Ibrani 7:11: Imamat Melkisedek dan Kesempurnaan yang Tidak Datang dari Hukum Taurat

Ibrani 7:11: Imamat Melkisedek dan Kesempurnaan yang Tidak Datang dari Hukum Taurat

Pendahuluan

Kitab Ibrani pasal 7 menempatkan kita pada pusat salah satu argumen paling penting dalam Perjanjian Baru tentang keimamatan Kristus. Dalam ayat 11, penulis menyatakan sebuah kebenaran teologis yang sangat krusial:

“Karena itu, jikalau oleh imamat Lewi orang memperoleh kesempurnaan — sebab karena imamat itu umat Israel telah menerima hukum Taurat — apakah perlu ditetapkan lagi seorang imam lain menurut peraturan Melkisedek dan yang tidak disebut menurut peraturan Harun?” (Ibrani 7:11, TB)

Ayat ini mengusik struktur keagamaan Yahudi kuno dan membuka pemahaman baru akan keimamatan Kristus sebagai Imam Besar menurut peraturan Melkisedek. Artikel ini akan membahas eksposisi mendalam terhadap ayat ini menurut para teolog Reformed seperti John Owen, John Calvin, Herman Bavinck, dan tokoh kontemporer lainnya seperti Michael Horton dan R.C. Sproul.

1. Latar Belakang Historis dan Kontekstual

Ibrani ditulis kepada orang-orang Yahudi Kristen yang mulai mengalami tekanan dan pencobaan, sehingga tergoda untuk kembali kepada sistem ibadah lama berdasarkan hukum Taurat dan imamat Lewi. Dalam konteks ini, penulis surat Ibrani menunjukkan bahwa sistem itu tidak sempurna dan tidak dapat membawa umat kepada kesempurnaan rohani yang sejati (Ibrani 10:1-4).

Imamat Lewi

Imamat Lewi adalah institusi yang ditetapkan oleh Allah dalam Perjanjian Lama. Imamat ini hanya bisa dilakukan oleh keturunan Harun dari suku Lewi, dengan tugas utama mempersembahkan korban bagi dosa umat. Namun, keimamatan ini bersifat terbatas: para imam harus mempersembahkan korban secara terus-menerus, dan bahkan imam sendiri harus mempersembahkan korban untuk dirinya sendiri.

2. Eksposisi Ayat: “Jika oleh imamat Lewi orang memperoleh kesempurnaan...”

a. Makna "Kesempurnaan" (τελείωσις - teleiosis)

John Owen, dalam komentarnya terhadap Ibrani, menekankan bahwa “kesempurnaan” di sini berarti akses penuh kepada Allah — persekutuan yang tidak terputus. Owen menjelaskan bahwa sistem imamat Lewi tidak pernah benar-benar menyelesaikan masalah dosa; itu hanya menunjuk kepada sesuatu yang lebih besar, yaitu Kristus sebagai Imam Besar yang sempurna.

Menurut Herman Bavinck, kesempurnaan dalam konteks ini berkaitan dengan penggenapan janji-janji Perjanjian Lama, terutama pengampunan dosa dan pemulihan hubungan antara Allah dan manusia.

b. "Umat Israel telah menerima hukum Taurat melalui imamat itu"

John Calvin menunjukkan bahwa hukum Taurat, termasuk sistem pengorbanan, bergantung pada imamat Lewi. Namun, karena itu bersifat simbolik dan tidak mampu menyucikan hati nurani manusia (Ibrani 9:9), maka hukum Taurat itu sendiri menantikan penggenapannya dalam Kristus.

Calvin menulis:

“Penulis menekankan bahwa jika sistem Musa telah sempurna, maka tidak ada perlunya adanya perubahan. Namun karena memang tidak sempurna, maka dibutuhkan sesuatu yang lebih baik.”

3. Perbandingan: Imamat Harun vs. Imamat Melkisedek

a. Imamat Harun: Terbatas dan Sementara

Imamat Harun terikat oleh hukum tubuh dan silsilah. Imam-imam ini tidak dapat menahan kematian, dan sistem korban mereka tidak menghapus dosa secara permanen (Ibrani 10:11).

R.C. Sproul menambahkan bahwa:

“Sistem Lewi itu seperti bayangan — benar secara simbolik, tetapi bukan kenyataan. Kristus adalah realitasnya.”

b. Imamat Melkisedek: Kekal dan Langsung dari Allah

Melkisedek adalah figur misterius yang muncul dalam Kejadian 14. Ia bukan dari keturunan Lewi, namun Abraham sendiri menghormatinya dengan memberikan persembahan persepuluhan. Dalam Mazmur 110:4, kita menemukan nubuatan bahwa Mesias akan menjadi imam “menurut peraturan Melkisedek.”

Michael Horton menekankan bahwa:

“Imamat Kristus menurut Melkisedek adalah indikasi bahwa Allah telah menyiapkan jalan keselamatan bahkan sebelum sistem Musa ada. Ini bukan rencana darurat, melainkan penggenapan rencana kekal Allah.”

4. Implikasi Teologis dalam Teologi Reformed

a. Kristus sebagai Imam Besar Kekal

Dalam teologi Reformed, keimamatan Kristus adalah bagian dari tiga jabatan Mesias: Nabi, Imam, dan Raja. Jabatan imam ini sangat penting karena menunjuk kepada peran Kristus sebagai pengantara satu-satunya antara Allah dan manusia (1 Timotius 2:5).

Menurut Westminster Confession of Faith:

“Kristus, dalam menjalankan jabatan-Nya sebagai Imam, telah mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban yang sempurna, dan kini Ia terus menjadi pengantara dan pendoa syafaat bagi umat-Nya.”

b. Perubahan Hukum

Ibrani 7:12 mengatakan bahwa “jika imamat berubah, maka dengan sendirinya hukum pun harus diubah.” John Owen menjelaskan bahwa perubahan ini bukan berarti hukum Allah tidak relevan, melainkan bahwa sistem upacara (ceremonial law) digantikan oleh kenyataan yang lebih tinggi: Kristus.

5. Relevansi Bagi Gereja Masa Kini

a. Akses Langsung kepada Allah

Melalui keimamatan Kristus, kita sekarang memiliki akses langsung kepada hadirat Allah tanpa perlu perantara manusiawi. Ini memiliki implikasi besar bagi ibadah dan penghayatan iman Kristen hari ini.

b. Penolakan terhadap Sistem Tambahan

Teologi Reformed menolak segala bentuk sistem keagamaan yang berusaha menambahkan syarat selain karya sempurna Kristus. Imamat Kristus cukup — dan sempurna — bagi penebusan dan pengudusan umat-Nya.

6. Kesimpulan: Sempurna dalam Kristus

Ibrani 7:11 adalah deklarasi teologis yang kuat bahwa keselamatan tidak pernah bisa datang dari sistem manusia, bahkan dari sistem yang diberikan Allah melalui Musa, karena semua itu adalah bayangan dari sesuatu yang lebih besar.

Melalui eksposisi para teolog Reformed, kita belajar bahwa:

  • Imamat Lewi tidak pernah bisa menyempurnakan manusia.

  • Kristus sebagai Imam menurut peraturan Melkisedek telah menggenapi seluruh kebutuhan rohani manusia.

  • Kita memiliki pengharapan yang teguh karena Imam Besar kita hidup untuk selamanya dan menjadi perantara kita di hadapan Allah.

Next Post Previous Post