 25:3 yang melarang melaku-kan pencambukan lebih dari 40 x. Dan karena mereka takut salah hitung sehingga melanggar hukum itu, maka pada waktu mereka mencambuki, mereka hanya melakukannya sebanyak 39 x (bdk. 2Kor 11:24 dimana Paulus mengalami pencambukan 39 x itu sebanyak 5 kali). Tetapi yang mencambuki Yesus adalah orang Romawi yang terkenal kejam, dan tidak terikat pada hukum Tuhan. Jadi bisa saja Yesus dicambuki lebih dari 40 x!

b) Hebatnya pencambukan:

Untuk bisa mengerti lebih baik tentang hebatnya penderitaan Kris­tus pada waktu disesah, mari kita lihat komentar-komentar di bawah ini.

Leon Morris (NICNT):

“Scourging was a brutal affair. It was inflicted by a whip of several thongs, each of which was loaded with pieces of bone or metal. It could make pulp of a man’s back” (= Pencambukan adalah suatu peristiwa yang brutal. Hal itu diberikan dengan sebuah cambuk yang terdiri dari beberapa tali kulit, yang masing-masing diberi potongan-potongan tulang atau logam. Itu bisa membuat punggung seseorang menjadi bubur).

Leon Morris (NICNT):

“... Josephus tells us that a certain Jesus, son of Ananias, was brought before Albinus and ‘flayed to the bone with scourges’ ... Eusebius narrates that certain martyrs at the time of Polycarp ‘were torn by scourges down to deep-seated veins and arteries, so that the hidden contents of the recesses of their bodies, their entrails and organs, were exposed to sight’ ... Small wonder that men not infrequently died as a result of this torture” (= Josephus menceritakan bahwa seorang Yesus tertentu, anak dari Ananias, dibawa ke depan Albinus dan ‘dikuliti sampai tulangnya dengan cambuk’ ... Eusebius menceritakan bahwa martir-martir tertentu pada jaman Polycarp ‘dicabik-cabik oleh cambuk sampai pada pembuluh darah dan arteri yang ada di dalam, sehingga bagian dalam yang tersembunyi dari tubuh mereka, isi perut dan organ-organ mereka, menjadi terbuka dan kelihatan’ ... Tidak heran bahwa tidak jarang orang mati sebagai akibat penyiksaan ini).

c) Pada waktu memikul salib ke tempat penyaliban (ay 17), biasanya orang hukuman itu dicambuki sepanjang jalan.

William Barclay:

“Often the criminal had to be lashed and goaded along the road, to keep him on his feet, as he staggered to the place of crucifixion” (= Seringkali orang kriminil itu harus dicambuki dan didorong dengan tongkat sepanjang jalan, supaya ia tetap berdiri pada kakinya, pada waktu ia berjalan terhuyung-huyung menuju tempat penyaliban) - ‘The Gospel of John’, vol 2, hal 250.

d) Yesus rela mengalami penyesahan itu untuk kita (bdk. Yes 53:4-6 1Pet 2:24).

Yes 53:4-6 berbunyi: “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian”.

Kita yang adalah orang berdosa, dan karena itu kitalah yang seha­rusnya mengalami hukuman seperti itu. Tetapi Yesus yang tidak ber-salah, karena kasihNya kepada kita, rela menanggung hukuman itu bagi kita, supaya kalau kita percaya kepada Dia, kita bebas dari semua hukuman dosa!

2) Kristus dihina / diejek / dipermalukan.

Ini mencakup beberapa hal:

a) Pemberian mahkota duri di kepala Yesus dan pemberian jubah ungu (ay 2).

· Pemberian jubah ungu bertujuan untuk mengejek, karena pada jaman itu jubah ungu hanya dipakai oleh orang kaya, bangsawan, raja dsb (bdk. Luk 16:19). Sekalipun demikian, bagi Yesus ini juga merupakan penderitaan yang hebat. Pada waktu jubah ungu itu dipakaikan kepadaNya, memang tidak apa-apa. Tetapi pada waktu jubah ungu itu dilepaskan, itu pasti sangat menyakitkan, karena jubah ungu itu sudah melekat pada luka-luka di tubuh Kristus.

· Ada yang menganggap bahwa pemberian mahkota duri bertujuan untuk menyiksa, dan karenanya untuk membuat mahkota itu mereka menggunakan tanaman berduri panjang yang mencocok kepala Yesus. Ada juga yang menganggap bahwa ini hanya ber-tujuan mengejek, bukan untuk menyiksa, sehingga mereka mem-buat mahkota itu sedemikian rupa sehingga duri-durinya mengha-dap ke atas.

William Hendriksen menghubungkan mahkota duri ini dengan Kej 3:18 dengan berkata:

“... the fact that thorns and thistles are mentioned in Gen 3:18 in connection with Adam’s fall. Hence, here in 19:2,3 Jesus is pictured as bearing the curse that lies upon nature. He bears it in order to deliver nature (and us) from it” [= ... fakta bahwa duri dan rumput duri disebutkan dalam Kej 3:18 dalam hubungannya dengan kejatuhan Adam. Karena itu, di sini dalam 19:2,3 Yesus digambarkan menang-gung / memikul kutuk yang ada pada alam. Ia memikulnya untuk membebaskan alam (dan kita) dari kutuk itu].

b) ‘Penghormatan’ yang diberikan kepadaNya sebagai raja Yahudi dan penamparan (ay 3).

c) Penelanjangan terhadapNya (ay 23-24).

· pembagian pakaian dan pengundian jubah ini menggenapi nubuat dalam Maz 22:19.

· Pulpit Commentary:

“It is implied that his body was exposed naked on the cross” (= Secara tidak langsung dikatakan bahwa tubuhNya telanjang di kayu salib).

Bisakah saudara bayangkan bagaimana malunya kalau ditelan-jangi di depan umum? Itulah yang Yesus alami untuk saudara!

· Mengapa Yesus harus mengalami hal yang memalukan ini?

* Lagi-lagi karena Ia sedang menggantikan kita memikul hukum-an dosa kita. Pernahkah saudara pikirkan / renungkan bahwa pada pengadilan akhir jaman nanti manusia berdosa akan di-permalukan? Bayangkan kalau semua dosa kita dibuka dalam pengadilan itu, termasuk segala dusta, pencurian, kemunafikan, percabulan, penyelewengan, perzinahan, dsb. Kristus memikul semua ini bagi kita, dan karena itu Ia harus dipermalukan!

* Perhatikan kata-kata Calvin di bawah ini:

“Let us also learn that Christ was stripped of his garments, that he might clothe us with righteousness; that his naked body was exposed to the insults of men, that we may appear in glory before the judgment-seat of God” (= Marilah kita belajar bahwa Kristus dilepas jubahNya, supaya Ia bisa memberi kita pakaian dengan kebenaran; bahwa tubuhNya yang telanjang terbuka terhadap penghinaan-penghinaan manusia, supaya kita bisa muncul dalam kemuliaan di depan tahta pengadilan Allah).

3) Kristus disalibkan.

Hal-hal yang perlu diketahui tentang tradisi penyaliban:

a) Pemikulan salib (ay 17).

Orang yang disalib harus memikul salibnya menuju tempat penyaliban melalui route yang dipilih sepanjang mungkin. Mengapa?

· untuk memperingati supaya orang lain tidak berbuat jahat.

· William Barclay mengatakan bahwa ada alasan lain:

“... there was a merciful reason. ... the long route was chosen, so that if anyone could still bear witness in his favour, he might come forward and do so. In such a case, the procession was halted and the case retried” (= ... ada alasan belas kasihan. ... route / jalan yang panjang dipilih, supaya jika ada seseorang yang bisa memberi kesaksian mem-bela dia, orang itu bisa maju ke depan dan melakukannya. Dalam hal itu, proses penyaliban itu dihentikan dan kasusnya diperiksa ulang).

Betul-betul menyedihkan bahwa dalam kasus Kristus tidak ada seorangpun yang berani maju ke depan untuk membela Dia!

Bagi Kristus yang baru saja dicambuki, pemikulan salib itu bukan hanya berat, tetapi juga sangat menyakitkan, karena kayu salib yang kasar itu mengenai pundakNya yang penuh dengan luka cambuk.

b) Penyaliban terjadi di luar kota (ay 17 - ‘pergi ke luar’. Bdk. Mat 27:32).

· Karena Kristus dianggap menghujat Allah (ay 7 bdk. Mat 26:65), maka mereka menghukum mati Dia di luar kota. Bdk. Im 24:14,23 yang menunjukkan bahwa firman Tuhan mengajarkan bahwa penghujat Allah harus dihukum mati di luar perkemahan. (bdk. 1Raja-raja 21:13 Kis 7:58).

Catatan: sekalipun yang melaksanakan penghukuman mati itu ada-lah tentara Romawi, tetapi tokoh-tokoh Yahudi jelas mempunyai ‘suara’ yang sangat kuat (bdk. Mat 27:62-66 Mat 28:11-15).

· Tetapi semua ini justru menjadikan Kristus sebagai ANTI TYPE / penggenapan dari korban penghapus dosa, yang adalah TYPE dari Kristus, yang harus dibakar / dibunuh di luar perkemahan (Kel 29:14 Im 4:12,21 9:11 16:27 Bil 19:3 bdk. Ibr 13:11-12).

Dari semua ini terlihat dengan jelas bahwa semua ini dikontrol oleh Allah, sehingga terlaksanalah Rencana Allah, yang memang sudah menetapkan Kristus sebagai penggenapan dari korban penghapus dosa.

c) Adanya ‘tempat duduk’ pada kayu salib yang menahan sebagian berat badan sehingga tidak merobek luka / lubang paku di tangan.

Pulpit Commentary:

“A sedile was arranged to bear a portion of the weight of the body, which would never have been sustained by the gaping wounds” (= Sebuah tempat duduk diatur untuk memikul sebagian berat tubuh, yang tidak akan pernah bisa ditahan oleh luka-luka yang menganga).

‘The International Standard Bible Encyclopedia’ dalam article yang berjudul ‘Cross’ berkata sebagai berikut:

“A small wooden block (sedicula) or a wooden peg positioned midway on the upright supported the body weight as the buttocks rested on it. This feature was extremely important in cases of nailing since it prevented the weight from tearing open the wounds” [= sebuah kotak kayu kecil (sedicula) atau sebuah pasak kayu diletakkan di tengah-tengah tiang tegak untuk menahan berat tubuh pada saat pantat terletak di sana. Bagian ini sangat penting dalam kasus pemakuan karena ini mencegah berat badan sehingga tidak merobek luka].

Barnes’ Notes tentang Mat 27:32:

“On the middle of that upright part there was a projection, or seat, on which the person crucified sat, or, as it were, rode. This was necessary, as the hands were not alone strong enough to bear the weight of the body” (= Di tengah-tengah bagian tegak itu ada suatu tonjolan, atau tempat duduk, di atas mana orang yang disalib itu duduk, atau, mengendarai. Ini penting, karena tangan saja tidak kuat menahan berat badan) - hal 138.

d) Penyaliban tidak selalu dilakukan dengan pemakuan, kadang-kadang dengan tali (diikat pada salib), dan kadang-kadang menggunakan ikat-an dan paku (mungkin kalau orangnya gemuk / berat). Tetapi dalam kasus Yesus jelas dilakukan dengan paku.

Barnes’ Notes tentang Mat 27:32:

“The feet were fastened to this upright piece, either by nailing them with large spikes driven through the tender part, or by being lashed by cords. To the cross-piece at the top, the hands, being extended, were also fastened, either by spikes or by cords, or perhaps in some cases by both. The hands and feet of our Saviour were both fastened by spikes” (= Kaki dilekatkan pada tiang tegak, atau dengan memakukannya dengan paku-paku besar yang dimasukkan melalui bagian-bagian yang lunak, atau dengan meng-ikatnya dengan tali. Pada bagian salib yang ada di atas, tangan, yang direntangkan, juga dilekatkan, atau dengan paku-paku atau dengan tali, atau mungkin dalam beberapa kasus oleh keduanya. Tangan dan kaki dari Tuhan kita keduanya dilekatkan dengan paku-paku) - hal 138.

Barnes’ Notes tentang Yoh 21:18:

“The limbs of persons crucified were often bound instead of being nailed, and even the body was sometimes girded to the cross” (= Kaki dan tangan dari orang yang disalibkan seringkali diikat dan bukannya dipaku, dan bahkan tubuhnya kadang-kadang diikatkan pada salib) - hal 360.

Point c (adanya ‘tempat duduk’) dan point d (digunakannya tali untuk mengikat) ini menyebabkan pemakuan bisa dilakukan pada tangan. Kita tidak perlu menyimpulkan bahwa pemakuan dilakukan pada per-gelangan tangan.

e) Pemakuan dilakukan pada saat kayu salib ditidurkan di tanah, dan se-telah itu kayu salib beserta orang yang tersalib itu diberdirikan, dan kayu salib itu dimasukkan ke lubang yang tersedia.

Barnes’ Notes dalam komentarnya tentang Mat 27:35 berkata sebagai berikut:

“The manner of the crucifixion was as follows: - After the criminal had carried the cross, attended with every possible jibe and insult, to the place of execution, a hole was dug in the earth to receive the foot of it. The cross was laid on the ground; the persons condemned to suffer was stripped, and was extended on it, and the soldiers fastened the hands and feet either by nails or thongs. After they had fixed the nails deeply in the wood, they elevated the cross with the agonizing sufferer on it; and, in order to fix it more firmly in the earth, they let it fall violently into the hole which they had dug to receive it. This sudden fall must have given to the person that was nailed to it a most violent and convulsive shock, and greatly increased his sufferings. The crucified person was then suffered to hang, commonly, till pain, exhaustion, thirst, and hunger ended his life” (= Cara penyaliban adalah sebagai berikut: - Setelah kriminil itu membawa salib, disertai dengan setiap ejekan dan hinaan yang dimungkinkan, ke tempat penyaliban, sebuah lubang digali di tanah untuk menerima kaki salib itu. Salib diletakkan di tanah; orang yang diputuskan untuk menderita itu dilepasi pakaiannya, dan direntangkan pada salib itu, dan tentara-tentara melekatkan tangan dan kaki dengan paku atau dengan tali. Setelah mereka memakukan paku-paku itu dalam-dalam ke dalam kayu, mereka menaikkan / menegakkan salib itu dengan penderita yang sangat menderita padanya; dan, untuk menancapkannya dengan lebih teguh di dalam tanah, mereka menjatuhkan salib itu dengan keras ke dalam lubang yang telah digali untuk menerima salib itu. Jatuhnya salib dengan mendadak itu pasti memberikan kepada orang yang disalib suatu kejutan yang keras, dan meningkatkan penderitaannya dengan hebat. Orang yang disalib itu lalu menderita tergantung, biasanya, sampai rasa sakit, kehabisan tenaga, kehausan, dan kelaparan mengakhiri hidupnya) - hal 139.

f) Hukuman salib adalah penderitaan yang luar biasa.

Barnes’ Notes melanjutkan komentarnya tentang Mat 27:35 dengan berkata sebagai berikut:

“As it was the most ignominious punishment known, so it was the most painful. The following circumstances make it a death of peculiar pain: (1.) The position of the arms and the body was unnatural, the arms being extended back and almost immovable. The least motion gave violent pain in the hands and feet, and in the back, which was lacerated with stripes. (2.) The nails, being driven through the parts of the hands and feet which abound with nerves and tendons, created the most exquisite anguish. (3.) The exposure of so many wounds to the air brought on a violent inflammation, which greatly increased the poignancy of the suffering. (4.) The free circulation of the blood was prevented. More blood was carried out in the arteries than could be returned by the veins. The consequence was, that there was a great increase in the veins of the head, producing an intense pressure and violent pain. The same was true of other parts of the body. This intense pressure in the blood vessels was the source of inexpressible misery. (5.) The pain gradually increased. There was no relaxation, and no rest.” [= Itu adalah hukuman yang paling hina / memalukan yang dikenal manusia, dan itu juga adalah hukuman yang paling menyakitkan. Hal-hal berikut ini menyebabkan penyaliban suatu kematian dengan rasa sakit yang khusus: (1.) Posisi lengan dan tubuh tidak alamiah, lengan direntangkan ke belakang dan hampir tidak bisa bergerak. Gerakan yang paling kecil memberikan rasa sakit yang hebat pada tangan dan kaki, dan pada punggung, yang sudah dicabik-cabik dengan cambuk. (2.) Paku-paku, yang dimasukkan melalui bagian-bagian tangan dan kaki yang penuh dengan syaraf dan otot, memberikan penderitaan yang sangat hebat. (3.) Terbukanya begitu banyak luka terhadap udara menyebabkan peradangan yang hebat, yang sangat meningkatkan kepedihan / ketajaman penderitaan. (4.) Peredaran bebas dari darah dihalangi. Lebih banyak darah dibawa keluar oleh arteri-arteri dari pada yang bisa dikembalikan oleh pembuluh-pembuluh darah balik. Akibatnya ialah, terjadi peningkatan yang besar dalam pembuluh darah balik di kepala, yang menghasilkan tekanan dan rasa sakit yang hebat. Hal yang sama terjadi dengan bagian-bagian tubuh yang lain. Tekanan yang hebat dalam pembuluh darah adalah sumber penderitaan yang tidak terlukiskan. (5.) Rasa sakit itu naik secara bertahap. Tidak ada pengendoran, dan tidak ada istirahat] - hal 139.

William Barclay, dalam komentarnya tentang Luk 23:32-38, berkata sebagai berikut:

“The terror of crucifixion was this - the pain of that process was terrible but it was not enough to kill, and the victim was left to die of hunger and thirst beneath the blazing noontide sun and the frost of the night” (= Hal yang mengerikan / menyeramkan dari penyaliban adalah ini - rasa sakit dari proses penyaliban itu luar biasa, tetapi tidak cukup untuk membunuh, dan korban dibiarkan mati oleh kelaparan dan kehausan di bawah sinar matahari yang membakar dan cuaca beku pada malam hari) - hal 284.

Barnes’ Notes, dalam komentarnya tentang Mat 27:32, berkata sebagai berikut:

“... the body was left exposed often many days, and not unfrequently suffered to remain till the flesh had been devoured by vultures, or putrefied in the sun” (= tubuh itu dibiarkan terbuka seringkali sampai beberapa hari, dan tidak jarang orang itu terus menderita sampai dagingnya dimakan oleh burung pemakan bangkai, atau membusuk di bawah matahari).

Catatan: dalam kasus Yesus memang penyaliban tidak berlangsung berhari-hari. Mungkin hanya berlangsung selama ± 6 jam, yaitu mulai pukul 9 pagi (Mark 15:25) sampai Ia mati pada ± pukul 3 siang (Mat 27:46-50).

4) Kristus mengalami kehausan (ay 28-29).

a) Kehausan adalah salah satu penderitaan hebat yang selalu menyertai penyaliban.

Barnes’ Notes:

“Thirst was one of the most distressing circumstances attending the crucifixion. The wounds were highly inflamed, and the raging fever was caused usually by the sufferings on the cross, and this was accompanied by insupportable thirst” (= Kehausan adalah salah satu keadaan yang paling membuat menderita yang menyertai penyaliban. Luka-luka itu meradang dengan hebat, dan demam yang tinggi biasanya terjadi oleh penderitaan-penderitaan pada salib, dan ini disertai / diiringi oleh kehausan yang tak tertahankan).

b) Mengapa Kristus harus mengalami kehausan?

· Karena itu sudah dinubuatkan dalam:

* Maz 22:16 - ‘lidahku melekat pada langit-langit mulutku’.

* Maz 69:22b - ‘pada waktu aku haus mereka memberi aku minum anggur asam’.

· Karena orang yang masuk neraka juga akan mengalami kehausan (bdk. Luk 16:23-24). Dan Kristus memikul hukuman itu, sehingga harus merasakan kehausan yang luar biasa.

c) Kristus minta minum supaya:

· nubuat dalam Maz 69:22b tergenapi (ay 28).

· Ia bisa meneriakkan kata-kata ‘Sudah selesai’ (ay 30), yang mem-punyai arti sangat penting bagi kita. Tanpa minuman itu, mulut, lidah, dan tenggorokan Yesus yang sangat kering karena kehaus-an yang luar biasa itu tidak akan bisa mengucapkan kata-kata itu.

d) Pada waktu Kristus minta minum, Ia diberi anggur asam (ay 29).

Ada 3 hal yang ingin saya persoalkan di sini:

· Ay 29: ‘anggur asam’.

Ini sama dengan terjemahan NASB yang menterjemahkan ‘sour wine’. Tetapi KJV/RSV/NIV menterjemahkan ‘vinegar’ (= cuka).

Leon Morris (NICNT):

“‘vinegar’ is a term which signifies a cheap wine, the kind of drink that was used by the masses” (= ‘cuka’ adalah suatu istilah yang berarti anggur murah, jenis minuman yang digunakan oleh orang banyak).

· Mengapa tentara-tentara itu mau memberiNya minum? Biasanya orang disalib tidak diberi minum. Jelas bahwa di sini Allah bekerja, sehingga nubuat dalam Maz 69:22b itu terjadi.

· Dengan Kristus meminta minum, dan diberi minum, apakah itu berarti bahwa penderitaanNya dikurangi sehingga Ia tidak me-nanggung 100 % hukuman dosa kita? Tidak! Karena Ia minta minum setelah Ia tahu bahwa semua sudah selesai (ay 28), artinya penebusan yang Ia lakukan sudah cukup untuk menebus dosa kita. Perhatikan kata-kata Calvin di bawah ini:

“Now, it ought to be remarked, that Christ does not ask any thing to drink till all things have been accomplished ... No words can fully express the bitterness of the sorrows which he endured; and yet he does not desire to be freed from them, till the justice of God has been satisfied, and till he has made a perfect atonement” (= Harus diperhatikan, bahwa Kristus tidak meminta minum apapun sampai semua telah selesai / tercapai ... Tidak ada kata-kata yang dapat menyatakan secara penuh kesedihan yang ditahanNya; tetapi Ia tidak ingin dibebaskan darinya, sampai keadilan Allah telah dipuaskan, dan sampai Ia telah membuat penebusan yang sempurna).

Tetapi bagaimana mungkin sudah selesai, padahal Ia belum mengalami kematian? Calvin berkata bahwa Kristus mengucapkan kata-kata ‘sudah selesai’ itu dengan memperhitungkan kematian-Nya yang akan terjadi. Atau ada juga yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘sudah selesai’ adalah penderitaan aktifNya dalam memikul hukuman dosa.

5) Kristus mati.

Dengan demikian Ia membayar upah dosa yang adalah maut! Ia yang hidup rela mati, supaya kita yang mati dalam dosa bisa hidup!

II) Tanggapan terhadap penderitaan & kematian Yesus.

A) Tanggapan yang salah:

1) Tidak percaya / acuh tak acuh.

Kalau saudara bersikap seperti ini, maka itu berarti saudara harus memikul sendiri hukuman dosa saudara di dalam neraka!

2) Kasihan kepada Kristus.

Dalam perjalanan memikul salib ke luar kota, terjadi peris­tiwa dalam Luk 23:27-32 (bacalah bagian ini dalam Kitab Suci saudara).

Pulpit Commentary mengomentari bagian ini dengan berkata:

“He does not want our pity. This would be a wasted and mistaken sentiment” (= Ia tidak membutuhkan / menghendaki belas kasihan kita. Ini adalah suatu perasaan yang sia-sia dan salah).

Kalau saudara mempunyai perasaan kasihan kepada Kristus, tetapi tidak percaya kepada Kristus, saudara sudah ditipu oleh setan. De-ngan adanya perasaan kasihan itu saudara seakan-akan adalah orang yang pro Yesus, tetapi ketidakpercayaan saudara membuktikan bahwa saudara tetap anti Yesus!

B) Tanggapan yang benar:

1) Percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat (ay 35 20:31).

Kalau saudara mau percaya kepada Kristus, maka saudara harus percaya hanya kepada Kristus. Tentang kata-kata ‘sudah selesai’ da-lam ay 30, Calvin memberi komentar sebagai berikut:

“If we give our assent to this word which Christ pronounced, we ought to be satisfied with his death alone for salvation, and we are not at liberty to apply for assistance in any other quarter” (= Jika kita menyetujui kata-kata yang Kristus ucapkan, kita harus puas dengan kematianNya saja untuk keselamatan, dan kita tidak boleh menggunakan bantuan dari sudut lain manapun).

Karena itu, jangan menggabungkan Kristus dengan kepercayaan / agama lain, dengan kepercayaan kepada Maria atau orang suci, dengan kepercayaan pada perbuatan baik saudara sendiri, dsb. Keselamatan kita terjadi hanya karena jasa penebusan Kristus, yang kita terima dengan iman!

2) Kasihilah Yesus lebih dari segala sesuatu / siapapun juga, baik keluarga, anak, uang / pekerjaan, study, teman, hobby, hal-hal du-niawi dsb.

Kalau saudara mengasihi apapun / siapapun ( keluarga, anak, pacar, pekerjaan, uang, study, hobby, dsb) lebih dari Kristus, renungkan: pantaskah semua itu saudara utamakan di atas Kristus, yang sudah rela menderita dan mati secara begitu mengerikan dan memalukan bagi saudara? Tidakkah saudara seharusnya mengasihi Kristus lebih dari segala-galanya? Maukah saudara berusaha untuk bisa lebih mengasihi Yesus, dengan lebih banyak merenungkan apa yang sudah Ia lakukan bagi saudara, dengan lebih banyak bersekutu dengan Dia, dengan lebih banyak belajar tentang Dia (dari Firman Tuhan), dan dengan lebih banyak mentaati Dia?

Adanya kasih kepada Kristus inilah yang memungkinkan kita rela berkorban dalam pelayanan, ketaatan, dalam memberi persembahan, dsb.

3) Tidak hidup untuk diri sendiri, tetapi untuk Tuhan / kebenaran.

2Kor 5:15 berbunyi: “Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka”.

1Pet 2:24 - “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuhNya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran”.

Penerapan: renungkan baik-baik! Untuk apa / siapa saudara hidup? Untuk diri saudara sendiri? Untuk keluarga? Untuk ilmu pengetahuan? Untuk negara dan bangsa? Tujuan tertinggi dan termulia dalam hidup ini adalah untuk Tuhan!

4) Berjuang melawan dosa hingga mencucurkan darah.

Ibr 12:1-4 - “Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diriNya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah”.

Kalau saudara adalah orang yang sungguh-sungguh sudah percaya kepada Yesus, saya yakin saudara pasti sudah pernah dan sudah sering bergumul melawan dosa. Tetapi seberapa hebat pergumulan yang saudara lakukan? Ayat ini menuntut suatu pergumulan melawan dosa sampai pada titik dimana kita mencurahkan darah. Jadi kita harus rela berkorban apapun dalam pergumulan melawan dosa itu, dan kalau perlu kita harus rela berkorban nyawa. Maukah saudara melakukannya?

-AMIN-

5.Dosa Adam versus kasih karunia Allah

Roma 5:12-19

I) Akibat dosa Adam.

1) Semua manusia menjadi manusia berdosa.

Roma 5: 12: ‘karena semua orang telah ber(buat) dosa’. Kata ‘buat’ di sini seharusnya tidak ada.

Roma 5: 19: ‘... oleh ketidaktaatan satu orang (yaitu Adam) semua orang telah menjadi orang berdosa’.

Memang pada waktu Adam berbuat dosa, semua manusia lain (kecuali Hawa) belum ada. Tetapi Adam dianggap oleh Allah sebagai wakil dari seluruh umat manusia, dan karena itu ketika Adam jatuh ke dalam dosa, seluruh umat manusia dianggap jatuh ke dalam dosa juga. Karena itu, berbeda dengan pandangan Islam yang mengatakan bahwa semua manusia lahir dalam keadaan suci, Kitab Suci mengajarkan bahwa sejak kejatuhan Adam itu, semua manusia lahir dalam dosa (ini dikenal dengan istilah dosa asal / original sin). Pandangan ini didukung oleh ayat-ayat Kitab Suci di bawah ini.

Ayub 25:4 - “Bagaimana manusia benar di hadapan Allah, dan bagaimana orang yang dilahirkan perempuan itu bersih?”.

Maz 51:7 - “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku”.

Maz 58:4 - “Sejak lahir orang-orang fasik telah menyimpang, sejak dari kandungan pendusta-pendusta telah sesat”.

Illustrasi:

· kita ada di dalam Adam seperti dahan-dahan pohon ada dalam pohonnya (sebelum mereka tumbuh / keluar). Lalu dahan-dahan itu tumbuh / keluar. Kalau pohonnya adalah pohon mangga, maka otomatis dahan-dahan yang keluar juga adalah dahan-dahan mangga. Karena Adamnya adalah orang berdosa, maka kita sebagai dahan-dahannya juga adalah orang berdosa.

· kalau team sepak bola Indonesia kalah, maka orang akan berkata ‘Indonesia kalah’. Kita tidak ikut main sepak bola, tetapi juga dianggap kalah, karena wakil kita kalah. Demikian juga pada waktu wakil kita, yaitu Adam, jatuh ke dalam dosa, maka kita semua dianggap jatuh ke dalam dosa juga.

Penerapan: Bukan hanya penjahat, pembunuh, pemerkosa, dsb saja yang adalah orang berdosa. Saudara juga adalah orang berdosa! Karena itu saudara membutuhkan Kristus sebagai Juruselamat / Penebus dosa saudara! Dan jangan pernah berpikir bahwa saudara tidak membutuhkan Penebus dosa karena perbuatan baik saudara bisa menebus dosa saudara. Ini bertentangan dengan ayat-ayat di bawah ini:

Gal 2:16a - “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus”.

Gal 2:21b - “... sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus”.

Illustrasi:

Seseorang ditangkap polisi karena melanggar peraturan lalu lintas dan satu minggu setelahnya harus menghadap ke pengadilan. Dalam waktu satu minggu itu ia lalu banyak berbuat baik untuk menebus dosanya. Ia menolong tetangga, memberi uang kepada pengemis, dsb. Pada waktu persidangan, ia membawa semua orang kepada siapa ia sudah melaku-kan kebaikan itu sebagai saksi. Pada waktu hakim bertanya: ‘Benarkah saudara melanggar peraturan lalu lintas?’, ia lalu menjawab: ‘Benar pak hakim, tetapi saya sudah banyak berbuat baik untuk menebus dosa saya. Ini saksi-saksinya’. Sekarang pikirkan sendiri, kalau hakim itu waras, apakah hakim itu akan membebaskan orang itu? Jawabnya jelas adalah ‘tidak’! Jadi terlihat bahwa dalam hukum duniapun kebaikan tidak bisa menutup / menebus / menghapus dosa! Demikian juga dengan dalam hukum Tuhan / Kitab Suci!

Karena itu semua orang berdosa membutuhkan Yesus!

2) Semua manusia condong kepada dosa, dan bahkan tidak bisa berbuat sesuatu apapun yang betul-betul baik di hadapan Allah.

Dasar Kitab Suci pandangan ini:

· Kej 6:5 - “Ketika dilihat TUHAN bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, ...”.

Perhatikan bahwa ayat ini tidak berkata ‘sebagian kecenderungan hatinya’, tetapi ‘segala kecenderungan hatinya’. Juga ayat ini tidak berkata ‘kadang-kadang membuahkan kejahatan’, tetapi ‘selalu mem-buahkan kejahatan’. Dan ayat ini masih menambahkan lagi kata ‘semata-mata’.

· Kej 8:21b - “Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya”.

· Yes 64:6a - “Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor”.

Perhatikan bahwa Yesaya tidak berkata ‘segala kejahatan kami seperti kain kotor’ ataupun ‘sebagian kesalehan kami seperti kain kotor’, tetapi ‘segala kesalehan kami seperti kain kotor’!

· Yoh 8:34b - “setiap orang yang berbuat dosa adalah hamba dosa”.

Istilah ‘hamba’ perlu ditekankan di sini. Dengan manusia dinyatakan sebagai ‘hamba dosa’, itu jelas menunjukkan bahwa ia selalu / terus menerus menuruti dosa, dan tidak bisa berbuat baik. Ini dinyatakan secara lebih jelas oleh Ro 6:16-17,20-21. Perhatikan khususnya Ro 6:20 yang berbunyi: “Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran”. Istilah ‘bebas dari kebenaran’ itu jelas menunjukkan bahwa manusia berdosa itu tidak bisa berbuat apapun yang benar!

· Yoh 15:4-5 jelas menunjukkan bahwa sama seperti ranting anggur tidak bisa berbuah kalau tidak melekat pada pokok anggur, demikian juga manusia di luar Kristus sama sekali tidak bisa berbuat apapun yang baik.

· Ro 8:7-8 berbunyi: “Sebab keinginan daging adalah perseteruan terha-dap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah”.

· Titus 1:15 berbunyi: “Bagi orang suci semuanya suci; tetapi bagi orang najis dan orang tidak beriman suatupun tidak ada yang suci, karena baik akal maupun suara hati mereka najis”.

Illustrasi: Makhluk yang lahir sebagai monyet akan secara otomatis melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh seekor monyet, seperti naik pohon, makan pisang, berteriak-teriak, dsb. Karena kita lahir sebagai orang berdosa, secara otomatis kita akan melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh orang berdosa, yaitu dosa.

Jadi, dari adanya original sin (= dosa asal), timbul actual sin (= dosa sungguh-sungguh)! Dan actual sin ini terjadi pada waktu terjadi:

¨ pelanggaran terhadap hati nurani (ay 14 bdk. Ro 2:14-15). Ini untuk orang-orang yang tidak mempunyai hukum Taurat / Firman Tuhan.

¨ pelanggaran terhadap hukum Taurat / Firman Tuhan (ay 20 bdk. 1Yoh 3:4). Ini untuk orang-orang yang mempunyai hukum Taurat / Fir-man Tuhan.

Bukti kecondongan kepada dosa dalam pengalaman sehari-hari:

* anak kecil diajar sesuatu yang baik sukar sekali, tetapi diajar memaki gampang sekali.

* semua manusia condong membalas kalau ia dipukul. Tidak ada manusia yang kalau dipukul mempunyai kecondongan untuk berdoa: ‘Ya Bapa ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat’.

* orang bisa tahan mendengar pelajaran sekolah atau nonton TV selama berjam-jam, tetapi pada waktu mendengar khotbah hanya tahan 30 menit atau 1 jam (kalau sudah bisa mendengar Firman Tuhan selama 1 jam, itu mungkin sekali disebabkan karena adanya pekerjaan Tuhan dalam dirinya).

* orang bisa tahan berjam-jam pada waktu membaca novel, majalah, buku silat, buku-buku duniawi yang lain, tetapi pada waktu membaca Kitab Suci hanya tahan 5 menit.

* murid / mahasiswa pasti senang kalau gurunya sakit sehingga tidak bisa mengajar. Bukankah seharusnya mereka menjadi sedih / kasihan?

Memang, manusia bisa melakukan kebaikan-kebaikan sosial / lahiriah, misalnya pada waktu melihat orang miskin / menderita lalu menolongnya, bahkan tanpa pamrih. Tetapi apakah itu bisa disebut sebagai perbuatan baik di hadapan Allah? Tidak! Mengapa? Karena dalam pandangan Tuhan, supaya suatu perbuatan bisa disebut baik, maka harus dipenuhi syarat-syarat ini:

a) Perbuatan baik itu harus timbul dari iman.

· Ro 14:23b - “Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa”.

· Ibr 11:6a - “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah”.

Perlu ditekankan di sini bahwa yang dimaksud dengan ‘iman’ adalah ‘iman kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat’. Jadi, ‘iman’ di sini tidak bisa diartikan ‘iman dalam agama lain’, ataupun ‘iman kepada Kristus sebagai dokter, penyembuh, pemberi berkat, dsb’.

b) Perbuatan baik itu harus dilakukan untuk kemuliaan Allah.

1Kor 10:31 berbunyi: “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah”.

c) Perbuatan baik itu harus dilakukan karena cinta kepada Allah.

Yoh 14:15 - “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahKu”.

Semua ini tidak mungkin bisa dilakukan oleh orang yang ada di luar Kristus! Bdk. Ro 3:10,11,18.

Kalau hal-hal ini (point a-c) tidak dipenuhi, maka bisalah dikatakan bahwa pada waktu orang itu melakukan ‘perbuatan baik’, ia melakukannya tanpa mempedulikan Allah! Bisakah ‘perbuatan baik’ seperti itu disebut baik?

Penerapan:

· Kalau saudara percaya bahwa seseorang bisa selamat / masuk surga karena berbuat baik, maka renungkan bagian ini, dan bertobatlah dari doktrin / kepercayaan sesat itu! Manusia tidak bisa berbuat baik, dan karena itu membutuhkan Kristus sebagai Juruselamatnya untuk bisa selamat / masuk surga!

· Masihkah saudara percaya bahwa semua agama lain (yang meng-andalkan perbuatan baik manusia) bisa memberikan keselamatan?

Cynddylan Jones mengomentari Ef 2:8-9 sebagai berikut:

“You might as well try to cross the Atlantic in a paper boat as to get to heaven by your own good works” (= Kamu bisa mencoba menyeberangi Lautan Atlantik dalam sebuah perahu kertas sama seperti kamu mau ke surga dengan perbuatan-perbuatan baikmu sendiri).

Martin Luther:

“The most damnable and pernicious heresy that has ever plagued the mind of men was the idea that somehow he could make himself good enough to deserve to live with an all-holy God” (= Ajaran sesat yang paling terkutuk dan jahat / merusak yang pernah menggoda pikiran manusia adalah gagasan bahwa entah bagaimana ia bisa membuat dirinya sendiri cukup baik sehingga layak untuk hidup dengan Allah yang mahasuci) - Dr. D. James Kennedy, ‘Evangelism Explosion’, hal 31-32.

3) Maut / kematian bagi semua manusia (ay 12,15a).

Maut datang baik karena original sin / dosa asal, maupun karena actual sin (dosa sungguh-sungguh).

Ada orang yang takut mati, dan ada orang yang berani mati; ada orang yang menjaga kesehatan, ada orang yang tidak mempedulikan kese-hatan; tetapi semua orang tetap akan mati (Ibr 9:27).

Maut / kematian ini tidak hanya menunjuk pada kematian jasmani, tetapi juga pada kematian kedua / neraka (Wah 21:8).

Kesimpulan: dari dosa Adam yang kelihatannya sepele, seluruh umat manusia menerima akibat yang luar biasa hebatnya.

II) Kasih karunia Allah.

Kita seringkali menyesali dosa Adam ini. Andaikata Adam tidak jatuh, alangkah enaknya:

· ada damai dan sukacita.

· tidak ada penderitaan, penyakit, kematian.

· tidak ada dosa.

· kita ada di taman Eden, bisa makan buah-buahan tanpa bayar.

Tetapi sebetulnya kita tidak perlu sedih atau menyesal. Ro 5 ini memberikan Kabar Baik bagi kita. Mari kita membaca Ro 5:15 yang berbunyi:

“Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karuniaNya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus”.

1) Apakah kasih karunia itu?

Kasih karunia Allah adalah sesuatu yang ada dalam diri Allah yang menyebabkan Ia memberikan karunia-karunia kepada kita sekalipun kita sama sekali tidak layak menerimanya.

Sebagai orang berdosa, kita layaknya dibuang ke dalam neraka. Tetapi adanya kasih karunia ini menyebabkan Allah bertindak lain. Allah datang ke dalam dunia dalam diri Yesus Kristus, hidup suci, menderita dan mati di kayu salib untuk memikul hukuman dosa kita, untuk menyelamatkan kita.

2) Akibat kasih karunia Allah.

Kalau pelanggaran Adam mempunyai akibat, maka kasih karunia Allah juga mempunyai akibat. Tetapi kalau pelanggaran Adam mempunyai akibat yang menjatuhkan, maka kasih karunia Allah itu mempunyai akibat yang mengangkat dari kejatuhan itu.

Sekarang perhatikan kata-kata ‘jauh lebih besar’ dalam ay 15 itu. Kasih karunia Allah dalam Yesus Kristus jauh lebih besar dari pelanggaran Adam. Karena itu pengangkatan yang ditimbulkan oleh kasih karunia ini juga jauh lebih besar dari pada kejatuhan yang ditimbulkan oleh kejatuhan Adam.

Sekarang mari kita pelajari apa akibat kasih karunia Allah itu:

a) Pembenaran (ay 16).

Kalau saudara sudah sadar dan percaya akan akibat dosa Adam, yang menyebabkan semua manusia berdosa dan condong kepada dosa, maka karena kasih karunia Allah itu jauh lebih besar dari pelanggaran Adam, maka saudara harus lebih percaya lagi bahwa orang yang menerima kasih karunia Allah dalam Yesus Kristus itu akan dibenarkan / dianggap benar oleh Allah.

b) Hidup (ay 17).

Perhatikan kata-kata ‘lebih benar lagi’ dalam ay 17! Ini disebabkan karena kasih karunia Allah yang tadi dikatakan jauh lebih besar dari pelanggaran Adam (ay 15).

Kalau pelanggaran Adam mengakibatkan maut / kematian, maka kasih karunia Allah dalam Yesus Kristus mengakibatkan kita hidup.

Dan ingat bahwa ini adalah posisi yang lebih aman dari pada posisi Adam sebelum jatuh ke dalam dosa. Mengapa bisa demikian? Karena Adam pada saat itu hanya mempunyai hidup bersyarat. Selama ia tidak jatuh ke dalam dosa, ia hidup. Tetapi kalau ia jatuh ke dalam dosa, ia mati.

Tetapi bagi kita yang menerima kasih karunia Allah dalam Yesus Kristus, kita menerima hidup kekal. Tanpa syarat! Kita tidak mungkin lagi binasa. Ini terlihat dari Yoh 10:27-29 yang berbunyi:

“Domba-dombaKu mendengarkan suaraKu dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal ke-pada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganKu. BapaKu, yang memberikan mereka kepadaKu, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa”.

c) Persekutuan yang lebih indah dengan Allah.

Persekutuan Adam dengan Allah adalah persekutuan antara makhluk dengan penciptanya, tetapi persekutuan kita (orang yang percaya kepada Yesus) dengan Allah adalah persekutuan antara anak dengan Bapanya.

Adam hanya dekat dengan Allah, tetapi Allah tinggal di dalam kita (Yoh 14:16-17).

d) Tempat yang lebih indah.

Adam tinggal di taman Eden dan kalau Adam dan keturunannya terus hidup suci, mungkin sekali semua manusia akan tetap tinggal di Eden. Tetapi sekarang kita yang telah menerima kasih karunia Allah dalam Yesus Kristus akan tinggal bukan di taman Eden, tetapi di surga.

III) Apa yang harus kita lakukan?

Akibat dosa Adam secara otomatis menimpa semua keturunannya, tetapi akibat kebenaran Yesus Kristus tidak secara otomatis dialami semua orang.

Kata-kata ‘semua orang’ dalam ay 15,19 seharusnya adalah ‘banyak orang’.

Kata-kata ‘semua orang’ dalam ay 18 memang adalah ‘semua orang’, tetapi pada waktu menafsirkannya, kita harus menafsirkannya dengan melihat pada bagian-bagian Kitab Suci yang lain, seperti 1Kor 15:22, sehingga artinya adalah: ‘semua orang dalam Kristus’ atau ‘semua orang yang percaya ke-pada Kristus’.

Kita ada dalam Adam karena keturunan (otomatis), tetapi kita ada dalam Kristus karena iman.

Calvin:

“Hence, in order to partake the miserable inheritance of sin, it is enough for thee to be man, for it dwells in flesh and blood; but in order to enjoy the righteousness of Christ it is necessary for thee to be a believer; for a participation of him is attained only by faith” (= Jadi, untuk mengambil bagian dalam warisan dosa yang menyedihkan, cukup bagimu untuk menjadi manusia, karena itu tinggal dalam daging dan darah; tetapi untuk menikmati kebenaran Kristus engkau harus menjadi orang percaya; karena pengambilan bagian dari Dia didapatkan hanya dengan iman).

Jadi, untuk bisa masuk ke neraka cukup bagi saudara untuk berdiam diri. Sejak lahir saudara ada di dalam Adam, sehingga dengan berdiam diri saja, itu sudah cukup untuk membawa saudara ke dalam neraka. Tetapi kalau saudara ingin masuk surga, saudara harus percaya kepada Yesus dan menerimaNya sebagai Tuhan dan Juruselamat saudara!

Calvin:

“Not even the least drop of life can be found out of Christ” (= tidak setetes kehidupan yang terkecil sekalipun dapat ditemukan / didapatkan di luar Kristus).

Karena itu jangan mencari keselamatan di luar Kristus! Sudahkah / maukah saudara datang dan percaya kepada Yesus?

-AMIN-

6.Kenaikan Kristus ke surga

Kisah Para Rasul 1:1-11

I) Antara kebangkitan dan kenaikan.

Yesus masih ada di dunia ini selama 40 hari antara kebangkitanNya dan kenaikanNya ke sorga (ay 3).

1) TujuanNya adalah untuk membuktikan bahwa Ia betul-betul bangkit dari antara orang mati, dan betul-betul hidup (ay 3).

Kisah para rasul 1: 3: “Kepada mereka Ia menunjukkan diriNya setelah penderitaanNya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah”.

NIV: ‘and gave many convincing proofs that he was alive’ (= dan memberikan banyak bukti-bukti yang meyakinkan bahwa Ia hidup).

KJV/Lit: ‘To whom also he shewed himself alive after his passion by many infallible proofs’ (= Kepada siapa Ia juga menunjukkan diriNya sendiri hidup setelah penderitaanNya oleh banyak bukti-bukti yang tidak bisa salah).

Charles Haddon Spurgeon:

“Our Saviour would not go to heaven till he had settled the fact of his resurrection upon a basis which can never be shaken” (= Juruselamat kita tidak akan pergi ke sorga sampai Ia telah menetapkan fakta kebangkitanNya pada dasar yang tidak akan bisa digoyahkan) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 4, hal 425.

Ini menunjukkan betapa pentingnya kepercayaan / keyakinan pada kebangkitan Kristus (bdk. Ro 10:9 1Kor 15:3-4). Sudahkan saudara percaya bahwa Yesus bangkit dari antara orang mati?

2) Dalam 40 hari itu ada perbedaan yang besar dalam hidup Yesus dibandingkan sebelum ia mati, yaitu tidak adanya pencobaan, serangan, dsb, terhadap diriNya dari tokoh-tokoh Yahudi maupun pemerintah Romawi.

Charles Haddon Spurgeon:

“I might almost say that those days were the prelude of his glory, a sort of anticipation of his reign of peace, when he shall stand in the latter day upon the earth, and wars shall cease unto the end of the earth” (= Saya hampir bisa mengatakan bahwa hari-hari itu adalah pendahuluan dari kemuliaanNya, semacam pengharapan tentang pemerintahanNya yang penuh damai, pada waktu Ia akan berdiri pada hari terakhir di bumi ini, dan peperangan akan berhenti sampai ujung bumi) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 4, hal 425.

Penerapan:

Dalam mengikuti dan melayani Kristus pada saat ini, memang ada banyak serangan terhadap diri kita / gereja. Tetapi dengan melihat pada kehidupan Kristus di bumi ini selama 40 hari antara kebangkitanNya dan kenaikanNya ke surga, kita boleh yakin bahwa ada suatu saat kelak, kitapun akan bebas dari semua serangan itu! Tetapi sementara semua serangan itu masih ada, bertekunlah dalam mengikut dan melayani Kristus!

II) Kenaikan ke surga.

1) Sifat kenaikan Kristus ke surga.

a) Kenaikan Kristus ke surga, adalah suatu peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi / bersifat historis, dan bukan sekedar merupakan perumpamaan, illustrasi dsb.

Lukas menceritakan kenaikan Kristus ke surga baik dalam Injil Lukas (Luk 24:50-53) maupun dalam Kisah Rasul (Kis 1:1-11). Karena peristiwa kenaikan Kristus ke sorga ini ada dalam Kitab Suci / Firman Tuhan, maka tidak percaya pada kenaikan Kristus ke surga adalah sama dengan tidak percaya pada Kitab Suci / Firman Tuhan.

Gereja Roma Katolik percaya bahwa Maria juga naik ke surga dengan tubuh jasmaninya, tetapi karena hal ini tidak ada dasar Kitab Sucinya, maka tentu saja kita tidak mempercayainya. Agama lain juga ada yang percaya bahwa tokoh mereka naik ke surga, tetapi juga tidak ada dalam Kitab Suci kita dan karena itu juga tidak kita terima / percayai. Tetapi kenaikan Kristus ke surga ada dalam Kitab Suci dan itu harus kita terima sebagai kebenaran.

b) Kenaikan Kristus ke surga adalah suatu kenaikan yang bersifat jasmani.

Kebangkitan, kenaikan ke surga dan kedatangan Kristus keduakalinya semuanya bersifat jasmani. Jadi, tubuhNya betul-betul naik ke surga dan karena tubuhNya memang tidak maha ada, maka sekarang Ia tidak lagi hadir secara jasmani di dunia ini.

Dalam Mat 26:11 Yesus berkata: “Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu”. Tentu Yesus mengucapkan Mat 26:11 ini dalam arti jasmani, dan ini secara jelas menunjukkan bahwa Ia tidak lagi bersama kita secara jasmani!

Doktrin Perjamuan Kudus dari orang Roma Katolik maupun Lutheran, yang mempercayai kehadiran secara jasmani dari Kristus pada Perjamuan Kudus, jelas merupakan doktrin yang salah!

Charles Haddon Spurgeon:

“It is a vain idea of carnal-minded men that Christ is corporeally in the sacrament. He is gone into heaven. ... to say that he is here corporeally, is to deny that he is gone up into heaven” (= Merupakan gagasan sia-sia dari orang-orang yang berpikir secara daging bahwa Kristus hadir secara jasmani dalam sakramen. Ia telah pergi ke surga. ... mengatakan bahwa ia ada di sini secara jasmani berarti menyangkal bahwa Ia telah pergi ke surga) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 4, hal 427.

Orang Calvinist / Reformed percaya bahwa dalam Perjamuan Kudus, Kristus hadir secara rohani!

c) Kristus naik secara perlahan-lahan ke atas / ke surga (ay 9,11).

Mengapa Ia tidak tahu-tahu menghilang begitu saja? Mengapa Ia harus naik perlahan-lahan ke atas / ke surga? Karena Ia ingin murid-muridNya dan kita semua tahu bahwa Ia memang naik ke surga, bukan sekedar hilang begitu saja.

Dengan demikian, sekalipun kita tahu bahwa sekarang Ia tidak hadir secara jasmani di dunia ini, tetapi kita tahu bahwa Ia tetap hidup terus di surga. Kita mempunyai seorang Juruselamat yang hidup selama-lamanya!

2) Kenaikan Kristus ke surga tidak ditunjukkan kepada semua orang.

Mengapa? Calvin menjawab sebagai berikut: “Now as he did not, after his resurrection, appear indiscriminately to all, so he did not permit all to be the witnesses of his ascension to heaven; for he intended that this mystery of faith should be known by the preaching of the gospel rather than beheld by the eyes” (= Sebagaimana setelah kebangkitanNya Ia tidak menunjukkan diriNya kepada semua orang, demikian juga Ia tidak mengijinkan semua orang menjadi saksi-saksi kenaikanNya ke surga; karena Ia menghendaki bahwa misteri iman ini diketahui melalui pemberitaan Injil dan bukannya dengan dilihat dengan mata).

Penerapan:

· Ini menunjukkan bahwa saudara harus memberitakan Injil / Firman Tuhan.

· Ini menunjukkan bahwa pemberitaan Injil / Firman Tuhan jauh lebih penting dari kesaksian siapapun yang mengalami apapun! Kalau memang pengalaman lebih penting dari pada Firman Tuhan / Injil, pasti Yesus menunjukkan Kebangkitan dan KenaikanNya ke sorga kepada semua orang! Karena itu jangan menjadi orang kristen yang lebih senang mendengar khotbah yang dipenuhi kesaksian, dari pada khotbah yang betul-betul menguraikan Firman Tuhan!

3) Fungsi / tujuan kenaikan Kristus ke surga.

a) Untuk menunjukkan bahwa misiNya untuk menebus dosa kita sudah selesai (Yoh 17:4-5).

Bapa, yang mengutus Yesus untuk turun ke dunia dan mem­bereskan dosa manusia, pasti tidak akan mau menerima Yesus kembali di surga, kalau misi Yesus itu belum selesai. Bahwa Bapa menerima Yesus kembali di surga, menunjukkan bahwa misi penebusan dosa manusia itu memang sudah sele­sai. Jadi, sama seperti kebangkitanNya, maka kenaikan Yesus ke surga juga merupakan fakta / faktor yang menjamin kesela­matan orang percaya.

b) Untuk menunjukkan bahwa kita yang percaya kepadaNya juga akan naik ke surga (Yoh 14:2-3 Yoh 17:24 Ef 2:6).

Jadi, sama seperti kebangkitanNya, kenaikanNya ke surga juga merupakan pola yang akan diikuti oleh semua orang yang percaya kepadaNya.

Charles Haddon Spurgeon:

· “If he was humiliated for us, he is also exalted for us” (= Jika Ia telah direndahkan untuk kita, Ia juga ditinggikan untuk kita) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 4, hal 423.

· “It is not only that he is partaker of our lowliness, but we are partaker of his exaltation” (= Bukan hanya bahwa Ia mengambil bagian dalam kerendahan kita, tetapi kita juga mengambil bagian dalam pemuliaanNya) ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 4, hal 423.

· “Jesus is gone there as Pioneer to open the way, as our Friend to prepare a place for us, and as the Pledge that all who are in him shall come to the same felicity. If he had not entered, neither could we; but in his person God has given to us a token that we also shall rise from the dead, and shall enter into heaven” (= Yesus pergi ke sana sebagai Perintis / Pelopor untuk membuka jalan, sebagai Teman kita untuk menyiapkan tempat bagi kita, dan sebagai Jaminan bahwa semua yang ada di dalam Dia akan datang pada kebahagiaan yang sama. Jika Ia tidak masuk, kita juga tidak bisa masuk; tetapi dalam diri Yesus Allah telah memberikan kepada kita suatu tanda bahwa kita juga akan bangkit dari kematian, dan akan masuk ke sorga) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 4, hal 429.

· “The history of the church is to be the history of Christ repeated: she is to be betrayed, she is to be scourged, she is to be falsely accused and spitted on; she may have her crucifixion and her death; but she shall rise again. Her Master rose, and like him she shall rise and receive glory. You can never kill the church till you can kill Christ; and you can never defeat her till you defeat the Lord Jesus, who already wears the crown of triumph” (= Sejarah gereja adalah sejarah Kristus yang terulang: gereja akan dikhianati, gereja akan disesah, gereja akan difitnah dan diludahi; gereja mungkin akan disalib dan mati; tetapi gereja akan bangkit kembali. Tuannya bangkit, dan seperti Dia gereja akan bangkit dan menerima kemuliaan. Kamu tidak akan pernah bisa membunuh gereja sampai kamu bisa membunuh Kristus; dan kamu tidak akan pernah bisa mengalahkan gereja sampai kamu mengalahkan Tuhan Yesus, yang telah mengenakan mahkota kemenangan) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 4, hal 433.

c) Supaya Roh Kudus turun.

Yoh 16:7 - “Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu”.

Setelah Kristus naik ke surga, maka Kristus tidak lagi menyertai orang percaya secara jasmani (Mat 26:11), tetapi dengan turunnya Roh Kudus, Ia menyertai orang percaya secara rohani (Yoh 14:16,18,19). Dengan demikian Ia bisa menggenapi janjiNya dalam ayat-ayat seperti Mat 18:20 Mat 28:20b. Karena itu, perubahan tempat bagi tubuh Yesus ini, tidak boleh menciptakan jarak antara kita dengan Dia dalam hati kita, karena Yesus tetap hadir bersama kita secara rohani / melalui Roh KudusNya.

d) Spurgeon mengatakan bahwa salah satu tujuan kenaikan Yesus ke surga adalah supaya kita tidak krasan di dunia ini, tetapi juga ingin ke surga supaya bisa bersama-sama dengan Dia.

Spurgeon:

“We are not at home on earth. If he were here we might think this world could be our abiding place; but it cannot be so now” (= Kita belum ada di rumah di bumi ini. Andaikata Ia ada di sini, kita mungkin akan berpikir bahwa dunia ini bisa menjadi tempat tinggal kita yang tetap, tetapi sekarang hal seperti itu tidak bisa terjadi) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 4, hal 426.

4) Apa yang Yesus lakukan di sorga.

a) Yesus tetap melakukan tugasNya sebagai Nabi.

Ada 3 periode sehubungan dengan jabatan Yesus sebagai nabi:

· Masa di antara kejatuhan Adam sampai baptisan Yesus.

Di sini Yesus melakukan tugas kenabianNya melalui Theophani (Allah yang menyatakan diri dalam rupa / bentuk manusia) dan melalui nabi-nabi Perjanjian Lama.

· Masa di antara baptisan Yesus sampai Kenaikan Yesus ke surga.

Di sini Yesus melakukan sendiri tugas kenabianNya.

· Masa di antara Kenaikan Yesus ke surga sampai kedatangan Yesus yang keduakalinya.

Di sini Yesus melakukan tugas kenabianNya melalui Roh Kudus, rasul-rasulNya, hamba-hambaNya dan orang-orang kristen (Yoh 14:26 16:12-15 Kis 1:8).

Sekarang kita lihat ay 1. Dalam buku yang pertama (yaitu Injil Lukas), Lukas menceritakan apa yang dilakukan dan diajarkan oleh Yesus sampai Ia terangkat. Secara implicit Lukas berkata: Sekarang, dalam buku yang kedua (yaitu Kisah Rasul), aku akan menceritakan apa yang Yesus kerjakan dan ajarkan sejak Ia terangkat.

Dan memang Kisah Rasul menceritakan penyebaran Injil / Firman Tuhan, dan pertumbuhan gereja.

b) Yesus juga tetap melakukan tugasNya sebagai Imam (Ibr 4:14 7:24-25 8:1-6 1Yoh 2:1).

Charles Haddon Spurgeon:

“I delight to think that my Lord is with the Father. Sometimes I cannot get to God, my access seems blocked by my infirmity; but he is always with God to plead for me” (= Saya senang memikirkan bahwa Tuhan saya ada bersama dengan Bapa. Kadang-kadang saya tidak bisa datang kepada Allah, jalan masuk saya kelihatannya terhalang oleh kelemahan saya; tetapi Ia selalu bersama dengan Bapa untuk memohon bagi saya) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 4, hal 427.

c) Yesus mempersiapkan tempat bagi kita di surga (Yoh 14:2).

Tempat di surga tidak sama rata! Ada perbedaan pahala dan kemuliaan (Luk 19:16-19 1Kor 3:10-15 Mat 5:19 Mat 6:20 Mat 11:11 Mat 20:20-28 1Kor 9:24-27 Wah 22:12).

Memang masuk surga atau tidak, hanya tergantung pada apakah kita percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat atau tidak, tetapi tingkat di surga tergantung kehidupan kita, seperti:

· besarnya iman terhadap janji-janji Tuhan.

· kasih kepada Allah.

· ketaatan / tindakan membuang dosa.

· pelayanan / Pemberitaan Injil.

· persembahan.

· dsb.

III) Tanggung jawab kita.

1) Jangan hanya merenungkan surga tetapi tidak melakukan apa-apa.

Ay 10-11: murid-murid yang terus memandangi langit ditegur oleh malaikat.

Ay 11: ‘Hai orang-orang Galilea’.

Ini untuk mengingatkan bahwa mereka belum waktunya masuk surga, mereka masih orang Galilea, masih orang yang hidup di dunia.

2) Kita harus memberitakan Injil.

Ada banyak perintah Tuhan, tetapi ada satu perintah yang sangat ditekankan. Ini terbukti dari diberikannya perintah itu persis sebelum Yesus naik ke surga. Perintah apa itu?

Perintah itu adalah perintah untuk memberitakan Injil.

a) Ay 2: ‘perintah’ menunjuk pada perintah untuk memberitakan Injil (Mat 28:19-20).

b) Ay 8: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi”.

· Ay 8 yang merupakan thema Kisah Rasul ini, jelas merupakan perintah Tuhan untuk memberitakan Injil.

Perintah untuk memberitakan Injil ini berlaku untuk setiap orang kristen (bdk. Mat 28:19-20). Ingat bahwa sekalipun Amanat Agung dalam Mat 28:19-20 itu sebetulnya diberikan hanya kepada 11 rasul, tetapi dalam ayat itu juga rasul-rasul itu lalu diperintahkan untuk mengajarkan segala perintah Yesus kepada orang-orang yang dijadikan murid. Dengan demikian mereka juga harus mengajarkan perintah Yesus untuk memberitakan Injil. Bandingkan juga dengan Kis 8:1,4 yang menunjukkan bahwa jemaat biasa juga memberitakan Injil.

Karena Pemberitaan Injil adalah perintah Tuhan bagi kita, maka kalau kita tidak melakukan Pemberitaan Injil, kita berdosa (dosa pasif). Bdk. Hak 5:23 Yer 48:10 Yeh 3:18-19 Mat 12:30.

· Dimana / kepada siapa kita harus memberitakan Injil? Ay 8: Yerusalem, Yudea, Samaria, ujung bumi.

* ‘mulai dari Yerusalem’ (bdk. Luk 24:47).

Þ ini adalah kota dimana Kristus ditangkap, diadili, difitnah, disiksa dan dibunuh. Tetapi dari kota inilah Kristus memerintahkan penginjilan dimulai! Inilah kasih yang melampaui akal kita!

Þ Yerusalem bisa diartikan sebagai ‘orang-orang terdekat’.

Karena itu dalam memberitakan Injil, kita harus mulai dari orang-orang yang terdekat dengan kita, baru orang-orang yang jauh. Ada banyak orang kristen memberitakan Injil kepada yang jauh, tetapi melupakan keluarga / anak sendiri! Ini jelas salah!

Penerapan: sudahkah saudara memberitakan Injil kepada keluarga saudara?

* penginjilan tidak boleh dilakukan hanya terhadap bangsa tertentu saja, tetapi terhadap semua orang / bangsa (ay 8 - ‘Samaria’ dan ‘ujung bumi’. Bdk. Mat 28:19 - ‘semua bangsa’; Luk 24:47 - ‘segala bangsa’).

Dulu ada tembok pemisah:

Þ dalam Bait Allah, Orang Yahudi terpisah tempatnya dengan orang non Yahudi.

Þ Pemberitaan Injil hanya dilakukan kepada orang Yahudi (Mat 10:5-7).

Tetapi dengan adanya kematian dan kebangkitan Kristus, tembok pemisah itu telah hancur (Ef 2:14) dan karena itu:

à sekarang pemberitaan Injil harus dilakukan terhadap semua bangsa.

à dalam gereja tidak boleh ada tembok pemisah. Ini dinyatakan dalam kata-kata ‘Gereja yang kudus dan am’ dalam 12 Pengakuan Iman Rasuli.

* bukan yang dekat saja, tetapi juga yang jauh. Tetapi ay 8 ini tidak berarti bahwa setiap orang kristen harus pergi ke ujung bumi. Ingat bahwa perintah ini diberikan kepada gereja secara kolektif. Injil memang harus tersebar kemana-mana, tetapi setiap orang kristen mempunyai ‘ladang’ sendiri-sendiri yang ditentukan oleh Tuhan. Jadi tidak setiap orang harus menjadi misionaris! Ada yang dipanggil untuk menjadi misionaris dan memberitakan Injil kepada ‘yang jauh’. Tetapi ada yang dipanggil untuk memberitakan Injil kepada ‘yang dekat’. Setiap orang kristen harus berdoa untuk mencari pimpinan Tuhan dalam persoalan ini.

· Sebetulnya ay 7-8 menjawab pertanyaan murid-murid dalam ay 6.

Ay 6 menunjukkan 4 hal yang salah dalam pemikiran / pengertian / diri mereka:

* mereka mengira bahwa kerajaan Yesus / Mesias adalah kerajaan duniawi. Ini terlihat dari kata ‘memulihkan’. Dulu Israel merdeka, sekarang dijajah, dan mereka ingin Yesus memulihkan kerajaan Israel itu.

* mereka mau kerajaan tanpa berjuang. Mereka mengira bahwa Mesias akan membebaskan mereka tanpa perjuangan dari pihak mereka. Ini terlihat dari kata-kata ‘maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?’.

* mereka menganggap kerajaan itu terbatas untuk Israel. Ini terlihat dari kata-kata ‘bagi Israel’.

* mereka ingin tahu apa yang adalah rahasia Allah.

Jawaban Yesus terhadap pertanyaan murid-murid (ay 7-8):

à ay 7: tak perlu tahu waktu yang ditetapkan oleh Bapa.

à ay 8:

Þ Kerajaan Allah dibangun / diperluas dengan Pemberitaan Injil. Ini jelas menunjukkan bahwa kerajaan itu bukan kerajaan duniawi tetapi kerajaan rohani.

Þ mereka harus berjuang melalui Pemberitaan Injil.

Þ Kerajaan Allah bukan mencakup Israel saja, tetapi juga bangsa-bangsa lain

Penutup / kesimpulan:

Kalau saudara percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat saudara, saudara memang pasti akan masuk ke surga. Surga itu memang enak, menyenangkan, tetapi bagaimanapun juga, jangan hanya merenung tentang surga. Saudara punya tugas selama saudara belum masuk surga, yaitu Pemberitaan Injil. Maukah saudara melakukanlah tugas saudara dalam Pemberitaan Injil?

-AMIN-

7.BERKAT Yesus kepada kita

LUKAS 24:50-53

I) Tempat dimana Yesus naik ke surga.

Lukas 24: 50: ‘Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania’.

Tetapi dalam Kis 1:12 dikatakan: ‘Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit yang disebut Bukit Zaitun, yang hanya seperjalanan Sabat jauhnya dari Yerusalem’. Kis 1:12 ini menceritakan peristiwa yang terjadi persis setelah Yesus naik ke surga, dan karena itu ayat ini jelas menunjukkan bahwa tempat dimana Yesus naik ke surga itu adalah Bukit Zaitun.

Ini bukan kontradiksi, karena ay 50 itu bukan berkata ‘Betania’ tetapi ‘dekat Betania’. NIV: ‘the vicinity of Bethany’ (= daerah sekitar Betania). Betania memang terletak di lereng sebelah Timur bukit Zaitun.

Matthew Henry: “Whence he ascended: from Bethany, near Jerusalem, adjoining to the mount of Olives. There he had done eminent services for his Father’s glory, and there he entered upon his glory. There was the garden in which his sufferings began, there he was in his agony; and Bethany signifies the house of sorrow. Those that would go to heaven must ascend thither from the house of sufferings and sorrow, must go by agonies to their joys” (= Dari mana Ia naik: dari Betania, dekat Yerusalem, berbatasan / berdampingan dengan bukit Zaitun. Di sana Ia telah melakukan pelayanan-pelayanan yang terkenal untuk kemuliaan BapaNya, dan di sana Ia masuk kepada kemuliaanNya. Di sana ada taman dimana penderitaanNya mulai, di sana Ia ada dalam penderitaanNya yang mendalam; dan Betania berarti ‘rumah kesedihan’. Mereka yang mau pergi ke surga harus naik ke sana dari rumah penderitaan dan kesedihan, harus pergi oleh penderitaan-penderitaan kepada sukacita mereka).

II) Kenaikan Kristus ke surga.

1) Hanya murid-muridNya yang melihat Ia naik ke surga.

Matthew Henry: “Who were the witnesses of his ascension: He led out his disciples to see him. Probably, it was very early in the morning that he ascended, before people were stirring; for he never showed himself openly to all the people after his resurrection, but only to chosen witnesses” (= Siapa saksi-saksi dari kenaikanNya: Ia membimbing murid-muridNya keluar untuk melihat Dia. Mungkin, Ia naik ke surga pada dini hari, sebelum orang-orang keluar; karena Ia tidak pernah menunjukkan diriNya secara terbuka kepada semua orang setelah kebangkitanNya, tetapi hanya kepada saksi-saksi pilihan).

Calvin: “Now as he did not, after his resurrection, appear indiscriminately to all, so he did not permit all to be the witnesses of his ascension to heaven; for he intended that this mystery of faith should be known by the preaching of the gospel rather than beheld by the eyes” (= Sebagaimana setelah kebangkitanNya Ia tidak menunjukkan diriNya kepada semua orang, demikian juga Ia tidak mengijinkan semua orang menjadi saksi-saksi kenaikanNya ke surga; karena Ia menghendaki bahwa misteri iman ini diketahui melalui pemberitaan Injil dan bukannya dengan dilihat dengan mata).

2) Saat kenaikan Yesus ke surga.

Adam Clarke: “This was forty days after his resurrection, Acts 1:3, during which time he had given the most convincing proofs of that resurrection, not only to the apostles, but to many others - to upwards of five hundred at one time, 1 Cor. 15:6” (= Ini terjadi 40 hari setelah kebangkitanNya, Kis 1:3, dalam waktu mana Ia telah memberikan bukti-bukti yang paling meyakinkan tentang kebangkitan itu, bukan hanya kepada rasul-rasul, tetapi kepada banyak orang-orang lain - sampai kepada 500 orang pada satu saat, 1Kor 15:6).

Kis 1:3 - “Kepada mereka Ia menunjukkan diriNya setelah penderitaanNya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah”.

NIV: ‘and gave many convincing proofs that he was alive’ (= dan memberikan banyak bukti-bukti yang meyakinkan bahwa Ia hidup).

KJV/Lit: ‘To whom also he shewed himself alive after his passion by many infallible proofs’ (= Kepada siapa Ia juga menunjukkan diriNya sendiri hidup setelah penderitaanNya oleh banyak bukti-bukti yang tidak bisa salah).

Pembuktian kebangkitan ini lagi-lagi berfungsi untuk memperlengkapi murid-murid dalam hal iman. Kepercayaan terhadap kebangkitan Yesus dari antara orang mati, atau kepercayaan bahwa Yesus hidup selama-lamanya adalah sesuatu yang sangat penting bagi orang yang memberitakan Injil.

1Kor 15:6 - “Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal”.

3) Sikap / posisi Yesus pada saat Ia naik ke surga.

Ay 50b-51a - “Di situ Ia mengangkat tanganNya dan memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dengan mereka dan terangkat ke sorga”.

Ayat ini menunjukkan bahwa Yesus sedang memberkati murid-muridNya (dengan tangan terangkat) ketika Ia terangkat ke sorga.

Beberapa hal yang bisa kita pelajari:

a) Memberkati adalah hal yang biasa Ia lakukan terhadap murid-muridNya, dan Ia selalu melakukan hal itu.

Charles Haddon Spurgeon:

“He lifted his hands to bless his disciples again because he had always been blessing them; and he will continue to bless us, brethren, because he has blessed us in the past, and he changes not” (= Ia mengangkat tanganNya untuk memberkati murid-muridNya lagi karena sampai saat itu Ia sudah selalu memberkati mereka; dan Ia akan terus memberkati kita, saudara-saudara, karena Ia telah memberkati kita di masa yang lalu, dan Ia tidak berubah) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 4, hal 416.

Penerapan:

Kalau saudara adalah orang kristen yang sungguh-sungguh, maka sadarilah dan percayalah bahwa Yesus selalu memberkati saudara. Apakah saudara mengalami hal yang enak atau sedang menderita, apakah saudara sedang dalam keadaan sehat atau sakit, apakah saudara sedang mempunyai banyak uang atau dalam kemiskinan, percayalah bahwa Ia selalu memberkati saudara. Apapun hal yang tidak enak yang saudara alami itu, merupakan berkat yang terselubung, yang pasti akan membawa kebaikan bagi saudara, sesuai dengan janji Tuhan dalam Ro 8:28 yang berbunyi: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”.

Memang pada waktu kita mengalami penderitaan, apalagi yang bertumpuk-tumpuk dan berlarut-larut, kita sering berpikir bahwa Allah tidak peduli kepada kita dan bahkan menentang kita. Ada sebuah contoh yang indah tentang hal ini. Untuk itu perhatikan kata-kata Yakub dalam Kej 42:36b yang berbunyi: ‘Aku inilah yang menanggung segala-galanya’. Ini salah terjemahan. Bandingkan dengan terjemahan bahasa Inggris di bawah ini.

NIV: ‘Everything is against me’ (= Segala sesuatu menentang aku).

KJV/NASB: ‘all these things are against me’ (= Semua hal ini menentang aku).

Pulpit Commentary: “So God’s providences are often misinterpreted by his saints” (= Demikianlah providensia Allah sering disalahmengerti / disalah-tafsirkan oleh orang-orang kudusNya).

Adam Clarke: “All these things are against me, said poor desponding Jacob; whereas, instead of being against him, all these things were for him” (= Semua hal-hal ini menentang aku, kata Yakub yang putus asa; padahal semua hal-hal itu bukannya menentang dia, tetapi untuk dia).

Memang, kalau saudara adalah seorang anak Tuhan yang sungguh-sungguh, maka Tuhan tidak pernah dan tidak akan pernah bekerja menentang saudara. Sebaliknya Ia selalu bekerja untuk saudara! Bdk. Ro 8:28 (KJV): “... all things work together for good to them that love God” (= ... segala sesuatu bekerja bersama-sama untuk kebaikan bagi mereka yang mengasihi Allah).

b) Saat itu, Ia memberkati murid-muridNya dengan otoritas yang baru.

Spurgeon mengatakan bahwa pada hari Raya Pendamaian, kalau Imam Besar sudah selesai dengan semua upacara pengorbanan maka ia lalu mengangkat tangannya untuk memberkati bangsa Israel. Berkat ini hanya bisa diberikan pada waktu penebusan / pendamaian sudah selesai dilakukan.

Demikian juga kalau pada saat mau naik ke surga Yesus mengangkat tangan untuk memberkati murid-muridNya, Ia memberkati sebagai Imam Besar yang telah selesai melakukan pendamaian / penebusan, karena Yesus memang baru saja menyelesaikan penebusan di kayu salib.

c) Berkat ini diberikan kepada murid-muridNya.

Memang karena adanya Common Grace (= kasih karunia yang bersifat umum) maka ada berkat untuk semua orang di dunia (ini tentu tidak mencakup pengampunan dosa, keselamatan, pengudusan dsb, tetapi hanya mencakup berkat-berkat jasmani saja!).

Tetapi perlu diingat akan adanya berkat khusus yang hanya diberikan kepada orang percaya / orang pilihanNya.

Sebelum Yesus disalibkan, Yesus berdoa hanya untuk:

1. Murid-muridNya / orang-orang yang sudah percaya kepadaNya.

Yoh 17:9 - “Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepadaKu”.

2. Orang-orang yang akan percaya kepadaNya.

Yoh 17:20 - “Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang yang percaya kepadaKu oleh pemberitaan mereka”.

Sekarang, setelah bangkit dari antara orang mati, dan pada saat Ia akan naik ke surga, Yesus memberikan berkat yang hanya ditujukan untuk murid-muridNya!

Penerapan: Karena itu, kalau saat ini saudara masih ada di luar Kristus, datanglah kepada Kristus, supaya saudarapun menerima berkat khusus ini! Percayalah bahwa kesenangan dunia manapun tidak dapat dibandingkan dengan berkat khusus ini!

d) Kalau Yesus memberkati saudara, maka saudara pasti akan diberkati / betul-betul akan diberkati.

Bileam saja, kalau ia memberkati maka orang yang diberkati akan betul-betul diberkati (Bil 22:6). Lebih-lebih kalau Yesus Kristus memberkati, pastilah orang yang diberkati betul-betul diberkati, karena tidak ada kuasa di surga atau di bumi atau di neraka yang bisa membalikkan berkat yang Ia berikan.

Setan dan anak-anaknya boleh saja berusaha mempersulit hidup kita, tetapi kesulitan yang mereka timbulkan itupun pada akhirnya akan membawa kebaikan bagi kita (bdk. Ro 8:28)! Memang mereka tidak mungkin bisa membalikkan berkat yang Tuhan berikan kepada kita!

e) Pemberian berkat di saat Yesus sudah menyelesaikan seluruh pelayananNya dan akan meninggalkan dunia ini untuk kembali ke surga, adalah suatu hal yang cocok untuk dilakukan oleh Kristus.

Dengan berkat ini seolah-olah Ia berkata: ‘Ini adalah ringkasan dari seluruh hidupKu; Aku hidup untuk memberkati engkau. Ini adalah tujuan akhir dari pengajaranKu, pelayananKu, dan kematianKu, yaitu supaya Aku memberkati engkau’.

f) Tangan yang diangkat untuk memberkati murid-murid itu adalah tangan yang berlubang bekas paku. Ini menunjukkan harga yang harus Ia bayar untuk bisa memberikan berkat kepada kita.

Charles Haddon Spurgeon:

“You are blessed, brother, by the Lord Jesus Christ, but the blessing is given to you by Christ’s pierced hand. Had he never suffered, you could never have been saved” (= Engkau diberkati, saudara, oleh Tuhan Yesus Kristus, tetapi berkat itu diberikan kepadamu oleh tangan Kristus yang berlubang bekas paku. Andaikata Ia tidak pernah menderita, engkau tidak akan pernah bisa diselamatkan) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 4, hal 418.

Bdk. Yes 53:5!

Spurgeon mengatakan lagi: “I think that this action of Christ is an epitome of the gospel, the substance of the whole matter, - pierced hands distributing benedictions” (= Saya berpendapat bahwa tindakan Kristus ini merupakan ringkasan Injil, intisari dari seluruh persoalan, - tangan yang berlubang bekas paku, membagikan berkat) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 4, hal 419.

g) Pada saat Ia memberkati, Ia terangkat ke surga.

Matthew Henry: “While he was blessing them, he was parted from them; not as if he were taken away before he had said all he had to say, but to intimate that his being parted from them did not put an end to his blessing them, for the intercession which he went to heaven to make for all his is a continuation of the blessing. He began to bless them on earth, but he went to heaven to go on with it” (= Sementara Ia sedang memberkati mereka, Ia terpisah dari mereka; bukan seakan-akan Ia diambil sebelum Ia mengatakan semua yang harus dikatakanNya, tetapi untuk menunjukkan bahwa keterpisahanNya dari mereka tidak mengakhiri berkatNya untuk mereka, karena syafaat / perantaraan yang Ia lakukan setelah Ia naik ke surga untuk semua milikNya adalah lanjutan dari berkat tersebut. Ia mulai memberkati mereka di bumi, tetapi Ia pergi ke surga untuk meneruskannya).

III) Sikap murid-murid yang diberkati.

1) Sujud menyembah (ay 52a).

Apakah saudara betul-betul menyadari bahwa Yesus, sekalipun adalah seorang manusia, juga adalah Allah sendiri yang harus disembah? Apakah saudara sering menyembah Yesus, melalui doa, nyanyian, dsb?

Matthew Henry: “Christ expects adoration from those that receive blessings from him. He blessed them, in token of gratitude for which they worshipped him. ... They knew that though he was parted from them, yet he could, and did, take notice of their adorations of him; the cloud that received him out of their sight did not put them or their services out of his sight” (= Kristus mengharapkan pemujaan dari mereka yang menerima berkat-berkat dari Dia. Ia memberkati mereka, dan sebagai tanda terima kasih untuk hal itu mereka menyembahNya. ... Mereka tahu bahwa sekalipun Ia terpisah dari mereka, tetapi Ia bisa memperhatikan, dan memang memperhatikan pemujaan mereka terhadap Dia; awan yang menerima Dia dari penglihatan mereka tidak menghapus mereka atau ibadah mereka dari penglihatanNya).

Barnes’ Notes: “here it is to be remarked, 1. That they offered this worship to an ‘absent’ Saviour. It was ‘after’ he left them and had vanished out of their sight. It was, therefore, an act of religion, and was the ‘first’ religious homage that was paid to Jesus after he had left the world. 2. If ‘they’ worshipped an absent Saviour - a Saviour unseen by the bodily eye, it is right for us to do it. It was an example which we may and should follow. 3. If worship may be rendered to Jesus, he is divine” (= di sini harus diperhatikan, 1. Bahwa mereka memberikan penyembahan ini kepada seorang Juruselamat yang ‘absen’. Itu terjadi ‘setelah’ Ia meninggalkan mereka dan hilang dari penglihatan mereka. Karena itu, itu merupakan tindakan agama, dan merupakan penyembahan agama ‘pertama’ yang diberikan kepada Yesus setelah Ia meninggalkan dunia. 2. Jika ‘mereka’ menyembah seorang Juruselamat yang absen - seorang Juruselamat yang tak terlihat oleh mata jasmani, adalah benar bagi kita untuk melakukannya. Itu merupakan suatu contoh yang boleh dan harus kita ikuti. 3. Jika penyembahan boleh diberikan kepada Yesus, Ia adalah ilahi).

2) Pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita (ay 52b).

Perenungan tentang kenaikan Kristus ke surga ini memang seharusnya memberikan sukacita kepada semua kita yang percaya kepadaNya. Mengapa? Karena sekalipun sekarang kita mungkin mengalami banyak penderitaan, tetapi ada satu saat kelak, kita akan menyusul Tuhan dan Juruselamat kita ke surga. Kematian bukan lagi sesuatu yang menakutkan; kematian berarti bahwa kita pergi kepada Dia di surga. Renungkan ini, dan bersukacitalah di tengah-tengah segala penderitaan saudara!

Jamieson, Fausset & Brown: “Thou art gone up to the Father, O Thou whom my soul loveth! ... But Thou shalt come again, and receive us to Thyself, that where Thou art we may be also” (= Engkau naik kepada Bapa, Ya Engkau yang jiwaku cintai! ... Tetapi Engkau akan datang kembali, dan menerima kami pada diriMu sendiri, sehingga kami bisa berada dimana Engkau berada).

William Barclay: “the ascension gave the disciples the certainty that they had a friend, not only on earth, but in heaven. Surely it is the most precious thing of all to know that in heaven there awaits us that self-same Jesus who on earth was wondrous kind. To die is not to go out into the dark; it is to go to him” (= kenaikan memberi murid-murid kepastian bahwa mereka mempunyai seorang sahabat, bukan hanya di bumi, tetapi di surga. Pastilah itu merupakan hal yang paling berharga dari semua untuk mengetahui bahwa di surga menunggu kita Yesus yang sama yang di bumi luar biasa baiknya. Mati bukanlah pergi ke dalam kegelapan; mati adalah pergi kepada Dia) - hal 299-300.

3) Senantiasa berada dalam Bait Allah dan memuliakan Allah (ay 53).

Matthew Henry: “They attended the temple-service at the hours of prayer. God had not as yet quite forsaken it, and therefore they did not. They were continually in the temple, as their Master was when he was at Jerusalem. The Lord loves the gates of Zion, and so should we. Some think that they had their place of meeting, as disciples, in some of the chambers of the temple which belonged to some Levite that was well affected to them; but others think it is not likely that this either could be concealed from, or would be connived at by, the chief priests and rulers of the temple” (= Mereka menghadiri kebaktian di Bait Allah pada jam doa. Allah belum betul-betul meninggalkannya, dan karena itu mereka juga tidak. Mereka senantiasa ada di Bait Allah, seperti Guru mereka pada waktu Ia ada di Yerusalem. Tuhan mengasihi pintu gerbang Sion, dan kita juga harus demikian. Sebagian orang menganggap bahwa mereka mempunyai tempat pertemuan, sebagai murid-murid, di kamar-kamar dari Bait Allah, yang adalah milik dari orang-orang Lewi yang baik kepada mereka; tetapi orang-orang lain menganggap tidak mungkin bahwa hal ini bisa disembunyikan dari, atau diabaikan oleh, imam-imam kepala dan penguasa-penguasa Bait Allah).

Ini adalah masa transisi, dan karena itu untuk sementara waktu, mereka menjadikan Bait Allah sebagai gereja, dimana mereka bersekutu, belajar Firman Tuhan, dsb.

Ay 53 ini menunjukkan bahwa mereka senantiasa bersekutu dengan sesama saudara seiman, dan bersama-sama memuliakan Allah.

Ada orang kristen yang lebih senang berteman dengan orang kafir. Kalau saudara adalah orang seperti ini, bertobatlah! Ingat bahwa kalau saudara masuk surga nanti, tidak akan ada satupun orang kafir di sana, sehingga kalau saudara tidak senang bersekutu dengan sesama saudara seiman, maka mungkin saudara akan ‘kesepian dan tidak krasan di surga’!

Maukah saudara juga menanggapi berkat Kristus dengan melakukan hal yang sama?

-AMIN-

8.Parakletos

YOHANES 14:16-18

Hari ini adalah hari Pentakosta, hari dimana kita memperingati turun­nya Roh Kudus. Dalam Yohanes 14: 16 Roh Kudus disebut dengan istilah ‘Peno­long’, dalam bahasa Yunaninya adalah PARAKLETOS.

I) Sebutan PARAKLETOS.

1) Sebutan PARAKLETOS ini juga digunakan untuk Kristus dalam 1Yoh 2:1.

Di sini Kitab Suci Indonesia menterjemahkan dengan istilah ‘Pengan­tara’, tetapi NASB/KJV/RSV/NKJV menterjemahkan ‘advocate’ (= Penga­cara / Pembela).

2) Roh Kudus disebut ‘Penolong (PARAKLETOS) yang lain’ (ay 16).

Ada 2 kata bahasa Yunani yang berarti ‘yang lain’ (= another), yaitu ALLOS dan HETEROS. Tetapi kedua kata ini ada bedanya.

W. E. Vine dalam bukunya yang berjudul ‘An Expository Dictionary of New Testament Words’ mengatakan sebagai berikut:

“ALLOS ... denotes another of the same sort; HETEROS ... denotes another of a different sort” (= ALLOS ... menunjuk pada yang lain dari jenis yang sama; HETEROS ... menunjuk pada yang lain dari jenis yang berbeda).

Illustrasi: Di sini ada 1 gelas Aqua. Kalau saya menginginkan 1 gelas Aqua ‘yang lain’, yang sama dengan yang ada di sini, maka saya akan menggunakan kata ALLOS. Tetapi kalau saya menghendaki 1 gelas ‘yang lain’, yang berbeda dengan yang ada di sini, misalnya Coca Cola, maka saya harus menggunakan kata HETEROS, bukan ALLOS.

Kata Yunani yang diterjemahkan ‘yang lain’ dalam Yoh 14:16 bukan­lah HETEROS, tetapi ALLOS. Andaikata yang digunakan adalah HETER­OS, maka itu akan menunjukkan adanya perbedaan sifat antara Yesus dan Roh Kudus, sehingga bisa saja Yesusnya sabar sedangkan Roh Kudusnya tidak, atau Yesus adalah Allah dan seorang yang berpriba­di, sedangkan Roh Kudus bukan. Tetapi karena kata Yunani yang digunakan adalah ALLOS, ini menunjukkan bahwa Roh Kudus, sekalipun adalah PARAKLETOS yang lain dari pada Yesus, tetapi mempunyai sifat-sifat yang sama dengan Yesus.

Karena itu dalam komentarnya tentang ayat ini William Hendriksen mengatakan tentang Roh Kudus sebagai berikut: “He is another Helper, not a different Helper. The word another indicates one like myself, who will take my place, do my work. Hence, if Jesus is a person, the Holy Spirit must also be a per­son” (= Ia adalah Penolong yang lain, bukan Penolong yang berbeda. Kata yang lain menunjukkan seseorang seperti aku sendiri, yang akan mengambil tempatku, melakukan pekerjaanku. Jadi, jika Yesus adalah seorang pribadi, Roh Kudus harus juga adalah seorang pribadi).

William Hendriksen melanjutkan dengan berkata: “For the same reason, if Jesus is divine, the Spirit, too, must be divine” (= Dengan alasan yang sama, jika Yesus bersifat ilahi / adalah Allah, Roh juga harus bersifat ilahi / adalah Allah).

Kesimpulan: sama seperti Yesus, Roh Kudus adalah Allah, dan Roh Kudus adalah seorang pribadi. Ini penting untuk saudara camkan khususnya pada waktu menghadapi Saksi-Saksi Yehuwa, yang menganggap Roh Kudus hanya sebagai ‘kuasa Allah’, dan dengan demikian tidak mempercayai keilahian maupun kepribadian Roh Kudus.

3) Arti dari kata PARAKLETOS.

Kata PARAKLETOS muncul 5 x dalam Perjanjian Baru, yaitu dalam Yoh 14:16 Yoh 14:26 Yoh 15:26 Yoh 16:7 1Yoh 2:1, dan diterjemahkan secara berbeda-beda oleh versi Kitab Suci yang berbeda.

Yoh 14:16 Yoh 14:26 Yoh 15:26 Yoh 16:7 1Yoh 2:1

KS Ind Penolong Penghibur Penghibur Penghibur Pengantara

NASB Helper Helper Helper Helper Advocate

NKJV Helper Helper Helper Helper Advocate

KJV Comforter Comforter Comforter Comforter Advocate

RSV Counselor Counselor Counselor Counselor Advocate

NIV Counselor Counselor Counselor Counselor One who

speaks in

our defense

Keterangan / terjemahan:

Helper = Penolong.

Comforter = Penghibur.

Counselor = Penasehat.

Advocate = Pengacara / Penasehat hukum.

One who speaks in our defense = seseorang yang berbicara untuk membela kita.

Arti kata PARAKLETOS sebenarnya adalah ‘orang yang dipanggil untuk membantu kita’. Dalam hal hukum, ini menunjuk pada ‘pengacara / penasehat hukum / pembela’, dan dalam hal sehari-hari ini menunjuk pada ‘penasehat / penghibur / penolong’.

II) Roh Kudus sebagai Pengacara dan Penghibur.

A) Ada yang beranggapan bahwa arti terkuat dari kata PARAKLETOS adalah ‘pengacara / pembela’.

1) Perlu diketahui bahwa sekalipun Roh Kudus disebut sebagai Pengacara / Pembela kita, tetapi Roh Kudus tidak menjadi Penga­cara / Pembela bagi kita terhadap tuduhan dari Allah / hukum Tuhan. Untuk tuduhan ini, Yesuslah Pengacara / Pembelanya.

1Yoh 2:1 - “Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara (= PARAKLETOS) pada Bapa, yaitu Yesus Kristus yang adil”.

Jadi, setiap kali Allah melihat kita berdosa, dan menuduh / menganggap kita melanggar hukum, maka Yesus akan berkata: ‘Bapa, Aku telah mati disalib untuk menebus dosa itu’. Ini menyebabkan Bapa tidak bisa lagi menuduh kita / orang percaya!

Catatan: awas, jangan menjadikan ini sebagai alasan untuk sembarangan berbuat dosa (mentang-mentang mempunyai Yesus sebagai Pengacara). Baca 1Yoh 2:1 itu sekali lagi, maka saudara akan melihat bahwa pada bagian awalnya rasul Yohanes melarang kita berbuat dosa, dan baru setelah itu ia mengatakan bahwa kalau kita (toh) berbuat dosa / jatuh ke dalam dosa, kita mempunyai Yesus sebagai Pengacara / Pembela.

2) Roh Kudus menjadi Pengacara / Pembela bagi kita terhadap dunia, yaitu pada saat kita diejek, diserang, dianiaya dsb. Sebetulnya Ia bukan menjadi Pengacara bagi kita tetapi Ia menjadi Pengacara di dalam diri kita dengan memberikan kata-kata kepada kita untuk melakukan pembelaan terhadap serangan dari dunia. Bdk. Mat 10:18-20 / Luk 21:14-15 Kis 2:13-40 Kis 4:8-13 Kis 6:9-10.

3) Roh Kudus menjadi Pengacara di dalam diri kita menghadapi tuduhan setan.

Salah satu nama dari Setan dalam Kitab Suci adalah DIABOLOS.

Catatan: Dari kata DIABOLOS itulah diturunkan kata bahasa Inggris ‘devil’, yang berarti ‘an accuser’ (= penuduh, pendakwa) atau ‘a slanderer’ (= pemfitnah).

Setan memberikan bermacam-macam dakwaan:

a) Setan mendakwa manusia di hadapan Allah (Ayub 1:6-11 2:1-5 Wah 12:9-10 Zakh 3:1-dst).

b) Setan mendakwa Allah di depan manusia (Kej 3:1-5).

Karena itu kalau dalam hati / pikiran saudara muncul suatu pemikiran yang jelek tentang Allah (misalnya bahwa Allah tidak peduli kepada saudara, Allah tidak kasih, Allah benci kepada saudara, dsb), sadarilah bahwa setan sedang mendakwa Allah dalam pikiran saudara. Maukah saudara percaya kepada setan, yang adalah bapa segala dusta?

c) Setan mendakwa manusia di dalam hatinya sendiri.

Memang ‘tuduhan berdosa’ dalam hati kita bisa datang dari Allah. Tetapi bisa juga datang dari setan. Bagaimana membedakannya? Kalau datang dari Allah, pasti akan hilang begitu kita bertobat dan mengakui dosa dengan sungguh-sungguh, karena tujuan Tuhan menuduh kita adalah untuk mempertobatkan kita. Tetapi kalau datang dari setan, maka hal ini tidak akan hilang sekalipun kita sudah menyesali dosa / bertobat, karena tujuan setan adalah untuk menghancurkan kita.

Tuduhan setan ini menyebabkan orang yang sudah betul-betul menyesali / bertobat dari dosanya, tetap merasa sedih, dan bahkan bisa ‘binasa dalam kesedihan’ (bdk. 2Kor 2:5-11 2Kor 7:10 Mat 27:3-5).

Warren W. Wiersbe mengatakan:

“See how subtle and merciless Satan really is. Before we sin - while he is tempting us - he whispers, ‘You can get away with this!’ Then after we sin, he shouts at us, ‘You will never get away with this!’” (= Lihatlah betapa licik dan tak-berbelas-kasihannya setan itu. Sebelum kita berbuat dosa - pada saat ia masih mencobai kita - ia berbisik, ‘Kamu bisa meloloskan diri dengan ini!’. Lalu setelah kita berbuat dosa, ia berteriak pada kita, ‘Kamu tidak akan pernah lolos dengan ini!’).

Tuduhan / dakwaan setan terhadap orang yang sudah mengakui dan menyesali dosanya ini menyebabkan orang itu merasakan ‘guilty feeling’ (= perasaan bersalah) yang tidak semestinya. Ini khususnya sering muncul pada saat:

· berdoa / bersaat teduh.

· mau mengikuti Perjamuan Kudus!

· melayani Tuhan.

Setan akan mendakwa kita sedemikian rupa sehingga sekalipun kita sudah mengakui dosa dan menyesalinya dengan sungguh-sungguh, kita lalu merasa tidak layak untuk berdoa / bersekutu dengan Tuhan, ikut Perjamuan Kudus, maupun melayani Tuhan. Dakwaan seperti ini bisa membuat kita sangat menderita / putus asa, dsb.

Terhadap dakwaan semacam inilah Roh Kudus berperan sebagai Pembela / Pengacara. Ia mengingatkan kita akan kasih Allah yang menyebabkanNya selalu mau mengampuni kita dan akan penebusan yang sempurna yang dilakukan oleh Kristus bagi kita. Pembelaan dari Pengacara kita ini membuat kita bisa mengatasi tuduhan setan.

B) Ada beberapa penafsir yang menganggap bahwa arti yang paling kuat dari kata PARAKLETOS adalah ‘Penghibur’.

Ini terlihat dari kontex Yoh 14:16-18 Yoh 15:18-27 Yoh 16:6-7 yang menunjukkan bahwa Roh Kudus diberikan kepada mereka dalam penderitaan dan kesedihan mereka.

Roh Kudus menghibur kita dari apa?

1) Dari kesukaran / penderitaan.

a) Bahwa Roh Kudus diutus untuk menjadi Penghibur bagi kita, secara implicit menunjukkan bahwa dalam hidup orang kristen pasti ada banyak problem, penderitaan, dan kesedihan.

Karena itu jelaslah bahwa ajaran populer jaman sekarang yang mengatakan bahwa kalau kita ikut Tuhan segala sesuatu akan beres, segala penyakit akan sembuh, kita akan kaya dan sukses, dsb, adalah omong kosong! Kalau ajaran ini benar, maka kita tidak membutuhkan Roh Kudus sebagai Penghibur!

b) Penghiburan dari Roh Kudus ini tidak tergantung pada sikon.

Ini bisa kita alami dalam keadaan sakit, susah, miskin, menderita, mengalami problem, kegagalan, kesepian, patah hati, dsb. Ini memungkinkan orang kristen tetap bersukacita dan mempunyai damai di tengah-tengah penderitaan / kesukaran.

c) Tujuan Roh Kudus dalam menghibur kita.

Kalau kita mengalami penderitaan / problem, lalu Roh Kudus menghibur kita, tujuannya bukan sekedar untuk kita, tetapi juga untuk orang lain. Seperti dikatakan seseorang:

“God does not comfort us to make us comfortable, but to make us comforters” (= Allah tidak menghi­bur kita supaya kita merasa nyaman, tetapi supaya kita menja­di penghibur). Bdk. 2Kor 1:3-6.

Karena itu kalau kita menerima penghiburan, kita harus membagikan / men-sharing-kan penghiburan itu.

2) Dari dosa yang sudah kita akui / sesali.

Ini berhubungan dengan tuduhan setan yang sudah di bahas di atas. Roh Kudus bukan hanya membela secara hukum tetapi juga menghibur kita untuk mengatasi semua itu dan kembali pada sukacita dan damai yang semula.

3) Tetapi bagaimana dengan dosa yang masih kita pegangi dengan sadar dan dengan sikap tegar tengkuk?

Dalam hal ini, Roh Kudus tidak menghibur kita dengan:

a) Menutup-nutupi dosa, atau dengan memberikan alasan untuk membenarkan dosa itu.

Karena itu, kalau saudara berbuat dosa, dan lalu dalam pikiran saudara muncul berbagai macam alasan untuk membenarkan dosa itu, sehingga saudara lalu merasa ‘terhibur’, sadarilah bahwa ini bukan hiburan dari Roh Kudus! Ini pasti datang dari setan!

Misalnya:

· saudara marah kepada seseorang, lalu saudara merasa bahwa kemarahan itu adalah dosa. Tetapi lalu muncul suara dalam hati / pikiran saudara yang berkata: ‘Tetapi aku marah karena dia kurang ajar’, dan suara ini ‘menghibur’ saudara.

· saudara berzinah, lalu merasakan adanya perasaan bersalah. Tetapi lalu muncul suara dalam hati / pikiran saudara yang berkata: ‘Yang salah adalah istriku. Dia tidak menjaga badan / penampilan sehingga aku tidak berminat kepadanya dan terpaksa berzinah’, dan suara ini ‘menghibur’ saudara.

· saudara berdusta kepada seseorang, lalu saudara merasakan adanya perasaan bersalah. Tetapi lalu muncul suara dalam hati / pikiran saudara yang berkata: ‘Tetapi kamu kan masih hidup di dunia, dan hidup di dunia ini tidak mungkin bisa melakukan Firman Tuhan 100 %’, atau, ‘Bukan kamu saja, tetapi semua orang juga berdusta’, dan suara ini ‘menghibur’ saudara.

· saudara tidak memberikan persembahan persepuluhan, dan saudara lalu merasa bersalah. Tetapi lalu muncul suara dalam hati / pikiran saudara yang berkata: ‘Tetapi penghasilanku tidak cukup. Kalau aku memberikan persembahan persepuluhan, akan lebih tidak cukup lagi. Tuhan toh tak mau aku hutang atau jadi pengemis, bukan?’, dan suara ini ‘menghibur’ saudara.

‘Penghiburan’ semacam ini bukan datang dari Roh Kudus tetapi dari setan! Tujuannya supaya saudara tidak bertobat dari dosa itu.

b) Memberikan kambing hitam, seperti roh marah, roh dusta, dsb.

Jaman ini banyak orang yang berkata bahwa kalau kita marah itu karena adanya roh kemarahan, kalau kita berzinah itu karena adanya roh perzinahan, dsb. Sekalipun saya percaya bahwa setan memang selalu menggoda kita untuk berbuat dosa, tetapi saya juga percaya bahwa kalau kita jatuh ke dalam dosa, kita tetap bertanggung jawab! Kita tidak boleh melemparkan tanggung jawab itu kepada setan seakan-akan hanya dia yang salah sedangkan kita tidak.

Memang kalau kita bisa mendapatkan kambing hitam, kita akan merasa ‘terhibur’. Tetapi lagi-lagi kita perlu tahu bahwa hiburan seperti itu pasti bukan dari Roh Kudus tetapi dari setan!

c) Meremehkan dosa.

‘Hiburan’ yang lain adalah dengan meremehkan dosa yang baru kita lakukan. Hiburan seperti ini juga bukan datang dari Roh Kudus, tetapi dari setan! Memang dosa itu ada tingkat-tingkatnya, ada yang berat (seperti berzinah, membunuh, menyembah berhala, dsb) dan ada yang ringan (seperti berdusta, iri hati, dsb), tetapi ingat bahwa dosa yang ringanpun upahnya adalah maut (Ro 6:23), sehingga tidak pernah boleh diremehkan.

Juga ingat bahwa kesengajaan memperberat dosa (Luk 12:47-48). Karena itu dosa ringan, yang dilakukan dengan sengaja, akan diperhitungkan lebih berat.

d) Menyembunyikan kebenaran yang ‘mengganggu’ kita.

Saudara mungkin pernah mendengar kata-kata ‘truth hurts’ (= kebenaran menyakitkan). Kalau ada dosa dalam hidup saudara dan lalu saudara mendengar Firman Tuhan yang membahas dosa itu, maka saudara bisa merasa ‘sakit’. Saudara akan lebih ‘terhibur’ kalau saudara melupa­kan Firman Tuhan yang ‘mengganggu’ itu.

Inipun bukan penghiburan dari Roh Kudus!

Apa alasannya untuk beranggapan bahwa hal-hal di atas tidak mungkin datang dari Roh Kudus? Karena Roh Kudus juga mempunyai tugas-tugas lain, yaitu:

· mengajar kebenaran (Yoh 14:26).

· menginsafkan dosa (Yoh 16:8).

· memimpin ke dalam seluruh kebenaran (Yoh 16:13).

Pikirkan apakah hal-hal ini bisa sesuai dengan point a-d di atas?

Charles Haddon Spurgeon:

¨ “The Spirit of God never comforted a man in his sin. Disobe­dient Christians must not expect consolation; the Holy Spirit sanctifies, and then consoles” (= Roh Allah tidak pernah menghibur seseorang di dalam dosanya. Orang Kristen yang tidak taat tidak boleh mengharapkan penghiburan; Roh Kudus menguduskan, dan baru setelah itu menghibur) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’ , vol IX, hal 29-30.

Jadi selama dosa dipertahankan dengan sikap tegar tengkuk, tidak bisa diharapkan adanya penghiburan yang sejati. Kalau ada penghiburan, itu pasti palsu, dan bukan dari Roh Kudus.

¨ “He does not comfort us as a fond mother may please her wayward child by yielding to its foolish wishes” (= Ia tidak menghibur kita seperti seorang ibu yang terlalu mengasihi, yang ingin menyenangkan anaknya yang tidak patuh / suka melawan, dengan menyerah / menuruti keinginannya yang bodoh) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’ , vol IX, hal 30.

Jadi jangan saudara berharap bahwa Roh Kudus ‘mengubah’ Firman Tuhan dan menyesuaikannya dengan keinginan saudara yang bodoh, sehingga Ia lalu membiarkan saudara untuk terus hidup di dalam dosa.

¨ “Do not expect to get comfort by merely running to sweet texts, or listening to pleasing preachers who give you noth­ing but cups of sugared doctrine, but expect to find comfort through the holy, reproving, humbling, strengthening, sancti­fying processes which are the operation of the Divine Para­clete” (= Jangan mengharapkan untuk mendapatkan penghiburan semata-mata dengan berlari kepada text-text yang manis, atau dengan mendengarkan pengkhotbah-pengkhotbah yang tidak memberimu apa-apa selain doktrin yang dimaniskan, tetapi berha­raplah untuk menemukan penghiburan melalui proses-proses yang kudus, yang menegur / memarahi, yang merendahkan, yang menguatkan, yang menguduskan, yang merupakan pekerjaan dari Parakletos ilahi) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’ , vol IX, hal 30.

Perhatikan kata-kata ini! Ayat-ayat Kitab Sucipun bisa disalah-gunakan untuk menghibur kita di dalam dosa. Misalnya: saudara berbuat suatu dosa, lalu dalam Saat Teduh / Kebaktian saudara mendapatkan Firman Tuhan yang menunjukkan penyertaan Tuhan seperti Maz 23 atau Ibr 13:5 dsb, dan saudara lalu merasa bahwa Tuhan tidak apa-apa dengan dosa saudara.

Kalau ayat-ayat Kitab Suci saja bisa disalah-gunakan seperti itu, lebih-lebih khotbah-khotbah yang dibuat oleh nabi-nabi palsu memang untuk menyenangkan pendengarnya (bdk. 2Tim 4:3-4).

Kesimpulan / Penutup:

Roh Kudus begitu penting bagi kita, dan karena itu, pada hari Penta­kosta ini mari kita bersyukur dan memuji Tuhan atas karuniaNya yang begitu hebat bagi kita, yaitu Roh Kudus.

-AMIN-

9.Kasih yang semula

Wahyu 2:1-7

I) Kasih yang semula.

1) Ini harus ada / pernah ada dalam diri orang kristen.

Dalam jemaat Efesus, kepada siapa bagian ini ditujukan (ay 1), hal ini terlihat dari:

· tindakan mereka membakar buku-buku sihir (Kis 19:19-20).

· kesedihan mereka waktu ditinggal oleh Paulus (Kis 20:36-38).

· Ef 1:15 dimana Paulus berkata bahwa mereka mempunyai kasih kepada semua orang kudus. Ingat bahwa cinta terhadap Tuhan sangat berhubungan dengan cinta terhadap orang kudus (1Yoh 5:1 1Yoh 4:20-21).

2) Kasih yang semula ini tidak bisa diusahakan sendiri.

Pada saat percaya kepada Yesus, Roh Kudus memberikan buah Roh, yaitu kasih (Gal 5:22). Sebaliknya, kalau saudara tidak pernah sungguh-sungguh percaya kepada Yesus, jelas bahwa saudara tidak pernah mengalami kasih yang semula ini, dan ini tidak akan bisa saudara usahakan kecuali saudara mau datang dan percaya kepada Yesus.

II) Orang yang kehilangan kasih semula.

A) Hal-hal baik dalam hidup mereka:

1) Mereka masih tetap melayani Tuhan (ay 2a).

2) Mereka benci / tak dapat sabar terhadap orang jahat (ay 2b).

NIV: ‘you cannot tolerate wicked men’ (= kamu tidak bisa menoleransi orang-orang jahat).

Tyndale:

“While love is the typical Christian attitude, love for the good carries with it a corresponding hatred for what is wrong” (= Sekalipun kasih adalah sikap kristen yang khas, kasih terhadap yang baik membawa hal yang cocok dengannya yaitu kebencian terhadap apa yang salah).

Hailey:

“This attitude toward evil men is commendable; if they will not be transformed, let them be transferred” (= Sikap terhadap orang-orang jahat ini patut dipuji; jika mereka tidak mau diubah, biarlah mereka dipindahkan).

3) Mereka berhati-hati dengan ajaran yang mereka terima (ay 2b).

Paulus memang sudah pernah menubuatkan akan munculnya nabi-nabi palsu di Efesus (Kis 20:29). Mereka menanggapi nubuat Paulus ini dengan baik.

4) Mereka mau menderita untuk Tuhan dan mereka menderita dengan sabar (ay 3).

5) Mereka membenci perbuatan pengikut Nikolaus (ay 6).

Tentang apa yang dimaksud dengan ‘perbuatan pengikut Nikolaus’ ada bermacam-macam pandangan:

· Irenaeus: mereka hidup dengan hawa nafsu yang tidak dikekang.

· Clement of Alexandria: mirip dengan Irenaeus.

· Pulpit Commentary: mereka menganggap diri di atas hukum, sehingga boleh berbuat apa saja.

Ini sama seperti orang yang salah gunakan kasih karunia Allah untuk melampiaskan hawa nafsu mereka (Yudas 4).

Hailey: “The child of God who does not hate wickedness does not love righteousness” (= Anak Allah yang tidak membenci kejahatan tidak mengasihi kebenaran).

Perhatikan bahwa mereka membenci perbuatan pengikut Nikolaus, bukan membenci pengikut Nikolausnya sendiri. Ini sesuatu hal yang hebat!

B) Dari hal-hal ini kelihatannya mereka adalah orang yang hebat, tetapi mereka toh dikecam, karena kehilangan kasih yang semula (ay 4). Jadi sekalipun dari luar kelihatannya semua baik-baik, tetapi sebetulnya hati mereka sudah kehilangan kasih yang semula.

Hal-hal yang perlu diperhatikan:

1) Pulpit Commentary:

“It is possible to hate what Christ hates without loving what he loves” [= Adalah mungkin untuk membenci apa yang Kristus benci (bdk. ay 6) tanpa mengasihi apa yang Ia kasihi].

Orang-orang Efesus ini membenci dosa, nabi palsu dsb, tetapi tidak lagi mengasihi Allah seperti semula.

2) Tentu saja kalau hal ini dibiarkan, maka keadaan pasti memburuk sehingga dari luarpun akan terlihat kalau saudara kehilangan kasih semula.

Pulpit Commentary:

“The outward forms may be perfect, zeal may be maintained, patience unwearied, orthodoxy untarnished; but if love - the soul’s secret energy - be impaired, time only is needed to bring the church to utter decay” (= Hal-hal luar / lahiriah mungkin sempurna, semangat mungkin dipertahankan, kesabaran tidak pernah lelah, keorthodoxan tidak bercacat; tetapi kalau kasih - kekuatan rahasia dari jiwa - berkurang / rusak, hanya waktu yang dibutuhkan untuk membawa gereja pada kebusukan total).

Penerapan: Apakah saudara saat ini sedang mengasihi Tuhan dengan kasih yang semula? Atau dengan kasih yang sudah dingin?

Spurgeon mengatakan bahwa tidak ada orang kristen tidak pernah mengalami backsliding (= kemerosotan ke belakang). Tanda-tandanya: malas berdoa, malas mendengar / membaca / belajar Firman Tuhan, meremehkan dosa, kembalinya dosa-dosa lama yang tadinya sudah ditinggalkan, cinta dunia / uang, dsb.

III) Sikap Tuhan terhadap gereja itu.

1) Tuhan sedih / tidak senang.

Bahwa Tuhan begitu sedih / tidak senang kalau anakNya kehilangan kasih yang semula, digambarkan oleh nabi Yeremia dalam Yer 2:1-5.

Pernahkah saudara merasakan kesedihan / sakit hati karena pasangan saudara kehilangan kasih yang semula kepada saudara? Demikian juga Tuhan sakit hati / sedih kalau saudara kehilangan kasih yang semula kepada Dia!

2) Tuhan menegur / mengecam (ay 4).

Kalau baru dalamnya tanpa kasih semula, sudah ditegur seperti ini, apalagi kalau aktivitas luar sudah terpengaruh!

3) Tuhan mengancam (ay 5).

Perlu diperhatikan bahwa Tuhan bukan hanya mengecam tetapi juga mengancam gereja yang kehilangan kasih yang semula itu.

Kata-kata / ancaman ‘mengambil kaki dian dari tempatnya’ akan menyebabkan gereja itu tidak lagi bisa menyinarkan terang. Dengan kata lain gereja itu berhenti menjadi gereja di hadapan Tuhan!

Bagi Dia dari pada ada gereja yang tidak mempunyai kasih semula, lebih baik tidak ada gereja! Tuhan mempunyai motto: “Better nothing than something”.

IV) Bagaimana kembali pada kasih yang semula?

1) Bandingkan keadaan dulu (pada waktu punya kasih semula) dan sekarang.

Ay 5: ‘Ingatlah, betapa dalamnya engkau telah jatuh’.

Saudara tidak akan bisa mengetahui betapa dalamnya saudara telah jatuh, kecuali saudara membandingkan keadaan dahulu (sebelum jatuh) dan keadaan sekarang (setelah jatuh).

Bandingkan:

· damai / sukacita yang dahulu ada, tetapi sekarang lenyap.

· kehidupan doa / saat teduh yang dahulu begitu manis, tetapi sekarang begitu hambar.

· kerinduan saudara akan Firman Tuhan dan sukacita yang saudara alami dalam belajar Firman Tuhan yang dahulu begitu hebat, tetapi sekarang sudah sangat memudar.

· semangat saudara dalam melayani Tuhan / mencari jiwa, yang dahulu begitu berkobar-kobar, tetapi sekarang sudah padam dan menjadi pelayanan yang hanya bersifat rutinitas.

2) Disuruh mengingat saat mulai kehilangan kasih semula.

Ay 5 (Lit): ‘Remember therefore whence thou hast fallen’ (= karena itu, ingatlah dari mana engkau telah jatuh).

Apa yang terjadi pada saat itu? Ada dosa? Ada allah lain? Ada kebencian / gegeran? Ada perzinahan? Kalau saudara tidak bisa mendiagnosa apa yang terjadi pada saat itu, yang menyebabkan saudara lalu kehilangan kasih yang semula, maka tentu saja saudara juga tidak bisa memperbaiki keadaan saudara!

3) Bertobat dan kembali ke jalan yang benar (ay 5).

Dalam bahasa Yunaninya kata ‘semula’ dalam ay 5 sama dengan kata ‘semula’ dalam ay 4. Jadi ay 5 ini menyuruh kita kembali pada kehidupan kita yang semula pada waktu kita mempunyai kasih yang semula.

Memang kehilangan kasih semula pasti disebabkan oleh dosa (aktif atau pasif), seperti:

· ada kebencian

· tidak menolong orang (1Yoh 3:17).

· perzinahan.

· cinta dunia (1Yoh 2:15).

· tak beri persembahan yang seharusnya.

· melalaikan persekutuan dengan Tuhan / saat teduh / doa.

· melalaikan Pemahaman Alkitab / belajar Firman Tuhan.

· berhenti pelayanan / memberitakan Injil.

Bertobatlah dari semua dosa-dosa itu!

4) Mendengar Firman Tuhan (ay 7a).

Kalimat ini muncul dalam ke 7 surat dalam Wah 2-3 ini, menunjukkan bahwa ini adalah sesuatu yang penting.

Mendengar dalam ay 7a berhubungan dengan menang dalam ay 7b. Jadi orang yang mau menang harus mau mendengar Firman Tuhan!

Bdk. Yak 1:19-20.

Maukah saudara melakukan hal-hal ini supaya kembali pada kasih yang semula?

-AMIN-

10.Aku Haus

YOHANES 19:28-30

Pendahuluan:

Ada 2 orang bercakap-cakap. Yang pertama berkata: ‘Aku ingin tahu dimana aku akan mati’. Temannya menjawab: ‘Kamu gila; untuk apa tahu dimana akan mati?’. Yang pertama menjawab: ‘Kalau aku tahu aku akan mati dimana, aku tidak akan pergi ke tempat itu’.

Ini menunjukkan bahwa orang itu ingin terhindar dari kematian. Dan memang adalah sesuatu yang umum kalau orang ingin terhindar dari kematian.

Tetapi Yesus berbeda.

· Berbeda dengan orang dalam cerita di atas, Ia tahu Ia akan mati dimana. Ia tahu bahwa Ia akan mati di Yerusalem. Tetapi ketika saatnya untuk mati sudah tiba, Ia bukannya menjauhi Yerusalem, tetapi Ia justru pergi ke sana (Mat 16:21-24).

· Di taman Getsemani, pada waktu mau ditangkap, Ia dibela oleh Petrus yang mengeluarkan pedangnya dan membacok hamba imam besar. Sebetulnya bisa saja pada waktu itu Yesus memberi komando kepada 10 murid yang lain untuk membantu Petrus, dan sementara terjadi perkelahian masal, Yesus lari. Tetapi Ia tidak mau melakukan itu, bahkan Ia memerintahkan Petrus untuk menyarungkan pedangnya (Mat 26:51-52).

Ia juga berkata kepada Petrus bahwa sebetulnya Ia bisa minta kepada Bapa untuk mengirim lebih dari 12 pasukan malaikat untuk membantuNya (Mat 26:53). Andaikata Ia melakukan hal ini, sudah pasti semua orang yang mau menangkapNya itu dibasmi dalam sekejap mata. Tetapi Ia tidak mau mela-kukan hal ini.

Sebetulnya, kalaupun Ia tidak mau minta bantuan Bapa untuk mengirimkan pasukan malaikat, Ia sendiri, yang juga adalah Allah sendiri, bisa saja menggunakan kemahakuasaanNya untuk membasmi semua orang yang mau menangkapNya itu. Kalau Ia melakukan hal ini, pasti Ia terhindar dari kematian. Tetapi Ia tidak mau melakukan hal itu, karena Ia memang tidak mau menghindari kematian.

Tetapi ada sesuatu yang lebih aneh, yaitu bahwa Yesus bukan saja tidak mau menghindari kematian, tetapi bahkan tidak mau penderitaanNya dikurangi! Dari mana kita bisa melihat hal ini?

I) Yesus menolak minuman.

Dalam Mat 27:34 dikatakan bahwa Yesus diberi minum ‘anggur bercampur empedu’, dan dalam Mark 15:23 dikatakan bahwa Yesus diberi ‘anggur bercampur mur’. Ini bukan kontradiksi, karena minuman itu adalah anggur bercampur ramuan tertentu, yang mengandung baik empedu maupun mur.

Tetapi pada saat Yesus mengecap minuman itu, dikatakan bahwa Ia tidak mau meminumNya. Mengapa? Padahal sebentar lagi Ia minta minum (Yoh 19:28 - ‘Aku haus’), dan mau meminum minuman yang diberikan kepadaNya (Mark 15:36 Yoh 19:29-30). Beberapa penafsir mengatakan bahwa Ia tidak mau meminum anggur bercampur empedu / mur itu, karena itu adalah minuman yang mengandung ramuan yang bisa membius / mengurangi rasa sakit, dan diberikan kepada orang yang disalib sebagai suatu tindakan belas kasihan kepada mereka.

KetidakmauanNya menerima pengurangan rasa sakit / penderitaan merupa-kan sesuatu yang lebih aneh lagi dari pada sekedar tidak menghindari kematian. Orang kristen yang sejati, seharusnya mempunyai keyakinan kese-lamatan, dan karena itu mestinya tidak takut mati. Tetapi siapa yang tidak takut pada penderitaan / rasa sakit yang hebat? Siapa yang pada waktu mengalami rasa sakit yang hebat tidak menginginkan rasa sakitnya diku-rangi? Kalau saudara pergi ke dokter gigi untuk dicabut giginya, atau kalau saudara akan dioperasi, tentu saudara senang menerima pembiusan supaya tidak mengalami rasa sakit.

Lalu mengapa Yesus tidak mau rasa sakit / penderitaanNya dikurangi? Karena Ia sadar bahwa saat itu Ia sedang memikul hukuman dosa manusia, termasuk hukuman dosa saudara dan saya. Dan Ia ingin memikul seluruh hukuman dosa manusia!

Andaikata saja pada saat itu Yesus mau meminum minuman bius itu, dan rasa sakitNya berkurang, katakanlah 10 %, maka itu berarti Ia hanya memi-kul 90 % hukuman dosa saudara dan saya. Tahukah saudara apa akibatnya? Saudara boleh saja betul-betul percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, tetapi hanya 90 % dari dosa-dosa saudara yang ditebus / dibayar oleh Yesus. Sedangkan 10 % sisanya, saudara harus menanggung-nya sendiri. Kalau hal ini terjadi, maka renungkanlah 2 hal di bawah ini:

1) 10 % dari dosa kita itu luar biasa banyaknya.

Kalau saudara menganggap diri saudara itu baik, atau kalau saudara beranggapan bahwa jumlah dosa saudara cuma ratusan atau ribuan, maka itu disebabkan saudara tidak mengerti Firman Tuhan, yang meru-pakan standard Allah untuk menentukan dosa. Kalau saja saudara mengerti Firman Tuhan, dan saudara membandingkannya dengan hidup saudara, maka saya yakin saudara akan menemui berjuta-juta dosa.

Kalau kita menyoroti hukum Tuhan yang berbunyi ‘Jangan berdusta’ saja, maka berapa dosa yang saudara temukan dalam hidup saudara? Mulai saat saudara masih kecil sampai sekarang, berapa kali saudara berdusta kepada orang tua, kakek / nenek, guru di sekolah, teman, kakak / adik, teman kerja / rekan bisnis, langganan, pejabat pemerintahan, pegawai, bahkan kepada pengemis (dengan berkata ‘tidak punya uang’ padahal saudara punya)? Hanya dari satu hukum itu saja, sudah sukar meng-hitung jumlah dosa saudara! Bagaimana kalau ditambahkan dengan hukum-hukum yang lain, seperti jangan berzinah, jangan mencuri, jangan iri hati, hormatilah orang tuamu, hukum hari sabat, hukum antara suami istri, dsb? Bagaimana kalau ditambahkan lagi hukum-hukum yang diang-gap tidak masuk akal, seperti:

· Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, pikiran, akal budi (Mat 22:37).

· Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Mat 22:39).

· Kasihilah musuhmu, doakan orang yang menganiaya kamu (Mat 5:44).

· Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan (Ro 12:17,21).

· Bersukacitalah senantiasa (1Tesaalonika 5:16).

· Mengucap syukurlah dalam segala hal (1Tes 5:18).

Karena itu 10 % dari dosa kita pastilah luar biasa banyaknya. Kalau dosa kita jumlahnya 1 juta, maka 10 % dari dosa kita berarti 100.000 dosa!

2) Satu dosa sudah cukup untuk memasukkan diri saudara ke dalam neraka sampai selama-lamanya!

Ada agama lain yang mengatakan bahwa nanti pada akhir jaman perbuatan baik dan dosa setiap orang akan ditimbang; kalau lebih berat dosanya maka orangnya dimasukkan neraka, dan kalau lebih berat perbuatan baiknya maka orangnya akan dimasukkan surga. Ditinjau dari sudut agama lain itu, maka mungkin masih ada kemungkinan saudara akan masuk surga kalau saudara memikul sendiri 10 % dosa saudara. Tetapi Kitab Suci / Firman Tuhan tidak mengajar demikian! Ro 6:23 mengatakan bahwa “upah dosa ialah maut”! Jadi, tidak dikatakan kalau dosanya banyak / besar / lebih banyak dari perbuatan baiknya, barulah upahnya maut! Hanya dikatakan bahwa upah dosa ialah maut, dan itu berarti bahwa satu dosa saja sudah cukup untuk membawa saudara kedalam neraka sampai selama-lamanya!

Mengapa demikian? Karena Kitab Suci / Firman Tuhan mengajar bahwa perbuatan baik tidak bisa menutup dosa (Gal 2:16,21). Memang, kalau saudara ditangkap polisi karena melanggar peraturan lalu lintas dan akan menghadapi persidangan, bisakah saudara lalu berbuat baik dengan harapan perbuatan baik saudara itu menyebabkan saudara tidak didenda dalam pengadilan? Jelas tidak mungkin! Jadi, hukum duniapun mengata-kan bahwa perbuatan baik tidak bisa menutup dosa. Dan demikian juga ajaran dari Kitab Suci / Firman Tuhan! Karena itulah maka satu dosa saja sudah cukup untuk membuat saudara masuk neraka sampai selama-lamanya!

Sekarang, bagaimana kalau kita gabungkan 2 hal di atas ini? 10 % dari dosa saudara bukan main banyaknya, sedikitnya ada 100.000 dosa. Padahal satu dosa saja sudah cukup membuang saudara ke dalam neraka sampai selama-lamanya. Bagaimana kalau saudara harus menanggung 100.000 dosa atau bahkan lebih dari itu?

Karena itu, andaikata Yesus mau meminum minuman yang mengandung ramuan bius itu, pasti seluruh umat manusia, mulai dari Adam sampai kiamat, termasuk saudara dan saya, akan masuk neraka sampai selama-lamanya!

Tetapi puji Tuhan, Yesus menolak minuman yang mengandung ramuan bius itu! Ia tidak mau memikul hanya sebagian atau 90 % hukuman dosa kita; Ia mau memikul seluruhnya atau 100 % hukuman dosa kita!!

Ada 2 hal lain yang menunjukkan bahwa seluruh hukuman dosa kita memang sudah dibereskan oleh Yesus di kayu salib, yaitu:

a) Kata-kata ‘Sudah selesai’ (Yoh 19:30) menunjukkan bahwa penderitaan aktifNya untuk memikul seluruh dosa kita, sudah selesai!

b) Yesus bisa bangkit dari kematian.

Karena upah dosa ialah maut, kalau saja ada satu dosa yang belum beres, maka Ia tidak akan bisa bangkit. Bahwa Ia bisa bangkit pada hari yang ke tiga, menunjukkan bahwa memang seluruh dosa kita sudah dibereskan!

Karena itu, kalau saudara mau percaya dan menerima Yesus sebagai Juruselamat saudara, semua dosa saudara tanpa kecuali, akan dihapuskan / diampuni. Ini mencakup:

· dosa asal.

· dosa yang lalu.

· dosa sekarang.

· dosa yang akan datang.

Karena itulah orang yang percaya kepada Yesus mempunyai jaminan keselamatan!

Catatan: Tetapi awas! Ini tidak boleh menyebabkan kita lalu meremehkan dosa / sengaja berbuat dosa!

II) Yesus minta minum.

Setelah Yesus menolak minuman bius itu, Ia lalu disalibkan. Dan pada waktu ada di kayu salib, Ia berkata: ‘Aku haus’ (Yoh 19:28).

Yesus memang sangat kehausan, karena:

· Ia sudah ditawan sejak kemarin malam, dan sebagai tawanan Ia pasti tidak diperlakukan dengan baik. Jadi mungkin sekali Ia tidak diberi makanan ataupun minuman. Ini tentu menyebabkan Ia menjadi haus.

· Ia digiring kesana kemari (kepada Mahkamah Agama, kepada Pontius Pilatus, kepada Herodes, kembali kepada Pontius Pilatus, dsb). Perja-lanan ini tentu menambah kehausan Yesus.

· Ia dicambuki dan dipukuli dan dimahkotai dengan duri. Semua ini menim-bulkan luka-luka yang mengeluarkan darah / cairan tubuh sangat banyak, dan ini juga pasti menimbulkan kehausan yang luar biasa.

· Ia harus memikul kayu salib yang cukup berat sejauh kurang lebih 1 km. Ini pasti menyebabkan Ia mengeluarkan banyak keringat, dan ini menam-bah kehausanNya.

· Ia disalibkan mulai pukul 9 pagi (Mark 15:25). Memang mulai pukul 12 siang terjadi kegelapan (Mark 15:33), tetapi mulai pukul 9 pagi sampai pukul 12 siang Ia boleh dikatakan dijemur di panas matahari yang terik.

Semua hal di atas ini sudah pasti memberikan kehausan kepada Yesus, dan ini bukanlah kehausan biasa, tetapi suatu kehausan yang bukan main hebatnya. Dan semua ini sesuai dengan nubuat Maz 22:16 yang berbunyi: “lidahku melekat pada langit-langit mulutku” (Catatan: bacalah seluruh Maz 22 itu, khususnya ay 2,8-9,17b,19 dan saudara akan melihat dengan jelas bahwa itu adalah Mazmur tentang salib).

Bahwa Maz 22:16 itu menggunakan istilah ‘lidah yang melekat pada langit-langit mulut’, jelas menunjukkan kehausan yang luar biasa, dimana seluruh mulut betul-betul kering sehingga lidah melekat pada langit-langit.

Mengapa Yesus harus mengalami kehausan? Tidak cukupkah penderitaan cambuk dan salib yang Ia alami? Untuk ini saudara perlu ingat bahwa kalau orang masuk neraka (lautan api) maka sudah pasti ia akan kehausan luar biasa (bandingkan dengan kata-kata / seruan orang kaya di dalam neraka kepada Abraham dalam Luk 16:24 yang berbunyi: “Bapa Abraham, ka-sihanilah aku. Suruhlah Lazarus mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, karena aku sangat kesakitan dalam nyala api ini”).

Karena Yesus saat ini sedang memikul seluruh hukuman dosa manusia, maka jelas bahwa Ia harus memikul juga kehausan yang luar biasa yang seharusnya kita alami di neraka.

Persoalan / pertanyaan yang lain ialah: mengapa Ia lalu meminta minum dengan berkata ‘Aku haus’? Apakah hal ini tidak mengurangi penderitaanNya sehingga Ia tidak memikul 100 % hukuman dosa kita?

Ada 3 hal yang perlu diberikan sebagai jawaban:

1) Yesus meminta minum dengan tujuan supaya Firman Tuhan digenapi.

Perhatikan Yoh 19:28 yang berbunyi: “berkatalah Ia - supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci - ‘Aku haus!’.

Kitab Suci yang mana? Jawabnya adalah Maz 69:22b yang berbunyi: “Pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam”. Ingat bahwa ini juga merupakan suatu nubuat yang berhubungan dengan Mesias / Yesus.

Jadi, Yesus meminta minum dengan tujuan supaya nubuat Firman Tuhan tentang diriNya bisa digenapi. Kalau Firman Tuhan itu digenapi maka:

· Allah dipermuliakan. Sebaliknya kalau Firman Tuhan tidak terjadi, maka tentu saja Allah dipermalukan.

· Orang bisa percaya bahwa Ia memang adalah Mesias. Sebaliknya kalau nubuat tentang Mesias itu ternyata tidak tergenapi dalam diri Yesus, bagaimana mungkin orang akan percaya bahwa Yesus adalah Mesias?

Jadi, ditengah-tengah penderitaanNya yang luar biasa (sedang terpan-cang di kayu salib), Yesus tetap mengingat, memikirkan, menginginkan, dan mengusahakan 2 hal yaitu:

¨ Bagaimana Allah bisa dipermuliakan.

¨ Bagaimana orang-orang bisa percaya kepada Dia dan diselamatkan.

2) Kristus minta minum supaya Ia bisa meneriakkan kata-kata ‘Sudah selesai’ (ay 30), yang mempunyai arti sangat penting bagi kita, supaya kita tahu tentang kesempurnaan penebusan Kristus bagi dosa kita.

Tanpa minuman itu, mulut, lidah, dan tenggorokan Yesus yang sangat kering karena kehausan yang luar biasa itu, tidak akan bisa meng-ucapkan kata-kata itu.

3) Ia minta minum setelah Ia tahu bahwa semua sudah selesai.

Perhatikan sekali lagi ay 28 yang berbunyi: “Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia - supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci - : ‘Aku haus’”.

Jadi, setelah penebusan yang Ia lakukan sudah cukup untuk menebus dosa kita, barulah Ia berkata ‘Aku haus’. Perhatikan kata-kata Calvin di bawah ini:

“Now, it ought to be remarked, that Christ does not ask any thing to drink till all things have been accomplished ... No words can fully express the bitterness of the sorrows which he endured; and yet he does not desire to be freed from them, till the justice of God has been satisfied, and till he has made a perfect atonement” (= Harus diperhatikan, bahwa Kristus tidak meminta minum apapun sampai semua telah selesai / tercapai ... Tidak ada kata-kata yang dapat menyatakan secara penuh kesedihan yang ditahanNya; tetapi Ia tidak ingin dibebaskan darinya, sampai keadilan Allah telah dipuaskan, dan sampai Ia telah membuat penebusan yang sempurna).

Tetapi bagaimana mungkin penebusan dosa sudah selesai, padahal Ia belum mengalami kematian? Calvin berkata bahwa Kristus mengucapkan kata-kata ‘Sudah selesai’ itu dengan memperhitungkan kematianNya yang akan terjadi. Atau ada juga yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘sudah selesai’ adalah penderitaan aktifNya dalam memikul hu-kuman dosa.

III) Tanggapan kita.

1) Percaya dan menerima Yesus sebagai Juruselamat dan sebagai Tuhan.

Yesus sudah memikul seluruh hukuman dosa saudara, dan Yesus sudah memikul kehausan yang luar biasa yang seharusnya saudara alami di neraka. Karena itu, kalau saudara mau percaya dan menerima Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan, saudara tidak mungkin bisa dihukum lagi oleh Allah. Ini sesuai dengan Ro 8:1 yang berbunyi: “Demikianlah sekarang tidak ada lagi penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus”.

Tetapi sebaliknya, kalau saudara tidak mau sungguh-sungguh percaya dan menerima Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan, tidak jadi soal apakah saudara itu orang kristen KTP atau kafir, pergi ke gereja atau tidak, sudah dibaptis atau belum, berusaha mentaati Firman Tuhan atau mengabaikannya, saudara tetap akan menanggung hukuman dosa sau-dara sendiri dengan masuk neraka sampai selama-lamanya, dan meng-alami kehausan yang luar biasa yang memang layak saudara dapatkan!

2) Tirulah teladan Yesus, yang dalam keadaan sangat menderita sekalipun, tetap mengingat, memikirkan, menginginkan, dan mengusahakan 2 hal yaitu:

a) Bagaimana supaya Allah bisa dipermuliakan.

Ini seharusnya menjadi tujuan hidup dari setiap orang kristen.

1Kor 10:31 berbunyi: “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah”.

Penerapan:

· kalau saudara pergi berbakti di gereja, atau kalau saudara mela-yani Tuhan, atau kalau saudara memberikan persembahan, apa-kah saudara melakukannya hanya sebagai suatu kebiasaan, atau karena saudara ingin memuliakan Allah?

· kalau saudara membuang dosa / mentaati Tuhan, apakah saudara melakukannya hanya karena takut dihukum atau karena saudara melakukannya untuk kemuliaan Tuhan?

· hal-hal yang kelihatan remeh dan bersifat jasmani seperti makan dan minumpun (juga belajar, bekerja dsb) harus kita lakukan untuk kemuliaan Allah. Kalau saudara makan hanya demi memuaskan nafsu makan saudara, apalagi kalau saudara makan tanpa mem-pedulikan apakah makanan itu merusak kesehatan saudara atau tidak, pada hakekatnya saudara sudah berdosa! Makanlah supaya bisa sehat / pilihlah makanan yang menyehatkan diri saudara, supaya dengan kesehatan itu saudara bisa lebih memuliakan Allah.

b) Bagaimana orang banyak bisa percaya kepada Yesus dan disela-matkan.

Ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh setiap orang percaya supaya orang yang belum percaya bisa percaya:

· Berdoa dengan tekun untuk pertobatan mereka.

· Memberitakan Injil kepada mereka.

· Berusaha memberikan kesaksian hidup yang baik, supaya jangan justru menjadi batu sandungan bagi mereka.

· Mengajak mereka ke gereja yang benar dan Injili!

3) Memberikan yang terbaik kepada Tuhan.

Jangan meniru tentara Romawi yang memberi anggur asam kepada Yesus (ay 29). Sebaliknya, berikanlah yang terbaik kepada Tuhan. Ini berlaku untuk bermacam-macam hal seperti:

a) Memberikan uang kepada Tuhan.

Banyak orang kristen yang kalau mau memberi persembahan selalu bingung mencari uang kecil. Apakah pengorbanan Kristus pantas saudara balas dengan uang kecil? Memang kalau saudara adalah orang miskin yang hanya mempunyai uang kecil, maka persembah-kanlah uang kecil itu kepada Tuhan, Tuhan pasti menerimanya (bdk. Luk 21:1-4). Tetapi kalau untuk makan, pakaian, membangun rumah, hobby, dsb saudara bisa mengeluarkan uang besar, tetapi hanya mau mengeluarkan uang kecil untuk Tuhan, itu betul-betul keterlaluan.

b) Memberikan waktu, tenaga, pikiran untuk Tuhan.

Ada orang kristen yang pada pagi, siang, sore tidak berdoa / membaca Firman Tuhan, dan baru melakukannya pada malam hari setelah tenaga dan pikirannya sudah mencapai titik terendah. Orang seperti ini memberikan waktu, tenaga, pikiran yang terjelek untuk Tuhan. Bukankah sebaiknya kita melakukan doa / saat teduh pada pagi hari, dimana kita ada dalam keadaan paling segar?

c) Memberikan diri / hidup kita untuk Tuhan.

Banyak orang yang pada waktu masih muda menggunakan dirinya / hidupnya untuk diri sendiri. Baru pada saat sudah tua dan hampir mati, ‘menyerahkan dirinya’ untuk Tuhan.

Ada juga orang kristen yang setelah lulus SMA, lalu berusaha masuk ke Universitas. Tetapi karena tidak diterima di mana-mana, akhirnya ia ‘menyerahkan dirinya’ untuk masuk sekolah Theologia / melayani Tuhan!

d) Memberikan anak kepada Tuhan.

Ada orang tua kristen yang mempunyai beberapa anak. Mereka keberatan kalau anak-anaknya yang pandai menjadi hamba Tuhan, tetapi mereka mau menyerahkan anaknya yang bodoh untuk menjadi hamba Tuhan.

Penutup / kesimpulan:

Untuk saudara yang belum percaya kepada Yesus, janganlah menunda! Perca-yalah sebelum terlambat.

Untuk saudara yang sudah percaya: tirulah teladan Kristus dan berikan yang terbaik kepada Tuhan.

-AMIN-

11.Yesus: satu-satunya jalan ke surga

I) Yesus hanyalah salah satu jalan ke surga?

Ada pepatah yang mengatakan: ‘Ada banyak jalan menuju ke Roma’. Pepatah ini mungkin benar untuk banyak hal. Dan saya percaya bahwa pepatah ini berlaku untuk neraka. Memang, ada banyak jalan menuju ke neraka (Yakinkah saudara bahwa saudara tidak sedang berada pada jalan ke neraka ini?). Tetapi betul-betul menyedihkan kalau ada orang yang mengaku sebagai orang kristen, apalagi hamba Tuhan, yang menerapkan pepatah ini untuk surga.

Ada bermacam-macam perwujudan dari kepercayaan sesat ini:

1) Ada yang menyatakannya secara terang-terangan.

Perlu diketahui bahwa pada jaman ini sudah ada pendeta-pendeta yang berani secara terang-terangan menunjukkan pandangan sesat ini, bahkan tidak jarang ia menunjukkannya dengan disertai serangan atau bahkan ejekan terhadap orang yang mempercayai / mengajarkan bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan ke surga.

Contoh:

a) Pdt. Robert Setio, Ph. D. dari GKI menuliskan dalam warta tertulis sebuah renungan yang saya kutip di bawah ini:

“‘Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi, tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari’ (Pengkhotbah 1:9).

Suara itu semakin lama semakin keras. Seperti suara pasukan berkuda dalam medan peperangan yang semakin lama semakin bergemuruh, riuh rendah, menyeramkan bagi yang mendengarnya. Suara apa gerangan itu? Itu suara umat, umat beragama. Apa yang terjadi? Apa yang mereka teriakan dengan gegap gempita? Ternyata mereka meneriakkan kata-kata ini: ‘tidak ada keselamatan lain, selain melalui agama kami’. Sementara yang lain menambah dengan semangat yang kurang lebih sama: ‘agama kamilah yang paling diperkenan Allah, agama kamilah yang paling benar’. Begitu keras dan riuh rendahnya suara itu, sampai-sampai mereka yang tak tahu menahu bilang: ‘Kayak kampanye pemilu, ya?!’

Tapi, yang berteriak-teriak datang membela diri. Kata mereka: ‘kami bukannya mau kampanye, kami hanya menyatakan kebenaran, itu saja, dan supaya saudara ketahui, kebenaran itu adalah agama kami maka siapa saja yang ndak mau ikut agama kami pasti tidak dapat dibenarkan’. Mereka terus menyerocos, ‘saudara tahu, Allah sebenarnya telah memberikan penyataan khususnya bagi kami, ini istimewa lho. Sedang bagi yang lain, Allah hanya memberikan penyataan umum yang samar-samar, tidak jelas dan tentu saja tidak seistimewa penyataan yang telah diberikan pada kami’. Hal-hal seperti ini mereka katakan dengan semangat penuh bak seorang prajurit kamikase (prajurit Jepang yang siap bunuh diri demi Kaisar), tentu saja dengan satu maksud yaitu supaya orang berbondong2 pindah ke agama mereka.

Namun benarkah agama kita lebih istimewa dari yang lain? Benarkah orang yang beragama lain itu tidak selamat dan agama mereka sia-sia? Belum tentu. Ya, belum tentu demikian, sebab, seperti kata Pengkhotbah, ‘tidak ada sesuatu yang baru di bawah matahari’, artinya, ‘tidak ada sesuatu yang istimewa di dunia ini’. Semuanya sama saja. Apa yang kita pikirkan, harapkan, doakan sebagai manusia, sama saja dengan apa yang orang lain pikirkan, harapkan & doakan. Setiap orang memiliki pergumulan dasar yang sama. ‘Sama-sama makan nasinya’, kata orang Indonesia. Kita sama-sama menghirup udara yang sama, diterangi oleh matahari yang sama, bulan dan bintang yang sama. Kita sama-sama dilahirkan, sama-sama mati. Mengapa kita harus membedakan diri kita dengan yang lainnya? Keselamatan yang berlaku bagi kita, mengapa tidak mungkin juga terjadi bagi orang lain, meskipun mereka berbeda agama?”.

b) Pdt. Dr. Budyanto, Pendeta GKJW yang kini menjabat Dekan Fakultas Teologi Universitas Duta Wacana, Yogyakarta menulis dalam Majalah DUTA terbitan GKJW, bulan April 2000, hal 8-9, suatu artikel yang berjudul ‘Pemikiran ulang Amanah Agung Yesus Kristus (Mat 28:19-20)’. Bunyinya adalah sebagai berikut:

“Amanat Agung Yesus Kristus ini biasanya dipahami sebagai perintah untuk mengabarkan Injil, dalam arti sempit mengkristenkan umat lain, bahkan lebih sempit lagi menjadikan orang lain menjadi warga gereja tertentu. Pandangan ini biasanya disertai dengan keyakinan, bahwa keselamatan hanya ada dalam Yesus Kristus dan di luar Yesus Kristus manusia akan binasa, seperti yang terdapat dalam Yohanes 14:6: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak seorang pun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku’. Dua ayat inilah yang membuat gereja sangat bersikap eksklusif dan merasa diri sebagai umat pilihan Allah. Yang lebih benar, lebih baik dari umat lain. Pemahaman ini akan membuat gereja kesulitan dalam menjalankan tugas panggilannya di dunia ini. Karena itu dua ayat ini perlu mendapat penjelasan ulang.

Pertama, Matius 28:19-20: ‘Pergilah, jadikan semua bangsa murid-Ku dan baptiskanlah mereka dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang Kuperintahkan kepadamu.’ Kata ‘baptiskanlah mereka’ selama ini dipahami sebagai tanda bahwa seseorang menjadi orang Kristen atau menjadi anggota gereja tertentu. Padahal baptis dalam Alkitab tidak dihubungkan dengan gereja, tetapi dihubungkan dengan kematian dan kebangkitan Kristus, sebagai simbol seseorang dipersekutukan dengan kematian dan kebangkitan Kristus (Rm. 6:3,4; Kol. 2:12), sebagai simbol pembebasan dari dosa dan dilibatkannya manusia dalam hadirnya kerajaan Allah dalam diri Kristus, yang mendatangkan syalom. Itulah sebabnya perkataan ini dihubungkan dengan menjadi murid Kristus. Adapun menjadi murid Kristus itu berarti ‘mengajar melakukan apa yang diperintahkan oleh Kristus, bukan mengajar perintah Kristus, tetapi mengajar melakukan’.

Karena itu penulis setuju dengan pendapat Moltmann yang mengatakan, misi Kristen itu tidak lagi dipahami sebagai membaptiskan dan mengumpulkan orang sebanyak-banyaknya menjadi warga gereja serta mendirikan gereja dimana-mana. Itu adalah misi kuantitatif, yang lebih penting adalah misi yang kualitatif, yaitu menulari manusia apa pun agamanya, dengan roh pengharapan, kasih dan tanggung jawab kepada dunia dengan segala macam persoalannya. Agama harus mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengatasi masalah manusia saat ini yaitu: kelaparan, dominasi satu kelas terhadap kelas lain, imperialisme ideologi, perang atom dan perusakan terhadap lingkungan hidup dan sebagainya.

Kedua, Yohanes 14:6: Kata Yesus kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup, tidak seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.’ Ayat inilah yang sering dipakai oleh kelompok Kristen eksklusif sebagai dasar pemutlakan Yesus, bahkan pemutlakan agama Kristen, bahwa tidak ada jalan lain menuju Bapa kalau tidak lewat Yesus Kristus atau bahkan kalau tidak lewat gereja. Sedangkan kelompok pluralis cenderung melupakan dan tidak menyinggung-nyinggung ayat ini, karena ayat ini sukar dipahami dalam konteks pluralisme agama-agama. Secara eksklusif Willaim Barclay menafsirkan ayat ini sebagai berikut: Memang banyak orang yang mengajar tentang jalan yang harus ditempuh, tetapi hanya Yesuslah jalan itu dan di luar Dia manusia akan tersesat. Banyak orang yang berbicara tentang kebenaran, tetapi hanya Yesuslah yang dapat mengatakan ‘Akulah kebenaran’ itu. Orang lain mengajarkan tentang jalan kehidupan, tetapi hanya dalam Yesus orang menemukan kehidupan itu. Karena itu hanya Dia saja yang dapat membawa manusia kepada Tuhan.

Tafsiran Barclay ini bertolak belakang dengan hakikat gereja sebagai umat Allah, yang sejajar dengan umat-umat lain dan bertolak belakang dengan semangat pluralisme agama-agama. Mungkin lebih cocok dengan tafsiran Samartha yang mengatakan bahwa dalam agama Kristen, Yesus Kristus memang Juru Selamat namun orang Kristen tidak dapat mengklaim bahwa juru selamat hanya Yesus Kristus. Demikian pula Yesus adalah jalan, tetapi jalan itu bukan hanya Yesus, seperti yang dikatakan Kenneth Cracknell bahwa di luar agama Kristen-pun dikenal banyak jalan menuju keselamatan.

Dalam agama Yahudi dikenal istilah Halakhah, yang secara hurufiah artinya berjalan. Kata ini merupakan istilah teknis dalam pengajaran agama Yahudi yang berhubungan dengan semua materi hukum dan tatanan hidup sehar-hari. Istilah ini diambil dari Keluaran 18:20: ‘Kemudian haruslah engkau mengajarkan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan yang memberitahukan kepada mereka jalan yang harus mereka jalani dan pekerjaan yang harus mereka lakukan’. Dalam agama Islam konsep jalan itu terdapat dalam Sura 1:5-7: ‘... Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan. Pimpinlah kami ke jalan yang lurus (yaitu), jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka ...’

Dalam agama Hindu juga dikenal adanya jalan menuju mokhsa, menuju kelepasan dari kelahiran kembali, menuju keselamatan, yaitu Jnana marga atau jalan pengetahuan, Karma marga atau jalan perbuatan baik, serta Bhakti marga yaitu jalan kesetiaan atau ibadah. Sedangkan dalam agama Budha dikenal Dhama pada, jalan kebenaran menuju nirwana.

Lalu bagaimana hubungan jalan-jalan ini dengan Kristus yang adalah jalan? Pemahaman ini bisa ditarik ke paradigma inklusif, artinya ada banyak jalan kecil-kecil (path), tetapi hanya satu jalan besar (way) yaitu jalan Kristus. Atau, ditarik ke paradigma pluralis indiferen, artinya banyak jalan, termasuk jalan Kristus, tetapi hanya ada satu tujuan yaitu Allah. Kalau kita memilih yang pertama, memang tidak cocok dengan semangat pluralisme agama-agama, tetapi lebih sesuai dengan teks Yohanes 14:6

Ada banyak jalan tetapi hanya ada satu jalan yang menuju Bapa, yaitu jalan Kristus. Kalau memilih alternatif kedua, hal itu sesuai dengan semangat pluralisme, tetapi persoalan tentang ‘Tidak seorang sampai kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku’ tidak terpecahkan. Dengan memilih alternatif kedua, berarti menempatkan Yesus sebagai jalan (cara) untuk mencapai suatu tujuan. Padahal menurut banyak penafsir Yesus itu bukan jalan (cara) untuk mencapai tujuan, tetapi Ia sendiri jalan sekaligus tujuan. Dalam teks dikatakan ‘Aku adalah ... (tiga kata berikutnya mempunyai kedudukan yang sejajar) jalan, kebenaran dan hidup’. Bukan Aku jalan menuju kebenaran dan menuju hidup, juga bukan Aku jalan kebenaran dan jalan hidup.

Penulis setuju bahwa di luar agama Kristen ada jalan (minhaj, marga, dhama pada), ada jalan kebenaran, ada keselamatan, tetapi tidak berarti bahwa semua jalan itu sama saja, sehingga semua agama sama saja. Juga tidak berarti bahwa jalan Yesus itu jalan yang luar biasa, sedangkan jalan yang lain jalan biasa.

Lalu persoalannya adalah bagaimana kalimat ‘Tidak seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku’ harus ditafsirkan? Konteks ayat ini adalah: ketika itu Tuhan Yesus berkata kepada para murid-Nya, Ia pergi untuk menyediakan tempat bagi murid-murid-Nya, kemudian Ia akan kembali menjemput mereka, supaya di mana Yesus berada, murid-murid juga berada di sana (Yohanes 14:3). Kemudian Thomas berkata, ‘Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi, jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?’. Dengan perkataan itu Thomas ingin tahu jalannya supaya bisa sampai ke tempat itu dengan cara dan kekuatannya sendiri. Kemudian Tuhan Yesus menjawab, ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup, tidak seorangpun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku’. Yang dimaksud Tuhan Yesus dengan perkataan itu adalah Thomas tidak dapat datang ke tempat itu dengan usaha dan kekuatannya sendiri. Kalau toh ia bisa datang di tempat itu karena Tuhan Yesus yang membawa dia (Bdk. ay. 3 yang berkata: ‘Aku akan datang kembali membawa kamu’). Dengan kata lain, kalau Thomas bisa datang di tempat itu, semua itu semata-mata hanya karena anugerah Allah yang nyata dalam kehadiran Yesus Kristus.

Jadi persoalannya bukan di luar Kristus tidak ada jalan, tetapi bagi umat Kristen kita bisa sampai ke tempat di mana Kristus berada, itu semata-mata karena anugerah Allah. Inilah yang membedakan jalan yang ditempuh umat Kristen dan jalan-jalan lainnya. Di sana bukan tidak ada jalan, di sana juga ada jalan, jalan di sana bukan kurang baik, sedangkan di sini lebih baik, tetapi memang jalan itu berbeda. Dengan demikian pemutlakan orang Kristen terhadap Yesusnya, tidak harus membuat orang Kristen menjadi eksklusif, atau menyamakan saja semua agama. Kita yakin seyakin-yakinnya bahwa hanya Yesus Kristuslah yang membawa kita kepada keselamatan, tetapi kita juga tidak harus mengatakan di sana, dalam agama-agama lain, sama sekali hanya ada kegelapan dan kesesatan. Kalau kita sendiri tidak rela orang menganggap dalam kekristenan hanya ada kegelapan dan kesesatan, mengapa hal yang sama kita tujukan kepada orang lain.

Apakah pandangan ini tidak memperlemah semangat pekabaran Injil? Tidak, hanya harus ada orientasi baru tentang Pekabaran Injil. Pekabaran Injil harus dipahami seperti pemahaman Yesus Kristus sendiri: ‘Roh Tuhan ada padaKu, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik (mengabarkan Injil) kepada orang-orang miskin, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang’ (Luk. 4:18,19).

Memberitakan Injil tidak lagi dipahami sebagai kristenisasi, tetapi kristusisasi. Menambah jumlah orang-orang yang diselamatkan dan menjadi anggota gereja bukan tujuan pekabaran Injil, tetapi sebagai akibat atau buah pekebaran Injil: ‘Mereka disukai semua orang dan setiap hari Tuhan menambahkan dengan orang-orang yang diselamatkan’ (Kis. 2:46). Buah pekabaran Injil ini mungkin tidak segera kita nikmati dalam kehadiran mereka di gereja, tetapi mungkin pada waktu dan di tempat lain.

Apakah pemahaman pekabaran Injil ini tidak sama saja dengan pemahaman sebelumnya? Tidak, pada pola pemahaman yang pertama mengesampingkan sikap toleransi yang karenanya dapat menimpulkan kecurigaan bahkan konflik sosial. Sering kekristenan mereka yang ‘bertobat’ lebih bersifat emosional. Sedangkan pola pekabaran Injil kedua, sangat bersifat tenggang rasa, toleran dan bahkan mungkin pekabaran Injil bisa dilakukan dengan kerja sama antar agama. Kalau akhirnya ada yang menjadi anggota gereja, kekristenan mereka tidak bersifat emosional, tetapi dengan kesadaran penuh.”.

c) Dalam majalah ‘PENUNTUN’ yang diterbitkan oleh GKI, vol 2, No 6, Januari - Maret 1996, bagian ‘Kata Pengantar’ (hal v) ada kata-kata sebagai berikut:

“Banyak orang sering semberono menilai dengan negatif agama-agama lain yang mereka sendiri tidak hayati. Hal paling minimal yang diperlukan dalam rangka mengenal orang-orang yang beragama lain, yaitu membaca dan memahami Kitab Suci agama-agama lain, belum mereka lakukan. Apalagi menghayati hidup seperti yang dihayati penganut agama lain itu sendiri. Sikap seperti itu, tidak terkecuali, banyak ditemukan di dalam diri orang-orang Kristen. Yang berpendidikan tinggi maupun yang tidak. Orang juga sering memakai petobat-petobat baru untuk membuktikan betapa agama-agama semula yang sudah ditinggalkan petobat-petobat baru itu adalah agama-agama yang kurang sempurna, yang di dalamnya tidak terdapat kebenaran, atau, dalam ungkapan yang sangat menusuk perasaan, berisi ajaran-ajaran sesat dari kuasa-kuasa kegelapan. Tindakan jahat yang tidak penuh kasih semacam ini juga banyak ditemukan di antara orang-orang Kristen. ... Pemahaman dan pendekatan yang simpatetik terhadap pelbagai pandangan keselamatan, khususnya yang terdapat di dalam agama-agama lain, diharapkan akan sedikit banyak mempengaruhi dengan positif sikap dan pandangan orang Kristen terhadap agama-agama lain dan para penganutnya. ... Tulisan Ioanes Rakhmat berupaya menunjukkan bahwa pandangan yang sudah sangat berakar di dalam diri orang-orang Kristen bahwa di dalam agama-agama lain tidak ditemukan karunia keselamatan dari Allah, adalah pandangan yang sangat subyektif dan keliru”.

d) Dari majalah ‘Penuntun’ terbitan GKI Jabar (Vol. 2. No. 6, Januari - Maret 1996), ada sebuah artikel yang ditulis oleh Pdt. Eka Darma-putera, Ph. D. yang berjudul ‘Boleh diperbandingkan, jangan diper-tandingkan’. Dan dalam artikel itu ada kata-kata sebagai berikut:

“Sebuah dongeng Hindu. Ada seorang raja yang adil, arif lagi bijaksana. Tiga orang puteranya, semua serba gagah, tampan dan perkasa. Konon menyadari usianya yang kian uzur, sri baginda ingin mempersiapkan segala sesuatu sebaik-baiknya sebelum ajal tiba. Demikianlah ia memutuskan untuk membagi semua harta di kerajaannya menjadi tiga. Semua, tanpa boleh ada yang tersisa atau terlupa. Masing-masing puteranya harus menerima persis sepertiga. Tak ada yang lebih atau kurang. Supaya jangan ada yang bangga, dan ada yang kecewa. Titah ini segera dilaksanakan tanpa masalah. Sampai sang raja sendiri menyadari, bahwa ternyata masih ada satu yang tersisa. Yaitu cincin yang selama ini melingkar di jari manisnya. Bagaimana membaginya? Namun bukan sri baginda namanya bila tidak menemukan jalan keluar juga pada akhirnya. Dengan diam-diam dan amat rahasia, pada suatu hari, dipanggilnya pandai mas yang paling ahli di seluruh kerajaannya. Pandai mas itu dititahkannya membuat dua buah cincin lagi. Syaratnya: sama persis dalam segala hal dengan cincin yang semula. Ringkas cerita, persoalan teratasi. Namun sementara. Sebab akhirnya, lama setelah baginda wafat, tiga pangeran itu toh mafhum juga bahwa tidak semua dari tiga cincin yang ada itu ‘asli’. Mereka segera bertengkar hebat sekali, masing-masing mengklaim bahwa cincin yang lain adalah ‘tiruan’, dan cuma cincinnya sendiri yang ‘asli’. Pertengkaran itu pasti akan berkelanjutan, bila mereka tidak segera menyadari bahwa apa yang mereka lakukan itu pasti membuat hati mendiang ayah mereka terluka dan amat berduka. Terlebih lagi, alangkah bodohnya yang mereka lakukan itu! Bertengkar menguras enerji dan emosi untuk hal yang tak dapat mereka buktikan! Akhirnya kembali ke akal sehat mereka. Mereka masing-masing bertekad merawat cincin mereka masing-masing. Tanpa mempersoalkan, apalagi mempertengkarkan, mana yang ‘asli’ dan mana yang ‘palsu’. Sebab mengenai ini, hanya ayahanda tercinta saja yang mengetahuinya. Untuk apa ‘dongeng’ tersebut? Untuk menolong kita memasuki pembicaraan yang akan cukup rumit dan peka. Yaitu, ketika Redaksi Penuntun meminta saya menunjukkan mana di antara ketiga ‘cincin’ itu yang ‘asli’. Melalui dongeng di atas saya telah memberikan pratanda apa yang bakal menjadi jawab saya nanti. Yang pertama-tama ingin saya katakan adalah, permintaan itu aneh tetapi wajar. Bahkan, saya yakin, apa yang diminta itu, adalah pertanyaan sebagian besar pembaca juga. Yaitu, setelah artikel-artikel mengenai ajaran keselamatan dari pelbagai macam agama / kepercayaan itu, kita pasti bertanya: manakah yang benar di antara ajaran yang berbeda-beda itu? Begitu lazimnya pertanyaan itu, sehingga banyak orang tidak merasa perlu bertanya terlebih dahulu: Tepatkah pertanyaan itu? Dan mungkinkah menjawab pertanyaan itu? Ternyata cukup banyak juga yang menjawab: ‘Ya! Pertanyaan itu bukan cuma tepat, tetapi juga perlu!’ Termasuk dalam kelompok ini, adalah sebagian besar pemimpin serta penganut agama (Anda juga?). Yaitu ketika dengan keyakinan yang tidak dibuat-buat, mereka berkata, ‘Anda mau tahu mana yang benar dari antara ajaran yang bermacam-macam itu? Ya agama saya! Apa lagi?!’ Bila Anda mendengar jawaban seperti itu, anjuran saya adalah jangan mendebatnya. Mengapa? Sebab yang saya bayangkan adalah, Anda pasti akan bertanya: ‘Dari mana dan bagaimana Anda tahu bahwa cuma agama Anda yang benar?’. Iya ‘kan?” (hal 170,171).

“Orang-orang ini (dalam ilmunya) ‘memperbandingkan’ agama-agama tapi tidak ‘mempertandingkan’nya. Mereka tidak berminat untuk mencari mana yang lebih benar dan lebih unggul. Dan semua itu dilakukan dengan seilmiah serta seobyektif mungkin. Sebab itu biasanya enak dan mengasyikkan berdiskusi dengan orang-orang dari kelompok ini! Toleran, terbuka, dan simpatik! Berbeda dengan kelompok pertama.” (hal 173).

“Dengan tetap menghormati kekhasan masing-masing agama, kita harus tetap mengatakan bahwa semua agama ada pada dataran yang sama. Ada perbedaan, namun (dalam bahasa Inggris) ‘they are different in degree, but not in kind’. Berbeda dalam banyak hal, tapi tidak dalam hakikat. Secara hakiki, semua adalah satu kategori.” (hal 174).

“Dengan membuat perbandingan itu, kita dipaksa dan dilatih untuk terbuka dan rendah hati. Di samping itu, manfaat yang sering tidak kita sadari adalah: kita tidak hanya dibuat lebih mengenal kepercayaan orang lain, tetapi juga kepercayaan kita sendiri. Kita hanya dapat membuat perbandingan, apabila kita mengenal dengan baik dan dengan benar ajaran sendiri maupun ajaran orang lain, bukan? Sayang sekali, bagi banyak penganut agama polemik dan apologetik masih lebih digemari ketimbang perbandingan dan dialog. Padahal, dengan polemik dan apologetik, tanpa sadar kita terdorong untuk melebih-lebihkan diri sendiri dan mencari-cari atau menekan-nekankan kelemahan orang lain. Sikap yang tidak kristiani, bukan? Tanpa sadar kita tergiring untuk semakin menutup diri. Kehilangan kesempatan untuk belajar dari kekurangan diri sendiri dan kelebihan orang lain. Kehilangan kesempatan untuk diperkaya oleh orang lain dan sekaligus menjadi berkat bagi orang lain! Sayang sekali! Tapi itu yang sering terdengar. ‘Orang Kristen tidak perlu belajar apa-apa dari siapa-siapa! Kita sudah punya Yesus!’ Menarik sekali kata-kata ini! Tetapi naif! Sebab justru bila Anda benar-benar sudah punya Yesus maka, seperti Dia, Anda akan tahu apa artinya kerendahan hati dan ‘mengosongkan diri’, terbuka untuk belajar dari siapa saja! Justru bila Anda benar-benar sudah punya Yesus, Anda akan dapat mendemonstrasikan iman yang seperti kanak-kanak bukan iman Farisi yang penuh dengan keangkuhan hati!” (hal 174-175).

e) Dalam suatu camp GKJW saya pernah mengalami suatu konfrontasi dengan Pdt. Bambang Roesena dari GKJW. Dalam acara tanya jawab, saya ditanya apakah orang Katolik dan orang yang tidak pernah mendengar Injil bisa selamat. Saya menjawab bahwa Katolik berbeda secara dasari dengan Kristen, karena prinsip mereka adalah keselamatan karena iman dan perbuatan baik. Karena salah secara dasari, maka tentu tidak bisa selamat. Tentang orang yang tidak pernah mendengar Injil, saya juga katakan tidak selamat, berdasarkan Ro 2:12 dan Ro 10:13-15a.

Pdt. Bambang Roesena lalu menanggapi bahwa kita tidak boleh mempunyai theologia batu, tetapi harus theologia air. Maksudnya kita harus flexible. Dari tanggapannya jelas terlihat bahwa ia tidak mempercayai Yesus sebagai satu-satunya jalan ke surga.

2) Kadang-kadang pandangan / ajaran sesat semacam ini terselubung di bawah slogan yang benar. Misalnya ada pendeta / pengkhotbah / orang kristen yang kalau berdoa, mengakhiri doanya dengan kata-kata ‘dalam nama Yesus Kristus, satu-satunya Juruselamat dunia’. Tetapi mereka tidak pernah memberitakan Injil / mendorong orang untuk percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dan mereka tidak pernah mendorong orang untuk memberitakan Injil, dan kalau kepada mereka ditanyakan apakah orang yang beragama lain itu pasti masuk ke neraka, mereka menjawab ‘tidak’, atau ‘belum tentu’.

Pernyataan-pernyataan yang bertentangan seperti itu juga ada dalam Gereja Roma Katolik.

Dalam ‘Catechism of the Catholic Church’ yang dikeluarkan tahun 1992 ada pernyataan-pernyataan sebagai berikut:

· No 161: “Believing in Jesus Christ and in the One who sent him for our salvation is necessary for obtaining salvation” (= Percaya kepada Yesus Kristus dan kepada Yang mengutusNya untuk keselamatan kita adalah perlu untuk mendapatkan keselamatan).

· No 618 (bagian akhir): “Apart from the cross there is no other ladder by which we may get to heaven” (= Terpisah dari salib tidak ada tangga lain melalui mana kita bisa sampai ke surga).

Dari 2 pernyataan ini kelihatannya mereka percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan ke surga. Tetapi dalam Catechism yang sama ternyata juga ada pernyataan-pernyataan yang bertentangan dengan kedua pernyataan di atas, dan jelas menunjukkan kepercayaan bahwa di luar Kristus ada keselamatan, dan dengan demikian Kristus bukanlah satu-satunya jalan ke surga. Misalnya:

¨ No 839b: “The Jewish faith, unlike other non-Christian religions, is already a response to God’s revelation in the Old Covenant. To the Jews ‘belong the sonship, the glory, the covenants, the giving of the law, the worship, and the promises; to them belong the patriarchs, and of their race, according to the flesh, is the Christ’, ‘for the gifts and the call of God are irrevocable.’” [= Iman / kepercayaan Yahudi, tidak seperti agama-agama non-Kristen yang lain, sudah merupakan suatu tanggapan terhadap wahyu Allah dalam Perjanjian Lama. Orang-orang Yahudi ‘memiliki ke-anak-an, kemuliaan, perjanjian-perjanjian, pemberian hukum Taurat, penyembahan, dan janji-janji; mereka memiliki kepala keluarga nenek moyang mereka (Abraham, Ishak, Yakub dsb), dan Kristus, menurut daging, adalah dari bangsa mereka’, ‘karena karunia-karunia dan panggilan Allah tidak dapat dibatalkan.’].

¨ No 841: “The Church’s relationship with the Muslims. ‘The plan of salvation also includes those who acknowledge the Creator, in the first place amongst whom are the Muslims; these profess to hold the faith of Abraham, and together with us they adore the one, merciful God, mankind's judge on the last day.’” (= Hubungan Gereja dengan orang-orang Islam. ‘Rencana keselamatan juga mencakup mereka yang mengakui sang Pencipta, dan di antara mereka yang ada di tempat pertama adalah orang-orang Islam; mereka mengaku memegang / mempercayai iman Abraham, dan bersama-sama dengan kita / kami mereka memuja / menyembah satu Allah yang penuh belas kasihan, hakim umat manusia pada hari terakhir.’).

¨ No 847b: “Those who, through no fault of their own, do not know the Gospel of Christ or his Church, but who nevertheless seek God with a sincere heart, and, moved by grace, try in their actions to do his will as they know it through the dictates of their conscience - those too may achieve eternal salvation” (= Mereka yang bukan karena salah mereka sendiri, tidak mengetahui / mengenal Injil Kristus atau GerejaNya, tetapi yang sekalipun demikian mencari Allah dengan hati yang tulus, dan, digerakkan oleh kasih karunia, mencoba / mengusahakan dalam tindakan mereka untuk melakukan kehendakNya, seperti yang mereka ketahui melalui perintah hati nurani mereka - mereka juga bisa mencapai keselamatan yang kekal).

3) Juga perlu diingat bahwa kadang-kadang pendeta / pengkhotbah yang mempunyai pandangan sesat ini bersikap sebagai seekor bunglon. Dalam kalangan orang Injili, ia menyatakan Yesus sebagai satu-satunya jalan ke surga, tetapi begitu ia ada dalam kalangan orang yang segolongan dengan dia, ia menunjukkan warna aslinya dan menyatakan Yesus hanya sebagai salah satu jalan ke surga.

4) Bisa juga pandangan sesat ini diwujudkan oleh seorang pendeta / pengkhotbah dengan mengijinkan atau bahkan mendorong jemaat untuk menyumbang / membantu agama lain.

Waktu saya masih ada di Komisi Pemuda GKI Sulung, saya pernah konfrontasi dalam acara Pemahaman Alkitab dengan Ny. Kaligis Sm. Th. karena ia menceritakan tentang seorang kristen yang menyumbang MTQ sebanyak Rp 500 juta, dan ia mengatakan hal itu sebagai sesuatu yang baik.

Ada bermacam-macam alasan yang dikemukakan sebagai dasar untuk mengatakan bahwa Yesus hanyalah salah satu jalan ke surga, dan orang yang tidak percaya kepada Yesuspun bisa masuk ke surga.

Alasan-alasan yang sering dipakai adalah:

1) Kita tidak boleh menghakimi, hanya Allah yang berhak menghakimi.

2) Kita tidak maha tahu, jadi kita tidak tahu apakah orang yang tidak percaya kepada Yesus akan masuk ke neraka.

3) Kita tidak boleh menghina orang yang non kristen / beragama lain. Kita hidup dalam suatu masyarakat yang bersifat majemuk, bahkan yang mayoritas beragama lain, dan karena itu kita harus bertoleransi terhadap agama lain. Sedangkan kepercayaan bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan ke surga merupakan sikap yang sangat tidak toleran.

4) Mempercayai Yesus sebagai satu-satunya jalan ke surga adalah sikap yang egois, tidak kasih dan mau menangnya sendiri.

5) Orang yang beragama lain banyak yang hidupnya saleh, masakan semua harus masuk ke neraka?

II) Yesus adalah satu-satunya jalan ke surga.

Dasar Kitab Suci bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan ke surga:

1) Ayat-ayat Kitab Suci di bawah ini secara jelas menunjukkan bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan ke surga.

· Yoh 14:6 - “Kata Yesus kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku’”.

Ayat ini hanya mempunyai 3 kemungkinan:

* Kitab Sucinya salah / ngawur. Yesus tidak pernah mengatakan pernyataan ini, tetapi Kitab Suci mencatat seolah-olah Yesus mengatakan pernyataan ini.

* Kitab Sucinya betul; Yesus memang pernah mengucapkan pernyataan ini. Tetapi Yesusnya berdusta, karena Ia menyatakan diri sebagai satu-satunya jalan kepada Bapa padahal sebetulnya tidak demikian.

* Kitab Sucinya betul, dan Yesusnya tidak berdusta, sehingga Ia memang adalah satu-satunya jalan kepada Bapa / ke surga.

Renungkan: yang mana dari 3 kemungkinan ini yang saudara terima? Kalau saudara menerima yang pertama atau yang kedua, Sebaiknya saudara pindah agama saja, karena apa gunanya menjadi Kristen tetapi mempercayai bahwa Kitab Sucinya salah / ngawur, atau Tuhannya pendusta!

· Kis 4:12 - “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan”.

· 1Yoh 5:11-12 - “Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam AnakNya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup”.

· 1Tim 2:5 - “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus”.

Hanya orang sesat yang tidak menghargai otoritas Kitab Suci dan yang ingin memutarbalikkan Kitab Suci yang bisa menafsirkan bahwa ayat-ayat ini tidak menunjukkan Yesus sebagai satu-satunya jalan ke surga.

Perhatikan bahwa Kis 4:12 itu menyatakan bahwa ‘keselamatan itu ada di dalam Yesus’, dan 1Yoh 5:11-12 menyatakan bahwa ‘hidup yang kekal itu ada di dalam Yesus’. Bayangkan Yesus sebagai sebuah kotak yang di dalamnya berisikan keselamatan / hidup kekal. Kalau seseorang menerima kotaknya (Yesus), maka ia menerima isinya (keselamatan / hidup yang kekal), dan sebaliknya kalau ia menolak kotaknya (Yesus), otomatis ia juga menolak isinya (keselamatan / hidup yang kekal).

Perhatikan juga kata-kata ‘di bawah kolong langit ini’ dalam Kis 4:12, dan kata-kata ‘barangsiapa tidak memiliki Anak’ dalam 1Yoh 5:12 itu. Ini menunjukkan bahwa tidak mungkin kata-kata ini ditujukan hanya untuk orang kristen. Ayat-ayat tersebut di atas ini berlaku untuk seluruh dunia!

Juga perhatikan bahwa berbeda dengan Yoh 14:6 yang diucapkan oleh Yesus kepada murid-muridNya (orang-orang yang percaya / kristen), maka Kis 4:12 diucapkan oleh Petrus kepada orang-orang Yahudi yang anti kristen! Jadi jelas bahwa ayat ini tidak mungkin dimaksudkan hanya bagi orang kristen!

2) Yoh 8:24 dan Wah 21:8 secara explicit menunjukkan bahwa orang yang tidak percaya kepada Yesus akan mati dalam dosanya / masuk neraka.

Yoh 8:24b - “Jikalau kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu”.

Wah 21:8 - “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua”.

Dalam kontex Kitab Suci, ‘orang yang tidak percaya’ artinya adalah ‘orang yang tidak percaya kepada Yesus’!

3) Dalam Perjanjian Lama, Allah berulang kali hanya memberikan 1 jalan untuk bebas dari hukuman, yang adalah TYPE / gambaran dari Kristus.

Contoh:

a) Bahtera Nuh (Kej 6-8).

Pada jaman Nuh itu, kalau orang tidak mau masuk ke dalam bahtera, maka tidak ada jalan lain baginya melalui mana ia bisa selamat. Pada waktu banjir itu mulai meninggi, ia mungkin akan mencoba naik pohon, naik atap rumah, naik gunung yang tinggi, dsb, tetapi ia akan tetap mati, karena air bah itu merendam seluruh dunia bahkan gunung yang tertinggi sekalipun (bdk. Kej 7:19-20). Jadi jelas bahwa bahtera itu adalah satu-satunya jalan keselamatan.

b) Darah pada ambang pintu (Kel 12:3-7,12-13,21-23,25-30 1Kor 5:7).

Pada waktu Allah mau menghukum orang Mesir dengan membunuh semua anak sulung, Allah memberikan jalan melalui mana bangsa Israel bisa lolos dari hukuman itu. Caranya adalah menyapukan darah domba Paskah pada ambang pintu. Dan ini adalah satu-satunya jalan melalui mana mereka bisa lolos dari hukuman Allah itu.

Selanjutnya, 1Kor 5:7b berbunyi: “Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus”. Jadi, jelaslah bahwa anak domba Paskah yang darahnya merupakan satu-satunya jalan keselamatan pada saat itu, merupakan TYPE / gambaran dari Kristus.

c) Ular tembaga (Bil 21:4-9 Yoh 3:14-15).

Lagi-lagi dalam peristiwa ular tembaga, pada waktu Israel berdosa dan dihukum oleh Tuhan dengan ular berbisa, Tuhan memberikan hanya satu jalan keluar, yaitu dengan memandang kepada ular tembaga itu. Kalau mereka menolak jalan itu dan mencari jalan yang lain, apakah dengan berobat kepada tabib / dukun, atau dengan mengikat bagian yang digigit, atau dengan mencari obat lain manapun juga, mereka pasti mati. Hanya kalau mereka mau memandang kepada ular tembaga yang dibuat Musa barulah mereka bisa sembuh. Juga perlu dingat bahwa Tuhan tidak menyuruh Musa untuk membuat banyak patung ular tembaga, tetapi hanya satu patung ular tembaga!

Selanjutnya Yoh 3:14-15 berkata: “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal”. Dari ayat ini terlihat bahwa ular tembaga adalah TYPE / gambaran dari Kristus. Sama seperti ular tembaga itu merupakan satu-satunya jalan keselamatan pada saat itu, demikian juga Kristus merupakan satu-satunya jalan keselamatan pada saat ini.

4) Sikap kita kepada Yesus merupakan sikap kita terhadap Allah / Bapa.

Luk 10:16 - “Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku”.

Yoh 5:23 - “supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia”.

Yoh 15:23 - “Barangsiapa membenci Aku, ia membenci juga BapaKu”.

Karena itu, orang tidak bisa menyembah / mentaati / melayani Allah, tetapi pada saat yang sama menolak Yesus. Menolak Yesus berarti menolak Allah, dan tidak percaya kepada Yesus berarti tidak percaya kepada Allah. Melihat pada semua ini bisakah orang yang tidak percaya kepada Yesus masuk surga?

5) Yesus adalah Allah sendiri, yang adalah tuan rumah / pemilik Kerajaan Surga. Bagaimana mungkin orang yang tidak percaya kepadaNya, apalagi yang menentangNya, bisa masuk ke surga, yang adalah milikNya?

6) Semua manusia membutuhkan Penebus, karena semua manusia berdosa, dan dosa tidak bisa ditebus dengan perbuatan baik / ketaatan.

Bahwa semua manusia berdosa dinyatakan oleh Ro 3:23 yang berbunyi: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”.

Dan bahwa dosa tidak bisa ditebus dengan perbuatan baik, dinyatakan oleh Gal 2:16,21 yang berbunyi: “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus ... sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus”.

Illustrasi: Seseorang ditangkap polisi karena melanggar peraturan lalu lintas dan 1 minggu setelahnya harus menghadap ke pengadilan. Dalam waktu satu minggu itu ia lalu banyak berbuat baik untuk menebus dosanya. Ia menolong tetangga, memberi uang kepada pengemis, dsb. Pada waktu persidangan, ia membawa semua orang kepada siapa ia sudah melakukan kebaikan itu sebagai saksi. Pada waktu hakim bertanya: ‘Benarkah saudara melanggar peraturan lalu lintas?’, ia lalu menjawab: ‘Benar pak hakim, tetapi saya sudah banyak berbuat baik untuk menebus dosa saya. Ini saksi-saksinya’. Sekarang pikirkan sendiri, kalau hakim itu waras, apakah hakim itu akan membebaskan orang itu? Jawabnya jelas adalah ‘tidak’! Jadi terlihat bahwa dalam hukum duniapun kebaikan tidak bisa menutup / menebus / menghapus dosa! Demikian juga dengan dalam hukum Tuhan / Kitab Suci!

Karena itu sebetulnya semua manusia membutuhkan Juruselamat / Penebus dosa. Dan Yesus adalah satu-satunya yang pernah menebus dosa manusia. Kalau kita menolak Dia, maka kita harus membayar sendiri hutang dosa kita, dan itu berarti kita harus masuk ke neraka selama-lamanya.

7) Kitab Suci menekankan keselamatan karena iman saja (salvation by faith alone), misalnya dalam ayat sebagai berikut:

· Ef 2:8-9 - “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”.

· Gal 2:16 - “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: ‘tidak ada seorangpun yang dibenarkan’ oleh karena melakukan hukum Taurat”.

· Ro 3:24,27-28 - “dan oleh kasih karunia Allah telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. ... Jika demikian, apa dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat”.

· Ro 9:30-32 - “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Ini: bahwa bangsa-bangsa lain yang tidak mengejar kebenaran, telah memperoleh kebenaran, yaitu kebenaran karena iman. Tetapi: bahwa Israel, sungguhpun mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah sampai kepada hukum itu. Mengapa tidak? Karena Israel mengejarnya bukan karena iman, tetapi karena perbuatan”.

· Fil 3:7-9 - “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranKu sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan”.

· Text Kitab Suci lain yang bisa ditambahkan: Gal 3:6-11 Kis 15:1-21.

Kalau orang-orang yang tidak beriman kepada Yesus bisa selamat, maka perlu dipertanyakan: ‘Mereka selamat berdasarkan apa / karena apa?’. Tidak mungkin karena iman, karena mereka tidak beriman kepada Kristus. Dan karena satu-satunya lawan dari ‘iman’ adalah ‘perbuatan’, maka harus disimpulkan bahwa mereka selamat karena perbuatan baik mereka. Jadi, orang yang mengatakan bahwa orang-orang yang tidak percaya kepada Kristus bisa selamat, harus menganut ajaran sesat ‘salvation by works’ (= keselamatan oleh perbuatan baik).

8) Penderitaan yang Yesus alami untuk menebus dosa manusia merupakan penderitaan yang luar biasa hebatnya. Untuk menunjukkan betapa hebatnya penderitaan yang Yesus alami, maka saya mengajak saudara untuk melihat komentar-komentar dari beberapa penafsir tentang 2 macam penderitaan yang Yesus alami yaitu pencambukan dan penyaliban.

a) Tentang pencambukan.

William Hendriksen: “The Roman scourge consisted of a short wooden handle to which several thongs were attached, the ends equipped with pieces of lead or brass and with sharply pointed bits of bone. The stripes were laid especially on the victim's back, bared and bent. Generally two men were employed to administer this punishment, one lashing the victim from one side, one from the other side, with the result that the flesh was at times lacerated to such an extent that deep-seated veins and arteries, sometimes even entrails and inner organs, were exposed. Such flogging, from which Roman citizens were exempt (cf Acts 16:37), often resulted in death” [= cambuk Romawi ter­diri dari gagang kayu yang pendek yang diberi beberapa tali kulit, yang ujungnya dilengkapi dengan potongan-potongan timah atau kuningan dan potongan-potongan tulang yang diruncingkan. Pencambukan diberikan terutama pada punggung korban, yang ditelanjangi dan dibungkuk­kan. Biasanya 2 orang dipekerjakan untuk melaksanakan hukuman ini, yang seorang mencambuki dari satu sisi, yang lain mencambuki dari sisi yang lain, dengan akibat bahwa daging yang dicambuki itu kadang-kadang koyak / sobek sedemikian rupa sehingga pembuluh darah dan arteri yang terletak di dalam, kadang-kadang bahkan isi perut dan organ bagian dalam, menjadi terbuka / terlihat. Pencambukan seperti itu, yang tidak boleh dilakukan terhadap warga negara Romawi (bdk. Kis 16:37), sering berakhir dengan kematian].

William Barclay: “Roman scourging was a terrible torture. The victim was stripped; his hands were tied behind him, and he was tied to a post with his back bent double and conven­iently exposed to the lash. The lash itself was a long leather thong, studded at intervals with sharpened pieces of bone and pellets of lead. Such scourging always preceded crucifixion and ‘it reduced the naked body to strips of raw flesh, and inflamed and bleeding weals’. Men died under it, and men lost their reason under it, and few remained conscious to the end of it” [= pencambukan Romawi adalah suatu penyiksaan yang hebat. Korban ditelanjangi, tangannya diikat kebelakang, lalu ia diikat pada suatu tonggak dengan punggungnya dibungkukkan sehingga terbuka terhadap cambuk. Cambuk itu sendiri adalah suatu tali kulit yang panjang, yang ditaburi dengan potongan-potongan tulang dan butiran-butiran timah yang runcing. Pencambukan seperti itu selalu mendahului penyaliban dan ‘pencambukan itu men­jadikan tubuh telanjang itu menjadi carikan-carikan daging mentah, dan bilur-bilur yang meradang dan berda­rah’. Ada orang yang mati karenanya, dan ada orang yang kehilangan akalnya karenanya, dan sedi­kit orang bisa tetap sadar sampai akhir pencambukan].

b) Tentang penyaliban.

Pulpit Commentary: “Nails were driven through the hands and feet, and the body was supported partly by these and partly by a projecting pin of wood called the seat. The rest for the feet, often seen in picture, was never used” (= Paku-paku menembus tangan dan kaki, dan tubuh disangga / ditopang sebagian oleh paku-paku ini dan sebagian lagi oleh sepotong kayu yang menonjol yang disebut ‘tempat duduk’. Tempat pijakan kaki, yang sering terlihat dalam gambar, tidak pernah digunakan).

William Barclay: “When they reached the place of crucifixion, the cross was laid flat on the ground. The prisoner was stretched upon it and his hands nailed to it. The feet were not nailed, but only loosely bound. Between the prisoner’s legs projected a ledge of wood called the saddle, to take his weight when the cross was raised upright - otherwise the nails would have torn through the flesh of the hands. The cross was then lifted upright and set in its socket - and the criminal was left to die ... Some­times prisoners hung for as long as a week, slowly dying of hunger and thirst, suffering sometimes to the point of actual madness” [= Ketika mereka sampai di tempat penyaliban, salib itu ditidurkan di atas tanah. Orang hukuman itu direntangkan di atasnya, dan tangannya dipakukan pada salib itu. Kakinya tidak dipakukan, tetapi hanya diikat secara longgar. Di antara kaki-kaki dari orang hukuman itu (diselangkangannya), menonjol sepotong kayu yang disebut sadel, untuk menahan berat orang itu pada waktu salib itu ditegakkan - kalau tidak maka paku-paku itu akan merobek daging di tangannya. Lalu salib itu ditegakkan dan dimasukkan di tempatnya - dan kriminil itu dibiarkan untuk mati ... Kadang-kadang, orang-orang hukuman tergantung sampai satu minggu, mati perlahan-lahan karena lapar dan haus, menderita sampai pada titik dimana mereka menjadi gila].

Catatan: Barclay menganggap bahwa yang dipaku hanyalah tangan saja. Kaki hanya diikat secara longgar, tetapi tidak di paku. Ini ia dasarkan pada:

· tradisi.

· Yoh 20:25,27 yang tidak menyebut-nyebut tentang bekas paku pada kaki.

Tetapi saya berpendapat bahwa Yesus dipaku bukan hanya tanganNya, tetapi juga kakiNya. Alasan saya:

¨ penulis-penulis lain ada yang mengatakan bahwa tra­disinya tak selalu seperti yang dikatakan oleh Barclay (misalnya penulis dari Pulpit Commentary yang saya kutip di atas). Juga tentang pemakuan kaki ini caranya tidak selalu sama. Kadang-kadang kedua kakinya dipaku menjadi satu, dan kadang-kadang kedua kakinya dipaku secara terpisah.

¨ Maz 22, yang adalah mazmur / nubuat tentang salib (baca seluruh mazmur itu dan perhatikan ay 2,8-9,16,17b,19), berkata pada ay 17b: ‘mereka menusuk tangan dan kakiku’.

¨ Dalam Luk 24:39-40, Tuhan Yesus menunjukkan tangan dan kakiNya! Pasti karena ada bekas pakunya!

Selanjutnya Barclay mengutip Klausner sebagai berikut:

“The criminal was fastened to his cross, already a bleeding mass from the scourging. There he hung to die of hunger and thirst and exposure, unable even to defend himself from the torture of the gnats and flies which settled on his naked body and on his bleeding wounds” [= Kriminil itu dilekatkan / dipakukan pada salib; pada saat itu ia sudah penuh dengan darah karena pencambukan. Disana ia tergantung untuk mati karena lapar, haus dan kepanasan, bahkan tidak bisa membela dirinya sendiri dari siksaan dari nyamuk dan lalat yang hinggap pada tubuhnya yang telanjang dan pada luka-lukanya yang berdarah].

Barclay lalu mengatakan: “It is not a pretty picture but that is what Jesus Christ suffered - willingly - for us” (= Itu bukanlah suatu gambaran yang bagus, tetapi itulah yang diderita oleh Yesus Kristus - dengan sukarela - bagi kita).

Mengingat hebatnya penderitaan yang Yesus alami untuk menebus dosa kita, kalau Yesus bukan satu-satunya jalan keselamatan, maka:

1. Tindakan Bapa merelakan AnakNya untuk mati dengan cara yang begitu mengerikan hanya untuk memberikan satu tambahan jalan ke surga betul-betul merupakan tindakan yang sangat kejam.

Illustrasi: Pada waktu untuk pertama kalinya anak saya disuntik, anak itu menangis, saya merasa begitu kasihan kepadanya, sehingga saya memeluk dia untuk mendiamkannya. Padahal anak itu disuntik dengan suntikan mini yang jarumnya sangat kecil. Kalau saya bisa merasa kasihan pada waktu anak saya ‘disakiti’ dengan jarum suntik itu, bayangkan bagaimana perasaan Bapa pada waktu AnakNya yang tunggal itu dicambuki sampai hancur punggungNya dan lalu dipakukan pada kayu salib. Kalau ada jalan lain untuk menyelamatkan manusia, saya yakin bahwa Bapa tidak akan membiarkan AnakNya mengalami penderitaan seperti itu. Tetapi karena memang tidak ada jalan lain, demi kasihNya kepada manusia berdosa, Ia rela membiarkan AnakNya mengalami penderitaan itu.

2. Tindakan Yesus untuk mati di salib untuk memberikan satu tambahan jalan ke surga adalah tindakan konyol, bodoh dan sia-sia. Ini sesuai dengan Gal 2:21b berbunyi: “... sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus”.

Illustrasi: Bayangkan bahwa saya dan anak saya ada di lantai ketiga di sebuah bangunan bertingkat tiga, dan bangunan itu lalu terbakar. Saya lalu menggendong anak saya dan melompat, dan sesaat sebelum menyentuh tanah, saya melemparkan anak saya ke atas, maka anak saya selamat dan saya mati. Kalau saat itu memang tidak ada jalan lain untuk selamat selain melompat dari lantai tiga itu, maka mungkin sekali orang akan menganggap saya sebagai pahlawan yang rela berkorban bagi anak saya. Tetapi kalau pada saat itu sebetulnya ada banyak jalan yang lain, dan saya tetap ‘rela mengorbankan nyawa saya’ demi anak saya, maka saya yakin bahwa orang akan menganggap tindakan itu sebagai tindakan konyol dan bodoh.

Demikian juga dengan apa yang Yesus lakukan bagi kita. Kalau memang ada jalan lain untuk selamat, dan Yesus tetap rela berkorban bagi kita, Ia betul-betul konyol dan bodoh. Tetapi karena memang tidak ada jalan lain, dan Yesus rela melakukan pengorbanan di atas kayu salib, maka tindakanNya betul-betul merupakan tindakan kasih yang luar biasa.

9) Perintah Yesus untuk menjadikan semua bangsa murid Yesus (Mat 28:19-20) menunjukkan bahwa:

a) Yesus memang adalah satu-satunya jalan ke surga.

Kalau memang Yesus bukan satu-satunya jalan keselamatan, untuk apa ada perintah untuk memberitakan Injil / membawa semua orang untuk datang kepada Yesus?

b) Orang yang tidak pernah mendengar tentang Yesus juga akan binasa / masuk neraka! Kalau orang yang tidak pernah mendengar Injil bisa masuk surga, maka untuk apa kita diperintahkan untuk memberitakan Injil? Bahwa kita diperintahkan untuk memberitakan Injil dan menjadikan semua bangsa murid Yesus, jelas menunjukkan bahwa orang yang tidak pernah mendengar Injil juga pasti tidak bisa selamat. Pandangan ini didukung oleh beberapa bagian Kitab Suci yang lain seperti:

· Ro 2:12a - “Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat”.

Dalam jaman Perjanjian Lama, orang di luar Israel / Yahudi yang tidak pernah mempunyai hukum Taurat, dikatakan ‘binasa tanpa hukum Taurat’. Analoginya, dalam jaman Perjanjian Baru, orang yang tidak pernah mendengar Injil, akan ‘binasa tanpa Injil’!

· Ro 10:13-14 - “Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakanNya?”.

Text ini membentuk suatu rantai. Orang yang berseru kepada nama Tuhan akan selamat, tetapi ia tidak akan bisa berseru kepada nama Tuhan kalau ia tidak percaya kepada Tuhan. Dan ia tidak akan bisa percaya kepada Tuhan kalau ia tidak perneh mendengar tentang Dia. Dan ia tidak akan bisa mendengar tentang Dia, kalau tidak ada yang memberitakan Injil kepadaNya.

Jadi, kalau tidak ada orang yang memberitakan Injil kepadanya, ia tidak bisa mendengar tentang Dia, sehingga tidak percaya kepadaNya, sehingga tidak bisa berseru kepadaNya, sehingga tidak bisa diselamatkan.

Dengan demikian jelaslah bahwa orang yang tidak diinjili / tidak pernah mendengar tentang Yesus, pasti tidak selamat. Fakta Kitab Suci inilah yang mendasari pengutusan misionaris ke tempat-tempat yang belum pernah dijangkau Injil.

· Yeh 3:18 - “Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti dihukum mati! - dan engkau tidak memperingatkan dia atau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu dari hidupnya yang jahat, supaya ia tetap hidup, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu”.

Sesuatu hal lain yang perlu diingat adalah bahwa dalam rasul-rasul melaksanakan perintah ini, mereka memberitakan Injil kepada orang-orang yang sudah beragama sekalipun (agama Yahudi). Dan bagaimanapun mereka diancam untuk tidak memberitakan Injil, mereka tetap memberitakan Injil! (baca Kis 3:11-5:42).

Dari 9 point ini jelaslah bahwa pandangan yang mengatakan bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan ke surga bukanlah fanatisme yang picik, tetapi memang merupakan doktrin / kebenaran yang nyata sekali di ajarkan dalam Kitab Suci! Menolak kebenaran ini sama dengan menolak Kitab Suci / Firman Tuhan! Mengejek orang kristen yang mempercayai kebenaran ini sama dengan mengejek Kitab Suci / Firman Tuhan!

III) Konsekwensi dari doktrin / ajaran ini.

1) Kita sendiri harus percaya dan menerima Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan, karena tanpa itu kita menolak jalan satu-satunya ke sorga, sehingga kita tidak mungkin bisa selamat.

2) Kita harus mengusahakan supaya orang lain bisa mendengar tentang Yesus dan mau percaya kepada Yesus, dengan cara memberitakan Injil kepada mereka, berdoa supaya mereka bisa dan mau percaya kepada Yesus, dan melakukan segala usaha yang bisa kita lakukan untuk mempertobatkan orang yang belum percaya kepada Yesus.

Kita juga harus memberitakan Injil khususnya kepada keluarga kita supaya mereka mau percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Sebagai orang tua kristen, kita harus berusaha mengarahkan anak-anak kita kepada Yesus. Ada orang tua kristen yang merasa bangga dengan sikap mereka yang tidak memaksakan agama mereka kepada anak-anaknya, dan membiarkan anak-anaknya memilih sendiri agama mereka. Saya berpendapat bahwa hanya ada 2 kemungkinan tentang orang tua kristen yang membiarkan anaknya tumbuh bebas dan memilih agamanya sendiri. Atau ia adalah orang kristen KTP yang tidak percaya Yesus sebagai satu-satunya jalan ke surga, atau ia adalah orang tua yang tidak mengasihi anaknya sehingga tidak peduli kalau anaknya masuk ke neraka karena tidak punya Juruselamat. Pada umumnya kemungkinan pertamalah yang benar.

Perhatikan bahwa hal ini dilakukan bukan demi kepentingan kekristenan, tetapi demi kepentingan / keselamatan orang yang diinjili tersebut.

3) Kita juga harus mengusahakan supaya orang kristen yang lain juga mau dan bisa memberitakan Injil.

Usahakan supaya gereja saudara mengadakan kader Pekabaran Injil sehingga jemaat bisa diajar bagaimana caranya memberitakan Injil.

Dengan ada lebih banyak orang kristen yang memberitakan Injil maka jelas bahwa Injil akan lebih cepat tersebar, dan lebih banyak orang bisa diselamatkan.

4) Orang kristen yang menganggap bahwa Yesus hanyalah salah satu jalan ke surga bukanlah orang yang bertoleransi terhadap agama lain, tetapi adalah orang kristen yang tidak percaya pada Kitab Suci / Firman Tuhan, dan ini jelas adalah orang kristen KTP. Tidak peduli betapa tingginya jabatan mereka dalam gereja, bahkan sekalipun mereka adalah pendeta, beritakanlah Injil kepada mereka supaya mereka bertobat.

Catatan: toleransi terhadap agama lain tidak berarti bahwa kita lalu mengubah kepercayaan kita sendiri!

5) Orang yang mengaku sebagai hamba Tuhan tetapi tidak mau mempercayai hal ini dan bahkan mengajarkan sebaliknya, jelas adalah serigala yang berbulu domba (Mat 7:15), atau nabi palsu, yang sedikitpun tidak menghormati otoritas dari Kitab Suci!

6) Kalau kita mengatakan bahwa orang yang tidak per­caya kepada Yesus pasti masuk neraka, maka kita bukan menghakimi, tetapi percaya pada kebenaran Kitab Suci!

Juga perlu dicamkan bahwa Mat 7:1-2 yang berbunyi “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu”, tidak berarti bahwa kita sama sekali tidak boleh menghakimi / menilai kesalahan / kesesatan orang lain, karena kita juga harus memperhatikan Yoh 7:24 yang berbunyi “Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil”.

Juga perhatikan ayat-ayat di bawah ini, yang menunjukkan bahwa orang kristen diberi kuasa untuk menyatakan apakah seseorang diampuni oleh Allah atau tidak (tentu saja pernyataan ini tergantung dari tanggapan orang itu terhadap penginjilan yang kita lakukan).

· Mat 16:18-19 - “Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.’”.

· Mat 18:18 - “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga”.

· Yoh 20:23 - “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada”.

Mat 18:18 boleh dikatakan sama bunyinya dengan Mat 16:19. Dan kedua ayat itu boleh dikatakan sama artinya dengan Yoh 20:23. Bedanya adalah, kalau Mat 16:19 itu diucapkan hanya kepada Petrus, maka Mat 18:18 dan Yoh 20:23 diucapkan kepada semua murid.

7) Kalau orang kristen percaya / menyatakan Yesus sebagai satu-satunya jalan ke surga, itu bukan sikap egois, mau menang sendiri, tidak kasih kepada orang lain dsb.

Illustrasi: Bayangkan bahwa saya mempunyai sebuah rumah dan saya memberikan hanya 1 pintu untuk masuk ke rumah itu. Si A saya beri tahu bahwa kalau mau masuk ke rumah saya harus melalui pintu satu-satunya itu. Kalau masuk melalui jendela atau naik tembok belakang atau masuk lewat genteng, akan saya tembak. Lalu si A memberitakan hal itu kepada saudara supaya saudara bisa masuk rumah saya dengan cara yang benar dan tidak ditembak. Apakah si A ini egois, mau menang sendiri, tidak kasih kepada saudara?

Kepercayaan tentang Kristus sebagai satu-satunya jalan ke surga bisa ada bersama-sama dengan kasih kepada orang non kristen, dan ini diwujudkan dengan memberitakan Injil kepada orang non kristen itu, supaya ia bisa diselamatkan.

8) Orang-orang kristen yang sudah mendengar ajaran ini tetapi tetap berkata bahwa mereka tidak tahu akan nasib orang yang tidak percaya Yesus dengan alasan bahwa mereka tidak maha tahu dan hanya Allah yang maha tahu, bukanlah orang yang rendah hati, tetapi adalah orang-orang tegar tengkuk yang tidak menghargai otoritas Kitab Suci! Mereka bukannya tidak tahu, tetapi memang tidak mau tahu! Tidak ada orang yang lebih buta dari pada orang yang tidak mau melihat!

9) Kita perlu hati-hati dengan orang yang mengatakan ‘moga-moga Tuhan menyediakan jalan untuk selamat bagi orang yang mati tanpa Kristus’. Kata-kata seperti ini tampaknya penuh kasih, tetapi jelas merupakan kata-kata dari orang yang tidak percaya pada Firman Tuhan! Mengatakan ‘moga-moga orang di luar Kristus bisa selamat’ adalah sama dengan mengatakan ‘moga-moga kata-kata Yesus dalam Yoh 14:6 itu adalah salah / dusta’!

10) Kita tidak boleh mendukung:

a) Gereja-gereja sesat yang tidak mempercayai Yesus sebagai satu-satunya jalan keselamatan.

b) Gereja-gereja yang tidak lagi memberitakan Injil.

Catatan: perlu diingat bahwa ada banyak gereja yang masih mempunyai slogan yang injili, seperti Yesus adalah satu-satunya Juruselamat dsb, tetapi itu tidak diwujudkan dengan ditekankannya Pemberitaan Injil.

c) Gereja-gereja yang memberitakan Injil yang sudah diselewengkan, seperti:

· Social Gospel (= Injil sosial), dimana penekan penginjilannya adalah pada bantuan sosial, bukan pada pemberitaan Injil. Ini banyak terdapat dalam gereja-gereja Protestan yang liberal. Mereka mempunyai komisi Pekabaran Injil, tetapi apa yang dilakukan oleh komisis Pekabaran Injil tersebut hanyalah mendatangi panti asuhan, tempat yang terkena bencana alam, dsb, dimana mereka lalu membagi-bagikan uang, makanan, pakaian, dan lalu pulang. Perlu diingat bahwa fungsi gereja bukanlah menjadi semacam sinterklaas, tetapi sebagai pemberita Injil / Firman Tuhan! Juga perlu diingat bahwa orang-orang yang dilayani dengan pelayanan seperti itu, sekalipun mereka merasa senang karena mendapatkan pertolongan yang bersifat jasmani dan sementara, tetapi pada akhirnya tetap akan masuk ke neraka, karena tidak percaya kepada Kristus, yang tidak pernah diberitakan kepada mereka!

· Yesus ditekankan sebagai dokter, pelaku mujijat, pemberi berkat, tetapi tidak sebagai Juruselamat dan Tuhan. Ini banyak terdapat dalam gereja Pentakosta / Kharismatik.

Jangan mendukung gereja-gereja seperti ini baik dalam keuangan, tenaga / pikiran, pelayanan, publikasi, atau bahkan kehadiran dan doa (kecuali mendoakan supaya mereka bertobat), karena mendukung gereja sesat sama dengan mendukung setan!

BACA JUGA: 14 KHOTBAH TENTANG KEBANGUNAN ROHANI (1)

Bandingkan dengan Gal 1:6-9 yang menunjukkan pandangan Paulus terhadap orang yang memberitakan Injil yang berbeda: “Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia”.

Kalau mendukung gereja sesat sudah tidak boleh, lebih-lebih mendukung agama lain! Ingat bahwa kita memang harus mengasihi orang yang beragama lain. Ini diwujudkan dengan memberitakan Injil kepada mereka, dan bahkan menolong mereka / menyumbang mereka kalau mereka mendapatkan musibah / membutuhkan pertolongan. Tetapi kita tidak boleh mendukung agama mereka!

Sebaliknya, dukunglah gereja-gereja / hamba-hamba Tuhan yang betul-betul memberitakan Injil. Dukungan dibutuhkan baik dalam doa, tenaga, pikiran, keuangan, publikasi, dsb. Ingat bahwa tidak mendukung gereja yang benar, adalah sama dengan mendukung kesesatan!
-AMIN-

12.Pematahan kaki dan penusukan tombak

YOHANES 19:31-37

Catatan: pelajaran tentang Yoh 19:31-37 ini tidak disusun sebagai khotbah un-tuk kebaktian tetapi sebagai bahan untuk Pemahaman Alkitab.

I) Pematahan kaki (ay 31-33,36).

1) Dalam tradisi penyaliban orang Romawi, mereka membiarkan begitu saja orang yang disalib itu sampai mati. Ini bisa memakan waktu berhari-hari. Setelah orang itu mati, kadang-kadang mereka membiarkan mayat itu begitu saja pada salibnya sebagai peringatan bagi semua orang, dan kadang-kadang mereka menurunkannya dan membiarkan mayat itu dima-kan burung pemakan bangkai / anjing.

Leon Morris (NICNT):

“The Roman custom was to leave the bodies of crucified criminals on their crosses as a warning to others. It was therefore necessary to obtain permission before removing a body” (= Kebiasaan Romawi adalah membiarkan mayat-mayat dari orang-orang kriminil yang disalib itu pada salib mereka sebagai suatu peringatan bagi yang lain. Karena itu perlu mendapatkan ijin sebelum menurunkan suatu mayat / tubuh).

William Barclay:

“When the Romans carried out crucifixion under their own customs, the victim was simply left to die on the cross. He might hang for days in the heat of the midday sun and the cold of the night, tortured by thirst and tortured also by the gnats and the flies crawling in the weals on his torn back. Often men died raving mad on their crosses. Nor did the Romans bury the bodies of crucified criminals. They simply took them down and let the vultures and the crows and the dogs feed upon them” (= Kalau orang Romawi melakukan penyaliban dalam tradisi mereka, korban dibiarkan begitu saja untuk mati pada salib. Ia bisa tergantung selama berhari-hari dalam panasnya matahari pada tengah hari dan dinginnya malam, disiksa oleh kehausan dan disiksa juga oleh serangga dan lalat yang merayap pada punggungnya yang sudah tercabik-cabik. Seringkali orang-orang mati pada salib mereka sambil ngoceh tak karuan seperti orang gila. Juga orang Romawi tidak mengubur mayat-mayat dari penjahat-penjahat yang disalib. Mereka hanya menurun-kan mereka dan membiarkan burung pemakan bangkai dan gagak dan anjing memakan mereka).

2) Orang-orang (tokoh-tokoh) Yahudi meminta dilakukannya pematahan kaki dan penurunan mayat dari kayu salib (ay 31). Mengapa?

a) Mereka harus mempersiapkan diri untuk masuk hari Sabat (ay 31).

Persiapan Sabat dimulai Jum’at pukul 3 siang.

b) ‘Sabat itu adalah hari yang besar’ (ay 31).

Maksudnya itu adalah Sabat yang istimewa, karena menjelang / bertepatan dengan Paskah / Passover.

Catatan: Paskah di sini bukan ‘Easter’ (= Paskah Perjanjian Baru yang menunjuk pada khari Kebangkitan Yesus), tetapi ‘Passover’ (Paskah Perjanjian Lama, yaitu hari peringatan keluarnya orang Israel dari Mesir).

c) Mereka tidak mau bahwa pada hari Sabat istimewa itu, tanah mereka dinajiskan oleh adanya mayat / orang yang tergantung pada salib.

Bdk. Ul 21:22-23 - “(22) ‘Apabila seseorang berbuat dosa yang sepadan dengan hukuman mati, lalu ia dihukum mati, kemudian kaugantung dia pada sebuah tiang, (23) maka janganlah mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau menguburkan dia pada hari itu juga, sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah; janganlah engkau menajiskan tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu.’”.

d) Tentang hukum dalam Ul 21:22-23 ini, perlu diketahui bahwa pada jaman Perjanjian Lama salib belum dikenal. Karena itu Ul 21:22-23 sebetulnya menunjuk pada hukuman gantung dimana orangnya lang-sung mati, atau menunjuk kepada orang yang setelah dihukum mati, lalu mayatnya digantung. Tetapi pada jaman Yesus, hukum ini dite-rapkan pada penyaliban yang bisa berlangsung berhari-hari. Bahwa orang yang disalib bisa bertahan berhari-hari, terlihat dari kutipan-kutipan di bawah ini:

‘The International Standard Bible Encyclopedia’ dalam article berjudul ‘Cross’ berkata sebagai berikut:

“The length of this agony was wholly determined by the constitution of the victim and the extent of the prior flogging, but death was rarely seen before 36 hours had passed” (= Lamanya / panjangnya penderitaan ini se-penuhnya ditentukan oleh keberadaan korban itu secara fisik dan mental dan tingkat pencambukan yang mendahuluinya, tetapi kematian jarang terlihat sebelum 36 jam berlalu).

Bandingkan dengan Mark 15:44 dimana Pilatus heran karena Yesus mati begitu cepat.

Thomas Whitelaw:

“When violence was not used, the crucified often lived 24 or 36 hours, sometimes three days and nights” (= Kalau kekerasan tidak digunakan, orang yang disalib sering hidup selama 24 atau 36 jam, kadang-kadang 3 hari 3 malam).

William Barclay dalam komentarnya tentang Luk 23:32-38 berkata se-bagai berikut:

“Many a criminal was known to have hung for a week upon his cross until he died raving mad” (= Banyak penjahat diketahui tergantung selama seminggu pada salibnya sampai ia mati sambil mengoceh tidak karuan seperti orang gila).

‘Unger’s Bible Dictionary’ dalam artikel berjudul ‘Crucifixion’ berkata sebagai berikut:

“Instances are on record of persons surviving nine days” (= Ada contoh-contoh / kejadian-kejadian yang tercatat dari orang-orang yang bertahan sampai 9 hari).

e) Kalau orang hukuman itu diturunkan dari salib dalam keadaan masih hidup, maka itu berarti bahwa ia tidak jadi dihukum mati. Karena itulah mereka meminta dilakukan pematahan kaki lebih dulu, supaya orang hukuman itu cepat mati. Setelah orangnya mati, barulah mayatnya diturunkan.

Dari semua ini terlihat bahwa orang-orang Yahudi ini mentaati peraturan kecil, tetapi melanggar peraturan besar, yaitu membunuh Yesus yang tak bersalah. Bandingkan dengan kecaman Yesus terhadap mereka dalam Mat 23:23-24 - “(23) Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. (24) Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan”.

Charles Haddon Spurgeon:

“Their consciences were not wounded by the murder of Jesus, but they were greatly moved by the fear of ceremonial pollution. Religious scruples may live in a dead conscience” (= Hati nurani mereka tidak terluka oleh pembunuhan terhadap Yesus, tetapi mereka sangat tergerak oleh rasa takut akan pen-cemaran yang bersifat upacara. Keberatan agama bisa hidup dalam hati nurani yang mati) - ‘A Treasury of Spurgeon on The Life and Work of Our Lord, vol VI - The Passion and Death of Our Lord’, hal 665.

3) Tentang pematahan kaki.

Para penafsir mengatakan bahwa pematahan kaki orang yang disalib ini dilakukan pada bagian di antara lutut dan pergelangan kaki, dan ini di-lakukan dengan menggunakan besi atau martil yang berat. Ini tentu meru-pakan suatu tindakan yang sangat kejam, karena menimbulkan rasa sakit yang luar biasa, tetapi pematahan kaki ini mempercepat kematian.

Pulpit Commentary:

“Though a cruel act, it was designed to shorten the sufferings of the crucified” (= Sekalipun merupakan tindakan yang kejam, tindakan ini bertujuan untuk memperpendek penderitaan orang yang disalib).

Pulpit Commentary:

“ ... a brutal custom, which added to the cruel shame and torment, even though it hastened the end” (= ... kebiasaan / tradisi yang brutal, yang ditambahkan pada rasa malu dan penyiksaan yang kejam, sekalipun ini mempercepat kematian).

Ada 2 pandangan mengapa pematahan kaki bisa mempercepat kematian:

Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘Crucifixion’: “Death, apparently caused by exhaustion or by heart failure, could be hastened by shattering the legs (crurifragium) with an iron club, so that shock and asphyxiation soon ended his life” [= Kematian, rupanya disebabkan oleh kehabisan tenaga atau oleh gagal jantung, bisa dipercepat oleh penghancuran kaki-kaki (crurifragrium) dengan suatu pentungan besi, sehingga kejutan / shock dan sesak nafas segera mengakhiri hidupnya].

a) Karena sesak nafas.

Orang yang disalib sukar bernafas, dan setiap mau bernafas harus menjejakkan kakinya untuk mengangkat dadanya ke atas. Pada waktu kaki-kakinya dipatahkan, maka ia tidak lagi bisa melakukan hal ini, dan akan mengalami sesak nafas, yang mempercepat kematiannya.

F. F. Bruce:

“The common view today seems to be that the breaking of the legs hastened death by asphyxiation. The weight of the body fixed the thoracic cage so that the lungs could not expel the air which was breathed in, but breathing by diaphragmatic action could continue for a long time so long as the legs, fastened to the cross, provided a point of leverage. When the legs were broken this leverage was no longer available and total asphyxia followed rapidly” (= Kelihatannya pandangan yang umum pada jaman ini adalah bahwa pematahan kaki mempercepat kematian oleh sesak nafas. Berat badan menyebabkan ruang dada tidak bisa dikempiskan sehingga paru-paru tidak dapat mengeluarkan udara yang dihisap, tetapi bernafas dengan menggunakan diafragma bisa dilakukan untuk waktu yang lama selama kaki, yang dipakukan pada salib, memberikan tekanan ke atas. Pada waktu kaki-kaki dipatahkan pengangkatan ke atas ini tidak ada lagi, dan sesak nafas total akan menyusul).

Leon Morris (NICNT):

“The victims of this cruel form of execution could ease slightly the strain on their arms and chests by taking some of their weight on the feet. This helped to prolong their lives somewhat. When the legs were broken this was no longer possible. There was then a greater constriction of the chest, and the death came on more quickly. This was aided also, of course, by the shock attendant on the brutal blows as the legs were broken with a heavy mallet” (= Korban-korban dari hukuman mati yang kejam ini bisa mengurangi sedikit ketegangan pada lengan dan dada mereka dengan memindahkan sebagian berat pada kaki / menekan pada kaki. Ini menolong untuk memperpanjang hidup mereka. Pada saat kaki mereka dipatahkan ini tidak lagi mungkin dilakukan. Karena itu lalu terjadi kesesakan yang lebih besar pada dada, dan kematian datang lebih cepat. Tentu saja ini didukung pula oleh kejutan yang menyertai pukulan-pukulan brutal pada saat kaki-kaki mereka dipatahkan dengan martil yang berat).

b) Adanya rasa sakit yang luar biasa atau shock / kejutan yang ditim-bulkannya, sehingga menyebabkan terjadinya kematian.

Charles Haddon Spurgeon:

“... hastening death by the terrible pain which it would cause, and the shock to the system which it would occasion” (= ... mempercepat kematian oleh rasa sakit yang luar biasa yang disebabkannya, dan kejutan pada sistim yang ditimbulkannya) - ‘A Treasury of Spurgeon on The Life and Work of Our Lord, vol VI - The Passion and Death of Our Lord’, hal 666.

William Hendriksen:

“Such breaking of the bones (crurifragium, as it is called) by means of the heavy blows of a hammer or iron was frightfully inhuman. It caused death, which otherwise might be delayed by several hours or even days. Says Dr. S. Bergsma in an article ...: ‘The shock attending such cruel injury to bones can be the coup de grace causing death’” [= Pematahan tulang (disebut dengan istilah crurifragium) dengan cara pemukulan menggunakan martil atau besi merupakan sesuatu yang menakutkan yang tidak manusiawi. Ini menyebabkan kematian, yang sebetulnya bisa ditunda beberapa jam atau bahkan beberapa hari. Kata Dr. S. Bergsma dalam suatu artikel... : ‘Kejutan yang ditimbulkan oleh pelukaan yang kejam pada tulang seperti itu bisa menjadi tindakan yang mengakhiri penderitaan dengan kematian’].

4) Para tentara Romawi lalu mematahkan kaki dari 2 penjahat yang disalib bersama Yesus (ay 32).

a) Sesuatu yang penting diperhatikan dalam bagian ini adalah bahwa penjahat yang bertobat mengalami nasib yang sama dengan penjahat yang tidak bertobat. Tuhan tidak lalu mengadakan ‘rapture’ bagi dia dan ‘mengambilnya’ sebelum hal itu dilakukan!

Charles Haddon Spurgeon:

“It is a striking fact that the penitent thief, although he was to be in Paradise with the Lord that day, was not, therefore, delivered from the excruciating agony occasioned by the breaking of his legs. We are saved from eternal misery, not from temporary pain” (= Adalah merupakan fakta yang menyolok bahwa pencuri / penjahat yang bertobat, sekalipun akan bersama dengan Tuhan di Firdaus pada hari itu, tidak dibebaskan dari penderitaan yang menyakitkan yang ditimbulkan oleh pematahan kaki-nya. Kita diselamatkan dari kesengsaraan kekal, bukan dari rasa sakit sementara) - ‘A Treasury of Spurgeon on The Life and Work of Our Lord, vol VI - The Passion and Death of Our Lord’, hal 666.

Penerapan:

· Seorang kristen berkata kepada saya bahwa menurut dia 5 orang yang mati dibakar di Situbondo itu pasti tidak merasa sakit. Sebelum mereka merasa sakit, Tuhan sudah ‘mengangkat’ mere-ka. Saya sama sekali tidak yakin akan kebenaran kata-kata ini!

· Kalau ada gempa bumi, banjir, atau bencana lain apapun juga, jangan heran kalau gereja / orang kristen juga terkena. Tuhan memang bisa menghindarkan hal itu dari gereja / orang kristen, dan kadang-kadang Ia melakukan hal itu, tetapi seringkali Ia membiarkan orang kristen terkena bencana bersama-sama dengan orang kafir!

b) Tetapi sekalipun pematahan kaki ini memberi penderitaan luar biasa bagi penjahat yang bertobat itu, pematahan kaki ini juga dipakai oleh Tuhan untuk memberi berkat kepadanya, karena melalui pematahan kaki ini ia mati hari itu juga sehingga kata-kata / janji Yesus kepadanya dalam Luk 23:43 tergenapi.

Charles Haddon Spurgeon:

“Suffering is not averted, but it is turned into a blessing. The penitent thief entered into Paradise that very day, but it was not without suffering; say, rather, that the terrible stroke was the actual means of the prompt fulfilment of his Lord’s promise to him. By that blow he died that day; else might he have lingered long” (= Penderitaan tidak dicegah / dihindarkan, tetapi penderitaan itu diubah menjadi suatu berkat. Pencuri yang bertobat itu masuk ke Firdaus hari itu juga, tetapi itu tidak terjadi tanpa penderitaan; sebaliknya pukulan yang mengerikan itu merupakan jalan / cara yang sebenarnya untuk penggenapan yang tepat dari janji Tuhannya kepadanya. Oleh pukulan itu ia mati pada hari itu; kalau tidak ia mungkin akan tetap hidup lama) - ‘A Treasury of Spurgeon on The Life and Work of Our Lord, vol VI - The Passion and Death of Our Lord’, hal 666.

5) Yesus sudah mati, sehingga kakiNya tidak dipatahkan (ay 33).

Allah mengatur supaya Yesus mati lebih dulu, supaya tulangNya tidak dipatahkan. Bisa juga dikatakan bahwa Yesusnya sendiri mengatur supaya Ia mati lebih dulu, sehingga tulangNya tidak dipatahkan. Bahwa Yesusnya sendiri mengatur kematianNya bisa terlihat dari Mat 27:50 dan Luk 23:46 dimana Ia mati karena Ia menyerahkan nyawa / rohNya ke tangan Bapa. Bandingkan ini dengan Yoh 10:17b-18 yang berbunyi:

“Aku memberikan nyawaKu untuk menerimanya kembali. Tidak seorang-pun mengambilnya dari padaKu, melainkan Aku memberikannya menurut kehendakKu sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa meng-ambilnya kembali”.

Ini tidak berarti bahwa Ia tidak memikul sepenuhnya hukuman dosa kita. Perhatikan ay 28 yang mengatakan bahwa ‘semuanya telah selesai’. Juga ay 30 dimana Yesus berkata ‘Sudah selesai’. Jadi Ia menyerahkan nyawa / rohNya, setelah penebusan dosa yang dilakukanNya selesai.

Tetapi bagaimana bisa selesai padahal Ia belum mati? Calvin mengata-kan bahwa tentu Yesus sudah memperhitungkan kematianNya di dalam kata-kata ‘Sudah selesai’ itu.

6) Mengapa Allah / Yesus mengatur sehingga kaki Yesus tidak dipatahkan?

Jawabnya ada dalam ay 36. Jadi, kaki / tulang Yesus dijaga supaya tidak dipatahkan, supaya nubuat Kitab Suci / Perjanjian Lama tergenapi. Nubuat yang mana?

· Ada yang mengatakan bahwa nubuat yang tergenapi adalah Maz 34:21 (dalam bahasa Inggris - Psalm 34:20). Tetapi kebanyakan penafsir menganggap bahwa tidak dipatahkannya kaki Yesus bukan merupakan penggenapan dari Maz 34:21 ini, karena ayat ini tidak berbicara tentang Kristus, tetapi tentang orang benar secara umum. Dan kalau dikatakan tulang orang benar dijaga supaya tidak patah, tentu tidak boleh diartikan secara hurufiah. Maksudnya adalah bahwa Allah akan menjaga kesejahteraannya secara umum.

F. F. Bruce:

“Whereas in Ps. 34:20 the guarding of the righteous man’s bones means the preservation of his general well-being, the literal sense of the term in John’s narrative consorts better with its literal sense in the prescription regarding the passover lamb” (= Mengingat bahwa dalam Maz 34:21 penjagaan tulang orang benar berarti penjagaan / pemeliharaan kese-jahteraan / kesehatannya secara umum, arti hurufiah dari istilah itu dalam cerita Yohanes lebih cocok dengan arti hurufiahnya dalam pe-tunjuk / ketentuan tentang domba Paskah).

· Nubuat yang digenapi dengan tidak dipatahkannya kaki / tulang Yesus adalah Kel 12:46 dan Bil 9:12, yang memberi peraturan tentang dom-ba Paskah (Passover Lamb), dimana tulangnya tidak boleh dipatah-kan. Domba Paskah ini adalah Type / gambaran dari Kristus (1Kor 5:7).

II) Penusukan tombak (ay 34-35,37).

1) Tentara Romawi sebetulnya mau mematahkan kaki Yesus, tetapi melihat bahwa Yesus sudah mati, mereka tidak mematahkan kaki Yesus. Tetapi seorang tentara, mungkin karena ingin memastikan kematian Yesus, atau mungkin sekedar ingin melakukan sesuatu yang brutal terhadap mayat Yesus, lalu menusuk Yesus dengan tombak (ay 34).

2) Penusukan tombak terhadap Yesus.

a) Di bagian mana Yesus ditusuk dengan tombak?

Kitab Suci Indonesia menterjemahkan ‘lambung’. Ini salah terjemahan.

KJV/RSV/NIV/NASB: ‘side’ (= sisi).

b) Yesus ditusuk tombak di rusuk / sisi yang mana? Yang kiri atau yang kanan?

Ada tradisi yang mengatakan rusuk kanan, dan beberapa penafsir mengatakan bahwa kita tidak bisa tahu apakah itu rusuk kiri atau kanan. Tetapi saya sangat condong untuk menyetujui pandangan dari mayoritas penafsir yang mengatakan bahwa yang ditikam adalah rusuk kiri. Alasannya:

· Seorang tentara dilatih untuk membunuh, sehingga tentu ia akan menusuk jantung.

· Kalau tentara itu tidak kidal, maka ia akan memegang tombak dengan tangan kanan di bagian belakang tombak dan tangan kiri di bagian depan tombak. Dalam posisi seperti ini, kalau ia mau menusuk rusuk kanan Yesus, ia harus berada hampir di belakang Yesus. Ini rasanya tidak memungkinkan. Lebih mungkin ia menu-suk pada posisi berhadapan dengan Yesus, sehingga pasti akan menusuk rusuk kiri Yesus.

William Hendriksen:

“If the spear was held in the right hand, as is probable, it was in all likelihood the left side of Jesus that was pierced” (= Jika tombak itu dipegang dalam tangan kanan, dan ini mungkin sekali, maka besar kemungkinannya bahwa sisi / rusuk kiri Yesus yang ditusuk).

· Ada juga yang mengatakan bahwa kalau yang ditusuk bukan rusuk kiri maka tidak mungkin bisa keluar darah dan air.

c) Arah penusukan tombak.

Kita perlu mengingat bahwa orang yang disalib posisinya lebih tinggi sekitar 3 kaki (90 cm) dari orang lain.

William Barclay (dalam Lukas 23:32-38):

“It was quite low, so that the criminal’s feet were only two or three feet above the ground” (= Itu cukup rendah, sehingga kaki dari orang kriminil itu hanyalah 2 atau 3 kaki di atas tanah).

Penafsir yang lain mengatakan jarak / tinggi kaki orang yang disalib dari tanah adalah 3-4 kaki.

Karena orang yang disalib itu letaknya agak tinggi, jelas bahwa arah penusukan tombak itu ke atas (ke jantung).

Charles Haddon Spurgeon:

“... probably thrusting his lance quite through the heart” (= ... mungkin menusukkan tombaknya betul-betul menembus jantung) - ‘A Treasury of Spurgeon on The Life and Work of Our Lord, vol VI - The Passion and Death of Our Lord’, hal 667.

d) Dalamnya penusukan tombak / besarnya luka penusukan tombak.

Luka pada rusuk Yesus karena penusukan tombak ini cukup besar. Dari mana kita tahu hal itu? Dari:

· Yoh 20:25 - ‘... sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambungNya ...’.

· Yohanes 20:27 - ‘Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tanganKu, ulur-kanlah tanganmu dan cucukkanlah ke dalam lambungKu ...’.

Untuk bekas paku di tangan Yesus, Thomas ingin mencucukkan jarinya, tetapi untuk bekas tombak pada rusuk Yesus, Thomas ingin mencucukkan tangannya. Ini menunjukkan bahwa bekas penusukan tombak itu sangat besar dan jauh lebih besar dari bekas paku di tangan Yesus. Supaya bisa menghasilkan lubang sebesar itu tombak harus ditusukkan cukup dalam, sedikitnya sedalam 4-5 inci.

e) Komentar tentang lubang penusukan tombak.

George Hutcheson:

“As a hole was made in Adam’s side to take out a wife, so a hole was made in his side to take in his beloved bride to his heart” (= Sebagaimana sebuah lubang dibuat pada rusuk Adam untuk mengeluarkan seorang istri, begitu juga sebuah lubang dibuat di rusukNya untuk memasukkan pengantin tercintaNya kepada jantung / hatiNya).

f) Perlu ditekankan bahwa bukan penusukan tombak itu yang menye-babkan Yesus mati, karena pada waktu ditusuk tombak, Yesus sudah mati (ay 33), hanya saja kita tidak tahu sudah berapa lama Ia mati.

Hendriksen mengutip Dr. Bergsma:

“To presuppose, as some do, that the spear pierced the still living heart, and thus to account for the blood and water is contrary ... to science, for pure blood would have issued forth. It was in the crucifixion itself that his death was to be accomplished, not in a spear-thrust by a soldier” (= Menganggap, seperti yang dilakukan beberapa orang, bahwa tombak itu menusuk jantung yang masih hidup, sehingga menyebabkan keluarnya darah dan air, bertentangan ... dengan ilmu pengetahuan, karena kalau demikian maka darah murni yang akan keluar. Dalam penyaliban itu sendiri kematianNya terjadi, bukan dalam penusukan tombak oleh seorang tentara).

3) Pada waktu Yesus ditusuk tombak, maka keluar darah dan air (ay 34b).

Keluarnya darah dan air dari rusuk Yesus ini membingungkan semua penafsir, karena banyak orang berkata bahwa kalau orang hidup ditusuk maka hanya akan keluar darah (tanpa air), dan kalau orang mati ditusuk maka tidak akan keluar apa-apa. Lalu mengapa pada waktu Yesus ditusuk, bisa keluar darah dan air?

Ada yang sekedar mengatakan bahwa Yohanes tidak mempedulikan penyebab kematian Kristus, atau bagaimana Kristus mati, tetapi hanya peduli dengan fakta bahwa Kristus memang sudah mati.

F. F. Bruce:

“Not surprisingly, the diagnoses have varied: for one thing, John does not say which side was pierced (an early tradition specifies the right side)” [= Tidak mengherankan kalau diagnosa-diagnosa berbeda-beda / bervariasi: karena satu hal, Yohanes tidak mengatakan sisi / rusuk yang mana yang ditikam (suatu tradisi kuno menyatakan sisi / rusuk kanan)].

F. F. Bruce:

“... but it was with the fact of death, not with the cause of death, that John was concerned” (= ... tetapi yang diperhatikan oleh Yohanes adalah fakta ke-matiannya, bukan penyebab kematiannya).

Tetapi kebanyakan penafsir berusaha menjelaskan bagaimana darah dan air itu bisa keluar dari rusuk Yesus. Ada bermacam-macam teori yang mencoba untuk menjelaskan hal ini:

a) Ini adalah mujijat / tanda.

Origen mengatakan bahwa darah membeku pada orang mati, dan air juga tak akan keluar dari orang mati. Karena itu ini jelas adalah suatu mujijat.

b) Darah keluar dari jantung dan air keluar dari pericardium / kantung pembungkus jantung.

Barnes’ Notes:

“The heart is surrounded by a membrane called the pericardium. This membrane contains a serous matter or liquor resembling water, which prevents the surface of the heart from becoming dry by its continual motion” (= Jantung dibungkus oleh membran yang disebut pericardium. Membran ini terdiri dari zat yang tipis dan berair atau cairan yang mirip air, yang menjaga supaya permukaan jantung tidak menjadi kering karena pergerakannya yang terus-menerus).

Catatan:

Pericardium = PERI (= around / sekeliling) + KARDIA (= heart / jantung). Jadi Pericardium = the thin, membrane sac enclosing the heart (= kantung membran tipis yang membungkus jantung).

Adam Clarke:

“It may be naturally supposed that the spear went through the pericardium and pierced the heart; that the water proceeded from the former, and the blood from the latter” (= Adalah wajar untuk menganggap bahwa tombak itu menembus pericardium dan menusuk jantung; bahwa air keluar dari yang terdahulu, dan darah dari yang terakhir).

c) Ini disebabkan pencambukan yang dialami Yesus.

‘The International Standard Bible Encyclopedia’ dalam article berjudul ‘Blood and water’:

“A. F. Sava ... suggests that the blood and water were accumulated in the pleural cavity between the rib cage and the lung. He shows that severe nonpenetrating chest injuries are capable of producing such an accumulation, and suggests that a scourging such as Jesus received several hours before His death was sufficient to account for the accumulation that flowed forth when the chest wall was pierced. Also, there was enough time between the scourging and the piercing to allow the red blood cells to separate from the lighter clear serum” (= A. F. Sava ... mengusulkan bahwa darah dan air terkumpul dalam rongga di antara rusuk dan paru-paru. Ia menunjukkan bahwa luka-luka hebat yang tidak menembus dada bisa menimbulkan pengumpulan seperti itu, dan mengatakan bahwa pencambukan seperti yang diterima oleh Yesus beberapa jam sebelum kematianNya cukup untuk menimbulkan pengumpulan itu, yang lalu keluar pada waktu dinding dada ditikam. Juga, ada cukup waktu antara pencambukan dan penikaman untuk mengijinkan sel-sel darah merah berpisah dengan cairan jernih yang lebih encer).

d) Tubuh / daging Yesus unik, karena tidak mengalami pembusukan.

Charles Haddon Spurgeon:

“It was supposed by some that by death the blood was divided, the clots parting from the water in which they float, and that in a perfectly natural way. But it is not true that blood would flow from a dead body if it were pierced. ... The flowing of this blood from the side of our Lord cannot be considered as a common occurrence ... Granted, that blood would not flow from an ordinary dead body; yet remember, that our Lord’s body was unique, since it saw no corruption. ... therefore there is no arguing from facts about common bodies so as to conclude therefrom anything concerning our blessed Lord’s body” (= Beberapa orang menganggap bahwa oleh kematian darah dipisahkan, bekuan-bekuan darah berpisah dari air dimana mereka mengapung, dan itu terjadi betul-betul secara alamiah. Tetapi adalah tidak benar bahwa darah akan keluar dari mayat yang ditikam. ... Mengalirnya darah dari rusuk Tuhan kita tidak bisa dianggap sebagai kejadian yang umum ... Memang darah tidak akan mengalir dari mayat biasa; tetapi ingat bahwa tubuh Tuhan kita itu unik, karena tubuh itu tidak mengalami pembusukan. ... karena itu tidak ada perdebatan dari fakta-fakta tentang mayat-mayat biasa untuk menyimpulkan dari sana apapun tentang tubuh Tuhan kita yang mulia / diberkati) - ‘A Treasury of Spurgeon on The Life and Work of Our Lord, vol VI - The Passion and Death of Our Lord’, hal 667.

Catatan:

· Spurgeon mengatakan bahwa tubuh Kristus tidak mengalami pembusukan berdasarkan Kis 2:31, yang mengutip dari Maz 16:10. Tetapi untuk bagian-bagian ini Kitab Suci Indonesia salah ter-jemahan, karena menterjemahkannya ‘tidak mengalami kebina-saan’.

NASB/Lit: ‘nor did His flesh suffer decay’ (= dagingNya tidak mengalami pembusukan).

NIV: ‘nor did his body suffer decay’ (= tubuhNya tidak mengalami pembusukan).

KJV: ‘neither his flesh did see corruption’ (= dagingNya tidak meng-alami pembusukan).

RSV: ‘nor did his flesh see corruption’ (= dagingNya tidak meng-alami pembusukan).

· Penjelasan Spurgeon ini tidak menjelaskan mengapa rusuk Yesus bisa mengeluarkan air.

e) Darah dari jantung, air dari lambung.

Tasker (Tyndale) mengutip kata-kata / pendapat seorang dokter yang bernama John Lyle Cameron:

“After pointing out that the unexpectedly early death of Jesus is a clear indication that a fatal complication had suddenly developed, he asserts that the insatiable thirst and the post-mortem treatment of the body described in John 19:34 substantiate the conclusion that this complication could only have been acute dilatation of the stomach. He then adds: ‘The soldier was a Roman: he would be well trained, proficient, and would know his duty. He would know which part of the body to pierce in order that he might obtain a speedily fatal result or ensure that the victim was undeniably dead. He would thrust through the left side of the chest a little below the centre. Here he would penetrate the heart and the great blood vessels at their origin, and also the lung on the side. The soldier, standing below our crucified Lord as He hung on the cross, would thrust upwards under the left ribs. The broad, clean cutting, two-edged spearhead would enter the left side of the upper abdomen, would open the greatly distended stomach, would pierce the diaphragm, would cut, wide open, the heart and great blood vessels, arteries and veins now fully distended with blood, a considerable proportion of all the blood in the body, and would lacerate the lung. The wound would be large enough to permit the open hand to be thrust into it. Blood from the greatly engorged veins, pulmonary vessel and dilated right side of the heart, together with water from the acutely dilated stomach, would flow forth in abundance.’” (= Setelah menunjukkan bahwa kematian cepat yang tidak terduga dari Yesus merupakan petunjuk yang jelas bahwa komplikasi yang fatal telah terjadi, ia menegaskan bahwa kehausan yang tidak terpuaskan dan tindakan yang dilakukan kepada tubuh setelah mati dalam Yoh 19:34 menyokong / membenarkan kesimpulan bahwa kom-plikasi ini adalah lambung / usus yang membesar secara akut. Ia lalu menambahkan: ‘Tentara itu adalah tentara Romawi: ia terlatih dengan baik, cakap, dan tahu kewajibannya. Ia tahu bagian mana dari tubuh yang harus ditusuk supaya mendapatkan hasil fatal yang cepat atau memastikan bahwa korban itu betul-betul mati. Ia menikam melalui bagian kiri dari dada sedikit di bawah pusat. Di sini ia akan menembus jantung dan pembuluh-pembuluh darah besar pada asal mulanya / pangkalnya, dan juga paru-paru. Tentara itu, berdiri di bawah Tuhan kita yang tergantung pada kayu salib, menusuk ke atas di bawah rusuk kiri. Mata tombak yang lebar, tajam, bermata dua menusuk perut atas, membuka lambung / usus yang menggelembung besar, menusuk dia-fragma, memotong, membuka lebar, jantung dan pembuluh-pembuluh darah besar, arteri dan pembuluh darah sekarang menggelembung dengan darah, bagian yang cukup banyak dari semua darah dalam tubuh, dan mencabik paru-paru. Luka itu cukup besar untuk memung-kinkan tangan terbuka dimasukkan ke dalamnya. Darah dari pembuluh darah yang sangat padat dengan darah, pembuluh paru-paru dan bagian kanan dari jantung yang membesar, bersama-sama dengan air dari lambung / usus yang membesar secara akut, mengalir keluar dalam jumlah yang banyak).

f) Teori jantung pecah.

William Barclay:

“Normally, of course, the body of a dead man will not bleed. It is suggested that what happened was that Jesus’s experiences, physical and emotional, were so terrible that his heart was ruptured. When that happened the blood of the heart mingled with the fluid of the pericardium which surrounds the heart. The spear of the soldier pierced the pericardium and the mingled fluid and blood came forth. It would be poignant thing to believe that Jesus, in the literal sense of the term, died of a broken heart” (= Biasanya, tentu saja, tubuh orang mati tidak mengeluarkan darah. Diusulkan bahwa apa yang terjadi adalah bahwa pengalaman Yesus, secara fisik dan emosi, begitu mengerikan sehingga jantungNya pecah. Pada saat hal ini terjadi darah dari jantung bercampur dengan cairan dari kantung pembungkus jantung. Tombak tentara itu menusuk kantung pembungkus jantung dan campuran cairan dan darah itu keluar. Adalah sesuatu hal yang meme-dihkan untuk percaya bahwa Yesus, dalam arti hurufiah dari istilah ini, mati karena jantung yang pecah).

William Hendriksen:

“... the death of Jesus resulted from rupture of the heart in consequence of great mental agony and sorrow. Such a death would be almost instantaneous, and the blood flowing into the pericardium would coagulate into the red clot (blood) and the limpid serum (water). This blood and water would then be released by the spear-thrust” [= kematian Yesus diakibatkan oleh pecahnya jantung sebagai akibat dari penderitaan mental dan kesedihan yang hebat. Kematian seperti itu terjadi hampir seketika, dan darah yang mengalir ke pericardium (kantung membran tipis yang membungkus jantung) akan membeku / mengental menjadi gumpalan merah (darah) dan serum / cairan yang transparan (air). Darah dan air ini lalu keluar karena tusukan tombak].

William Hendriksen:

“He (Dr. Bergsma) wisely refrains from drawing a definite conclusion. The matter is too uncertain, and specialists on heart-diseases (and particularly on the rupture of the heart) do not seem to be in complete agreement. Nevertheless, it is clear from the article that Dr. Bergsma leans somewhat toward the ruptured-heart theory as an explanation of the blood and water issuing from the side of Jesus” [= Ia (Dr. Bergsma) secara bijaksana menahan diri dari penarikan kesimpulan yang pasti. Persoalan ini terlalu tidak pasti, dan para spesialis penyakit jantung (dan khususnya tentang pecahnya jantung) tidak sependapat dalam hal ini. Meskipun demikian, jelas dari artikel itu bahwa Dr. Bergsma condong pada teori jantung pecah ini sebagai penjelasan dari darah dan air yang keluar dari sisi / rusuk Yesus].

Penolakan terhadap teori jantung pecah:

‘The International Standard Bible Encyclopedia’ dalam article berjudul ‘Blood and water’ menolak teori jantung pecah ini dengan berkata:

“The romantic notion that Jesus died literally of a broken heart - first advanced by Stroud in 1847 - has fallen from favor. Spontaneous rupture of the heart is not unknown, but it does not occur under the pressure of mental or emotional stress. It is the result of preexisting heart disease, for which, in the case of Jesus, we have no indication” (= Pikiran / gagasan yang romantis bahwa Yesus secara hurufiah mati karena jantung yang pecah - mula-mula diajukan oleh Stroud pada tahun 1847 - telah kehilangan peminat. Pecahnya jantung dengan sendirinya memang dikenal, tetapi hal itu tidak terjadi di bawah tekanan mental atau emosi. Itu merupakan akibat dari penyakit jantung yang mendahuluinya, untuk mana, dalam kasus Yesus, kita tidak mempunyai petunjuk).

Jawaban terhadap penolakan ini:

Terhadap ini perlu dijawabkan bahwa apa yang Yesus alami pada saat itu memang luar biasa, sehingga tidak perlu heran kalau terjadi hal yang unik / lain dari pada lain.

· Hendriksen mengutip Dr. Bergsma:

“... the presence of any considerable quantity of serum and blood clot, issuing after a spear wound as described above, could only come from the heart or the pericardial sac. We must agree from the outset that no pre-existing disease affected Christ’s body. He was a perfect lamb of God. It is extremely rare, well-nigh impossible, authorities say, for the normal heart muscle to rupture. Christ, however, suffered as no man before or since has suffered. Ps. 69:20 says prophetically, ‘Reproach has broken my heart.’ The next verse continues, ‘They gave me gall for my food; and in my thirst they gave me vinegar to drink’. We take the second prophecy as literally fulfilled, but many consider it fantastic to take verse 20 also literally. If Christ’s heart did not rupture, it is difficult to explain any accumulation of blood and water as described by John. The normal pericardial effusion of an ounce or less would be a mere trickle unobserved by anyone” [= ... adanya sejumlah cairan dan bekuan darah yang keluar dari luka tusukan tombak seperti digambarkan di atas, hanya bisa keluar dari jantung atau dari kantung tipis pembungkus jantung. Kita harus setuju dari permulaan bahwa sebelum ini tidak ada penyakit pada tubuh Kristus. Ia adalah domba Allah yang sempurna. Orang-orang yang mempunyai otoritas berkata bahwa adalah sesuatu yang sangat jarang, hampir tidak mungkin, bahwa sebuah otot jantung bisa pecah. Tetapi Kristus, menderita seperti yang tidak pernah dialami oleh siapapun sebelum atau sesudah itu. Maz 69:21 menubuatkan, ‘Cela itu telah mematah-kan / memecahkan jantungku’. Ayat selanjutnya melanjutkan, ‘Mereka memberiku empedu sebagai makananku; dan pada waktu aku haus mereka memberi aku minum cuka / anggur asam’. Kita menganggap bahwa nubuat yang kedua digenapi secara hurufiah, tetapi banyak yang menganggapnya sebagai sesuatu yang fantastis untuk menafsirkan ay 21 juga secara hurufiah. Jika jantung Kristus tidak pecah, adalah sukar untuk menjelaskan pengumpulan darah dan air seperti yang digambarkan oleh Yohanes. Keluarnya cairan dari pericardial / kantung pembungkus jantung normal sebanyak 1 ounce (= 28 gram) atau kurang dari itu hanya merupakan cucuran kecil yang tidak akan diperhatikan oleh siapapun].

Catatan:

¨ Dalam Kitab Suci Indonesia Maz 69:21a berbunyi: “Cela itu telah mematahkan hatiku”.

Tetapi dalam terjemahan NIV Psalm 69:20 berbunyi: “Scorn has broken my heart” (= Caci maki telah mematahkan hatiku / meme-cahkan jantungku).

¨ Dalam Kitab Suci Indonesia Maz 69:22 berbunyi: “Bahkan me-reka memberi aku makan racun dan pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam”.

Tetapi dalam terjemahan NIV Psalm 69:21 berbunyi:

“They put gall in my food and gave me vinegar for my thirst” (= mereka memberi empedu dalam makananku dan memberiku cuka / anggur asam untuk kehausanku).

· William Hendriksen:

“This theory emphasizes the greatness of Christ’s mental and spiritual agony. Ordinarily death by crucifixion might not cause the heart to rupture, but this was no ordinary death. This Sufferer bore the wrath of God against sin. He suffered eternal death, the pangs of hell!” (= Teori ini menekankan kehebatan dari penderitaan mental dan rohani Kristus. Biasanya kematian oleh penyaliban tidak menyebabkan jan-tung pecah, tetapi ini bukanlah kematian biasa. Penderitanya me-mikul murka Allah terhadap dosa. Ia mengalami penderitaan kematian kekal, rasa sakit dari neraka!).

· ‘The International Standard Bible Encyclopedia’ dalam article berjudul ‘Bloody sweat’ (= keringat berdarah): “As the agony of Our Lord was unexampled in human experience, it is conceivable that it may have been attended with physical conditions of a unique nature” (= Karena penderitaan Tuhan kita tidak ada contohnya dalam penga-laman manusia, maka dapat dimengerti bahwa hal itu disertai dengan kondisi-kondisi fisik yang bersifat unik).

Kalau di taman Getsemani, pada waktu Yesus bergumul dalam doa, sudah terjadi phenomena yang luar biasa, yang boleh di-katakan tidak masuk akal, yaitu keluarnya keringat seperti titik darah (Luk 22:44), maka kalau pada salib terjadi phenomena yang lebih luar biasa / lebih tidak masuk akal, seperti jantung yang pecah, itu bukanlah sesuatu yang mengherankan.

4) Apa artinya darah dan air yang keluar dari rusuk Yesus itu?

a) Ada yang berkata: Tidak ada arti apa-apa, kecuali menunjukkan bah-wa Yesus sudah mati.

b) Tetapi kebanyakan penafsir memberikan arti bagi darah dan air yang keluar dari rusuk Yesus itu. Tetapi tentang apa arti darah dan air di sini, ada bermacam-macam penafsiran:

1. Cara / alat keselamatan.

Pulpit Commentary:

“Macarius Magnes and Apollinarius saw an allusion to the side of Adam, from which Eve, the source of evil, was taken; that now the side of the second Adam should give forth the means of salvation” (= Macarius Magnes dan Apollinarius melihat hubungan tak langsung dengan sisi / rusuk Adam, dari mana Hawa, sumber kejahatan, diambil; bahwa sekarang sisi / rusuk dari Adam kedua mengeluarkan alat / cara keselamatan).

Saya berpendapat bahwa pandangan ini kurang specific.

2. Air menunjuk pada baptisan dan darah menunjuk pada Perjamuan Kudus.

Saya tidak setuju dengan penafsiran ini karena bagaimana mung-kin suatu simbol (darah dan air) menunjuk pada simbol yang lain (Perjamuan Kudus dan baptisan)?

3. Darah menunjuk pada pengampunan dosa, air menunjuk pada hi-dup secara rohani.

4. Pandangan Calvin dan Spurgeon.

Calvin menganggap bahwa:

· darah menunjuk pada penebusan, yang menyebabkan kita mendapatkan justification / pembenaran.

· air menunjuk pada pembasuhan, yang menyebabkan kita men-dapatkan sanctification / pengudusan.

Catatan: ada yang menganggap air sebagai simbol dari ke-hidupan rohani.

Ini menunjukkan bahwa Yesus adalah Anti-Type dari sacrifice / korban (» darah) dan washings / pembasuhan (» air) dalam Per-janjian Lama.

Spurgeon membandingkan bagian ini dengan Zakh 12:10, dan ia mengajak untuk membaca Zakharia ini terus sampai Zakh 13:1 yang berbunyi: “Pada waktu itu akan terbuka suatu sumber bagi keluarga Daud dan bagi penduduk Yerusalem untuk membasuh dosa dan kecemaran”. Jadi, darah untuk menangani dosa, air untuk menangani kecemaran.

Jelas bahwa pandangan Calvin dan Spurgeon ini boleh dikatakan sama, dan saya paling condong pada pandangan ini.

Rupa-rupanya berdasarkan ajaran inilah seorang yang bernama Toplady menulis lagu yang berjudul: Rock of Ages, cleft for me (‘Padamu Batu Zaman’).

Rock of Ages, cleft for me, (= Batu karang jaman, celah bagiku,)

Let me hide myself in Thee; (= Biarlah aku menyembunyikan diriku di dalamMu,)

Let the water and the blood, (= Biarlah air dan darah,)

From Thy riven side which flowed, (= yang mengalir dari rusuk / sisiMu yang terluka,)

Be of sin the double cure, (= menjadi penyembuhan / pengobatan ganda bagi dosa,)

Cleanse me from its guilt and power (= mencuci aku dari kesalahan dan kuasanya).

Satu pertanyaan yang perlu dipertanyakan adalah: adakah hubungan antara ‘darah dan air’ di sini dengan ‘air dan darah’ dalam 1Yoh 5:6a?

1Yoh 5:6a - “Inilah Dia yang telah datang dengan air dan darah, yaitu Yesus Kristus, bukan saja dengan air, tetapi dengan air dan dengan darah”.

F.F. Bruce menjawab pertanyaan ini sebagai berikut:

“... it is doubtful whether there is any direct correlation between the ‘water and blood’ of 1John 5:6,8, and the ‘blood and water’ mentioned here” (= ... adalah meragukan apakah ada hubungan langsung antara ‘air dan darah’ dari 1Yoh 5:6,8 dan ‘darah dan air’ yang disebutkan di sini).

Tetapi Calvin dan banyak penafsir lain beranggapan bahwa ay 34 ini memang sangat berhubungan dengan 1Yoh 5:6.

c) Satu lagi arti yang diberikan oleh banyak penafsir tentang darah dan air yang keluar dari rusuk Yesus ialah bahwa ini menunjukkan kalau Yesus betul-betul adalah manusia. Ini untuk menentang pandangan dari ajaran yang disebut Docetism, yang mengatakan bahwa Yesus hanya kelihatannya saja mempunyai tubuh manusia.

5) Pencatatan peristiwa ini oleh Yohanes (ay 35).

a) Ay 35 ini kelihatannya menunjukkan bahwa peristiwa dalam ay 34 adalah sesuatu yang luar biasa.

Charles Haddon Spurgeon:

“... he took care to report it with a special note” (= ... ia berhati-hati untuk melaporkannya dengan catatan khusus) - ‘A Treasury of Spurgeon on The Life and Work of Our Lord, vol VI - The Passion and Death of Our Lord’, hal 667.

Adanya ay 35 ini menyebabkan dari banyak pandangan mengapa dari rusuk Yesus bisa keluar darah dan air itu, saya lebih condong pada pandangan yang bersifat luar biasa (pandangan no 1 atau no 6).

b) Tujuan Yohanes menuliskan ini adalah supaya orang percaya kepada Yesus (ay 35).

6) Tanpa disadari oleh tentara Romawi yang menombak Yesus itu, tindakan-nya ini menggenapi nubuat Kitab Suci / Perjanjian Lama tentang Yesus. Ini terlihat dari ay 37 yang mengutip dari Zakh 12:10.

a) Ini menunjukkan adanya Providence of God yang mengatur semua ini.

Charles Haddon Spurgeon:

“That which lies immediately before us was a complicated case; for if reverence to the Saviour would spare his bones, would it not also spare his flesh? If a coarse brutality pierced his side, why did it not break his legs? How can men be kept from one act of violence, and that an act authorized by authority, and yet how shall they perpetrate another violence which had not been suggested to them? ... The hand of the Lord is here, and we desire to praise and bless that omniscient and omnipotent Providence which thus fulfilled the word of revelation. God hath respect unto his own word, and while he takes care that no bone of his Son shall be broken, he also secures that no text of Holy Scripture shall be broken” (= Apa yang terletak di depan kita adalah suatu kasus yang rumit; karena jika rasa hormat kepada Juruselamat menyebabkan tulangNya tidak dipatahkan, bukan-kah rasa hormat itu juga akan membiarkan dagingNya? Jika kebrutalan yang kasar menikam sisi / rusukNya, mengapa kebrutalan itu tidak mematahkan kakiNya? Bagaimana seseorang bisa ditahan dari suatu tindakan kekerasan / kekejaman, dan itu merupakan tindakan untuk mana ia diberi hak oleh orang yang berwenang, tetapi bagaimana ia bisa melakukan kekerasan / kekejaman yang lain yang tidak dianjurkan kepadanya? ... Tangan Tuhan ada di sini, dan kami ingin memuji dan memuliakan Providence yang mahatahu dan mahakuasa yang dengan demikian menggenapi kata-kata wahyu. Allah menghormati FirmanNya sendiri, dan sementara Ia memperhatikan supaya tidak ada tulang AnakNya yang dipatahkan, Ia juga memastikan supaya tidak ada text Kitab Suci yang kudus yang dipatahkan / dilanggar) - ‘A Treasury of Spurgeon on The Life and Work of Our Lord, vol VI - The Passion and Death of Our Lord’, hal 668-669.

Hal lain yang ditekankan oleh Spurgeon sehubungan dengan hal ini adalah bahwa para tentara bertindak dengan kehendak bebas (free will) mereka, baik pada waktu mereka tidak mematahkan kaki Yesus, maupun pada waktu seorang dari mereka menikam Yesus dengan tombak, tetapi pada saat yang sama mereka menggenapi ketetapan kekal dari Allah.

Charles Haddon Spurgeon:

“They acted of their own free will, and yet at the same time they fulfilled the eternal counsel of God. Shall we never be able to drive into men’s mind the truth that predestination and free agency are both facts? Men sin as freely as birds fly in the air, and they are altogether responsible for their sin; and yet everything is ordained and foreseen of God. The fore-ordination of God in no degree interferes with the responsibility of man. I have often been asked by persons to reconcile the two truths. My only reply is - They need no reconciliation, for they never fell out. Why should I try to reconcile two friends? Prove to me that the two truths do not agree. In that request I have set you a task as difficult as that which you propose to me. These two facts are parallel lines; I cannot make them unite, but you cannot make them cross each other” (= Mereka bertindak dengan kehendak bebas mereka, tetapi pada saat yang sama mereka menggenapi rencana yang kekal dari Allah. Apakah kita tidak akan pernah bisa menancapkan ke dalam pikiran manusia kebenaran bahwa predestinasi dan kebebasan agen / manusia dua-duanya merupakan fakta? Manusia berbuat dosa sebebas burung-burung yang terbang di udara, dan mereka semuanya bertanggung jawab untuk dosa mereka; tetapi segala sesuatu ditetapkan dan dilihat lebih dulu oleh Allah. Penetapan lebih dulu dari Allah sama sekali tidak mengganggu tanggung jawab manusia. Saya sering ditanya oleh orang-orang untuk mendamaikan dua kebenaran ini. Jawaban saya hanyalah - Mereka tidak membutuhkan pendamaian, karena mereka tidak pernah bertengkar. Mengapa saya harus mendamaikan 2 orang sahabat? Buktikan kepada saya bahwa dua kebenaran itu tidak setuju / cocok. Dalam permintaan itu saya telah memberimu suatu tugas yang sama sukarnya seperti yang kaukemukakan kepada saya. Kedua fakta ini adalah garis-garis yang paralel; saya tidak bisa membuat mereka bersatu, tetapi engkau tidak bisa membuat mereka bersilangan) - ‘A Treasury of Spurgeon on The Life and Work of Our Lord, vol VI - The Passion and Death of Our Lord’, hal 670-671.

b) Arti ay 37:

· Ini merupakan ancaman bahwa Yesus akan datang sebagai pembalas. Bandingkan ini dengan Wah 1:7 yang berbunyi:

“Lihatlah, Ia akan datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin”.

Perlu diketahui bahwa ‘meratapi Dia’ dalam Wah 1:7 bukan me-nunjukkan pertobatan, tetapi ketakutan / keputusasaan (bdk. Wahyu 6:12-17).

· Ini janji bahwa orang-orang Yahudi akan bertobat / percaya kepada Yesus (bdk. Zakh 12:10 yang menunjukkan pertobatan).

Pertobatan orang-orang Yahudi terjadi pada hari Pentakosta (Kis 2:37-41). Bagi mereka yang bertobat, tentu saja tidak akan mengalami Wah 1:7.

Penutup:

Maukah saudara bertobat / percaya kepada Yesus? Sebagai penutup mari kita nyanyikan lagu ‘Rock of Ages, cleft for me’ sekali lagi, dan kali ini kita nyanyikan semua baitnya. Sambil menyanyi, hayatilah kata-kata dalam lagu ini!

Rock of Ages, cleft for me, (= Batu karang jaman, celah bagiku,)

Let me hide myself in Thee; (= Biarlah aku menyembunyikan diriku di dalamMu,)

Let the water and the blood, (= Biarlah air dan darah,)

From Thy riven side which flowed, (= yang mengalir dari rusuk / sisiMu yang terluka,)

Be of sin the double cure, (= menjadi penyembuhan / pengobatan ganda bagi dosa,)

Cleanse me from its guilt and power. (= mencuci aku dari kesalahan dan kuasanya).

Not the labors of my hands, (= bukan pekerjaan tanganku,)

Can fulfill Thy law’s demands; (= Dapat memenuhi tuntutan hukumMu;)

Could my zeal no respite know, (= Andaikata semangatku tidak mengenal istirahat,)

Could my tears forever flow, (= Andaikata airmataku mengalir selama-lamanya,)

All for sin could not atone; (= Semua itu tidak bisa menebus dosa;)

Thou must save, and Thou alone. (= Engkau harus menyelamatkan, dan Engkau saja).

Nothing in my hand I bring, (= Tidak ada yang kubawa dalam tanganku,)

Simply to Thy cross I cling; (= Hanya kepada salib aku berpegang;)

Naked, come to Thee for dress, (= Telanjang, datang kepadaMu untuk pakaian,)

Helpless, look to Thee for grace; (= Tak berdaya, memandangMu untuk kasih karunia;)

Foul, I to the fountain fly, (= Kotor, Aku terbang kepada air mancur,)

Wash me, Saviour, or I die! (= Cucilah aku, Juruselamat, atau aku mati).

While I draw this fleeting breath, (= Sementara waktu aku menarik nafas penghabisan,)

When mine eyes shall close in death, (= Ketika mataku tertutup dalam kematian,)

When I soar to worlds unknown, (= Ketika aku terbang ke dunia tak dikenal,)

See Thee on Thy judgment throne, (= melihatMu pada tahta penghakimanMu,)

Rock of Ages, cleft for me, (= Batu karang jaman, celah bagiku,)

Let me hide myself in Thee. (= Biarlah aku menyembunyikan diriku di dalamMu.)

https://teologiareformed.blogspot.com/

Catatan: Pdt. Budi Asali, M.Div:  meraih gelar Master of Divinity (M.Div) dari Reformed Theological Seminary (RTS), Jackson, Mississippi, United States of America
-o0o-
Next Post Previous Post