Kematian Kristus: Kasih, Penderitaan, dan Keselamatan

Pendahuluan:

Kematian Kristus adalah salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah, tidak hanya sebagai peristiwa sejarah biasa, tetapi juga sebagai tindakan Allah yang mengubah takdir manusia. Dalam pandangan Alkitab, kematian Kristus bukanlah kecelakaan atau kejadian tidak terduga, melainkan bagian dari rencana keselamatan yang telah ditetapkan sejak lama. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi makna mendalam di balik kematian Kristus dalam perspektif Alkitab.
Kematian Kristus: Kasih, Penderitaan, dan Keselamatan
Kematian Kristus bukan hanya sekadar akhir dari kehidupan-Nya di dunia, tetapi juga adalah bukti kasih Allah yang tak terbatas kepada umat manusia. Alkitab memberikan kesaksian bahwa melalui kematian-Nya, Kristus membawa pengampunan dosa, keselamatan kekal, dan harapan bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Mari kita telusuri lebih jauh tentang betapa pentingnya kematian Kristus dan apa yang kita pelajari dari penderitaan-Nya.

Kematian Kristus dalam Perspektif Alkitab 

Kematian Kristus adalah tindakan Allah yang jelas dan nyata. Kematian Kristus adalah bukti kasih Allah kepada manusia. Kematian Kristus kematian Kristus merupakan peristiwa yang sangat penting bagi kehidupan manusia sekaligus juga sebagian pembuktian terhadap pernyataan Allah dan pernyataan Allah kepada manusia. 

Sebab jika Kristus tidak mati di atas kayu salib, maka kekristenan hanya merupakan rekaan manusia; kekristenan hanya merupakan pengakuan dari kelompok orang yang stres; kekristenan hanyalah suatu keyakinan yang tidak ada makna dan tujuan yang jelas dan benar. Kekristenan hanya deklarasi dari kelompok orang yang ingin menonjolkan diri ataupun haus kekuasaan. Yang benar adalah Kristus benar-benar mati di bukit Golgota.

Bukti Medis Terhadap Penderitaan Kristus

Sampai Kematian Kristus Untuk membuktikan kekeliruan pernyataan-pernyataan yang meragukan kematian Kristus, maka pada bagian ini akan diuraikan secara medis (ilmiah) bahwa Kristus benar-benar mati di kayu salib, bukan pingsan sebagaimana argumentasi dari Barbara Thiering, seorang akademik dari Australia yang menimbulkan kegemparan tahun 1992 dengan menghidupkan kembali teori pingsan dalam bukunya Jesus and the Riddle of the Dead Sea Scroolls

Kapankah penderitaan Yesus dimulai? Alexander Metherell, menyatakan bahwa penderitaan Kristus dimulai di Getsemani. “ . . . Di sana. . . Ia berdoa semalam-malan. Selama proses itu Ia mengantisipasi datangnya peristiwa-peristiwa pada hari berikutnya. Karena Ia mengetahui beratnya penderitaan yang akan Ia pikul, Ia sungguh-sungguh wajar mengalami tekanan psikologis yang sangat besar.

Alkitab menyatakan bahwa Yesus sudah tahu peristiwa yang akan terjadi (menanti-Nya). Mark A. Marinella mengungkapkan bahwa: “Bahkan ketika menjelang malam, Yesus kemungkinan mulai mengalami stress. Lama sebelum penyaliban, Kristus tahu bahwa Dia akan disalibkan (Yohanes 12:27, 32).” 

Lebih lanjut Marinella mengonsepsikan bahwa: “Karena telah mengetahui apa yang akan segera terjadi, disertai ketegangan saat makan bersama pengkhianat-Nya, dapat menyebabkan Yesus tidak nafsu makan. Mengetahui lebih dulu bisa mengakibatkan respons fisik di luar kemauan seperti tachycardia (detak jantung yang cepat), nausea (muntah), pusing, gemetar, diaphoresis (berkeringat), dan mungkin sakit kepala.” 

Ketika seseorang menghadapi menghadapi situasi yang sangat sulit, satu bagian otak tertentu akan mengeluarkan zat kimia yang disebut neurotransmitter, dan kelenjar adrenalin akan mengeluarkan hormon seperti cortisol, ephineprine, dan norephineprine. Hormon dan zat kimia itu akan menekan jantung dan menyebabkan tachycardia; mendorong kelenjar keringat mengeluarkan keringat; pembuluh darah akan mengalir deras dan menyebabkan pusing, dan perubahan sistem saraf menimbulkan sakit kepala dan gemetar

Jika kita bisa mengukur tingkat hormone stress, cortisol, norepinephrine dan epinephrine dalam darah Yesus saat Perjamuan Terakhir, hormon tersebut pastilah sangat tinggi- untuk mengantisipasi hal-hal mengerikan yang akan datang. Analisis Metherell di Getsemani Yesus mengalami tekanan psikologis yang sangat besar, sebagaimana konsepsi Injil bahwa Kristus meneteskan keringat darah. Keringat darah yang menetes ini adalah suatu kondisi medis yang dikenal dengan nama hematidrosis (diasosiasikan tekanan psikologis tingkat tinggi).  

Hematidrosis terjadi karena “Kegelisahan yang hebat menyebabkan terlepasnya zat-zat kimia yang memecahkan kapiler-kapiler dalam kelenjar-kelenjar keringat. Akibatnya terjadi sedikit pendarahan dalam kelenjar-kelenjar ini, dan keringat yang keluar disertai dengan darah (hanya sedikit darah).” Akibat hematidrosis ialah kulit menjadi amat sangat rapuh sehingga ketika Yesus dicambuk oleh serdadu Roma keesokan harinya, kulitnya akan menjadi sangat, sangat sensitiv.

Alkitab mengonsepsikan kepada kita bahwa Yesus disesah (dicambuk). Sejarah membuktikan bahwa pencambukan yang dilakukan oleh serdadu-serdadu Roma adalah sangat brutal dan sadis. Mereka mencambuk terhukum sebanyak tiga puluh sembilan kali cambukkan, tetapi sering kali lebih dari jumlah yang ditetapkan, tergantung suasana hati si serdadu yang melaksanakan pukulan. 

Bentuk dan jenis cambukkannya dari cemeti dari kepangan tali kulit dengan bola-bola logam yang dijalin ke dalamnya. Ketika cemeti itu menghantam daging, bola-bola ini akan menyebabkan memar atau lebam yang dalam, yang akan pecah terbuka akibat pukulan selanjutnya. Dan cemeti itu juga memiliki potongan-potongan duri tajam, yang akan mengiris daging dengan hebat. 

Metherell menyatakan bahwa “Punggung yang dipukul itu akan menjadi begitu tercabik-cabik sehingga sebagian dari tulang belakang kadang kala terlihat akibat irisan yang dalam, sangat dalam. Pencemetian itu akan ditimpakan ke segala arah dari bahu turun ke punggung, pantat, dan ke belakang kaki. Itu sangat mengerikan.” Seorang dokter yang telah mempelajari pemukulan Roma mengatakan bahwa: “Selagi pencambukan berlanjut, luka koyakkan akan tercabik sampai ke otot-otot kerangka di bawahnya dan menghasilkan goresan-goresan daging berdarah yang gemetar

Penderitaan Yesus Kristus di Salib

Kematian saat ini bagi kriminal hukuman mati berlangsung cepat, tetapi kematian melalui salib adalah kematian yang perlahan-lahan dan sangat menderita serta sangat terhina karena menjadi tontonan banyak orang. Ketika Yesus sampai di tempat penyaliban, “Ia akan dibaringkan, dan kedua tangan-Nya akan dipakukan dalam posisi terentang ke batang kayu horizontal. Balok salib ini disebut patibulum, dan pada tahap ini balok tersebut dipisahkan dari batang kayu vertikal, yang secara permanen ditancapkan di tanah.”

Peninggalan arkeologis tentang orang yang disalibkan, yang ditemukan di dekat Yerusalem, menunjukkan bahwa pakunya berbentuk persegi dan meruncing. Ukurannya kurang lebih 12 sampai 17 cm, dan agak mirip dengan paku rel kereta api. Paku besi itu menembus deretan tulang pergelangan yang disebut tulang carpal. Di bagian tengah tulang carpal, di bagian yang dikenal dengan nama carpal tunnel, terdapat saraf median sensorik-motorik yang besar. 

Saraf median memberikan fungsi motorik pada beberapa otot tangan dan rasa pada sebagian besar tangan. Jika ditempatkan di bagian sisi telapak pergelangan tangan, paku itu akan menembus atau menusuk saraf median dan menimbulkan rasa sakit yang hebat, seperti terbakar dan tertusuk. Sejenis ketidaknyamanan yang dikenal dengan istilah rasa sakit neuropathic. Kelumpuhan otot tangan juga bisa terjadi. Gerakan tangan dan pergelangan tangan berikutnya akan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa (excruciating).

Deretan Peristiwa Penyaliban Yesus

Dalam penyaliban Yesus menuju Kalvari, Kristus memanggul salib sehingga Ia tak kuat dan tak mampu memukulnya lagi dan Simon orang Kirene dipaksa untuk memikulnya. Adapun deretan dari penyaliban Kristus 

Pertama setibanya di Kalvari, Kristus disuguhkan anggur bercampur dengan empedu untuk menumpulkan syaraf-syaraf-Nya (Matius 27:33,34). 

Kedua, Seruan pertama di salib: “Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak mengetahui apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23:34). 

Ketiga, para serdadu-serdadu membagi-bagikan pakaian-Nya dan membuat undi untuk memperoleh jubah-Nya (Matius 27:35). 

Keempat, sindiran-sindiran imam besar, ahli-ahli Taurat dan orang banyak terhadap Kristus (Markus 15:29-32). 

Kelima, Salah-satu penyamun percaya kepada-Nya (Lukas 23:39-43) seruan kedua disalib: “Hari ini engkau bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” 

Keenam, Seruan ketiga: “Ibu, inilah anakmu” dan kepada Yohanes “Inilah ibumu” (Yohanes 19:26-27). 

Ketujuh, suasana kegelapan selama 3 jam (Matius 27:45). 

Kedelapan, seruan “Bapa ke dalam tangan-Mu, Ku serahkan nyawa-Ku” (Lukas 23:46). Deretan peristiwa penyaliban Yesus menunjukkan betapa istimewa kematian-Nya dialam raya ini, karena didasari pada aspek teologinya yang penting dan dampak kematian bagi kepentingan manusia.

Makna Kematian Kristus

Berbicara mengenai makna teologis tentang kematian Kristus, Marantika mengonsepsikan bahwa: “Kematian Kristus bukanlah kematian sia-sia, karena ketidakberdayaan melawan keputusan hukuman salib. Namun sebaliknya, justru dalam kematian-Nya mengandung banyak makna, dan pekerjaan Allah.” 29 Adapun makna kematian Kristus, yaitu: “Untuk menggenapi rencana Allah yang harus diterima, sebab Kristus mati bagi manusia.” Kristus tidak perlu mati seandainya bukan karena dosa-dosa manusia. Ia sendiri tidak berdosa (2 Korintus 5:21). 

Jalan Keselamatan ini adalah pekerjaan Allah sendiri. Ini bukan pekerjaan manusia. Kristuslah satu-satunya yang telah menempuh jalan kematian yang membawa hidup itu secara sempurna. Itulah sebabnya hanya Dia yang menjadi satu-satunya jalan keselamatan (Yohanes 14:6). Rencana dan usaha Allah yang telah disempurnakan dan dilaksanakan oleh Kristus itu harus diterima jika ingin mendapatkan hidup yang kekal. Kematian Kristus tidak secara otomatis mengubah status dan kondisi manusia. Kristus tidak dapat menyelamatkan manusia, jika manusia terpisah dari tanggung jawab dan tanggapan manusia terhadap-Nya.

Thiessen menyatakan tentang makna kematian Kristus secara teologis merupakan tujuan utama penjelmaan-Nya, karena kematian Kristus bukanlah suatu kecelakaan atau suatu pikiran yang timbul kemudian, tetapi merupakan pelaksanaan suatu tujuan tertentu yang berhubungan dengan penjelmaan. Penjelmaan bukanlah merupakan tujuan, penjelmaan merupakan suatu sarana untuk mencapai tujuan tertentu, dan tujuan tersebut ialah penebusan orang yang hilang lewat kematian Kristus di kayu salib. Kematian Kristus merupakan pokok tema Injil. 

Istilah Injil berarti kabar baik seiring dengan itu istilah ini dipakai dalam berbagai cara. Kematian Kristus sangat penting bagi kehidupan kekristenan, sebab agama-agama lain melandaskan keberadaan mereka sebagai agama ada ajaran-ajaran pendiri mereka; kekristenan berbeda dari semuanya itu karena kekristenan melandaskan keberadaannya pada kematian Kristus. Kisah kehidupan Kristus disebut Injil: Semua pernyataan Allah kepada makhluk-makhluk ciptaan Allah disebut Injil; dan secara lebih sempit istilah ini dipakai untuk kabar baik keselamatan. 

Apabila meniadakan kematian Kristus sebagaimana yang ditafsirkan, berarti merendahkan kekristenan ke tingkat agama-agama etnis. Sekalipun memiliki Systems etika yang lebih tinggi, tanpa kematian Kristus di dalam kekristenan juga tidak ada keselamatan sebagaimana halnya agama-agama yang lain. Kematian Kristus penting untuk keselamatan, 


Allah tidak mungkin mengampuni dosa hanya berdasarkan pertobatan manusia, tindakan semacam itu tidak dapat mungkin dilakukan Allah yang benar. Allah hanya dapat mengampuni kalau hukumannya telah dijalani. Agar Tuhan dapat mengampuni manusia yang berdosa dan pada saat yang sama tetap benar, maka Kristus menjalani hukuman orang berdosa

Kesimpulan:

Dari pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa kematian Kristus bukanlah sekadar peristiwa tragis, tetapi sebuah tindakan kasih yang mendalam dan penuh makna. Melalui penderitaan-Nya yang tidak terbayangkan, Kristus membuktikan kasih Allah yang tak terhingga kepada manusia. Kematian-Nya bukan hanya untuk mengakhiri hidup-Nya di dunia, tetapi juga untuk membawa pengampunan dosa, keselamatan kekal, dan jalan bagi manusia untuk kembali kepada Allah.

Sebagai umat Kristen, kita dipanggil untuk merenungkan kembali makna kematian Kristus dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita dipanggil untuk hidup dalam kasih-Nya, menghargai pengorbanan-Nya, dan menerima keselamatan yang Dia tawarkan dengan penuh sukacita. Mari kita terus menggali lebih dalam akan kebenaran Alkitab tentang kematian Kristus, dan memperkuat iman kita dalam kasih-Nya yang tak berkesudahan.
Next Post Previous Post