Dampak Dosa Asal pada Seluruh Fakultas Jiwa

Dampak Dosa Asal pada Seluruh Fakultas Jiwa

Pendahuluan: Mengapa Pemahaman tentang Dosa Asal Penting?

Dalam dunia modern yang semakin menekankan potensi manusia dan kebebasan kehendak, ajaran tentang dosa asal sering kali dianggap sebagai doktrin yang kuno, keras, bahkan tidak manusiawi. Namun bagi teologi Reformed, pemahaman tentang dosa asal bukan hanya penting—ia adalah fondasi untuk memahami mengapa manusia butuh keselamatan anugerah melalui Kristus saja (Solus Christus).

Ajaran ini tidak sekadar mengatakan bahwa manusia melakukan dosa, tetapi lebih dalam dari itu: bahwa seluruh keberadaan manusia telah dirusak oleh dosa sejak kejatuhan Adam. Ini dikenal sebagai total depravity (kerusakan total), salah satu dari kelima pokok doktrin Calvinisme (TULIP).

Artikel ini akan menjelaskan secara sistematis bagaimana dosa asal memengaruhi seluruh fakultas jiwa manusia—pikiran, kehendak, emosi, dan hati nurani—berdasarkan Alkitab dan pemikiran dari para teolog Reformed seperti John Calvin, Jonathan Edwards, R.C. Sproul, Cornelius Van Til, dan Herman Bavinck.

1. Apa Itu Dosa Asal?

a. Definisi

Dosa asal (original sin) adalah kondisi dosa yang diwarisi oleh seluruh umat manusia dari Adam sebagai kepala perjanjian pertama. Ia bukan hanya warisan tindakan dosa, tetapi kecenderungan alamiah untuk memberontak terhadap Allah.

John Calvin dalam Institutes of the Christian Religion menulis:

“Dosa asal bukan hanya ketiadaan kebaikan, tetapi suatu kelimpahan kejahatan.”

b. Dasar Alkitabiah

“Sebab sama seperti semua orang mati dalam Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan dalam Kristus.”
— 1 Korintus 15:22 (AYT)

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.”
— Roma 3:23

2. Kerusakan Total Bukan Berarti Kerusakan Maksimal

Penting untuk memahami bahwa istilah “total depravitytidak berarti bahwa manusia sejahat mungkin dalam segala hal. Melainkan, kerusakan dosa telah menjangkau seluruh bagian jiwa manusia—tidak ada aspek jiwa manusia yang tidak terpengaruh oleh dosa.

R.C. Sproul menjelaskan:

“Total depravity bukan berarti manusia kehilangan semua gambar Allah, tetapi bahwa dosa telah meresap ke dalam setiap aspek kodrat manusia.”

3. Fakultas Jiwa Menurut Pandangan Teologi Reformed

Teologi Reformed, dalam sistematikanya, sering menguraikan jiwa manusia dalam empat fakultas utama:

  1. Akal budi (mind/intellect)

  2. Kehendak (will)

  3. Emosi atau afeksi (affections)

  4. Hati nurani (conscience)

Dosa asal memengaruhi keempatnya secara mendalam. Mari kita telusuri satu per satu.

4. Kerusakan Akal Budi: Kegelapan Intelektual

a. Akal yang Tumpul terhadap Kebenaran Allah

Dosa telah membuat akal budi manusia tidak mampu mengenal Allah dengan benar secara natural. Sekalipun manusia berpendidikan tinggi atau memiliki pengetahuan duniawi, ia tetap buta terhadap kebenaran rohani.

“Mereka menjadi sia-sia dalam pemikiran mereka dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.”
— Roma 1:21

Jonathan Edwards menulis:

“Kebutaan intelektual manusia terhadap Allah adalah hasil dari kebencian terhadap Dia.”

b. Contoh Praktis

Manusia cenderung memutarbalikkan kebenaran, menganggap kebenaran sebagai kebohongan, dan kebohongan sebagai kebenaran. Ini sebabnya banyak filsuf, ilmuwan, dan pemimpin dunia tidak mengenal Allah, sekalipun memiliki intelektual tinggi.

5. Kerusakan Kehendak: Perbudakan Kehendak Bebas

a. Kehendak yang Tidak Netral

Teologi Reformed mengajarkan bahwa kehendak manusia sesudah kejatuhan tidak netral, melainkan cenderung memilih yang jahat. Manusia tetap memiliki kehendak, tetapi kehendaknya terikat oleh dosa.

“Tidak ada seorang pun yang mencari Allah.”
— Roma 3:11

Martin Luther menulis dalam The Bondage of the Will:

“Kehendak manusia tidak bebas, tetapi tertawan oleh dosa.”

b. Kebutuhan Akan Anugerah yang Membebaskan

Manusia tidak bisa—dan tidak mau—memilih Allah tanpa anugerah yang membebaskan (irresistible grace). Tanpa campur tangan Roh Kudus, manusia akan selalu memilih dosa.

6. Kerusakan Emosi: Afeksi yang Tercemar

a. Cinta yang Salah Arah

Setelah kejatuhan, manusia tidak mencintai yang seharusnya dicintai (Allah) dan justru mencintai dunia, diri sendiri, dan dosa. Emosi yang seharusnya menjadi saluran untuk menyembah, kini menjadi saluran untuk mendewakan ciptaan.

“Sebab di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”
— Matius 6:21

John Owen menjelaskan:

“Hati manusia adalah tempat yang telah dikuasai oleh berhala.”

b. Nafsu dan Perasaan Tidak Lagi Terkendali

Manusia terjebak dalam ketidakmampuan untuk mengendalikan hasratnya. Dari situlah muncul kemarahan yang tidak terkontrol, hawa nafsu, iri hati, dan berbagai bentuk kekacauan emosional.

7. Kerusakan Hati Nurani: Standar Moral yang Rusak

a. Nurani yang Membenarkan Dosa

Setelah jatuh dalam dosa, hati nurani manusia tidak lagi menjadi panduan moral yang dapat diandalkan. Ia bisa membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar.

“Hati nurani mereka telah menjadi tumpul seperti disetrika panas.”
— 1 Timotius 4:2

Herman Bavinck menulis:

“Tanpa penerangan dari Firman dan Roh Kudus, hati nurani bisa menjadi instrumen penyesatan.”

b. Nurani yang Menuduh Terus Menerus

Sebaliknya, ada pula orang yang merasa dituduh tanpa henti, bahkan setelah pertobatan. Ini menunjukkan kerusakan fungsi nurani, yang tidak lagi mampu memahami anugerah dan pengampunan.

8. Akibat Dosa Asal: Totalitas Kerusakan dalam Relasi dengan Allah

Karena semua aspek jiwa rusak, maka relasi manusia dengan Allah menjadi terputus secara total. Manusia secara rohani mati dan tidak memiliki kapasitas untuk mencari atau merespons Allah dengan benar.

“Kamu dahulu mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.”
— Efesus 2:1

Cornelius Van Til mengatakan:

“Tanpa anugerah, manusia akan selalu memutarbalikkan wahyu umum menjadi penyembahan berhala.”

9. Solusi Reformed: Anugerah yang Memulihkan Fakultas Jiwa

Kabar baik Injil dalam teologi Reformed adalah bahwa Tuhan tidak membiarkan manusia dalam kondisi itu. Ia memberikan regenerasi (kelahiran baru) oleh Roh Kudus, yang memulihkan jiwa secara bertahap.

a. Akal yang Diperbaharui

Roh Kudus mencerahkan pikiran untuk memahami Injil (1 Korintus 2:14–16).

b. Kehendak yang Dilepaskan

Roh membebaskan kehendak untuk memilih Kristus (Filipi 2:13).

c. Afeksi yang Dipulihkan

Kasih kepada Allah dan kebencian terhadap dosa tumbuh (Roma 5:5).

d. Nurani yang Disucikan

Nurani dibersihkan oleh darah Kristus (Ibrani 9:14).

John Calvin menyebut transformasi ini sebagai “restorasi gambar Allah dalam manusia.”

10. Aplikasi Praktis bagi Orang Percaya

a. Rendah Hati dalam Kehidupan Rohani

Karena kita tahu betapa dalam kerusakan kita, kita seharusnya tidak pernah sombong secara rohani, tetapi hidup dalam pertobatan dan ketergantungan setiap hari.

b. Bergantung pada Anugerah, Bukan Kehendak Sendiri

Pemulihan bukanlah hasil usaha manusia, melainkan karya Roh Kudus. Maka kita tidak menyombongkan kehendak bebas, tetapi bersyukur atas anugerah pilihan Allah.

c. Meninggikan Kristus dalam Segala Hal

Hanya Kristus yang bisa membebaskan seluruh fakultas jiwa dari cengkeraman dosa. Maka hidup kita harus berpusat pada-Nya dan memberitakan Dia.

Kesimpulan: Dosa Asal Menyeluruh, Anugerah pun Menyeluruh

Dosa asal tidak hanya membuat manusia berdosa secara perbuatan, tetapi rusak secara hakiki dalam pikiran, kehendak, perasaan, dan nurani. Ini sebabnya manusia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri.

Namun, di tengah gelapnya total depravity, terang Injil bersinar. Kristus datang bukan hanya untuk mengampuni dosa, tetapi untuk memperbaharui manusia dari dalam ke luar.

R.C. Sproul berkata:

“Anda bukan hanya membutuhkan pertolongan. Anda membutuhkan kebangkitan rohani.”

Next Post Previous Post