2 MAKNA JANGAN MENGINGINI (KELUARAN 20:17)

Pdt. Yakub Tri Handoko.
2 MAKNA JANGAN MENGINGINI (KELUARAN 20:17)
gadget, asuransi, otomotif
Jangan mengingini milik sesamu (Keluaran 20:17). Mengingini sesuatu adalah hal yang biasa. Pada dirinya sendiri “mengingini” bukanlah sesuatu yang keliru. Tanpa keinginan, maka hidup kita akan tampak tidak memiliki kehidupan sama sekali (lifeless life). Tidaklah salah memiliki keinginan. Tuhan memberi kita keinginan supaya kita mengingini Dia, menginginkan relasi dengan-Nya, menginginkan hal-hal yang baik untuk kita dan untuk kemuliaan Tuhan. 

Mengingini bukan hal yang keliru; tetapi apa yang diingini itulah yang akan menentukan keinginan kita keliru atau benar. Di dalam perintah yang terakhir Dasa Titah, kita diberikan larangan “jangan mengingini harta milik orang lain”. Mengingini di sini jelas bukan hanya sekadar keinginan biasa melainkan sudah melibatkan unsur keinginan yang dalam (ada iri hati kepada orang lain atau ada maksud untuk mengambil milik orang lain). Apakah makna di balik perintah ini?

Perintah ini mengandung dua makna yang penting.

1. Makna yang pertama, kita dituntut untuk menghargai dan menjaga pemberian Allah kepada orang lain. 

Kita dituntut untuk menghargai dan menjaga pemberian Allah kepada orang lain. Apa yang dimiliki oleh orang lain adalah pemberian dari Tuhan. Paulus sendiri mengatakan di dalam 1Korintus 4:7 “Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?” 

Semua yang kita miliki, kita terima dari Allah. Orang lain diberi Allah porsi tertentu, kita pun diberi porsi tertentu oleh Allah. Ketika kita mengingini porsi Allah untuk orang lain berarti kita tidak menghargai ketentuan Allah bagi orang itu. Ketika kita mulai mengambil milik orang lain maka kita bukan hanya tidak menghargai, tetapi juga tidak menjaga berkat Allah bagi orang lain. Kita perlu menjaga hati kita ketika Tuhan memberkati orang lain lebih banyak daripada kita. Allah memberikan kita porsi yang berbeda, karena Dia punya tujuan yang berbeda untuk kita.

2. Makna yang kedua, supaya kita bersyukur dan puas dengan apa yang kita miliki.

Persoalan kita bukan sekadar menginginkan milik orang lain. Inti persoalannya terletak pada kepuasan terhadap diri sendiri. Apakah kita sudah puas dengan apa yang Tuhan berikan kepada kita? Kita tahu bahwa ketidakpuasan terhadap pemberian Tuhan merupakan persoalan yang seringkali muncul. Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa karena mereka tidak puas hanya sebagai gambar Allah; mereka ingin menjadi seperti Allah. Banyak orang jatuh karena begitu. Setan atau Iblis atau biasa disebut Lucifer, sudah dicipta Allah sebagai penghulu malaikat. Dia adalah salah satu yang paling tinggi di antara semua malaikat, tetapi dia tidak puas dengan posisi itu. Dia ingin menyamai Allah.

Entah berapa banyak kasus kejatuhan terjadi hanya karena tidak pernah puas. Daud juga tidak puas dengan semua pemberian Tuhan atas hidupnya bahkan ketika Daud sudah menerima begitu banyak istri dari Saul. Ketika Saul meninggal dunia maka istri-istri Saul menjadi milik Daud (2Sam 12:8). Tetapi Daud merasa belum cukup dan dia mengambil istri orang lain, yaitu istri Uria yang bernama Batsyeba. Nabi Natan datang dan menegur Daud. Daud digambarkan sebagai seorang kaya yang memiliki banyak kambing domba, tapi merasa tidak puas dengan apa yang dia miliki, lalu mengambil domba milik seorang yang miskin.

Perintah yang kesepuluh ini mendorong dan mengingatkan kita untuk bersyukur atas apa yang Tuhan berikan kepada kita. Bagaimana kita bisa merasa puas di dalam Tuhan? Ketika kita puas bukan dengan Tuhan bukan dengan berkat-berkat-Nya. Ketika kita berani berkata bahwa Tuhan adalah bagian kita satu-satunya -bukan salah satu bagian tapi satu-satunya bagian di dalam hidup kita- maka kita akan puas dengan Tuhan. John Piper salah seorang pengkhotbah reformed yang luas biasa, mengatakan “God is most glorified when we are most satisfied with Him.” Allah itu paling dimuliakan ketika kita paling puas dengan Dia.

Baca Juga: Hukum Ke 10: Jangan Mengingini Milik Sesamu (Keluaran 20:17)

Allah telah berjanji akan memenuhi semua keperluan hidup kita. Jika kita selalu merasa kurang puas maka kita seolah-olah berkata, “Tuhan Engkau tidak memegang janji-Mu, Aku tidak pernah puas.” Ketidakpuasan terhadap Allah adalah dosa yang sangat serius karena Allah sudah memberikan diri-Nya bagi kita. Dia sudah mati di atas kayu salib untuk kita dan itu seharusnya membuat kita puas dengan Allah. Ketika kita puas dengan Allah dan apa pun yang Allah percayakan kepada kita -fisik, intelektualitas, harta, masa lalu, keluarga, apa pun situasi kita sekarang ini- maka itu akan memuliakan Tuhan. 

Sebaliknya, ketika kita mulai tidak puas maka kita mudah terjebak pada dosa yang berikutnya, yaitu kita mengingini milik orang lain. Kita ingin sama seperti orang lain dan ketika kita gagal memenuhi ambisi itu, maka kita membenci orang itu, menyalahkan Tuhan dan menyalahkan diri sendiri. Mari belajar untuk menghargai dan menjaga pemberian Tuhan kepada orang lain dan belajar untuk bersyukur dan puas dengan apa yang Tuhan berikan kepada kita masing-masing. Tuhan memberkati.
Next Post Previous Post