KEILAHIAN YESUS KRISTUS MENURUT INJIL

Kalis Stevanus.

Pendahuluan.

Keilahian Yesus merupakan inti dari iman Kristen. Prinsip ini sering kali diragukan oleh banyak kalangan. Tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan bukti-bukti yang kuat dan meyakinkan tentang keilahian Yesus Kristus menurut pemberitaan keempat Injil; Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. 

I. Pengakuan Yesus Kristus secara Langsung

Klaim keilahian Yesus Kristus sebagai Allah merupakan kepercayaan yang berasal langsung dari pengakuan-Nya sendiri.
KEILAHIAN YESUS KRISTUS MENURUT INJIL
1. Yesus menyebut diri-Nya adalah “Anak Allah” (Lukas 22:70)

Menurut Suliana Gunawan, pengakuan Yesus sebagai Anak Allah merupakan momentum paling krusial yang tercatat di dalam Injil Sinoptik adalah ketika Petrus memberikan pengakuan kepada Yesus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Matius 16:16; Markus 8:29; Lukas 9:20).

Dan pengakuan Petrus tersebut dibenarkan atau diakuinya oleh Yesus sendiri. Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup secara terbuka di depan umum. Maksudnya, kerahasiaan mengenai jati diri Yesus dibukakan di depan umum bahwa memang Ia adalah Anak Allah.

Pernyataan Yesus adalah Anak Allah, itu berarti Ia memiliki sifat-sifat yang sama dengan Allah. Seorang anak memiliki sifat yang sama, spesies yang sama, esensi yang sama dengan ayahnya. Scotchmer menyimpulkan seperti yang dikutip Josh McDowell bahwa baik murid-murid maupun musuh-Nya mengerti berdasarkan latar belakang Yahudi mereka bahwa istilah “Anak Allah” tersebut mempunyai arti yang ilahi. Penulis Injil Markus juga mencatat kisah roh-roh jahat yang menyebut Yesus: “Engkaulah Anak Allah.” (Markus 3:11).

Ungkapan atau sebutan ini mengekspresikan suatu kebenaran yang dalam mengenai jati diri Yesus sebenarnya, yang tidak diketahui oleh orang-orang yang sedang berdiri di situ, termasuk para murid-Nya, namun diketahui oleh roh-roh jahat tersebut. Roh-roh jahat itu mengenali Yesus adalah Anak Allah. Itu berarti roh-roh jahat itu mengakui keilahian Yesus.

Injil Markus 14:61-64 menulis: “…Imam Besar itu bertanya kepada-Nya sekali lagi, katanya: "Apakah Engkau Mesias, Anak dari Yang Terpuji?" Jawab Yesus: “Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit.”

Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: “Untuk apa kita perlu saksi lagi? Kamu sudah mendengar hujat-Nya terhadap Allah. Bagaimana pendapat kamu?" Lalu dengan suara bulat mereka memutuskan, bahwa Dia harus dihukum mati.” Tentang pertanyaan Imam Besar, ”Apakah Engkau Mesias, Anak dari Yang Maha tinggi?” Jawaban Yesus sangat jelas bahwa Ia menyamakan diri-Nya dengan Allah dengan berkata: ”Akulah Dia.” Yesus secara terang-terangan menyatakan diri-Nya sebagai Mesias, Anak Manusia dan Anak Allah. Mendengar jawaban Yesus, Imam Besar mengoyakkan pakaiannya.

Yesus dijatuhi hukuman mati, bukan karena berdasarkan perkataan para penuduhnya, melainkan karena pengakuan yang diucapkan-Nya sendiri bahwa Dia telah mengaku sebagai Allah yang sesungguhnya di hadapan para hakim. Dan orang-orang Yahudi pasti mengerti bahwa jawaban Yesus merupakan pengakuan diri-Nya sebagai Allah. Yesus menegaskan hal itu. Imam Besar menyebutnya penghujatan, karena Yesus menjadikan diri-Nya sama dengan Allah.

Jadi, ada dua pilihan yang harus dihadapi: bahwa pernyataan-Nya adalah suatu penghujatan belaka atau bahwa Dia adalah Allah. Dengan demikian, dapat tarik kesimpulan bahwa Yesus sendiri telah menyatakan diri-Nya sebagai Allah dengan cara yang jelas bagi semua orang. Pengakuan ini dianggap sebagai suatu penghujatan oleh para pemuka agama sehingga Dia disalibkan.

Menurut Hank Hanegraaff, sebenarnya mereka tahu bahwa dengan mengatakan bahwa Yesus adalah "Anak Manusia" yang akan datang "di awan-awan di langit" Dia membuat referensi terbuka untuk Anak Manusia dalam nubuat Daniel (Daniel 7: 13-14). Dengan melakukan itu, Dia tidak hanya mengklaim sebagai Penguasa semesta yang sudah ada sebelumnya tetapi juga menubuatkan bahwa Dia akan membenarkan klaim-Nya dengan menghakimi pengadilan yang sekarang sedang mengutuk-Nya.

2. Yesus mengakui atau menyamakan diri-Nya dengan Allah (Markus14:61-64)


Yesus menyebut Allah itu sebagai Bapa-Nya: “Aku dan Bapa adalah satu” (Yohanes 10:30), dan “Barang siapa melihat Aku telah melihat Bapa” (Yohanes 14:9). Ketika Yesus mengakui bahwa “Aku dan Bapa adalah satu”, sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Jawab orang-orang Yahudi itu: “karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah” (Yohanes 10:33).

A.T. Robertson menjelaskan kata “satu” tersebut bersifat netral, bukan maskulin. Artinya, bukan satu orang, tapi satu inti atau satu sifat dasar. Pernyataan yang tegas dan mengena ini adalah puncak dari pengakuan Yesus tentang hubungan di antara Bapa dan diri-Nya sendiri (Anak). Bagi orang Yahudi ini adalah lambang penghujatan, karena mereka tahu bahwa dengan melakukan hal itu Yesus dengan jelas mengklaim sebagai Allah.

Lebih jauh lagi, di dalam Yohanes 5:17-18, ”Tetapi Ia berkata kepada mereka: ’Bapa-Ku berkerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.’ Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah.” Jadi kelihatan sekali bahwa tidak ada keraguan sedikit pun di benak orang yang mendengar pernyataan ini bahwa Yesus mengaku di hadapan mereka bahwa Dia adalah Allah.

3. Yesus mengakui diri-Nya telah ada sebelum Abraham


Injil Yohanes mencatat ungkapan: “Kata Yesus kepada mereka: ’Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada” (Yohanes 8:58). Ungkapan “Aku ada” menurut Perjanjian Lama hanya mengacu pada YHWH yang abadi dan yang ada sejak semula sampai selama-lamanya. “Aku ada” sebagai suatu pernyataan akan keabsolutan keilahian atau ketuhanan Yesus.

Ketika Yesus memproklamirkan bahwa Ia telah ada sebelum Abraham jadi, Ia sedang mengacu para pendengar-Nya kepada kitab Keluaran 3:13-14. Menurut Jonathan A. Draper, bagi Yohanes, Yesus adalah sosok ilahi YHWH yang menampakkan diri kepada Musa di atas batu setelah penglihatan langsung tentang kemuliaan Allah ditolak oleh Musa; Dia adalah Allah 'penuh rahmat dan kebenaran' (Keluaran 34:6).

Allah menjawab Musa, ”Aku Adalah Aku." Ungkapan, ”Aku Adalah Aku" atau “Akulah Aku” menggunakan frasa ego eimi. Menurut Injil Yohanes, Yesus menggunakan istilah Aku adalah lebih dari sembilan belas kali sebagai acuan kepada diri-Nya sendiri. Setiap orang Yahudi dengan nyaring dan jelas akan mendengar tuntutan Yesus atas sifat ketuhanan. Itulah sebabnya orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus karena seperti yang mereka katakan, ”Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah” (Yohanes 10:33).

Pada zaman Tuhan Yesus, sebutan “Akulah Aku” (ego eimi) dalam bahasa Yunani merupakan padanan sebutan untuk YHWH; Nama yang dianggap sakral dan paling dihormati oleh orang Yahudi sehingga mereka tidak berani mengucapkannya. Sebutan ego eimi yang hanya dapat dipakai untuk menyebut Allah, dipakai oleh Yesus. Contoh yang paling jelas adalah, ”Kata Yesus kepada mereka: ’Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada (ego eimi).” Kesempatan lain, Yesus memakai sebutan itu bagi diri-Nya,”... sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia (ego eimi), kamu akan mati dalam dosamu" (Yohanes 8:24).

Dalam Yohanes 8:28, Yesus berkata kepada orang-orang Yahudi, ”Maka kata Yesus: Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia (ego eimi), dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku.” 
BUKTI-BUKTI KEILAHIAN YESUS KRISTUS MENURUT INJIL
Dan juga Yesus berkata kepada para pasukan yang hendak menangkap-Nya, Ia bertanya kepada mereka, ”Maka Yesus, yang tahu semua yang akan menimpa diri-Nya, maju ke depan dan berkata kepada mereka: "Siapakah yang kamu cari?" Jawab mereka: "Yesus dari Nazaret." Kata-Nya kepada mereka: “Akulah Dia (ego eimi).

Yudas yang mengkhianati Dia berdiri juga di situ bersama-sama mereka. Ketika Ia berkata kepada mereka: "Akulah Dia (ego eimi)," mundurlah mereka dan jatuh ke tanah.” (Yohanes 18:4-6). Karena merasa yakin bahwa Yesus adalah Allah, para penulis Perjanjian Baru dengan jelas menghubungkan Yesus dengan ayat-ayat Perjanjian Lama yang mengacu kepada YHWH.

Markus mengutip kitab Yesaya 40:3, ”Ada suara yang berseru-seru: Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN (YHWH), luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita!” Markus menafsirkan bahwa ayat itu digenapi sewaktu Yohanes Pembaptis menyiapkan jalan bagi Yesus.

Tentang Yesaya 40:3, Robert R. Selvendran mengemukakan demikian: In the fortieth Chapter of Isaiah, there are some announcements which are especially forcible. Take the first; A voice cries: “In the wilderness prepare the way of the LORD (Yahweh), make straight in the desert a highway for our God” (v.3). Every gospel refers to this passage and applies it to Jesus as being the person whose way was to be prepared, and John the Baptist as the one whose voice would be heard crying in the wilderness (see Matt. 3:3; Mark 1:3; Luke 3:4; John 1:23). However, the declaration of the passage is that it was the way of Yahweh Himself, our God, which was prepared.

Dengan demikian, tidak diragukan lagi, para pemimpin Yahudi mengetahui dengan siapa Yesus menyamakan diri-Nya. Jadi, tuduhan utama yang dilontarkan oleh para musuh Yesus adalah soal pengakuan-Nya bahwa Dia adalah Allah atau setara dengan Allah.

4. Yesus Mengatakan Diri-Nya Melebihi Bait Allah


Ia berkata kepada orang Farisi, ”Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi bait Allah” (Matius 12:6). Bait Allah adalah tempat tinggal Allah. Ketika Yesus mengatakan tentang diri-Nya sendiri: yang lebih besar dari Bait Suci ada di sini. Berapa lebihnya? Apa yang bisa lebih besar dari itu? Lihatlah ayat 8, Yesus menegaskan sambil mengacu diri-Nya,”Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” Secara logis, bagaimana seseorang dapat menjadi Tuhan atas hari Sabat kecuali Allah yang menetapkan hari itu? Ini suatu tuntutan langsung atas sifat ketuhanan-Nya.

Jadi, dengan tegas ketika Yesus menyebut diri-Nya sebagai “Tuhan atas hari Sabat” hal itu merupakan pernyataan bahwa Ia pencipta hari Sabat. Bagi kaum Yahudi, YHWH (baca: Yahweh) adalah Pencipta dan Tuhan atas hari Sabat (band. Keluaran 3:13,17). Karena itu, dengan mengklaim diri-Nya adalah Tuhan atas hari Sabat, Yesus menegaskan keilahian-Nya.

5. Yesus Mengklaim Memiliki Hak Dihormati Sama Seperti kepada Allah


Ia berkata, ”Supaya semua orang yang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barang siapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa yang mengutus Dia” (Yohanes 5:23). Nats ini Yesus memberikan peringatan kepada mereka yang menuduh-Nya sebagai seorang penghujat. Yesus mengatakan bahwa dengan mencaci-maki atau tidak menghormati Diri-Nya sesungguhnya mereka telah mencaci-maki Allah. Di sini jelas Yesus memaklumkan hak-Nya untuk diperlakukan sebagai Allah bahwa melecehkan Yesus sama dengan melecehkan Allah

6. Yesus Menerima Penyembahan seperti Allah

Dalam Matius 5: 20, 22, 26, 28, Yesus mengajar atas nama-Nya sendiri. Bukan seperti para nabi yang mengatakan, ”Demikianlah firman Tuhan Allah,” tapi Yesus mengatakan, ”Sesungguhnya, Aku berkata kepadamu.” Di dalam nats-nats lain seperti Matius 8:2, ”Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia...” Ada seorang buta sejak lahir setelah disembuhkan, orang itu “sujud menyembah-Nya” (Yohanes 9:35-39). Berbeda dengan kesepuluh murid Yesus yang bersaksi kepada Tomas bahwa mereka telah melihat Tuhan (Yohanes 20:25).

Bahkan Maria Magdalena juga bersaksi bahwa ia telah melihat Tuhan (Yohanes 20:18). Tomas menyatakan sikap yang lain: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya" (Yohanes 20:25).

Tomas mengajukan tuntutan bukti sebelum memercayai sesuatu. Sebaliknya, Yesus menyatakan bahwa orang yang percaya akan Dia sebagai Tuhan yang bangkit, sekalipun belum melihat-Nya, adalah orang yang berbahagia. Ketika menghadapi ketidakpercayaan atau keraguan Tomas terhadap kebangkitan-Nya, Ia menyuruh Tomas mencucukkan jarinya ke telapak tangan-Nya bekas paku itu dan mencucukkan tangannya ke dalam lambungNya. Setelah melihat fakta fisik kebangkitan ini, Tomas langsung menyembah dan berkata kepada-Nya,”Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yohanes 20:27-29).

Yesus menegaskan, ”karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya.” Tidak seorang pun boleh disembah selain Allah, baik nabi, rasul maupun malaikat. Tetapi Yesus membiarkan Tomas menyembah. Yesus menerima penyembahan Tomas.

Adegan itu akan sangat aneh jika Yesus bukan Tuhan. Tetapi jika Yesus bukan Tuhan, Ia seharusnya meminta Tomas bangkit sebelum ia berkata kepada-Nya,”Ya Tuhanku dan Allahku!” Dan faktanya Yesus tidak menolak, menyangkal, menarik kembali atau mengoreksi perkataan Tomas tersebut. Yesus menegur Tomas karena ketidakpercayaannya, bukan karena menyembah Dia

7. Yesus Menyejajarkan diri-Nya dengan Bapa

Formulasi di dalam perintah baptisan, agar kita membaptis seseorang “Dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Matius 28:19). Formula baptisan ini sangat jelas menunjukkan kesetaraan Yesus dengan Bapa.

Kata nama di dalam teks Yunani Matius 28: 19 tersebut adalah onoma dalam bentuk tunggal, bukan jamak (onomata). Secara tata bahasa, seharusnya kata nama di sini memakai bentuk jamak, sebab Bapa satu Pribadi, Anak juga satu Pribadi, dan Roh Kudus juga satu Pribadi. Inilah doktrin Tritunggal yang benar. Tetapi di dalam ayat ini satu nama tiga Pribadi yang kekal. Kata onoma menekankan pada satu “nama”. Hal itu berarti Yesus memiliki esensi atau substansi Ilahi.

Jadi, dalam rumusan baptisan yang diperintahkan oleh Yesus itu terlihat jelas bahwa kesetaraan dan kesatuan dari ketiga Pribadi itu termaksud di dalamnya. Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah sama dan sama-sama Allah. Dan juga di Yohanes 14:16 kesatuan ketiga-Nya kembali disebut: Anak meminta kepada Bapa yang mengutus Roh Kudus untuk tinggal di dalam orang percaya selamanya.

II. Pengakuan Yesus Kristus Tidak Langsung

Bukan saja Yesus secara langsung mengklaim sebagai Allah, tetapi Ia membuat banyak pernyataan yang secara tidak langsung tersirat keilahian-Nya. Yesus tidak hanya mengaku sebagai Allah tetapi juga memberikan banyak bukti meyakinkan bahwa Ia memang ilahi. Dalam banyak kesempatan Yesus mengakui keilahian-Nya secara tidak langsung. Bagaimana kemudian Yesus secara implisit mengklaim keilahian-Nya, dan apa yang dinyatakan oleh klaim-Nya?

1. Yesus Kristus Menghakimi Umat Manusia

Yesus mengklaim mengetahui pikiran-pikiran, sifat batiniah, kemunafikan manusia (Matius 9: 4; 12:25; 22:18). Karena itu Ia menubuatkan bahwa Ia akan menghakimi umat manusia pada hari terakhir (Matius 7: 22-23). Ia akan mengirim malaikat-malaikat-Nya untuk menyingkirkan penjahat dari dalam kerajaan-Nya (13:41) dan memberi upah kepada setiap orang sesuai dengan apa yang telah dia lakukan (Matius 16:27).

Pada hari penghakiman Ia akan memanggil bangsa-bangsa di hadapan takhta-Nya dan Ia akan memisahkan seorang dari seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya.

Kepada yang di sebelah kanan-Nya, Ia berkata: “…terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan” (Matius 25:34). Sebaliknya, kepada yang di sebelah kiri-Nya, Ia berkata: “Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah disediakan untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya” (Matius 25:41)

Hukuman bagi orang fasik ini hendak menyatakan bahwa hakikat hukuman mereka bukan sekadar pemisahan dari Allah tetapi pemisahan dari Yesus. Yesus melakukan hak yang hanya bisa dilakukan oleh Allah semata. Seperti yang tertulis di dalam Mazmur 75:7, ”Tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain.”

Dengan demikian, berarti Yesus adalah Allah. Dia adalah Hakim yang adil. Yesus memiliki kekuatan untuk menghukum seperti Allah (Matius 25: 31-46). Karena itu, sekali lagi, Yesus melakukan apa yang dilakukan dalam perumpamaan-Nya sendiri, dan dengan demikian secara implisit mengklaim keilahian-Nya.

2. Yesus Mengklaim Diri-Nya tidak Berdosa

Apabila Yesus itu hanyalah manusia biasa, maka Ia dapat berbuat kesalahan. Yesus bersaksi akan diri-Nya dengan berkata, “Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa?” Yesus menantang mereka yang mendakwa-Nya untuk membuktikan bahwa Dia berdosa.

Tidak ada satu ayat pun di Alkitab yang menuliskan bahwa Yesus pernah memohon pengampunan atas dosa-dosa-Nya karena memang Dia tidak berdosa. Yudas pun setelah mengkhianati Yesus menyadari dan sangat menyesal karena ia telah “menyerahkan darah orang yang tak bersalah” (Matius 27:3–4).

Sebagai tambahan, selain Injil-Injil, para rasul bersaksi bahwa Yesus tidak berdosa, “Ia tidak berbuat dosa, dan tipu daya tidak ada dalam mulut-Nya” (1 Petrus 2:22).

Rasul Yohanes juga mengatakan, “Dan kamu tahu, bahwa Ia telah menyatakan diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa” (1 Yohanes 3:5). Paulus juga memberi kesaksian tentang ketidakberdosaan Yesus, “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2 Korintus 5:21). Semua musuh-Nya yang berusaha mengajukan tuduhan agar dapat membuktikan kesalahan-Nya tidak berhasil (Markus 14:55–56).

3. Yesus dapat Mengampuni Dosa

Dengan jelas Ia menyatakan diri-Nya dapat mengampuni dosa—seluruh dosa manusia (Lukas 5:20). Tentu saja orang-orang Yahudi melancarkan protes terhadap klaim-Nya dengan mengatakan,” Siapa yang dapat mengampuni dosa-dosa, selain Allah sendiri?” (Lukas 5:21). Yesus secara eksplisit dan terbuka mengampuni dosa pada dua kesempatan yang dicatat oleh Injil (Lukas 5: 17-26; 7: 36-50). 

Yesus juga menentukan siapa yang mungkin dan siapa yang tidak diampuni (Lukas 18: 9-14). Pada yang pertama dari peristiwa-peristiwa ini Yesus menyembuhkan seorang lumpuh yang telah diturunkan melalui atap. Yesus mengajar dan menyembuhkan orang-orang di sebuah rumah di Galilea (Lihat Markus 2; Lukas 5).

Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat turut hadir di rumah itu. Beberapa teman seorang lumpuh membawanya kepada Yesus untuk disembuhkan. Bertekad untuk membawanya kepada Yesus tetapi dihalangi oleh orang banyak, mereka naik ke atap rumah, lalu membongkar atap itu, dan menurunkan orang lumpuh itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak tepat di depan Yesus. Ketika Yesus melihat iman pria dan teman-temannya, berkatalah Yesus: "Hai saudara, dosamu sudah diampuni" (Lukas 5:20)

Pemikiran Yahudi berasumsi bahwa hanya pihak yang tersinggung yang dapat memaafkan dan melakukan pelanggaran. Lalu mengapa Yesus harus memaafkan pria yang tidak pernah Dia temui? Karena entah bagaimana orang lumpuh berdosa terhadap-Nya. Tetapi hanya Allah yang tersinggung oleh setiap dosa. Orang-orang Farisi memahami hal ini dan menyimpulkan: "Orang ini menghujat. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari Allah saja?" (Matius 9: 3; Lukas 5:21).

Yesus, mengetahui pikiran mereka, lalu Ia bertanya kepada mereka: "Mana yang lebih mudah: mengatakan, 'Dosamu sudah diampuni,' atau mengatakan: 'Bangunlah, dan berjalanlah?' Tetapi supaya kamu tahu, bahwa Anak Manusia memiliki kuasa di bumi untuk mengampuni dosa ... "Lalu Ia berkata kepada orang lumpuh itu," Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!”(ay. 24). Kemudian atas perkataan Yesus, pria itu bangun dan pulang ke rumah.

Klaim Yesus dapat mengampuni dosa itu tersirat keilahian-Nya. Yesus mengaku sebagai Allah. Seperti yang dikemukakan John Stott: that Jesus' claims to forgive sins… imply his deity). Menurut Doriani tindakan Yesus mengampuni dosa dan menyembuhkan orang lumpuh, sebenarnya Ia mendeklarasikan keilahian-Nya. Ia adalah Allah. Ia mengaku sebagai Allah: So Jesus says, in effect, "I have forgiven him, I do claim to be God…” Bagaimana Yesus dapat mengetahui dosa-dosa seseorang (Markus 2:1-12), apalagi menawarkan pengampunan—seolah-olah Ia adalah Allah. Apakah Yesus berlaku sombong? Yesus tidak berlaku sombong. Ia berkata benar.

Inilah buktinya: “Supaya kamu tahu, bahwa Anak Manusia (Yesus) berkuasa mengampuni dosa ...”. Satu-satunya Pribadi yang memiliki hak untuk mengampuni dosa, yakni Allah sendiri. Jelas menurut hukum Yahudi, hanyalah Allahlah yang melakukannya, karena hanya Allahlah yang dapat mengampuni dosa. Karena perbuatan atau pengakuan Yesus ini, Dia dituduh telah menghujat Allah oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Yesus dihukum mati karena telah mengakui hak prerogatif Allah

Kuasa Yesus untuk mengampuni orang atas dosanya merupakan contoh yang sangat menakjubkan bahwa Ia menggunakan hak yang hanya dimiliki oleh Allah. Hanya Allah yang memiliki otoritas untuk mengampuni dosa. Yesus punya otoritas untuk mengampuni dosa. Karena itu, Yesus adalah Allah. Dengan mengampuni dosa orang ini, Yesus melakukan tindakan ilahi. Dia melakukan apa yang hanya Allah memiliki kemampuan dan wewenang untuk melakukannya. Haregraaff berkata: In doing so, He claimed a prerogative reserved for God alone

Berkaitan dengan mukjizat menyembuhkan orang lumpuh, harus dibedakan dari mukjizat para rasul dan nabi di mana mereka tidak pernah melakukan dengan kekuatannya sendiri dan atas namanya sendiri. Sedangkan Yesus melakukannya atas otoritas-Nya sendiri dan nama-Nya sendiri. Ia berkata kepada orang lumpuh itu," Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Yesus melakukan mukjizat atas otoritas-Nya sendiri. Yesus mengotorisasi diri-Nya sendiri karena memang Dia adalah Allah.

4. Yesus Memberikan Hidup Kekal

Klaim ini terkait paling erat dengan Injil Yohanes. Yesus berkata: ”Aku adalah kebangkitan dan hidup. Siapa yang percaya kepada-Ku tidak akan mati” (Yohanes 11:25, band 1 Yohanes 5:11-12, ”Barang siapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barang siapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup.” Itu berarti di dalam Yesus ada hidup. Juga di dalam Injil Sinoptik sangat jelas Yesus memang menawarkan kehidupan kekal kepada pemuda yang kaya itu jika ia menjual hartanya dan mengikuti-Nya, maka ia beroleh hidup kekal (Matius 10: 17-21; Matius 19: 16-21; Lukas 18: 18-22).

Pernyataan Yesus bahwa Ia menawarkan kehidupan kekal, hal itu memiliki implikasi bahwa mereka yang percaya kepada Yesus tidak akan mati karena mereka telah memasuki kehidupan kekal. Pernyataan tersebut berakar pada pemahaman yang yang diungkapkan dalam Yohanes 10: 33-38 di mana Yesus berkata “…bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.” Itu sebabnya orang-orang Yahudi hendak melempari Yesus dengan batu, sebab Ia dianggap menghujat Allah atau menyamakan diri-Nya dengan Allah.

5. Nasib Kekal Manusia Bergantung pada Respons terhadap Yesus


Kehidupan kekal diperoleh dengan cara datang kepada Yesus. Murid-murid-Nya harus mencintai-Nya lebih dari ayah atau ibu, putra atau putri, lebih dari hidup itu sendiri. Siapa pun yang tidak mau kehilangan nyawanya karena Kristus akan kehilangannya selamanya (Matius 10: 37-39; 16: 24-26; Lukas 14: 26-27; Markus 8: 34-38).

Dengan ini Yesus memanggil orang untuk mencintai-Nya lebih dari siapa pun, untuk menaati perintah-perintah-Nya. Jika mereka mengakui kesetiaan kepada-Nya, mereka akan hidup selamanya. Jika tidak, mereka akan mengalami murka Allah yang kekal. Jika orang biasa mengatakan hal-hal seperti itu, dia akan tampak seperti penghujat bagi orang gila. Tetapi setidaknya untuk pembaca yang simpatik mereka bergema sebagai panggilan untuk mengambil keputusan: untuk mengikuti Yesus, untuk meniru-Nya, kehilangan semua untuknya, dan untuk mendapatkan semua

6. Yesus Mengklaim Perkataan-Nya Bersifat Kekal

Yesus menyatakan klaim bahwa perkataan-Nya kekal. Matius 5:18 Yesus berkata: “Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” Kita bisa bandingkan kesaksian nabi Yesaya tentang sifat kekal firman Allah: “Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya” (Yesaya 40:8).

Yesus mengklaim bahwa kata-kata-Nya memiliki sifat kekal yang sama dengan milik Allah. Untuk kata-kata-Nya sendiri, Yesus mengajukan klaim yang serupa: “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu” (Matius 24:35). Jika perkataan Yesus sama kekalnya dengan perkataan Allah berarti Dia adalah Allah. ia mengklaim bahwa kata-katanya memiliki keabadian yang sama dengan milik Allah (Yesaya 40: 8).

Nash menyatakan: Jika Yesus itu Allah, pengajaran-Nya bukanlah tebakan atau semata-mata hasil spekulasi manusia; perkataan Yesus adalah Firman Allah. Ini maksudnya bahwa memang benar-benar ada wahyu khusus ilahi di mana Allah menyatakan kebenaran-Nya kepada manusia. Selain itu, jika Yesus adalah Allah, kita memiliki lebih dari sekadar wahyu Allah dalam bahasa manusia. Allah telah menyatakan diri-Nya—pribadi-Nya, sifatnya, karakter-Nya—dalam cara hidup. Mengenal pengajaran Yesus berarti mengenal pengajaran Allah.

7. Yesus Mengidentifikasi Tindakan Terhadap Diri-Nya Sama dengan Tindakan Terhadap Allah


Klaim ini juga terkuat di dalam Injil Yohanes, Yesus mengklaim bahwa mengenal diri-Nya berarti mengenal Allah (Yohanes 8:19); melihat diri-Nya sama artinya melihat Allah (Yohanes 12:45; 14:7, 9); beriman kepada-Nya adalah sama artinya percaya kepada Allah (Yohanes 12:44; 14: 1); dan membenci-Nya adalah membenci Allah (Yohanes 15:23)

8. Yesus Kristus Menyatakan Diri-Nya adalah Terang Dunia

Terang Mesias yang akan datang ditunjuk dalam dua nubuat yang dikenal sebagai 'terang' (Yesaya 9: 2, band Matius 4:16; dan Yesaya 49: 6, Lukas 2:32). Lima kali dalam pasal pertama Injil Yohanes ayat 4, 5, 7, 8, 9 deskripsi ini digunakan. Keunikannya ditekankan dalam ayat 9: 'Terang yang sesungguhnya'. Yesus sendiri berkata: 'Akulah terang dunia' (Yohanes 8:12).

Dalam Perjanjian Lama “terang” itu menunjuk kepada Yahwe. Misalnya, Mazmur 27: 1: “'TUHAN adalah terangku dan keselamatanku…”, atau bahkan lebih khusus dalam Yesaya dalam konteks nubuat mesianis: “… TUHAN akan menjadi penerang abadi bagimu …” (Yesaya 60:19, 20). Sekali lagi, mengikuti nubuat tentang Mesias di dalam Yesaya 59:20 dan Yesaya 60: 1 secara jelas 'terang' itu menunjuk kepada Mesias, yakni Yesus disamakan dengan kemuliaan TUHAN (Yahwe).

Sangat instruktif untuk melihat bagaimana Yohanes dalam pengantar untuknya Surat pertama menggunakan julukan Allah yang sama dengan yang telah ia gunakan dalam ayat-ayat pembuka dari Injilnya tentang Anak yang berinkarnasi, yang ada di sana 'terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya (Yohanes 1:5).

Selanjutnya dikatakan di dalam ayat 9, “terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.” Sedangkan dalam 1 Yohanes 1: 5, jelas dikatakan bahwa “…Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan”. Yesus mengambil bagi diri-Nya gelar umum untuk Yahwe dalam Perjanjian Lama, di mana TUHAN (Yahwe) adalah terang dunia yang abadi. Hanya Allah yang menjadi terang dunia. Hanya Allah yang bisa memberikan cahaya kehidupan. Jadi, dengan kata lain, Yesus sedang mengklaim diri-Nya adalah Allah, terang dunia.

9. Yesus Kristus Mengambil Gelar TUHAN (Yahwe) bagi Diri-Nya

Sebagai contoh adalah gelar Gembala. Mazmur 23: 1 berkata: “TUHAN adalah gembalaku …”, dan di dalam Yehezkiel 34:15 dikatakan: “'Aku sendiri akan menggembalakan domba-domba-Ku…demikianlah firman Tuhan ALLAH.” Penulis Injil Yohanes menunjukkan bahwa Yesus menggunakan gelar diri Allah ini dengan mengatakan: “Akulah gembala yang baik …” (Yohanes10:11, 14). Gembala yang baik menyerahkan nyawanya untuk domba-domba-Nya (Yohanes 10:15).

Untuk meyakinkan lagi, bisa dibandingkan dengan pernyataan rasul Petrus yang memanggil Yesus sebagai ‘Gembala dan Penjaga jiwamu’ (1 Petrus 2:25), dan di dalam 1 Petrus 5:4, Yesus disebut “Gembala Agung”. Juga penulis surat Ibrani berbicara tentang Yesus sebagai Gembala Agung, ”…Gembala Agung segala domba, yaitu Yesus, Tuhan kita” (Ibrani13:20). Tidak dapat disangkal lagi, bahwa Yesus adalah Allah. Dia adalah Gembala Agung

Jelaslah bahwa nubuat itu menunjuk kepada Yesus. Itu berarti Yesus adalah Tuhan (Yahweh) yang datang ke dunia dengan menjelma menjadi manusia di dalam Yesus. Bahkan dalam perumpamaan-Nya, Yesus menyatakan bahwa Ia mempunyai fungsi yang hanya diperuntukkan bagi Yahwe di Perjanjian Lama, seperti menjadi Gembala (Lukas15; Yohanes 10:11-16). 

Di dalam Yesaya 40:10-11 dikatakan: “Lihat, itu Tuhan ALLAH, Ia datang dengan kekuatan dan dengan tangan-Nya Ia berkuasa. Lihat, mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama-sama Dia, dan mereka yang diperoleh-Nya berjalan di hadapan-Nya.

Seperti seorang gembala ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati.” Tentang Yesaya 40:10-11, Robert R. Selvendran menyimpulkan dengan tepat bahwa nubuat itu menunjuk kepada Yesus dan telah digenapi di dalam diri Yesus. Dengan kata lain, ia hendak mengatakan bahwa Yesus adalah sama dengan Tuhan (Yahweh). Melihat Yesus berarti melihat Tuhan (Yahweh)

10. Yesus Kristus Disebut Immanuel dan Juru selamat

Dalam Matius 1:23 sebutan Imanuel jelas-jelas ditujukan kepada Yesus: ”Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" -- yang berarti: Allah menyertai kita.” Nuban Timo mengatakan Sang Anak adalah Tuhan yang berinkarnasi—Ia adalah Imanuel, Tuhan di antara kita. Menarik suatu kesimpulan dari fakta-fakta dan menyadari bahwa Yesus itu adalah Imanuel, karena itu Yesus tentu juga Allah.

John Stott menegaskan bahwa transfer julukan—Allah dan teks—Allah dari Yahweh kepada Yesus mengindikasikan Yesus sebagai Allah, yang bisa menyelamatkan (Juru selamat) dan yang patut disembah. Menyembah Yesus, jika Dia bukan Allah, adalah pemujaan terhadap berhala; tidak menyembah Dia, jika Dia Allah, adalah murtad. Pendapat yang sama dikemukakan Selvendran sebagai berikut:

What reasonable conclusions can one draw from these testimonies of the Scriptures? It is clearly asserted by Yahweh Himself, the Eternal God who created the world, that He is the Saviour; and further, that there is no Saviour besides Him. Yet in the same Scriptures it is asserted positively, over and over again, that Jesus Christ is the Saviour (Luke 2:11; Acts 5:31; 13:23), and that He it is who shall save His people from their sins (Matt. 1:21; Acts 4:12). Now how can these testimonies be reconciled, unless Jesus Christ is also Yahweh? Yahweh says of Himself, ‘There is no Saviour besides Me’ – and of Jesus Christ it is said, He is the ‘Saviour of the world’ (John 4:42). Therefore, Jesus Christ must be Yahweh God or it is plain there must be a Saviour besides Yahweh, which is contrary to His repeated and most positive declaration

Baca Juga: Kolose 1:16-18 (4 Kelebihan Yesus Kristus)

Apa kesimpulan logis yang bisa ditarik seseorang dari kesaksian Alkitab ini? Jelas dinyatakan oleh Alkitab Yahweh adalah Juru selamat, dan Yesus disebut Juru selamat berarti Dia adalah Allah yang kekal yang menciptakan dunia, bahwa Dia adalah Juru selamat.

11. Yesus adalah Kekal

Yohanes berkata, ”Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yohanes 1:1). Menjelaskan kata “pada mulanya…” di dalam Yohanes 1:1-3, menunjuk kepada permulaan dalam kekekalan, bukan permulaan dari waktu, bukan permulaan penciptaan. Mengapa demikian? Karena karya penciptaan baru disebutkan di dalam ayat kedua.

Yesus sudah ada sejak kekekalan bersama Bapa, dan pada waktu berinkarnasi (dilahirkan) adalah sebagaimana Firman keluar. Pada waktu Firman itu “keluar”, kita mengetahui ada yang menjadi “Sumber” dan “Yang keluar” dari Sumber itu. Firman keluar dari Tuhan; sebelum keluar Firman itu bersama-sama dengan Tuhan di dalam kekekalan, dan Firman itu juga adalah Tuhan. Selanjutnya di ayat 2, dijelaskan dengan gamblang bahwa Firman itu adalah Yesus, sebab itu Yesus bersifat Ilahi. Dia adalah Allah.

Di sini memang kita melihat dua Pribadi, tetapi bukan dua Tuhan. Dalam ayat 3, juga ditegaskan kembali bahwa Firman yang keluar itu adalah yang menciptakan dunia dan segala sesuatu, ”Segalanya dijadikan melalui Dia, dan dari segala yang ada, tak satu pun dijadikan tanpa Dia.” Kita bandingkan dengan Kolose 1:16, ”Sebab melalui Dialah Tuhan menciptakan segala sesuatu di surga dan di atas bumi, segala sesuatu yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, termasuk juga segala roh yang berkuasa dan yang memerintah.

Seluruh alam ini diciptakan melalui Kristus dan untuk Kristus” (Kol 1:16; BIS). Siapakah yang dapat menciptakan kecuali Allah sendiri? Hanya Allahlah yang dapat menciptakan! Jadi, kalau dikatakan Firman itu (Yesus) menciptakan segala sesuatu, berarti Yesus adalah Pencipta, dan bahwa Yesus ialah Allah. Kalau Yesus diciptakan oleh Allah, bagaimana kita menjelaskan kalimat “tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah dijadikan?” Yohanes 1:3 (band. Kolose 1:16)

Selanjutnya pada ayat 14, dikatakan: “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita…” Kata “Firman” di sini adalah logos. Menurut D. Carson, ayat ini jelas mengimplikasikan adanya pra-eksistensi dan keilahian Yesus, di mana Yesus bersama dengan Bapa sebagai Pencipta dunia. Karena Logos (Firman) itu turun ke dunia menjadi manusia, maka Ia (Logos) itu pun diyakini pula telah mengenakan juga sifat kemanusiawian-Nya. Logos itu memiliki sifat ilahi dan sekaligus manusiawi. Karena Ia turun ke dunia, maka Ia (Yesus) pun diyakini pula telah mengenakan juga sifat kemanusiawiannya.

Baca Juga: 10 Bukti Keilahian Yesus Kristus

Tentang hubungan antara Bapa dan Anak dijelaskan Soedarmo sebagai berikut: Sebutan ini menunjukkan kepada hubungan, yaitu Tuhan Bapa adalah Bapa, Tuhan Anak adalah Anak yang tunggal, jadi ada hubungan antara yang melahirkan dan yang dilahirkan. Akan tetapi hubungan ini tidak dapat kita pikirkan lebih lanjut sebab ‘lahir’ ini tidak dapat disamakan dengan ‘lahir’ dalam hidup manusia, oleh karena kedua pribadi, baik Bapa maupun Anak, adalah kekal

Jadi, istilah Anak Allah tidak boleh dipahami dengan konsep manusia yang terbatas. Kalau di katakan Yesus adalah Anak Allah itu benar; Yesus adalah Allah, itu juga benar, sebab Anak Allah adalah Allah. Paul Enns menambahkan istilah dilahirkan berdasarkan Matius 1:20, dinyatakan dengan jelas bahwa Yesus dilahirkan dalam kemanusian-Nya bukan dalam keilahian-Nya. 

Yesus adalah Allah dari sejak kekekalan seperti yang dituliskan oleh Nabi Mika (Mikha.5:2), tetapi di Bethelem Ia mengambil natur tambahan, yaitu natur manusia. Roh Kudus berperan dalam kandungan Maria untuk menjamin ketidakberdosaan kemanusiaan Yesus. Dengan referensi pada kemanusiaan Yesus, maka istilah dilahirkan itu digunakan; kata itu tidak akan pernah digunakan dengan referensi pada keilahian-Nya.

Bart Larson mengatakan hanya Allah sajalah yang dinyatakan di Alkitab bersifat kekal. Jika sifat kekal ini dikenakan kepada Yesus berarti Ia adalah Allah.

Kesimpulan

Berdasarkan penyelidikan di dalam teks-teks keempat Injil, diperoleh kesimpulan bahwa klaim Yesus sebagai Allah adalah benar sebagaimana yang dinyatakan di dalam Injil-Injil tersebut. Ia menegaskan keilahian-Nya dengan menjalankan fungsi-fungsi, dengan asumsi hak prerogatif, atau menerima penghormatan yang benar-benar hanya milik Allah saja. 

Pertanyaan tentang siapakah Yesus sebenarnya menurut Injil-Injil akhirnya terjawab bahwa Ia adalah Allah. Dia adalah manusia sejati dan sekaligus Allah sejati. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk menolak keilahian Yesus. KEILAHIAN YESUS KRISTUS MENURUT INJIL
Next Post Previous Post