Bagaimana Berdoa di Tengah Konflik Pernikahan
Konflik dalam pernikahan adalah kenyataan yang tidak dapat dihindari, bahkan dalam kehidupan orang percaya. Namun, respons iman terhadap konflik adalah kunci untuk menemukan pemulihan, rekonsiliasi, dan pertumbuhan spiritual. Dalam teologi Reformed, doa bukan sekadar pelarian dari masalah, tetapi sarana anugerah Allah untuk mengubah hati, memperbarui hubungan, dan menyatakan kehendak-Nya di tengah badai rumah tangga. Artikel ini mengupas bagaimana kita seharusnya berdoa saat mengalami konflik dalam pernikahan, berdasarkan eksposisi ayat-ayat Alkitab dan pandangan dari para teolog Reformed seperti John Calvin, Jonathan Edwards, dan Martyn Lloyd-Jones.
I. Realita Konflik Pernikahan dalam Alkitab
Kejadian 3:16 – Akar Konflik dalam Pernikahan
“...keinginanmu akan menguasai suamimu, tetapi ia akan berkuasa atasmu.”
Setelah kejatuhan dalam dosa, relasi antara pria dan wanita tidak lagi selaras. Keinginan untuk saling menguasai dan dominasi menjadi realita pasca-dosa. John Calvin dalam Commentary on Genesis menegaskan bahwa akibat dosa, struktur kasih menjadi struktur konflik. Pernikahan tidak lagi menjadi harmoni, melainkan tempat pertentangan kehendak.
Maka dari itu, konflik bukan hal yang abnormal dalam pernikahan. Yang abnormal adalah ketika orang percaya tidak membawa konflik itu ke hadapan Allah dalam doa.
II. Doa sebagai Sarana Anugerah
Ibrani 4:16 – Datang dengan Penuh Keberanian
“Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia...”
Ketika konflik datang, godaan terbesar adalah menghindari Tuhan atau menyalahkan pasangan. Tetapi Firman Tuhan mengundang kita datang kepada takhta kasih karunia. Dalam konteks konflik pernikahan, ini berarti kita tidak boleh mengandalkan hikmat sendiri (Amsal 3:5), tetapi mencari belas kasihan dan pertolongan tepat pada waktunya.
Martyn Lloyd-Jones dalam khotbahnya tentang doa menyatakan: “Doa bukan sekadar menceritakan kesulitan kita kepada Tuhan, melainkan membawa diri kita masuk ke dalam hadirat-Nya agar kehendak-Nya yang terjadi, bukan kehendak kita.”
III. Bagaimana Seharusnya Berdoa dalam Konflik Pernikahan?
1. Berdoalah dengan Kerendahan Hati
Mazmur 139:23-24
“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku...”
Sebelum kita mendoakan perubahan pasangan kita, kita harus lebih dahulu bersedia diselidiki Tuhan. Jonathan Edwards menekankan pentingnya self-examination dalam doa. Kita tidak boleh masuk ke dalam doa dengan sikap “akulah yang benar, pasanganku yang salah,” tetapi datang dengan sikap: “Tuhan, tunjukkanlah apa yang salah dalam diriku.”
Konflik seringkali menjadi cermin untuk melihat dosa yang tersembunyi. Dalam doa, kita harus meminta Tuhan menyelidiki motivasi, kebanggaan, atau kepahitan yang berakar dalam hati kita sendiri.
2. Berdoalah untuk Hati yang Penuh Kasih dan Pengampunan
Efesus 4:32
“Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain... saling mengampuni...”
Salah satu doa paling penting dalam konflik adalah permohonan untuk kasih Kristus mengalir dalam hati kita. John Piper menulis bahwa kasih tidak lahir dari usaha manusia, tetapi dari pekerjaan Roh Kudus di dalam hati yang berserah. Doa adalah sarana utama agar Roh Kudus mengisi hati kita dengan kasih Kristus, bahkan saat pasangan kita menyakiti atau mengecewakan kita.
3. Berdoalah Berdasarkan Janji Tuhan, Bukan Perasaan
Yakobus 1:5
“Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah...”
Dalam konflik, perasaan bisa sangat mengacaukan perspektif. Namun, orang percaya diajak untuk berdoa memohon hikmat. R.C. Sproul mengingatkan bahwa doa yang sejati adalah doa yang berdasarkan janji Allah, bukan dorongan emosi. Ketika kita berdoa berdasarkan janji-janji Allah—seperti kesetiaan-Nya, kasih-Nya, dan kuasa pemulihan-Nya—kita akan mengalami ketenangan dan kekuatan dalam konflik.
4. Berdoalah agar Kehendak Tuhan Dinyatakan
Matius 6:10
“Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.”
Doa yang sejati bukan berisi tuntutan, melainkan penyerahan. Dalam konflik pernikahan, kita harus melepaskan kontrol, dan dengan tulus berkata: “Tuhan, bukan kehendakku, tetapi kehendak-Mulah yang jadi.”
John Calvin dalam Institutes menekankan bahwa doa adalah sarana agar kehendak Allah mengatur hidup kita, bukan alat untuk memaksa Tuhan mengikuti rencana kita. Maka, dalam konflik, berdoalah: “Tuhan, pakailah masalah ini untuk membentuk aku dan pasanganku menjadi serupa dengan Kristus.”
5. Berdoalah Bersama Pasangan
Jika memungkinkan, berdoalah bersama. Ini mungkin terasa sulit di tengah konflik, tetapi justru merupakan tindakan iman yang luar biasa. Doa bersama adalah bentuk kerendahan hati kolektif dan keinginan untuk berjalan bersama dalam terang Tuhan.
Matius 18:19-20
“Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan...”
Kekuatan doa bersama tidak hanya dalam efeknya terhadap Allah, tetapi juga terhadap hubungan itu sendiri. Banyak pasangan melaporkan bahwa saat mereka mulai berdoa bersama, hubungan yang retak mulai pulih, karena mereka bersama-sama tunduk kepada Tuhan.
IV. Hambatan dalam Berdoa Saat Konflik
1. Hati yang Pahit
Ibrani 12:15
“Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit...”
Pahit hati akan menjadi penghalang terbesar dalam doa. Jika kita menyimpan dendam, doa kita akan menjadi kosong. Kita harus terlebih dahulu meminta Tuhan mematahkan akar kepahitan, agar doa kita dapat keluar dari hati yang bersih.
2. Ego dan Rasa Benar Sendiri
Rasa benar sendiri membuat kita tidak bisa merendah di hadapan Tuhan maupun pasangan. John Owen menulis bahwa dosa yang paling licik adalah kesombongan rohani, karena ia bisa menyamar dalam bentuk “keinginan memperbaiki orang lain.”
V. Doa yang Menyembuhkan: Contoh Doa Saat Konflik
Berikut adalah contoh struktur doa yang bisa dipakai saat menghadapi konflik dalam pernikahan:
Tuhan yang Mahakasih dan Mahabijaksana,
Aku datang di hadapan-Mu bukan untuk membela diriku, tetapi untuk menyerahkan seluruh pergumulanku.
Selidikilah hatiku, tunjukkanlah dosa yang mungkin aku abaikan.
Berikan aku hati yang lembut, yang penuh kasih dan pengampunan, seperti kasih Kristus kepada jemaat.
Tuhan, aku rindu pernikahan ini memuliakan Engkau.
Berikan kami hikmat, kesabaran, dan keberanian untuk mengampuni dan berdamai.
Jadilah kehendak-Mu atas kami berdua, dan pakailah konflik ini untuk membawa kami lebih dekat kepada-Mu.
Dalam nama Yesus Kristus, aku berdoa. Amin.
VI. Perspektif Teologi Reformed: Doa dalam Pemeliharaan Ilahi
Teologi Reformed memandang doa bukan sebagai sarana mengubah Allah, melainkan cara Allah mengubah umat-Nya sesuai kehendak-Nya. Dalam kerangka pemeliharaan Allah (divine providence), bahkan konflik dalam pernikahan bisa menjadi alat untuk menyucikan, memperdalam iman, dan mengarahkan kita kepada Kristus.
Menurut Herman Bavinck dalam Reformed Dogmatics, doa adalah bagian dari kedaulatan Allah yang sedang bekerja dalam waktu. Maka, doa bukan berarti kita melawan rencana Allah, tetapi tunduk dan menjadi bagian dari proses pembentukan Allah dalam hidup kita.
VII. Kesaksian dan Aplikasi Praktis
Kesaksian Pasangan yang Dipulihkan Lewat Doa
Banyak pasangan Kristen telah mengalami pemulihan dalam pernikahan mereka bukan karena konseling yang hebat, tetapi karena mereka memilih untuk berlutut bersama dalam doa. Ketika mereka berhenti mencari siapa yang salah dan mulai mencari Tuhan, konflik berubah menjadi proses pertumbuhan iman.
VIII. Kesimpulan: Jadikan Doa Sebagai Nafas Pernikahan Anda
Konflik adalah bagian dari pernikahan, tetapi bagaimana kita merespons konflik menentukan apakah kita akan hancur atau bertumbuh. Dalam teologi Reformed, doa adalah sarana anugerah yang mempertemukan kelemahan manusia dengan kekuatan ilahi. Melalui doa, kita mengakui bahwa kita tidak sanggup mengubah hati kita sendiri, apalagi hati pasangan kita—tetapi Tuhan sanggup.
Maka, saat konflik menghampiri rumah tangga Anda, jangan lari dari doa. Jangan menunda untuk datang ke hadirat-Nya. Bawalah air mata, kemarahan, dan keputusasaan Anda kepada Tuhan, dan biarkan kasih dan kuasa-Nya memulihkan segalanya.
.jpg)