Beriman untuk Diselamatkan
Pendahuluan
Topik "beriman untuk diselamatkan" merupakan salah satu tema paling penting dalam teologi Kristen, terutama dalam tradisi Reformed. Dalam kerangka iman Protestan, khususnya Reformed, keselamatan tidak diperoleh melalui usaha manusia, tetapi semata-mata melalui anugerah Allah dan diterima melalui iman. Artikel ini akan mengupas secara mendalam makna iman yang menyelamatkan, berdasarkan berbagai ayat Alkitab dan pandangan para teolog Reformed seperti John Calvin, R.C. Sproul, Louis Berkhof, dan lainnya.
1. Pengertian Iman Menurut Alkitab
Iman (bahasa Yunani: pistis) dalam konteks keselamatan merujuk pada keyakinan, kepercayaan, dan ketergantungan total pada Allah dan karya keselamatan-Nya dalam Kristus. Ibrani 11:1 memberikan definisi iman yang klasik:
"Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat."
Iman bukan sekadar pengetahuan intelektual (assensus), tetapi juga persetujuan pribadi (fiducia) kepada kebenaran Allah.
2. Iman Sebagai Sarana, Bukan Sebab Keselamatan
Pandangan Reformed menekankan bahwa iman bukanlah sebab atau dasar keselamatan, melainkan sarana untuk menerima keselamatan. John Calvin dalam Institutes of the Christian Religion menulis:
“Iman adalah semacam wadah yang dengannya kita menerima semua berkat keselamatan dari Kristus.”
Efesus 2:8-9 menegaskan:
“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah; itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”
Louis Berkhof juga menjelaskan bahwa iman tidak memiliki nilai atau jasa di dalam dirinya sendiri; ia hanyalah alat untuk menyambut anugerah Allah.
3. Iman dan Pertobatan: Dua Sisi dari Mata Uang yang Sama
Dalam doktrin Reformed, iman dan pertobatan tidak dapat dipisahkan. Iman yang sejati selalu menghasilkan pertobatan sejati. Kisah Para Rasul 20:21 menyatakan:
“…aku bersaksi kepada orang Yahudi dan orang Yunani supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus.”
R.C. Sproul menekankan bahwa pertobatan bukanlah tindakan tambahan di luar iman, melainkan manifestasi dari iman sejati. Jika seseorang sungguh percaya, maka ia akan berbalik dari dosanya.
4. Iman Sejati Bersifat Aktif, Bukan Pasif
Iman yang menyelamatkan bukan hanya percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, tetapi juga mempercayakan hidup sepenuhnya kepada-Nya. Yakobus 2:17 memperingatkan:
“Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.”
Teologi Reformed tidak pernah mengajarkan bahwa perbuatan menyelamatkan. Namun, iman yang sejati pasti akan berbuah dalam perbuatan. Iman tanpa buah adalah iman palsu.
5. Allah Adalah Prakarsa Iman
Menurut teologi Reformed, manusia yang berdosa tidak mampu menghasilkan iman dari dirinya sendiri. Iman adalah anugerah Allah. Yohanes 6:44:
“Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jika ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku...”
John Owen, salah satu tokoh Puritan Reformed, menegaskan bahwa hanya Roh Kudus yang bisa menggerakkan hati yang mati untuk percaya kepada Kristus. Ini disebut regenerasi (kelahiran baru), yang mendahului iman.
6. Iman Adalah Respons terhadap Pemberitaan Injil
Roma 10:17 menyatakan:
“Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.”
Teologi Reformed melihat pemberitaan Injil sebagai sarana utama Allah dalam membangkitkan iman dalam hati orang-orang pilihan-Nya. Karena itu, khotbah yang setia dan murni sangat penting dalam kehidupan gereja.
7. Iman dan Pemilihan Kekal
Salah satu pilar utama doktrin Reformed adalah predestinasi. Orang yang memiliki iman sejati adalah mereka yang telah dipilih Allah sejak kekekalan. Efesus 1:4-5:
“…sebelum dunia dijadikan, Allah telah memilih kita… untuk menjadi anak-anak-Nya oleh Yesus Kristus.”
John Calvin menjelaskan bahwa iman adalah bukti dari pemilihan. Kita tidak bisa melihat daftar orang pilihan Allah, tetapi iman dalam Kristus adalah tanda bahwa seseorang termasuk dalam umat pilihan-Nya.
8. Iman Mengikat Orang Percaya Kepada Kristus
Iman bukan sekadar percaya kepada fakta-fakta tentang Yesus, tetapi mengikatkan diri secara personal kepada-Nya. Galatia 2:20:
“…hidupku yang sekarang ini di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”
R.C. Sproul menyatakan bahwa iman menyatukan orang percaya dengan Kristus, dan karena persatuan itu, kita mendapatkan segala berkat rohani: pengampunan, pembenaran, pengangkatan sebagai anak, dan hidup kekal.
9. Iman dan Pembenaran
Salah satu prinsip Reformasi Protestan adalah justification by faith alone (sola fide). Roma 5:1:
“Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.”
Louis Berkhof menyatakan bahwa pembenaran adalah tindakan hukum Allah yang menyatakan orang berdosa benar, berdasarkan kebenaran Kristus yang diperhitungkan kepadanya dan diterima melalui iman.
10. Iman Terus Bertumbuh dalam Proses Pengudusan
Iman tidak berhenti pada saat seseorang percaya pertama kali. Iman harus terus bertumbuh seiring waktu. 2 Petrus 3:18:
“Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.”
Dalam pandangan Reformed, pertumbuhan iman adalah hasil pekerjaan Roh Kudus melalui sarana anugerah: doa, firman, persekutuan, dan sakramen.
11. Iman dan Kepastian Keselamatan
Banyak orang Kristen bertanya: “Bagaimana saya tahu bahwa saya sungguh diselamatkan?” Teologi Reformed memberikan jawaban yang menyejukkan: kepastian keselamatan datang dari iman yang sejati kepada Kristus dan pekerjaan Roh Kudus dalam hati kita. Roma 8:16:
“Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.”
John Calvin menekankan bahwa kepastian iman tidak bergantung pada kekuatan iman kita, tetapi pada keandalan objek iman kita, yaitu Kristus.
12. Tantangan Iman dalam Dunia Berdosa
Iman tidak berarti hidup bebas dari penderitaan. Iman diuji melalui pencobaan dan kesulitan. 1 Petrus 1:6-7:
“…imanmu yang telah teruji itu jauh lebih tinggi nilainya daripada emas yang fana...”
R.C. Sproul menekankan bahwa ujian iman adalah sarana Allah untuk memurnikan dan memperkuat iman kita. Iman yang sejati tidak akan lenyap dalam badai; justru semakin bersinar dalam kegelapan.
13. Keselamatan yang Dijamin oleh Iman yang Dipelihara Allah
Teologi Reformed meyakini doktrin perseverance of the saints, yaitu bahwa orang-orang percaya yang sejati akan dipelihara oleh Allah sampai akhir. Filipi 1:6:
“Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya...”
Bukan iman kita yang mempertahankan keselamatan, tetapi Allah yang setia memelihara iman kita.
14. Iman: Hasil Anugerah, Bukan Prestasi Pribadi
Akhirnya, penting untuk menekankan bahwa iman yang menyelamatkan bukanlah sesuatu yang dapat kita banggakan. Iman adalah anugerah dari Allah, bukan hasil dari kemampuan atau keputusan bebas manusia. 1 Korintus 1:30-31:
“…Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita… supaya, seperti ada tertulis: ‘Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.’”
Kesimpulan
“Beriman untuk diselamatkan” bukanlah sekadar slogan teologis, tetapi realitas hidup rohani yang dalam dan kompleks. Dalam terang teologi Reformed, iman bukanlah hasil keputusan bebas manusia, melainkan anugerah Allah yang dianugerahkan kepada umat pilihan-Nya melalui pemberitaan Injil dan pekerjaan Roh Kudus.
Iman adalah sarana untuk menerima keselamatan yang telah disediakan oleh Kristus. Iman tidak berdiri sendiri, tetapi selalu disertai dengan pertobatan, pengudusan, dan kesetiaan sampai akhir. Karena itu, setiap orang percaya dipanggil untuk terus bertumbuh dalam iman, sambil menggantungkan diri sepenuhnya kepada kasih karunia Allah yang tak tergoyahkan.
Solus Christus. Sola Fide. Soli Deo Gloria.
.jpg)