Ibrani 13:1 Kasih Persaudaraan yang Tidak Berkesudahan
“Peliharalah kasih persaudaraan!”(Ibrani 13:1)
Ayat ini singkat tetapi sangat padat makna. Dalam beberapa kata saja, penulis surat kepada orang Ibrani mengungkapkan sebuah prinsip mendasar dalam kehidupan Kristen: pelihara kasih persaudaraan. Perintah ini bukan sekadar nasihat etika sosial, tetapi bagian dari panggilan spiritual dalam kehidupan tubuh Kristus. Dalam artikel ini, kita akan menelusuri makna dan aplikasi dari Ibrani 13:1 berdasarkan eksposisi mendalam dan pandangan beberapa teolog Reformed seperti John Calvin, Matthew Henry, John Owen, hingga R.C. Sproul.
I. Konteks Surat Ibrani 13:1
Surat kepada orang Ibrani ditulis untuk orang Kristen Yahudi yang menghadapi tekanan hebat. Mereka tergoda untuk kembali ke sistem agama lama karena penganiayaan dan ketidakpastian. Ibrani 13 adalah penutup dari surat yang sangat teologis dan mendalam, di mana penulis kini mengalihkan fokus dari teologi tinggi tentang Kristus sebagai Imam Besar kepada penerapan praktis dalam hidup orang percaya.
Ibrani 13:1 menandai dimulainya serangkaian perintah etis yang langsung dan aplikatif. Kata “peliharalah” dalam bahasa Yunani adalah meneto yang bermakna “biarlah terus berlangsung” atau “biarlah tetap hidup.” Artinya, kasih itu harus dipelihara secara aktif dan berkesinambungan, bukan sekadar spontan atau emosional.
II. Arti “Kasih Persaudaraan” (Filadelfia)
Kata “kasih persaudaraan” dalam bahasa Yunani adalah φιλαδελφία (philadelphia)—gabungan kata philos (kasih sayang) dan adelphos (saudara). Ini bukan sekadar ikatan darah, tetapi kasih yang mengalir dari kesatuan dalam Kristus.
John Calvin dalam komentarnya tentang Ibrani 13:1 mengatakan bahwa kasih persaudaraan adalah “ikatan batiniah yang mengikat orang percaya karena mereka telah dilahirkan kembali oleh Roh yang sama dan menjadi anggota dari tubuh Kristus yang satu.”
Kasih ini:
-
Berasal dari kelahiran baru (1 Yohanes 4:7)
-
Menjadi bukti identitas sebagai murid Kristus (Yohanes 13:35)
-
Menyatakan kesatuan spiritual yang lebih dalam daripada hubungan biologis
III. Eksposisi Ayat dalam Tiga Dimensi
1. Kasih Persaudaraan adalah Perintah, Bukan Opsional
Banyak orang Kristen menganggap kasih sebagai emosi. Tetapi kasih dalam Alkitab bukanlah perasaan, melainkan tindakan yang didorong oleh ketaatan. Dalam kerangka Reformed, kasih merupakan buah dari pembenaran dan regenerasi. John Owen menyatakan, “Kasih kepada sesama saudara bukanlah akar keselamatan, tetapi buahnya. Ia adalah hasil dari kasih karunia yang telah bekerja dalam hati orang percaya.”
Ibrani 13:1 menggunakan bentuk imperatif (perintah), bukan sugesti. Ini menegaskan bahwa kasih adalah mandat, bukan pilihan.
2. Kasih Persaudaraan Bersifat Terus-Menerus
Kata kerja meneto (peliharalah) dalam bentuk present active imperative menunjukkan kesinambungan. Artinya, kasih ini:
-
Tidak musiman
-
Tidak ditentukan oleh kondisi emosional
-
Tidak berdasarkan bagaimana orang lain memperlakukan kita
Matthew Henry mencatat, “Kasih sejati tidak bergantung pada kasih balasan, tetapi pada kasih Allah yang telah lebih dahulu mengasihi kita.”
3. Kasih Persaudaraan Dilakukan Dalam Komunitas yang Tidak Sempurna
Surat Ibrani ditujukan kepada jemaat yang mengalami tekanan dan konflik. Menjaga kasih dalam kondisi nyaman itu mudah, tetapi menjaga kasih saat terjadi:
-
Perbedaan doktrin
-
Perbedaan latar belakang budaya
-
Ketegangan relasional
adalah tantangan yang lebih besar.
Teologi Reformed sangat menekankan keberdosaan total manusia (total depravity). Oleh sebab itu, kasih tidak bisa bersandar pada kebaikan manusia, tetapi harus bersandar pada kasih Allah yang telah lebih dahulu mengampuni dan memulihkan kita.
IV. Teologi Reformed tentang Kasih dalam Tubuh Kristus
1. Kasih Adalah Buah Roh Kudus
Menurut Galatia 5:22, kasih adalah buah pertama dari Roh Kudus. Dalam kerangka Reformed, kasih bukanlah hasil usaha manusia, tetapi karya Roh dalam hati orang yang telah dilahirkan kembali. John Calvin menulis: “Roh Allah menyalakan kasih dalam hati orang percaya seperti api yang tidak pernah padam.”
2. Kasih Adalah Refleksi dari Kasih Allah
Kasih kita kepada sesama bukan bersumber dari kekuatan kita, tetapi dari kesadaran akan kasih Allah kepada kita. 1 Yohanes 4:19 berkata, “Kita mengasihi karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita.” Kasih Allah menjadi sumber, motivasi, dan teladan.
R.C. Sproul mengatakan bahwa kasih persaudaraan dalam gereja adalah “miniatur dari kasih Trinitas Allah yang sempurna dan kekal.”
V. Praktik Memelihara Kasih Persaudaraan
1. Kasih yang Nyata dalam Perbuatan
“Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” (1 Yohanes 3:18)
Kasih dalam tubuh Kristus bukan hanya sekadar berkata “aku mengasihi kamu,” tetapi diwujudkan dalam:
-
Menolong yang lemah
-
Menghibur yang berduka
-
Mengampuni yang bersalah
-
Menerima yang berbeda
John MacArthur menjelaskan bahwa kasih Kristen bersifat aktif, menyentuh kebutuhan nyata, dan melampaui perasaan pribadi.
2. Mengasihi Saudara yang Sulit
Kasih persaudaraan diuji bukan ketika kita berhadapan dengan saudara yang menyenangkan, tetapi yang menyulitkan. Di sinilah kasih ilahi diuji dan dimurnikan.
Menurut C.S. Lewis (meskipun bukan teolog Reformed, tetapi sering dikutip), “Mengasihi seseorang bukan berarti kita selalu menyukai mereka, tetapi memilih untuk memperlakukan mereka seperti yang Tuhan kehendaki.”
John Owen menambahkan, kasih adalah “kehendak yang aktif untuk membangun saudara dalam kekudusan, bukan sekadar bersikap ramah secara sosial.”
3. Memaafkan dan Mengampuni
Efesus 4:32: “...saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”
Dalam komunitas tubuh Kristus, konflik dan perbedaan adalah keniscayaan. Namun, kasih sejati mendorong kita untuk mengampuni, bukan membalas. Teologi Reformed menekankan bahwa kasih karunia Allah yang besar kepada kita seharusnya menjadi dasar utama dalam memberi pengampunan kepada saudara.
VI. Kasih sebagai Kesaksian Dunia
“Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yohanes 13:35)
Tanda paling mencolok dari kekristenan bukanlah gedung megah atau liturgi indah, melainkan kasih antaranggota tubuh Kristus. Dalam dunia yang penuh dengan kebencian, komunitas yang hidup dalam kasih menjadi terang dan garam.
Jonathan Edwards dalam khotbah terkenalnya “Heaven is a World of Love” menyatakan bahwa kasih adalah atmosfer surgawi. Maka, setiap jemaat yang saling mengasihi sesungguhnya telah membawa sedikit rasa surga ke dunia ini.
VII. Hambatan Terhadap Kasih Persaudaraan
-
Kesombongan rohani – merasa lebih benar, lebih murni, lebih layak.
-
Kepahitan masa lalu – luka yang tidak disembuhkan menghalangi kasih.
-
Perbedaan non-esensial – perbedaan gaya ibadah, selera musik, atau latar belakang.
-
Individualisme – budaya modern yang mendorong hidup sendiri, bukan hidup dalam tubuh Kristus.
Teologi Reformed menekankan pentingnya komunitas yang kudus dan saling menopang. Masing-masing anggota tubuh Kristus dipanggil untuk saling menguatkan, bukan menjatuhkan.
VIII. Aplikasi Praktis Bagi Gereja dan Kehidupan Kristen
-
Lakukan evaluasi kasih dalam komunitas Anda: Apakah jemaat saling mengenal? Saling memperhatikan?
-
Bangun budaya saling melayani: Jadikan kasih persaudaraan bagian dari DNA gereja, bukan hanya slogan.
-
Tanggapi konflik dengan kasih: Konflik harus menjadi ladang latihan kasih, bukan perpecahan.
-
Berdoa untuk pertumbuhan kasih: Minta Roh Kudus untuk menumbuhkan kasih sejati.
IX. Kesimpulan: Kasih yang Dipelihara Adalah Kasih yang Menghidupkan
Ibrani 13:1 bukan hanya kalimat penutup, melainkan inti dari kehidupan Kristen yang sejati: “Peliharalah kasih persaudaraan.” Dalam kerangka teologi Reformed, kasih ini tidak muncul dari kekuatan manusia, tetapi dari karya anugerah Allah dalam Kristus dan pekerjaan Roh Kudus dalam hati orang percaya.
Peliharalah kasih itu. Rawatlah kasih itu. Sebab dari kasih yang murni itulah dunia akan tahu bahwa kita milik Kristus.
.jpg)