Jalan Kehidupan: Hidup dalam Kristus yang Adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup

Pendahuluan
Salah satu gambaran yang indah dalam Alkitab tentang kehidupan Kristen adalah jalan. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sama-sama menggambarkan kehidupan iman sebagai sebuah perjalanan.
Mazmur 16:11 berkata:
“Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.”
Yesus sendiri berkata dalam Yohanes 14:6:
“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”
Hidup Kristen adalah perjalanan pada jalan kehidupan, bukan jalan kematian. Dalam Alkitab, selalu ada dua jalan yang kontras: jalan hidup dan jalan maut (Ulangan 30:19; Mazmur 1; Matius 7:13-14).
Hari ini kita akan merenungkan tema besar “The Way of Life”—jalan kehidupan—dalam terang Injil Yesus Kristus, sesuai dengan ajaran para teolog Reformed.
Ada tiga hal penting yang akan kita lihat:
-
Jalan Kehidupan itu Kristosentris: Kristus adalah jalan itu sendiri
-
Jalan Kehidupan itu Kudus: perjalanan iman dalam ketaatan
-
Jalan Kehidupan itu Eskatologis: menuju kepenuhan hidup kekal
1. Jalan Kehidupan itu Kristosentris
Saudara-saudara, pertama-tama kita harus mengerti bahwa jalan kehidupan bukanlah sekadar jalan moral atau filsafat, melainkan jalan yang berpusat pada Kristus.
Yesus berkata: “Akulah jalan.” (Yohanes 14:6).
Artinya, jalan kehidupan bukan ditemukan melalui usaha manusia, melainkan hanya melalui pribadi Kristus.
a. Kristus adalah Jalan Satu-satunya
Dalam konteks dunia yang penuh relativisme, orang sering berkata: semua jalan menuju Allah. Namun, Alkitab menegaskan hanya ada satu jalan yang benar.
Petrus berkata:
“Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kisah Para Rasul 4:12)
John Calvin menulis:
“Kristus bukan hanya menunjukkan jalan, tetapi Ia sendiri adalah jalan itu. Barangsiapa mencari jalan lain, ia akan tersesat dan binasa.”
Inilah inti dari jalan kehidupan: Kristus adalah jalan itu sendiri.
b. Kristus adalah Kebenaran dan Hidup
Mengapa Yesus disebut jalan? Karena Ia juga adalah kebenaran dan hidup. Tanpa kebenaran, kita berjalan dalam kesesatan. Tanpa hidup, kita hanya berjalan menuju maut.
Di salib, Kristus menanggung hukuman dosa kita, dan melalui kebangkitan-Nya, Ia membuka jalan kehidupan kekal.
Herman Bavinck berkata:
“Kristus adalah penghubung antara Allah dan manusia, karena di dalam Dia jalan ke surga terbuka, dan hidup kekal diberikan.”
Dengan kata lain, jalan kehidupan itu Kristosentris: dimulai dari Kristus, berlangsung dalam Kristus, dan berakhir di dalam Kristus.
2. Jalan Kehidupan itu Kudus
Saudara-saudara, jika Kristus adalah jalan kehidupan, maka berjalan di jalan itu berarti hidup dalam kekudusan dan ketaatan.
Mazmur 1 menggambarkan dua jalan: jalan orang fasik dan jalan orang benar. Jalan orang fasik menuju kebinasaan, tetapi jalan orang benar menuju kehidupan.
a. Jalan Kekudusan
Yesaya 35:8 berkata:
“Di situ akan ada jalan raya, yang akan disebutkan Jalan Kudus; orang najis tidak akan melaluinya, dan orang-orang yang sesat tidak akan mengembara di situ.”
Jalan kehidupan adalah jalan kudus. Artinya, mereka yang berjalan di dalamnya adalah orang-orang yang sudah dikuduskan oleh darah Kristus dan dipanggil untuk hidup taat kepada firman.
Louis Berkhof menulis:
“Hidup kekal bukan hanya realitas masa depan, tetapi dimulai sekarang dalam kekudusan hidup. Jalan kehidupan adalah jalan pertumbuhan dalam kekudusan.”
b. Jalan Ketaatan
Yesus berkata: “Barangsiapa mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku.” (Yohanes 14:23).
Mengikuti Kristus berarti berjalan di jalan salib: menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti Dia (Markus 8:34).
John Owen, seorang teolog Puritan, berkata:
“Tidak ada jalan pintas menuju kemuliaan. Jalan kehidupan adalah jalan salib, di mana kita mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah.”
Jalan kehidupan bukanlah jalan yang mudah atau nyaman. Itu adalah jalan sempit (Matius 7:14), tetapi jalan yang benar dan penuh berkat.
c. Jalan Kasih
Selain kekudusan dan ketaatan, jalan kehidupan juga ditandai oleh kasih. Paulus berkata dalam Efesus 5:2:
“Hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita.”
Kasih adalah tanda utama dari orang yang berjalan di jalan kehidupan. Tanpa kasih, semua perbuatan baik kita tidak ada artinya (1 Korintus 13).
3. Jalan Kehidupan itu Eskatologis
Saudara-saudara, jalan kehidupan bukan hanya berbicara tentang masa kini, tetapi juga tentang tujuan akhir kita. Jalan ini adalah jalan menuju hidup kekal.
a. Jalan Menuju Kemuliaan
Paulus berkata dalam Roma 2:7:
“Bagi mereka yang dengan tekun berbuat baik mencari kemuliaan, kehormatan, dan ketidakbinasaan, Ia akan memberikan hidup yang kekal.”
Hidup Kristen adalah perjalanan menuju rumah kekal bersama Allah. Seperti Israel berjalan dari Mesir menuju tanah perjanjian, demikian juga kita berjalan menuju Yerusalem baru.
b. Jalan yang Dijamin oleh Kristus
Yesus berkata dalam Yohanes 14:2-3:
“Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu… Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.”
Kepastian jalan ini bukan karena kekuatan kita, tetapi karena Kristus yang memimpin kita. Dialah Gembala yang membawa kita ke padang rumput hijau dan air tenang (Mazmur 23).
c. Jalan yang Berakhir dalam Kehidupan Kekal
Wahyu 21:4 berkata:
“Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.”
Inilah tujuan akhir jalan kehidupan: hidup kekal dalam kemuliaan bersama Allah, tanpa dosa, tanpa penderitaan, tanpa maut.
Herman Ridderbos menulis:
“Eskatologi Perjanjian Baru adalah perjalanan menuju kepenuhan hidup yang sudah dimulai di dalam Kristus. Jalan kehidupan adalah jalan yang pasti berakhir dalam kemenangan.”
4. Implikasi Praktis: Hidup di Jalan Kehidupan
Bagaimana kebenaran ini mengubah kehidupan kita hari ini?
a. Panggilan untuk Memilih Jalan Hidup
Ulangan 30:19 berkata: “Aku menghadapkan kepadamu kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu.”
Setiap hari kita dihadapkan pada pilihan: jalan dunia atau jalan Kristus. Kasih karunia Allah memanggil kita untuk memilih jalan kehidupan.
b. Panggilan untuk Bertahan
Jalan kehidupan bukan jalan mudah. Kita akan menghadapi penderitaan, pencobaan, bahkan penganiayaan. Tetapi Yesus berkata:
“Barangsiapa bertahan sampai pada kesudahannya, ia akan selamat.” (Matius 24:13)
c. Panggilan untuk Bersaksi
Orang yang berjalan di jalan kehidupan harus menjadi terang bagi orang lain. Yesus berkata: “Biarlah terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu di sorga.” (Matius 5:16).
Melalui hidup kita, orang lain dapat ditarik untuk berjalan di jalan kehidupan.
Penutup
Saudara-saudara, jalan kehidupan adalah jalan yang Allah siapkan di dalam Kristus.
-
Kristus adalah jalan itu sendiri. Tanpa Dia, kita tersesat.
-
Jalan ini kudus. Kita dipanggil untuk hidup dalam ketaatan, kasih, dan kekudusan.
-
Jalan ini eskatologis. Tujuannya adalah hidup kekal dalam kemuliaan Allah.
Mungkin jalan ini sempit, sulit, penuh tantangan. Tetapi ujung jalan ini adalah sukacita kekal.
Kiranya kita semua dapat berkata seperti pemazmur:
“Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.” (Mazmur 16:11)
Amin.
Soli Deo Gloria.