5 Mitos tentang Akal Budi Manusia
- Mitos #1: Akal Budi Manusia Netral dan Tidak Dipengaruhi Dosa
- Mitos #2: Iman dan Akal Harus Dipisahkan Secara Mutlak
- Mitos #3: Akal Budi Manusia Dapat Memahami Kebenaran Tanpa Wahyu Allah
- Mitos #4: Sains dan Akal Budi Bertentangan dengan Iman Kristen
- Mitos #5: Manusia Dapat Memutuskan Kebenaran Berdasarkan Akalnya Sendiri
- Kesimpulan: Akal Budi Manusia Harus Ditundukkan kepada Allah
Pendahuluan:
Akal budi (human reasoning) adalah salah satu karunia Allah yang membedakan manusia dari ciptaan lainnya. Dengan akal, manusia dapat berpikir, menganalisis, dan memahami dunia di sekitarnya. Namun, dalam perspektif teologi Reformed, akal budi manusia tidaklah netral. Akibat kejatuhan dalam dosa, pemikiran manusia telah rusak dan tidak dapat memahami kebenaran Allah dengan sempurna tanpa anugerah-Nya.
Banyak mitos tentang akal budi yang berkembang dalam dunia modern, bahkan di kalangan orang Kristen. Beberapa orang menganggap bahwa akal manusia dapat mencapai kebenaran tertinggi tanpa wahyu Allah, sementara yang lain beranggapan bahwa iman dan akal harus dipisahkan secara mutlak. Dalam artikel ini, kita akan membahas lima mitos tentang akal budi manusia dan bagaimana perspektif teologi Reformed memberikan jawaban yang lebih mendalam.
Mitos #1: Akal Budi Manusia Netral dan Tidak Dipengaruhi Dosa
Fakta: Akal Budi Manusia Telah Rusak oleh Dosa
Salah satu mitos paling umum adalah anggapan bahwa akal budi manusia adalah instrumen yang netral dan dapat menilai kebenaran secara objektif tanpa pengaruh moral atau spiritual. Namun, Alkitab mengajarkan bahwa dosa telah mencemari bukan hanya hati manusia, tetapi juga pikirannya.
Roma 1:21-22 berkata:
"Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya, pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka menganggap diri mereka bijak, tetapi mereka menjadi bodoh." (AYT)
John Calvin dalam Institutes of the Christian Religion menjelaskan bahwa akal manusia tidak dapat mengenal Allah dengan benar tanpa anugerah khusus. Ia menulis:
"Akal budi manusia, dalam keadaannya yang jatuh, hanyalah bayangan redup dari hikmat yang sejati, dan tanpa terang Roh Kudus, ia akan selalu tersesat."¹
Ini berarti bahwa meskipun manusia masih memiliki kapasitas berpikir, ia tidak dapat memahami kebenaran Allah secara penuh tanpa anugerah dan wahyu-Nya.
Mitos #2: Iman dan Akal Harus Dipisahkan Secara Mutlak
Fakta: Iman dan Akal Saling Melengkapi
Di era modern, banyak orang menganggap bahwa iman dan akal adalah dua hal yang bertentangan. Pemikiran ini sering kali muncul dari pandangan rasionalisme yang mengutamakan akal sebagai satu-satunya sumber kebenaran, sementara iman dianggap sebagai sesuatu yang irasional.
Namun, dalam perspektif Reformed, iman tidak meniadakan akal, tetapi justru memberikan dasar yang benar bagi akal budi.
Amsal 1:7 berkata:
"Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan." (AYT)
Herman Bavinck dalam Reformed Dogmatics menekankan bahwa iman Kristen memberikan dasar bagi akal budi yang benar:
"Tanpa dasar ilahi, pemikiran manusia akan selalu berakhir pada relativisme dan skeptisisme. Tetapi dengan wahyu Allah, akal dapat memahami dunia sebagaimana mestinya."²
Dengan kata lain, akal harus tunduk kepada wahyu Allah, bukan berjalan secara independen darinya.
Mitos #3: Akal Budi Manusia Dapat Memahami Kebenaran Tanpa Wahyu Allah
Fakta: Kebenaran Utama Hanya Bisa Diketahui Melalui Wahyu Allah
Beberapa orang berpikir bahwa akal manusia dapat mencapai pemahaman penuh tentang kebenaran tanpa membutuhkan wahyu dari Allah. Ini adalah pandangan yang sering dipegang oleh filsafat humanisme dan naturalisme.
Namun, Yesus sendiri berkata dalam Matius 11:25:
"Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena Engkau telah menyembunyikan hal-hal ini dari orang-orang bijak dan pandai, tetapi telah menyatakannya kepada orang-orang kecil." (AYT)
Cornelius Van Til, seorang apologet Reformed, menjelaskan bahwa akal manusia, jika tidak tunduk kepada wahyu Allah, akan selalu berujung pada kesalahan dan kebingungan. Ia menulis:
"Tanpa terang Allah, manusia hanya bisa meraba-raba dalam kegelapan, berpikir bahwa ia memahami sesuatu, padahal ia sedang tersesat."³
Dalam teologi Reformed, ada dua jenis wahyu:
- Wahyu umum – Allah menyatakan diri-Nya melalui ciptaan (Roma 1:20).
- Wahyu khusus – Allah menyatakan diri-Nya melalui firman-Nya dan Yesus Kristus (Ibrani 1:1-2).
Akal manusia hanya bisa memahami kebenaran yang sejati jika diterangi oleh wahyu Allah yang khusus.
Mitos #4: Sains dan Akal Budi Bertentangan dengan Iman Kristen
Fakta: Sains dan Akal Budi Dapat Dipahami dalam Terang Iman
Banyak orang berpikir bahwa sains dan iman adalah dua hal yang bertentangan. Namun, dalam sejarah kekristenan, banyak ilmuwan besar yang adalah orang-orang percaya, seperti Johannes Kepler, Isaac Newton, dan Blaise Pascal.
Mazmur 19:1 berkata:
"Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya." (AYT)
John Frame dalam The Doctrine of the Knowledge of God menekankan bahwa sains hanyalah mungkin karena Allah telah menciptakan dunia dengan keteraturan yang dapat dipahami oleh akal budi manusia.⁴
Oleh karena itu, sains tidak bertentangan dengan iman Kristen, tetapi justru menjadi sarana untuk memahami kebesaran dan keteraturan ciptaan Allah.
Mitos #5: Manusia Dapat Memutuskan Kebenaran Berdasarkan Akalnya Sendiri
Fakta: Manusia Tidak Dapat Menentukan Kebenaran Tanpa Allah
Di dunia modern, ada anggapan bahwa manusia bisa menentukan kebenarannya sendiri. Namun, Alkitab mengajarkan bahwa kebenaran berasal dari Allah, bukan dari manusia.
Yesaya 55:8-9 berkata:
"Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti langit lebih tinggi dari bumi, demikianlah jalan-Ku lebih tinggi dari jalanmu dan rancangan-Ku lebih tinggi dari rancanganmu." (AYT)
Francis Schaeffer dalam The God Who Is There menegaskan bahwa jika manusia mencoba menentukan kebenaran tanpa Allah, maka mereka akan terjebak dalam relativisme moral dan kekacauan filosofis.⁵
Sebaliknya, orang Kristen percaya bahwa kebenaran bersumber dari Allah dan hanya dapat dipahami dalam terang firman-Nya.
Kesimpulan: Akal Budi Manusia Harus Ditundukkan kepada Allah
Dalam perspektif teologi Reformed, akal budi manusia adalah anugerah dari Allah, tetapi telah dirusak oleh dosa. Oleh karena itu, kita harus menolak mitos-mitos berikut:
- Akal budi manusia netral → Dosa telah merusaknya.
- Iman dan akal bertentangan → Mereka saling melengkapi.
- Akal bisa memahami kebenaran tanpa wahyu Allah → Kita membutuhkan firman Allah.
- Sains bertentangan dengan iman → Sains adalah bagian dari ciptaan Allah.
- Manusia dapat menentukan kebenaran sendiri → Kebenaran berasal dari Allah.
Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menggunakan akal budi kita dengan benar—bukan untuk melawan Allah, tetapi untuk mengenal dan memuliakan-Nya.
Soli Deo Gloria!