Kolose 3:18-19: Keharmonisan dalam Pernikahan Kristen

Pendahuluan
Pernikahan adalah lembaga yang didirikan oleh Allah dan memiliki tujuan yang mulia: untuk mencerminkan hubungan antara Kristus dan jemaat-Nya (Efesus 5:25-32). Dalam Kolose 3:18-19, Rasul Paulus memberikan pedoman praktis tentang bagaimana suami dan istri harus berperan dalam pernikahan Kristen:
“Istri-istri, tunduklah kepada suamimu sebagaimana seharusnya dalam Tuhan.” (Kolose 3:18, AYT)
“Suami-suami, kasihilah istrimu dan jangan berlaku kasar terhadap mereka.” (Kolose 3:19, AYT)
Ayat ini sering salah dipahami dalam konteks modern. Namun, dalam teologi Reformed, prinsip ini dilihat sebagai bagian dari tata kelola ilahi yang mencerminkan keindahan kepemimpinan dan kasih dalam keluarga.
Artikel ini akan mengulas eksposisi Kolose 3:18-19 berdasarkan pandangan para teolog Reformed seperti John Calvin, R.C. Sproul, John Piper, Herman Bavinck, dan Charles Spurgeon.
I. Konteks Kolose 3:18-19
Surat Kolose adalah surat yang menekankan keunggulan Kristus dan bagaimana orang percaya harus hidup di dalam Dia.
Kolose 3 secara keseluruhan membahas hidup baru dalam Kristus:
- Menanggalkan manusia lama (Kolose 3:5-9).
- Mengenakan manusia baru dalam kekudusan dan kasih (Kolose 3:10-15).
- Melakukan segala sesuatu dalam nama Yesus (Kolose 3:17).
- Penerapan kehidupan Kristen dalam rumah tangga (Kolose 3:18-25).
Ayat 18-19 secara khusus berbicara tentang peran suami dan istri dalam pernikahan Kristen.
II. Eksposisi Kolose 3:18-19 dalam Teologi Reformed
1. “Istri-istri, tunduklah kepada suamimu sebagaimana seharusnya dalam Tuhan.” (Kolose 3:18)
a. Makna Kata "Tunduk" dalam Konteks Alkitab
Kata "tunduk" dalam bahasa Yunani adalah "ὑποτάσσω" (hupotassō), yang berarti menempatkan diri di bawah otoritas dengan rela.
John Calvin dalam "Commentary on Colossians" menjelaskan bahwa ketaatan istri bukanlah bentuk perbudakan, tetapi adalah panggilan ilahi untuk mencerminkan tata kelola Allah dalam keluarga:
“Tunduk tidak berarti inferioritas, tetapi pengaturan ilahi di mana suami memiliki tanggung jawab kepemimpinan dan istri mendukungnya dalam harmoni yang kudus.”
Ayat ini tidak mengajarkan dominasi suami atas istri, tetapi menunjukkan tata tertib yang telah Allah tetapkan dalam keluarga.
b. "Sebagaimana seharusnya dalam Tuhan"
Frasa ini membatasi dan mendefinisikan bagaimana ketaatan istri harus dilakukan:
- Tunduk kepada suami tidak berarti harus taat dalam dosa.
- Tunduk kepada suami harus dilakukan dengan penuh kasih dan sukacita dalam Kristus.
R.C. Sproul dalam "The Intimate Marriage" menulis:
“Tunduk dalam Tuhan berarti istri menghormati suaminya sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, bukan dalam ketakutan, tetapi dalam kasih dan kesatuan.”
Ini selaras dengan Efesus 5:22, yang menekankan bahwa ketundukan istri adalah ekspresi kasih kepada Tuhan, bukan karena keterpaksaan.
2. “Suami-suami, kasihilah istrimu dan jangan berlaku kasar terhadap mereka.” (Kolose 3:19)
a. "Kasihilah istrimu"
Paulus menggunakan kata Yunani "ἀγαπάω" (agapao), yang berarti kasih tanpa syarat.
- Kasih suami bukan sekadar kasih romantis, tetapi kasih yang siap berkorban sebagaimana Kristus mengasihi jemaat-Nya.
- Kasih ini aktif, melindungi, dan membangun istri.
Charles Spurgeon dalam khotbahnya tentang pernikahan Kristen berkata:
“Seorang suami yang mengasihi istrinya dengan benar akan menempatkan kebutuhannya di atas dirinya sendiri, sebagaimana Kristus menempatkan Gereja di atas diri-Nya sendiri.”
Pernyataan ini selaras dengan Efesus 5:25 yang mengatakan bahwa suami harus mengasihi istri sebagaimana Kristus mengasihi jemaat dan menyerahkan diri-Nya untuknya.
b. "Jangan berlaku kasar terhadap mereka"
Kata Yunani yang digunakan di sini adalah "πικραίνω" (pikrainō) yang berarti pahit atau keras.
- Suami tidak boleh mengontrol istri dengan keras.
- Suami harus memimpin dengan kelemahlembutan, bukan otoritarianisme.
- Kasih suami harus melindungi, bukan menyakiti.
John Piper dalam "This Momentary Marriage" menegaskan:
“Seorang suami yang berusaha memimpin istrinya dengan cara yang keras dan kasar tidak memahami kepemimpinan Kristus. Yesus adalah Gembala yang baik, bukan seorang tiran.”
Dengan demikian, peran suami bukanlah menindas, tetapi melayani dan membangun istrinya dalam kasih Kristus.
III. Implikasi Teologis dan Praktis Kolose 3:18-19
1. Pernikahan adalah Cerminan Hubungan Kristus dan Jemaat
- Suami adalah gambaran Kristus → memimpin dengan kasih dan pengorbanan.
- Istri adalah gambaran jemaat → mendukung dan tunduk dengan sukacita.
Efesus 5:32 menjelaskan bahwa pernikahan adalah misteri besar yang menggambarkan hubungan Kristus dengan gereja-Nya.
Herman Bavinck dalam "Reformed Dogmatics" menulis:
“Pernikahan bukanlah kontrak sosial semata, tetapi suatu panggilan ilahi yang mencerminkan kemuliaan Kristus dan kasih-Nya kepada gereja.”
2. Suami dan Istri Sama-Sama Bertanggung Jawab di Hadapan Allah
Kolose 3:18-19 menekankan bahwa suami dan istri memiliki peran yang berbeda, tetapi setara dalam nilai di hadapan Allah.
- Istri tidak dipanggil untuk taat secara buta, tetapi dalam Tuhan.
- Suami tidak boleh menyalahgunakan otoritasnya, tetapi harus memimpin dengan kasih dan kerendahan hati.
Galatia 3:28 menegaskan bahwa dalam Kristus, laki-laki dan perempuan memiliki nilai yang sama di hadapan Allah, tetapi tetap memiliki peran yang berbeda.
3. Pernikahan Kristen Harus Dipenuhi oleh Kasih dan Sukacita
Kasih dan ketundukan yang diajarkan dalam Kolose 3:18-19 harus menciptakan pernikahan yang penuh dengan kasih, damai, dan sukacita dalam Tuhan.
- Kolose 3:14 – “Kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan.”
- 1 Petrus 3:7 – Suami harus menghormati istrinya sebagai pewaris anugerah kehidupan.
Spurgeon berkata:
“Pernikahan yang diberkati adalah pernikahan di mana kasih Kristus menjadi pusatnya.”
Kesimpulan
Kolose 3:18-19 memberikan prinsip ilahi tentang harmoni dalam pernikahan Kristen:
- Istri dipanggil untuk tunduk kepada suami dalam Tuhan, bukan dalam ketakutan, tetapi dalam kasih.
- Suami dipanggil untuk mengasihi istri dengan kasih yang siap berkorban, sebagaimana Kristus mengasihi jemaat-Nya.
- Pernikahan adalah gambaran hubungan Kristus dan jemaat, sehingga harus dipenuhi oleh kasih dan hormat satu sama lain.
Sebagai pasangan Kristen, apakah kita telah mencerminkan kasih Kristus dalam pernikahan kita?
“Soli Deo Gloria—Segala kemuliaan hanya bagi Allah.”