AYUB 2:9-13 (AYUB MELABRAK ISTRINYA DAN 3 SAHABAT)

Pdt.Budi Asali, M.Div.
AYUB 2:9-13 (AYUB MELABRAK ISTRINYA DAN 3 SAHABAT)
Ayub 2:9-13 - “(9) Maka berkatalah isterinya kepadanya: ‘Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!’ (10) Tetapi jawab Ayub kepadanya: ‘Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?’ Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya. (11) Ketika ketiga sahabat Ayub mendengar kabar tentang segala malapetaka yang menimpa dia, maka datanglah mereka dari tempatnya masing-masing, yakni: Elifas, orang Teman, dan Bildad, orang Suah, serta Zofar, orang Naama. Mereka bersepakat untuk mengucapkan belasungkawa kepadanya dan menghibur dia. (12) Ketika mereka memandang dari jauh, mereka tidak mengenalnya lagi. Lalu menangislah mereka dengan suara nyaring. Mereka mengoyak jubahnya, dan menaburkan debu di kepala terhadap langit. (13) Lalu mereka duduk bersama-sama dia di tanah selama tujuh hari tujuh malam. Seorangpun tidak mengucapkan sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat, bahwa sangat berat penderitaannya.”.

Kalau sampai saat ini Ayub diserang dalam bentuk kehilangan harta, anak-anak dan penyakit, maka mulai bagian ini, ia diserang setan dengan menggunakan manusia, yaitu istrinya sendiri, dan teman-temannya.

Penerapan: setan memang mempunyai tidak terhitung banyaknya cara untuk menyerang kita, bahkan menggunakan cara yang sama sekali tidak terduga.

Pulpit Commentary: “the fiercest trials often arise at unexpected moments, and from least anticipated quarters.” [= ujian / pencobaan yang paling dahsyat sering muncul pada saat yang tidak terduga, dan dari sudut yang paling tidak diharapkan.] - hal 40.

Pulpit Commentary: “it is possible for even the righteous man to suffer in the extremest degree. It is one part of the purpose of the book to illustrate this truth for sufferers in all time, to make known that ‘many’ may be ‘the afflictions of the righteous.’” [= adalah mungkin bagi seorang benar untuk menderita dalam tingkat yang paling extrim. Merupakan sebagian dari tujuan kitab ini untuk mengilustrasikan kebenaran ini bagi para penderita dalam semua waktu, menunjukkan bahwa ‘penderitaan orang benar itu bisa banyak’.] - hal 45.

Catatan: kutipan ayat dari Mazmur 34:20 - “Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;”.

Ay 9-10: “(9) Maka berkatalah isterinya kepadanya: ‘Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!’ (10) Tetapi jawab Ayub kepadanya: ‘Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?’ Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.”.

1) Ayub 2: 9 ini menunjukkan pencobaan bagi Ayub yang datang dari istrinya sendiri.

a) Dari kata-kata ‘kutukilah Allah’ terlihat dengan jelas bahwa setan menjadikan istri Ayub sebagai alatnya untuk mewujudkan kata-katanya dalam 1:11 dan 2:5.

Pulpit Commentary: “the greatest outward blessings may sometimes prove a snare - Job’s wife, and Adam’s.” [= berkat-berkat lahiriah yang terbesar kadang-kadang bisa terbukti merupakan suatu jerat - istri Ayub, dan istri Adam.] - hal 40.

Wycliffe Bible Commentary: “The narrative reminds us repeatedly of the temptation in Eden (Gen 3). Job’s wife plays a role remarkably like that of Eve. Each woman succumbed to the tempter and became his instrument for the undoing of her husband.” [= Cerita ini berulang-ulang mengingatkan kita tentang pencobaan di Eden (Kej 3). Istri Ayub memainkan peranan yang sangat hebat seperti peranan dari Hawa. Kedua perempuan ini tunduk kepada si penggoda dan menjadi alatnya untuk menghancurkan suaminya.].

Matthew Henry: “she was to him like Michal to David, a scoffer at his piety. ... It is his policy to send his temptations by the hand of those that are dear to us, as he tempted Adam by Eve and Christ by Peter. We must therefore carefully watch that we be not drawn to say or do a wrong thing by the influence, interest, or entreaty, of any, no, not those for whose opinion and favour we have ever so great a value.” [= ia bagi Ayub adalah seperti Mikhal bagi Daud, seorang pengejek terhadap kesalehannya. ... Merupakan politik dari setan untuk mengirimkan pencobaannya dengan menggunakan mereka yang kita kasihi, seperti ia mencobai Adam menggunakan Hawa, dan mencobai Kristus menggunakan Petrus. Karena itu kita harus dengan hati-hati berjaga-jaga supaya kita tidak ditarik untuk mengatakan atau melakukan hal yang salah karena pengaruh, kepentingan, atau permohonan, dari siapapun, bahkan dari mereka yang pandangannya dan kebaikannya sangat kita hargai.].

Bdk. 2Samuel 6:14,16,20-23 - “(14) Dan Daud menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga; ia berbaju efod dari kain lenan. ... (16) Ketika tabut TUHAN itu masuk ke kota Daud, maka Mikhal, anak perempuan Saul, menjenguk dari jendela, lalu melihat raja Daud meloncat-loncat serta menari-nari di hadapan TUHAN. Sebab itu ia memandang rendah Daud dalam hatinya. ... (20) Ketika Daud pulang untuk memberi salam kepada seisi rumahnya, maka keluarlah Mikhal binti Saul mendapatkan Daud, katanya: ‘Betapa raja orang Israel, yang menelanjangi dirinya pada hari ini di depan mata budak-budak perempuan para hambanya, merasa dirinya terhormat pada hari ini, seperti orang hina dengan tidak malu-malu menelanjangi dirinya!’ (21) Tetapi berkatalah Daud kepada Mikhal: ‘Di hadapan TUHAN, yang telah memilih aku dengan menyisihkan ayahmu dan segenap keluarganya untuk menunjuk aku menjadi raja atas umat TUHAN, yakni atas Israel, - di hadapan TUHAN aku menari-nari, (22) bahkan aku akan menghinakan diriku lebih dari pada itu; engkau akan memandang aku rendah, tetapi bersama-sama budak-budak perempuan yang kaukatakan itu, bersama-sama merekalah aku mau dihormati.’ (23) Mikhal binti Saul tidak mendapat anak sampai hari matinya.”.

Matius 16:21-23 - “(21) Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-muridNya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. (22) Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: ‘Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.’ (23) Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: ‘Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagiKu, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”.

Pulpit Commentary: “she suffers herself to become Satan’s ally and her husband’s worst enemy. It is noticeable that she urges her husband to do exactly that which Satan had suggested that he would do (ch. 1:11; 2:5), and had evidently wished him to do, thus fighting on his side, and increasing her husband’s difficulties.” [= ia membiarkan dirinya menjadi sekutu setan dan musuh terburuk suaminya. Terlihat dengan jelas bahwa ia mendesak suaminya untuk melakukan hal yang persis sama dengan yang dikatakan oleh setan (1:11; 2:5), dan yang jelas diinginkan oleh setan untuk dilakukan oleh Ayub, dan dengan demikian berkelahi di pihak setan, dan menambah kesukaran-kesukaran suaminya.] - hal 35.

Tentu bukan hanya istri yang bisa menjadi alat setan untuk mencobai suami, tetapi juga semua anggota keluarga dan teman bisa menjadi alat setan untuk mencobai kita. KARENA ITU, KITA SEMUA HARUS BERUSAHA UNTUK MEMBANGUN KEROHANIAN DARI SELURUH KELUARGA KITA!!!

b) Sekalipun istri Ayub jelas salah, tetapi kita tidak boleh lupa bahwa ia melakukan kesalahan ini dalam penderitaan yang hebat. Penderitaan Ayub yang sangat hebat juga merupakan penderitaannya. Iapun kehilangan seluruh harta dan anak-anaknya, dan ia juga menderita karena melihat bagaimana suaminya terkena penyakit yang begitu hebat. Hanya, kalau Ayub masih bisa bertahan dalam penderitaan itu, istrinya tidak.

c) Sekarang terlihat mengapa tadinya setan ‘berbaik hati’ dengan tidak membunuh istri Ayub bersama-sama dengan semua anak-anaknya, yaitu karena ia ingin menggunakan si istri sebagai alat yang ampuh untuk mencobai / menyerang Ayub.

Ini jelas merupakan sesuatu yang sangat menyakitkan bagi Ayub, karena di tengah-tengah semua kehilangan dan penyakit yang ia alami, istrinya bukannya mendukungnya, tetapi bahkan mengeluarkan kata-kata seperti itu.

Wycliffe Bible Commentary: “Satan had spared Job’s wife - as he had spared the four messengers - for his further use in his war on Job’s soul.” [= Iblis telah menyimpan / mencadangkan / tidak membunuh istri Ayub - seperti ia telah menyimpan / mencadangkan / tidak membunuh keempat utusan - untuk penggunaannya lebih lanjut dalam peperangannya terhadap jiwa Ayub.].

Matthew Henry: “She was spared to him, when the rest of his comforts were taken away, for this purpose, to be a troubler and tempter to him. If Satan leaves any thing that he has permission to take away, it is with a design of mischief.” [= Ia disimpan / dicadangkan baginya, pada waktu sisa dari kesenangan-kesenangannya diambil, untuk tujuan ini, menjadi pengganggu dan penggoda baginya. Jika Iblis meninggalkan apapun yang diijinkan untuk ia ambil, itu adalah dengan suatu rencana jahat.].

Pulpit Commentary: “Beyond question, it was politic to attack the patriarch through his wife; and probably for this reason she was spared - not because having her was a greater trial to the good man than losing her would have been, but because the devil wanted a tool against her husband (cf. Adam’s temptation through Eve).” [= Tidak perlu diragukan, itu merupakan suatu politik untuk menyerang Ayub melalui istrinya; dan mungkin untuk alasan ini ia disimpan / dicadangkan - bukan karena mempunyai istri merupakan ujian / pencobaan yang lebih besar bagi Ayub dari pada kehilangan istri, tetapi karena setan membutuhkan suatu alat terhadap suaminya (bdk. pencobaan terhadap Adam melalui Hawa).] - hal 39.

Pulpit Commentary: “Satan’s mercies (e.g. in sparing Job’s wife) have always somewhat of cruelty in them.” [= Belas kasihan setan (misalnya dalam menyimpan / mencadangkan istri Ayub) selalu mempunyai suatu kekejaman di dalamnya.] - hal 40.

Bdk. Amsal 12:10 - “Orang benar memperhatikan hidup hewannya, tetapi belas kasihan orang fasik itu kejam.”.

Kalau belas kasihan orang fasik itu kejam, apalagi belas kasihan setan!!! Ia ‘berbelas-kasihan’ dengan tidak membunuh istri Ayub, tetapi ia menggunakan si istri untuk menjatuhkan Ayub!

Pulpit Commentary: “Chrysostom asks, ‘Why did the devil leave him his wife?’ and replies, ‘Because he thought her a good scourge by which to plague him more acutely than by any other means.’ Certainly the temptation which comes through one whom we love is the most powerful.” [= Chrysostom bertanya: ‘Mengapa setan meninggalkan padanya istrinya?’ dan menjawab: ‘Karena ia berpikir bahwa perempuan itu merupakan cambuk yang bagus untuk mengganggu / menggoda dia dengan lebih tajam dibandingkan dengan cara-cara lain’. Jelas bahwa pencobaan yang datang melalui seseorang yang kita cintai merupakan pencobaan yang paling kuat.] - hal 47.

2) Jawaban Ayub terhadap kata-kata istrinya (Ayub 2: 10).

a) ‘Engkau berbicara seperti perempuan gila’.

1. Kata ‘gila’ sebetulnya salah terjemahan.
KJV/RSV/NIV/NASB: ‘foolish’ [= bodoh].
Ada yang mengatakan bahwa ‘bodoh’ di sini berarti ‘tidak bisa membedakan baik dan buruk’. Kata bahasa Ibrani yang digunakan adalah NABAL.

Jamieson, Fausset & Brown: “‘The foolish women.’ Sin and folly are allied in Scripture (1 Sam. 25:25; 2 Samuel 13:13; Ps. 14:1).” [= ‘Perempuan-perempuan tolol’. Dosa dan ketololan digabungkan dalam Kitab Suci (1Samuel 25:25; 2Sam 13:13; Mazmur 14:1).].

1Sam 25:25 - “Janganlah kiranya tuanku mengindahkan Nabal, orang yang dursila itu, sebab seperti namanya demikianlah ia: Nabal namanya dan bebal orangnya. Tetapi aku, hambamu ini, tidak melihat orang-orang yang tuanku suruh.”.

2Samuel 13:13 - “Dan aku, ke manakah kubawa kecemaranku? Dan engkau ini, engkau akan dianggap sebagai orang yang bebal di Israel. Oleh sebab itu, berbicaralah dengan raja, sebab ia tidak akan menolak memberikan aku kepadamu.’”.

Mazmur 14:1 - “[Untuk pemimpin biduan. Dari Daud.] Orang bebal berkata dalam hatinya: ‘Tidak ada Allah.’ Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik.”.

Yesaya 32:6 - “Sebab orang bebal mengatakan kebebalan, dan hatinya merencanakan yang jahat, yaitu bermaksud murtad dan mengatakan yang menyesatkan tentang TUHAN, membiarkan kosong perut orang lapar dan orang haus kekurangan minuman.”.

Barnes’ Notes: “The word here rendered ‘foolish’ means properly stupid or foolish, and then wicked, abandoned, impious - the idea of sin and folly being closely connected in the Scriptures, or sin being regarded as supreme folly;” [= Kata yang diterjemahkan ‘tolol’ sebetulnya berarti bodoh atau tolol, dan lalu jahat, dibuang / ditinggalkan, tidak saleh – gagasan tentang dosa dan kebodohan dihubungkan secara dekat dalam Kitab Suci, atau dosa dianggap sebagai ketololan yang tertinggi;] - hal 119.

2. Ayub melabrak istrinya.
Dengan kata-kata ini boleh dikatakan Ayub ‘melabrak’ istrinya dengan kata-kata yang keras. Orang yang membujuk / mendorong kita kepada dosa memang pantas dilabrak, sekalipun itu adalah istri sendiri, karena kalau kita tidak melakukannya, maka orang itu akan terus mendesak kita untuk berbuat dosa.

Perhatikan sikap Yesus terhadap Petrus, sikap Daud terhadap Mikhal, dan sikap Ayub terhadap istrinya! Semua mereka bersikap keras!

Dalam Perjanjian Lama, bahkan orang Israel disuruh membunuh keluarga sendiri / sahabat yang mengajarkan ajaran sesat.

Bdk. Ulangan 13:6-10 - “(6) Apabila saudaramu laki-laki, anak ibumu, atau anakmu laki-laki atau anakmu perempuan atau isterimu sendiri atau sahabat karibmu membujuk engkau diam-diam, katanya: Mari kita berbakti kepada allah lain yang tidak dikenal olehmu ataupun oleh nenek moyangmu, (7) salah satu allah bangsa-bangsa sekelilingmu, baik yang dekat kepadamu maupun yang jauh dari padamu, dari ujung bumi ke ujung bumi, (8) maka janganlah engkau mengalah kepadanya dan janganlah mendengarkan dia. Janganlah engkau merasa sayang kepadanya, janganlah mengasihani dia dan janganlah menutupi salahnya, (9) tetapi bunuhlah dia! Pertama-tama tanganmu sendirilah yang bergerak untuk membunuh dia, kemudian seluruh rakyat. (10) Engkau harus melempari dia dengan batu, sehingga mati, karena ia telah berikhtiar menyesatkan engkau dari pada TUHAN, Allahmu, yang telah membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan.”.
Catatan: hukuman mati seperti ini merupakan civil law / undang-undang, yang hanya berlaku di tempat tertentu, pada jaman tertentu.

Francis I. Andersen (Tyndale): “Whatever lay behind her words, Job rejects them with fury. But he does not call her ‘wicked’, merely ‘foolish,’ that is lacking in discernment. She thinks God has treated Job badly, and deserves a curse; Job finds nothing wrong with what has happened to him.” [= Apapun yang terletak dibalik kata-katanya, Ayub menolaknya dengan kemurkaan. Tetapi ia tidak menyebutnya ‘jahat’, tetapi hanya ‘bodoh’, yaitu tidak mempunyai ketajaman dalam membedakan. Ia berpikir Allah telah memperlakukan Ayub dengan buruk, dan layak mendapatkan kutukan; Ayub tidak menemukan apapun yang salah dengan apa yang telah terjadi padanya.] - hal 93.

Matthew Henry: “How he resented the temptation. He was very indignant at having such a thing mentioned to him: ... In other cases Job reasoned with his wife with a great deal of mildness, even when she was unkind to him ... But, when she persuaded him to curse God, he was much displeased: Thou speakest as one of the foolish women speaketh. ... Temptations to curse God ought to be rejected with the greatest abhorrence, and not so much as to be parleyed with.” [= Bagaimana ia marah terhadap pencobaan. Ia sangat marah karena disebutkannya hal itu kepadanya: ... Dalam kasus-kasus yang lain Ayub berargumentasi dengan istrinya dengan kelembutan, bahkan pada saat istrinya tidak baik kepadanya. ... Tetapi, pada waktu ia membujuknya untuk mengutuki Allah, ia sangat tidak senang: Engkau berbicara seperti salah satu dari perempuan-perempuan tolol berbicara. ... Pencobaan-pencobaan untuk mengutuki Allah harus ditolak dengan kejijikan yang terbesar, dan bukannya diajak berembuk / berdiskusi.].

b) ‘Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?’ (ay 10b).

Ini menunjukkan suatu pengakuan dari Ayub, bahwa segala sesuatu, baik atau buruk, datang dari Allah. Ini adalah salah satu dasar dari theologia Reformed yang beranggapan bahwa ‘God is the first cause of everything’ [= Allah adalah penyebab pertama dari segala sesuatu].

Pulpit Commentary: “It recognizes God as the Source of all things. ... Nothing happens but by God’s permission.” [= Itu mengenali Allah sebagai Sumber segala sesuatu. ... Tidak ada yang terjadi kecuali oleh ijin Allah.] - hal 48.

Pulpit Commentary: “He accepts both prosperity and affliction as coming from God, and expresses himself as willing to submit to his will.” [= Ia menerima bahwa baik kemakmuran maupun penderitaan / kesusahan sebagai datang dari Allah, dan menyatakan bahwa dirinya mau tunduk pada kehendakNya.] - hal 35.

Pulpit Commentary: “The voice, not of stoical indifference, or of heartless despair, or of cold, callous, reluctant acquiescence in a fate which cannot be escaped, but of intelligent and cheerful submission to a providence which he recognizes to be at once righteous and good.” [= Suara itu, bukan suara acuh-tak acuh dari ajaran Stoic, atau suara dari keputus-asaan yang tidak punya semangat, atau suara dari penerimaan yang dingin, tidak berperasaan, segan kepada nasib yang tidak bisa dihindari, tetapi suatu ketundukan yang cerdas dan gembira kepada Providensia yang ia kenali sebagai benar dan baik sekaligus.] - hal 40.

Catatan: golongan Stoic / Stoa (bdk. Kisah Para Rasul 17:18) percaya adanya ketetapan / penentuan allah, tetapi yang mereka maksudkan adalah adanya takdir, yang bahkan ada di atas Allah!

Francis I. Andersen (Tyndale): “His attitude is the same as before (1:21). It is equally right for God to give gifts and to retrieve them (round one); it is equally right for God to send good or evil (round two).” [= Sikapnya sama seperti sebelumnya (1:21). Adalah sama benarnya bagi Allah untuk memberikan pemberian dan untuk mengambilnya kembali (ronde pertama); adalah sama benarnya bagi Allah untuk mengirimkan hal yang baik atau hal yang buruk (ronde kedua).] - hal 93.

Ini menunjukkan bahwa dalam penderitaannya Ayub tetap ingat akan hal-hal baik yang telah ia terima sampai saat ini.

Barnes’ Notes: “Having received such abundant tokens of kindness from him, it was unreasonable to complain when they were taken away, and when he sent calamity in their stead.” [= Setelah menerima begitu banyak tanda kebaikan dari Dia, adalah tidak masuk akal untuk mengeluh pada waktu hal-hal itu diambil kembali, dan pada waktu Ia mengirimkan bencana sebagai gantinya.] - hal 119.

Barnes’ Notes: “Shall we at once lose all our confidence in our great Benefactor the moment he takes away our comforts, and visits us with pain? This is the true expression of piety. It submits to all the arrangements of God without a murmur. It receives blessing with gratitude; it is resigned when calamities are sent in their place.” [= Apakah kita akan segera kehilangan semua keyakinan kita kepada Dermawan kita yang besar pada saat Ia mengambil semua hal-hal yang menyenangkan, dan mengunjungi kita dengan kesakitan / hal yang menyakitkan? Ini merupakan pernyataan kesalehan yang benar. Ia tunduk kepada semua pengaturan Allah tanpa sungut-sungut. Ia menerima berkat dengan syukur; ia berserah pada waktu bencana-bencana dikirimkan sebagai gantinya.] - hal 119.

Matthew Henry: “How he reasoned against the temptation: Shall we receive good at the hand of God, and shall we not receive evil also? Those whom we reprove we must endeavour to convince; and it is no hard matter to give a reason why we should still hold fast our integrity even when we are stripped of every thing else. He considers that, though good and evil are contraries, yet they do not come from contrary causes, but both from the hand of God (Isa. 45:7, Lam. 3:38), and therefore that in both we must have our eye up unto him, with thankfulness for the good he sends and without fretfulness at the evil.” [= Bagaimana ia berargumentasi terhadap pencobaan: Apakah kita mau menerima yang baik dari tangan Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk juga? Mereka yang kita marahi harus kita yakinkan; dan tidak sukar untuk memberi alasan mengapa kita harus tetap berpegang erat-erat pada kesalehan kita bahkan pada saat segala sesuatu diambil dari kita. Ia mempertimbangkan bahwa hal-hal yang baik dan buruk memang bertentangan, tetapi mereka tidak datang dari penyebab yang bertentangan / berbeda, tetapi keduanya dari tangan Allah (Yes 45:7, Ratapan 3:38), dan karena itu dalam keduanya kita harus tetap mengarahkan mata kita kepadaNya, dengan rasa syukur untuk hal baik yang Ia kirimkan, dan tanpa sikap menggerutu untuk hal yang buruk.].

Bandingkan dengan:
1. Pkh 7:14 - “Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang inipun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya.”.
2. Yesaya 45:6b-7 - “(6b) Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, (7) yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini.”.
3. Ratapan 3:37-38 - “(37) Siapa berfirman, maka semuanya jadi? Bukankah Tuhan yang memerintahkannya? (38) Bukankah dari mulut Yang Mahatinggi keluar apa yang buruk dan apa yang baik?”.
4. Amos 3:6 - “Adakah sangkakala ditiup di suatu kota, dan orang-orang tidak gemetar? Adakah terjadi malapetaka di suatu kota, dan TUHAN tidak melakukannya?”.

c) ‘Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya’ (ay 10c).
Ada rabi-rabi Yahudi yang mengatakan bahwa Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya, tetapi ia sudah berbuat dosa dengan hati / pikirannya. Ini merupakan penafsiran yang bertentangan dengan kontext, karena dalam kontextnya, baru belakangan Ayub berbuat dosa.

Pulpit Commentary: “Thus far, that is, Job ‘kept the door of his mouth’ strictly, righteously, piously. Later on he was not always so entirely free from fault.” [= Sampai sejauh ini, yaitu, Ayub ‘menjaga pintu mulutnya’ dengan ketat, dengan benar, dengan saleh. Belakangan ia tidak selalu begitu bebas sepenuhnya dari kesalahan.] - hal 35.

Bagian ini menunjukkan bahwa orang sering jatuh dalam dosa dengan mulut / lidah pada waktu penderitaan menimpa, misalnya dengan mengomel, marah dan mengeluarkan kata-kata yang tidak benar terhadap Allah, dsb.


Ayub 2: 11-13: “(11) Ketika ketiga sahabat Ayub mendengar kabar tentang segala malapetaka yang menimpa dia, maka datanglah mereka dari tempatnya masing-masing, yakni: Elifas, orang Teman, dan Bildad, orang Suah, serta Zofar, orang Naama. Mereka bersepakat untuk mengucapkan belasungkawa kepadanya dan menghibur dia. (12) Ketika mereka memandang dari jauh, mereka tidak mengenalnya lagi. Lalu menangislah mereka dengan suara nyaring. Mereka mengoyak jubahnya, dan menaburkan debu di kepala terhadap langit. (13) Lalu mereka duduk bersama-sama dia di tanah selama tujuh hari tujuh malam. Seorangpun tidak mengucapkan sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat, bahwa sangat berat penderitaannya.”.

1) Sekalipun belum terlihat di sini, tetapi ini merupakan permulaan dari pencobaan yang dilakukan oleh setan melalui sahabat-sahabat Ayub. Mereka memang sebetulnya bertujuan menghibur Ayub, tetapi karena pengertian yang salah dalam persoalan penderitaan / bencana, mereka akhirnya menambahi penderitaan Ayub dengan penghakiman mereka.

2) Berdasarkan kata-kata ‘bulan-bulan yang sia-sia’ dalam Ayub 7:3, Pulpit Commentary (hal 35-36) mengatakan bahwa saat ini sedikitnya sudah 2 bulan lewat sejak penderitaan terakhir menimpa Ayub. Mungkin ini disebabkan karena ketiga sahabat Ayub itu tempat tinggalnya cukup jauh, sehingga butuh waktu bagi berita tentang Ayub untuk mencapai mereka, dan butuh waktu lagi bagi mereka untuk bisa datang ke tempat Ayub.

Pulpit Commentary: “periods of protracted suffering are spiritually more dangerous than sharp and sudden strokes of greater severity.” [= masa penderitaan yang berlarut-larut, lebih berbahaya secara rohani dari pada pukulan-pukulan yang tajam dan mendadak dengan kekerasan yang lebih besar.] - hal 40.

3) Tiga sahabat Ayub datang untuk mengucapkan belasungkawa dan menghibur Ayub (ay 11b).

a) Di sini hanya disebutkan 3 orang sahabat, yaitu Elifas, Bildad dan Zofar.
Ay 11b: “Elifas, orang Teman, dan Bildad, orang Suah, serta Zofar, orang Naama.”.

1. Elifas orang Teman.
Para penafsir menganggap bahwa Elifas orang Teman ini adalah anak laki-laki dari Esau.

Kejadian 36:4,15 - “Ada melahirkan Elifas bagi Esau, dan Basmat melahirkan Rehuel, ... (15) Inilah kepala-kepala kaum bani Esau: keturunan Elifas anak sulung Esau, ialah kepala kaum Teman, kepala kaum Omar, kepala kaum Zefo, kepala kaum Kenas,”.

2. Bildad, orang Suah.
Para penafsir menganggap Suah sebagai anak Abraham dengan Ketura.
Kej 25:1-2 - “(1) Abraham mengambil pula seorang isteri, namanya Ketura. (2) Perempuan itu melahirkan baginya Zimran, Yoksan, Medan, Midian, Isybak dan Suah.”.

3. Zofar, orang Naama.
Para penafsir tak punya kesepakatan tentang orang ini, maupun asal usulnya.

Kalau pandangan di atas ini benar, maka itu berarti Ayub bukannya hidup di jaman Abraham / Terah, tetapi agak jauh sesudahnya. Agak aneh bahwa ia bisa mempunyai umur setua itu.

b) Belakangan pada pasal 32 muncul seorang lagi, yaitu Elihu.
Ayub 32:2 - “Lalu marahlah Elihu bin Barakheel, orang Bus, dari kaum Ram; ia marah terhadap Ayub, karena ia menganggap dirinya lebih benar dari pada Allah,”.

Biarpun ia baru diceritakan dalam Ayub 32:2, tetapi dari kata-katanya rupanya ia sudah hadir dan mendengar seluruh percakapan antara Ayub dan ketiga sahabatnya tersebut.

1. Siapakah Elihu ini?
Adam Clarke (tentang Ayub 32:2): “Buz was the second son of Nahor, the brother of Abram, Gen. 22:21.” [= Bus adalah anak laki-laki kedua dari Nahor, saudara laki-laki dari Abraham, Kejadian 22:21.].

Kejadian 22:20-21 - “(20) Sesudah itu Abraham mendapat kabar: ‘Juga Milka telah melahirkan anak-anak lelaki bagi Nahor, saudaramu: (21) Us, anak sulung, dan Bus, adiknya, dan Kemuel, ayah Aram,”.

2. Dari kata-kata Elihu dalam Ayub 32:6 terlihat bahwa Elihu masih muda tetapi ketiga orang ini sudah tua.
Ayub 32:6 - “Lalu berbicaralah Elihu bin Barakheel, orang Bus itu: ‘Aku masih muda dan kamu sudah berumur tinggi; oleh sebab itu aku malu dan takut mengemukakan pendapatku kepadamu.”.

c) Ada hal-hal yang baik dalam diri ketiga sahabat Ayub ini.

1. Mereka mempunyai simpati terhadap orang menderita, mereka mau menjadi sahabat bukan hanya dalam kesenangan dan kekayaan, tetapi juga dalam penderitaan dan kemiskinan.

Bdk. Amsal 17:17 - “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.”.

Dalam bahasa Inggris ada pepatah yang berbunyi: “A friend in need is a friend indeed.” [= Seorang sahabat dalam kebutuhan adalah sungguh-sungguh seorang sahabat.].

2. Mereka juga tetap menjadi sahabat Ayub pada saat teman-teman Ayub yang lain menghindarinya / meninggalkannya.
Ayub 19:14 - “Kaum kerabatku menghindar, dan kawan-kawanku melupakan aku.”.

3. Mereka bersepakat untuk menghibur Ayub.
Ayub 2: 11b: “Mereka bersepakat untuk mengucapkan belasungkawa kepadanya dan menghibur dia.”.

Merupakan sesuatu yang baik untuk melakukan hal yang baik secara bersama-sama / dengan saling tolong menolong.

c) Ay 11b: ‘mengucapkan belasungkawa kepadanya’.
NIV/NASB: ‘sympathyze with him’ [= bersimpati dengan dia].

KJV: ‘to mourn with him’ [= berkabung dengan dia].
RSV: ‘to condole with him’ [= turut berdukacita dengan dia].

Kalau KJV benar maka ini menunjukkan bahwa mereka menangis dengan orang yang menangis.

Bdk. Roma 12:15 - “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!”.

d) Ay 11b: ‘dan menghibur dia’.

Matthew Henry: “they came with a design (and we have reason to think it was a sincere design) to comfort him, and yet proved miserable comforters, through their unskilful management of his case. Many that aim well do, by mistake, come short of their aim.” [= mereka datang dengan rencana (dan kami mempunyai alasan untuk menganggapnya sebagai suatu rencana yang tulus) untuk menghibur dia, tetapi mereka terbukti merupakan penghibur-penghibur yang menyedihkan, melalui pengelolaan mereka yang tidak cakap tentang kasusnya. Banyak orang yang bertujuan baik, tetapi oleh kesalahan, tidak mencapai tujuan mereka.].

Pulpit Commentary: “A good intention, ... That they failed to carry out their intention (ch. 16:2; 21:34) was owing to a want of judgment, and, perhaps, in part, to a want of love.” [= Maksud / tujuan yang baik, ... Bahwa mereka gagal untuk melaksanakan maksud / tujuan mereka (pasal 16:2; 21:34) disebabkan karena salah penilaian, dan mungkin, sebagian, disebabkan karena kurangnya kasih.] - hal 36.

Jadi, ‘pengertian yang benar tentang penderitaan’ + ‘kasih’ merupakan hal-hal yang harus dimiliki seseorang kalau ia mau menghibur orang yang menderita.

4) Ayub 2: 12: ‘mereka tidak mengenalnya lagi.’.
Francis I. Andersen (Tyndale) mengatakan bahwa ini disebabkan karena mereka masih jauh. Tetapi saya berpendapat bahwa ini merupakan penafsiran yang salah, karena ayat itu melanjutkan dengan mengatakan bahwa mereka lalu menangis. Jadi mereka tidak mengenal dia karena Ayub begitu berubah bentuk / wajahnya karena penyakitnya. Ini menyebabkan ketiga sahabatnya lalu menangis.

Pulpit Commentary: “Job was so disfigured by the disease that they failed to recognize him.” [= Ayub begitu berubah bentuk karena penyakit itu sehingga mereka tidak mengenalinya.] - hal 36.

5) Ayub 2: 13: “Lalu mereka duduk bersama-sama dia di tanah selama tujuh hari tujuh malam. Seorangpun tidak mengucapkan sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat, bahwa sangat berat penderitaannya.”.

Penderitaan Ayub yang sangat hebat menyebabkan ketiga sahabatnya duduk bersama dengan dia dan tidak mengucapkan apapun kepadanya selama 7 hari 7 malam.
Bdk. Pkh 3:7b - “ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara;”.


Catatan: Pdt. Budi Asali, M.Div:  meraih gelar Master of Divinity (M.Div) dari Reformed Theological Seminary (RTS), Jackson, Mississippi, United States of America
-o0o-
Next Post Previous Post