PEMBAHASAN 7 KALIMAT DARI SALIB

Pdt.Budi Asali, M.Div.
7 kalimat dari salib

1) Lukas 23:34 - “Yesus berkata: ‘Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.’ Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaianNya”.

2) Lukas 23:43 - “Kata Yesus kepadanya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.’”.

3) Yohanes 19:26-27 - “(26) Ketika Yesus melihat ibuNya dan murid yang dikasihiNya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibuNya: ‘Ibu, inilah, anakmu!’ (27) Kemudian kataNya kepada muridNya: ‘Inilah ibumu!’ Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya”.

4) Matius 27:46 - “Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: ‘Eli, Eli, lama sabakhtani?’ Artinya: AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”.
Markus 15:34 - “Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: ‘Eloi, Eloi, lama sabakhtani?’, yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”.

5) Yohanes 19:28 - “Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia - supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci -: ‘Aku haus!’”.

6) Yohanes 19:30 - “Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ‘Sudah selesai.’ Lalu Ia menundukkan kepalaNya dan menyerahkan nyawaNya”.

7) Lukas 23:46 - “Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: ‘Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu.’ Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawaNya”.

Jamieson, Fausset & Brown (tentang Yoh 19:30): “there is something very striking, surely, in the fact that our Lord uttered on the cross precisely Seven Sayings - that number which all Scripture teaches us to regard as sacred and complete; and when we observe that of the Four Evangelists no one reports them all, while each gives some of them, we cannot but look upon them - with Bengel - as four voices which together make up one grand Symphony.” [= pasti ada sesuatu yang sangat menyolok dalam fakta bahwa Tuhan kita mengucapkan pada kayu salib persis 7 kalimat - bilangan yang seluruh Kitab Suci ajarkan kepada kita untuk dianggap sebagai bilangan yang keramat dan sempurna; dan pada waktu kita memperhatikan bahwa dari Empat Penginjil (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes) tidak seorangpun yang melaporkan seluruhnya, tetapi setiap orang dari mereka memberikan beberapa / sebagian dari 7 kalimat itu, kita tidak bisa tidak melihat pada mereka - bersama Bengel - sebagai 4 suara yang bersama-sama membentuk satu Simfoni yang besar / agung.].

Kalimat pertama (1) Lukas 23:34

PEMBAHASAN 7 KALIMAT DARI SALIB
gadget, education
Lukas 23:34 - “Yesus berkata: ‘Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.’ Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaianNya.”.

1) Pertama-tama perlu diketahui bahwa kalimat ini diragukan keasliannya karena beberapa manuscript kuno tidak mempunyai ayat ini!

NIV memberikan catatan kaki yang berbunyi: “Some early manuscripts do not have this sentence” [= Beberapa manuscripts mula-mula tidak mempunyai kalimat ini].

RSV memberikan catatan kaki yang berbunyi: “Other ancient authorities omit the sentence ‘And Jesus ... what they do” [= Otoritas-otoritas / salinan-salinan kuno yang lain menghapuskan kalimat ‘Dan Yesus ... apa yang mereka perbuat’].

NKJV memberikan catatan tepi yang berbunyi: “NU brackets the first sentence as a later addition” [= NU meletakkan kalimat pertama dalam kurung sebagai penambahan belakangan].

ASV memberikan catatan kaki yang berbunyi: “Some ancient authorities omit ‘And Jesus said, Father, forgive them; for they know not what they do.’” [= Beberapa otoritas / salinan kuno menghapuskan ‘Dan Yesus berkata: Bapa, ampunilah mereka; sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat’].

KJV dan NASB tidak memberikan catatan kaki apapun.

Pulpit Commentary: “These words are missing in some of the oldest authorities. They are found, however, in the majority of the most ancient manuscripts and in the most trustworthy of the old versions, and are undoubtedly genuine.” [= Kata-kata ini tidak ada dalam beberapa dari otoritas / salinan yang paling tua. Tetapi kata-kata itu ditemukan dalam mayoritas dari manuscripts yang paling kuno dan dalam versi-versi tua yang paling bisa dipercaya, dan tidak diragukan merupakan bagian yang asli.] - hal 240.

Catatan: kata-kata ini membingungkan. Apakah ada beda antara ‘authorities’ [= salinan] dan ‘manuscripts’ [= naskah]?

Leon Morris (Tyndale): “There is textual doubt about this prayer. It is absent from many of the best MSS and some critics argue that it must be rejected, since it would scarcely have been omitted if genuine. Against that is the fact that other very good MSS do attest it. Early copyists may have been tempted to omit the words by the reflection that perhaps God had not forgiven the guilty nation. The events of AD 70 and afterwards may well have looked like anything but forgiveness. We should regard the words as genuine.” [= Ada keraguan textual tentang doa ini. Doa ini absen dalam banyak manuscripts terbaik dan sebagian pengkritik berargumentasi bahwa itu harus ditolak, karena tidak mungkin itu dihapuskan kalau itu asli. Menentang hal ini adalah fakta bahwa manuscripts lain yang sangat baik menyokongnya. Penyalin-penyalin mula-mula mungkin tergoda untuk menghapus kata-kata ini oleh pemikiran bahwa mungkin Allah tidak mengampuni bangsa yang bersalah ini. Peristiwa pada tahun 70 M dan sesudahnya (kehancuran Yerusalem) sama sekali tidak menunjukkan pengampunan. Kita harus menganggap kata-kata ini sebagai asli.] - hal 326-327.

The New Bible Commentary: Revised: “34a is omitted by a formidable list of early MSS, but it should be retained either as a genuine part of Luke (cf. Acts 7:60) or as a reliable piece of extraneous tradition. It would be omitted by scribes who felt that it was unseemly or not answered.” [= ay 34a dihapuskan oleh suatu daftar yang menakutkan / berat dari manuscript-manuscript mula-mula, tetapi itu harus dipertahankan atau sebagai bagian asli dari Lukas (bdk. Kis 7:60) atau sebagai potongan tradisi dari luar yang bisa dipercaya. Itu dihapuskan oleh penyalin-penyalin yang merasa bahwa itu (doa Yesus) tidak pantas atau tidak dijawab.] - hal 923.

Bdk. Kisah Para Rasul 7:60 - “Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: ‘Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!’ Dan dengan perkataan itu meninggallah ia.”.

Doa Stefanus ini dianggap meniru / meneladani doa Kristus yang sedang kita bahas. Kalau Kristus tidak pernah menaikkan doa tersebut, Stefanus tidak akan bisa meneladaninya.

A. T. Robertson: “Some of the oldest and best documents do not contain this verse, and yet, while it is not certain that it is a part of Luke’s Gospel, it is certain that Jesus spoke these words, for they are utterly unlike any one else.” [= Beberapa dari dokumen-dokumen yang tertua dan terbaik tidak mempunyai ayat ini, tetapi sementara tidak pasti bahwa itu merupakan suatu bagian dari Injil Lukas, adalah pasti bahwa Yesus mengucapkan kata-kata ini, karena kata-kata itu sama sekali tidak seperti kata-kata siapapun juga.] - ‘Word Pictures in the New Testament’, vol 2, hal 284-285.

Bruce M. Metzger: “The absence of these words from such early and diverse witnesses ... is most impressive and can scarcely be explained as a deliberate excision by copyists who, considering the fall of Jerusalem to be proof that God had not forgiven the Jews, could not allow it to appear that the prayer of Jesus had remained unanswered. At the same time, the logion, though probably not a part of the original Gospel of Luke, bears self-evident tokens of its dominical origin, and was retained, within double square brackets, in the traditional place where it had been incorporated by unknown copyists relatively early in the transmission of the Third Gospel.” [= Absennya kata-kata ini dari saksi-saksi yang mula-mula dan bermacam-macam ... merupakan sesuatu yang mengesankan dan hampir tidak bisa dijelaskan sebagai penghilangan / pembuangan yang disengaja oleh penyalin-penyalin yang, menganggap kejatuhan Yerusalem sebagai bukti bahwa Allah tidak mengampuni orang-orang Yahudi, tidak bisa membiarkan terlihat bahwa doa Yesus tidak dijawab. Pada saat yang sama, ucapan ini, sekalipun mungkin bukan merupakan suatu bagian dari Injil Lukas yang asli, mempunyai tanda-tanda yang jelas bahwa itu berasal usul dari Tuhan Yesus, dan dipertahankan, dalam tanda kurung ganda, dalam tempat tradisional dimana ucapan ini telah dimasukkan oleh penyalin-penyalin yang tak dikenal pada masa yang sangat awal dalam penyebaran Injil ketiga ini.] - ‘A Textual Commentary on the Greek New Testament’, hal 180.

Catatan:
a) Kata-kata Metzger pada bagian awal dari kutipan di atas saya anggap aneh. Mengapa ia berkata ‘hampir tidak bisa dijelaskan sebagai ...’? Kebanyakan penafsir justru menganggap hal itu sebagai alasannya.
b) Kata ‘dominical’ diterjemahkan ‘having to do with Jesus as the Lord’ [= berurusan dengan Yesus sebagai Tuhan] dalam Webster’s New World Dictionary.

Wycliffe Bible Commentary: “This verse, like one or two others preceding (Luke 22:19,43) is absent from some of the best manuscripts. Like several other such disputed texts, it is undoubtedly a genuine utterance of Jesus. It is harder to account for its omission than for its inclusion.” [= Ayat ini, seperti satu atau dua ayat yang mendahuluinya (Lukas 22:19,43) absen dari beberapa manuscripts yang terbaik. Seperti beberapa text lainnya yang diperdebatkan seperti itu, ini tidak diragukan merupakan ucapan asli dari Yesus. Adalah lebih sukar untuk menerangkan penghapusannya dari pada pemasukkan / penambahannya.].

Catatan: saya kira kata-kata yang saya garis-bawahi itu merupakan pertimbangan yang penting. Kalau kata-kata itu memang asli bisa dipikirkan alasan mengapa kata-kata itu dihapuskan, yaitu karena doa ini dianggap tidak dijawab. Tetapi kalau kata-kata itu tidak asli, mengapa gerangan ada orang-orang yang berani menambahkannya?

William Hendriksen mengatakan (hal 1028) bahwa ada orang-orang yang hendak menghapuskan kata-kata ini, dengan alasan: mereka yang membunuh Yesus adalah reprobate [= orang-orang yang ditentukan untuk binasa], dan Allah tidak memberkati reprobate. Karena itu, Yesus tidak mungkin berdoa untuk mereka.

Saya sendiri menyimpulkan bahwa ini merupakan kata-kata asli dari Yesus, dan juga merupakan bagian asli dari Injil Lukas. Saya tak setuju dengan kata-kata dari A. T. Robertson dan Bruce M. Metzger yang mengatakan bahwa ini mungkin bukan bagian dari Injil Lukas tetapi pasti merupakan kata-kata asli dari Yesus. Kalau itu adalah kata-kata asli dari Yesus, tidak mungkin kata-kata itu tak tercatat dalam Kitab Suci. Mengingat bahwa kata-kata itu begitu penting, dan diucapkan pada saat Ia berada di kayu salib, rasanya tidak mungkin kata-kata itu bisa tidak dituliskan dalam Kitab Suci. Perlu diingat bahwa kata-kata ini hanya ada dalam Injil Lukas.

2) “Ya Bapa, ampunilah mereka”.

a) Ini jelas merupakan suatu doa, dan merupakan penggenapan dari Yesaya 53:12 - “Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak.”.

KJV: ‘made intercession for the transgressors’ [= melakukan / menaikkan doa syafaat untuk pelanggar-pelanggar].

Arthur W. Pink: “That Christ should make intercession for His enemies was one of the items of the wonderful prophecy found in Isaiah 53. This chapter tells us at least ten things about the humiliation and suffering of the Redeemer.” [= Bahwa Kristus melakukan / menaikkan doa syafaat bagi musuh-musuhNya merupakan salah satu dari hal-hal dari nubuat yang luar biasa dalam Yesaya 53. Pasal ini memberitahu kita setidaknya 10 hal tentang perendahan dan penderitaan dari sang Penebus.] - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 11-12.

Penerapan: ini merupakan bukti bahwa Kitab Suci memang merupakan Firman Tuhan. Kalau tidak, bagaimana mungkin ada begitu banyak nubuat dalam Kitab Suci, yang semuanya terjadi dengan sempurna? Ini merupakan keunggulan Kitab Suci kita dibandingkan dengan Kitab Suci agama-agama lain, yang tidak mempunyai nubuat sama sekali, atau hampir-hampir tidak mempunyainya!

b) Saat pengucapan kata-kata ini.
Kebanyakan penafsir beranggapan / menduga bahwa kata-kata ini diucapkan Yesus, atau pada saat paku-paku dipakukan ke tangan dan kakiNya, atau pada waktu kayu salib itu ditegakkan. Jadi, pada saat dimana rasa sakit itu mencapai puncaknya, dan biasanya orang-orang yang tersalib itu mengeluarkan segala macam makian, kutukan, dan sumpah serapah, Yesus justru mengucapkan doa yang begitu agung dan penuh kasih!

Pulpit Commentary: “These first of the seven words from the cross seem, from their position in the record, to have been spoken very early in the awful scene, probably while the nails were being driven into the hands and feet.” [= Yang pertama dari 7 kata-kata / kalimat dari kayu salib kelihatannya, dari posisi mereka dalam catatan, telah diucapkan sangat awal dalam suasana / adegan yang mengerikan itu, mungkin sementara paku-paku dipakukan ke dalam tangan dan kaki.] - hal 240.

Pulpit Commentary: “When - at what particular point did he say that? It is commonly believed that he uttered this most gracious prayer just at the time of the actual crucifixion. Just when the nails were driven into those hands, the hands that had constantly been employed in some ministry of mercy; into those feet that had been constantly carrying him on some errand of kindness; or just when the heavy cross, with its suffering Victim fastened upon it, had been driven into the ground with unpitying violence; - just then, at the moment of most excruciating pain and of intolerable shame, he opened his lips to pray for mercy on his executioners.” [= Kapan - pada saat khusus mana Ia mengucapkannya? Pada umumnya dipercaya bahwa Ia mengucapkan doa yang paling penuh kasih karunia ini persis pada waktu tindakan penyaliban itu sungguh-sungguh dilakukan. Persis pada waktu paku-paku dipakukan ke dalam tangan-tangan, tangan-tangan yang telah secara terus menerus digunakan dalam pelayanan belas kasihan; ke dalam kaki-kaki yang telah terus menerus membawaNya dalam missi kebaikan; atau persis pada saat kayu salib yang berat, dengan Korban yang sedang menderita dilekatkan padanya, dimasukkan ke dalam tanah dengan kekerasan tanpa belas kasihan; - persis pada saat itu, pada saat dari rasa sakit yang luar biasa dan rasa malu yang tak tertahankan, Ia membuka bibirNya untuk mendoakan belas kasihan bagi para algojo-algojoNya.] - hal 254.

c) Ini adalah saat dimana seharusnya Yesus bisa dikuasai oleh kepahitan.
Pulpit Commentary mengatakan (hal 254) bahwa Yesus menyadari akan ketidak-bersalahanNya yang sempurna, dan juga akan tujuanNya yang murni dan paling mulia / agung, tetapi Ia mendapati diriNya bukan hanya tidak dibalas atau dihargai, tetapi disalah-mengerti, diperlakukan dengan jahat, dihukum berdasarkan tuduhan yang sepenuhnya palsu, dan dihukum mati dengan cara yang paling kejam dan memalukan. Pada saat itu Ia merupakan obyek dari kekejaman yang paling tidak berbelas-kasihan yang bisa diberikan oleh manusia, dan sedang mengalami penderitaan pada tubuh dan pikiran / jiwa yang betul-betul membuatNya sangat menderita. Apakah aneh kalau pada saat seperti itu semua sifatNya yang baik berubah menjadi roh yang masam? Tetapi pada saat itu, dan di bawah perlakuan seperti itu, Ia melupakan diriNya sendiri untuk mengingat kesalahan dari mereka yang sedang melakukan kesalahan kepadaNya. Ia bukannya memelihara / menyimpan perasaan kebencian, tetapi Ia menginginkan supaya mereka bisa diampuni dari kesalahan mereka!

Lenski: “This is surely the first word that Jesus uttered while he was on the cross. ... It was uttered while the crucifixion was in progress or immediately thereafter. This simple prayer is astounding; ... The climax of suffering is now being reached, but the heart of Jesus is not submerged by this rising tide - he thinks of his enemies and of all those who have brought this flood of suffering upon him. ... He might have prayed for justice and just retribution; but his love rises above his suffering, he prays for pardon for his enemies. Such love exceeds comprehension and yet reveals the source whence our redemption and our pardon flow.” [= Ini pasti adalah kata-kata pertama yang diucapkan Yesus pada waktu Ia berada di salib. ... Itu diucapkan pada waktu penyaliban sedang berlangsung atau persis sesudahnya. Doa yang sederhana ini merupakan sesuatu yang mengherankan; ... Sekarang puncak penderitaan itu sedang terjadi, tetapi hati Yesus tidak tenggelam oleh air pasang yang naik ini - Ia memikirkan musuh-musuhNya dan semua mereka yang telah membawa air bah penderitaan ini kepadaNya. ... Ia bisa berdoa untuk keadilan dan pembalasan yang adil; tetapi kasihNya naik melebihi penderitaanNya, Ia berdoa untuk pengampunan bagi musuh-musuhNya. Kasih seperti itu melampaui pengertian dan menyatakan sumber dari mana penebusan dan pengampunan kita mengalir.] - hal 1132-1133.

d) Kata ‘ampunilah’.

1. Arti dari kata ‘ampunilah’.
William Hendriksen: “the verb here used has a very wide meaning (this, by the way, is true).” [= kata kerja yang digunakan di sini mempunyai arti yang sangat luas (ini memang benar).] - hal 1028.

Ini menyebabkan ada orang-orang yang menafsirkan bahwa Yesus bukan memintakan pengampunan, tetapi hanya meminta supaya Bapa menahan murkaNya, dan tidak menumpahkannya pada saat itu (William Hendriksen, hal 1028).

William Hendriksen: “‘Forgive them’ means exactly that. It means ‘blot out their transgressions completely. In thy sovereign grace cause them to repent truly, so that they can be and will be pardoned fully.’” [= ‘Ampunilah mereka’ betul-betul berarti seperti itu. Itu berarti ‘hapuskanlah pelanggaran mereka sama sekali. Dalam kasih karuniaMu yang berdaulat buatlah mereka supaya sungguh-sungguh bertobat, sehingga mereka bisa dan akan diampuni sepenuhnya’.] - hal 1028.

2. Yesus meminta supaya mereka diampuni melalui pertobatan / iman.
Jelas bahwa Yesus bukan meminta bahwa mereka diampuni begitu saja, tanpa pertobatan / iman, tetapi melalui pertobatan / iman.

Lenski: “By no means a pardon without repentance - that would run counter to all Scripture and to the very redemption Jesus was now effecting. But a pardon through repentance when the truth would be brought home to them as the Acts passages brought it home.” [= Sama sekali bukan suatu pengampunan tanpa pertobatan - itu akan bertentangan dengan seluruh Kitab Suci dan dengan penebusan yang sekarang sedang diadakan / dijalankan oleh Yesus. Tetapi suatu pengampunan melalui pertobatan pada waktu kebenaran menyadarkan / menginsyafkan mereka seperti dalam kitab Kisah Para Rasul.] - hal 1134-1135.

3. Yesus memintakan ampun untuk dosa ini saja atau untuk semua dosa mereka?
Lenski mengatakan (hal 1134-1135) bahwa jelas bukan hanya dosa membunuh Yesus ini saja yang dimintakan ampun oleh Yesus, karena kalau demikian, apa gunanya? Mereka mempunyai banyak dosa-dosa lain, dan kalau hanya dosa ini saja yang diampuni, mereka tetap akan masuk ke neraka.

Lenski: “not of one sin only but of all their sins. In other words, Jesus prays that the Father may give these murderers of his time, grace, and the knowledge that may bring them the Father’s pardon.” [= bukan hanya tentang satu dosa saja tetapi tentang semua dosa mereka. Dengan kata lain, Yesus berdoa supaya Bapa memberi para pembunuh ini waktu, kasih karunia, dan pengetahuan yang bisa membawa pengampunan Bapa kepada mereka.] - hal 1135.

Sepanjang yang saya ketahui, tak ada penafsir lain yang menafsirkan seperti ini. Dan menurut saya, kita tidak perlu menafsirkan seperti ini. Yesus berdoa hanya untuk pengampunan dari dosa ini saja, tetapi seperti dikatakan di atas, itu bukan pengampunan tanpa pertobatan / iman, tetapi melalui pertobatan / iman. Dan kalau mereka betul-betul bertobat / beriman, maka tentu bukan hanya dosa ini saja yang diampuni tetapi semua dosa-dosa mereka yang lain.

e) Pada saat ini Yesus mempraktekkan ajaranNya sendiri.
Matius 5:44 - “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”.

Pulpit Commentary: “There never had been such a forgiving spirit manifested since the world began.” [= Tidak pernah roh pengampunan seperti itu dinyatakan sejak dunia ini mulai.] - hal 264.

f) Perbandingan dengan kata-kata orang-orang lain pada waktu mau mati.
Pulpit Commentary: “Different from other holy dying men, he had no need to say, ‘Forgive me.’” [= Berbeda dengan orang-orang kudus yang mau mati, Ia tidak perlu berdoa: ‘Ampunilah Aku’.] - hal 240.

g) Perbandingan dengan teriakan darah Habel.
Bdk. Ibrani 12:24 - “dan kepada Yesus, Pengantara perjanjian baru, dan kepada darah pemercikan, yang berbicara lebih kuat dari pada darah Habel.”.

1. Darah Habel.
Kejadian 4:10 - “FirmanNya: ‘Apakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepadaKu dari tanah.”.

Ibrani 11:4 - “Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati.”.
Mungkin teriakan darah Habel adalah seperti ini: ‘Ya Tuhan, aku adalah anakMu yang setia kepadaMu, aku selalu memberi yang terbaik kepadaMu, aku selalu berusaha untuk mentaatiMu. Tetapi Tuhan, sekarang aku dibunuh tanpa alasan. O Tuhan yang maha adil, apakah Engkau akan berdiam diri melihat pembunuhan yang keji atas diriku ini?’.

Dengan kata lain, darah Habel berteriak kepada Allah untuk menuntut keadilan, menuntut Allah menghukum Kain, sehingga akhirnya Allah betul-betul menghukum Kain (Kej 4:11-12).
Tentu saja ini merupakan suatu kiasan. Sebetulnya bukan darah itu berteriak, tetapi pada waktu darah itu tercurah, Allah melihatnya dan Allah menghukum.

Kalau saudara beranggapan bahwa kata-kata seperti ini hanyalah khayalan saya, dan kalau saudara beranggapan bahwa orang-orang beriman yang mati dibunuh tidak mungkin berdoa supaya Allah menghukum orang-orang yang membunuh mereka, maka lihatlah ayat di bawah ini.

Wahyu 6:10 - “Dan mereka berseru dengan suara nyaring, katanya: ‘Berapa lamakah lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka yang diam di bumi?’”.

Yang berbicara dalam ayat-ayat ini adalah orang-orang beriman yang mati dibunuh, dan mereka meminta Allah menghakimi / menghukum orang-orang yang membunuh mereka!

2. Darah pemercikan [= darah Kristus].
‘Darah pemercikan’ dalam Ibr 12:24 itu jelas menunjuk pada darah Yesus. Darah Yesus juga berteriak kepada Allah! Tetapi bagaimana teriakan darah Yesus itu? Apakah darahNya berteriak seperti ini: ‘Bapa, Engkau melihat AnakMu yang Tunggal, yang selalu hidup berkenan kepadaMu. Engkau lihat tangan dan kakiKu yang selalu melakukan hal-hal yang baik, dan melayani Engkau, sekarang dipakukan di kayu salib. Engkau melihat wajahKu yang selalu memancarkan kasih, sekarang diludahi, ditampar, dan berlumuran darah dari kepalaKu yang ditusuk dengan mahkota duri. Ya Bapa yang maha adil, hukumlah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap pembunuhan ini, dan buanglah mereka ke dalam neraka!’.

Seandainya darah Yesus berteriak seperti itu kepada Allah, maka celakalah kita semua! Tetapi puji Tuhan, darah Yesus tidak berteriak seperti itu.

Ibrani 12:24 - “dan kepada Yesus, Pengantara perjanjian baru, dan kepada darah pemercikan, yang berbicara lebih kuat dari pada darah Habel.”.

Kata-kata ‘lebih kuat’ ini salah terjemahan; seharusnya ‘lebih baik’!
TB2-LAI sama salahnya dengan TB1-Lembaga Alkitab Indonesia; tetapi TL justru lebih benar.
TL: ‘yang mengatakan perkara-perkara yang lebih baik daripada darah Habel’.
KJV: ‘speaketh better things than that of Abel’ [= mengatakan hal-hal yang lebih baik dari pada hal-hal yang dikatakan Habel].
RSV: ‘speaks more graciously than the blood of Abel’ [= berbicara dengan lebih murah hati dari pada darah Habel].
NIV: ‘speaks a better word than the blood of Abel’ [= mengucapkan suatu kata / ucapan yang lebih baik dari pada darah Habel].
NASB: ‘speaks better than the blood of Abel’ [= berbicara lebih baik dari pada darah Habel].
Ibr 12:24b (FAYH): ‘dan kepada darah yang dipercikkan yang memberikan anugerah pengampunan, bukan seperti darah Habel yang menjerit menuntut balas’.

Jadi, sekalipun darah Yesus memang berteriak kepada Allah, tetapi berbeda dengan darah Habel yang berteriak menuntut balas / keadilan, maka darah Yesus berteriak dengan nada yang lebih baik. Darah Yesus berteriak senada dengan doa Yesus di kayu salib dalam Luk 23:34 ini: ‘Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.’.

h) Ini menunjukkan tujuan penderitaan dan kematian Kristus.
Matthew Henry: “the sayings of Christ upon the cross as well as his sufferings had a further intention than they seemed to have. This was a mediatorial word, and explicatory of the intent and meaning of his death: ... The great thing which Christ died to purchase and procure for us is the forgiveness of sin.” [= kata-kata Kristus di kayu salib maupun penderitaanNya mempunyai maksud / tujuan lebih jauh dari pada kelihatannya. Ini merupakan kata-kata pengantaraan, dan merupakan penjelasan dari maksud / tujuan dan arti dari kematianNya: ... Hal yang besar / agung yang dibeli dan diperoleh oleh kematian Kristus bagi kita adalah pengampunan dosa.].

i) Orang yang paling berdosapun bisa diampuni.
Matthew Henry: “the greatest sinners may, through Christ, upon their repentance, hope to find mercy. Though they were his persecutors and murderers, he prayed, Father, forgive them.” [= orang-orang yang paling berdosa bisa, melalui Kristus, pada pertobatan mereka, berharap untuk menemukan belas kasihan. Sekalipun mereka adalah penganiaya dan pembunuhNya, Ia berdoa: ‘Bapa, ampunilah mereka’.].

Arthur W. Pink: “In praying for His enemies not only did Christ set before us a perfect example of how we should treat those who wrong and hate us, but He also taught us never to regard any as beyond the reach of prayer. If Christ prayed for His muderers then surely we have encouragement to pray now for the very chief of sinners! Christian reader, never lose hope.” [= Dalam berdoa untuk musuh-musuhNya Kristus bukan hanya memberikan di depan kita suatu teladan yang sempurna tentang bagaimana kita harus memperlakukan mereka yang berbuat salah dan membenci kita, tetapi Ia juga mengajar kita untuk tidak pernah menganggap siapapun berada di luar jangkauan doa. Jika Kristus berdoa untuk pembunuh-pembunuhNya maka pasti kita sekarang mendapatkan dorongan untuk berdoa bagi orang-orang yang paling berdosa! Pembaca Kristen, jangan pernah kehilangan pengharapan.] - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 10.

j) Mengapa Yesus memintakan pengampunan bagi orang-orang itu dari Bapa, dan bukannya memberikan sendiri pengampunan itu, seperti yang dalam kasus-kasus lain Ia lakukan? Bandingkan dengan:
1. Matius 9:2 - “Maka dibawa oranglah kepadaNya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: ‘Percayalah, hai anakKu, dosamu sudah diampuni.’”.
2. Lukas 7:48 - “Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: ‘Dosamu telah diampuni.’”.

Jawaban:

1. Memberi pengampunan dosa merupakan hak dari Allah saja.
Mark 2:7 - “‘Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?’”.

2. Di sini Yesus bertindak sebagai Pengantara.
Yesus memang adalah Allah dan manusia. Karena itu, Ia bisa memberikan pengampunan dosa. Tetapi di sini, sekalipun Ia tetap adalah Allah, tetapi Ia tidak bertindak sebagai Allah, melainkan sebagai Pengantara. Karena itu, Ia memintakan pengampunan dari Bapa.

3. Disamping itu, pemberian pengampunan hanya bisa diberikan kepada orang-orang yang betul-betul sudah bertobat / percaya. Sedangkan untuk orang-orang yang belum bertobat, hanya doa seperti inilah yang Ia berikan. Allahpun tidak bisa memberikan pengampunan kepada orang-orang yang tidak bertobat / percaya, karena ini akan menabrak firmanNya sendiri.

Kalimat pertama (2) Lukas 23:34

3) “sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”.

a) Potongan ini memberikan batasan doa dari Yesus.
Ada pro dan kontra berkenaan dengan bagi siapa doa ini dinaikkan oleh Yesus. Siapa saja yang Ia doakan supaya diampuni oleh Bapa?

1. Ada yang tidak membatasi jangkauan doa ini, dan menganggap bahwa doa ini mencakup semua yang hadir pada saat itu, dan bahkan mencakup semua manusia, termasuk kita.

C. H. Spurgeon: “I say, not that that prayer was confined to his immediate executioners. I believe that it was a far-reaching prayer, which indeed included Scribes and Pharisees, Pilate and Herod, Jews and Gentiles - yea, the whole human race in a certain sense, since we were all concerned in that murder; but certainly the immediate persons, upon whom that prayer was poured like precious nard, were those who there and then were committing the brutal act of fastening him to the accursed tree.” [= Aku berkata, bukan bahwa doa itu dibatasi pada pelaksana-pelaksana langsung dari hukuman matiNya. Saya percaya bahwa itu merupakan doa yang jangkauannya jauh, yang mencakup ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, Pilatus dan Herodes, orang Yahudi dan orang non Yahudi - ya, seluruh umat manusia dalam arti tertentu, karena kita semua tersangkut dalam pembunuhan itu; tetapi pasti orang-orang yang langsung didoakan oleh doa yang seperti minyak wangi yang mahal itu, adalah mereka yang ada di sana pada saat itu dan sedang melakukan tindakan brutal dengan memakukan Dia pada salib yang terkutuk.] - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of Our Lord’, vol 6, hal 483.

C. H. Spurgeon: “for, though we were not there, and we did not actually put Jesus to death, yet we really caused his death, and we, too, crucified the Lord of glory; and his prayer for us was, ‘Father, forgive them, for they know not what they do.’” [= karena, sekalipun kita tidak ada di sana, dan tidak betul-betul membunuh Yesus, tetapi kita sungguh-sungguh menyebabkan kematianNya, dan kita juga menyalibkan Tuhan kemuliaan; dan doanya untuk kita adalah: ‘Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat’.] - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of Our Lord’, vol 6, hal 472.

Catatan: Saya tak setuju dengan pandangan Spurgeon ini.

2. Ada juga yang membatasi orang-orang yang didoakan oleh Yesus.
Tetapi tetap saja ada perdebatan dalam kelompok ini berkenaan dengan siapa yang tercakup dan yang tidak tercakup dalam doa Yesus ini.

Barnes’ Notes: “The prayer was offered for those who were guilty of putting him to death. It is not quite certain whether he referred to the ‘Jews’ or ‘to the Roman soldiers.’ Perhaps he referred to both.” [= Doa itu dinaikkan bagi mereka yang bersalah membunuh Dia. Tidak pasti apakah Ia memaksudkan ‘orang-orang Yahudi’ atau ‘para tentara Romawi’. Mungkin Ia memaksudkan keduanya.].

David Gooding: “it was prayed on behalf of the soldiers who in all truthfulness did not know what they were doing. False sentiment must not lead us to extend the scope of his prayer beyond his intention. To pray forgiveness for a man who knows quite well what he is doing and has no intention of either stopping or repenting would be immoral: it would amount to condoning, if not conniving at, his sin. Christ certainly did not do that.” [= itu didoakan demi para tentara yang memang tidak tahu apa yang mereka lakukan. Sentimen yang salah tidak boleh membimbing kita untuk memperluas jangkauan doaNya lebih dari yang Ia maksudkan. Mendoakan pengampunan untuk seseorang yang tahu dengan baik apa yang ia lakukan dan tidak bermaksud untuk berhenti atau bertobat merupakan sesuatu yang tidak bermoral: itu berarti mengabaikan, jika bukannya pura-pura tidak melihat, pada dosanya. Kristus pasti tidak melakukan hal itu.] - ‘According to Luke’, hal 342.

Catatan:
a. Saya tidak setuju dengan bagian yang saya garis-bawahi dari kata-kata David Gooding ini, karena maksud Kristus dengan doa itu tentu bukanlah supaya orang-orang itu ‘diampuni tanpa pertobatan’, tetapi supaya mereka ‘diampuni melalui pertobatan’.
b. Juga saya tak setuju dengan pandangannya bahwa mendoakan seseorang yang tahu kesalahan yang ia lakukan, dan tidak punya niat untuk bertobat, merupakan suatu tindakan yang tidak bermoral.

A. T. Robertson: “Jesus evidently is praying for the Roman soldiers, who were only obeying, but not for the Sanhedrin.” [= Yesus jelas sedang berdoa untuk para tentara Romawi, yang hanya mentaati perintah, bukan untuk Sanhedrin.] - ‘Word Pictures in the New Testament’, vol 2, hal 285.

Calvin: “It is probable, however, that Christ did not pray for all indiscriminately, but only for the wretched multitude, who were carried away by inconsiderate zeal, and not by premeditated wickedness. For since the scribes and priests were persons in regard to whom no ground was left to hope, it would have been in vain for him to pray for them.” [= Tetapi adalah mungkin bahwa Kristus tidak berdoa untuk semua tanpa pandang bulu, tetapi hanya untuk orang banyak yang buruk / hina / jahat, yang dipengaruhi / diseret oleh semangat tanpa pemikiran, dan bukan oleh kejahatan yang direncanakan lebih dulu. Karena ahli-ahli Taurat dan imam-imam adalah orang-orang yang tidak punya harapan, adalah sia-sia bagiNya untuk berdoa untuk mereka.] - hal 301.

Sukar untuk menetapkan batasan dari doa itu, tetapi memang kata-kata ‘sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat’ ditambahkan oleh Yesus, pasti memang untuk membatasi orang-orang yang Ia doakan dengan doa tersebut. Para tentara memang tidak tahu apa yang mereka lakukan; mereka menyalibkan Yesus hanya karena menuruti perintah atasan mereka. Dan bahkan sebagian para tokoh Yahudi, sekalipun mereka tahu bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah sesuatu yang jahat, tetapi mereka tidak mengetahui sepenuhnya kejahatan mereka.

William Hendriksen: “the soldiers certainly did not know. But even the members of the Sanhedrin, though they must have known that what they were doing was wicked, did not comprehend the extent of that wickedness.” [= para tentara pasti tidak tahu. Tetapi bahkan anggota-anggota dari Sanhedrin, sekalipun mereka pasti tahu bahwa apa yang mereka lakukan adalah jahat, tetapi mereka tidak mengerti sepenuhnya luas / tingkat dari kejahatan itu.] - hal 1028.

Orang-orang yang menyalibkan Yesus, bukannya tidak tahu bahwa mereka melakukan dosa, atau bahwa mereka menyalibkan orang yang tidak bersalah. Mereka hanya tidak tahu bahwa mereka menyalibkan Mesias / Juruselamat / Allah yang menjadi manusia. Mereka memang telah mendengar tentang hal-hal ini, tetapi mereka tidak mempercayainya dan itu dianggap sebagai ‘tidak mengetahuinya’.

Ini terlihat dari beberapa ayat di bawah ini:

(1) Kisah Para Rasul 3:14-17 - “(14) Tetapi kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh sebagai hadiahmu. (15) Demikianlah Ia, Pemimpin kepada hidup, telah kamu bunuh, tetapi Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati; dan tentang hal itu kami adalah saksi. (16) Dan karena kepercayaan dalam Nama Yesus, maka Nama itu telah menguatkan orang yang kamu lihat dan kamu kenal ini; dan kepercayaan itu telah memberi kesembuhan kepada orang ini di depan kamu semua. (17) Hai saudara-saudara, aku tahu bahwa kamu telah berbuat demikian karena ketidaktahuan, sama seperti semua pemimpin kamu.”.

Catatan: kata ‘semua’ (yang saya cetak miring) seharusnya tidak ada! Bandingkan dengan NIV: ‘as did your leaders’ [= seperti pemimpin-pemimpinmu], dan dengan NASB: ‘just as your rulers did also’ [= sama seperti yang dilakukan pemimpin-pemimpinmu juga].

(2) Kis 13:27 - “Sebab penduduk Yerusalem dan pemimpin-pemimpinnya tidak mengakui Yesus. Dengan menjatuhkan hukuman mati atas Dia, mereka menggenapi perkataan nabi-nabi yang dibacakan setiap hari Sabat.”.
KJV: ‘they knew him not’ [= mereka tidak mengenalNya].
RSV: ‘did not recognize him’ [= tidak mengenaliNya].
NASB: ‘recognizing neither Him’ [= tidak mengenaliNya].
NIV: ‘did not recognize Jesus’ [= tidak mengenali Yesus].

(3) Ada juga yang menambahkan 1Kor 2:8 - “Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenalnya, sebab kalau sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia.”.

Tetapi kalau dilihat kontextnya, maka kata ‘nya’ di sini bukan menunjuk kepada Yesus, tetapi pada ‘hikmat Allah’.

1Korintus 2:6-8 - “(6) Sungguhpun demikian kami memberitakan hikmat di kalangan mereka yang telah matang, yaitu hikmat yang bukan dari dunia ini, dan yang bukan dari penguasa-penguasa dunia ini, yaitu penguasa-penguasa yang akan ditiadakan. (7) Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita. (8) Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenalnya, sebab kalau sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia.”.

Catatan: Tetapi tetap ada pro dan kontra, apakah kata ‘nya’ dalam 1Korintus 2:8 itu menunjuk pada ‘hikmat Allah / surgawi’ atau kepada ‘Yesus’. Matthew Henry dan A. T. Robertson menganggap bahwa kata ‘nya’ di sini menunjuk kepada ‘hikmat Allah / surgawi’, tetapi Albert Barnes menganggap kata ‘nya’ itu menunjuk kepada Yesus.

Pulpit Commentary: “It was ignorance on the part of many which led to this great crime, but culpable ignorance. They should have known better.” [= Merupakan ketidak-tahuan pada pihak dari banyak orang yang membimbing pada kejahatan yang besar ini, tetapi ini merupakan ketidak-tahuan yang bersalah / patut dicela. Mereka seharusnya mengetahui dengan lebih baik.] - hal 264.

Memang ada ketidak-tahuan yang sungguh-sungguh, yang boleh dikatakan bukan merupakan kesalahan dari orang itu. Misalnya seandainya mereka tinggal di hutan belantara, maka ketidak-tahuan mereka tentang Yesus tentu tak bisa disalahkan. Tetapi karena mereka tinggal di sekitar Yesus, dan mendengar ajaran / claimNya, dan juga mereka mempunyai Perjanjian Lama yang banyak menubuatkan tentang Yesus, maka ketidak-tahuan mereka merupakan ketidak-tahuan yang bersalah / patut dikecam.

Lenski: “Were Caiaphas and Pilate included? We prefer not to pass judgment on individuals, for God alone knows the hearts and to what degree they sin against better knowledge.” [= Apakah Kayafas dan Pilatus termasuk? Kami memilih untuk tidak menghakimi individu-individu, karena hanya Allah yang mengetahui hati dan sampai sejauh mana mereka berbuat dosa terhadap pengetahuan yang lebih baik.] - hal 1133-1134.

Tetapi ada satu hal yang saya pikirkan, yang entah mengapa tidak pernah dibicarakan oleh para penafsir, yaitu tentang mereka yang menghujat Roh Kudus dan dikatakan tidak bisa diampuni (Mat 12:31-32), yang mungkin sekali juga hadir pada saat itu.

Mat 12:31-32 - “(31) Sebab itu Aku berkata kepadamu: Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni. (32) Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak.”.

Kalau itu benar, maka secara intelektual mereka tahu bahwa Yesus adalah Mesias / Anak Allah, dan karena itu Kristus pasti tidak berdoa untuk mereka. Bandingkan juga dengan 1Yoh 5:16 - “Kalau ada seorang melihat saudaranya berbuat dosa, yaitu dosa yang tidak mendatangkan maut, hendaklah ia berdoa kepada Allah dan Dia akan memberikan hidup kepadanya, yaitu mereka, yang berbuat dosa yang tidak mendatangkan maut. Ada dosa yang mendatangkan maut: tentang itu tidak kukatakan, bahwa ia harus berdoa.”.

b) Contoh pengampunan terhadap orang yang berdosa dalam ketidak-tahuan.
1Tim 1:13 - “aku (Paulus) yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihaniNya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman.”.

c) Yesus tidak berdoa untuk mereka yang tahu apa yang mereka perbuat. Apakah itu berarti dosa sengaja tak bisa diampuni?
I. Howard Marshall (NICNT) mengatakan bahwa dalam Perjanjian Lama ada pembedaan tentang dosa yang tidak disadari / tidak disengaja, untuk mana disediakan pengampunan, dan dosa yang disengaja, untuk mana tidak disediakan pengampunan. Yang terakhir ini hanya bisa ditebus oleh kematian dari orang yang berdosa itu.

Untuk dosa-dosa yang tidak disadari / tidak disengaja, perhatikan ayat-ayat ini:
1. Im 4:2 - “‘Katakanlah kepada orang Israel: Apabila seseorang tidak dengan sengaja berbuat dosa dalam sesuatu hal yang dilarang TUHAN dan ia memang melakukan salah satu dari padanya,”.
Im 4:3b menunjukkan adanya korban untuk dosa ini sehingga dosa itu bisa diampuni.
2. Im 4:13 - “Jikalau yang berbuat dosa dengan tak sengaja itu segenap umat Israel, dan jemaah tidak menyadarinya, sehingga mereka melakukan salah satu hal yang dilarang TUHAN, dan mereka bersalah,”.
Im 4:14nya menunjukkan adanya korban untuk dosa ini sehingga dosa itu bisa diampuni.
3. Im 4:22 - “Jikalau yang berbuat dosa itu seorang pemuka yang tidak dengan sengaja melakukan salah satu hal yang dilarang TUHAN, Allahnya, sehingga ia bersalah,”.
Im 4:23bnya menunjukkan adanya korban untuk dosa ini sehingga dosa itu bisa diampuni.

4. Im 4:27 - “Jikalau yang berbuat dosa dengan tak sengaja itu seorang dari rakyat jelata, dan ia melakukan salah satu hal yang dilarang TUHAN, sehingga ia bersalah,”.
Im 4:28bnya menunjukkan adanya korban untuk dosa ini sehingga dosa itu bisa diampuni.

5. Im 5:2-6,9,14-15,17-19 - “(2) Atau bila seseorang kena kepada sesuatu yang najis, baik bangkai binatang liar yang najis, atau bangkai hewan yang najis, atau bangkai binatang yang mengeriap yang najis, tanpa menyadari hal itu, maka ia menjadi najis dan bersalah. (3) Atau apabila ia kena kepada kenajisan berasal dari manusia, dengan kenajisan apapun juga ia menjadi najis, tanpa menyadari hal itu, tetapi kemudian ia mengetahuinya, maka ia bersalah. (4) Atau apabila seseorang bersumpah teledor dengan bibirnya hendak berbuat yang buruk atau yang baik, sumpah apapun juga yang diucapkan orang dengan teledor, tanpa menyadari hal itu, tetapi kemudian ia mengetahuinya, maka ia bersalah dalam salah satu perkara itu. (5) Jadi apabila ia bersalah dalam salah satu perkara itu, haruslah ia mengakui dosa yang telah diperbuatnya itu, (6) dan haruslah ia mempersembahkan kepada TUHAN sebagai tebusan salah karena dosa itu seekor betina dari domba atau kambing, menjadi korban penghapus dosa. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu karena dosanya. ... (9) Sedikit dari darah korban penghapus dosa itu haruslah dipercikkannya ke dinding mezbah, tetapi darah selebihnya haruslah ditekan ke luar pada bagian bawah mezbah; itulah korban penghapus dosa. ... (14) TUHAN berfirman kepada Musa: (15) ‘Apabila seseorang berubah setia dan tidak sengaja berbuat dosa dalam sesuatu hal kudus yang dipersembahkan kepada TUHAN, maka haruslah ia mempersembahkan kepada TUHAN sebagai tebusan salahnya seekor domba jantan yang tidak bercela dari kambing domba, dinilai menurut syikal perak, yakni menurut syikal kudus, menjadi korban penebus salah. ... (17) Jikalau seseorang berbuat dosa dengan melakukan salah satu hal yang dilarang TUHAN tanpa mengetahuinya, maka ia bersalah dan harus menanggung kesalahannya sendiri. (18) Haruslah ia membawa kepada imam seekor domba jantan yang tidak bercela dari kambing domba, yang sudah dinilai, sebagai korban penebus salah. Imam itu haruslah mengadakan pendamaian bagi orang itu karena perbuatan yang tidak disengajanya dan yang tidak diketahuinya itu, sehingga ia menerima pengampunan. (19) Itulah korban penebus salah; orang itu sungguh bersalah terhadap TUHAN.’”.

6. Im 22:14 - “Apabila seseorang dengan tidak sengaja memakan persembahan kudus, ia harus memberi gantinya kepada imam dengan menambah seperlima.”.

7. Bil 15:22-29 - “(22) ‘Apabila kamu dengan tidak sengaja melalaikan salah satu dari segala perintah ini, yang telah difirmankan TUHAN kepada Musa, (23) yakni dari segala yang diperintahkan TUHAN kepadamu dengan perantaraan Musa, mulai dari hari TUHAN memberikan perintah-perintahNya dan seterusnya turun-temurun, (24) dan apabila hal itu diperbuat di luar pengetahuan umat ini, tidak dengan sengaja, maka haruslah segenap umat mengolah seekor lembu jantan muda sebagai korban bakaran menjadi bau yang menyenangkan bagi TUHAN, serta dengan korban sajiannya dan korban curahannya, sesuai dengan peraturan; juga seekor kambing jantan sebagai korban penghapus dosa. (25) Maka haruslah imam mengadakan pendamaian bagi segenap umat Israel, sehingga mereka beroleh pengampunan, sebab hal itu terjadi tidak dengan sengaja, dan karena mereka telah membawa persembahan-persembahan mereka sebagai korban api-apian bagi TUHAN, juga korban penghapus dosa mereka di hadapan TUHAN, karena hal yang tidak disengaja itu. (26) Segenap umat Israel akan beroleh pengampunan, juga orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu, karena hal itu dilakukan oleh seluruh bangsa itu dengan tidak sengaja. (27) Apabila satu orang saja berbuat dosa dengan tidak sengaja, maka haruslah ia mempersembahkan kambing betina berumur setahun sebagai korban penghapus dosa; (28) dan imam haruslah mengadakan pendamaian di hadapan TUHAN bagi orang yang dengan tidak sengaja berbuat dosa itu, sehingga orang itu beroleh pengampunan karena telah diadakan pendamaian baginya. (29) Baik bagi orang Israel asli maupun bagi orang asing yang tinggal di tengah-tengah kamu, satu hukum saja berlaku bagi mereka berkenaan dengan orang yang berbuat dosa dengan tidak sengaja.”.

Sedangkan untuk dosa sengaja, yang tidak disediakan cara untuk mendapatkan pengampunan, perhatikan ayat-ayat ini:
Bil 15:30-31 - “(30) Tetapi orang yang berbuat sesuatu dengan sengaja, baik orang Israel asli, baik orang asing, orang itu menjadi penista TUHAN, ia harus dilenyapkan dari tengah-tengah bangsanya, (31) sebab ia telah memandang hina terhadap firman TUHAN dan merombak perintahNya; pastilah orang itu dilenyapkan, kesalahannya akan tertimpa atasnya.’”.

Victor P. Hamilton (‘Handbook on the Pentateuch’, hal 260-262) mengatakan bahwa dari ayat-ayat Perjanjian Lama yang menunjukkan adanya korban hanya untuk dosa-dosa yang tidak disengaja / tidak disadari, maka ada orang-orang yang menyimpulkan bahwa:
1. Dalam Perjanjian Lama dosa yang bisa diampuni memang hanyalah dosa-dosa yang tidak disengaja / tidak diketahui. Sedangkan orang-orang yang melakukan dosa-dosa yang disengaja harus dihukum mati (hal 259-260). Bdk. Bil 15:27-31 yang seolah-olah menekankan hal itu secara explicit.
2. Ini menunjukkan kesuperioran korban Kristus dibandingkan dengan korban-korban dalam Perjanjian Lama, karena korban Kristus bisa mengampuni bukan hanya dosa-dosa yang tidak disengaja, tetapi juga dosa-dosa yang disengaja.

Pulpit Commentary (tentang Bil 15:30): “No provision was made under the Law for the pardon of a wilful sin against God - a sin of defiance. Thus the Law brought no satisfaction to the tender conscience, but rather conviction of sin, and longing for a better covenant. Herein is at once contrast and likeness: contrast, in that the gospel hath forgiveness for all sin and wickedness” [= Tidak ada persediaan yang dibuat di bawah hukum Taurat untuk pengampunan terhadap dosa sengaja terhadap Allah - suatu dosa yang menantang. Jadi, hukum Taurat tidak membawa pemuasan kepada hati nurani yang lembut, tetapi keyakinan / kesadaran akan dosa, dan kerinduan / keinginan pada suatu perjanjian yang lebih baik. Di sini sekaligus ada suatu kontras dan persamaan. Kontras, dalam hal bahwa injil mempunyai pengampunan untuk semua dosa dan kejahatan] - hal 184.
Bdk. Kis 13:39 - “Dan di dalam Dialah setiap orang yang percaya memperoleh pembebasan dari segala dosa, yang tidak dapat kamu peroleh dari hukum Musa.”.

Catatan: kata ‘segala’ itu sebetulnya tidak ada. Tetapi ada beberapa ayat yang bisa digunakan untuk menggantikan ayat ini:
a. Kol 2:13 - “Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita,”.
b. 1Yoh 1:7,9 - “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, AnakNya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa. ... Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”.
c. Tit 2:14 - “yang telah menyerahkan diriNya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diriNya suatu umat, kepunyaanNya sendiri, yang rajin berbuat baik.”.

Tetapi Victor P. Hamilton tidak setuju dengan kesimpulan seperti ini, dan ia mengatakan bahwa pernyataan bahwa dalam Perjanjian Lama hanya dosa-dosa yang tidak disengaja yang bisa diampuni juga merupakan sesuatu yang harus dipertanyakan kebenarannya. Alasannya:

(1) Kalau kita melihat Im 6:1-7, maka tidak mungkin kita menyimpulkan bahwa yang dibicarakan di sini adalah dosa-dosa yang tidak disengaja.
Im 6:1-7 - “(1) TUHAN berfirman kepada Musa: (2) ‘Apabila seseorang berbuat dosa dan berubah setia terhadap TUHAN, dan memungkiri terhadap sesamanya barang yang dipercayakan kepadanya, atau barang yang diserahkan kepadanya atau barang yang dirampasnya, atau apabila ia telah melakukan pemerasan atas sesamanya, (3) atau bila ia menemui barang hilang, dan memungkirinya, dan ia bersumpah dusta - dalam perkara apapun yang diperbuat seseorang, sehingga ia berdosa - (4) apabila dengan demikian ia berbuat dosa dan bersalah, maka haruslah ia memulangkan barang yang telah dirampasnya atau yang telah diperasnya atau yang telah dipercayakan kepadanya atau barang hilang yang ditemuinya itu, (5) atau segala sesuatu yang dimungkirinya dengan bersumpah dusta. Haruslah ia membayar gantinya sepenuhnya dengan menambah seperlima; haruslah ia menyerahkannya kepada pemiliknya pada hari ia mempersembahkan korban penebus salahnya. (6) Sebagai korban penebus salahnya haruslah ia mempersembahkan kepada TUHAN seekor domba jantan yang tidak bercela dari kambing domba, yang sudah dinilai, menjadi korban penebus salah, dengan menyerahkannya kepada imam. (7) Imam harus mengadakan pendamaian bagi orang itu di hadapan TUHAN, sehingga ia menerima pengampunan atas perkara apapun yang diperbuatnya sehingga ia bersalah.’”.

Perhatikan bagian yang saya beri garis bawah tunggal. Itu tidak mungkin dianggap sebagai dosa-dosa yang tidak disengaja! Tetapi perhatikan ay 6-7nya, yang saya beri garis bawah ganda! Toh ada korban untuk dosa-dosa seperti itu, sehingga dosa-dosa seperti itu bisa diampuni.

(2) Terjemahan dari Bil 15:30 itu salah secara cukup fatal!
Bil 15:30-31 - “(30) Tetapi orang yang berbuat sesuatu dengan sengaja, baik orang Israel asli, baik orang asing, orang itu menjadi penista TUHAN, ia harus dilenyapkan dari tengah-tengah bangsanya, (31) sebab ia telah memandang hina terhadap firman TUHAN dan merombak perintahNya; pastilah orang itu dilenyapkan, kesalahannya akan tertimpa atasnya.’”.
Kata-kata ‘dengan sengaja’ itu salah terjemahan!
KJV: ‘presumptuously’ [= dengan sombong / angkuh].
RSV: ‘with a high hand’ [= dengan tangan teracung].
NIV/NASB: ‘defiantly’ [= dengan menantang].
Ini kesalahan penterjemahan yang cukup fatal, karena penterjemahan ini penting untuk menafsirkan apa yang dimaksud dengan ‘dosa sengaja dan tidak disengaja’ itu!

Kelihatannya, karena Bil 15:22-31 mengkontraskan dosa yang tidak disengaja dengan dosa yang dilakukan dengan angkuh / menantang Tuhan, maka harus ditafsirkan bahwa asal orangnya tidak berbuat dosa dengan sikap menantang Tuhan, maka itu dianggap sebagai dosa dengan tidak sengaja.

Victor P. Hamilton lalu menyimpulkan bahwa dalam Perjanjian Lama bukan orang yang melakukan dosa sengaja, tetapi orang yang tidak bertobat, yang tidak bisa diampuni (hal 261-262).

Sekarang, mari kita kembali pada persoalan kita. Mungkinkah dosa sengaja merupakan dosa yang tidak bisa diampuni?

I. Howard Marshall (NICNT): “Let it be plainly said that if there were no forgiveness for deliberate sins, then we would all be under God’s condemnation, for which of us has not sinned deliberately since our conversion and new birth?” [= Hendaklah dikatakan dengan jelas bahwa seandainya tidak ada pengampunan untuk dosa-dosa sengaja, maka semua orang akan berada di bawah penghukuman Allah, karena siapa dari kita yang tidak berbuat dosa dengan sengaja sejak pertobatan dan kelahiran baru kita?] - hal 248.

Saya bahkan bisa menambahkan bahwa mayoritas dosa-dosa kita, bahkan setelah pertobatan, merupakan dosa-dosa sengaja. Kalau tidak ada pengampunan untuk dosa-dosa itu, maka semua kita akan masuk neraka.

4) Apakah doa Yesus ini dijawab / dikabulkan oleh Allah / Bapa?

a) Jelas bahwa ada orang-orang yang Yesus doakan, yang lalu bertobat.
Sebagian jawaban adalah bahwa kehancuran Yerusalem tidak segera terjadi. Lalu Injil diberitakan kepada mereka, dan banyak dari mereka betul-betul dibawa kepada Tuhan dan diselamatkan. Pada hari Pentakosta 3000 orang Yahudi bertobat dan diselamatkan (Kis 2:41-42), dan lalu menjadi 5000 orang (Kis 4:4). Dan dalam Kis 6:7 dikatakan “Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.”.

Calvin: “Nor can it be doubted that this prayer was heard by the heavenly Father, and that this was the cause why many of the people afterwards drank by faith the blood which they had shed.” [= Tidak bisa diragukan bahwa doa ini didengar oleh Bapa surgawi, dan bahwa ini adalah penyebab mengapa banyak dari bangsa itu belakangan meminum dengan iman darah yang telah mereka curahkan.] - hal 301.

Matthew Henry: “This prayer of Christ was answered not long after, when many of those that had a hand in his death were converted by Peter’s preaching.” [= Doa Kristus ini dijawab tidak lama setelahnya, pada waktu banyak dari mereka yang ikut membunuh Yesus bertobat oleh khotbah Petrus.].

Arthur W. Pink: “Here then is the Divine explanation of the three thousand converted under a single sermon. It was not Peter’s eloquence which was the cause but the Saviour’s prayer.” [= Di sinilah penjelasan Ilahi tentang 3.000 orang yang bertobat oleh 1 khotbah. Bukan kefasihan Petrus yang merupakan penyebab tetapi doa dari sang Juruselamat.] - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 11.

b) Tetapi apakah semua orang untuk siapa Yesus berdoa pada saat ini, akhirnya bertobat dan diampuni?
John Owen mengatakan (‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 177) bahwa Bapa selalu mendengar doa Anak / Yesus, dan ini ditunjukkan dalam 2 text Kitab Suci di bawah ini:
1. Yoh 11:42 - “Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.’”.
2. Maz 2:7-8 - “(7) Aku mau menceritakan tentang ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: ‘AnakKu engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini. (8) Mintalah kepadaKu, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu.”.

Jadi, bagaimana? Haruskah kita beranggapan bahwa semua orang yang Yesus doakan saat itu betul-betul bertobat? Bukankah kelihatannya tidak memungkinkan untuk mengambil pandangan seperti itu?

Atau, karena dalam Yoh 17:9,20 Yesus berdoa hanya untuk orang-orang pilihan saja, mungkin berdasarkan ayat-ayat itu kita harus menafsirkan bahwa dalam doa Yesus di kayu salib itu, Ia tidak berdoa untuk orang-orang non pilihan. Dengan demikian semua orang yang Ia doakan memang bertobat.

Bdk. Yoh 17:9,20 - “(9) Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepadaKu, sebab mereka adalah milikMu ... (20) Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepadaKu oleh pemberitaan mereka;”.

5) Kata-kata ini merupakan teladan bagi kita.

Matthew Henry: “This is written also for example to us. ... We must pray for our enemies, and those that hate and persecute us, must extenuate their offences, and not aggravate them as we must our own” [= Ini dituliskan juga sebagai teladan bagi kita. ... Kita harus berdoa untuk musuh-musuh kita, dan mereka yang membenci dan menganiaya kita, harus memperlunak / memperingan pelanggaran-pelanggaran mereka, dan tidak memperburuknya sebagaimana kita harus melakukannya pada pelanggaran-pelanggaran kita sendiri].

Barclay: “When the unforgiving spirit is threatening to turn our hearts to bitterness, let us hear again our Lord asking forgiveness for those who crucified him and his servant Paul saying to his friends, ‘Be kind to one another, tender-hearted, forgiving one another, as God in Christ forgave you.’ (Ephesians 4:32.)” [= Pada waktu roh yang tidak mengampuni sedang mengancam untuk membelokkan hati kita pada kepahitan, hendaklah kita mendengar lagi Tuhan kita meminta pengampunan bagi mereka yang menyalibkanNya dan hambaNya Paulus berkata kepada teman-temannya: ‘hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu’ (Ef 4:32).] - hal 285.

Kalimat KEDUA (1) Lukas 23:43

Luk 23:43 - “Kata Yesus kepadanya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.’”.

Lukas 23:39-43 - “(39) Seorang dari penjahat yang digantung itu menghujat Dia, katanya: ‘Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diriMu dan kami!’ (40) Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: ‘Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? (41) Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.’ (42) Lalu ia berkata: ‘Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.’ (43) Kata Yesus kepadanya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.’”.

I) Penjahat yang menghujat Kristus.

1) Text ini menunjukkan bahwa Kristus disalibkan di antara 2 penjahat.

a) Ini bukan kebetulan, tetapi diatur oleh Allah untuk menggenapi ketentuan / rencanaNya dan juga nubuat Firman Tuhan.

Arthur Pink: “It was no accident that the Lord of Glory was crucified between two thieves. There are no accidents in a world that is governed by God. Much less could there have been any accident on that Day of all days, or in connection with that Event of all events - a Day and an Event which lie at the very centre of the world’s history. No; God was presiding over that scene. From all eternity He had decreed when and where and how and with whom His Son should die. Nothing was left to chance or the caprice of man. All that God had decreed came to pass exactly as He had ordained, and nothing happened save as He had eternally purposed. Whatsoever man did was simply that which God’s hand and counsel ‘determined to be done’ (Acts 4:28). When Pilate gave orders that the Lord Jesus should be crucified between the two malefactors, all unknown to himself, he was but putting into execu­tion the eternal decree of God and fulfilling His prophetic word. Seven hundred years before this Roman officer gave command, God had declared through Isaiah that His Son should be ‘numbered with the transgressors’ (Isa 53:12). ...Not a single word of God can fall to the ground. ‘Forever, O LORD, Thy word is settled in heaven’ (Ps 119:89). Just as God had or­dained, and just as He had announced, so it came to pass” [= Bukanlah suatu kebetulan bahwa Tuhan Kemuliaan disalibkan di antara 2 pencuri. Tidak ada kebetulan dalam dunia yang diperintah oleh Allah. Lebih-lebih lagi tidak ada kebetulan pada Hari segala hari, atau dalam hubungannya dengan Peristiwa di antara segala peristiwa - suatu Hari dan Peristiwa yang terletak di pusat sejarah dunia. Tidak; Allah mengontrol adegan / peristiwa itu. Dari kekekalan Allah telah menentukan kapan dan dimana dan bagaimana dan dengan siapa AnakNya harus mati. Tidak ada yang terjadi karena kebetulan atau karena perubahan pikiran manusia. Semua yang telah Allah tentukan terjadi persis seperti yang Ia tentukan, dan tidak ada sesuatupun yang terjadi kecuali yang sudah Ia rencanakan secara kekal. Apapun yang manusia lakukan hanyalah apa yang kuasa / tangan dan rencana / kehendak Allah ‘tentukan untuk terjadi’ (Kis 4:28). Ketika Pilatus memberikan perintah supaya Tuhan Yesus disalibkan di antara 2 krimi­nil, tanpa ia sendiri sadari, ia sedang melaksanakan ketetapan kekal dari Allah dan menggenapi firman nubuatanNya. Tujuh ratus tahun sebelum pejabat Romawi ini memberikan perintah, Allah telah menyata­kan melalui nabi Yesaya bahwa AnakNya harus ‘diperhitungkan sebagai pemberontak / pelanggar’ (Yesaya 53:12). ... Tidak satupun dari firman Allah bisa jatuh ke tanah / gagal. ‘Untuk selama-lamanya, ya TUHAN, firmanMu ditetapkan di surga’ (Mazmur 119:89 - diterjemahkan dari KJV). Persis seperti yang Allah telah tentukan, dan persis seperti yang Ia beritakan, begitulah hal itu terjadi] - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 24-25.

Yes 53:12 - “Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak”.

Mungkin saudara bertanya: mengapa digunakan Yes 53:12, dan bukannya Yes 53:9?
Yes 53:9 - “Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya”.
Jawabannya adalah: karena kalimat yang saya garis-bawahi itu salah terjemahan.

Kitab Suci Indonesia: ‘dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat’.
KJV: ‘and with the rich in his death’ [= dan dengan / bersama orang kaya dalam matinya).
RSV: ‘and with a rich man in his death’ [= dan dengan / bersama seorang kaya dalam matinya).
NIV: ‘and with the rich in his death’ [= dan bersama orang kaya dalam kematiannya).
NASB: ‘Yet He was with a rich man in His death’ [= Tetapi Ia bersama dengan seorang kaya dalam matiNya).

Jadi, ayat yang menubuatkan bahwa Yesus akan mati di antara 2 penjahat bukanlah Yes 53:9 tetapi Yes 53:12.

b) Ini menunjukkan Kristus sebagai Pengganti (substitute) kita!
Arthur Pink: “Why did God order it that His beloved Son should be crucified between two criminals? Certainly God had a reason; a good one, ... was not the Saviour numbered with transgressors to show us the position He occupied as our Substitute? He had taken the place which was due us, and what was that but the place of shame, the place of transgressors, the place of criminals condemned to death!” [= Mengapa Allah mengatur sehingga AnakNya yang kekasih harus disalibkan di antara 2 penjahat? Pasti Allah mempunyai alasan; suatu alasan yang baik, ... bukankah sang Juruselamat terhitung di antara pelanggar-pelanggar / pemberontak-pemberontak untuk menunjukkan kepada kita posisi yang Ia tempati sebagai Pengganti kita? Ia telah mengambil tempat yang seharusnya adalah milik kita, dan apakah itu selain tempat yang memalukan, tempat dari pelanggar-pelanggar / pemberontak-pemberontak, tempat dari penjahat-penjahat yang dihukum mati!) - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 25.

Bdk. Yes 53:4-6 - “(4) Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. (5) Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. (6) Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian”.

c) Penjahat-penjahat itu ‘digantung’ (ay 39).
Dari istilah ‘digantung’ ini Adam Clarke menafsirkan bahwa berbeda dengan Kristus yang betul-betul disalibkan (dipaku pada kayu salib), maka penjahat-penjahat itu hanya diikatkan pada kayu salib, dan karena itu Kristus mati lebih cepat dari mereka (Yoh 19:31-33).

Tetapi saya tidak setuju dengan penafsiran Adam Clarke ini karena:
1. Mat 27:44 dan Markus 15:32 mengatakan bahwa penjahat-penjahat itu ‘disalibkan’.
Matius 27:44 - “Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencelaNya demikian juga”.
Mark 15:32 - “Baiklah Mesias, Raja Israel itu, turun dari salib itu, supaya kita lihat dan percaya.’ Bahkan kedua orang yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela Dia juga”.
2. Dalam Lukas 23:33, kata kerja ‘menyalibkan’ digunakan baik untuk Yesus, maupun untuk kedua penjahat tersebut.
Luk 23:33 - “Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kananNya dan yang lain di sebelah kiriNya”.
3. Dalam Yoh 19:31, kata ‘tergantung’ digunakan untuk ketiga orang tersebut.
Yoh 19:31 - “Karena hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib - sebab Sabat itu adalah hari yang besar - maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan”.

Kesimpulannya: kata ‘disalibkan’ dan ‘digantung’ digunakan secara interchangeable [= bisa dibolak balik).

2) Penjahat ini menghujat Yesus (ay 39).
Mat 27:44 dan Mark 15:32 menggunakan kata ‘mencela’, tetapi Luk 23:39 ini menggunakan kata yang jauh lebih keras yaitu ‘menghujat’.
Mat 27:44 - “Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencelaNya demikian juga”.
Mark 15:32 - “Baiklah Mesias, Raja Israel itu, turun dari salib itu, supaya kita lihat dan percaya.’ Bahkan kedua orang yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela Dia juga”.
Luk 23:39 - “Seorang dari penjahat yang digantung itu menghujat Dia, katanya: ‘Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diriMu dan kami!’”.

Ini menunjukkan bahwa:
a) Lukas tidak menceritakan bagian yang persis sama dengan yang diceritakan oleh Matius dan Markus. Pentingnya hal ini akan kita lihat belakangan.
b) Penjahat ini betul-betul orang yang keterlaluan. Sudah mau mati masih menghujat orang lain. Andaikatapun Yesus memang adalah seorang penipu / penjahat, apa perlunya ia menghujat Yesus? Ini adalah contoh orang yang bertekun dalam dosa sampai mati!
Apakah saudara adalah orang yang bertekun dalam dosa seperti penjahat ini?

3) Hujatannya.
Ay 39: “Seorang dari penjahat yang digantung itu menghujat Dia, katanya: ‘Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diriMu dan kami!’”.

a) ‘Bukankah Engkau adalah Kristus?’.
Ini jelas diucapkan oleh penjahat itu dengan nada mengejek, dan justru menunjukkan ketidak-percayaannya bahwa Yesus adalah Kristus / Mesias. Ini juga merupakan ejekan yang sama dengan yang diberikan oleh para imam kepada Yesus.
Luk 23:35 - “Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya: ‘Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diriNya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah.’”.

b) ‘Selamatkanlah diriMu dan kami’.
Sekalipun ini juga bisa diucapkan sebagai ejekan, tetapi mungkin sekali dalam dirinya ada keinginan untuk betul-betul diselamatkan oleh Yesus.

Barnes’ Notes: “‘Save thyself and us.’ Save our lives. Deliver us from the cross. This man did not seek for salvation truly; he asked not to be delivered from his sins; if he had, Jesus would also have heard him. Men often, in sickness and affliction, call upon God. They are earnest in prayer. They ask of God to save them, but it is only to save them from temporal death. It is not to be saved from their sins, and the consequence is, that when God does raise them up, they forget their promises, and live as they did before, as this robber would have done if Jesus had heard his prayer and delivered him from the cross” [= ‘Selamatkanlah diriMu dan kami’. Selamatkanlah jiwa kami. Bebaskanlah kami dari salib. Orang ini tidak sungguh-sungguh mencari keselamatan; ia tidak meminta untuk dibebaskan dari dosa-dosanya; seandainya ia memintanya, Yesus akan sudah mendengarkannya juga. Manusia dalam keadaan sakit dan menderita, sering memanggil Allah. Mereka sungguh-sungguh dalam doa. Mereka meminta Allah untuk menyelamatkan mereka, tetapi hanya menyelamatkan mereka dari kematian sementara. Bukan untuk menyelamatkan mereka dari dosa-dosa mereka, dan konsekwensinya adalah, pada waktu Allah memang mengangkat mereka, mereka melupakan janji-janji mereka, dan mereka hidup seperti sebelumnya, seperti yang akan dilakukan oleh perampok ini seandainya Yesus mendengar doanya dan membebaskannya dari salib).

Penerapan: bandingkan ini dengan banyak orang Kristen jaman sekarang, yang hanya meminta kesembuhan dari penyakit, pertolongan dari problem, meminta untuk menjadi kaya, dan sebagainya.

Dua pernyataan tersebut di atas adalah dua pernyataan yang kontradiksi! Ia tidak percaya Yesus, tetapi ia ingin diselamatkan. Itu mustahil bisa terjadi, karena Yesus sendiri berkata: “Jikalau kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu” (Yoh 8:24b). Mengapa demikian? Karena tanpa memiliki Yesus sebagai Penebus / Juruselamat dosa saudara, maka saudara sendirilah yang harus membayar hutang dosa saudara!

Penerapan: Kalau saudara tidak percaya kepada Yesus, jangan berharap saudara bisa selamat! Kalau saudara ingin selamat, percayalah dan datanglah kepada Yesus! Ia adalah satu-satunya jalan ke surga (Yoh 14:6 Kis 4:12 1Yoh 5:11-12).

4) Tidak takut kepada Allah, bahkan pada saat mau mati.
Ay 40: “Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: ‘Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama?”.
Sebetulnya, seseorang yang tahu bahwa dirinya akan segera mati, akan takut terhadap Allah kepada siapa ia harus menghadap dan mempertanggung-jawabkan seluruh hidupnya / dosa-dosanya. Tetapi penjahat ini, sama sekali tak mempedulikan hal itu, dan bahkan menggunakan sisa hidupnya yang tinggal sedikit itu untuk terus berbuat dosa.
Menurut saya, ini membuktikan adanya reprobation [= penentuan binasa). Atau, setidaknya membuktikan bahwa manusia tidak mungkin mau ataupun bisa bertobat kalau bukan karena pekerjaan Tuhan dalam dirinya.

II) Penjahat yang bertobat.

1) Dalam Mat 27:44 / Mark 15:32 dikatakan bahwa kedua penjahat itu mencela Yesus, tetapi dalam Luk 23:39-42 dikatakan bahwa hanya satu penjahat yang menghujat Yesus, sedangkan yang satunya justru menegur temannya itu, dan lalu menyatakan imannya kepada Yesus.
Bagaimana cara mengharmoniskan Mat 27:44 / Mark 15:32 dengan Luk 23:39-42? Ada beberapa cara:

a) Calvin menganggap bahwa Matius dan Markus menggunakan gaya bahasa synecdoche, dimana sekalipun mereka menuliskan seluruhnya (kedua penjahat), tetapi yang mereka maksudkan adalah sebagian (salah satu penjahat).
Gaya bahasa seperti ini sering dipakai bahkan dalam pembicaraan sehari-hari, misalnya: kalau kesebelasan sepak bola Indonesia kalah, maka orang berkata ‘Indonesia kalah’.

b) Dalam Kitab Suci kadang-kadang plural / jamak bisa diartikan singular / tunggal.
Contoh: kata ‘mereka’ dalam Mat 2:20 jelas menunjuk pada satu orang, yaitu Herodes (Mat 2:19).
Matius 2:19-20 - “(19) Setelah Herodes mati, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi di Mesir, katanya: (20) ‘Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibuNya dan berangkatlah ke tanah Israel, karena mereka yang hendak membunuh Anak itu, sudah mati.’”.

c) Matius dan Markus menceritakan bagian yang tidak persis sama dengan yang diceritakan oleh Lukas. Matius dan Markus hanya menceritakan bagian awalnya, sedangkan Lukas hanya menceritakan bagian akhirnya.
Jadi, mula-mula kedua penjahat itu mencela Yesus. Ini yang diceritakan dalam Mat 27:44 / Mark 15:32. Tetapi belakangan / akhirnya salah satu dari penjahat-penjahat itu bertobat, tetapi yang satunya bahkan menjadi bertambah jahat sehingga lalu menghujat Yesus, dan ini menyebabkan penjahat yang bertobat itu menegur dia. Ini yang diceritakan dalam Luk 23:39-41.
Saya setuju dengan penafsiran yang ke 3 ini.

2) Faktor-faktor yang menghalangi dan mendukung pertobatannya.

a) Faktor yang menghalangi pertobatannya: Yesus yang mengaku sebagai Anak Allah, Mesias, Raja, dan Juruselamat itu, pada saat itu sedang tergantung dengan tidak berdaya di atas kayu salib. Menurut logika duniawi, ini tentu merupakan suatu hal yang menggelikan atau merupakan suatu kebodohan!
Bdk. 1Kor 1:18,22,23 - “(18) Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah. ... (22) Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, (23) tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan”.

b) Faktor-faktor yang mendukung pertobatannya:

1. Rasa takut kepada Allah pada saat ia mau mati.
Ay 40: “Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: ‘Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama?”.
Tegurannya ini secara implicit menunjukkan bahwa ia sendiri mempunyai rasa takut kepada Allah pada saat itu.
Ini menunjukkan bahwa dalam memberitakan Injil kita juga perlu memberitakan tentang keadilan Allah, hukuman Allah, kengerian neraka dsb, supaya orang yang kita injili itu menjadi takut dan bertobat.

2. Sikap dan kesucian Yesus yang terlihat mulai saat Ia dicambuki, digiring, disalibkan dsb.
Ay 41: “Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.’”.
Mungkin sekali pertobatannya terjadi karena ia melihat bahwa Yesus sangat berbeda dengan orang-orang lain pada waktu disalibkan. Perbedaannya:
a. Pada waktu Yesus diejek, dihina, dsb, Ia tidak membalas.
b. Pada waktu paku menembus tangan dan kaki, apalagi pada waktu kayu salib yang tadi terbaring di tanah itu lalu ditegakkan, orang yang tersalib biasanya melontarkan segala macam kutukan, sumpah serapah dan cacian. Tetapi Yesus justru berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34a).
c. Dalam mengalami semua penderitaanNya, Yesus tidak takut tetapi tetap tenang dan berserah kepada BapaNya.
Kalau saja kita bisa mempunyai sikap dan kesucian seperti ini, maka pasti kitapun akan menarik banyak orang datang kepada Yesus! Maukah saudara berusaha meneladani sikap dan kehidupan Yesus?

3. Firman yang pernah ia dengar, baik secara langsung atau tak langsung, dari Yesus (ay 42 bdk. Mat 24:30 25:31 Yoh 18:33,36-37).
Ay 42: “Lalu ia berkata: ‘Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.’”.
Mungkin ia pernah mendengar, baik secara langsung atau tidak langsung, ajaran Yesus dalam ayat-ayat seperti ini.
Mat 24:30 - “Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaanNya”.
Mat 25:31 - “‘Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaanNya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaanNya”.
Yoh 18:33,36-37 - “(33) Maka kembalilah Pilatus ke dalam gedung pengadilan, lalu memanggil Yesus dan bertanya kepadaNya: ‘Engkau inikah raja orang Yahudi?’ ... (36) Jawab Yesus: ‘KerajaanKu bukan dari dunia ini; jika KerajaanKu dari dunia ini, pasti hamba-hambaKu telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi KerajaanKu bukan dari sini.’ (37) Maka kata Pilatus kepadaNya: ‘Jadi Engkau adalah raja?’ Jawab Yesus: ‘Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suaraKu.’”.

Pada saat ia mendengarnya, ia tidak bertobat. Tetapi sekarang pada saat ia mau mati, ia menanggapinya dan bertobat!
Ini suatu hal yang harus selalu kita pikirkan pada saat kita memberitakan Injil dan ditolak. Sekalipun pada saat itu orang yang kita injili itu menolak, tetapi tetap ada kemungkinan bahwa dikemudian hari ia bertobat. Jadi, jangan kecewa, putus asa, apalagi berhenti dalam memberitakan Injil, pada waktu saudara ditolak.

4. Pekerjaan Roh Kudus dalam dirinya.
Ini jelas harus ada karena tanpa ini tidak seorangpun bisa datang kepada Yesus.
Bandingkan dengan:
· Yoh 6:44,65 - “(44) Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepadaKu, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. ... (65) Lalu Ia berkata: ‘Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepadaKu, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.’”.
· 1Kor 12:3 - “Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: ‘Terkutuklah Yesus!’ dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: ‘Yesus adalah Tuhan’, selain oleh Roh Kudus”.

3) Imannya.

a) Imannya terlihat dari:

1. Ia sadar bahwa kematian bukanlah akhir dari segala-galanya.
Ay 40,42: “(40) Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: ‘Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? ... (42) Lalu ia berkata: ‘Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.’”.
Apakah saudara juga menyadari hal ini?

2. Ia sadar bahwa Allah itu adil dan akan menghukum orang berdosa (ay 40).
Ada banyak orang hanya menyoroti kasih Allah saja, sehingga mereka mengabaikan keadilan dan penghukuman Allah! Bagaimana dengan saudara?

3. Ia sadar dirinya adalah orang yang berdosa dan patut dihukum.
Ay 41: “Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.’”.
Apakah saudara menganggap diri saudara baik dan layak masuk surga? Kalau ya, saudara justru pasti akan masuk neraka!

Orang ini sadar akan dosanya, dan merasa layak menerima hukuman mati di kayu salib. Memang kesadaran akan dosa merupakan suatu persyaratan untuk bisa beriman kepada Kristus. Kalau seseorang tak sadar dosa, untuk apa ia menerima Kristus sebagai Juruselamat / Penebus? Orang yang tak menyadari bahwa dirinya sakit tak akan membutuhkan dokter.

4. Ia percaya bahwa Yesus tidak melakukan sesuatu yang salah.
Ay 41: “Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.’”.

a. Penjahat ini lebih melek matanya dari pada para imam!
Matthew Henry: “The chief priests would have him crucified between the malefactors, as one of them; but this thief has more sense than they, and owns he is not one of them. Whether he had before heard of Christ and of his wonderous works does not appear, but the Spirit of grace enlightened him with this knowledge, and enabled him to say, ‘This man has done nothing amiss.’” [= Imam-imam kepala menyuruh menyalibkan Dia di antara penjahat-penjahat, sebagai salah seorang dari mereka; tetapi pencuri ini lebih mempunyai pengertian dari mereka, dan mengakui bahwa Ia bukan salah satu dari mereka. Apakah sebelumnya ia telah mendengar tentang Kristus dan tentang pekerjaan-pekerjaanNya yang ajaib tidak terlihat, tetapi Roh kasih karunia menerangi dia dengan pengetahuan ini, dan memampukan ia untuk berkata: ‘Orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah’).

b. Dengan demikian ia pasti juga percaya bahwa claim Yesus, yang menyatakan diriNya sebagai Mesias dan Anak Allah, pasti juga benar. Mengapa? Karena kalau claim itu salah, itu berarti Yesus memang berbuat sesuatu yang salah.
Apakah saudara percaya akan claim Yesus bahwa Ia adalah Mesias / Anak Allah?

5. Ia percaya bahwa Yesus akan datang sebagai Raja pada kedatanganNya yang keduakalinya.
Ay 42: “Lalu ia berkata: ‘Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.’”.

Untuk kata ‘ingatlah’ digunakan bentuk aorist imperative [=kata perintah bentuk lampau), yang menunjukkan bahwa ia hanya minta untuk diingat 1 x saja pada saat Yesus datang kedua-kalinya itu (Lenski, hal 1144).

Barnes’ Notes: “‘Remember me.’ This is a phrase praying for favor, or asking him to grant him an interest in his kingdom, or to acknowledge him as one of his followers. It implied that he believed that Jesus was what he claimed to be - the Messiah; that, though he was dying with them, yet he would set up his kingdom; and that he had full power to bless him, though about to expire” [= ‘Ingatlah akan aku’. Ini merupakan suatu ungkapan untuk meminta suatu kebaikan / pertolongan, atau memintaNya untuk memberikan baginya suatu hak dalam KerajaanNya, atau untuk mengakuinya sebagai salah satu pengikutNya. Secara implicit ini menunjukkan bahwa ia percaya bahwa Yesus adalah seperti yang Ia claim, sang Mesias; sehingga, sekalipun Ia sedang sekarat bersama mereka, tetapi Ia akan mendirikan KerajaanNya; dan bahwa Ia mempunyai kuasa penuh untuk memberkatinya, sekalipun Ia hampir mati).

Wycliffe Bible Commentary: “This man showed amazing confidence in Jesus; for he saw him dying on a cross, and yet believed that he would come in a kingdom” [= Orang ini menunjukkan keyakinan yang mengherankan kepada Yesus; karena ia melihatNya sekarat di kayu salib, tetapi percaya bahwa Ia akan datang dalam suatu Kerajaan).

Mengomentari ayat ini Calvin berkata: kalau penjahat itu bisa menerima Yesus sebagai Raja pada saat Yesus sedang terpaku di atas kayu salib, maka celakalah kita kalau sekarang setelah Yesus bangkit, naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah, kita tidak menerimaNya sebagai Raja dalam kehidupan kita.

6. Ia menyerahkan keselamatan jiwanya kepada Yesus.
Ay 42: “Lalu ia berkata: ‘Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.’”.
Perhatikan bahwa ia tidak mempersoalkan keselamatan jasmaninya seperti penjahat yang pertama (ay 39), tetapi ia mempersoalkan jiwanya setelah ia mati!
Ia mempunyai pikiran yang jauh lebih bagus dari temannya itu, dan juga dari banyak gereja / hamba Tuhan / orang kristen yang hanya menekankan manfaat Yesus bagi hidup sekarang ini, seperti memberikan kesembuhan, memberikan berkat / kekayaan, menolong dari problem dsb.
Kalau saudara adalah hamba Tuhan / orang Kristen seperti ini, maka renungkan kata-kata Paulus dalam 1Kor 15:19 yang berbunyi: “Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia”.
Renungkanlah: apakah saudara sudah percaya kepada Yesus demi keselamatan jiwa saudara pada hidup yang akan datang?

b) Bukti imannya.
Sekalipun hidup penjahat ini sudah tinggal sangat singkat, tetapi tetap ada pengudusan, biarpun sedikit, yang membuktikan kesejatian imannya.

1. Tadi, bersama-sama penjahat yang satunya, ia mencela Yesus (Mat 27:44 Mark 15:32). Tetapi sekarang, pada waktu penjahat satunya itu menghujat Yesus, ia bukan saja tidak ikut menghujat, tetapi ia bahkan berani menegur temannya itu (ay 39-41).
Ada banyak orang yang tidak berani menegur anaknya yang melakukan kesalahan yang dulu ia sendiri juga lakukan (misalnya tidak jujur dalam ulangan). Tetapi penjahat ini, baru saja mencela Yesus, tetapi sekarang berani menegur temannya yang menghujat Yesus. Ini sesuatu yang luar biasa!

2. Ia adalah orang yang tahu diri dan rendah hati!
Bandingkan dengan Yakobus dan Yohanes yang minta duduk di kiri dan kanan Yesus.
Mark 10:35-37 - “(35) Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepadaNya: ‘Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!’ (36) JawabNya kepada mereka: ‘Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?’ (37) Lalu kata mereka: ‘Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaanMu kelak, yang seorang lagi di sebelah kananMu dan yang seorang di sebelah kiriMu.’”.

Tetapi penjahat ini hanya minta ‘diingat’ oleh Yesus (ay 42). Permintaan yang rendah hati dan tahu diri seperti ini harus kita tiru, bahkan kalau dalam hidup ini kita sudah banyak melakukan banyak hal untuk Tuhan.

Bdk. Luk 17:7-10 - “(7) ‘Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! (8) Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. (9) Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? (10) Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.’”.

Matthew Henry: “All he begs is, ‘Lord, remember me,’ referring himself to Christ in what way to remember him. It is a request like that of Joseph to the chief butler, ‘Think on me.’ (Gen. 40:14), and it sped better; the chief butler forgot Joseph, but Christ remembered this thief” [= Semua yang ia minta adalah ‘Tuhan, ingatlah aku’, menyerahkan dirinya sendiri kepada Kristus, dengan cara apa Ia mau mengingatnya. Ini merupakan suatu permohonan seperti permohonan Yusuf kepada juru minuman, ‘Ingatlah kepadaku’ (Kej 40:14), dan itu berhasil dengan lebih baik; juru minuman itu melupakan Yusuf, tetapi Kristus mengingat pencuri ini].

Penerapan: adanya pengudusan menunjukkan kesejatian iman penjahat itu (bdk. Yak 2:17,26). Bagaimana dengan iman saudara? Apakah juga disertai dengan pengudusan / perbuatan baik / ketaatan yang membuktikan kesejatiannya? Kalau tidak, jangan pernah mimpi bahwa saudara akan diselamatkan!

III) Jawaban Yesus (ay 43).

Luk 23:43 - “Kata Yesus kepadanya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.’”.

1) Ketika dicela / dihujat, Yesus tidak menjawab; tetapi pada waktu Ia melihat ada penjahat yang membutuhkan Firman Tuhan, bimbingan dan hiburan, Ia menjawabnya! Kalau kita mungkin terbalik! Pada saat ada orang mencela, kita menjawabnya, tetapi pada waktu ada orang membutuhkan Firman Tuhan, hiburan dan bimbingan, kita bungkam seribu bahasa!

Juga perlu saudara perhatikan bahwa kata-kata Yesus ini bukan sekedar hiburan kosong yang tidak benar! Ini adalah kebenaran, yang pasti melegakan sekali bagi penjahat itu.

Penerapan: berusahalah untuk menghibur orang, tetapi jangan memberikan hiburan kosong yang tidak benar. Itu sama dengan dusta!

2) Perhatikan bahwa dalam penderitaan yang luar biasa hebatnya, dan dalam detik-detik terakhir hidupNya, Yesus tetap melayani BapaNya dan sesama manusiaNya.
Berbeda dengan penjahat yang pertama, yang bertekun dalam dosa sampai pada akhir hidupnya, maka Yesus tekun dalam berbuat baik / melayani sampai pada akhir hidupNya!

Matthew Henry: “Though Christ himself was now in the greatest struggle and agony, yet he had a word of comfort to speak to a poor penitent that committed himself to him” [= Sekalipun Kristus sendiri sekarang sedang berada dalam pergumulan dan kesakitan yang terbesar, tetapi Ia mempunyai suatu ucapan penghiburan bagi seorang petobat yang menyerahkan dirinya sendiri kepadaNya).

3) Mari sekarang kita mempelajari kata-kata Yesus ini.
Lukas 23:43 - “Kata Yesus kepadanya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.’”.

a) “Kata Yesus kepadanya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya ...”.
Jamieson, Fausset & Brown: “‘Verily I say unto thee.’ ‘Since thou speakest as to the King, with kingly authority speak I to thee.’” [= ‘Sesungguhnya Aku berkata kepadamu’. ‘Karena engkau berbicara seperti kepada sang Raja, dengan otoritas seorang raja Aku berbicara kepadamu).

b) “hari ini juga”.

1. Saksi-Saksi Yehuwa menghubungkan kata-kata ‘hari ini’ dengan ‘Aku berkata kepadamu’, bukan dengan kata-kata ‘engkau akan ada bersama-sama Aku di dalam Firdaus’.
Berbeda dengan kita yang menganggap ‘Firdaus’ sebagai ‘surga’, maka Saksi-Saksi Yehuwa menganggap bahwa ‘Firdaus’ ini menunjuk kepada ‘bumi yang akan disempurnakan nanti’, dan karena itu Firdaus itu belum ada pada jaman sekarang ini. Ini menyebabkan mereka ‘terpaksa’ mengubah terjemahan dari Luk 23:43 (Catatan: sebetulnya ini merupakan perubahan yang sia-sia, karena dalam 2Kor 12:4 Paulus telah diangkat ke Firdaus!).
Mari kita perhatikan perubahan yang dilakukan oleh orang-orang sesat ini!

Luk 23:43 - “Kata Yesus kepadanya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.’”.
TDB: “Dan ia mengatakan kepadanya, ‘Dengan sungguh-sungguh aku mengatakan kepadamu hari ini: Engkau akan bersamaku di Firdaus”.

Kalau menggunakan versi bahasa Inggris maka perubahannya hanya terletak pada perubahan letak dari satu koma (’).
RSV: “And he said to him, ‘Truly, I say to you, today you will be with me in Paradise.’” [= Dan Ia berkata kepadanya: ‘Sesungguhnya, Aku berkata kepadamu, hari ini engkau akan bersama Aku dalam Firdaus).
NWT: “And he said to him: ‘Truly I tell you today, You will be with me in Paradise.’” [= Dan Ia berkata kepadanya: ‘Sesungguhnya Aku berkata kepadamu hari ini, Engkau akan bersama Aku dalam Firdaus).

Catatan: TDB dan NWT merupakan Kitab Suci Saksi Yehuwa. Yang NWT [= New World Translation) adalah aslinya, dalam bahasa Inggris, sedangkan TDB [= Terjemahan Dunia Baru) adalah terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Ada beberapa alasan yang secara kelewat jelas menunjukkan ketidakmungkinan terjemahan NWT / TDB ini.
a. Ini adalah terjemahan yang tidak masuk akal.
Tidak pernah ada siapapun (baik dalam Alkitab maupun dalam kehidupan sehari-hari), yang mengatakan: ‘Aku berkata kepadamu hari ini’. Sudah tentu pada saat seseorang mengatakan sesuatu, ia mengatakannya hari ini / saat ini. Kalau bukan ‘hari ini’, lalu kapan? Kemarin? Besok pagi? Karena hal itu merupakan sesuatu yang sudah jelas, tidak ada orang berkata seperti itu.
b. Selain kata-kataNya kepada penjahat yang bertobat dalam Luk 23:43 ini, Yesus mengucapkan kata-kata ‘Aku berkata kepadamu’ sebanyak 140 x, dengan perincian sebagai berikut:
· Dalam Injil Matius, Yesus mengucapkan kata-kata ‘Aku berkata kepadamu’ 57 x, yaitu dalam Mat 5:18,20,22,26,28,32,34,39,44 6:2,5,16,25,29 8:10,11 10:15,23,42 11:9,11,22,24 12:6,31,36 13:17 16:11,28 17:20 18:3,10,13,18,19,22 19:9,23,24,28 21:21,31,43 23:36,39 24:2,34,47 25:12,40,45 26:13,21,29,34,64.
· Dalam Injil Markus, Yesus mengucapkan kata-kata ‘Aku berkata kepadamu’ 16 x, yaitu dalam Mark 3:28 5:41 8:12 9:1,13,41 10:15,29 11:23,24 12:43 13:30 14:9,18,25,30.
· Dalam Injil Lukas, Yesus mengucapkan kata-kata ‘Aku berkata kepadamu’ 38 x, yaitu dalam Luk 3:8 4:24,25 7:9,14,26,28,47 9:27 10:12 11:8,9,51 12:4,5,8,22,27,37,44,59 13:24,35 14:24 15:7,10 16:9 17:34 18:8,14,17,29 19:26,40 21:3,32 22:16,34.
· Dalam Injil Yohanes Yesus mengucapkan kata-kata ‘Aku berkata kepadamu’ itu 29 x, yaitu dalam Yoh 1:50,51 3:3,5,7,11 4:35 5:19,24,25 6:26,32,47,53 8:24,34,51,58 10:1,7 12:24 13:16,20,21,38 14:12 16:20,23 21:18.
Yesus tidak pernah mengatakan: ‘Aku berkata kepadamu hari ini’. Jadi kalau Luk 23:43 diterjemahkan seperti itu, itu merupakan terjemahan yang mengada-ada, dan secara sangat jelas menunjukkan kekurang-ajaran NWT / TDB dalam melakukan penterjemahan!

2. Bukan di masa yang akan datang yang jauh, tetapi ‘hari ini juga’.
Perhatikan juga bahwa penjahat itu hanya minta supaya Kristus mengingat Dia. Kapan? Pada saat Kristus datang kembali! Tetapi bagaimana jawaban Yesus? ‘Engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus’! Kapan? ‘Hari ini’!

Jamieson, Fausset & Brown: “‘Thou art prepared for a long delay before I come in My Kingdom, but not a day’s delay shall there be for thee; thou shall not be parted from Me even for a moment, but together we shall go, and with Me, before this day expire, shalt thou be in paradise.’” [= Engkau siap untuk suatu penundaan yang lama sebelum Aku datang dalam KerajaanKu, tetapi tidak akan ada penundaan satu haripun untuk engkau; engkau tidak akan berpisah dari Aku bahkan untuk satu saat, tetapi kita akan pergi bersama-sama, dan bersama Aku, sebelum hari ini berlalu, engkau akan ada di Firdaus).

Bdk. Efesus 3:20-21 - “(20) Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, (21) bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin”.

Kalimat KEDUA (2) Lukas 23:43

c) Firdaus adalah surga, bukan tempat penantian.
William Hendriksen: “what is meant by Paradise? Paradise is heaven” [= apa yang dimaksudkan dengan Firdaus? Firdaus adalah surga) - hal 1033.

Dasarnya: Kata ‘Firdaus’ berasal dari kata bahasa Yunani PARADEISOS, yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan paradise [=surga).
Kata Yunani itu muncul hanya 3 x dalam Perjanjian Baru, yaitu dalam Luk 23:43 ini, dalam 2Kor 12:4 dan dalam Wah 2:7.
1. Dalam 2Kor 12:4, kalau kita membandingkannya dengan 2Korintus 12:2, maka jelas bisa kita dapatkan bahwa Firdaus adalah surga, karena dalam 2Kor 12:2 Paulus mengatakan diangkat ke sorga, sedangkan dalam 2Korintus 12:4 Paulus mengatakan diangkat ke Firdaus.
2Kor 12:2,4 - “(2) Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau - entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya - orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga. ... (4) ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia”.
2. Dalam Wahyu 2:7 dikatakan bahwa dalam taman Firdaus itu terdapat pohon kehidupan. Sedangkan dari Wah 22:2,14,19 terlihat bahwa pohon kehidupan itu ada di surga. Kesimpulannya lagi-lagi adalah bahwa Firdaus adalah surga!
Wah 2:7 - “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah.’”.
Wah 22:2,14,19 - “(2) Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali, tiap-tiap bulan sekali; dan daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa. ... (14) Berbahagialah mereka yang membasuh jubahnya. Mereka akan memperoleh hak atas pohon-pohon kehidupan dan masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam kota itu. ... (19) Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.’”.
3. Kalau dalam 2 ayat itu Firdaus menunjuk pada surga, maka jelas bahwa dalam Lukas 23:43 juga harus diartikan sebagai surga! Dan kalau dalam Luk 23:43 ini kata ‘Firdaus’ tidak diartikan sebagai ‘surga’, maka akan terjadi kontradiksi antara kata-kata Yesus di sini dengan kata-kata Yesus yang terakhir, yaitu ‘Ya Bapa, ke dalam tanganMu kuserahkan nyawa(roh)Ku’ (Lukas 23:46).

Kalau Firdaus menunjuk pada surga, maka ini menunjukkan bahwa:

a. Pada saat Yesus mati, Ia langsung pergi ke surga.
Bdk. Luk 23:46 - “Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: ‘Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu.’ Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawaNya”.

Catatan: kata ‘nyawa’ seharusnya adalah ‘roh’.
Penyerahan rohNya ke dalam tangan Bapa jelas menunjukkan bahwa begitu mati roh dari manusia Yesus pergi ke surga!

Jadi jelaslah bahwa Yesus tidak turun kemana-mana, baik ke neraka, kerajaan maut ataupun tempat penantian!

Kalau demikian, apa artinya kata-kata ‘turun ke neraka / kerajaan maut’ dalam 12 Pengakuan Iman Rasuli? Calvin mengatakan bahwa kalimat ini menunjuk pada penderitaan rohani yang dialami oleh Yesus, pada saat Ia masih hidup / terpancang di atas kayu salib, tepatnya pada saat Ia berteriak ‘Eli, Eli, lama sabakhtani?’. Ingat bahwa di neraka orang terpisah dari Allah (bdk. 2Tes 1:9). Karena itu, pada saat Yesus terpisah dari Allah, Ia dikatakan ‘turun ke neraka’.
Jadi Calvin beranggapan bahwa 12 Pengakuan Iman Rasuli itu mula-mula menunjukkan penderitaan Yesus secara jasmani yang terlihat oleh mata manusia, yaitu ‘menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, mati dan dikuburkan’. Setelah itu 12 Pengakuan Iman Rasuli itu menunjukkan penderitaan Yesus secara rohani yang tidak terlihat oleh mata manusia, yaitu ‘turun ke neraka’.

Keberatan: kalau memang Yesus langsung ke surga pada saat mati, mengapa setelah Ia bangkit Ia mengatakan bahwa Ia belum pergi kepada Bapa?
Yoh 20:17 - “Kata Yesus kepadanya: ‘Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudaraKu dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada BapaKu dan Bapamu, kepada AllahKu dan Allahmu.’”.

Jawab: Kata-kata ‘janganlah engkau memegang Aku’ dalam Yoh 20:17 tidak mungkin berarti bahwa Ia tidak mau disentuh oleh Maria Magdalena, karena Ia membiarkan murid-murid dan perempuan-perempuan yang lain menyentuhNya setelah Ia kebangkitanNya (Mat 28:9b Luk 24:39-40 Yoh 20:27). Jadi, kata-kata itu maksudnya adalah ‘jangan menahan / nggandoli Aku’.

Dengan demikian kata-kata ‘belum pergi kepada Bapa’ tidak menunjuk ke belakang (antara kematian dan kebangkitan), tetapi menunjuk ke depan, pada kenaikanNya ke surga (perhatikan Yoh 20:17b yang jelas berbicara tentang kenaikanNya ke surga).

Jadi Yesus, yang tahu bahwa Maria Magdalena itu bermaksud menahan Dia selama-lamanya di dunia ini, lalu berkata ‘Jangan menahan / nggandoli Aku, karena Aku harus naik ke surga / pergi kepada Bapa!’.

Dengan demikian, Yoh 20:17 ini tidak menunjukkan bahwa antara kematian dan kebangkitan, Yesus tidak pergi ke surga!

b. Pada saat mati, penjahat yang bertobat itu (dan juga semua orang yang betul-betul percaya kepada Yesus) langsung masuk ke surga (hanya roh / jiwanya, sedangkan tubuhnya menunggu kedatangan Kristus yang keduakalinya).

Ini menunjukkan bahwa:
· Pada saat mati, jiwa tetap ada sekalipun terpisah dari tubuh.
Barnes’ Notes: “from the narrative we may learn: 1. That the soul will exist separately from the body; for, while the thief and the Saviour would be in Paradise, their bodies would be on the cross or in the grave” [= dari cerita ini kita bisa belajar: 1. Bahwa jiwa akan ada secara terpisah dari tubuh; karena, sementara si pencuri dan sang Juruselamat akan ada di Firdaus, tubuh-tubuh mereka akan ada di salib atau di kuburan).

Calvin: “souls, when they have departed from their bodies, continue to live; otherwise the promise of Christ, which he confirms even by an oath, would be a mockery” [= jiwa-jiwa, pada waktu mereka telah terpisah dari tubuh-tubuh mereka, tetap hidup; kalau tidak maka janji Kristus, yang Ia teguhkan dengan suatu sumpah, akan merupakan suatu olok-olok).

· Doktrin yang mengajarkan bahwa antara kita mati sampai Kristus datang kembali jiwa / roh kita tidur (di kuburan), adalah doktrin yang salah! Penjahat ini tidak berada di kuburan sampai Kristus datang kedua-kalinya, tetapi langsung masuk surga pada hari itu juga. Juga perhatikan bahwa baik Lazarus maupun orang kaya dalam Luk 16:19-31 sama-sama sadar dan tidak tidur setelah mereka mati! Juga mereka (rohnya) tidak ada di kuburan tetapi sudah ada di surga / neraka!

· Doktrin yang mengajarkan adanya tempat penantian, juga adalah ajaran yang salah.
Kalau memang Firdaus berarti tempat penantian, dan penjahat itu masuk tempat penantian lebih dulu, itu berarti bahwa Kristus juga pergi ke tempat penantian (karena Ia berkata: ‘... hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus’). Apa gerangan yang Ia lakukan di tempat penantian? Dan bagaimana hal ini bisa diharmoniskan dengan kata-kataNya dalam Luk 23:46 - “Ya Bapa, ke dalam tanganMu kuserahkan nyawa(roh)Ku”? Adalah menggelikan untuk mengatakan bahwa ‘tangan Bapa’ menunjuk pada tempat penantian!

· Doktrin / dogma tentang api penyucian juga salah!
* Doktrin tentang api penyucian sama sekali tidak punya dasar Kitab Suci!
* Doktrin api penyucian menghina penebusan Kristus yang sudah membereskan semua dosa-dosa kita!
* Kalau memang api penyucian itu ada, maka pasti penjahat ini harus lama sekali berada di situ!
Lenski: “Jesus also did not say: ‘Today thou shalt be in purgatory!’ Yet if a sinner ever deserved a long term in purgatory, this malefactor was such a one. His immediate transfer into heaven is proof that is fatal to the idea of a purgatory or of an intermediate place” [= Yesus juga tidak berkata: ‘Hari ini engkau akan ada di api penyucian!’ Tetapi jika pernah ada seorang berdosa yang layak untuk ada di api penyucian untuk masa yang lama, maka sang penjahat ini adalah orang seperti itu. Perpindahannya secara langsung ke surga merupakan bukti yang fatal bagi gagasan tentang api penyucian atau tentang tempat penantian) - hal 1147.

d) Jadi, kata-kata Kristus ini menunjukkan / menjamin bahwa penjahat itu masuk surga pada hari itu juga.

A. W. Pink mengatakan bahwa dalam pertobatan dan keselamatan dari penjahat ini kita bisa melihat secara paling jelas bahwa keselamatan betul-betul merupakan anugerah / kasih karunia dari Allah, karena penjahat ini boleh dikatakan tidak mempunyai perbuatan baik apapun.

Matthew Henry: “He lets all penitent believers know that when they die they shall go to be with him there” [= Ia menghendaki semua orang-orang percaya yang bertobat untuk mengetahui bahwa pada saat mereka mati mereka akan pergi bersama dengan Dia di sana).

e) Penjahat itu selamat / masuk surga sekalipun ia bertobat pada saat terakhir hidupnya.

William Barclay: “this story tells us above all that it is never too late to turn to Christ. There are other things of which we must say, ‘The time for that is past. I am grown too old now.’ But we can never say that of turning to Jesus Christ. So long as a man’s heart beats, the invitation of Christ still stands. ... It is literally true that while there is life there is hope” [= cerita ini di atas segala-galanya memberitahu kita bahwa tidak pernah terlambat untuk berbalik kepada Kristus. Ada hal-hal lain tentang mana kita harus berkata: ‘Waktu untuk hal itu sudah lewat. Aku telah terlalu tua sekarang’. Tetapi kita tidak pernah bisa mengatakan itu tentang tindakan berbalik kepada Yesus Kristus. Selama jantung seseorang masih berdenyut, undangan dari Kristus masih berlaku. ... Merupakan sesuatu yang benar secara hurufiah bahwa selama di sana masih ada hidup di sana masih ada harapan) - hal 287.

Memang, selama saudara masih hidup, saudara bisa bertobat / datang kepada Yesus, dan saudara akan diselamatkan. Tetapi, jangan secara sengaja menunda pertobatan saudara sampai pada detik terakhir hidup saudara! Ingat bahwa:
1. Saudara tidak tahu apa yang akan terjadi besok.
Amsal 27:1 - “Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu”.
Bagaimana kalau saudara mati secara mendadak dan tidak sempat bertobat? Saudara akan masuk ke neraka sekali dan selama-lamanya, dan pada saat itu, segala penyesalan / pertobatan tidak ada gunanya.
2. Allah tidak membiarkan dirinya dipermainkan.
Gal 6:7 - “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diriNya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya”.

Kalau saudara sengaja menunda pertobatan saudara dengan maksud supaya saudara bisa menikmati dosa dalam dunia, dan tetap masuk surga, maka ingatlah dan renungkan baik-baik Gal 6:7 ini!

Matthew Henry: “This malefactor, when just ready to fall into the hands of Satan, was snatched as a brand out of the burning, and made a monument of divine mercy and grace, and Satan was left to roar as a lion disappointed of his prey. This gives no encouragement to any to put off their repentance to their death-bed, or to hope that then they shall find mercy; for, though it is certain that true repentance is never too late, it is as certain that late repentance is seldom true” [= Penjahat ini, persis ketika hampir jatuh ke tangan Iblis, direnggut seperti puntung dari api, dan membuat suatu monumen tentang belas kasihan dan kasih karunia ilahi, dan Iblis ditinggalkan meraung seperti seekor singa yang kecewa tentang mangsanya. Ini tidak memberikan dorongan bagi siapapun untuk menunda pertobatan mereka sampai pada ranjang kematian mereka, atau untuk berharap bahwa pada saat itu mereka akan menemukan belas kasihan; karena, sekalipun merupakan sesuatu yang pasti bahwa pertobatan yang sejati tidak pernah terlambat, juga sama pastinya bahwa pertobatan yang lambat jarang merupakan pertobatan yang sejati).

J. C. Ryle: “I know that people are fond of talking about deathbed evidences. They will rest on words spoken in the hour of fear and pain and weakness, as if they might take comfort in them about the friends they lose. But I am afraid in ninety-nine cases out of a hundred such evidences are not to be depended on. I suspect that, with rare exceptions, men die just as they have lived” [= Saya tahu bahwa banyak orang senang membicarakan bukti-bukti ranjang kematian. Mereka bersandar pada kata-kata yang diucapkan pada saat ketakutan dan sakit dan kelemahan, seakan-akan mereka bisa mendapatkan hiburan dalam kata-kata itu tentang sahabat mereka yang hilang / mati. Tetapi saya takut / kuatir bahwa 99 kasus dari 100 bukti-bukti seperti itu tidak bisa diandalkan. Saya menduga bahwa dengan perkecualian yang sangat jarang, orang mati sama seperti mereka telah hidup) - ‘Holiness’, hal 40.

Karena itu, kalau saat ini saudara belum sungguh-sungguh percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat saudara, datanglah dan percayalah kepada Dia sekarang juga! Sama seperti Yesus mau menerima penjahat yang bertobat itu, Ia pasti juga mau menerima saudara, bagaimanapun jahatnya dan berdosanya hidup saudara selama ini!

f) Penjahat yang satu selamat / masuk surga, tetapi penjahat yang lain tidak.

Barnes’ Notes: “Such a result of preaching the gospel would not have been unlike what has often occurred since, where, while the gospel has been proclaimed, one has been ‘taken and another left;’ one has been melted to repentance, another has been more hardened in guilt” [= Hasil pemberitaan Injil seperti itu akan seperti yang telah terjadi sejak saat itu, dimana sementara injil telah diberitakan, ‘yang seorang akan dibawa, dan yang lain akan ditinggalkan’; yang satu dilelehkan pada pertobatan, yang lain lebih dikeraskan dalam kesalahan).

Bdk. Mat 24:40-41 - “(40) Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan; (41) kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan”.

Matthew Henry: “Christ was crucified between two thieves, and in them were represented the different effects which the cross of Christ would have upon the children of men, to whom it would be brought near in the preaching of the gospel. They were all malefactors, all guilty before God. Now the cross of Christ is to some a savour of life unto life, to others of death unto death. To them that perish it is foolishness, but to them that are saved it is the wisdom of God and the power of God” [= Kristus disalibkan di antara dua pencuri, dan dalam diri mereka digambarkan hasil-hasil yang berbeda yang didapatkan oleh salib Kristus terhadap anak-anak manusia, kepada siapa salib itu akan dibawa mendekat dalam pemberitaan Injil. Mereka semua adalah penjahat, semua bersalah di hadapan Allah. Bagi sebagian orang, salib Kristus adalah bau kehidupan yang menghidupkan, bagi yang lain, itu adalah bau kematian yang mematikan. Bagi mereka yang binasa itu adalah kebodohan, tetapi bagi mereka yang diselamatkan itu adalah hikmat Allah dan kekuatan Allah).

2Kor 2:16a - “Bagi yang terakhir kami adalah bau kematian yang mematikan dan bagi yang pertama bau kehidupan yang menghidupkan”.
1Korintus 1:18 - “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah”.

Arthur Pink: “Again; was He not crucified with the two thieves, so that in those three crosses and the ones who hung upon them we might have a vivid and concrete representation of the drama of Salvation and man’s response thereto - the Saviour’s redemption; the sinner repenting and believing; and the sinner reviling and rejecting?” [= Selanjutnya; bukankah Ia tersalib bersama dua pencuri, supaya dalam tiga salib dan orang-orang yang tergantung padanya kita mendapatkan suatu gambaran yang hidup dan konkrit tentang drama dari Keselamatan dan tanggapan manusia terhadapnya - penebusan sang Juruselamat; orang berdosa yang bertobat dan percaya; dan orang berdosa yang memaki-maki dan menolak?) - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 25.

f) Sekalipun penjahat yang bertobat ini selamat / masuk surga pada saat ia mati, tetapi pertobatan / imannya pada saat itu tidak membatalkan hukuman mati yang sedang ia jalani ataupun menghapuskan rasa sakit yang sedang ia derita.

Bdk. Yoh 19:31-32 - “(31) Karena hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib - sebab Sabat itu adalah hari yang besar - maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan. (32) Maka datanglah prajurit-prajurit lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus”.

1. Dalam tradisi penyaliban orang Romawi, mereka membiarkan begitu saja orang yang disalib itu sampai mati. Ini bisa memakan waktu berhari-hari. Setelah orang itu mati, kadang-kadang mereka membiarkan mayat itu begitu saja pada salibnya sebagai peringatan bagi semua orang, dan kadang-kadang mereka menurunkannya dan membiarkan mayat itu dimakan burung pemakan bangkai atau anjing.

Leon Morris (NICNT): “The Roman custom was to leave the bodies of crucified criminals on their crosses as a warning to others. It was therefore necessary to obtain permission before removing a body” [= Kebiasaan Romawi adalah membiarkan mayat-mayat dari orang-orang kriminil yang disalib itu pada salib mereka sebagai suatu peringatan bagi yang lain. Karena itu perlu mendapatkan ijin sebelum menurunkan suatu mayat / tubuh) - hal 817.

William Barclay: “When the Romans carried out crucifixion under their own customs, the victim was simply left to die on the cross. He might hang for days in the heat of the midday sun and the cold of the night, tortured by thirst and tortured also by the gnats and the flies crawling in the weals on his torn back. Often men died raving mad on their crosses. Nor did the Romans bury the bodies of crucified criminals. They simply took them down and let the vultures and the crows and the dogs feed upon them” [= Pada waktu orang Romawi melakukan penyaliban dalam tradisi mereka, korban dibiarkan begitu saja untuk mati pada salib. Ia bisa tergantung selama berhari-hari dalam panasnya matahari pada tengah hari dan dinginnya malam, disiksa oleh kehausan dan disiksa juga oleh serangga dan lalat yang merayap pada punggungnya yang sudah tercabik-cabik. Seringkali orang-orang mati pada salib mereka sambil ngoceh tak karuan seperti orang gila. Juga orang Romawi tidak mengubur mayat-mayat dari penjahat-penjahat yang disalib. Mereka hanya menurunkan mereka dan membiarkan burung pemakan bangkai dan gagak dan anjing memakan mereka) - hal 260.

2. Orang-orang (tokoh-tokoh) Yahudi meminta dilakukannya pematahan kaki dan penurunan mayat dari kayu salib (ay 31). Mengapa?

a. Karena mereka harus mempersiapkan diri untuk masuk hari Sabat (ay 31).
Persiapan Sabat dimulai Jum’at pukul 3 siang.

b. ‘Sabat itu adalah hari yang besar’ (ay 31).
Maksudnya hari itu adalah hari Sabat yang istimewa, karena menjelang / bertepatan dengan Paskah / Passover [=hari peringatan keluarnya orang Israel dari Mesir).

Pulpit Commentary: “on that particular year the weekly sabbath would coincide with the 15th of Nissan, which had a sabbath value of its own” [= pada tahun itu sabbat mingguan bertepatan dengan tanggal 15 dari bulan Nissan, yang mempunyai nilai sabbat sendiri) - hal 436.

c. Mereka tidak mau bahwa pada hari Sabat yang istimewa itu, tanah mereka dinajiskan oleh adanya mayat / orang yang tergantung pada salib.
Bdk. Ul 21:22-23 - “(22) ‘Apabila seseorang berbuat dosa yang sepadan dengan hukuman mati, lalu ia dihukum mati, kemudian kaugantung dia pada sebuah tiang, (23) maka janganlah mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau menguburkan dia pada hari itu juga, sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah; janganlah engkau menajiskan tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu.’”.
Tentang hukum dalam Ulangan 21:22-23 ini, perlu diketahui bahwa pada jaman Perjanjian Lama salib belum dikenal. Karena itu Ul 21:22-23 sebetulnya menunjuk pada hukuman gantung dimana orangnya langsung mati, atau menunjuk kepada orang yang setelah dihukum mati, lalu mayatnya digantung.

Tetapi pada jaman Yesus, hukum ini diterapkan pada penyaliban, yang bisa berlangsung berhari-hari. Bahwa orang yang disalib bisa bertahan berhari-hari, terlihat dari kutipan-kutipan di bawah ini:
· ‘The International Standard Bible Encyclopedia’ dalam article berjudul ‘Cross’ berkata sebagai berikut: “The length of this agony was wholly determined by the constitution of the victim and the extent of the prior flogging, but death was rarely seen before 36 hours had passed” [= Lamanya / panjangnya penderitaan ini sepenuhnya ditentukan oleh keberadaan korban itu secara fisik dan mental dan tingkat pencambukan yang mendahuluinya, tetapi kematian jarang terlihat sebelum 36 jam berlalu).
· Thomas Whitelaw: “When violence was not used, the crucified often lived 24 or 36 hours, sometimes three days and nights” [= Kalau kekerasan tidak digunakan, orang yang disalib sering hidup selama 24 atau 36 jam, kadang-kadang 3 hari 3 malam) - hal 410.
· William Barclay dalam komentarnya tentang Luk 23:32-38 berkata sebagai berikut: “Many a criminal was known to have hung for a week upon his cross until he died raving mad” [= Banyak penjahat diketahui tergantung selama seminggu pada salibnya sampai ia mati sambil mengoceh tidak karuan seperti orang gila).
· Barnes’ Notes: “The law required that the bodies of those who were hung should not remain suspended during the night. See Deut. 21:22-23. That law was made when the punishment by crucifixion was unknown, and when those who were suspended would almost immediately expire. In the punishment by crucifixion, life was lengthened out for four, five, or eight days” [= Hukum Taurat melarang mayat-mayat dari mereka yang digantung tetap tergantung pada malam hari. Lihat Ul 21:22-23. Hukum itu dibuat pada waktu hukuman dengan penyaliban tidak dikenal, dan pada waktu mereka yang digantung akan segera mati. Dalam hukuman dengan penyaliban, hidup diperpanjang sampai empat, lima, atau delapan hari).
· ‘Unger’s Bible Dictionary’ dalam artikel berjudul ‘Crucifixion’ berkata sebagai berikut: “Instances are on record of persons surviving nine days” [= Ada contoh-contoh / kejadian-kejadian yang tercatat dari orang-orang yang bertahan sampai 9 hari).

Bdk. Markus 15:44 - “Pilatus heran waktu mendengar bahwa Yesus sudah mati. Maka ia memanggil kepala pasukan dan bertanya kepadanya apakah Yesus sudah mati”.
Pilatus merasa heran karena Yesus mati dengan begitu cepat, dan ini menunjukkan bahwa biasanya penyaliban membutuhkan waktu lebih lama untuk membunuh korbannya.

d. Kalau orang hukuman itu diturunkan dari salib dalam keadaan masih hidup, maka itu berarti bahwa ia tidak jadi dihukum mati. Karena itulah para tokoh Yahudi itu meminta dilakukan pematahan kaki lebih dulu, supaya orang hukuman itu cepat mati. Setelah orangnya mati, barulah mayatnya diturunkan.

Dari semua ini terlihat bahwa orang-orang Yahudi ini berusaha mentaati peraturan kecil (yaitu Ul 21:22-23), tetapi melanggar peraturan besar, yaitu membunuh Yesus yang tak bersalah. Bandingkan dengan kecaman Yesus terhadap mereka dalam Mat 23:23-24 - “(23) Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. (24) Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan”.

Charles Haddon Spurgeon: “Their consciences were not wounded by the murder of Jesus, but they were greatly moved by the fear of ceremonial pollution. Religious scruples may live in a dead conscience” [= Hati nurani mereka tidak terluka oleh pembunuhan terhadap Yesus, tetapi mereka sangat tergerak oleh rasa takut akan pencemaran yang bersifat upacara. Keberatan agamawi yang kecil-kecil bisa hidup dalam hati nurani yang mati) - ‘A Treasury of Spurgeon on The Life and Work of Our Lord’, vol VI - ‘The Passion and Death of Our Lord’, hal 665.

3. Tentang pematahan kaki.
Para penafsir mengatakan bahwa pematahan kaki orang yang disalib ini dilakukan pada bagian di antara lutut dan pergelangan kaki, dan ini dilakukan dengan menggunakan besi atau martil yang berat. Ini tentu merupakan suatu tindakan yang sangat kejam, karena menimbulkan rasa sakit yang luar biasa, tetapi pematahan kaki ini ‘mengandung kebaikan’ karena hal ini mempercepat kematian.

Pulpit Commentary: “Though a cruel act, it was designed to shorten the sufferings of the crucified” [= Sekalipun merupakan tindakan yang kejam, tindakan ini bertujuan untuk memperpendek penderitaan orang yang disalib) - hal 439.

Pulpit Commentary: “ ... a brutal custom, which added to the cruel shame and torment, even though it hastened the end” [= ... kebiasaan / tradisi yang brutal, yang ditambahkan pada rasa malu dan penyiksaan yang kejam, sekalipun ini mempercepat kematian) - hal 432.

Ada 2 pandangan mengapa pematahan kaki bisa mempercepat kematian:

a. Karena sesak nafas.
Orang yang disalib sukar bernafas, dan setiap mau bernafas harus menjejakkan kakinya untuk mengangkat dadanya ke atas. Pada waktu kaki-kakinya dipatahkan, maka ia tidak lagi bisa melakukan hal ini, dan akan mengalami sesak nafas, yang mempercepat kematiannya.

F. F. Bruce: “The common view today seems to be that the breaking of the legs hastened death by asphyxiation. The weight of the body fixed the thoracic cage so that the lungs could not expel the air which was breathed in, but breathing by diaphragmatic action could continue for a long time so long as the legs, fastened to the cross, provided a point of leverage. When the legs were broken this leverage was no longer available and total asphyxia followed rapidly” [= Kelihatannya pandangan yang umum pada jaman ini adalah bahwa pematahan kaki mempercepat kematian oleh sesak nafas. Berat badan menyebabkan ruang dada tidak bisa dikempiskan sehingga paru-paru tidak dapat mengeluarkan udara yang dihisap, tetapi bernafas dengan menggunakan diafragma bisa dilakukan untuk waktu yang lama selama kaki, yang dipakukan pada salib, memberikan tekanan ke atas. Pada waktu kaki-kaki dipatahkan pengangkatan ke atas ini tidak ada lagi, dan sesak nafas total akan menyusul) - hal 375.

b. Adanya rasa sakit yang luar biasa atau shock / kejutan yang ditimbulkannya, sehingga menyebabkan terjadinya kematian.

Charles Haddon Spurgeon: “... hastening death by the terrible pain which it would cause, and the shock to the system which it would occasion” [= ... mempercepat kematian oleh rasa sakit yang luar biasa yang disebabkannya, dan kejutan pada sistim yang ditimbulkannya) - ‘A Treasury of Spurgeon on The Life and Work of Our Lord’, vol VI, hal 666.

William Hendriksen: “Such breaking of the bones (crurifragium, as it is called) by means of the heavy blows of a hammer or iron was frightfully inhuman. It caused death, which otherwise might be delayed by several hours or even days. Says Dr. S. Bergsma in an article ...: ‘The shock attending such cruel injury to bones can be the coup de grace causing death’” [= Pematahan tulang (disebut dengan istilah crurifragium) dengan cara pemukulan menggunakan martil atau besi merupakan sesuatu yang menakutkan yang tidak manusiawi. Ini menyebabkan kematian, yang sebetulnya bisa ditunda beberapa jam atau bahkan beberapa hari. Kata Dr. S. Bergsma dalam suatu artikel... : ‘Kejutan yang ditimbulkan oleh pelukaan yang kejam pada tulang seperti itu bisa menjadi tindakan yang mengakhiri penderitaan dengan kematian’] - hal 436.

Ada juga yang menggabungkan kedua pandangan di atas.

Leon Morris (NICNT): “The victims of this cruel form of execution could ease slightly the strain on their arms and chests by taking some of their weight on the feet. This helped to prolong their lives somewhat. When the legs were broken this was no longer possible. There was then a greater constriction of the chest, and the death came on more quickly. This was aided also, of course, by the shock attendant on the brutal blows as the legs were broken with a heavy mallet” [= Korban-korban dari hukuman mati yang kejam ini bisa mengurangi sedikit ketegangan pada lengan dan dada mereka dengan memindahkan sebagian berat pada kaki / menekan pada kaki. Ini menolong untuk memperpanjang hidup mereka. Pada saat kaki mereka dipatahkan ini tidak lagi mungkin dilakukan. Karena itu lalu terjadi kesesakan yang lebih besar pada dada, dan kematian datang lebih cepat. Tentu saja ini didukung pula oleh kejutan yang menyertai pukulan-pukulan brutal pada saat kaki-kaki mereka dipatahkan dengan martil yang berat) - hal 817-818.

Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘Crucifixion’: “Death, apparently caused by exhaustion or by heart failure, could be hastened by shattering the legs (crurifragium) with an iron club, so that shock and asphyxiation soon ended his life” [= Kematian, rupanya disebabkan oleh kehabisan tenaga atau oleh gagal jantung, bisa dipercepat oleh penghancuran kaki-kaki (crurifragium) dengan suatu pentungan besi, sehingga kejutan / shock dan sesak nafas segera mengakhiri hidupnya].

4. Para tentara Romawi lalu mematahkan kaki dari 2 penjahat yang disalib bersama Yesus (ay 32).

a. Sesuatu yang penting diperhatikan dalam bagian ini adalah bahwa penjahat yang bertobat mengalami nasib yang sama dengan penjahat yang tidak bertobat. Tuhan tidak lalu mengadakan ‘rapture’ [= pengangkatan) bagi dia sebelum hal itu dilakukan!

Matthew Henry: “One of these thieves was a penitent, and had received from Christ an assurance that he should shortly be with him in paradise, and yet died in the same pain and misery that the other thief did” [= Satu dari pencuri-pencuri ini bertobat, dan telah menerima dari Kristus suatu jaminan bahwa ia akan segera bersamaNya di Firdaus / surga, tetapi ia mati dengan rasa sakit dan kesengsaraan yang sama seperti yang dirasakan oleh pencuri yang lain).

Charles Haddon Spurgeon: “It is a striking fact that the penitent thief, although he was to be in Paradise with the Lord that day, was not, therefore, delivered from the excruciating agony occasioned by the breaking of his legs. We are saved from eternal misery, not from temporary pain. ... You must not expect because you are pardoned, even if you have the assurance of it from Christ’s own lips, that, therefore, you shall escape tribulation” [= Adalah merupakan fakta yang menyolok bahwa pencuri / penjahat yang bertobat, sekalipun akan bersama dengan Tuhan di Firdaus pada hari itu, tidak dibebaskan dari penderitaan yang menyakitkan yang ditimbulkan oleh pematahan kakinya. Kita diselamatkan dari kesengsaraan kekal, bukan dari rasa sakit sementara. ... Engkau tidak boleh mengharapkan, karena engkau diampuni, bahkan jika engkau mendapatkan keyakinan tentangnya dari bibir Kristus sendiri, bahwa karena itu engkau akan lolos dari kesengsaraan) - ‘A Treasury of Spurgeon on The Life and Work of Our Lord’, vol VI - ‘The Passion and Death of Our Lord’, hal 666.

Penerapan:
· Seorang kristen berkata kepada saya bahwa menurut dia 5 orang kristen yang mati dibakar di Situbondo pada beberapa waktu yang lalu itu, pasti tidak merasa sakit. Sebelum mereka merasa sakit, Tuhan sudah ‘mengangkat’ mereka. Saya sama sekali tidak yakin akan kebenaran kata-kata yang tidak mempunyai dasar Kitab Suci ini!
· Kalau ada gempa bumi, banjir, atau bencana lain apapun juga, jangan heran kalau gereja / orang kristen juga terkena. Tuhan memang bisa menghindarkan hal itu dari gereja / orang kristen, dan kadang-kadang Ia melakukan hal itu, tetapi seringkali Ia membiarkan orang kristen terkena bencana bersama-sama dengan orang kafir!

b. Sekalipun pematahan kaki ini memberi penderitaan yang luar biasa bagi penjahat yang bertobat itu, tetapi pematahan kaki ini juga dipakai oleh Tuhan untuk memberi berkat kepadanya, karena melalui pematahan kaki ini ia mati pada hari itu juga, sehingga kata-kata / janji Yesus kepadanya dalam Luk 23:43 tergenapi.

Charles Haddon Spurgeon: “Suffering is not averted, but it is turned into a blessing. The penitent thief entered into Paradise that very day, but it was not without suffering; say, rather, that the terrible stroke was the actual means of the prompt fulfilment of his Lord’s promise to him. By that blow he died that day; else might he have lingered long” [= Penderitaan tidak dicegah / dihindarkan, tetapi penderitaan itu diubah menjadi suatu berkat. Pencuri yang bertobat itu masuk ke Firdaus hari itu juga, tetapi itu tidak terjadi tanpa penderitaan; sebaliknya pukulan yang mengerikan itu merupakan jalan / cara yang sebenarnya untuk penggenapan yang tepat dari janji Tuhannya kepadanya. Oleh pukulan itu ia mati pada hari itu; kalau tidak ia mungkin akan tetap hidup lama) - ‘A Treasury of Spurgeon on The Life and Work of Our Lord’, vol VI, hal 666.

Calvin: “What is promised to the robber does not alleviate his present sufferings, nor make any abatement of his bodily punishment. This reminds us that we ought not to judge of the grace of God by the perception of the flesh; for it will often happen that those to whom God is reconciled are permitted by him to be severely afflicted. So then, if we are dreadfully tormented in body, we ought to be on our guard lest the severity of pain hinder us from tasting the goodness of God; but, on the contrary, all our afflictions ought to be mitigated and soothed by this single consolation, that as soon as God has received us into his favor, all the afflictions which we endure are aids to our salvation. This will cause our faith not only to rise victorious over all our distresses, but to enjoy calm repose amidst the endurance of sufferings” [= Apa yang dijanjikan kepada perampok itu tidak mengurangi penderitaannya pada saat itu, ataupun mengurangi / meredakan hukuman fisiknya. Ini mengingatkan kita bahwa kita tidak boleh menilai kasih karunia Allah oleh penglihatan / pemahaman daging; karena akan sering terjadi bahwa mereka dengan siapa Allah diperdamaikan diijinkan untuk menderita secara hebat. Jadi, kalau kita disiksa secara menakutkan secara fisik, kita harus berjaga-jaga supaya jangan hebatnya rasa sakit menghalangi kita untuk mengecap / merasakan kebaikan Allah; tetapi sebaliknya, seluruh penderitaan kita harus dikurangi / diredakan dan ditenangkan oleh penghiburan tunggal ini, bahwa begitu Allah telah menerima kita ke dalam kebaikanNya, semua penderitaan yang kita alami adalah penolong-penolong ke arah keselamatan kita. Ini akan menyebabkan iman kita bukan hanya naik dan menang atas semua penderitaan kita, tetapi juga menikmati istirahat / ketenangan di tengah-tengah penderitaan).

Kalimat ketiga Yohanes 19:25-27

Yoh 19:25-27: “(25) Dan dekat salib Yesus berdiri ibuNya dan saudara ibuNya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. (26) Ketika Yesus melihat ibuNya dan murid yang dikasihiNya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibuNya: ‘Ibu, inilah, anakmu!’ (27) Kemudian kataNya kepada muridNya: ‘Inilah ibumu!’ Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.”.

1) “Dan dekat salib Yesus”.
Apakah Yohanes bertentangan dengan Matius dan Markus? Injil Yohanes mengatakan bahwa perempuan-perempuan itu berada dekat dengan salib Yesus, tetapi Matius dan Markus mengatakan bahwa perempuan-perempuan itu melihat semua itu dari jauh.
Matius 27:55 - “Dan ada di situ banyak perempuan yang melihat dari jauh, yaitu perempuan-perempuan yang mengikuti Yesus dari Galilea untuk melayani Dia”.
Markus 15:40 - “Ada juga beberapa perempuan yang melihat dari jauh, di antaranya Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus Muda dan Yoses, serta Salome”.

Penjelasan / pengharmonisan: Ini sama sekali bukan kontradiksi. Bisa saja mula-mula mereka melihat dari jauh, tetapi lalu mendekat, atau sebaliknya.
Thomas Whitelaw: “the women, though afar off at first, may have gradually approached, ... Or, they may have been at first near the cross and afterwards withdrawn to a distance when John, with Jesus’s mother, had departed” [= perempuan-perempuan itu, sekalipun mula-mula ada di kejauhan, mungkin / bisa telah mendekat secara perlahan-lahan, ... Atau, mungkin mereka mula-mula dekat dengan salib dan setelah itu menarik diri pada suatu jarak, pada saat Yohanes meninggalkan tempat itu dengan ibu Yesus] - hal 407.

2) ‘berdiri ibuNya dan saudara ibuNya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena’.
Bandingkan dengan:
Mark 15:40 - “Ada juga beberapa perempuan yang melihat dari jauh, di antaranya Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus Muda dan Yoses, serta Salome”.
Mat 27:56 - “Di antara mereka terdapat Maria Magdalena, dan Maria ibu Yakobus dan Yusuf, dan ibu anak-anak Zebedeus”.

a) ‘saudara ibuNya’.
Calvin: “He says, that she was the sister of the mother of Jesus, and, in saying so, he adopts the phraseology of the Hebrew language, which includes cousins, and other relatives, under the term ‘brothers’” [= Ia berkata bahwa ia adalah saudara perempuan dari ibu Yesus, dan dengan berkata demikian, ia mengadopsi suatu istilah dalam bahasa Ibrani, yang mencakup saudara sepupu, dan anggota-anggota keluarga yang lain, dalam istilah ‘saudara-saudara’] - hal 232.

Penjelasan seperti ini juga sering dipakai oleh Gereja Roma Katolik untuk menjelaskan tentang ‘saudara-saudara Yesus’ (Mat 13:55-56). Tetapi perlu diketahui bahwa dalam bahasa Yunani ada istilah ‘saudara sepupu’, yaitu ANEPSIOS, yang muncul dalam Kol 4:10.
Kolose 4:10 - “Salam kepada kamu dari Aristarkhus, temanku sepenjara dan dari Markus, kemenakan (saudara sepupu) Barnabas - tentang dia kamu telah menerima pesan; terimalah dia, apabila dia datang kepadamu”.
KJV: ‘sister’s son’ [= anak dari saudara perempuan]. Ini juga sama salahnya.
RSV/NIV/NASB: ‘cousin’ [= saudara sepupu].
Barclay dan beberapa penafsir lain menganggap bahwa kata ‘saudara’ di sini betul-betul berarti ‘saudara’. Jadi, Yesus adalah saudara sepupu dari Yohanes dan Yakobus.

b) ‘Maria, istri Klopas’.
Kata-kata ‘Maria, istri Klopas’ secara hurufiah adalah ‘Mary of Clopas’. Jadi sebetulnya ia belum tentu adalah ‘istri dari Klopas’, tetapi bisa ‘ibu dari Klopas’, atau ‘saudara perempuan dari Klopas’.

Adam Clarke: “‘Mary the wife of Cleophas.’ She is said, in Matt. 27:56 (see the note there), and Mark 15:40, to have been the mother of James the Less, and of Joses; and this James her son is said, in Matt. 10:3, to have been the son of Alpheus; hence, it seems that Alpheus and Cleopas were the same person. To which may be added, that Hegesippus is quoted by Eusebius, Hist. Eccles. l. 3 c. 11, as saying that Cleopas was the brother of Joseph, the husband of the virgin. Theophylact says that Cleopas, (brother of Joseph, the husband of the virgin), having died childless, his brother Joseph married his widow, by whom he had four sons, called by the evangelists the brothers of our Lord, and two daughters, the one named Salome, the other Mary, the daughter of Cleopas, because she was his daughter according to law, though she was the daughter of Joseph according to nature. There are several conjectures equally well founded with this last to be met with in the ancient commentators; but, in many cases, it is very difficult to distinguish the different Marys mentioned by the evangelists” [= ‘Maria istri Klopas’. Ia dikatakan, dalam Mat 27:56 (lihat catatan di sana), dan Mark 15:40, sebagai ibu dari Yakobus Muda dan Yoses; dan Yakobus anaknya ini dikatakan dalam Mat 10:3 sebagai anak dari Alfeus; dan karena itu kelihatannya Alfeus dan Klopas adalah orang yang sama. Terhadap mana bisa ditambahkan, bahwa Hegesippus dikutip oleh Eusebius, Hist. Eccles. l. 3 c. 11, sebagai mengatakan bahwa Klopas adalah saudara dari Yusuf, suami dari sang perawan (Maria). Theophylact mengatakan bahwa Klopas, (saudara dari Yusuf, suami dari sang perawan), mati tanpa anak, dan saudaranya Yusuf menikahi jandanya, dari siapa ia mendapatkan 4 anak laki-laki, yang disebut oleh para penginjil sebagai saudara-saudara laki-laki dari Tuhan kita, dan 2 anak perempuan, yang satu bernama Salome dan yang lain Maria, anak perempuan dari Klopas, karena ia adalah anak perempuannya berdasarkan hukum, sekalipun ia adalah anak perempuan dari Yusuf secara alamiah. Ada beberapa dugaan yang mempunyai dasar yang sama baiknya dengan yang terakhir ini yang ditemui dalam penafsir-penafsir kuno; tetapi, dalam banyak kasus, adalah sangat sukar untuk membedakan Maria-Maria yang berbeda yang disebutkan oleh penginjil-penginjil itu].

Catatan: yang dimaksud dengan ‘penginjil-penginjil’ di sini adalah penulis dari kitab-kitab Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes).

A. T. Robertson: “It is not clear whether the sister of the mother of Jesus is Salome the mother of the sons of Zebedee or the wife of Clopas. If so, two sisters have the name Mary and James and John are cousins of Jesus. The point cannot be settled with our present knowledge” [= Tidak jelas apakah saudara perempuan dari ibu Yesus adalah Salome, ibu dari anak-anak Zebedeus, atau istri dari Klopas. Jika demikian, 2 saudara perempuan mempunyai nama ‘Maria’, dan Yakobus dan Yohanes adalah saudara sepupu dari Yesus. Hal ini tidak bisa ditentukan dengan pengetahuan kita pada saat ini].

c) ‘Maria Magdalena’.

1. Entah dari mana asal usulnya, tetapi ada banyak orang yang menganggap bahwa Maria Magdalena adalah perempuan berdosa yang mengurapi Yesus, yang diceritakan dalam Lukas 7:36-50. William Hendriksen mengatakan bahwa Maria Magdalena bukanlah perempuan yang diceritakan dalam Luk 7:36-50, dan jelas bahwa kata-katanya benar.
Pdt. Yesaya Pariadji dari GBI Tiberias bahkan menganggap bahwa pelacur yang dibawa kepada Yesus dalam Yoh 8:1-11 adalah Maria Magdalena (Majalah ‘Tiberias’, Edisi V / 2001, hal 18, kolom 2,3). Ini ngawur, dan merupakan fitnahan!

2. Maria Magdalena adalah seorang perempuan yang pernah dilepaskan oleh Yesus dari tujuh setan (Mark 16:9 Lukas 8:2).
Luk 8:2 - “dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat”.

Calvin: “We see that it was not in vain that Mary Magdalene was delivered from seven devils, (Mark 16:9; Luke 8:2;) since she showed herself, to the last, to be so faithful a disciple to Christ” [= Kita melihat bahwa tidaklah sia-sia bahwa Maria Magdalena dibebaskan dari tujuh setan (Mark 16:9; Luk 8:2); karena ia menunjukkan dirinya sendiri, sampai akhir, sebagai murid yang begitu setia dari Kristus] - hal 232.

Penerapan: saudara mungkin tidak pernah dibebaskan dari 7 setan seperti Maria Magdalena, tetapi kalau saudara betul-betul adalah orang kristen yang sejati, maka saudara sudah dibebaskan dari neraka. Bukankah juga seharusnya saudara mempunyai kesetiaan seperti Maria? Cobalah periksa / introspeksi bagaimana kesetiaan saudara dalam hal:
· belajar Firman Tuhan.
· bersaat teduh.
· berdoa.
· menguduskan diri / menahan diri dari dosa.
· melayani.
· memberitakan Injil.
· memberi persembahan persepuluhan.

d) Pujian bagi 4 perempuan di dekat salib.
Barclay mengatakan (hal 255) bahwa ada penafsir-penafsir yang mengatakan bahwa pada jaman itu perempuan begitu tidak penting sehingga tidak seorangpun akan mempedulikan kehadiran para perempuan ini di dekat salib, dan dengan demikian tidak ada resiko terhadap kehadiran mereka di sana. Barclay tidak setuju dengan penafsiran tersebut.

William Barclay: “It was always a dangerous thing to be an associate of a man whom the Roman government believed to be so dangerous that he deserved a Cross. It is always a dangerous thing to demonstrate one’s love for someone whom the orthodox regard as a heretic. The presence of these women at the Cross was not due to the fact that they were so unimportant that no one would notice them; their presence was due to the fact that perfect love casts out fear” [= Selalu merupakan sesuatu yang berbahaya untuk menjadi teman / rekan dari seseorang yang dipercaya oleh pemerintah Romawi sebagai begitu berbahaya sehingga Ia layak mendapatkan salib. Selalu merupakan sesuatu yang berbahaya untuk menunjukkan kasih seseorang untuk seseorang yang dianggap sebagai sesat oleh orang-orang yang ortodox. Kehadiran dari perempuan-perempuan ini pada salib bukanlah disebabkan karena fakta bahwa mereka adalah begitu tidak penting sehingga tidak seorangpun akan memperhatikan mereka; kehadiran mereka disebabkan oleh fakta bahwa kasih yang sempurna membuang ketakutan] - ‘The Gospel of John’, vol 2, hal 255.

Catatan: kalimat terakhir kelihatannya dikutip dari 1Yohanes 4:18, dan kalau itu benar, maka saya berpendapat bahwa ayat itu digunakan secara ‘out of context’, karena rasa takut yang dibicarakan dalam 1Yoh 4:18 itu adalah rasa takut terhadap penghakiman pada akhir jaman.
1Yoh 4:17-18 - “(17) Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini. (18) Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih”.

Tentang perempuan-perempuan yang tetap mengikut Kristus sampai pada kayu salib ini Calvin memberikan komentar sebagai berikut: “How shameful will it be, if the dread of the cross deters us from following Christ, when the glory of his resurrection is placed before our eyes, whereas the women beheld in it nothing but disgrace and cursing!” [= Alangkah memalukannya jika rasa takut terhadap salib menahan kita dari mengikuti Kristus, pada waktu kemuliaan dari kebangkitanNya diletakkan di depan mata kita, sedangkan perempuan-perempuan itu tidak melihat apapun di dalamnya selain aib dan kutuk!] - hal 232.

Penjelasan: maksud Calvin adalah: pada saat itu perempuan-perempuan itu belum melihat kebangkitan Kristus. Yang terlihat hanya aib dan kutuk pada diri Kristus. Tetapi mereka toh menunjukkan kesetiaan dan keberanian yang luar biasa dalam mengikut Kristus. Sedangkan kita pada jaman ini, kita sudah melihat bahwa setelah Kristus mati, Ia bangkit, naik ke surga dan sebagainya. Kalau kita ternyata tidak mempunyai keberanian / kesetiaan dalam mengikut Kristus, maka itu betul-betul memalukan!
Renungkan: dalam hal apa rasa takut menahan diri saudara dalam ikut Kristus?

Jamieson, Fausset & Brown: “These dear women clustered around the cross; and where else should one expect them? The male disciples might be consulting for their own safety (though John was not); but those precious women would have died sooner than be absent from this scene” [= Perempuan-perempuan yang kekasih ini berkerumun di sekitar salib; dan dimana lagi seseorang mengharapkan mereka berada? Murid-murid laki-laki mungkin berkonsultasi dengan keamanan mereka sendiri (sekalipun Yohanes tidak); tetapi perempuan-perempuan yang berharga itu lebih baik mati lebih cepat dari pada absen dari adegan / peristiwa ini].

Pulpit Commentary: “It was one thing to stand by him in his hour of joy and triumph, in the day of his power and the exploits of his loving strength, when the heaven opened and streamed upon him its glory; ... when at his bidding diseases fled, and demons quitted their dark haunts; when the storm was hushed, and the waves crouched at his voice; when food increased under his hands, and even Death gave up his prey when he spoke. But it is another thing to stand by him on a cross, when hell besieged him with its torments, heaven seemed closed to his breathing, and Divinity itself seemed to have deserted him. ... It is one thing to stand by Jesus, one of many; but it is another to stand by him, one of four. It is one thing to follow him with faithful disciples and a jubilant crowd; but it is another to stand alone by his cross” [= Berdiri di dekatNya pada saat sukacita dan kemenangan, pada saat kuasaNya dan kekuatanNya yang penuh kasih dimanfaatkan, pada waktu langit terbuka dan mengalirkan kemuliaannya kepadaNya; ... pada waktu atas permintaanNya penyakit hilang, dan setan-setan meninggalkan tempat-tempat gelap yang sering mereka kunjungi; pada waktu badai ditenangkan, dan gelombang meringkuk oleh suaraNya; pada waktu makanan bertambah banyak dalam tanganNya, dan bahkan Kematian menyerahkan mangsanya pada waktu Ia berbicara, sangat berbeda dengan berdiri di dekatNya pada salib, pada saat neraka mengepungNya dengan siksaannya, langit kelihatannya tertutup terhadap kata-kataNya, dan keIlahian sendiri kelihatannya meninggalkan Dia. .... Berdiri di dekat Yesus, satu dari banyak orang; sangat berbeda dengan berdiri di dekatNya, satu dari empat. Mengikut Dia bersama-sama dengan murid-murid yang setia dan orang banyak yang bergembira, sangat berbeda dengan berdiri sendirian pada salib] - hal 452.

Penerapan: mungkin saudara tetap setia, beriman, berani dalam keadaan enak dan banyak teman. Tetapi bagaimana kalau keadaan menjadi tidak enak, membahayakan dan saudara sendirian? Apakah saudara tetap mau setia, beriman dan berani dalam mengikut Kristus?

e) Kadang-kadang apa yang dilakukan oleh 4 perempuan ini merupakan hal maximal yang bisa kita lakukan.
Pulpit Commentary: “They were helpless, and could render no assistance. They could make no progress; still they stood their ground, and manifested their undying and unconquerable attachment. They clung to Jesus for his own sake apart from circumstances. Like them, let us do what we can, and advance as far as possible, and, when we cannot go any further, let us stand; and, indeed, in the hour of direst temptation the utmost we can do is to stand our ground” [= Mereka tidak berdaya, dan tidak bisa memberikan pertolongan. Mereka tidak bisa membuat kemajuan; tetapi mereka tetap berdiri di tempat mereka / mempertahankan posisi mereka, dan menyatakan kasih mereka yang tidak bisa mati dan tidak bisa dikalahkan. Mereka berpegang erat-erat kepada Yesus demi Dia tak peduli bagaimana keadaannya. Seperti mereka, marilah kita melakukan apa yang bisa kita lakukan, dan maju sejauh mungkin, dan pada waktu kita tidak bisa maju lebih jauh lagi, biarlah kita tetap berdiri, dan memang, pada saat pencobaan yang paling menakutkan, hal terbesar yang bisa kita lakukan adalah berdiri di tempat kita / mempertahankan posisi kita] - hal 453.

Penerapan: kalau saudara sedang terbelit problem-problem yang banyak dan besar, sehingga rasanya sudah tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan tidak bisa belajar Firman Tuhan, berdoa, melayani dsb, maka yang bisa dilakukan hanyalah berdiam diri, dan berpegang kepada Yesus. Maka lakukan itu, sampai Tuhan berkenan menolong / memberikan kelegaan kepada saudara!

3) “Ketika Yesus melihat ibuNya dan murid yang dikasihiNya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibuNya: ‘Ibu, inilah, anakmu!’ Kemudian kataNya kepada muridNya: ‘Inilah ibumu!’ Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya’”.

a) Penterjemahan ‘ibu’.
Dalam kata-kata Yesus kepada Maria, kata ‘ibu’ salah terjemahan, seharusnya adalah terjemahannya adalah ‘woman’ [= perempuan].
Semua kata ‘ibu’ dalam Yohanes 19:25-27 ini menggunakan kata METER yang memang berarti ‘ibu / mama’, kecuali kata ‘ibu’ dalam kalimat yang diucapkan Yesus kepada Maria. Di situ digunakan kata Yunani GUNAI, yang sebetulnya berarti ‘perempuan’. Bandingkan dengan terjemahan KJV di bawah ini.

KJV: ‘Now there stood by the cross of Jesus his mother, and his mother’s sister, Mary the wife of Cleophas, and Mary Magdalene. When Jesus therefore saw his mother, and the disciple standing by, whom he loved, he saith unto his mother, Woman, behold thy son! Then saith he to the disciple, Behold thy mother! And from that hour that disciple took her unto his own home’ [= Di dekat salib Yesus berdiri ibuNya, dan saudara perempuan ibuNya, Maria istri Kleopas / Klopas, dan Maria Magdalena. Pada waktu Yesus melihat ibuNya, dan murid yang dikasihiNya berdiri di dekatnya, Ia berkata kepada ibuNya: Perempuan, lihatlah anakmu! Lalu Ia berkata kepada murid itu: Lihatlah ibumu! Dan sejak jam / saat itu murid itu membawanya ke rumahnya sendiri].

Mengapa Yesus tidak menyebut nama Maria ataupun memanggil ‘ibu / mama’, tetapi ‘woman’ [= perempuan]? Calvin mengatakan ada penafsir-penafsir yang mengatakan bahwa Yesus di sini tidak menggunakan kata ‘ibu / mama’ supaya tidak makin menyakiti hati Maria, yang pada saat itu memang sudah sangat sakit melihat Anaknya menderita seperti itu. Salah satu dari para penafsir yang mempunyai pandangan seperti itu adalah Matthew Henry.

Matthew Henry: “he calls her ‘woman,’ not ‘mother,’ not out of any disrespect to her, but because ‘mother’ would have been a cutting word to her that was already wounded to the heart with grief” [= Ia memanggilnya ‘perempuan’, bukan ‘ibu / mama’, bukan karena rasa tidak hormat kepadanya, tetapi karena kata ‘ibu / mama’ akan merupakan suatu kata yang melukai / mengiris baginya yang sudah dilukai sampai pada hatinya dengan kesedihan].

Menurut saya kata-kata seperti ini tidak punya dasar, karena:
1. Disebut ‘mama’ atau tidak, tidak akan mengurangi kesadaran Maria bahwa yang sedang terpaku di atas kayu salib itu adalah Anaknya!
2. Bukan hanya dalam bagian ini saja, tetapi juga dalam seluruh Kitab Suci, Yesus tidak pernah memanggil Maria dengan sebutan ‘ibu / mama’. Juga dalam perjamuan di Kana, Yesus sudah menyebut Maria dengan sebutan ‘perempuan’.
Yoh 2:4 - “Kata Yesus kepadanya: ‘Mau apakah engkau dari padaKu, ibu (perempuan)? SaatKu belum tiba.’”.

Calvin sendiri tidak menolak pandangan itu, tetapi ia beranggapan bahwa ada dugaan lain yang juga memungkinkan.

Calvin: “Christ intended to show that, after having completed the course of human life, he lays down the condition in which he had lived, and enters into the heavenly kingdom, where he will exercise dominion over angels and men; for we know that Christ was always accustomed to guard believers against looking at the flesh, and it was especially necessary that this should be done at his death” [= Kristus bermaksud untuk menunjukkan bahwa setelah menyelesaikan perjalanan hidupNya sebagai manusia, Ia meletakkan keadaan dalam mana Ia telah hidup, dan masuk ke dalam kerajaan surga, dimana Ia akan berkuasa atas malaikat-malaikat dan manusia; karena kita tahu bahwa Kristus selalu terbiasa untuk menjaga orang-orang percaya terhadap pandangan kepada daging, dan merupakan sesuatu yang perlu secara khusus bahwa hal ini dilakukan pada kematianNya] - hal 233.

Jadi, maksudnya supaya manusia tidak memandang Kristus secara daging, yaitu sekedar sebagai ‘anak dari Maria’.

William Hendriksen mempunyai pandangan yang mirip, tetapi ia menujukan itu kepada Maria.
William Hendriksen: “the use of the word ‘woman’ ... Mary must no longer think of him as being merely her son; ... Mary must begin to look upon Jesus as her Lord” [= penggunaan kata ‘perempuan’ ... Maria tidak boleh berpikir tentang Dia sebagai semata-mata Anaknya; ... Maria harus mulai memandang kepada Yesus sebagai Tuhannya] - hal 433.

Saya lebih setuju dengan pandangan lain lagi, yang saya berikan di bawah ini.

J. C. Ryle: “I firmly believe that, even on the cross, Jesus foresaw the future heresy of ‘Mary-worship.’ Therefore He said ‘Woman,’ and did not say ‘Mother.’” [= Saya percaya dengan teguh bahwa, bahkan di kayu salib, Yesus melihat lebih dulu kesesatan yang akan datang tentang penyembahan terhadap Maria. Karena itu Ia berkata ‘Perempuan’, dan bukannya berkata ‘Ibu / Mama’] - ‘Expository Thoughts on the Gospels’, (John volume III), hal 352.

Arthur W. Pink: “So far as the record of the four Gospels go, never once did He call her ‘Mother.’ For us who live today, the reason for this is not hard to discern. Looking down the centuries with His omniscient foresight and seeing the awful system of Mariolatry so soon to be erected, He refrained from using a word which would in any wise countenance this idolatry - the idolatry of rendering to Mary the homage which is due alone her Son; the idolatry of worshipping her as ‘The Mother of God.’” [= Sejauh dari yang ada dalam catatan dari ke empat Injil, tidak sekalipun Ia menyebutnya ‘Ibu / Mama’. Bagi kita yang hidup pada jaman sekarang, alasannya tidak sukar untuk dilihat. Melihat pada abad-abad yang akan datang dengan penglihatan / pengetahuan lebih duluNya yang maha tahu, dan melihat sistim yang mengerikan dari penyembahan kepada Maria yang akan ditegakkan dengan begitu cepat, Ia menahan diri dari menggunakan suatu kata yang dengan cara apapun akan menyetujui / mendukung pemberhalaan ini - pemberhalaan dari pemberian kepada Maria penghormatan yang seharusnya hanya adalah milik dari Anaknya; pemberhalaan dari penyembahan terhadapnya sebagai ‘Ibu / Bunda Allah’] - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 53.

Catatan: Perlu ditekankan bahwa istilah ‘bunda Allah’ dipertahankan oleh sidang gereja di Efesus pada tahun 431 M., bukan untuk meninggikan / memuliakan Maria, tetapi untuk menunjuk­kan persatuan yang tidak terpisahkan antara hakekat ilahi dan hakekat manusia dalam diri Kristus. Jadi kalau setelah itu gereja Roma Katolik menggunakan istilah ‘bunda Allah’ itu untuk meninggikan / memuliakan Maria, maka itu adalah sesuatu yang salah, yang sama sekali tidak dimaksudkan oleh sidang gereja di Efesus itu.

b) Penafsiran salah / sesat dari Gereja Roma Katolik tentang penderitaan Maria pada saat itu.
Pada saat Maria melihat Anaknya menderita dan mati di salib, jelas ia sangat menderita.

1. Ini merupakan penggenapan nubuat.
Pulpit Commentary (hal 438) dan beberapa penafsir lain secara benar mengatakan bahwa pada saat ini Maria mengalami penggenapan nubuat Simeon dalam Luk 2:35 - “- dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri -, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.’”.

Matthew Henry: “we may easily suppose what an affliction it was to these poor women to see him thus abused, especially to the blessed virgin. Now was fulfilled Simeon’s word, A sword shall pierce through thy own soul, Lu. 2:35. His torments were her tortures; she was upon the rack, while he was upon the cross; and her heart bled with his wounds; and the reproaches wherewith they reproached him fell on those that attended him” [= kita bisa menduga dengan mudah penderitaan apa hal itu bagi perempuan-perempuan ini yang melihatNya diperlakukan seperti itu, khususnya bagi perawan yang diberkati (Maria). Sekarang tergenapi nubuat Simeon, ‘suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri’, Luk 2:35. SiksaanNya merupakan siksaan Maria; ia sedang tersiksa sementara Ia ada di kayu salib; dan hatinya berdarah oleh luka-lukaNya; dan cela dengan mana mereka mencela Dia jatuh kepada mereka yang menyertaiNya].

2. Sekalipun kita memang setuju bahwa Maria memang menderita pada saat itu, tetapi kita menolak pandangan sesat yang mengatakan bahwa dengan penderitaannya itu Maria ikut menebus dosa manusia.
Asal usul ajaran sesat ini:
a. Justin Martyr (mati pada tahun 165 M) membandingkan Maria dengan Hawa, dan Ireneaus (mati pada tahun 202 M) berkata bahwa ketidak-taatan perawan Hawa ditebus oleh ketaatan perawan Maria (Loraine Boettner, ‘Roman Catholicism’, hal 136).
b. Ajaran Justin Martyr dan Ireneaus ini dikembangkan lagi, sehingga Gereja Roma Katolik lalu berkata bahwa sebagaimana dosa pertama masuk ke dalam dunia melalui seorang perempuan (yaitu Hawa), demikian juga keselamatan itu datang melalui seorang perempuan (yaitu Maria).
c. Paus Benedict XV (1914-1922) & Paus Pius XI (1923) mengatakan bahwa pada waktu Tuhan Yesus menderita dan mati, Maria juga mende­rita, dan karena itu, bersama-sama dengan Tuhan Yesus, Maria adalah penebus dosa [Kalau Yesus adalah Redeemer [= Penebus), maka Maria adalah Co-redeemer [= Rekan penebus)] - Loraine Boettner, ‘Roman Catholicism’, hal 151.

Gereja Roma Katolik memang menganggap Maria sebagai ‘pengantara’ dan ‘mempunyai peranan dalam menyelamatkan kita’, dan ini terlihat dari ‘Catechism of the Catholic Church’ yang dikeluarkan tahun 1992.

· No 968: “Her role in relation to the Church and to all humanity goes still further. ‘In a wholly singular way she cooperated by her obedience, faith, hope, and burning charity in the Savior’s work of restoring supernatural life to souls. For this reason she is a mother to us in the order of grace.’” [= Peranannya berhubungan dengan Gereja dan dengan seluruh kemanusiaan masih lebih jauh lagi. ‘Dengan cara yang sepenuhnya istimewa, ia bekerja sama oleh ketaatannya, imannya, pengharapannya, dan kasihnya yang berkobar-kobar dalam pekerjaan sang Juruselamat untuk memulihkan kehidupan dari jiwa-jiwa. Untuk alasan ini ia adalah seorang ibu bagi kita dalam urutan kasih karunia].

· No 969: “This motherhood of Mary in the order of grace continues uninterruptedly from the consent which she loyally gave at the Annunciation and which she sustained without wavering beneath the cross, until the eternal fulfilment of all the elect. Taken up to heaven she did not lay aside this saving office but by her manifold intercession continues to bring us the gifts of eternal salvation .... Therefore the Blessed Virgin is invoked in the Church under the titles of Advocate, Helper, Benefactress, and Mediatrix” [= Keibuan dari Maria dalam urutan kasih karunia berlanjut secara tak terganggu dari persetujuan yang dengan setia ia berikan pada saat pengumuman / pemberitaan (oleh Gabriel) dan yang ia teruskan tanpa ragu-ragu di bawah kayu salib, sampai penggenapan kekal dari semua orang-orang pilihan. Pada waktu diangkat ke surga, ia tidak mengesampingkan tugas penyelamatan ini tetapi oleh syafaatnya yang bermacam-macam ia melanjutkan untuk membawa kepada kita karunia-karunia keselamatan yang kekal ... Karena itu, Perawan yang terpuji / diberkati disebut di dalam Gereja dengan gelar-gelar Advokat, Penolong, Dermawan, dan Pengantara].

· No 970: “Mary’s function as mother of men in no way obscures or diminishes this unique mediation of Christ, but rather shows its power. But the Blessed Virgin’s salutary influence on men . . . flows forth from the superabundance of the merits of Christ, rests on his mediation, depends entirely on it, and draws all its power from it. ‘No creature could ever be counted along with the Incarnate Word and Redeemer; but just as the priesthood of Christ is shared in various ways both by his ministers and the faithful, and as the one goodness of God is radiated in different ways among his creatures, so also the unique mediation of the Redeemer does not exclude but rather gives rise to a manifold cooperation which is but a sharing in this one source.’” [= Fungsi dari Maria sebagai ibu dari manusia sama sekali tidak mengaburkan atau mengurangi pengantaraan yang unik dari Kristus, tetapi sebaliknya menunjukkan kuasanya. Tetapi pengaruh yang bermanfaat dari Perawan yang terpuji / diberkati pada manusia ... mengalir dari kelimpahan dari jasa Kristus, bersandar pada pengantaraanNya, bergantung sepenuhnya padanya, dan mendapatkan semua kuasanya darinya. ‘Tidak ada makhluk ciptaan pernah bisa diperhitungkan bersama dengan Firman yang berinkarnasi dan Penebus; tetapi sama seperti keimaman Kristus juga dimiliki dalam bermacam-macam cara di antara makhluk-makhluk ciptaanNya, demikian pula pengantaraan yang unik dari sang Penebus tidak membuang tetapi sebaliknya menyebabkan suatu kerja sama yang bermacam-macam yang hanya merupakan suatu sharing dalam sumber yang satu ini’].

Karena itu Loraine Boettner berkata:
¨ “in the Roman Church Mary has come to be looked upon the instrumental cause of salvation” [= dalam Gereja Roma (Katolik) Maria telah dipandang sebagai alat yang menyebabkan keselamatan] - ‘Roman Catholicism’, hal 150.
¨ “Roman Catholics are taught that all grace necessarily flows through Mary” [= Orang-orang Roma Katolik diajar bahwa semua kasih karunia harus mengalir melalui Maria] - ‘Roman Catholicism’, hal 151.

Matthew Henry: “It is an impious and blasphemous construction which some of the popish writers put upon the virgin Mary standing by the cross, that thereby she contributed to the satisfaction he made for sin no less than he did, and so became a joint-mediatrix and co-adjutrix in our salvation” [= Merupakan suatu pendirian / penyusunan yang jahat dan bersifat menghujat yang diberikan oleh beberapa penulis Katolik kepada perawan Maria yang berdiri di dekat salib, bahwa dengan itu ia ikut memberikan sumbangsih pada pemuasan / pelunasan yang Dia (Yesus) lakukan untuk dosa, tidak lebih sedikit dari yang Ia lakukan, dan dengan demikian menjadi seorang pengantara bersama dan rekan penolong dalam keselamatan kita].

Lenski: “Alas, what has the Roman Catholicism made of this scene! Some of it is like blasphemy of Christ in the very hour of his atoning death. Catholics books are full of this derogation of Christ and the exaltation of Mary. We are told that with her passion Mary comes to the aid of her son on the cross. Alone he could not have accomplished the task; he could never have borne the sins of the world and made atonement for them by himself. ‘The Mother of God’ had to cooperate with the Son of God. This summarizes the Catholic teaching. It invents two mediators where God had only one. It robs Christ in order to deify and to glorify Mary. In doing this blasphemous thing it destroys the real atonement and invents another which does not atone. ... There is one Mediator between God and man, the man Christ Jesus, 1Tim. 2:5,6” [= Aduh, apa yang telah dilakukan oleh Roma Katolik tentang adegan / peristiwa ini! Beberapa darinya adalah seperti penghujatan terhadap Kristus, persis di saat kematianNya yang menebus. Buku-buku Katolik penuh dengan penghinaan kepada Kristus dan pemuliaan / peninggian terhadap Maria. Kami diberitahu bahwa dengan penderitaannya Maria datang untuk menolong Anaknya pada kayu salib. Sendirian Ia tidak bisa menyelesaikan tugas itu; Ia tidak pernah bisa memikul dosa-dosa dunia dan membuat penebusan bagi mereka dari diriNya sendiri. ‘Bunda Allah’ harus bekerja sama dengan Anak Allah. Ini merupakan ringkasan dari ajaran Katolik. Ajaran itu menemukan / menciptakan dua pengantara dimana Allah hanya mempunyai satu. Itu merampok Kristus untuk memuja / mendewakan dan memuliakan Maria. Dengan melakukan hal yang bersifat menghujat ini, itu menghancurkan penebusan yang sejati dan menemukan / menciptakan penebusan yang lain yang tidak menebus. ... Hanya ada satu Pengantara antara Allah dan manusia, manusia Kristus Yesus, 1Tim 2:5,6] - hal 1297.

1Timotius 2:5-6 - “(5) Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, (6) yang telah menyerahkan diriNya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan”.

Tanggapan terhadap ajaran Roma Katolik ini:

a. Kitab Suci membandingkan Adam dan Kristus (Adam merupakan TYPE dari Kristus).
· Roma 5:15-19 - “(15) Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karuniaNya, yang dilimpahkanNya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus. (16) Dan kasih karunia tidak berimbangan dengan dosa satu orang. Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman, tetapi penganugerahan karunia atas banyak pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran. (17) Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus. (18) Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup. (19) Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar”.
· 1Korintus 15:21-22 - “(21) Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. (22) Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus”.

Jadi, dosa memang masuk ke dalam dunia melalui Adam (karena Adam adalah wakil seluruh umat manusia), dan keselamatan datang melalui Kris­tus.

Tetapi Kitab Suci tidak pernah membandingkan Hawa dan Maria! Jadi ajaran Roma Katolik ini sama sekali tidak mempunyai dasar Kitab Suci.

b. Kitab Suci berkata bahwa keselamatan hanya ada di dalam Kristus (Mat 1:21 Kisah Para Rasul 4:12). Dialah satu-satunya Juruselamat / Penebus dosa!
Matius 1:21 - “Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umatNya dari dosa mereka.’”.
Kisah Para Rasul 4:12 - “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.’”.

c. Sekalipun Maria memang pasti menderita waktu melihat Anaknya menderita di atas kayu salib, tetapi Kitab Suci tidak pernah berkata bahwa dengan penderitaannya itu, Maria juga menjadi penebus dosa.
Bahwa Maria, yang adalah manusia biasa dan berdosa, bisa menjadi Penebus dosa, merupakan ajaran yang bertentangan dengan Maz 49:8-9. Karena terjemahan Kitab Suci Indonesia dalam hal ini adalah salah, maka saya memberikan terjemahan dari NIV.

Mazmur 49:8-9 (NIV - Ps 49:6-7): “No man can redeem the life of another, or give to God a ransom for him; the ransom for a life is costly, no payment is ever enough” [= Tidak seorang manusiapun bisa menebus nyawa orang lain, atau memberikan kepada Allah tebusan untuk dia; tebusan untuk suatu nyawa sangat mahal, tidak ada pembayaran yang bisa mencukupi].

c) “Ketika Yesus melihat ibuNya dan murid yang dikasihiNya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibuNya: ‘Ibu, inilah, anakmu!’ Kemudian kataNya kepada muridNya: ‘Inilah ibumu!’ Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya’”.

1. Penafsiran salah dari Arthur Pink.
Arthur W. Pink: “She stood by the Cross. And as she stood there the Saviour exclaimed, ‘Woman, behold thy Son!’ (John 19:26). There, summed up in a single word, is expressed the need of every descendant of Adam - to turn the eye away from the world, off from self, and to look by faith to the Saviour that died for sinners. ... salvation comes by Beholding - ‘Behold the Lamb of God which takes away the sin of the world.’ ... Reader, have you thus beheld that Divine Sufferer? Have you seen Him dying on the Cross the just for the unjust, that He might bring us to God? Mary the mother of Christ needed to ‘behold’ Him, and so do you. Then look, look unto Christ and be ye saved” [= Ia berdiri di dekat Salib. Dan pada waktu ia berdiri di sana sang Juruselamat berseru: ‘Perempuan, lihatlah Anakmu!’ (Yoh 19:26). Di sana, diringkas dalam satu kata, dinyatakan kebutuhan dari setiap keturunan Adam - untuk memalingkan mata dari dunia, dari diri sendiri, dan memandang dengan iman kepada sang Juruselamat yang mati untuk orang-orang berdosa. ... keselamatan datang oleh memandang - ‘Lihatlah anak domba Allah yang mengangkut dosa isi dunia’. ... Pembaca, sudahkah engkau memandang seperti itu kepada Penderita Ilahimu? Sudahkah engkau melihat Dia mati pada kayu salib, orang benar untuk orang yang tidak benar, supaya Ia bisa membawa kita kepada Allah? Maria, ibu Kristus, butuh untuk ‘memandang’ Dia, dan demikian juga dengan kamu. Maka lihatlah, lihatlah kepada Kristus dan biarlah engkau diselamatkan] - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 60.

Ini salah, karena A. W. Pink menafsirkan bahwa yang dimaksud oleh Yesus dengan kata ‘Son’ / ‘anak’ adalah diriNya sendiri, padahal sebetulnya yang dimaksud oleh Yesus dengan ‘son’ / ‘anak’ bukanlah diriNya sendiri, tetapi Yohanes. Jadi kata ‘Son’ / ‘Anak’ tidak seharusnya dimulai dengan huruf besar.

Lenski: “‘Behold, thy son!’ has been misunderstood to mean, ‘Behold, me, thy son!’ Mary has enough to bear; Jesus is not harrowing her feelings with such a word. This interpretation mars the entire act, for it makes the word of Jesus to John rather senseless” [= ‘Lihatlah, anakmu!’ telah disalah-mengerti sebagai berarti, ‘Lihatlah, Aku, anakmu!’ Maria telah menanggung cukup banyak; Yesus tidak sedang menyiksa perasaannya dengan kata-kata seperti itu. Penafsiran ini merusak seluruh bagian, karena itu membuat kata-kata Yesus kepada Yohanes menjadi tidak berarti] - hal 1298-1299.

Memang, kalau kata ‘anakmu’ kepada Maria itu diartikan menunjuk kepada Yesus, lalu kata-kata Yesus ‘Inilah ibumu’ kepada Yohanes harus diartikan sebagai apa?

2. Penafsiran Gereja Roma Katolik tentang kata-kata Yesus ini.
Kata-kata Yesus kepada Maria di sini dijadikan dasar oleh Gereja Roma Katolik untuk mengajarkan bahwa Maria adalah Bunda Gereja!

Lenski: “What has Roman Catholicism made of this word of the dying Savior? Like Pius IX, Jesus, too, we are told, by this word of his makes Mary the patroness of all Christians who are here represented by the disciple John. It was not Mary who needed John, but John and with him and in him all other Christians who needed Mary. One of these Mary worshippers writes that ‘in the person of John Mary receives all Christians as her children. And this capacity of Mary entitles us to the right and the trust, that we place all our interest in her hands.’ What a reversal of the facts! Had Jesus been dependent on Mary, and not she on him? Has she during his ministry provided for him, and not he for her? And since when is all Christendom represented in John?” [= Apa yang telah diperbuat oleh ajaran Roma Katolik tentang kata-kata dari sang Juruselamat yang sedang mau mati ini? Seperti Pius IX, kita diberitahu bahwa Yesus juga, dengan kata-kataNya membuat Maria sebagai pelindung dari semua orang Kristen, yang di sini diwakili oleh sang murid Yohanes. Bukan Maria yang membutuhkan Yohanes, tetapi Yohanes, dan bersama dia dan di dalam dia semua orang Kristen yang lain, yang membutuhkan Maria. Salah satu dari penyembah-penyembah Maria ini menulis bahwa ‘dalam diri Yohanes, Maria menerima semua orang Kristen sebagai anak-anaknya. Dan kapasitas dari Maria ini memberi hak kepada kita pada hak dan kepercayaan, sehingga kita menempatkan seluruh kepentingan kita dalam tangannya’. Betul-betul suatu pembalikan fakta! Apakah Yesus yang selama ini telah bergantung kepada Maria, dan bukannya ia (Maria) kepadaNya (Yesus)? Apakah selama pelayananNya ia (Maria) yang memberi pemeliharaan untukNya (Yesus), dan bukannya Dia (Yesus) untuknya (Maria)? Dan sejak kapan seluruh umat Kristen diwakili oleh Yohanes?] - hal 1299.

J. C. Ryle: “We should mark what a strong condemnation the passage supplies to the whole system of Mary-worship, as held by the Roman Catholic Church. There is not here a trace of the doctrine that Mary is patroness of the saints, protectress of the Church, and one who can help others. On the contrary, we see her requiring protection herself, and commended to the care and protection of a disciple! Hengstenberg remarks, ‘Our Lord’s design was not to provide for John, but to provide for His mother.’ Alford observes, ‘The Romanist idea that the Lord commended all His disciples as represented by the beloved one, to the patronage of His mother is simply absurd.’” [= Kita harus memperhatikan betapa kuatnya text ini memberi kecaman terhadap seluruh sistim dari penyembahan Maria, seperti yang dipercaya oleh Gereja Roma Katolik. Di sini tidak ada jejak dari doktrin bahwa Maria adalah pelindung dari orang-orang kudus, pelindung dari Gereja, dan orang yang bisa menolong orang lain. Sebaliknya, kita melihat dia sendiri membutuhkan perlindungan, dan dipercayakan / dititipkan pada pemeliharaan dan perlindungan dari seorang murid! Hengstenberg berkata: ‘Tujuan Tuhan kita bukanlah untuk memelihara Yohanes, tetapi untuk memelihara ibuNya’. Alford berkata: ‘Gagasan dari ajaran Roma bahwa Tuhan mempercayakan semua murid-muridNya, yang diwakili oleh murid yang dikasihi, pada perlindungan dari ibuNya sama sekali menggelikan’] - ‘Expository Thoughts on the Gospels’, (John volume III), hal 350-351.

Loraine Boettner juga mengatakan (‘Roman Catholicism’, hal 155) bahwa kata-kata Yesus kepada Yohanes ‘Inilah ibumu’, oleh Gereja Roma Katolik diartikan menunjuk kepada semua manusia, pada saat itu maupun yang akan datang, dan dengan demikian Yesus menyerahkan semua manusia kepada Maria sebagai anak-anaknya!

Kesalahan penafsiran ini terlihat makin jelas kalau kita memperhatkan ay 26-27 ini dengan teliti.
Ay 26-27: “(26) Ketika Yesus melihat ibuNya dan murid yang dikasihiNya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibuNya: ‘Ibu, inilah, anakmu!’ (27) Kemudian kataNya kepada muridNya: ‘Inilah ibumu!’ Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya”.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
a. Ayat ini secara jelas mengatakan bahwa kata-kata itu ditujukan oleh Yesus kepada Yohanes.
b. Kata ‘mu’ dalam ay 27 dalam bahasa Yunaninya menggunakan bentuk tunggal, dan demikian juga dengan kata ‘anak’ dalam ay 26, sehingga tidak mungkin menunjuk kepada ‘semua manusia’, tetapi pasti menunjuk kepada ‘Yohanes’.
c. Kalau kata-kata itu memang ditujukan kepada semua manusia, lalu mengapa Yohanes tahu-tahu membawa Maria ke rumahnya (ay 27b)?
Hal lain yang perlu dicamkan adalah bahwa kita tidak pernah dikatakan oleh Kitab Suci sebagai ‘anak-anak dari Maria’. Semua orang yang percaya kepada Yesus adalah ‘anak Allah’ (Yohanes 1:12).

3. Arti yang benar dari kata-kata Yesus ini.

a. Dengan kata-kataNya kepada Maria dan Yohanes, Yesus menyerahkan Maria ke dalam pemeliharaan / penjagaan Yohanes. Ini merupakan suatu tugas, tetapi juga merupakan suatu penghormatan terhadap Yohanes, karena diserahi tugas seperti itu oleh Yesus.

b. Mengapa Yesus harus menyerahkan Maria ke dalam penjagaan / pemeliharaan Yohanes?

· Adam Clarke, dan banyak penafsir lain, mengatakan (hal 652) bahwa mungkin sekali pada saat itu Yusuf sudah mati, sehingga Maria perlu diserahkan dibawah penjagaan Yohanes.

· Tetapi, kalau Yesus memang mempunyai saudara-saudara (Mat 13:55-56), yang kita anggap sebagai anak-anak dari Yusuf dan Maria, mengapa Maria tidak diserahkan kepada pemeliharaan dari anak-anak Maria yang lain? Mungkin karena mereka tidak / belum beriman.

William Hendriksen: “The question might be raised, ‘But why was not Mary committed to the care of one of her other children?’ The answer is: probably because they as yet had not received him by a living faith (see on 7:5). And besides, who could be expected to take better care of Mary than the disciple whom Jesus loved?” [= Ada pertanyaan yang bisa diajukan: ‘Mengapa Maria tidak diserahkan pada pemeliharaan dari salah satu anak-anaknya yang lain?’. Jawabannya adalah: mungkin karena pada saat itu mereka belum menerima Dia dengan iman yang hidup (lihat tentang 7:5). Dan disamping itu, siapa yang bisa diharapkan untuk memberikan pemeliharaan kepada Maria selain dari pada murid yang dikasihi Yesus?] - hal 434.

William Barclay: “He could not commit her to the care of his brothers, for they did not believe in him yet (John 7:5). And, after all, John had a double qualification for the service Jesus entrusted to him - he was Jesus’s cousin, being Salome’s son, and he was the disciple whom Jesus loved” [= Ia tidak bisa menyerahkan dia pada pemeliharaan dari saudara-saudaraNya, karena mereka belum percaya kepadaNya (Yoh 7:5). Dan bagaimanapun juga, Yohanes mempunyai persyaratan ganda untuk pelayanan yang dipercayakan oleh Yesus kepadanya - ia adalah saudara sepupu dari Yesus, karena ia adalah anak Salome, dan ia adalah murid yang dikasihi Yesus] - ‘The Gospel of John’, vol 2, hal 257.

Bdk. Yoh 7:5 - “Sebab saudara-saudaraNya sendiripun tidak percaya kepadaNya”.

· Ada yang mengatakan bahwa Maria harus diserahkan ke dalam pemeliharaan Yohanes karena Maria miskin dan tidak mempunyai rumah; sedangkan Yohanes mempunyai rumah.
Barnes’ Notes: “Mary was poor. It would even seem that now she had no home” [= Maria miskin. Kelihatannya sekarang ia tidak mempunyai rumah] - hal 354.

Calvin mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa rasul Yohanes mempunyai rumah dan keluarga, karena kalau tidak demikian, ia tidak mungkin bisa membawa Maria ke rumahnya.

Calvin: “Hence also it is evident, that the Apostles had their families; for John could not have exercised hospitality towards the mother of Christ, or have taken her to his own home, if he had not had a house and a regular way of living. Those men, therefore, are fools, who think that the Apostles relinquished their property, and came to Christ naked and empty; but they are worse than fools, who make perfection to consist in beggary” [= Jadi, juga jelas bahwa rasul-rasul mempunyai keluarga-keluarga mereka; karena Yohanes tidak bisa menerima ibu dari Kristus, atau membawanya ke rumahnya, seandainya ia tidak mempunyai sebuah rumah dan suatu gaya hidup yang umum / biasa. Karena itu, orang-orang itu adalah orang-orang tolol, yang berpikir bahwa rasul-rasul melepaskan milik mereka; dan datang kepada Kristus dengan telanjang dan kosong; tetapi mereka lebih dari tolol, yang menganggap bahwa kesempurnaan terdiri dari pengemisan / kemiskinan] - hal 233.

c. Di sini Yesus melakukan tanggung jawabNya sebagai anak terhadap orang tua (ibu).
Pada saat Ia sedang melakukan hal yang merupakan tujuan utamaNya untuk datang ke dalam dunia, yaitu menebus dosa-dosa kita, Ia tetap tidak melupakan tanggung jawabNya kepada ibuNya!

William Barclay: “Jesus in the agony of the Cross, when the salvation of the world hung in the balance, thought of the loneliness of his mother in the days ahead. He never forgot the duties that lay to his hand. He was Mary’s eldest son, and even in the moment of his cosmic battle, he did not forget the simple things that lay near home” [= Yesus dalam penderitaan pada kayu salib, pada waktu keselamatan dari dunia belum dipastikan, memikirkan kesendirian dari ibuNya pada hari-hari yang akan datang. Ia tidak pernah melupakan kewajiban yang terletak dalam tanganNya. Ia adalah anak tertua dari Maria, dan bahkan pada saat dari pertempuran kosmikNya, Ia tidak melupakan hal-hal sederhana yang terletak di dekat rumah] - ‘The Gospel of John’, vol 2, hal 257.

Catatan: mungkin yang dimaksudkan oleh Barclay dengan ‘hung in the balance’ [= belum / tidak pasti) adalah bahwa pada saat itu pekerjaanNya untuk menyelamatkan umat manusia dengan menebus dosa belum selesai.

Bandingkan dengan kecaman Yesus terhadap orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dalam Matius 15:5-6 - “(5) Tetapi kamu berkata: Barangsiapa berkata kepada bapanya atau kepada ibunya: Apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk persembahan kepada Allah, (6) orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri”.

Calvin: “while Christ obeyed God the Father, he did not fail to perform the duty which he owed, as a son, towards his mother. ... Hence we learn in what manner we ought to discharge our duty towards God and towards men. It often happens that, when God calls us to the performance of any thing, our parents, or wife, or children, draw us in a contrary direction, so that we cannot give equal satisfaction to all. If we place men in the same rank with God, we judge amiss. We must, therefore, give the preference to the command, the worship, and the service of God; after which, as far as we are able, we must give to men what is their due. ... We ought, therefore, to devote ourselves to the interests of men, so as not in any degree to interfere with the worship and obedience which we owe to God. When we have obeyed God, it will then be the proper time to think about parents, and wife, and children; as Christ attends to his mother, but it is after that he is on the cross, to which he has been called by his Father’s decree” [= sementara Kristus mentaati Allah Bapa, Ia tidak gagal untuk melaksanakan kewajiban yang Ia punyai sebagai anak kepada ibuNya. ... Jadi, kita belajar dengan cara apa kita harus melaksanakan kewajiban kita kepada Allah dan kepada manusia. Sering terjadi bahwa pada waktu Allah memanggil kita untuk melaksanakan sesuatu apapun, orang tua, atau istri, atau anak-anak kita, menarik kita ke arah yang berlawanan, sehingga kita tidak bisa memberikan kepuasan yang sama kepada semua. Jika kita menempatkan manusia dalam tingkatan yang sama dengan Allah, kita menilai / menghakimi secara salah. Karena itu, kita harus lebih mendahulukan perintah, ibadah / penyembahan, dan pelayanan Allah; setelah mana, sejauh kita mampu, kita harus memberikan kepada manusia apa yang menjadi hak mereka. ... Karena itu, kita harus membaktikan diri kita sendiri pada kepentingan manusia, sedemikian rupa sehingga sama sekali tidak menggganggu ibadah / penyembahan dan ketaatan untuk mana kita berhutang kepada Allah. Pada waktu kita telah mentaati Allah, maka itulah waktu yang benar untuk memikirkan tentang orang tua, dan istri, dan anak-anak; seperti Kristus mengurus ibuNya, tetapi itu setelah Ia ada di salib, pada mana Ia telah dipanggil oleh ketetapan BapaNya].

Bdk. Mat 10:37 - “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari padaKu, ia tidak layak bagiKu; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari padaKu, ia tidak layak bagiKu”.

William Hendriksen: “That a lesson in the responsibility of children (think of Jesus) toward their parents (think of Mary) is implied here is true. But certainly that is not the main lesson. The suffering of Jesus in seeing Mary suffer, and especially his wonderful love - a Savior’s concern for one of his own, far more than a son’s concern for his mother - these are the things on which the emphasis should be placed” [= Merupakan sesuatu yang benar bahwa di sini secara implicit ada suatu pelajaran tentang tanggung jawab dari anak-anak (pikirkan Yesus) kepada orang tua mereka (pikirkan Maria). Tetapi jelas bahwa itu bukanlah pelajaran utama. Penderitaan Yesus pada waktu melihat Maria menderita, dan khususnya kasihNya yang luar biasa - kepedulian sang Juruselamat untuk salah satu milikNya, jauh melebihi perhatian seorang Anak untuk ibuNya - ini adalah hal-hal dimana penekanan harus diletakkan] - hal 434.

Catatan: saya di sini hanya memberikan pandangan Hendriksen, tetapi saya tidak tahu apakah ini bisa dibenarkan atau tidak.

d. Tidak diketahui apakah Yohanes langsung membawa Maria pergi, sehingga tidak melihat kematian Kristus, atau mereka tetap di sana sampai Kristus mati. Yang jelas, setelah saat itu Yohanes membawa Maria ke rumahnya dan Maria hidup bersama dengan Yohanes sampai ia mati.

Leon Morris (NICNT): “This may mean that the beloved disciple took Mary away immediately so that she did not witness the death of her Son. This is supported by the fact that she is not mentioned in the group of women who were there when Jesus died (Matt. 27:56; Mark 15:40). Against it is the difficulty of seeing how the beloved disciple could have taken her home and returned in time for the events of vv. 31-37 (most agree that he witnessed them whether or no he is directly mentioned in v. 35). ‘From that hour’ need not mean ‘from that moment’. When we consider the way in which ‘the hour’ is used in this Gospel it is clear that it need mean no more than ‘from the time of the crucifixion’. It is also urged that if Jesus’ mother came to the place of execution it is most unlikely that she would have left before the end, all the more so in that the other women remained” [= Ini bisa berarti bahwa murid yang dikasihi itu membawa Maria pergi dengan segera sehingga ia tidak menyaksikan kematian Anaknya. Ini didukung oleh fakta bahwa ia tidak disebutkan dalam kelompok perempuan-perempuan yang ada di sana pada saat Yesus mati (Mat 27:56; Markus 15:40). Terhadap hal ini ada problem untuk melihat bagaimana murid yang dikasihi bisa membawanya pulang dan kembali pada saatnya untuk peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam ay 31-37 (kebanyakan setuju bahwa ia menyaksikan peristiwa-peristiwa itu, apakah ia disebutkan secara langsung atau tidak dalam ay 35). ‘Sejak jam itu’ tidak perlu diartikan ‘sejak saat itu’. Kalau kita melihat cara dalam mana ‘jam’ digunakan dalam Injil ini, adalah jelas bahwa itu tidak perlu diartikan lebih dari ‘sejak saat penyaliban’. Juga diargumentasikan bahwa jika ibu Yesus datang ke tempat pelaksanaan hukuman mati, sangat besar kemungkinannya bahwa ia tidak meninggalkan sebelum semua selesai / berakhir, lebih-lebih mengingat perempuan-perempuan yang lain tetap tinggal] - hal 812, footnote.

Barnes’ Notes: “‘From that hour ...’. John seems to have been in better circumstances than the other apostles. ... Tradition says that she continued to live with him in Judea until the time of her death, which occurred about fifteen years after the death of Christ” [= ‘Sejak jam / saat itu ...’. Yohanes kelihatannya berada dalam keadaan yang lebih baik dari pada rasul-rasul yang lain. ... Tradisi mengatakan bahwa ia (Maria) terus hidup dengan dia (Yohanes) di Yudea sampai saat kematiannya, yang terjadi sekitar 15 tahun setelah kematian Kristus].

Kalimat keempat Matius 27:46 Markus 15:34

Mat 27:46 - “Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: ‘Eli, Eli, lama sabakhtani?’ Artinya: AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”.

Mark 15:34 - “Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: ‘Eloi, Eloi, lama sabakhtani?’, yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”.

1) Ini merupakan penggenapan dari Maz 22:2a.
Maz 22:2a - “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?”.

a) Dalam Mazmur 22:2, kata-kata ini berlaku untuk diri Daud sendiri.
Mungkin dalam penderitaan yang hebat, ia berdoa dengan tekun, tetapi tak ada jawaban / pertolongan dari Tuhan, sehingga ia merasa / mengira bahwa Tuhan meninggalkannya.

b) Yesus mengutip kata-kata ini pada saat Ia berada di kayu salib, dan karena itu jelaslah bahwa kata-kata ini juga merupakan suatu nubuat tentang Dia.
Kalau kita membaca Maz 22:1-19, maka akan lebih jelas lagi bahwa boleh dikatakan seluruh Mazmur ini berbicara tentang Kristus atau menubuatkan tentang Kristus. Perhatikan khususnya ay 2,8-9,16,17,19.

Maz 22:1-19 - “(1) Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Rusa di kala fajar. Mazmur Daud. (2) Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku. (3) Allahku, aku berseru-seru pada waktu siang, tetapi Engkau tidak menjawab, dan pada waktu malam, tetapi tidak juga aku tenang. (4) Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel. (5) KepadaMu nenek moyang kami percaya; mereka percaya, dan Engkau meluputkan mereka. (6) KepadaMu mereka berseru-seru, dan mereka terluput; kepadaMu mereka percaya, dan mereka tidak mendapat malu. (7) Tetapi aku ini ulat dan bukan orang, cela bagi manusia, dihina oleh orang banyak. (8) Semua yang melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya: (9) ‘Ia menyerah kepada TUHAN; biarlah Dia yang meluputkannya, biarlah Dia yang melepaskannya! Bukankah Dia berkenan kepadanya?’ (10) Ya, Engkau yang mengeluarkan aku dari kandungan; Engkau yang membuat aku aman pada dada ibuku. (11) KepadaMu aku diserahkan sejak aku lahir, sejak dalam kandungan ibuku Engkaulah Allahku. (12) Janganlah jauh dari padaku, sebab kesusahan telah dekat, dan tidak ada yang menolong. (13) Banyak lembu jantan mengerumuni aku; banteng-banteng dari Basan mengepung aku; (14) mereka mengangakan mulutnya terhadap aku seperti singa yang menerkam dan mengaum. (15) Seperti air aku tercurah, dan segala tulangku terlepas dari sendinya; hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam dadaku; (16) kekuatanku kering seperti beling, lidahku melekat pada langit-langit mulutku; dan dalam debu maut Kauletakkan aku. (17) Sebab anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku. (18) Segala tulangku dapat kuhitung; mereka menonton, mereka memandangi aku. (19) Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku”.

Tentang Maz 22 ini kebanyakan penafsir menganggap bahwa Mazmur itu berhubungan dengan Daud, tetapi juga dengan Yesus.

Calvin: “In short, there is no doubt that Christ, in uttering this exclamation upon the cross, manifestly showed, that although David here bewails his own distresses, this psalm was composed under the influence of the Spirit of prophecy concerning David’s King and Lord” [= Singkatnya, tidak ada keraguan bahwa Kristus, dalam mengucapkan seruan ini di kayu salib, dengan nyata menunjukkan, bahwa sekalipun Daud di sini meratapi penderitaannya sendiri, mazmur ini disusun di bawah pengaruh dari Roh nubuatan mengenai Raja dan Tuhan dari Daud].

Lenski: “The words of this cry are found also in Ps. 22:1, although neither Matthew nor Mark mention the fact. ... David is not speaking of himself as a type, so that Jesus would be the antitype; David is prophetically describing the suffering Messiah. ... The omniscient Spirit of prophecy alone could have placed at the head of this psalm that supreme cry of agony on the cross. For it is not due to the fact that David wrote this line that Christ made it his cry on the cross, but because Christ would thus cry out on the cross David wrote it as a prophet” [= Kata-kata dari teriakan ini ditemukan dalam Maz 22:2, sekalipun baik Matius maupun Markus tidak menyebutkan fakta ini. ... Daud tidak berbicara tentang dirinya sebagai suatu type, dan Yesus sebagai anti-typenya; Daud secara bernubuat menggambarkan Mesias yang menderita. ... Hanya Roh nubuatan yang maha tahu yang bisa menaruh di kepala dari mazmur ini teriakan penderitaan yang paling hebat pada kayu salib. Karena bukan karena fakta bahwa Daud menulis kalimat ini maka Kristus membuatnya sebagai teriakanNya pada kayu salib, tetapi karena Kristus akan berteriak seperti itu maka Daud menuliskannya sebagai seorang nabi] - hal 1117,1118.

Catatan: dalam Kitab Suci Inggris ayat itu ada dalam Psalm 22:1, sedangkan dalam Kitab Suci Indonesia dalam Mazmur 22:2. Mazmur 22:1 dalam Kitab Suci Indonesia sebetulnya bukan merupakan bagian dari Kitab Suci / Firman Tuhan, tetapi merupakan judul yang ditambahkan oleh penyalin Kitab Suci.

c) Ada penafsir-penafsir yang mengatakan bahwa mungkin di kayu salib itu Yesus bukan hanya mengucapkan Maz 22:2 tetapi seluruh Maz 22. Tetapi Lenski membantah teori / kemungkinan seperti itu, dan saya setuju dengan dia.

Lenski: “The ideas that Christ spoke aloud the entire psalm, perhaps also the following psalms, or that he spoke aloud only the first line and silently went through the rest, are without support and destroy the force of Christ’s cry” [= Gagasan-gagasan bahwa Kristus mengucapkan dengan keras seluruh mazmur, mungkin juga mazmur-mazmur setelahnya, atau bahwa Ia mengucapkan dengan keras hanya kalimat / baris pertama dan dengan diam-diam mengucapkan sisanya, tidak mempunyai dukungan dan menghancurkan kekuatan dari teriakan Kristus] - hal 1118.

Catatan: saya kira orang-orang yang menganggap bahwa Kristus mengucapkan seluruh mazmur, mengambil pandangan itu karena mereka tak mau menerima pandangan bahwa pada saat itu Yesus betul-betul ditinggalkan oleh Bapa. Jadi mereka mengatakan bahwa pada saat itu Kristus hanya membacakan Firman Tuhan tersebut, atau berdoa menggunakan Maz 22 itu. Tetapi ini jelas merupakan pandangan yang salah, dan akan saya bahas di bawah.

d) Perbedaan antara Maz 22:2, Mat 27:46 dan Mark 15:34.
Sebetulnya perbedaan ini terjadi hanya karena bahasa yang berbeda.

Maz 22:2 - ‘Eli, Eli, lama azavtani?’
(Ibrani)

Mat 27:46 - ‘Eli, Eli, lama sabakhtani?’
(Ibrani) (Aramaic)

Mark 15:34 - ‘Eloi, Eloi, lama sabakhtani?’
(Aramaic)

Barnes’ Notes (tentang Mat 27:46): “‘Eli, Eli ...’. This language is not pure Hebrew nor Syriac, but a mixture of both, called commonly ‘Syro-Chaldaic.’ This was probably the language which the Saviour commonly spoke. The words are taken from Ps. 22:1” [= ‘Eli, Eli ...’. Bahasa ini bukanlah Ibrani murni ataupun Aramaic / Syria murni, tetapi suatu percampuran dari keduanya, biasanya disebut ‘Syro-Chaldaic’. Ini mungkin merupakan bahasa yang biasanya digunakan oleh sang Juruselamat. Kata-kata itu diambil dari Maz 22:2].

Lenski: “Matthew, like Mark, has preserved the words of the cry in the original: ‘Eli, Eli (Hebrew), lama sabachtani?’ (Aramaic). Mark has ‘Eloi,’ the Aramaic instead of the Hebrew; he disregards the Hebrew form used by Jesus” [= Matius, seperti Markus, telah memelihara kata-kata dari teriakan itu dalam bahasa aslinya: ‘ELI, ELI (Ibrani), LAMA SABAKHTANI’ (Aramaic / Syria). Markus menuliskan ‘ELOI’, bentuk Aramaic / Syrianya dan bukan bentuk Ibraninya; ia mengabaikan bentuk Ibrani yang digunakan oleh Yesus] - hal 1117.

2) Ada beberapa penafsiran tentang arti kalimat ini:

a) Yesus tidak sungguh-sungguh ditinggal / mengalami keterpisahan dengan Allah, karena kata-kata yang Ia ucapkan itu hanyalah:
1. Perasaan Yesus saja (bahasa jawa: Yesus kroso-krosoen), atau,
2. Doa Yesus sambil mengutip Maz 22, atau,
3. Perenungan Yesus tentang firman Tuhan dalam Maz 22.

Keberatan terhadap pandangan ini: kalau demikian Yesus tidak sungguh-sungguh memikul hukuman dosa kita, karena keterpisahan dengan Allah merupakan hukuman dosa!

Calvin: “as he became our representative, and took upon him our sins, it was certainly necessary that he should appear before the judgment-seat of God as a sinner. ... there was before his eyes the curse of God, to which all who are sinners are exposed” [= karena Ia menjadi wakil kita, dan mengambil pada diriNya dosa-dosa kita, maka pastilah merupakan sesuatu yang perlu bahwa Ia tampil di hadapan takhta pengadilan Allah sebagai / seperti seorang berdosa. ... di hadapan mataNya ada kutukan dari Allah, terhadap mana semua orang yang adalah orang-orang berdosa terbuka].

b) Allah Anak meninggalkan Yesus sebagai manusia.
Dasar: Yesus berkata ‘AllahKu’, bukan ‘BapaKu’.
Keberatan terhadap pandangan ini:

1. Dalam Lukas 23:34,46 (kalimat pertama dan terakhir) Yesus tetap menyebut ‘Bapa’.

2. Dalam inkarnasi, Anak Allah mengambil hakekat manusia, yang lalu mendapatkan kepribadiannya dalam diri Anak Allah itu. Seandainya terjadi perpisahan antara Allah Anak dan manusia Yesus, maka yang tertinggal di atas kayu salib hanyalah hakekat manusia itu. Ini tidak mungkin, karena hakekat manusia tidak bisa berada sendirian!

Catatan: untuk mengerti hal ini sepenuhnya, bacalah buku saya yang berjudul MAKALAH KRISTOLOGI.

3. Andaikata Yesus memang mati sebagai manusia saja, maka penebusan yang Ia lakukan tidak bisa mempunyai kuasa yang tidak terbatas!
Maz 49:8-9 - “(8) Tidak seorangpun dapat membebaskan dirinya, atau memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya, (9) karena terlalu mahal harga pembebasan nyawanya, dan tidak memadai untuk selama-lamanya”.
Dalam text ini Kitab Suci Indonesia salah terjemahan! Bandingkan dengan terjemahan NIV di bawah ini.

Mazmur 49:8-9 (NIV - Ps 49:6-7): “(7) No man can redeem the life of another or give to God a ransom for him - (8) the ransom for a life is costly, no payment is ever enough” [= (7) Tak seorang manusiapun bisa menebus nyawa orang lain atau memberikan kepada Allah tebusan untuk dia - (8) tebusan untuk suatu nyawa sangat mahal, tak ada pembayaran yang bisa mencukupi].
Jadi, ayat ini mengatakan bahwa manusia tak bisa menebus manusia lain. Jadi, seandainya Yesus mati hanya sebagai manusia saja, maka Ia tidak bisa menebus dosa kita. Kalaupun mau dipaksakan, maka paling banter satu orang hanya bisa menebus satu orang.

Adam Clarke: “Some suppose ‘that the divinity had now departed from Christ, and that his human nature was left unsupported to bear the punishment due to men for their sins.’ But this is by no means to be admitted, as it would deprive his sacrifice of its infinite merit, and consequently leave the sin of the world without an atonement. Take deity away from any redeeming act of Christ, and the redemption is ruined” [= Sebagian orang menganggap ‘bahwa keilahian sekarang telah pergi dari Kristus, dan bahwa hakekat manusiaNya ditinggalkan tanpa dukungan untuk memikul hukuman yang seharusnya bagi manusia untuk dosa-dosa mereka’. Tetapi ini sama sekali tidak boleh diterima, karena itu akan mencabut / menghilangkan manfaat yang tak terbatas dari pengorbananNya, dan sebagai akibatnya dosa dari dunia ditinggalkan tanpa penebusan. Ambillah keilahian dari tindakan penebusan Kristus, dan penebusan itu dihancurkan].

c) Allah Bapa meninggalkan Yesus sebagai Allah dan manusia.

Wycliffe Bible Commentary: “The full import of this cry cannot be fathomed. But certainly its basis lay not in the physical suffering primarily, but in the fact that for a time Jesus was made sin for us (2 Cor 5:21); and in paying the penalty as the sinner’s substitute, he was accursed of God (Gal 3:13). God as Father did not forsake him (Lk 23:46); but God as Judge had to be separated from him if he was to experience spiritual death in the place of sinful men” [= Makna sepenuhnya dari teriakan ini tidak bisa dimengerti. Tetapi pastilah bahwa dasarnya tidak terletak terutama pada penderitaan fisikNya, tetapi pada fakta bahwa untuk sementara waktu Yesus dibuat menjadi dosa untuk kita (2Kor 5:21); dan dalam membayar hukuman sebagai pengganti orang berdosa, Ia dikutuk oleh Allah (Gal 3:13). Allah sebagai Bapa tidak meninggalkan Dia (Luk 23:46); tetapi Allah sebagai Hakim harus terpisah dari Dia jika Ia mau mengalami kematian rohani di tempat dari manusia berdosa].

Catatan: saya tak setuju dengan kalimat yang saya garis-bawahi. Saya tak mengerti bagaimana Wycliffe bisa memisahkan Allah sebagai Bapa dan Allah sebagai Hakim!

Lenski: “The ideas that either the physical agonies or the inner mental distress of Jesus led to this cry is unsatisfactory, since men have often suffered both and yet have felt deep inner comfort in the fact that God was with them. Nor can the forsaking of which Jesus complains be only an abandonment to the wicked power of his enemies; for this would imply that Jesus had so low an idea of God and of fellowship with him that he felt his nearness only in fortunate days and lost that feeling when his enemies seemed to triumph over him. Again, this cry was not uttered only by his human nature, as though his human nature had been unclothed of the divine and left to stand alone in these three hours of agony in the darkness. Such Nestorianism misunderstands the agony suffered on the cross. Jesus does not lament that the divine nature or its divine powers have forsaken him, but that another person (‘thou’) has left him” [= Gagasan bahwa penderitaan fisik atau batin dari Yesus membimbingNya pada teriakan ini tidak memuaskan, karena manusia telah sering mengalami penderitaan dalam kedua hal itu tetapi telah merasakan penghiburan batin yang dalam di dalam fakta bahwa Allah ada bersama dengan mereka. Juga tindakan meninggalkan yang Yesus keluhkan bukan hanya suatu tindakan meninggalkan pada kuasa jahat dari musuh-musuhNya; karena ini secara tak langsung menunjukkan bahwa Yesus mempunyai gagasan yang begitu rendah tentang Allah dan tentang persekutuan denganNya sehingga Ia merasa kedekatanNya hanya dalam hari-hari yang mujur, dan kehilangan perasaan itu pada waktu musuh-musuhNya kelihatannya menang atasNya. Juga, teriakan ini tidak diucapkan hanya oleh hakekat manusiaNya, seakan-akan hakekat manusiaNya dipisahkan dari hakekat ilahiNya dan ditinggalkan untuk berdiri sendiri dalam 3 jam penderitaan dalam kegelapan ini. Demikianlah Nestorianisme salah mengerti tentang penderitaan yang diderita di kayu salib. Yesus tidak meratap karena hakekat ilahi atau kuasa ilahi telah meninggalkanNya, tetapi karena seorang pribadi lain (‘Engkau’) telah meninggalkanNya] - hal 1118.

Lenski: “Some have supposed that, when Jesus uttered this cry, he virtually tasted of death, and that this is what he had in mind when he spoke of being forsaken of God. But Jesus died, actually died later and in his actual death was not forsaken of God, for he commended his soul into his Father’s hands. ... The forsaking is often combined with the death, yet the two are quite distinct. The forsaking had been completed before the death set in. When Jesus died he placed his soul into the hands of his Father and thus was certainly not forsaken. But while they are distinct, the forsaking and the death are closely connected. The death was the penalty for the sins of the world, and thus in connection with it this forsaking of the dying Savior was necessary. After this had been endured, Jesus could cry, ‘It is finished!’ and then yield his soul into his Father’s hands” [= Beberapa orang menduga bahwa pada waktu Yesus mengucapkan teriakan ini, Ia benar-benar merasakan kematian, dan bahwa inilah yang ada dalam pikiranNya pada waktu Ia berkata bahwa Ia ditinggalkan oleh Allah. Tetapi Yesus baru betul-betul mati belakangan, dan dalam kematianNya yang sungguh-sungguh ini Ia tidak ditinggalkan oleh Allah, karena Ia mempercayakan / menyerahkan jiwaNya ke dalam tangan BapaNya. ... ‘Keadaan ditinggalkan’ ini sering digabungkan / disatukan dengan ‘kematian’Nya, tetapi keduanya berbeda. ‘Keadaan ditinggalkan’ itu telah selesai sebelum ‘kematian’ tiba. Pada waktu Yesus mati Ia menempatkan jiwaNya ke dalam tangan BapaNya dan dengan demikian jelas Ia tidak ditinggalkan. Tetapi sekalipun kedua hal itu berbeda, ‘keadaan ditinggalkan’ dan ‘kematian’ berhubungan dekat. ‘Kematian’ adalah hukuman untuk dosa-dosa dunia, dan karena itu dalam hubungan dengannya ‘keadaan ditinggalkan’ dari sang Juruselamat yang sedang sekarat itu diperlukan. Setelah ini ditanggung, Yesus bisa berteriak, ‘Sudah selesai!’ dan lalu menyerahkan jiwaNya ke dalam tangan BapaNya] - hal 1118,1120-1121.

Lenski: “We must note the difference between Jesus’ experience in Gethsemane and that on Golgotha. In the garden Jesus has a God who hears and strengthens him; on the cross this God has turned wholly away from him. During those three black hours Jesus was made sin for us (2Cor. 5:21), was made a curse for us (Gal. 3:13), and thus God turned completely away from him. ... With his dying powers he cries to God and now no longer sees in him the Father, for a wall of separation has risen between the Father and the Son, namely the world’s sin and its curse as they now lie upon the Son” [= Kita harus memperhatikan perbedaan antara pengalaman Yesus di Getsemani dan di Golgota. Dalam taman (Getsemani), Yesus mempunyai Allah yang mendengarNya dan menguatkanNya; di kayu salib, Allah ini sepenuhnya berbalik dari Dia. Selama 3 jam yang gelap itu Yesus dibuat menjadi dosa untuk kita (2Kor 5:21), dibuat menjadi kutuk untuk kita (Gal 3:13), dan karena itu Allah berbalik sepenuhnya dari Dia. ... Dengan kekuatanNya dalam keadaan sekarat itu Ia berteriak kepada Allah dan sekarang tidak lagi melihat sang Bapa dalam diriNya, karena suatu tembok pemisah telah muncul di antara Bapa dan Anak, yaitu dosa dunia dan kutuknya pada waktu keduanya sekarang terletak pada diri Anak] - hal 1119.

2Korintus 5:21 - “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah”.

Galatia 3:13 - “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: ‘Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!’”.

Lenski: “What is involved in the fact that God forsook or abandoned Jesus during those three awful hours no man can really know. The nearest we can hope to come toward penetrating this mystery is to think of Jesus as being covered with the world’s sins and curse and that, when God saw Jesus thus, he turned away from him. The Son of God bore our sin and its curse in his human nature, this nature supported by the divine” [= Apa yang tercakup dalam fakta bahwa Allah meninggalkan Yesus selama 3 jam yang mengerikan itu tak seorangpun bisa sungguh-sungguh mengertinya. Hal terdekat yang bisa kita harapkan untuk datang menembus misteri ini adalah menganggap Yesus sebagai ditutupi dengan dosa-dosa dunia dan kutuk, dan bahwa pada waktu Allah melihat Yesus dalam keadaan seperti itu, Ia berbalik dariNya. Anak Allah memikul dosa kita dan kutuknya dalam hakekat manusiaNya, hakekat ini ditopang oleh hakekat ilahi] - hal 1119.

Keberatan terhadap pandangan ini: terjadi perpisahan dalam diri Allah Tritunggal.

Jawaban atas keberatan ini:

1. Ini memang merupakan misteri yang tidak bisa kita mengerti sepenuhnya.

Word Biblical Commentary: “Jesus as the sin-bearing sacrifice (cf. 1:21; 20:28; 26:28) must endure the temporary abandonment of his Father, i.e., separation from God. ... it is impossible to assess what this may have meant to Jesus. This is one of the most impenetrable mysteries of the entire Gospel narrative” [= Yesus sebagai korban pemikul dosa (bdk. 1:21; 20:28; 26:28) harus menanggung keadaan ditinggalkan secara sementara oleh BapaNya, yaitu keterpisahan dari Allah. ... adalah mustahil untuk menilai apa artinya hal ini bagi Yesus. Ini merupakan salah satu misteri yang paling tak bisa dimasuki / dimengerti dalam seluruh cerita Injil].

2. Perpisahan Allah Bapa dengan Allah Anak bukan bersifat lokal, seakan-akan yang satu ada di sini dan yang lain ada di sana. Perpisahan secara lokal ini tidak mungkin terjadi karena baik Bapa maupun Anak adalah Allah yang maha ada. Jadi perpisahan ini hanyalah dalam persoalan hubungan / persekutuan saja.
Memang hancurnya hubungan / persekutuan antara Allah dan manusia merupakan hukuman dosa, dan hukuman inilah yang dipikul oleh Kristus!

Bagusnya pandangan ini:

a. Kristus betul-betul memikul hukuman dosa.
Lenski: “only thus, by actually forsaking Jesus, could the full price of our redemption be paid. To be forsaken of God is undoubtedly to taste his wrath. Jesus endured the full penalty for our sins when God turned from him for three hours while Jesus hung on the cross. During those hours the penalty was paid to the uttermost farthing; and after that had been done, God again turned to Jesus” [= hanya dengan demikian, dengan Yesus betul-betul ditinggalkan, barulah harga penuh dari penebusan kita dibayar. Ditinggalkan oleh Allah tak diragukan berarti merasakan murkaNya. Yesus menanggung hukuman penuh untuk dosa-dosa kita pada waktu Allah berbalik dariNya selama 3 jam pada waktu Yesus tergantung pada kayu salib. Selama jam-jam itu hukuman dibayar sampai sen yang terakhir; dan setelah hal itu telah dilakukan, Allah berbalik kepada Yesus lagi] - hal 1120.

Pulpit Commentary: “He was ‘left’ that he might bear man’s sins in their full and crushing weight, and by bearing save” [= Ia ‘ditinggalkan’ supaya Ia bisa menanggung dosa-dosa manusia dalam beratnya yang penuh dan menghancurkan, dan dengan menanggungnya, Ia menyelamatkan] - hal 593.

b. Karena Kristus memikul hukuman dosa itu sebagai Allah dan manu­sia, maka penebusanNya mempunyai kuasa yang tak terbatas!
Catatan: ini tidak bertentangan dengan doktrin Limited Atonement [= Penebusan Terbatas], karena yang di sini dibicarakan adalah kuasa penebusan, dan itu memang tak terbatas. Sedangkan dalam doktrin Limited Atonement [= Penebusan Terbatas] itu yang dianggap terbatas adalah design / tujuan dari penebusan itu.

3) Sedih, tetapi tetap beriman.

a) Kesedihan.
Kata ‘mengapa’ dalam ay 46 ini tidak menunjukkan bahwa Kristus betul-betul tidak tahu apa sebabnya Ia ditinggalkan oleh BapaNya, tetapi hanya merupakan ungkapan kesedihan karena Ia ditinggal oleh BapaNya.

Dalam hal ini menurut saya Lenski memberikan penafsiran yang saya anggap salah.
Lenski: “The matter that is hidden from Jesus in this fearful ordeal is the object God has in forsaking Jesus. ... We need not be surprised to hear from Jesus himself that this purpose was hidden from him; for in his humiliation other things, too, were kept from him (24:36)” [= Hal yang tersembunyi dari Yesus dalam siksaan yang menakutkan ini adalah tujuan Allah dalam meninggalkan Yesus. ... Kita tidak perlu heran mendengar dari Yesus sendiri bahwa tujuan ini disembunyikan dari Dia; karena dalam perendahanNya hal-hal lain juga ditahan dari Dia (24:36)] - hal 1120.

Saya berpendapat ini tak bisa disamakan dengan Mat 24:36 (tentang Yesus tak tahu hari Tuhan), karena dalam hal ini Yesus tahu tujuan kedatanganNya ke dalam dunia (bdk. Yoh 12:27). Di taman Getsemani Ia sangat takut, dan yang Ia takuti jelas adalah hal ini. Jadi, kata ‘mengapa’ di sini bukan merupakan wujud dari ketidak-tahuan, tetapi merupakan suatu ungkapan kesedihan.

b) Iman.
Kata ‘AllahKu’ yang diulang sampai 2 x, menunjukkan bahwa dalam kesedihan yang terdalam itu, Ia tetap beriman dan berpegang kepada BapaNya.

Calvin: “it should be marked, that Christ, although subject to human passions and affections, never fell into sin through the weakness of the flesh; for the perfection of his nature preserved him from all excess” [= harus diperhatikan bahwa Kristus, sekalipun tunduk pada penderitaan dan perasaan manusia, tidak pernah jatuh ke dalam dosa karena kelemahan daging; karena kesempurnaan dari hakekatNya menjagaNya dari semua yang berlebihan].

Arthur W. Pink: “It was a cry of distress but not of distrust. God had withdrawn from Him, but mark how His soul still cleaves to God” [= Itu merupakan suatu teriakan kesedihan tetapi bukan ketidak-percayaan. Allah telah meninggalkanNya tetapi perhatikan bagaimana jiwaNya tetap berpaut kepada Allah] - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 75.

c) Ini merupakan teladan bagi kita.
Arthur W. Pink: “O what an example has the Saviour left His people! It is comparatively easy to trust God while the sun is shining, the test comes when all is dark. But a faith that does not rest on God in adversity as well as in prosperity is not the faith of God’s elect: ... Fellow-Christian, all may be dark with thee, you may no longer behold the light of God’s countenance. Providence seems to frown upon you, notwithstanding, say still ‘Eli, Eli, My God, My God.’” [= Ini betul-betul merupakan suatu teladan yang telah ditinggalkan oleh sang Juruselamat bagi umatNya! Merupakan sesuatu yang relatif mudah untuk mempercayai Allah pada waktu matahari bersinar; ujian datang pada waktu semua gelap. Tetapi iman yang tidak bersandar kepada Allah dalam kesengsaraan maupun kemakmuran bukanlah iman dari orang-orang pilihan Allah: ... Rekan-rekan Kristen, semua mungkin gelap dengan engkau, engkau mungkin tidak lagi melihat terang dari wajah Allah. Providensia kelihatannya merengut kepadamu, tetapi tetaplah berkata: ‘Eli, Eli, Allahku, Allahku’.] - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 76-77.

4) Ini merupakan penderitaan terberat bagi Yesus
Matthew Henry: “that Christ’s being forsaken of his Father was the most grievous of his sufferings, and that which he complained most of. Here he laid the most doleful accents; he did not say, ‘Why am I scourged? And why spit upon? And why nailed to the cross?’ Nor did he say to his disciples, when they turned their back upon him, ‘Why have ye forsaken me?’ But when his Father stood at a distance, he cried out thus” [= bahwa Kristus ditinggal oleh BapaNya merupakan penderitaanNya yang paling menyedihkan, dan yang paling Ia keluhkan. Di sini Ia memberikan aksenNya yang paling muram; Ia tidak berkata: ‘Mengapa Aku disesah / dicambuki? Dan mengapa Aku diludahi? Dan mengapa Aku dipakukan pada kayu salib?’ Juga Ia tidak berkata kepada murid-muridNya, pada waktu mereka meninggalkanNya, ‘Mengapa kalian meninggalkan Aku?’. Tetapi pada waktu BapaNya meninggalkanNya, Ia berteriak seperti itu].

Ini merupakan penderitaan yang terberat, karena:

a) Ini merupakan penderitaan rohani.
Setiap orang yang pernah mengalami penderitaan rohani tahu bahwa penderitaan rohani lebih berat dari penderitaan jasmani.

b) Yesus selalu dekat dengan BapaNya, tetapi sekarang harus terpisah.
1. Orang yang berdosa / orang dunia memang tidak peduli kalau dirinya tidak mempunyai hubungan dengan Allah. Tetapi kalau orang itu adalah orang kristen, makin rohani orang itu, makin akan merasa berat kalau menjauh dari Bapa. Apalagi Yesus!
2. Makin dua orang saling mengasihi, makin berat dan menyakitkan kalau terjadi perpisahan. Dan tidak ada dua pribadi manapun yang kedekatannya seperti Yesus dengan Bapa!

c) Yesus ditinggal justru di puncak penderitaanNya, yaitu pada saat Ia sedang menderita di atas kayu salib. Ada 2 hal yang perlu diperhatikan:
1. Pada saat-saat lain, Yesus selalu merasakan kehadiran BapaNya.
2. Biasanya orang-orang yang hampir mati syahid selalu merasakan kehadiran Allah.
Contoh: Stephanus dalam Kis 7:56 - “Lalu katanya: ‘Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.’”.
Tetapi pada saat Yesus menderita secara luar biasa dan mau mati, Ia justru ditinggal oleh Allah!

Matthew Henry: “When his soul was first troubled, he had a voice from heaven to comfort him (Jn. 12:27-28); when he was in his agony in the garden, there appeared an angel from heaven strengthening him; but now he had neither the one nor the other. God hid his face from him, and for awhile withdrew his rod and staff in the darksome valley” [= Pada waktu jiwaNya susah, Ia mendapatkan suara dari surga untuk menghiburNya (Yoh 12:27-28); pada waktu Ia ada dalam penderitaanNya di taman (Getsemani), di sana muncul seorang malaikat dari surga untuk menguatkanNya; tetapi sekarang Ia tidak mendapatkan yang manapun dari keduanya. Allah menyembunyikan wajahNya dariNya, dan untuk sementara menarik tongkat dan gadaNya dalam lembah kegelapan].

Bandingkan dengan ayat-ayat ini:
· Yoh 12:27-28 - “(27) Sekarang jiwaKu terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini. (28) Bapa, muliakanlah namaMu!’ Maka terdengarlah suara dari sorga: ‘Aku telah memuliakanNya, dan Aku akan memuliakanNya lagi!’”.
· Luk 22:41-43 - “(41) Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya, lalu Ia berlutut dan berdoa, kataNya: (42) ‘Ya BapaKu, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari padaKu; tetapi bukanlah kehendakKu, melainkan kehendakMulah yang terjadi." (43) Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepadaNya untuk memberi kekuatan kepadaNya”.

Karena itu, jelas bahwa pada waktu Yesus mengalami ketakutan di taman Getsemani, sebetulnya bukan penderitaan fisik (cambuk, salib), penghinaan, keadaan ditinggal / dikhianati oleh murid-muridNya dsb yang Ia takuti, tetapi peristiwa inilah yang Ia takuti.

5) Mengapa Yesus harus mengalami semua ini? Tidak cukupkah penghinaan, pukulan, cambukan, penyaliban yang Ia terima?

Jawabnya: tidak cukup, karena:

a) Manusia terdiri dari tubuh dan roh. Karena itu Yesus harus mengalami penderitaan jasmani maupun rohani.

b) Karena dosa memisahkan Allah dan manusia.
Kej 3:23-24 - “(23) Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil. (24) Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkanNyalah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan”.
Yesaya 59:1-2 - “(1) Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaranNya tidak kurang tajam untuk mendengar; (2) tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu”.
Matius 25:41 - “Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiriNya: Enyahlah dari hadapanKu, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya”.
2Tesalonika 1:9 - “Mereka ini akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatanNya”.

Arthur W. Pink: “Sin excludes from God’s presence. That was the great lesson taught Israel. Jehovah’s throne was in their midst, yet was it not accessible. He abode between the cherubim in the holy of holies and into it none might come, saving the high priest, and he but one day in the year bearing blood with him. The Veil which hung both in the tabernacle and in the temple, barring access to the throne of God, witnessed to the solemn fact that sin separates from Him” [= Dosa menjauhkan dari kehadiran Allah. Itu merupakan pelajaran yang besar yang dipelajari oleh Israel. Takhta Yehovah ada di tengah-tengah mereka, tetapi tak bisa dimasuki. Ia tinggal di antara kerubim dalam Ruang Maha Suci, dan ke dalamnya tak seorangpun boleh datang, kecuali imam besar, dan iapun hanya satu hari dalam satu tahun membawa darah dengannya. Tirai yang tergantung baik dalam Kemah Suci maupun dalam Bait Allah, menghalangi jalan masuk ke takhta Allah, memberikan kesaksian pada fakta yang keramat / kudus bahwa dosa memisahkan dari Dia] - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 69.

Karena itu kalau Yesus mau memikul hukuman dosa kita, Ia harus mengalami keterpisahan itu. Keterpisahan dengan Bapa ini menyebabkan terjadinya hal-hal yang bertentangan dengan biasanya.

Arthur W. Pink: “The forsaking of the Redeemer by God was a solemn fact, ... Our Saviour’s position on the Cross was absolutely unique. This may readily be seen by contrasting His own words spoken during His public ministry with those uttered on the Cross itself. Formerly He said, ‘And I knew that Thou hearest Me always’ (John 11:42); now He cries, ‘O My God, I cry in the day time, but Thou hearest not’ (Psa. 22:2)! Formerly He said, ‘And He that sent Me is with Me; the Father hath not left Me alone’ (John 8:29); now He cries, ‘My God, My God, why hast thou forsaken Me?’” [= Tindakan meninggalkan oleh Allah terhadap sang Penebus merupakan suatu fakta yang keramat / kudus, ... Posisi sang Juruselamat pada kayu salib adalah unik secara mutlak. Ini bisa dengan mudah terlihat dengan mengkontraskan kata-kataNya sendiri dalam sepanjang pelayanan umumNya dengan kata-kataNya yang diucapkan pada kayu salib itu. Dahulu Ia berkata, ‘Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku’ (Yoh 11:42); sekarang Ia berteriak, ‘Allahku, aku berseru-seru pada waktu siang, tetapi Engkau tidak menjawab’ (Maz 22:3)! Dahulu Ia berkata, ‘Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri’ (Yoh 8:29); sekarang Ia berteriak, ‘AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?’] - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 75.
Catatan: sebetulnya Maz 22:3 tidak diucapkan oleh Yesus di kayu salib.

6) Ini merupakan peristiwa yang menunjukkan keadilan dan kesucian Allah secara paling menyolok.

Arthur W. Pink: “Not all the thunderbolts of Divine judgment which were let loose in Old Testament times, not all the vials of wrath which shall yet be poured forth on an apostate Christendom during the unparalleled horrors of the Great Tribulation, not all the weeping and wailing and gnashing of teeth of the damned in the Lake of Fire ever gave, or ever will give such a demonstration of God’s inflexible justice and ineffable holiness, of His infinite hatred of sin, as did the wrath of God which flamed against His own Son on the Cross. ... This, then, is the true explanation of Calvary. God’s holy character could not do less than judge sin even though it be found on Christ Himself. At the Cross then God’s justice was satisfied and His holiness vindicated” [= Tidak semua petir dari penghakiman ilahi yang dilepaskan dalam jaman Perjanjian Lama, tidak semua botol kemurkaan yang akan dicurahkan pada orang-orang kristen yang murtad dalam sepanjang kengerian yang tak ada bandingannya dari Masa Kesukaran Besar, tidak semua tangisan dan ratapan dan kertakan gigi dari orang-orang terkutuk dalam lautan api, pernah memberikan, atau akan memberikan, demonstrasi seperti itu dari keadilan yang kaku dan kekudusan / kesucian yang tak terlukiskan, dari kebencianNya yang tak terhingga terhadap dosa, seperti yang dilakukan oleh kemurkaan Allah yang menyala terhadap AnakNya sendiri di kayu salib. ... Maka, inilah penjelasan yang sebenarnya dari Kalvari. Karakter yang kudus / suci dari Allah tidak bisa melakukan kurang dari menghakimi dosa, sekalipun itu ditemukan pada diri Kristus sendiri. Maka pada salib keadilan Allah dipuaskan dan kekudusan / kesucianNya dipertahankan] - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 72-73.

7) Karena Yesus sudah mengalami keterpisahan ini, maka:

a) Orang berdosa yang terpisah / tidak mempunyai hubungan dengan Allah, akan diperdamaikan dengan Allah kalau ia percaya kepada Yesus.

Roma 5:1 - “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus”.

2Korintus 5:18-21 - “(18) Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diriNya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. (19) Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diriNya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. (20) Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. (21) Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah”.

Efesus 2:13-19 - “(13) Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu ‘jauh’, sudah menjadi ‘dekat’ oleh darah Kristus. (14) Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, (15) sebab dengan matiNya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diriNya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, (16) dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. (17) Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang ‘jauh’ dan damai sejahtera kepada mereka yang ‘dekat’, (18) karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa. (19) Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah”.

Penerapan: sudahkah saudara mempunyai hubungan atau berdamai dengan Allah? Ingatlah bahwa sebaik apapun saudara hidup, dan agama apapun yang saudara anut, kalau saudara belum datang dan percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat saudara, maka saudara adalah musuh Allah! Datanglah dan percayalah kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat saudara, maka saudara akan diperdamaikan dengan Allah!

b) Orang kristen yang sudah diperdamaikan dengan Allah, tidak bisa lagi mengalami keterpisahan dari Allah, baik di dunia ini maupun di dalam kekekalan.

C. H. Spurgeon: “the only solution of the mystery is this, Jesus Christ was forsaken of God because we deserved to be forsaken of God. He was there, on the cross, in our room, and place, and stead; and as the sinner, by reason of his sin, deserves not to enjoy the favour of God, so Jesus Christ, standing in the place of the sinner, and enduring that which would vindicate the justice of God, had to come under the cloud, as the sinner must have come, if Christ had not taken his place. But, then, since he has come under it, let us recollect that he was thus left of God that you and I, who believe in him, might never be left of God. Since he, for a little while, was separated from his Father, we may boldly cry, ‘Who shall separate us from the love of Christ?’ (Rom 8:35) and, with the apostle Paul, we may confidently affirm that nothing in the whole universe ‘shall be able to separate us from the love of God, which is in Christ, Jesus our Lord’ (Rom 8:39)” [= satu-satunya solusi dari misteri ini adalah ini, Yesus Kristus ditinggalkan oleh Allah karena kita layak ditinggalkan oleh Allah. Ia ada di sana, di kayu salib, di tempat / kedudukan kita; dan karena orang berdosa, karena dosanya, layak untuk tidak menikmati kebaikan Allah, maka Yesus Kristus, berdiri di tempat dari orang berdosa, dan menanggung apa yang mempertahankan keadilan Allah, harus datang di bawah awan, sebagaimana orang berdosa harus datang seandainya Kristus tidak mengambil tempatnya. Tetapi, karena Ia telah datang di bawahnya, hendaklah kita mengingat kembali bahwa Ia ditinggalkan seperti itu oleh Allah supaya engkau dan aku, yang percaya kepadaNya, tidak pernah ditinggalkan oleh Allah. Karena Ia, untuk waktu yang singkat, terpisah dari BapaNya, kita bisa dengan berani berteriak, ‘Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?’ (Ro 8:35) dan, bersama dengan rasul Paulus, kita bisa dengan yakin menegaskan bahwa tidak ada apapun di seluruh alam semesta ‘akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita’ (Ro 8:39)] - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 4, hal 321.

Bdk. Ibr 13:5b - “Karena Allah telah berfirman: ‘Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.’”.

Ada beberapa ajaran yang bertentangan dengan doktrin ini:

1. Orang kristen yang berbuat dosa akan ditinggal oleh Roh Kudus, dan kalau ia bertobat ia harus mengundang Yesus untuk masuk ke dalam dirinya lagi.
Ini jelas adalah ajaran yang salah! Kita bisa merasa ditinggal oleh Allah, tetapi tidak bisa betul-betul ditinggal oleh Allah, karena Yesus sudah mengalami hal itu untuk kita!

2. Orang kristen bisa kehilangan keselamatannya. Ini berarti bahwa ia terpisah dari Allah dalam kekekalan. Ini lagi-lagi merupakan suatu ajaran yang salah, karena kita tak mungkin mengalami keterpisahan dari Allah karena hal ini sudah dialami oleh Yesus bagi kita!

Arthur W. Pink: “Here then is the basis of our Salvation. Our sins have been borne. God’s claims against us have been fully met. Christ was forsaken of God for a season that we might enjoy His presence for ever” [= Maka inilah dasar dari Keselamatan kita. Dosa-dosa kita telah ditanggung / dipikul. Tuntutan Allah terhadap kita telah dipenuhi sepenuhnya. Kristus ditinggalkan oleh Allah untuk sementara supaya kita bisa menikmati kehadiranNya selama-lamanya] - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 80.

8) Kata-kata Kristus ini juga menunjukkan nasib dari orang-orang yang tidak percaya sampai akhir.

Arthur W. Pink: “The cry of the Saviour’s foretells the final condition of every lost soul - forsaken of God! ... this Cry of Christ’s witnesses to God’s hatred of sin. Because He is holy and just, God must judge sin wherever it is found. If then God spared not the Lord Jesus when sin was found on Him, what possible hope is there, unsaved reader, that He will spare thee when thou standest before Him at the great white throne with sin upon thee? If God poured out His wrath on Christ while He hung as Surety for His people, be assured that He will most certainly pour out His wrath on you if you die in your sins. ... God ‘spared not’ His own Son when He took the sinner’s place, nor will He spare him who rejects the Saviour. Christ was separated from God for three hours, and if you finally reject Him as your Saviour you will be separated from God for ever” [= Teriakan dari sang Juruselamat meramalkan keadaan akhir dari setiap jiwa yang terhilang - ditinggalkan oleh Allah! ... Teriakan dari Kristus ini memberi kesaksian tentang kebencian Allah terhadap dosa. Karena Ia kudus / suci dan benar, Allah harus menghakimi dosa dimanapun itu ditemukan. Karena itu, kalau Allah tidak menyayangkan Tuhan Yesus pada waktu dosa ditemukan pada Dia, kemungkinan pengharapan apa yang ada di sana, pembaca yang belum diselamatkan, bahwa Ia akan menyayangkan engkau pada waktu engkau berdiri di hadapanNya pada takhta putih dan besar dengan dosa padamu? Jika Allah mencurahkan kemurkaanNya kepada Kristus pada waktu Ia tergantung sebagai Jaminan / Penanggung bagi umatNya, yakinlah bahwa Ia pasti akan mencurahkan murkaNya kepadamu jika engkau mati dalam dosa-dosamu. ... Allah ‘tidak menyayangkan’ AnakNya sendiri pada waktu Ia mengambil tempat dari orang berdosa, dan Ia juga tidak akan menyayangkan dia yang menolak sang Juruselamat. Kristus dipisahkan dari Allah selama 3 jam, dan jika engkau akhirnya menolak Dia sebagai Juruselamatmu, engkau akan dipisahkan dari Allah untuk selama-lamanya] - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 82,83,84.

Bdk. 2Tesalonika 1:9 - “Mereka ini akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatanNya”.

Kalimat kelima Yohanes 19:28

Yoh 19:28 - “Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia - supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci - : ‘Aku haus!’”.

Yohanes 19:28-30 - “(28) Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia - supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci - : ‘Aku haus!’ (29) Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus. (30) Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ‘Sudah selesai.’ Lalu Ia menundukkan kepalaNya dan menyerahkan nyawaNya”.

Sesuatu yang perlu diperhatikan bahwa dalam Kitab Suci diceritakan 2 x pemberian minum kepada Yesus. Yang pertama Ia tolak, yang kedua Ia terima. Matius dan Markus menceritakan kedua pemberian minum tersebut, tetapi Yohanes hanya menceritakan pemberian minum yang kedua.

Mark 15:23,36a - “(23) Lalu mereka memberi anggur bercampur mur kepadaNya, tetapi Ia menolaknya. ... (36a) Maka datanglah seorang dengan bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum”.

Mat 27:34,48 - “(34) Lalu mereka memberi Dia minum anggur bercampur empedu. Setelah Ia mengecapnya, Ia tidak mau meminumnya. ... (48) Dan segeralah datang seorang dari mereka; ia mengambil bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam, lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum”.

I) Yesus menolak minuman.

Dalam Matius 27:34 dikatakan bahwa minuman yang ditolak oleh Yesus itu adalah ‘anggur bercampur empedu’, dan dalam Mark 15:23 dikatakan bahwa itu adalah ‘anggur bercampur mur’. Ini bukan kontradiksi, karena minuman itu adalah anggur bercampur ramuan tertentu, yang mengandung baik empedu maupun mur.

Pulpit Commentary: “‘They offered him wine, mixed with narcotic gall,’ to stupefy his senses and lull his physical agony” [= ‘Mereka menawarkan Dia anggur, dicampur dengan empedu narkotik’, untuk membius perasaannya dan meredakan penderitaan fisikNya] - hal 425.

Adam Clarke: “This vinegar must not be confounded with the vinegar and gall mentioned Matt. 27:34, and Mark 15:23. That, being a stupifying potion, intended to alleviate his pain, he refused to drink; but of this he took a little, and then expired, ver. 29” [= Cuka / anggur asam ini tidak boleh dicampur-adukkan dengan cuka / anggur dan empedu yang disebutkan dalam Mat 27:34 dan Mark 15:23. Itu, karena merupakan obat / minuman pembius yang dimaksudkan untuk mengurangi rasa sakit, Ia tolak untuk minum; tetapi yang ini Ia meminumnya sedikit, dan lalu mati, ay 29] - hal 653.

Adam Clarke: “Some person, out of kindness, appears to have administered this to our blessed Lord; but he, as in all other cases, determining to endure the fulness of pain, refused to take what was thus offered to him” [= Beberapa orang, karena kebaikan, kelihatannya memberikan ini kepada Tuhan kita yang diberkati / terpuji; tetapi Ia, seperti dalam semua kasus yang lain, memutuskan untuk menahan rasa sakit sepenuhnya, menolak untuk meminum apa yang ditawarkan kepadaNya] - hal 273.

Bdk. Amsal 31:6-7 - “(6) Berikanlah minuman keras itu kepada orang yang akan binasa, dan anggur itu kepada yang susah hati. (7) Biarlah ia minum dan melupakan kemiskinannya, dan tidak lagi mengingat kesusahannya”.

Tetapi pada saat Yesus mengecap minuman itu, dikatakan bahwa Ia tidak mau meminumnya. Mengapa? Padahal sebentar lagi Ia minta minum (Yoh 19:28 - ‘Aku haus’), dan mau meminum minuman yang diberikan kepadaNya (Mark 15:36 Yoh 19:29-30). Beberapa penafsir mengatakan bahwa Ia tidak mau meminum anggur bercampur empedu / mur itu, karena itu adalah minuman yang mengandung ramuan yang bisa membius / mengurangi rasa sakit, dan diberikan kepada orang yang disalib sebagai suatu tindakan belas kasihan kepada mereka.

Ketidak-mauanNya menerima pengurangan rasa sakit / penderitaan merupakan sesuatu yang aneh. Orang kristen yang sejati mempunyai keyakinan keselamatan, dan karena itu mestinya tidak takut mati. Tetapi siapa yang tidak takut pada penderitaan / rasa sakit yang hebat? Siapa yang pada waktu mengalami rasa sakit yang hebat tidak menginginkan rasa sakitnya dikurangi? Kalau saudara pergi ke dokter gigi untuk dicabut giginya, atau kalau saudara akan dioperasi, tentu saudara senang menerima pembiusan supaya tidak mengalami rasa sakit.

Lalu mengapa Yesus tidak mau rasa sakit / penderitaanNya dikurangi? Karena Ia sadar bahwa saat itu Ia sedang memikul hukuman dosa manusia, termasuk hukuman dosa saudara dan saya. Dan Ia ingin memikul seluruh hukuman dosa manusia!

Andaikata saja pada saat itu Yesus mau meminum minuman bius itu, dan rasa sakitNya berkurang, katakanlah 10 %, maka itu berarti Ia hanya memikul 90 % hukuman dosa saudara dan saya. Tahukah saudara apa akibatnya? Saudara boleh saja betul-betul percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, tetapi hanya 90 % dari dosa-dosa saudara yang ditebus / dibayar oleh Yesus. Sedangkan 10 % sisanya, saudara harus menanggungnya sendiri. Kalau hal ini terjadi, maka renungkanlah 2 hal di bawah ini:

1) 10 % dari dosa kita itu luar biasa banyaknya.
Kalau saudara menganggap diri saudara itu baik, atau kalau saudara beranggapan bahwa jumlah dosa saudara cuma ratusan atau ribuan, maka itu disebabkan saudara tidak mengerti Firman Tuhan, yang merupakan standard Allah untuk menentukan dosa. Kalau saja saudara mengerti Firman Tuhan, dan saudara membandingkannya dengan hidup saudara, maka saya yakin saudara akan menemui berjuta-juta dosa.

Kalau kita menyoroti hukum Tuhan yang berbunyi ‘Jangan berdusta’ saja, maka berapa dosa yang saudara temukan dalam hidup saudara? Mulai saat saudara masih kecil sampai sekarang, berapa kali saudara berdusta kepada orang tua, kakek / nenek, guru di sekolah, teman, kakak / adik, teman kerja / rekan bisnis, langganan, pejabat pemerintahan, pegawai, bahkan kepada pengemis (dengan berkata ‘tidak punya uang’ padahal saudara punya)? Hanya dari satu hukum itu saja, sudah sukar menghitung jumlah dosa saudara! Bagaimana kalau ditambahkan dengan hukum-hukum yang lain, seperti jangan berzinah, jangan mencuri, jangan iri hati, hormatilah orang tuamu, hukum hari sabat, hukum antara suami istri, dsb? Bagaimana kalau ditambahkan lagi hukum-hukum yang dianggap ‘tidak masuk akal’, seperti:
· Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, pikiran, akal budi (Mat 22:37).
· Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Matius 22:39).
· Kasihilah musuhmu, doakan orang yang menganiaya kamu (Matius 5:44).
· Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan (Ro 12:17,21).
· Bersukacitalah senantiasa (1Tesalonika 5:16).
· Mengucap syukurlah dalam segala hal (1Tes 5:18).
Karena itu 10 % dari dosa kita pastilah luar biasa banyaknya. Kalau dosa kita jumlahnya 1 juta, maka 10 % dari dosa kita berarti 100.000 dosa!

2) Satu dosa sudah cukup untuk memasukkan diri saudara ke dalam neraka sampai selama-lamanya!
Ada agama lain yang mengatakan bahwa nanti pada akhir jaman perbuatan baik dan dosa setiap orang akan ditimbang; kalau lebih berat dosanya maka orangnya dimasukkan neraka, dan kalau lebih berat perbuatan baiknya maka orangnya akan dimasukkan surga. Ditinjau dari sudut agama lain itu, maka mungkin masih ada kemungkinan saudara akan masuk surga kalau saudara memikul sendiri 10 % dosa saudara. Tetapi Kitab Suci / Firman Tuhan tidak mengajar demikian! Roma 6:23 mengatakan bahwa “upah dosa ialah maut”! Jadi, tidak dikatakan kalau dosanya banyak / besar / lebih banyak dari perbuatan baiknya, barulah upahnya maut! Hanya dikatakan bahwa upah dosa ialah maut, dan itu berarti bahwa satu dosa saja sudah cukup untuk membawa saudara kedalam neraka sampai selama-lamanya!

Mengapa demikian? Karena Kitab Suci / Firman Tuhan mengajar bahwa perbuatan baik tidak bisa menutup dosa (Gal 2:16,21). Memang, kalau saudara ditangkap polisi karena melanggar peraturan lalu lintas dan akan menghadapi persidangan, bisakah saudara lalu berbuat baik dengan harapan perbuatan baik saudara itu menyebabkan saudara tidak didenda dalam pengadilan? Jelas tidak mungkin! Jadi, hukum duniapun mengatakan bahwa perbuatan baik tidak bisa menutup dosa. Dan demikian juga ajaran dari Kitab Suci / Firman Tuhan! Karena itulah maka satu dosa saja sudah cukup untuk membuat saudara masuk neraka sampai selama-lamanya!

Sekarang, bagaimana kalau kita gabungkan 2 hal di atas ini? 10 % dari dosa saudara bukan main banyaknya, sedikitnya ada 100.000 dosa. Padahal satu dosa saja sudah cukup membuang saudara ke dalam neraka sampai selama-lamanya. Bagaimana kalau saudara harus menanggung 100.000 dosa atau bahkan lebih dari itu?

Karena itu, andaikata Yesus mau meminum minuman yang mengandung ramuan bius itu, pasti seluruh umat manusia, mulai dari Adam sampai kiamat, termasuk saudara dan saya, akan masuk neraka sampai selama-lamanya!
Tetapi puji Tuhan, Yesus menolak minuman yang mengandung ramuan bius itu! Ia tidak mau memikul hanya sebagian atau 90 % hukuman dosa kita; Ia mau memikul seluruhnya atau 100 % hukuman dosa kita!!

II) Yesus minta minum.

1) Yesus minta minum, dengan berkata ‘Aku haus’ (Yohanes 19:28).
Setelah Yesus menolak minuman bius itu, Ia lalu disalibkan. Dan pada waktu ada di kayu salib, Ia berkata: ‘Aku haus’ (Yohanes 19:28).

2) Yesus memang sangat kehausan, karena:
a) Ia sudah ditawan sejak kemarin malam, dan sebagai tawanan Ia pasti tidak diperlakukan dengan baik. Jadi mungkin sekali Ia tidak diberi makanan ataupun minuman. Ini tentu menyebabkan Ia menjadi haus.
b) Ia digiring kesana kemari (kepada Mahkamah Agama, kepada Pontius Pilatus, kepada Herodes, kembali kepada Pontius Pilatus, dsb). Perjalanan ini tentu menambah kehausan Yesus.
c) Ia dicambuki dan dipukuli dan dimahkotai dengan duri. Semua ini menimbulkan luka-luka yang mengeluarkan darah / cairan tubuh sangat banyak, dan ini juga pasti menimbulkan kehausan yang luar biasa.
d) Ia harus memikul kayu salib yang cukup berat sejauh kurang lebih 1 km. Ini pasti menyebabkan Ia mengeluarkan banyak keringat, dan ini menambah kehausanNya.
e) Ia disalibkan mulai pukul 9 pagi (Mark 15:25). Memang mulai pukul 12 siang terjadi kegelapan (Mark 15:33), tetapi mulai pukul 9 pagi sampai pukul 12 siang Ia boleh dikatakan dijemur di panas matahari yang terik.

Semua hal di atas ini sudah pasti memberikan kehausan kepada Yesus, dan ini bukanlah kehausan biasa, tetapi suatu kehausan yang bukan main hebatnya. Dan semua ini sesuai dengan nubuat Maz 22:16 yang berbunyi: “lidahku melekat pada langit-langit mulutku” (Catatan: bacalah seluruh Maz 22 itu, khususnya ay 2,8-9,17b,19 dan saudara akan melihat dengan jelas bahwa itu adalah Mazmur tentang salib).

Bahwa Maz 22:16 itu menggunakan istilah ‘lidah yang melekat pada langit-langit mulut’, jelas menunjukkan kehausan yang luar biasa, dimana seluruh mulut betul-betul kering sehingga lidah melekat pada langit-langit.

A. T. Robertson: “Thirst is one of the severest agonies of crucifixion” [= Kehausan adalah salah satu dari penderitaan yang paling hebat dari penyaliban].

Barnes’ Notes: “Thirst was one of the most distressing circumstances attending the crucifixion. The wounds were highly inflamed, and the raging fever was caused usually by the sufferings on the cross, and this was accompanied by insupportable thirst” [= Kehausan adalah salah satu keadaan yang paling membuat menderita yang menyertai penyaliban. Luka-luka itu meradang dengan hebat, dan demam yang tinggi biasanya terjadi oleh penderitaan-penderitaan pada salib, dan ini disertai / diiringi oleh kehausan yang tak tertahankan] - hal 354.

3) Mengapa Yesus harus mengalami kehausan? Tidak cukupkah penderitaan cambuk dan salib yang Ia alami? Mengapa Kristus masih harus mengalami kehausan?

a) Karena hal itu sudah dinubuatkan dalam:
· Mazmur 22:16 - ‘lidahku melekat pada langit-langit mulutku’.
· Maz 69:22b - ‘pada waktu aku haus mereka memberi aku minum anggur asam’.

b) Supaya orang berdosa yang mengalami kehausan yang tak terpuaskan bisa terpuaskan dalam Kristus.

Spurgeon: “We know from experience that the present effect of sin in every man who indulges in it is thirst of soul. The mind of man is like the daughters of the horseleech, which cry for ever ‘Give, give.’ Metaphorically understood, thirst is dissatisfaction, the craving of the mind for something which it has not, but which it pines for. Our Lord says, ‘If any man thirst, let him come unto me and drink,’ that thirst being the result of sin in every ungodly man at this moment. Now Christ standing in the stead of the ungodly suffers thirst as a type of his enduring the result of sin” [= Kami mengetahui dari pengalaman, bahwa akibat saat ini dari dosa dalam setiap orang yang menuruti keinginan hatinya di dalamnya adalah kehausan dari jiwa. Pikiran manusia adalah seperti anak perempuan dari lintah, yang terus berteriak ‘Berilah, berilah’. Dimengerti secara kiasan, kehausan adalah ketidak-puasan, keinginan dari pikiran untuk sesuatu yang tidak dipunyainya, tetapi yang diharapkannya. Tuhan kita berkata: ‘Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepadaKu dan minum’, kehausan itu merupakan akibat dari dosa dalam setiap orang jahat pada saat ini. Sekarang Kristus yang berdiri di tempat orang-orang jahat, menderita kehausan sebagai suatu simbol dari pemikulan akibat dosa] - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of our Lord’, vol VI, hal 562.

William Hendriksen: “the emphasis is on the infinite love of the Lord, revealed in being willing to suffer burning thirst in order that for his people he might be the everlasting fountain of living water” [= penekanannya adalah pada kasih yang tak terbatas dari Tuhan, dinyatakan dalam kerelaanNya untuk menderita / mengalami kehausan yang membakar supaya Ia bisa menjadi sumber yang kekal dari air hidup bagi umatNya] - hal 434.

c) Karena dosa pertama-tama masuk ke dalam dunia melalui mulut, maka pemberesan dosa juga harus berurusan dengan mulut.
Spurgeon: “See, brethren, where sin begins, and mark that there it ends. It began with the mouth of appetite, when it was sinfully gratified, and it ends when a kindred appetite is graciously denied. Our first parents plucked forbidden fruit, and by eating slew the race. Appetite was the door of sin, and therefore in that point our Lord was put to pain. With ‘I thirst’ the evil is destroyed and receives its expiation. ... A carnal appetite of the body, the satisfaction of the desire for food, first brought us down under the first Adam, and now the pang of thirst, the denial of what the body craved for, restores us to our place” [= Lihatlah, saudara-saudara, dimana dosa mulai, dan tandailah bahwa di sana dosa berakhir. Dosa dimulai dengan mulut yang ingin makan, dan pada saat itu dipuaskan secara berdosa, dan dosa berakhir pada saat nafsu makan yang sama ditolak dengan kasih karunia. Orang tua pertama kita memetik buah terlarang, dan dengan memakannya membunuh umat manusia. Nafsu makan adalah pintu dari dosa, dan karena itu dalam hal itu Tuhan kita disakiti. Dengan kata-kata ‘Aku haus’ kejahatan dihancurkan dan mendapatkan penebusannya. ... Nafsu makan yang bersifat daging dari tubuh, pemuasan dari keinginan akan makanan, mula-mula membawa kita turun di bawah Adam pertama, dan sekarang rasa sakit dari kehausan, penyangkalan dari apa yang sangat diinginkan oleh tubuh, memulihkan kita ke tempat kita] - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of our Lord’, vol VI, hal 562.

Catatan: saya memberikan pandangan Spurgeon di sini, hanya karena saya merasa bahwa pandangannya merupakan sesuatu yang menarik. Tetapi saya tidak yakin apakah pandangannya ini benar atau tidak.

d) Supaya kita yang percaya tidak perlu masuk ke neraka dan mengalami kehausan yang kekal.
Spurgeon: “thirst will also be the eternal result of sin, for he says concerning the rich glutton, ‘In hell he lift up his eyes, being in torment,’ and his prayer, which was denied him, was, ‘Father Abraham, send Lazarus, that he may dip the tip of his finger in water and cool my tongue, for I am tormented in this flame.’ Now recollect, if Jesus had not thirsted, every one of us would have thirsted for ever afar off from God, with an impassable gulf between us and heaven. Our sinful tongues, blistered by the fever of passion, must have burned for ever had not his tongue been tormented with thirst in our stead” [= kehausan juga akan menjadi akibat kekal dari dosa, karena Ia berkata tentang orang kaya yang rakus, ‘Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut / neraka ia memandang ke atas’, dan doanya, yang tidak dikabulkan, adalah: ‘Bapa Abraham, suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini’. Sekarang ingatlah bahwa seandainya Yesus tidak mengalami kehausan, setiap kita akan mengalami kehausan selama-lamanya terpisah dari Allah, dengan jurang yang tak terseberangi antara kita dengan surga. Lidah-lidah kita yang berdosa, melepuh / kepanasan oleh demam dari nafsu / penderitaan, harus terbakar selama-lamanya, seandainya lidahNya tidak disiksa oleh kehausan di tempat kita / menggantikan kita] - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of our Lord’, vol VI, hal 562-563.

Matthew Henry: “The torments of hell are represented by a violent thirst in the complaint of the rich man that begged for a drop of water to cool his tongue. To that everlasting thirst we had been condemned, had not Christ suffered for us” [= Siksaan-siksaan neraka digambarkan oleh kehausan yang hebat dalam keluhan dari orang kaya yang mengemis untuk setetes air untuk mendinginkan / menyejukkan lidahnya. Pada kehausan kekal itu kita telah dihukum, seandainya Kristus tidak menderita bagi kita].

Bdk. Luk 16:23-24 - “(23) Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. (24) Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini”.

Karena Yesus saat ini sedang memikul seluruh hukuman dosa manusia, maka jelas bahwa Ia harus memikul juga kehausan yang luar biasa yang seharusnya kita alami di neraka.

4) Satu hal yang harus dipertanyakan adalah: Apakah dengan meminta minum dan mendapatkannya ini penderitaanNya tidak berkurang sehingga Ia tidak memikul 100 % hukuman dosa kita?
Ada 3 hal yang perlu diberikan sebagai jawaban:

a) Yesus meminta minum dengan tujuan supaya Firman Tuhan digenapi.
Perhatikan Yohanes 19:28 yang berbunyi: “berkatalah Ia - supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci - ‘Aku haus!’.
Kitab Suci yang mana? Jawabnya adalah Maz 69:22b yang berbunyi: “Pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam”. Ingat bahwa ini juga merupakan suatu nubuat yang berhubungan dengan Mesias / Yesus. Karena itu, tidak bisa tidak nubuat ini harus digenapi.

Adam Clarke: “‘I thirst.’ The scripture that referred to his drinking the vinegar is Psa. 69:21. The fatigue which he had undergone, the grief he had felt, the heat of the day, and the loss of blood, were the natural causes of this thirst. This he would have borne without complaint; but he wished to give them the fullest proof of his being the Messiah, by distinctly marking how everything relative to the Messiah, which had been written in the prophets, had its complete fulfilment in him” [= ‘Aku haus’. Kitab Suci yang berkenaan dengan peminuman cuka / anggur asam adalah Maz 69:22. Kelelahan yang telah Ia alami, kesedihan yang telah Ia rasakan, cuaca panas dari siang hari, dan kehilangan darah, merupakan penyebab-penyebab alamiah dari kehausanNya. Ini akan Ia tanggung tanpa keluhan; tetapi Ia ingin memberikan kepada mereka bukti yang paling penuh dari keberadaanNya sebagai Mesias, dengan menandai dengan jelas bagaimana segala sesuatu yang berhubungan dengan Mesias, yang telah ditulis dalam kitab nabi-nabi, mendapatkan penggenapan sempurna dalam Dia].

Mazmur 69:22 - “Bahkan, mereka memberi aku makan racun, dan pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam”.
KJV: ‘They gave me also gall for my meat; and in my thirst they gave me vinegar to drink’ [= Mereka juga memberiku empedu sebagai makananku; dan dalam kehausanku mereka memberiku minum cuka / anggur asam].

Dalam tafsirannya tentang Yoh 19:28-37, J. C. Ryle berkata sebagai berikut: “Three several predictions are specially mentioned, in Exodus, Psalms, and Zechariah, which received their accomplishment at the cross. Others, as every well-informed Bible-reader knows, might easily be added. All combine to prove one and the same thing. They prove that the death of our Lord Jesus Christ at Golgotha was a thing foreseen and predetermined by God. Hundreds of years before the crucifixion, every part of the solemn transaction was arranged in the Divine counsels, and the minutest particulars were revealed to the Prophets. From first to last it was a thing foreknown, and every portion of it was in accordance with a settled plan and design. In the highest fullest sense, when Christ died, He ‘died according to the Scriptures.’ (1Cor. 15:3)” [= Tiga ramalan yang terpisah disebutkan secara khusus, dalam Keluaran, Mazmur, dan Zakharia, yang menerima penggenapan mereka di kayu salib. Yang lain-lain, seperti yang diketahui oleh setiap pembaca Alkitab yang diajar dengan baik, bisa ditambahkan dengan mudah. Semua secara bersama-sama membuktikan hal yang satu dan yang sama. Mereka membuktikan bahwa kematian dari Tuhan kita Yesus Kristus di Golgota merupakan suatu hal yang dilihat lebih dulu dan ditentukan lebih dulu oleh Allah. Ratusan tahun sebelum penyaliban, setiap bagian dari transaksi yang keramat / kudus telah diatur / disusun / ditetapkan dalam Rencana Ilahi, dan fakta-fakta yang terkecil dinyatakan / diwahyukan kepada nabi-nabi. Dari awal sampai akhir itu merupakan hal yang diketahui lebih dulu, dan setiap bagian darinya sesuai dengan rencana dan design yang ditetapkan. Dalam arti yang paling tinggi dan paling penuh, pada saat Kristus mati, Ia ‘mati sesuai dengan Kitab Suci’ (1Kor 15:3)] - ‘Expository Thoughts on the Gospels’, (John volume III), hal 353.

J. C. Ryle: “We need not hesitate to regard such fulfilments of prophecy as strong evidence of the Divine authority of God’s Word. The Prophets foretell not only Christ’s death, but the particulars of His death. This shows their inspiration. It is impossible to explain so many accomplishments of predicted circumstances upon any other theory. To talk of luck, chance, and accidental coincidence, as sufficient explanation, is preposterous and absurd. The only rational account is the inspiration of God. The Prophets who foretold the particulars of the crucifixion, were inspired by Him who foresees the end from the beginning; and the books they wrote under His inspiration ought not to be read as human compositions, but Divine. Great indeed are the difficulties of all who pretend to deny the inspiration of the Bible. It really requires more unreasoning faith to be an infidel than to be a Christian. The man who regards the repeated fulfilments of minute prophecies about Christ’s death, such as the prophecies about His dress, His thirst, His pierced side, and His bones, as the result of chance, and not of design, must indeed be a credulous man” [= Kita tidak perlu ragu-ragu untuk menganggap penggenapan-penggenapan nubuat seperti itu sebagai bukti yang kuat dari otoritas Ilahi dari Firman Allah. Nabi-nabi menubuatkan bukan hanya kematian Kristus, tetapi detail-detail dari kematianNya. Ini menunjukkan pengilhaman mereka. Adalah tidak mungkin untuk menjelaskan begitu banyak pencapaian dari keadaan-keadaan yang diramalkan berdasarkan teori lain apapun. Berbicara tentang kemujuran / keberuntungan, kebetulan, dan kejadian yang kebetulan, sebagai penjelasan yang cukup, adalah tidak masuk akal dan menggelikan. Satu-satunya pandangan yang rasionil adalah pengilhaman dari Allah. Nabi-nabi yang meramalkan detail-detail dari penyaliban, diilhami oleh Dia yang melihat lebih dulu akhirnya dari semula; dan kitab-kitab yang mereka tulis di bawah pengilhamanNya tidak seharusnya dibaca sebagai karangan manusia tetapi karangan ilahi. Sangat besar kesukaran-kesukaran dari semua orang yang menolak pengilhaman dari Alkitab. Betul-betul membutuhkan iman yang lebih tak masuk akal untuk menjadi seorang kafir dari pada untuk menjadi seorang Kristen. Orang yang menganggap penggenapan-penggenapan yang berulang-ulang dari nubuat-nubuat kecil tentang kematian Kristus, seperti nubuat-nubuat tentang pakaianNya, kehausanNya, sisi / rusukNya yang ditusuk, dan tulang-tulangNya, sebagai hasil dari kebetulan, pastilah merupakan orang yang terlalu cepat percaya] - ‘Expository Thoughts on the Gospels’, (John volume III), hal 353-354.

b) Kristus minta minum supaya Ia bisa meneriakkan kata-kata ‘Sudah selesai’ (ay 30), yang mempunyai arti sangat penting bagi kita, supaya kita tahu tentang kesempurnaan penebusan Kristus bagi dosa kita.
Tanpa minuman itu, mulut, lidah, dan tenggorokan Yesus yang sangat kering karena kehausan yang luar biasa itu, tidak akan bisa mengucapkan kata-kata itu.

William Hendriksen: “It has been suggested that Jesus desired to slake his agonizing thirst in order to be able to utter the loud cry recorded in Luke 23:46 ... It is possible, but the text does not say anything to this effect” [= Telah diusulkan bahwa Yesus ingin memuaskan kehausannya yang menyakitkan supaya bisa mengucapkan teriakan keras yang dicatat dalam Luk 23:46 ... Itu mungkin, tetapi textnya tidak mengatakan apapun yang artinya seperti itu] - hal 434.

c) Ia minta minum setelah Ia tahu bahwa semua sudah selesai.
Perhatikan sekali lagi ay 28 yang berbunyi: “Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia - supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci - : ‘Aku haus’”.

Jadi, setelah penebusan yang Ia lakukan sudah cukup untuk menebus dosa kita, barulah Ia berkata ‘Aku haus’. Perhatikan kata-kata Calvin di bawah ini:

“Now, it ought to be remarked, that Christ does not ask any thing to drink till all things have been accomplished ... No words can fully express the bitterness of the sorrows which he endured; and yet he does not desire to be freed from them, till the justice of God has been satisfied, and till he has made a perfect atonement” [= Harus diperhatikan, bahwa Kristus tidak meminta minum apapun sampai semua telah selesai / tercapai ... Tidak ada kata-kata yang dapat menyatakan secara penuh kesedihan yang ditahanNya; tetapi Ia tidak ingin dibebaskan darinya, sampai keadilan Allah telah dipuaskan, dan sampai Ia telah membuat penebusan yang sempurna].

Penutup.

Kristus tidak mau memikul hanya sebagian, atau sebagian besar, dari dosa-dosa kita. Ia mau dan telah memikul seluruh dosa-dosa kita. Bahwa Ia minta minum, itu tidak berarti penderitaanNya dalam memikul hukuman dosa kita dikurangi. Ia minta minum setelah Ia tahu bahwa pemikulan hukuman dosa kita yang sedang Ia lakukan, sudah selesai. Karena itu, kalau saudara percaya kepada Dia, saudara tidak mungkin bisa dihukum. Tetapi kalau saudara menolak Dia, saudara akan mengalami kehausan seperti yang dialami orang kaya di dalam neraka. Pilihan ada di tangan saudara. Kiranya Tuhan memberkati saudara.

Kalimat keenam Yohanes 19:30

Yoh 19:30 - “Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ‘Sudah selesai.’ Lalu Ia menundukkan kepalaNya dan menyerahkan nyawaNya”.

Yohanes 19:28-30 - “(28) Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia - supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci - : ‘Aku haus!’ (29) Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus. (30) Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ‘Sudah selesai.’ Lalu Ia menundukkan kepalaNya dan menyerahkan nyawaNya”.

Matius 27:50 - “Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawaNya”.
Mark 15:37 - “Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawaNya”.
Leon Morris (hal 815) mengatakan bahwa kata-kata ‘Yesus berseru dengan suara nyaring’ menunjuk pada kata-kata ‘sudah selesai’.

I) ‘Sudah selesai’.

1) Kata-kata ‘Sudah selesai’ dalam ay 30 ini dalam bahasa Yunaninya hanya satu kata, yaitu TETELESTAI, sama persis dengan kata-kata ‘telah selesai’ dalam ay 28.

Yoh 19:28-30: “(28) Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia - supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci - : ‘Aku haus!’ (29) Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus. (30) Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ‘Sudah selesai.’ Lalu Ia menundukkan kepalaNya dan menyerahkan nyawaNya”.

Wycliffe Bible Commentary: “The vinegar was sour wine. It revived Jesus’ strength, enabling him to say (with a loud cry, according to the other Gospels), ‘It is finished.’ The same word tetelestai has already occurred in verse 28, rendered ‘accomplished.’” [= Cuka itu adalah anggur asam. Itu menyegarkan kekuatan Yesus, memampukan Dia untuk mengatakan (dengan suara yang keras, menurut Injil-Injil yang lain), ‘Sudah selesai’. Kata yang sama TETELESTAI telah muncul dalam ay 28, diterjemahkan ‘telah selesai’.].

2) Dalam bahasa Yunani kata-kata ‘Sudah selesai’ itu merupakan bentuk perfect tense.

Wuest’s Word Studies from the Greek New Testament: “THE PERFECT tense in Greek is very expressive. It speaks of an action that took place in the past, which was completed in past time, and the existence of its finished results” [= Bentuk perfect tense dalam bahasa Yunani sangat berarti. Tensa itu membicarakan tentang suatu tindakan yang terjadi pada masa lampau, yang telah diselesaikan pada masa lampau, dan hasil dari tindakan itu tetap ada].

Wuest lalu memberi contoh: kalau saya berkata dalam bahasa Yunani menggunakan perfect tense ‘saya telah menutup pintu itu’, maka itu berarti bahwa pada masa lalu saya telah menutup pintu itu, dan sampai sekarang pintu itu tetap tertutup. Dalam Mat 4:4 Yesus menjawab Iblis dengan kata-kata ‘Ada tertulis ...’. Ini juga menggunakan perfect tense. Yesus mengutip dari kitab Ulangan, yang ditulis oleh Musa sekitar 1500 tahun sebelumnya, tetapi tulisan itu tetap ada sampai saat itu. Juga dalam Ef 2:8 dikatakan ‘sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan’. Kata-kata ‘kamu diselamatkan’ lagi-lagi menggunakan perfect tense, dan karena itu artinya adalah ‘dahulu kamu diselamatkan (pada saat kamu percaya), dan sampai sekarang kamu tetap diselamatkan’. Jadi, dalam Yoh 19:30 pada saat Yesus berkata ‘Sudah selesai’ menggunakan perfect tense, artinya adalah: Itu sudah selesai pada masa lalu, dan sampai saat ini tetap selesai.

The Bible Exposition Commentary: “‘It is finished!’ In the Greek text, it is TETELESTAI, and it means, ‘It is finished, it stands finished, and it always will be finished!’” [= ‘Sudah selesai!’ Dalam text Yunani itu adalah TETELESTAI, dan itu berarti, ‘Itu sudah selesai, itu tetap selesai, dan itu akan selalu sudah selesai!’].

3) Kata-kata ‘Sudah selesai’ bisa diartikan ‘Sudah dibayar (lunas)’.

Bible Knowledge Commentary: “The sixth word or saying that Jesus spoke from the cross was the single Greek work TETELESTAI which means It is finished. Papyri receipts for taxes have been recovered with the word TETELESTAI written across them, meaning ‘paid in full.’ This word on Jesus’ lips was significant. When He said, ‘It is finished’ (not ‘I am finished’), He meant His redemptive work was completed” [= Kata atau kalimat keenam yang Yesus ucapkan dari salib adalah satu kata Yunani TETELESTAI, yang berarti ‘Sudah selesai’. Kwitansi papirus untuk pajak telah ditemukan dengan kata TETELESTAI dituliskan melewatinya, berarti ‘dibayar lunas’. Kata pada bibir Yesus ini sangat berarti / penting. Pada waktu Ia berkata, ‘Sudah selesai’ (bukan ‘Aku selesai / tamat’), Ia memaksudkan pekerjaan penebusanNya sudah selesai].

Dalam Kitab Suci, dosa memang sering digambarkan sebagai suatu hutang (Luk 7:36-50), dan kata Yesus dalam Yoh 19:30 ini menunjukkan bahwa Ia sudah membayar lunas hutang dosa kita.

4) Kata-kata ‘Sudah selesai’ ini merupakan teriakan kemenangan!

Wycliffe Bible Commentary: “Emphasis here is not on the ending of the sufferings but on the completion of the mission of redemption” [= Penekanan di sini bukanlah pada berakhirnya penderitaan, tetapi pada penyelesaian missi penebusan.].

Barclay: “‘It is finished’ is one word in Greek - TETELESTAI - and Jesus died with a shout of triumph on his lips. He did not say, ‘It is finished,’ in a weary defeat; he said it as one who shouts for joy because the victory is won. He seemed to be broken on the Cross, but he knew that his victory was won” [= ‘Sudah selesai’ merupakan satu kata dalam bahasa Yunani - TETELESTAI - dan Yesus mati dengan suatu teriakan kemenangan pada bibirNya. Ia tidak mengatakan ‘Sudah selesai’ dalam suatu kekalahan yang lelah / menjemukan; Ia mengatakannya sebagai seseorang yang berteriak dengan sukacita karena kemenangan telah dimenangkan. Ia kelihatannya dihancurkan pada salib, tetapi Ia tahu bahwa kemenanganNya telah dimenangkan / didapatkan] - hal 258.

Barclay: “For Jesus the strife was over and the battle was won; and even on the Cross he knew the joy of victory and the rest of the man who has completed his task and can lean back, content and at peace” [= Bagi Yesus perjuangan telah selesai dan pertempuran dimenangkan; dan bahkan pada salib ia (Yohanes / Yesus?) mengetahui sukacita dari kemenangan dan istirahat / ketenangan dari Orang yang telah menyelesaikan tugasNya dan bisa bersandar, puas dan dalam damai] - hal 258-259.

Arthur W. Pink: “‘It is finished.’ This was not the despairing cry of a helpless martyr; it was not an expression of satisfaction that the termination of His sufferings was now reached; it was not the last gasp of a worn-out life; No, rather was it the declaration on the part of the Divine Redeemer that all for which He came from Heaven to earth was now done; ... that all that was required by the Law before sinners could be saved had now been performed: that the full price of our redemption was now paid” [= ‘Sudah selesai’. Ini bukanlah teriakan putus asa dari seorang martir yang tidak berdaya; itu bukanlah suatu ungkapan kepuasan bahwa sekarang akhir dari penderitaanNya telah tercapai; itu bukan merupakan kata-kata terakhir dari kehidupan yang sudah lesu / letih; Tidak, sebaliknya itu merupakan pernyataan dari sang Penebus Ilahi bahwa semua untuk mana Ia datang dari surga ke bumi sekarang sudah selesai; ... bahwa semua yang dituntut oleh hukum Taurat sebelum orang-orang berdosa bisa diselamatkan sekarang telah dilakukan: bahwa harga sepenuhnya dari penebusan kita sekarang telah dibayar lunas] - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 102.

II) Apa yang ‘sudah selesai’?

1) Penebusan dosa, yang merupakan missi Kristus datang ke dalam dunia, sudah selesai.
Kata Yunani TETELESTAI berasal dari kata dasar TELEO, dan A. W. Pink memberikan penafsirannya berdasarkan penggunaan kata TELEO ini dalam Kitab Suci.

Arthur W. Pink: “‘It is finished’. The Greek word here - ‘TELEO’ is variously translated in the New Testament. A glance at some of the different renderings in other passages will enable us to discern the fulness and finality of the term used by the Saviour. In Matt. 11:1 TELEO is rendered as follows, When Jesus has made an end of commanding His twelve disciples, He departed thence.’ In Matt. 17:24 it is rendered, ‘They that received tribute money came to Peter, and said, Doth not your Master pay tribute?’ In Luke 2:39 it is rendered, ‘And when they had performed all things according to the law of the Lord, they returned into Galilee.’ In Luke 18:31 it is rendered, ‘All things that are written by the prophets concerning the Son shall be accomplished.’ Putting these together we learn the scope of the Saviour’s sixth Cross utterance. ‘It is finished.’ He cried: it is ‘made an end of;’ it is ‘paid;’ it is ‘performed;’ it is ‘accomplished.’ What was made an end of? - our sins and their guilt. What was ‘paid?’ - the price of our redemption. What was ‘performed?’ - the utmost requirements of the Law. What was ‘accomplished?’ - the work which the Father had given Him to do. What was ‘finished?’ - the making of Atonement” [= ‘Sudah selesai’. Kata Yunani di sini - ‘TELEO’ diterjemahkan secara bervariasi dalam Perjanjian Baru. Melihat sekilas pada beberapa terjemahan dalam text-text lain akan memampukan kita untuk melihat kepenuhan dan kelengkapan dari istilah yang digunakan oleh sang Juruselamat. Dalam Mat 11:1 TELEO diterjemahkan sebagai berikut: ‘Setelah Yesus selesai (KJV: ‘made and end’ / ‘mengakhiri’) berpesan kepada kedua belas muridNya, pergilah Ia dari sana’. Dalam Mat 17:24 itu diterjemahkan: ‘datanglah pemungut bea Bait Allah kepada Petrus dan berkata: ‘Apakah gurumu tidak membayar bea?’ Dalam Luk 2:39 itu diterjemahkan: ‘Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan (KJV: ‘performed’ / ‘melakukan’) menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke Galilea’. Dalam Luk 18:31 itu diterjemahkan: ‘segala sesuatu yang ditulis oleh para nabi mengenai Anak Manusia akan digenapi’. Dengan mengumpulkan semua terjemahan / arti ini kita mempelajari ruang lingkup dari ucapan keenam dari sang Juruselamat di kayu salib. ‘Sudah selesai’, teriakNya: itu artinya ‘mengakhiri’; itu artinya ‘dibayar / dilunasi’; itu artinya ‘dilakukan’; itu artinya ‘digenapi’. Apa yang diselesaikan? - dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan kita. Apa yang telah dibayar / dilunasi? - harga / ongkos penebusan kita. Apa yang telah dilakukan? - tuntutan tertinggi dari hukum Taurat. Apa yang telah digenapi? - pekerjaan yang diberikan Bapa kepadaNya untuk dilakukan. Apa yang diselesaikan? - pembuatan penebusan] - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 113.

Matius 11:1 - “Setelah Yesus selesai berpesan kepada kedua belas muridNya, pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka”.
KJV: ‘And it came to pass, when Jesus had made an end of commanding his twelve disciples, he departed thence to teach and to preach in their cities’.

Matius 17:24 - “Ketika Yesus dan murid-muridNya tiba di Kapernaum datanglah pemungut bea Bait Allah kepada Petrus dan berkata: ‘Apakah gurumu tidak membayar bea dua dirham itu?’”.
KJV: ‘And when they were come to Capernaum, they that received tribute money came to Peter, and said, Doth not your master pay tribute?’.

Lukas 2:39 - “Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea”.
KJV: ‘And when they had performed all things according to the law of the Lord, they returned into Galilee, to their own city Nazareth’.

Lukas 18:31 - “Yesus memanggil kedua belas muridNya, lalu berkata kepada mereka: ‘Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan segala sesuatu yang ditulis oleh para nabi mengenai Anak Manusia akan digenapi”.
KJV: ‘Then he took unto him the twelve, and said unto them, Behold, we go up to Jerusalem, and all things that are written by the prophets concerning the Son of man shall be accomplished’.

William Hendriksen: “Throughout his earthly sojourn and especially on the cross he had suffered the wrath of God against sin so as to deliver his people from it and to merit for them everlasting salvation. The task had been brought to completion. Jesus knew this, for he knew all things both in their totality and one by one” [= Sepanjang persinggahanNya di bumi dan khususnya pada kayu salib Ia telah menderita / mendapatkan murka Allah terhadap dosa sehingga membebaskan umatNya darinya dan mendapatkan untuk mereka keselamatan kekal. Tugas itu telah diselesaikan. Yesus mengetahui hal ini, karena Ia mengetahui segala sesuatu, baik secara keseluruhan maupun satu per satu] - hal 434.

Matthew Henry: “‘it is finished,’ that is, the work of man’s redemption and salvation is now completed, at least the hardest part of the undertaking is over; a full satisfaction is made to the justice of God, a fatal blow given to the power of Satan, a fountain of grace opened that shall ever flow, a foundation of peace and happiness laid that shall never fail. Christ had now gone through with his work, and finished it, Jn 17:4” [= ‘Sudah selesai’, yaitu, pekerjaan penebusan manusia dan keselamatan sekarang sudah selesai / lengkap, setidaknya bagian yang paling berat / sukar dari usaha itu sudah lewat; suatu pemuasan penuh dibuat pada keadilan Allah, suatu pukulan yang fatal diberikan pada kuasa Iblis, suatu sumber kasih karunia terbuka yang akan selalu mengalir / memancar, suatu fondasi dari damai dan kebahagiaan telah diletakkan yang tidak akan pernah gagal. Kristus sekarang telah melewati pekerjaanNya, dan menyelesaikannya, Yoh 17:4].

Yohanes 17:4 - “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepadaKu untuk melakukannya”.

2) Calvin menganggap bahwa kata-kata ‘Sudah selesai’ dari Kristus ini merupakan dasar penghapusan ‘ceremonial law’ [= hukum yang berhubungan dengan upacara keagamaan).

Calvin: “All the sacrifices of the Law must have ceased, for the salvation of men has been completed by the one sacrifice of the death of Christ” [= Semua korban dari hukum Taurat harus sudah berhenti, karena keselamatan manusia telah disempurnakan / diselesaikan oleh satu korban dari kematian Kristus] - hal 236.

Calvin: “On this doctrine depends the abolition of all the ceremonies of the Law; for it would be absurd to follow shadows, since we have the body of Christ” [= Pada doktrin ini tergantung penghapusan dari semua hukum-hukum upacara; karena adalah menggelikan untuk mengikuti bayangan, karena kita mempunyai tubuh dari Kristus] - hal 236.
Catatan: mungkin kata ‘body’ [= tubuh] dikontraskan dengan ‘shadows’ [= bayangan], dan karena itu diartikan sebagai ‘realita’.

III) Makna kata-kata ‘Sudah selesai’ ini bagi kita.

1) Dosa-dosa dari orang-orang percaya sudah beres!
Arthur W. Pink: “Here we see the end of our sins. The sins of the believer - all of them - were transferred to the Saviour. As saith the Scripture, ‘The Lord hath laid on Him the iniquities of us all’ (Isa. 53:6). If then God laid my iniquities on Christ, they are no longer on me. Sin there is in me, for the old Adamic nature remains in the believer till death or till Christ’s Return, should He come before I die; but there is no sin on me. This distinction between sin IN and sin ON is a vital one.” [= Di sini kita melihat akhir dari dosa-dosa kita. Dosa-dosa orang percaya - semuanya - ditransfer kepada sang Juruselamat. Seperti dikatakan Kitab Suci, ‘Tuhan telah meletakkan / menimpakan kepadaNya kejahatan kita sekalian’ (Yes 53:6). Jadi, jika Allah telah meletakkan / menimpakan kejahatanku pada Kristus, mereka tidak lagi ada padaku. Dosa ada di dalam aku, karena manusia lama tinggal dalam diri orang percaya sampai mati, atau sampai Kristus datang kembali, kalau Ia datang kembali sebelum saya mati; tetapi tidak ada dosa pada saya. Pembedaan antara ‘dosa di dalam’ dan ‘dosa pada’ ini merupakan suatu pembedaan yang vital] - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 115.

A. W. Pink membandingkan hal ini dengan Im 16:20-22 - “(20) Setelah selesai mengadakan pendamaian bagi tempat kudus dan Kemah Pertemuan serta mezbah, ia harus mempersembahkan kambing jantan yang masih hidup itu, (21) dan Harun harus meletakkan kedua tangannya ke atas kepala kambing jantan yang hidup itu dan mengakui di atas kepala kambing itu segala kesalahan orang Israel dan segala pelanggaran mereka, apapun juga dosa mereka; ia harus menanggungkan semuanya itu ke atas kepala kambing jantan itu dan kemudian melepaskannya ke padang gurun dengan perantaraan seseorang yang sudah siap sedia untuk itu. (22) Demikianlah kambing jantan itu harus mengangkut segala kesalahan Israel ke tanah yang tandus, dan kambing itu harus dilepaskan di padang gurun”.

Arthur W. Pink: “The goat bearing Israel’s sins, was taken unto an uninhabited wilderness, and the people of God saw him and their sins no more! In type this was Christ taking our sins into that desolate land where God was not, and there making an end of them. The Cross of Christ then is the grave of our sins!” [= Kambing yang membawa dosa-dosa Israel, dibawa ke padang gurun yang tidak didiami, dan umat Allah tidak melihat kambing itu maupun dosa-dosa mereka lagi! Dalam type, ini adalah Kristus yang membawa dosa-dosa kita ke tanah yang ditinggalkan dimana Allah tidak ada, dan di sana mengakhiri dosa-dosa itu. Jadi, salib Kristus adalah kuburan dari dosa-dosa kita!] - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 116.

Catatan: saya tak setuju dengan kata-kata yang saya garis-bawahi itu. Tak ada tempat dimana Allah tidak ada!

2) Kita harus bersandar pada pekerjaan Kristus yang sudah selesai ini, bukan pada pekerjaan kita sendiri yang belum selesai dan yang tidak akan pernah selesai!
J. C. Ryle: “One comfortable thought, at all events, stands out most clearly on the face of this famous expression. We rest our souls on a ‘finished work,’ if we rest them on the work of Jesus Christ the Lord. We need not fear that either sin, or Satan, or law shall condemn us at the last day. We may lean back on the thought, that we have a Saviour who has done all, paid all, accomplished all, performed all that is necessary for our salvation. We may take up the challenge of the Apostle, ‘Who is he that condemneth? It is Christ that died; yea, rather that is risen again; who is even at the right hand of God; who also maketh intercession for us.’ (Rom. 8:34). When we look at our own works, we may well be ashamed of their imperfections. But when we look at the finished work of Christ, we may feel peace. We ‘are complete in Him,’ if we believe. (Col. 2:10)” [= Suatu pemikiran yang bisa memberikan penghiburan, pada semua peristiwa, berdiri paling jelas di hadapan pernyataan yang terkenal ini. Kita menyandarkan jiwa-jiwa kita pada suatu ‘pekerjaan yang sudah selesai’, jika kita menyandarkan mereka pada pekerjaan Yesus Kristus, sang Tuhan. Kita tidak perlu takut bahwa dosa, atau Iblis, atau hukum Taurat akan mengecam / menghukum kita pada hari terakhir. Kita boleh bersandar pada pemikiran, bahwa kita mempunyai seorang Juruselamat yang telah melakukan semuanya, membayar semua, menyelesaikan semua, menggenapi semua yang diperlukan untuk keselamatan kita. Kita boleh / bisa menerima tantangan dari sang Rasul, ‘Siapakah dia yang menghukum? Adalah Kristus yang telah mati; ya, bahkan telah bangkit kembali; yang bahkan berada di sebelah kanan Allah; yang juga melakukan syafaat bagi kita’ (Ro 8:34). Pada waktu kita melihat pada pekerjaan-pekerjaan kita sendiri, kita bisa malu karena ketidak-sempurnaan mereka. Tetapi pada waktu kita melihat pada pekerjaan yang sudah selesai dari Kristus, kita bisa merasakan damai. Kita ‘lengkap / sempurna dalam Dia’, jika kita percaya (Kol 2:10)] - ‘Expository Thoughts on the Gospels’, (John volume III), hal 355.

Kolose 2:10 - “dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa”. NIV seperti Kitab Suci Indonesia.
KJV: ‘And ye are complete in him’ [= Dan kamu lengkap / sempurna dalam Dia].
NASB: ‘and in Him you have been made complete’ [= dan dalam Dia kamu telah dibuat menjadi lengkap / sempurna].

3) Kita harus mengharapkan keselamatan dari Yesus dan kematianNya saja.
Calvin: “Now this word, which Christ employs, well deserves our attention; for it shows that the whole accomplishment of our salvation, and all the parts of it, are contained in his death. We have already stated that his resurrection is not separated from his death, but Christ only intends to keep our faith fixed on himself alone, and not to allow it to turn aside in any direction whatever. The meaning, therefore, is, that every thing which contributes to the salvation of men is to be found in Christ, and ought not to be sought anywhere else; or - which amounts to the same thing - that the perfection of salvation is contained in him” [= Kata yang digunakan Kristus ini layak mendapat perhatian kita; karena itu menunjukkan bahwa seluruh penyelesaian keselamatan kita, dan semua bagian-bagiannya, terdapat / tercakup dalam kematianNya. Kita telah menyatakan bahwa kebangkitanNya tidak terpisah dari kematianNya, tetapi Kristus hanya bermaksud untuk menjaga agar iman kita tertuju tetap kepadaNya saja, dan tidak mengijinkannya untuk membelokkannya ke arah lain manapun. Karena itu, artinya jelas bahwa segala sesuatu yang memberikan sumbangsih pada keselamatan manusia harus ditemukan / didapatkan dalam Kristus, dan tidak boleh dicari di tempat lain manapun juga; atau - yang mempunyai arti yang sama dengan - bahwa kesempurnaan keselamatan terdapat di dalam Dia].

Calvin: “If we give our assent to this word which Christ pronounced, we ought to be satisfied with his death alone for salvation, and we are not at liberty to apply for assistance in any other quarter; for he who was sent by the Heavenly Father to obtain for us a full acquittal, and to accomplish our redemption, knew well what belonged to his office, and did not fail in what he knew to be demanded of him. It was chiefly for the purpose of giving peace and tranquillity to our consciences that he pronounced this word, It is finished. Let us stop here, therefore, if we do not choose to be deprived of the salvation which he has procured for us” [= Jika kita menyetujui kata yang diucapkan / diumumkan Kristus ini, kita harus puas dengan kematianNya saja untuk keselamatan, dan kita tidak mempunyai kebebasan untuk menggunakan bantuan dari sudut lain manapun; karena Ia yang diutus oleh Bapa Surgawi untuk mendapatkan bagi kita pembebasan penuh, dan untuk menyelesaikan penebusan kita, tahu dengan baik apa yang termasuk dalam tugasNya, dan tidak gagal dalam apa yang Ia tahu dituntut dariNya. Dengan tujuan utama untuk memberikan damai dan ketenangan pada hati nurani kitalah Ia mengumumkan kata ‘Sudah selesai’ ini. Karena itu, hendaklah kita berhenti di sini, jika kita tidak memilih untuk dicabut / dihilangkan dari keselamatan yang telah Ia peroleh bagi kita].

Karena itu, jangan menggabungkan Kristus dengan kepercayaan / agama lain, dengan kepercayaan kepada Maria atau orang suci, dengan kepercayaan pada perbuatan baik saudara sendiri, dsb. Keselamatan kita terjadi hanya karena jasa penebusan Kristus, yang kita terima dengan iman!

4) Yang harus kita lakukan untuk bisa selamat hanyalah percaya, tidak ada yang lain!
The Bible Exposition Commentary: “Perhaps the most meaningful meaning of tetelestai was that used by the merchants: ‘The debt is paid in full!’ When He gave Himself on the cross, Jesus fully met the righteous demands of a holy law; He paid our debt in full. ... There was once a rather eccentric evangelist named Alexander Wooten, who was approached by a flippant young man who asked, ‘What must I do to be saved?’ ‘It’s too late!’ Wooten replied, and went about his work. The young man became alarmed. ‘Do you mean that it’s too late for me to be saved?’ he asked. ‘Is there nothing I can do?’ ‘Too late!’ said Wooten. ‘It’s already been done! The only thing you can do is believe.’” [= Mungkin arti yang paling berarti / penting dari TETELESTAI adalah penggunaannya oleh pedagang-pedagang: ‘Hutang sudah dibayar lunas!’ Pada waktu Ia menyerahkan diriNya sendiri di kayu salib, Yesus memenuhi tuntutan yang benar dari hukum Taurat yang kudus; Ia membayar lunas hutang kita. ... Suatu waktu ada seorang penginjil yang eksentrik bernama Alexander Wooten, yang didatangi oleh seorang muda yang usil / sembrono, yang bertanya: ‘Apa yang harus aku lakukan supaya selamat?’ Wooten menjawab, ‘Sudah terlambat’, dan lalu meneruskan pekerjaannya. Orang muda itu menjadi takut. ‘Apakah kamu memaksudkan bahwa sudah terlambat bagiku untuk diselamatkan?’, ia bertanya. ‘Tidak adakah sesuatu yang bisa aku lakukan?’ ‘Terlambat’, kata Wooten. ‘Itu sudah dilakukan. Satu-satunya hal yang bisa kamu lakukan adalah percaya’.].

5) Orang percaya bisa, dan bahkan harus, merasa aman (secara rohani dan kekal), di dalam Kristus.
Jamieson, Fausset & Brown: “In this one astonishing word believers will find the foundation of all their safety and bliss throughout eternal ages” [= Dalam satu kata yang mengherankan ini orang-orang percaya akan menemukan fondasi dari semua keamanan dan kebahagiaan melalui jaman-jaman yang kekal].

6) Kata-kata ‘Sudah selesai’ ini juga menjamin bahwa Yesus akan menyelesaikan pekerjaanNya di dalam kita, dan itu berarti bahwa orang kristen yang sejati tidak akan pernah terhilang!
Spurgeon: “Once more, there is joy to every believer when he remembers that, as Christ said, ‘It is finished,’ every guarantee was given of the eternal salvation of all the redeemed. It appears to me that, if Christ finished the work for us, he will finish the work in us. If he has undertaken so supreme a labour as the redemption of our souls by blood, and that is finished, then the great but yet minor labour of renewing our natures, and transforming us even unto perfection, shall be finished, too. If, when we were sinners, Christ loved us so as to die for us, now that he has redeemed us, and has already reconciled us to himself, and made us his friends and his disciples, will he not finish the work that is necessary to make us fit to stand among the golden lamps of heaven, and to sing his praises in the country where nothing that defileth can ever enter?” [= Sekali lagi, ada sukacita bagi setiap orang percaya pada waktu ia mengingat bahwa, seperti dikatakan Kristus: ‘Sudah selesai’, semua garansi diberikan tentang keselamatan kekal dari umat manusia. Bagi saya kelihatannya bahwa jika Kristus telah menyelesaikan pekerjaan untuk kita, Ia akan menyelesaikan pekerjaan di dalam kita. Jika Ia telah mengerjakan pekerjaan yang begitu tinggi seperti penebusan jiwa kita oleh darah, dan hal itu sudah diselesaikan, maka pekerjaan yang agung tetapi lebih kecil tentang pembaharuan diri kita, dan perubahan kita kepada kesempurnaan, akan diselesaikan juga. Jika, pada waktu kita adalah orang-orang berdosa, Kristus mengasihi kita sehingga mati untuk kita, sekarang pada saat Ia telah menebus kita, dan telah mendamaikan kita dengan diriNya sendiri, dan membuat kita sahabat-sahabatNya dan murid-muridNya, apakah Ia tidak akan menyelesaikan pekerjaan yang perlu untuk membuat kita cocok untuk berdiri di antara lampu-lampu emas dari surga, dan untuk menyanyikan pujian untukNya di negara dimana tidak ada sesuatu yang mengotori bisa masuk?] - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of our Lord’, vol VI, hal 575.

7) Kata-kata ini merupakan inti dari Injil, dan ini harus kita beritakan kepada orang-orang yang belum percaya supaya mereka mau percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka.
Arthur W. Pink: “‘It is finished’ is but one word in the original, yet in that word is wrapped up the Gospel of God; in that word is contained the ground of the believer’s assurance” [= ‘Sudah selesai’ hanya merupakan satu kata dalam bahasa aslinya, tetapi dalam kata itu terbungkus Injil Allah; dalam kata itu tercakup dasar dari keyakinan orang percaya] - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 60.

John G. Mitchell: “As you speak to the unsaved, tell them that He finished the work. Redemption is completed. He asks them to accept Him as Savior and as Lord. We sometimes sing, ‘Nothing in my hands I bring, Simply to thy cross I cling.’ He is the Savior, the complete Savior. He has finished the work. Blessed be His name” [= Pada waktu engkau berbicara dengan orang yang belum diselamatkan, beritahu mereka bahwa Ia telah menyelesaikan pekerjaanNya. Penebusan sudah lengkap / sempurna. Ia meminta mereka untuk menerimaNya sebagai Juruselamat dan sebagai Tuhan. Kita kadang-kadang menyanyi: ‘Tidak ada yang aku bawa dalam tanganku, Hanya kepada salib aku berpegang’. Ia adalah Juruselamat, Juruselamat yang lengkap / sempurna. Ia telah menyelesaikan pekerjaanNya. Terpujilah namaNya] - hal 378.

Spurgeon: “Let us publish it. Children of God, ye who by faith received Christ as your all in all, tell it every day of your lives that ‘it is finished.’ Go and tell it to those who are torturing themselves, thinking through obedience and mortification to offer satisfaction. ... In all parts of the earth there are those who think that the misery of the body and the soul may be an atonement for sin. Rush to them, stay them in their madness and say to them, ‘Wherefore do ye this? It is finished.’ All the pains that God asks, Christ has suffered; all the satisfaction by way of agony in the flesh that the law demandeth, Christ hath already endured. ... God neither asks nor accepts any other sacrifice than that which Christ offered once for all upon the cross. ... Why improve on what is finished? Why add to that which is complete? The Bible is finished, he that adds to it shall have his name taken out of the Book of Life, and out of the holy city: Christ’s atonement is finished, and he that adds to that must expect the selfsame doom” [= Hendaklah kita mempublikasikannya. Anak-anak Allah, engkau yang oleh iman menerima Kristus sebagai semua dalam semua bagimu, ceritakanlah dalam setiap hari dalam hidupmu bahwa itu ‘Sudah selesai’. Pergilah dan ceritakanlah itu kepada mereka yang menyiksa diri mereka sendiri, dan mengira melalui ketaatan dan penghukuman / penyangkalan diri untuk menawarkan pemuasan. ... Di semua bagian-bagian bumi ada mereka yang berpikir bahwa penderitaan dari tubuh dan jiwa bisa menjadi penebusan untuk dosa. Cepatlah pergi kepada mereka, tahanlah / hentikanlah mereka dalam kegilaan mereka dan katakan kepada mereka: ‘Untuk apa kamu lakukan ini? Itu sudah selesai’. Semua rasa sakit yang dituntut oleh Allah, telah diderita oleh Kristus; semua pemuasan melalui penderitaan dalam daging yang dituntut oleh hukum Taurat, telah ditahan oleh Kristus. ... Allah tidak meminta ataupun menerima korban lain apapun dari pada korban yang diberikan oleh Kristus sekali untuk selama-lamanya di atas kayu salib. ... Mengapa memperbaiki apa yang sudah selesai? Mengapa menambahkan pada apa yang sudah selesai / lengkap? Alkitab sudah selesai, ia yang menambahinya akan dihapuskan namanya dari Kitab Kehidupan, dan dari kota kudus: penebusan Kristus sudah selesai, dan ia yang menambahkan pada penebusan itu harus mengharapkan nasib yang sama] - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of our Lord’, vol VI, hal 584,585.

IV) Ajaran-ajaran yang bertentangan dengan kata-kata ‘Sudah selesai’ ini.

Kata-kata ‘Sudah selesai’ ini bertentangan dengan:

1) Ajaran yang mengatakan bahwa setelah mati Yesus turun ke neraka untuk memikul hukuman dosa kita di sana. Kalau ajaran ini benar, seharusnya Yesus berkata: ‘Belum selesai’, dan lalu menyerahkan nyawaNya.

2) Ajaran Gereja Roma Katolik tentang api penyucian. Ajaran tentang api penyucian ini bukan hanya sama sekali tidak punya dasar Kitab Suci, tetapi juga bertentangan dengan kata-kata ‘Sudah selesai’ dari Kristus ini, dan juga dengan Ro 8:1 - “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus”.

3) Ajaran yang mengatakan bahwa perbuatan baik kita mempunyai andil untuk menyelamatkan kita.
Spurgeon: “Are there any of you here who are trying to do something to make a righteousness of your own? How dare you attempt such a work when Jesus says, ‘It is finished’? Are you trying to put a few of your own merits together, a few odds and ends, fig-leaves and filthy rags of your own righteousness? Jesus says, ‘It is finished.’ Why do you want to add anything of your own to what he has completed? Do you say that you are not fit to be saved? What! have you to bring some of your fitness to eke out Christ’s work? ‘Oh!’ say you, ‘I hope to come to Christ one of these days when I get better.’ What! What! What! What! Are you to make yourself better, and then is Christ to do the rest of the work? You remind me of the railways to our country towns; you know that, often, the station is half-a-mile or a mile out of the town, so that you cannot get to the station without having an omnibus to take you there. But my Lord Jesus Christ comes right to the town of Mansoul. His railway runs close to your feet, and there is the carriage-door wide open; step in. You have not even to go over a bridge, or under a subway; there stands the carriage just before you. This royal railroad carries souls all the way from hell’s dark door, where they lie in sin, up to heaven’s great gate of pearl, where they dwell in perfect righteousness for ever. Cast yourself on Christ; take him to be everything you need, for he says of the whole work of salvation, ‘It is finished.’” [= Apakah ada dari kamu di sini yang sedang berusaha untuk melakukan sesuatu untuk membuat suatu kebenaran dari dirimu sendiri? Bagaimana engkau berani melakukan pekerjaan seperti itu pada waktu Yesus berkata ‘Sudah selesai’? Apakah engkau sedang berusaha untuk mengumpulkan beberapa dari jasamu sendiri, sedikit barang-barang rombengan / sisa, daun pohon ara dan kain kotor dari kebenaranmu sendiri? Yesus berkata: ‘Sudah selesai’. Mengapa engkau mau menambahkan apapun dari dirimu sendiri pada apa yang sudah Ia selesaikan? Apakah engkau berkata bahwa engkau tidak cocok untuk diselamatkan? Apa! haruskah engkau membawa sebagian dari kelayakanmu untuk menambah dengan susah payah pekerjaan Kristus? ‘Oh!’ katamu, ‘Aku berharap untuk datang kepada Kristus pada salah satu dari hari-hari ini pada saat aku sudah lebih baik’. Apa! Apa! Apa! Apa! Apakah engkau harus membuat dirimu sendiri lebih baik, dan lalu Kristus harus mengerjakan sisa dari pekerjaan itu? Engkau mengingatkan aku tentang jalan kereta api ke kota-kota kita; engkau tahu bahwa seringkali stasiun terletak ½ atau 1 mil di luar kota, sehingga engkau tidak bisa sampai ke stasiun tanpa menggunakan bis penumpang untuk membawa engkau ke sana. Tetapi Tuhan Yesus Kristusku datang sampai pada kota Jiwa-manusia. Rel kereta apiNya sampai pada dekat kakimu, dan di sana kendaraannya berada persis di depanmu. Rel kereta api kerajaan ini membawa jiwa-jiwa dari pintu neraka yang gelap, dimana mereka berbaring dalam dosa, terus sampai ke pintu gerbang mutiara yang besar dari surga, dimana mereka tinggal dalam kebenaran yang sempurna selama-lamanya. Serahkanlah dirimu kepada Kristus; ambillah Dia sebagai segala sesuatu yang engkau butuhkan, karena Ia berkata tentang seluruh pekerjaan keselamatan: ‘Sudah selesai’] - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of our Lord’, vol VI, hal 575-576.

Catatan: kata-kata ‘daun pohon ara’ mungkin menunjuk pada kata-kata ‘daun pohon ara’ dalam Kej 3:7 yang menunjuk pada sesuatu yang sangat tidak memadai untuk menutupi ketelanjangan mereka (Adam dan Hawa).
Kejadiana 3:7 - “Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat”.

Arthur W. Pink: “‘It is finished.’ What was ‘finished’? The Work of Atonement. What is the value of that to us? This: to the sinner, it is a message of glad tidings. All that a holy God requires has been done. Nothing is left for the sinner to add. No works from us are demanded as the price of our salvation. All that is necessary for the sinner is to rest now by faith upon what Christ did. ‘The gift of God is eternal life through Jesus Christ our Lord’ (Rom. 6:23). To the believer, the knowledge that the atoning work of Christ is finished brings a sweet relief over against all the defects and imperfections of his services. There is nothing ‘finished’ that we do; all our duties are imperfect. There is much of sin and vanity in the very best of our efforts, but the grand relief is that we are ‘complete’ in Christ (Col. 2:10)! Christ and His finished Work is the ground of all our hopes” [= ‘Sudah selesai’. Apa yang diselesaikan? Pekerjaan Penebusan. Apa nilai hal itu bagi kita? Ini: bagi orang-orang berdosa, itu adalah suatu kabar gembira. Semua yang dituntut oleh Allah yang kudus / suci telah diselesaikan. Tidak ada yang tertinggal bagi orang berdosa untuk ditambahkan. Tidak ada pekerjaan / usaha dari kita dituntut sebagai harga dari keselamatan kita. Semua yang diperlukan orang berdosa sekarang adalah beristirahat / bersandar dengan iman pada apa yang telah dilakukan oleh Kristus. ‘karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita’ (Ro 6:23). Bagi orang percaya, pengetahuan bahwa pekerjaan penebusan dari Kristus sudah selesai membawa suatu pembebasan / kelegaan yang manis atas segala cacat dan ketidak-sempurnaan dari pelayanannya. Tidak ada yang ‘selesai’ dari apa yang kita kerjakan; semua kewajiban-kewajiban kita tidak sempurna. Ada banyak dosa dan kesia-siaan dalam usaha-usaha kita yang terbaik, tetapi kelegaan yang besar adalah bahwa kita ‘lengkap / sempurna’ dalam Kristus (Kol 2:10)] - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 114.

Kol 2:10 - “dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa”. NIV seperti Kitab Suci Indonesia.
KJV: ‘And ye are complete in him’ [= Dan kamu lengkap / sempurna dalam Dia].
NASB: ‘and in Him you have been made complete’ [= dan dalam Dia kamu telah dibuat menjadi lengkap / sempurna].

Arthur W. Pink: “‘It is finished.’ Do you really believe it? Or, are you endeavoring to add something of your own to it and thus merit the favor of God? Some years ago a Christian farmer was deeply concerned over an unsaved carpenter. The farmer sought to set before his neighbor the Gospel of God’s grace, and to explain how that the Finished Work of Christ was sufficient for his soul to rest upon. But the carpenter persisted in the belief that he must do something himself. One day the farmer asked the carpenter to make for him a gate, and when the gate was ready he carried it away to his wagon. He arranged for the carpenter to call on him the next morning and see the gate as it hung in the field. At the appointed hour the carpenter arrived and was surprised to find the farmer standing by with a sharp axe in his hand. ‘What are you going to do?’ he asked. ‘I am going to add a few cuts and strokes to your work’ was the response. ‘But there is no need for it,’ replied the carpenter, ‘the gate is alright as it is. I did all that was necessary to it.’ The farmer took no notice, but lifting his axe he slashed and hacked at the gate until it was completely spoiled. ‘Look what you have done!’ cried the carpenter, ‘you have ruined my work’ ‘Yes,’ said the farmer, ‘and that is exactly what you are trying to do. You are seeking to nullify the Finished Work of Christ by your own miserable addition to it!’ God used this forceful object lesson to show the carpenter his mistake, and he was led to cast himself by faith upon what Christ had done for sinners. Reader, will you do the same?” [= ‘Sudah selesai’. Apakah kamu sungguh-sungguh mempercayainya? Atau, apakah kamu sedang berusaha untuk menambahi sesuatu dari dirimu sendiri padanya dan dengan demikian layak mendapat kebaikan Allah? Beberapa tahun yang lalu seorang petani Kristen sangat prihatin atas seorang tukang kayu yang belum selamat. Petani itu berusaha untuk menyatakan di depan tetangganya Injil dari kasih karunia Allah, dan menjelaskan bagaimana pekerjaan Kristus yang sudah selesai itu cukup bagi jiwanya untuk disandari. Tetapi si tukang kayu berkeras dalam kepercayaan bahwa ia sendiri harus melakukan sesuatu. Suatu hari si petani meminta si tukang kayu untuk membuat baginya sebuah pintu gerbang, dan pada waktu pintu gerbang itu sudah siap ia membawanya ke dalam mobilnya. Ia mengatur supaya si tukang kayu singgah padanya pagi berikutnya dan melihat pintu gerbang itu pada waktu pintu gerbang itu tergantung di ladang. Pada saat yang telah ditetapkan si tukang kayu datang dan kaget mendapati si petani berdiri dengan kapak yang tajam di tangannya. ‘Apa yang akan kamu lakukan?’, ia bertanya. ‘Saya akan menambahkan beberapa potongan dan pukulan / coretan pada pekerjaanmu’, jawabnya. ‘Tetapi itu tidak dibutuhkan’, jawab si tukang kayu, ‘pintu gerbang itu sudah benar seperti itu. Aku sudah melakukan semua yang diperlukan padanya’. Si petani tidak memperhatikan, tetapi mengangkat kapaknya dan menyayat dan membacok pintu gerbang itu sampai itu rusak seluruhnya. ‘Lihat apa yang telah kamu lakukan!’ teriak si tukang kayu, ‘kamu telah merusakkan pekerjaanku’. ‘Ya’ kata si petani, ‘dan itu persis merupakan apa yang kamu sedang berusaha lakukan. Kamu mengusahakan / mencoba untuk menghapuskan Pekerjaan yang sudah selesai dari Kristus oleh penambahanmu yang menyedihkan padanya’. Allah memakai pelajaran yang kuat ini untuk menunjukkan kepada si tukang kayu kesalahannya, dan ia dibimbing untuk menyerahkan dirinya sendiri dengan iman pada apa yang telah dilakukan oleh Kristus bagi orang-orang berdosa. Pembaca, maukah engkau melakukan hal yang sama?] - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 119.

Spurgeon: “God neither asks nor accepts any other sacrifice than that which Christ offered once for all upon the cross. ... Why improve on what is finished? Why add to that which is complete? The Bible is finished, he that adds to it shall have his name taken out of the Book of Life, and out of the holy city: Christ’s atonement is finished, and he that adds to that must expect the selfsame doom” [= Allah tidak meminta ataupun menerima korban lain apapun dari pada korban yang diberikan oleh Kristus sekali untuk selama-lamanya di atas kayu salib. ... Mengapa memperbaiki apa yang sudah selesai? Mengapa menambahkan pada apa yang sudah selesai / lengkap? Alkitab sudah selesai, ia yang menambahinya akan dihapuskan namanya dari Kitab Kehidupan, dan dari kota kudus: penebusan Kristus sudah selesai, dan ia yang menambahkan pada penebusan itu harus mengharapkan nasib yang sama] - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of our Lord’, vol VI, hal 585.

4) Ajaran Roma Katolik tentang Perjamuan Kudus.
Calvin memakai kata-kata ‘Sudah selesai’ dari Kristus ini untuk menyerang Perjamuan Kudus versi Roma Katolik, yang merupakan pengorbanan ulang terhadap Kristus. Ini bertentangan dengan kata-kata ‘Sudah selesai’ ini! Bandingkan juga dengan Ibr 9:28 - “demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diriNya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diriNya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia”.

5) Ajaran Arminian yang mengatakan bahwa orang kristen yang sejati bisa kehilangan keselamatan.
Ingat penggunaan perfect tense untuk kata-kata ‘Sudah selesai’ ini! Kata-kata itu sebetulnya berarti ‘Sudah selesai’, dan ‘akan selalu sudah selesai’.
Kalau ajaran Arminian di atas itu benar, maka kata-kata ‘Sudah selesai’ bisa tahu-tahu menjadi ‘belum selesai’!

V) Keberatan tentang kata-kata ‘Sudah selesai’ ini.

1) Bagaimana Kristus bisa menyelesaikan hukuman kekal kita dalam waktu yang begitu singkat?
Spurgeon: “We have sometimes heard it said, ‘How could Christ, in so short a time, bear suffering which should be equivalent to the torments - the eternal torments of hell?’ Our reply is, we are not capable of judging what the Son of God might do even in a moment, much less what he might do and what he might suffer in his life and in his death. ... it is very possible that he did in the space of two or three hours endure not only the agony which might have been contained in centuries, but even an equivalent for that which might be comprehended in everlasting punishment. At any rate, it is not for us to say that it could not be done. Do not, I pray you, let us attempt to measure Christ’s sufferings by the finite line of your ignorant reason, but let us know and believe that what he endured there was accepted by God as an equivalent for all our pains” [= Kita kadang-kadang mendengar dikatakan: ‘Bagaimana Kristus bisa, dalam waktu yang begitu singkat, memikul penderitaan yang setara dengan penyiksaan - penyiksaan kekal dari neraka?’ Jawaban kami adalah: kita tidak mampu menghakimi / menilai apa yang Anak Allah bisa lakukan dalam waktu yang singkat, apa lagi apa yang bisa Ia lakukan dan apa yang bisa Ia alami / pikul dalam hidupNya dan dalam matiNya. ... adalah sangat mungkin bahwa dalam waktu 2 atau 3 jam Ia memikul / menahan bukan hanya penderitaan yang tercakup dalam banyak abad, tetapi bahkan setara dengan hal yang dimengerti dalam penghukuman kekal. Bagaimanapun, bukanlah bagian kita untuk mengatakan bahwa itu tidak bisa dilakukan. Saya mohon, jangan mencoba untuk mengukur penderitaan Kristus dengan garis / tali terbatas dari akal yang bodoh / tidak tahu apa-apa, tetapi hendaklah kita tahu dan percaya bahwa apa yang Ia tahan di sana telah diterima oleh Allah sebagai sesuatu yang setara dengan semua rasa sakit kita] - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of our Lord’, vol VI, hal 579-580.

Illustrasi: seorang anak bekerja pada saudara dengan gaji Rp 10.000 per hari. Suatu hari ia sakit dan saya menggantikannya, tetapi saya mau kerja hanya 3 jam dengan gaji Rp 10.000 itu. Saudara bisa saja mau, karena saya, yang lebih besar dan lebih kuat dari anak itu, bisa menyelesaikan hanya dalam 3 jam apa yang harus dikerjakan anak itu dalam 1 hari.

2) Bagaimana mungkin penebusan dosa sudah selesai, padahal Ia belum mengalami kematian?
Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘Sudah selesai’ adalah penderitaan aktifNya dalam memikul hukuman dosa.
Tetapi Calvin berkata bahwa Kristus mengucapkan kata-kata ‘Sudah selesai’ itu dengan memperhitungkan kematianNya yang akan segera terjadi.

Calvin: “But how does he say, that all things were accomplished, while the most important part still remained to be performed, that is, his death? Besides, does not his resurrection contribute to the accomplishment of our salvation? I answer, John includes those things which were immediately to follow. Christ had not yet died: and had not yet risen again; but he saw that nothing now remained to hinder him from going forward to death and resurrection” [= Tetapi bagaimana Ia mengatakan bahwa segala sesuatu sudah selesai, sementara bagian yang terpenting masih tersisa / tertinggal untuk dilakukan, yaitu kematianNya? Disamping itu, bukankah kebangkitanNya memberikan sumbangsih pada pencapaian / penyelesaian keselamatan kita? Saya menjawab, Yohanes memasukkan / mencakup hal-hal itu yang akan segera menyusul. Kristus belum mati: dan belum bangkit kembali; tetapi Ia melihat bahwa tak ada apapun yang sekarang tertinggal untuk menghindarkan Dia dari maju pada kematian dan kebangkitan].

3) Kata-kata ‘Sudah selesai’ ini dianggap bertentangan dengan Kol 1:24 - “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuhNya, yaitu jemaat”.

Roma Katolik menafsirkan bahwa Kol 1:24 ini menunjukkan bahwa penebusan Kristus tidak sempurna, perlu ditambahi dengan penderitaan dari para martir. Dan memang dalam ajaran Roma Katolik ada hal-hal yang sejalan dengan ketidak-sempurnaan penebusan Kristus, seperti:
· api pencucian.
· perbuatan baik manusia punya andil dalam keselamatan.

Tetapi Kolose 1:24 ini tidak mungkin diartikan bahwa penebusan Kristus tidak sempurna, karena:

a) Itu bertentangan dengan kata-kata ‘Sudah selesai’ dalam Yoh 19:28,30 dan juga dengan Ibr 10:11-14 - “(11) Selanjutnya setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa. (12) Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah, (13) dan sekarang Ia hanya menantikan saatnya, di mana musuh-musuhNya akan dijadikan tumpuan kakiNya. (14) Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan”.

b) Itu bertentangan dengan doktrin tentang ‘kecukupan’ penebusan Kristus, yang justru ditekankan oleh Paulus dalam surat Kolose ini, untuk menangani ajaran sesat yang menyangkal kecukupan penebusan Kristus sehingga harus ditambah dengan pertapaan, dan sebagainya.
Herbert M. Carson (Tyndale): “Furthermore, he is dealing here at Colossae with a false teaching which denies the sufficiency of the work of Christ, and insists that it must be supplemented by asceticism and other human endeavours. Paul has replied in his opening chapter with an uncompromising stress on the preeminence of Christ, and the completeness of the redemption which He has accomplished. Is it then likely that he would cast this position to the winds and introduce a view which envisaged the perfecting of an incomplete atonement?” [= Selanjutnya, di sini di Kolose ia sedang menangani ajaran sesat yang menyangkal kecukupan pekerjaan Kristus, dan mendesak bahwa itu harus ditambahi dengan pertapaan dan usaha-usaha manusia yang lain. Paulus telah menjawab dalam pasal pembukaannya dengan penekanan yang tidak berkompromi pada penonjolan Kristus, dan kelengkapan dari penebusan yang telah Ia selesaikan. Lalu mungkinkah sekarang ia membuang pandangannya dan mengajukan suatu pandangan yang menggambarkan penyempurnaan dari suatu penebusan yang tidak lengkap?] - ‘The Epistles of Paul to the Colossians and Philemon’, hal 50.

Catatan: bahwa surat Kolose memang menangani hal-hal tersebut di atas, terlihat dari Kol 2:8-23 - “(8) Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus. (9) Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan keAllahan, (10) dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa. (11) Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, (12) karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati. (13) Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, (14) dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakanNya dengan memakukannya pada kayu salib: (15) Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenanganNya atas mereka. (16) Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; (17) semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus. (18) Janganlah kamu biarkan kemenanganmu digagalkan oleh orang yang pura-pura merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat, serta berkanjang pada penglihatan-penglihatan dan tanpa alasan membesar-besarkan diri oleh pikirannya yang duniawi, (19) sedang ia tidak berpegang teguh kepada Kepala, dari mana seluruh tubuh, yang ditunjang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi, menerima pertumbuhan ilahinya. (20) Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia: (21) jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini; (22) semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia. (23) Peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi”.

c) Kata yang diterjemahkan ‘penderitaan’ dalam bahasa Yunani adalah THLIPSIS, dan kata ini tidak pernah digunakan untuk menunjuk pada penderitaan Kristus untuk menebus dosa.
Herbert M. Carson (Tyndale): “The very word used here for suffering, thlipsis, is nowhere used in the New Testament to describe the atoning death of Christ, and, as Lightfoot points out, it ‘certainly would not suggest a sacrificial act’” [= Kata yang digunakan di sini untuk penderitaan, THLIPSIS, tidak pernah digunakan dalam Perjanjian Baru untuk menggambarkan kematian yang bersifat menebus dosa dari Kristus, dan, seperti ditunjukkan oleh Lightfoot, itu ‘pasti tidak menunjukkan suatu tindakan pengorbanan’] - ‘The Epistles of Paul to the Colossians and Philemon’, hal 50-51.

d) Dalam Kol 1:25 Paulus menyebut dirinya ‘pelayan jemaat’.
Jika dalam Kol 1:24 ia memang mengajarkan bahwa penderitaan yang ia alami itu adalah untuk penebusan dosa, seharusnya ia mengaku diri sebagai ‘pengantara’ atau ‘penebus’, atau ‘rekan penebus’. Tetapi ternyata ia tidak melakukan hal itu.

Lalu, apa artinya Kol 1:24 ini?

1. Ini adalah penderitaan dalam pembangunan tubuh Kristus, dan dalam hal ini Kristus memberikan tempat untuk penderitaan lebih lanjut bagi para pengikutNya.
William Barclay: “He thinks of the sufferings through which he is passing as completing the sufferings of Jesus Christ himself. Jesus died to save his Church; but the Church must be upbuilt and extended; it must be kept strong and pure and true; therefore, anyone who serves the Church by widening her borders, establishing her faith, saving her from errors, is doing the work of Christ. And if such service involves suffering and sacrifice, that affliction is filling up and sharing the very suffering of Christ” [= Ia berpikir tentang penderitaan yang ia lalui sebagai melengkapi penderitaan Yesus Kristus sendiri. Yesus mati untuk menyelamatkan GerejaNya; tetapi Gereja harus dibangun dan diperluas; itu harus dijaga agar tetap kuat dan murni dan benar; karena itu, setiap orang yang melayani Gereja dengan memperluas batasan-batasannya, meneguhkan imannya, menyelamatkannya dari kesalahan, sedang melakukan pekerjaan Kristus. Dan jika pelayanan seperti itu mencakup penderitaan dan pengorbanan, penderitaan itu memenuhkan dan mengambil bagian dalam penderitaan Kristus].

James Fergusson (Geneva): “As the personal sufferings of Christ were for the church’s redemption, and to satisfy the Father’s justice for the sins of the elect, Acts 20:28, which he did completely, John 19:30; so the suffering of the saints are also for the church’s good, though not for her redemption or expiation of sin, neither in its guilt nor punishment, 1John 1:7; yet to edify the church by their example, James 5:10, to comfort her under sufferings, 2Cor. 1:6, and to confirm that truth for which they do suffer, Phil. 2:17” [= Seperti penderitaan pribadi Kristus adalah untuk penebusan gereja, dan untuk memuaskan keadilan Bapa terhadap dosa-dosa orang pilihan, Kis 20:28, yang Ia lakukan secara lengkap, Yoh 19:30; begitulah penderitaan dari orang-orang kudus juga untuk kebaikan gereja, sekalipun bukan untuk penebusannya atau penebusan / pembayaran dosa, tidak dalam kesalahannya ataupun hukumannya, 1Yoh 1:7; tetapi untuk mendidik gereja oleh teladan mereka, Yak 5:10, untuk menghibur gereja dalam penderitaan, 2Kor 1:6, dan untuk meneguhkan kebenaran untuk mana mereka menderita, Fil 2:17].

2. Karena adanya kesatuan antara Kristus dan para pengikutNya, maka pada waktu pengikutNya menderita, Kristus juga menderita dalam dia.
James Fergusson (Geneva): “The sufferings of Paul, and of any other saints, are the sufferings of Christ, and the filling up of his sufferings; not as if Christ’s personal sufferings for the redemption of sinners were imperfect, and so to be supplied by the sufferings of others, (see Heb. 10:14) but such is that sympathy betwixt Christ and believers, Acts 9:4, and so strict is that union among them, whereby he and they do but make up one mystical Christ, 1Cor. 12:12, that in those respects the sufferings of the saints are his sufferings, to wit, the sufferings of mystical Christ, which are not perfect nor filled up, until every member of his body endure their own allotted portion and share” [= Penderitaan dari Paulus, dan dari orang kudus yang lain, adalah penderitaan Kristus, dan memenuhkan / melengkapi penderitaanNya; bukan seakan-akan penderitaan pribadi Kristus untuk penebusan orang berdosa adalah tidak sempurna, dan karena itu harus disuplai oleh penderitaan orang-orang lain, (lihat Ibr 10:14) tetapi begitulah simpati antara Kristus dan orang-orang percaya, Kis 9:4, dan begitu ketat persatuan antara mereka, dengan mana Ia dan mereka membentuk satu Kristus yang mistik, 1Kor 12:12, bahwa dalam hal itu penderitaan orang-orang kudus adalah penderitaanNya, yaitu, penderitaan dari Kristus mistik, yang tidak sempurna atau penuh, sampai setiap anggota tubuhNya menanggung bagian mereka].

Pulpit Commentary keberatan dengan pandangan ini dengan alasan sebagai berikut: “this view identifies Pauls’ sufferings with his Master’s while he expressly distinguishes them” [= pandangan ini mengidentikkan penderitaan Paulus dengan penderitaan TuanNya sementara ia secara jelas membedakan mereka).

3. Ini ditinjau dari sudut musuh-musuh Kristus.
William Hendriksen: “... although Christ by means of the affliction which he endured rendered complete satisfaction to God, so that Paul is able to glory in nothing but the cross (Gal. 6:14), the enemies of Christ were not satisfied! They hated Jesus with insatiable hatred, and wanted to add to his afflictions. But since he is no longer physically present on earth, their arrows, which are meant especially for him, strike his followers. It is in that sense that all true believers are in his stead supplying what, as the enemies see it, is lacking in the afflictions which Jesus endured. Christ’s afflictions overflow toward us” [= ... sekalipun Kristus melalui penderitaan yang Ia tanggung memberikan pemuasan lengkap / penuh kepada Allah, sehingga Paulus bisa bermegah hanya dalam salib (Gal 6:14), musuh-musuh Kristus tidak dipuaskan! Mereka membenci Yesus dengan kebencian yang tidak terpuaskan, dan ingin menambah penderitaanNya. Tetapi karena Ia tidak lagi hadir secara jasmani di bumi ini, panah-panah mereka, yang sebetulnya dimaksudkan secara khusus untuk Dia, menyerang pengikut-pengikutNya. Adalah dalam arti ini dimana semua orang yang sungguh-sungguh percaya ada di tempatNya menyuplai apa, sebagaimana musuh-musuh itu melihatnya, yang kurang dalam penderitaan yang telah Yesus tanggung. Penderitaan Kristus meluap / melimpah kepada kita].
Bdk. Kis 9:4-5 2Kor 1:5 Gal 6:17 Fil 3:10 Wah 12:13 (‘perempuan’ =gereja).

VI) Penyalahgunaan terhadap kata-kata ‘Sudah selesai’ ini.

Spurgeon: “Somebody once wickedly said, ‘Well, if Christ has finished it, there is nothing for me to do now but to fold my hands, and go to sleep.’ That is the speech of a devil, not of a Christian! There is no grace in the heart when the mouth can talk like that. On the contrary, the true child of God says, ‘Has Christ finished his work for me? Then tell me what work I can do for him.’ ... If Christ has finished the work for you which you could not do, now go and finish the work for him which you are privileged and permitted to do. ... Has he finished his work for me? Then I must get to work for him, and I must persevere until I finish my work, too; not to save myself, for that is all done, but because I am saved. Now I must work for him with all my might; and if there come discouragements, if there come sufferings, if there comes a sense of weakness and exhaustion, yet let me not give way to it; but, inasmuch as he pressed on till he could say, ‘It is finished,’ let me press on till I, too, shall be able to say, ‘I have finished the work which thou gavest me to do’” [= Seseorang suatu kali berkata secara jahat: ‘Jika Kristus telah menyelesaikannya, sekarang tidak ada apa-apa lagi yang harus aku lakukan, kecuali melipat tanganku, dan tidur’. Itu merupakan ucapan dari setan, bukan dari orang kristen! Tidak ada kasih karunia dalam hati pada waktu mulut bisa berbicara seperti itu. Sebaliknya, anak Allah yang sejati berkata: ‘Apakah Kristus telah menyelesaikan pekerjaanNya untuk aku? Kalau demikian beri tahu aku pekerjaan apa yang bisa aku lakukan untuk Dia’. ... Jika Kristus telah menyelesaikan pekerjaan untukmu yang tidak bisa engkau lakukan, sekarang pergilah dan selesaikan pekerjaan untuk Dia untuk mana engkau diberi hak dan ijin untuk melakukannya. ... Apakah Ia telah menyelesaikan pekerjaanNya untuk aku? Maka aku harus bekerja bagi Dia, dan aku harus bertekun sampai aku menyelesaikan pekerjaanku juga; bukan untuk menyelamatkan diriku sendiri, karena semua itu sudah terjadi, tetapi karena aku sudah selamat. Sekarang aku harus bekerja untuk Dia dengan seluruh kekuatanku; dan jika datang sesuatu yang membuat kecil hati, jika datang penderitaan, jika datang perasaan lemah dan lelah, hendaklah aku tidak menyerah padanya; tetapi, sebagaimana Ia maju terus sampai Ia bisa berkata: ‘Sudah selesai’, hendaklah aku juga maju terus sampai aku juga bisa berkata: ‘Aku telah menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepadaku untuk dilakukan’] - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of our Lord’, vol VI, hal 577.

Kesimpulan / penutup.

Kristus sudah menyelesaikan pekerjaan penebusanNya di atas kayu salib, dan karena itu, kita diselamatkan dengan cuma-cuma, hanya berdasarkan iman kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita. Juga kita tidak mungkin bisa kehilangan keselamatan kita. Kita tidak perlu melakukan apa-apa lagi untuk menyelamatkan diri kita. Tetapi kita masih harus melakukan banyak hal, untuk membangun tubuh Kristus.
Maukah saudara percaya kepada Dia dan hanya bersandar pada pekerjaanNya yang sudah selesai itu? Dan kalau saudara sudah percaya, maukah saudara memberitakan Injil kepada orang-orang lain? Juga maukah saudara bekerja untuk membangun tubuh Kristus?
Kiranya Tuhan memberkati saudara semua.

Kalimat ketujuh Lukas 23:46

Luk 23:46 - “Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: ‘Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu.’ Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawaNya”.

Ayat-ayat lain yang berhubungan dengan Luk 23:46 adalah:
· Matius 27:50 - “Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawaNya”.
· Markus 15:37 - “Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawaNya (EXEPNEUSEN)”.
· Yohanes 19:30 - “Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ‘Sudah selesai.’ Lalu Ia menundukkan kepalaNya dan menyerahkan nyawaNya”.

Catatan: semua kata ‘nyawa’ dalam Mat 27:50 Luk 23:46a dan Yoh 19:30 seharusnya adalah ‘roh’ (Yunani: PNEUMA). Tetapi kata-kata ‘menyerahkan nyawaNya’ dalam Mark 15:37 dan Luk 23:46b adalah EXEPNEUSEN. Kata Yunani ini juga muncul dalam Mark 15:39.
A. T. Robertson dalam tafsirannya tentang Luk 23:46 mengatakan bahwa kata Yunani EXEPNEUSEN berasal dari kata Yunani EKPNEO, yang berasal dari akar kata PNEUMA.

I) Kata-kata ini dikutip dari kata-kata Daud dalam Perjanjian Lama.

1) Kalimat ini merupakan bagian dari Kitab Suci (Perjanjian Lama).
A. T. Robertson mengatakan bahwa kata-kata yang Yesus ucapkan dalam Lukas 23:46 itu dikutip dari Mazmur 31:6 - “Ke dalam tanganMulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya TUHAN, Allah yang setia”.
Matthew Henry juga berpandangan seperti A. T. Robertson dalam hal ini.

Perhatikan bahwa Kristus hanya mengutip / mengucapkan Maz 31:6a, tetapi tidak Maz 31:6b. Mengapa? Adam Clarke mengatakan karena memang hanya Maz 31:6a yang cocok dengan Dia, sedangkan Maz 31:6b-nya tidak cocok. William Hendriksen juga berpendapat sama dengan Clarke.
Ada penafsir seperti Jamieson, Fausset & Brown yang mengatakan bahwa Maz 31:6b juga berlaku untuk Kristus, dan menunjuk pada pembebasan Kristus oleh Bapa dari Setan, kematian dan kubur, dalam kebangkitanNya dari antara orang mati.
Tetapi saya lebih setuju dengan tafsiran Clarke / William Hendriksen.

Matthew Henry (tentang Luk 23:46): “He borrowed these words from his father David (Ps. 31:5); not that he needed to have words put into his mouth, but he chose to make use of David’s words to show that it was the Spirit of Christ that testified in the Old-Testament prophets, and that he came to fulfil the scripture. Christ died with scripture in his mouth. Thus he directs us to make use of scripture language in our addresses to God” [= Ia meminjam kata-kata ini dari nenek moyangNya, Daud (Maz 31:6); bukan bahwa Ia butuh kata-kata untuk diletakkan ke dalam mulutNya, tetapi Ia memilih untuk menggunakan kata-kata Daud untuk menunjukkan bahwa adalah Roh Kristus yang bersaksi dalam nabi-nabi Perjanjian Lama, dan bahwa Ia datang untuk menggenapi Kitab Suci. Kristus mati dengan Kitab Suci di mulutNya. Demikianlah Ia mengarahkan kita untuk menggunakan bahasa / kata-kata dari Kitab Suci dalam berbicara kepada Allah].

Albert Barnes, dalam tafsirannya tentang Maz 31:6, mengatakan bahwa sekalipun Kristus menggunakan kata-kata dalam Maz 31:6a, itu tidak berarti bahwa kata-kata itu betul-betul menunjuk kepada Dia, dan merupakan suatu nubuat yang lalu digenapi olehNya. Ia mengucapkan kata-kata itu, hanya karena kata-kata itu cocok dengan Dia.

Barnes’ Notes (tentang Maz 31:5): “this does not prove that the psalm had originally a reference to him, or that he meant to intimate that the words originally were a prophecy. The language was appropriate for him, as it is for all others in the hour of death; and his use of the words furnished the highest illustration of their being appropriate in that hour. The act of the psalmist was an act of strong confidence in God in the midst of dangers and troubles; the act of the Saviour was of the same nature, commending his spirit to God in the solemn hour of death” [= ini tidak membuktikan bahwa mazmur itu dari semula mempunyai hubungan dengan Dia, atau bahwa Ia memaksudkan untuk menunjukkan bahwa kata-kata itu dari semula merupakan suatu nubuat. Bahasa / kata-kata itu cocok bagi Dia, seperti itu cocok bagi semua orang lain pada saat kematian; dan penggunaan kata-kata ini olehNya memberikan ilustrasi tertinggi tentang kecocokan kata-kata itu pada saat itu. Tindakan dari si pemazmur merupakan tindakan dari keyakinan yang kuat kepada Allah di tengah-tengah bahaya dan kesukaran; tindakan dari sang Juruselamat merupakan tindakan yang sifatnya sama, menyerahkan rohNya kepada Allah pada saat yang khidmat dari kematian].

2) Perbedaan Daud dan Yesus dalam mengucapkan kalimat ini.
Lenski, dalam tafsirannya tentang Luk 23:46, menekankan perbedaan antara Daud dan Yesus, dalam mengucapkan kata-kata ini, yaitu:
a) Yesus menambahkan kata ‘Bapa’, yang tidak ada dalam Maz 31:6.
Ingat bahwa dalam arti sebenarnya, Yesus adalah satu-satunya Anak dari Bapa, dan karena itu Ia disebut sebagai Anak Tunggal (Yoh 1:14,18).
b) Pada saat Daud mengucapkan kata-kata itu, ia bukannya sedang sekarat / mau mati. Kata-kata itu diucapkan justru supaya ia luput dari kematian. Sedangkan Kristus mengucapkan kata-kata itu pada saat mau mati. Dia bukannya mengucapkan kata-kata itu supaya diluputkan dari kematian.
c) Daud mengucapkan kata-kata itu pada saat ia sedang ada dalam kesukaran, dan ia mengucapkan kata-kata itu supaya Allah menolongnya dari kesukaran itu. Kristus mengucapkan kata-kata itu, setelah Ia mengucapkan kata-kata ‘Sudah selesai’, dan jelas menunjukkan bahwa kesukaran yang Ia alami memang sudah lewat, dan karena itu, Ia lalu menyerahkan rohNya ke dalam tangan Bapa.

Lenski (tentang Lukas 23:46): “The appropriation of David’s words on the part of Jesus is thus to be understood only in a limited sense and should not be stressed beyond this narrow limitation” [= Karena itu, kecocokan kata-kata Daud pada pihak Yesus harus dimengerti hanya dalam arti yang terbatas, dan tidak boleh ditekankan melebihi batasan yang sempit ini] - hal 1153.

II) Kematian yang sengaja dan sukarela dari Yesus.

Ini merupakan kematian yang sukarela dan disengaja oleh Yesus. Bukti-bukti berkenaan dengan kesengajaan dan kesukarelaan dari kematian Yesus ini:

1) Ayat-ayat di atas mengatakan bahwa Yesus ‘menyerahkan nyawa / rohNya’.
Bahwa Yesus menyerahkan rohNya, menunjukkan bahwa:

a) KematianNya merupakan tindakan aktif.
Untuk menunjukkan kelahiranNya, Ia sering menggunakan kata ‘datang’ yang menunjukkan tindakan aktif (Yohanes 1:11 10:10 dsb).
Sekarang untuk menunjukkan kematianNya, Ia menggunakan kata ‘Kuserahkan rohKu’ yang juga merupakan tindakan aktif.
Semua ini menunjukkan bahwa Yesus bukan sekedar manusia biasa, tetapi juga adalah Allah sendiri!

Catatan: kata-kata Yesus ini sekalipun mirip, tetapi berbeda, dengan kata-kata Stefanus: “Tuhan Yesus, terimalah rohku” (Kis 7:59). Kata-kata Stefanus ini tidak menunjuk pada tindakan aktif, dan juga tidak menunjukkan bahwa Ia mati oleh kehendaknya sendiri. Kata-kata Stefanus ini hanya merupakan suatu permohonan supaya rohnya diterima oleh Yesus.

Arthur W. Pink: “The uniqueness of our Lord’s action may be seen by comparing His words on the Cross with those of dying Stephen. As the first Christian martyr came to the brink of the river, he cried, ‘Lord Jesus, receive my spirit’ (Acts 7:59). But in contrast with this Christ said, ‘Father, into Thy hands I commend My spirit.’ Stephen’s spirit was being taken from him. Not so with the Saviour. None could take from Him His life. He ‘gave up’ His spirit” [= Keunikan dari tindakan Tuhan kita bisa terlihat dengan membandingkan kata-kataNya di kayu salib dengan kata-kata dari Stefanus yang sedang sekarat. Pada waktu martir Kristen pertama itu sampai di tepi sungai, ia berseru: ‘Tuhan Yesus, terimalah rohku’ (Kis 7:59). Tetapi kontras dengan ini Kristus berkata: ‘Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan rohKu’. Roh Stefanus diambil dari dia. Tidak demikian dengan sang Juruselamat. Tidak seorangpun bisa mengambil nyawaNya dari Dia. Ia ‘menyerahkan’ rohNya] - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 5.
Catatan: ‘sampai di tepi sungai’ menunjuk pada perbatasan antara hidup dan mati.

b) Ia mati karena kehendakNya sendiri.
Bdk. Yoh 10:17-18 - “(17) Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawaKu untuk menerimanya kembali. (18) Tidak seorangpun mengambilnya dari padaKu, melainkan Aku memberikannya menurut kehendakKu sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari BapaKu.’”.
William Hendriksen: “He gave it. No one took it away from him. He laid down his life” [= Ia menyerahkannya. Tidak seorangpun yang mengambilnya dari Dia. Ia menyerahkan nyawaNya] - hal 435.
A. T. Robertson (tentang Mat 27:50) mengutip kata-kata Agustinus: “He gave up his life because he willed it, when he willed it, and as he willed it” [= Ia menyerahkan nyawaNya karena Ia menghendakinya, pada saat Ia menghendakinya, dan sebagaimana Ia menghendakinya].

Arthur W. Pink: “The Death of Christ was super-natural. By this we mean that it was different from every other death. In all things He has the pre-eminence. His birth was different from all other births. His life was different from all other lives. And His death was different from all other deaths. This was clearly intimated in His own utterance upon the subject - ‘Therefore doth My Father love Me, because I lay down My life, that I might take it again. No man taketh it from Me, but I lay it down Myself. I have power to take it again’ (John 10:17,18)” [= Kematian Kristus merupakan sesuatu yang bersifat supra natural. Dengan ini kami memaksudkan bahwa kematianNya itu berbeda dengan setiap kematian yang lain. Dalam segala hal Ia mempunyai keunggulan. KelahiranNya berbeda dengan semua kelahiran yang lain. KehidupanNya berbeda dengan semua kehidupan yang lain. Dan kematianNya berbeda dengan semua kematian yang lain. Ini dengan jelas ditunjukkan dalam ucapanNya sendiri tentang hal ini - ‘Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawaKu untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari padaKu, melainkan Aku memberikannya menurut kehendakKu sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali’ (Yoh 10:17-18)] - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 3.

Adam Clarke (tentang Mat 27:50): “as giving up the spirit, ghost, or soul, is an act not proper to man, though commending it to God, in our last moments, is both an act of faith and piety; and as giving up the ghost, i. e. dismissing his spirit from his body, is attributed to Jesus Christ, to whom alone it is proper, I therefore object against its use in every other case” [= karena penyerahan roh atau jiwa bukanlah suatu tindakan yang cocok bagi manusia, sekalipun tindakan mempercayakannya kepada Allah, pada saat terakhir kita, merupakan suatu tindakan iman dan kesalehan; dan karena penyerahan roh, yaitu pembubaran / pembebasan rohNya dari tubuhNya, dihubungkan dengan Yesus Kristus, bagi siapa itu cocok, maka karenanya saya menentang penggunaannya dalam setiap kasus yang lain].

Catatan: saya tidak bisa menterjemahkan bagian yang saya garis bawahi itu dengan persis, dan ada kata penting yang saya hilangkan, yaitu kata ‘alone’ [= hanya, sendirian, seorang diri]. Adanya kata itu menunjukkan bahwa Clarke menganggap bahwa hanya Kristus yang bisa melakukan hal itu, tidak ada orang lain yang bisa.

Wycliffe Bible Commentary (tentang Mat 27:50): “All the Synoptics indicate the death of Christ was not the exhaustion of crucifixion, but a voluntary surrender of his life” [= Semua Injil sinoptik menunjukkan bahwa kematian Kristus bukanlah karena kehabisan tenaga karena penyaliban, tetapi merupakan suatu penyerahan yang sukarela dari nyawaNya].

BACA JUGA: KRISTUS TELAH MATI (2 KORINTUS 5:15)

Leon Morris (NICNT) - tentang Yoh 19:30: “John goes on, ‘and gave up his spirit’. This is not the usual way of referring to death. Indeed in none of the four Gospels is there any usual expression to describe the manner of Jesus’ end. His relation to death is not the same as that of other people. It may be going too far to say that He ‘dismissed His spirit’, but there does seem to be an element of voluntariness that is not found in the case of others” [= Yohanes melanjutkan ‘dan menyerahkan nyawa / rohNya’. Ini bukan suatu cara yang biasa untuk menunjuk pada kematian. Dalam keempat Injil tidak ada ungkapan biasa untuk menggambarkan cara kematian dari Yesus. HubunganNya dengan kematian tidaklah sama dengan hubungan orang-orang lain dengan kematian. Mungkin terlalu jauh untuk mengatakan bahwa Ia ‘membubarkan rohNya’, tetapi memang kelihatannya ada suatu unsur kesengajaan / kesukarelaan yang tidak ditemukan dalam kasus orang-orang lain] - hal 815-816.

2) Dalam bahasa Yunani kata-kata ‘menyerahkan nyawa / roh’ itu bukan merupakan imperfect tense, tetapi aorist tense.

Wycliffe Bible Commentary (tentang Mark 15:37): “‘Gave up the ghost.’ The Greek word is exepneusen ... It was not a prolonged struggle, such as the imperfect tense would describe. Instead, the aorist tense depicts a brief, momentary occurrence. He breathed out his spirit and was gone” [= ‘Menyerahkan rohNya’. Kata Yunaninya adalah EXEPNEUSEN ... Itu bukanlah suatu pergumulan yang berkepanjangan, seperti seandainya digunakan imperfect tense untuk menggambarkan hal itu. Sebaliknya, digunakan aorist / past tense yang menggambarkan suatu kejadian yang singkat / sebentar. Ia menghembuskan rohNya dan pergi].

Kalau Ia betul-betul mati sepenuhnya dan semata-mata karena penyaliban itu, maka Ia pasti mati melalui suatu pergumulan yang berkepanjangan. Bahwa matinya itu merupakan suatu tindakan sesaat, menunjukkan bahwa Ia mati dengan sengaja / sukarela, dan sesuai dengan kehendakNya sendiri.

3) Ia mengucapkan kata-kata dalam Lukas 23:46 itu dengan suara nyaring.
Luk 23:46 - “Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: ‘Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu.’ Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawaNya”.
Bahwa Yesus mengucapkan kata-kata itu ‘dengan suara nyaring’ jelas berbeda dengan pengucapan kata-kata yang keluar dari mulut orang lain yang sedang sekarat, yang biasanya hampir-hampir tak terdengar, karena orangnya memang sudah tidak mempunyai kekuatan untuk mengucapkannya. Bahwa Kristus bisa mengucapkan kata-kata terakhir itu dengan suara nyaring, menunjukkan bahwa sekalipun Ia telah mengalami semua rasa sakit dan kelelahan itu, Ia tetap cukup kuat. Ini menunjukkan bahwa kehidupanNya / nyawaNya bukan ‘diambil dengan paksa’ dari Dia, tetapi dengan sukarela Ia berikan kepada Bapa.

A. T. Robertson (tentang Mat 27:50): “Jesus did not die from slow exhaustion, but with a loud cry” [= Yesus tidak mati karena pelan-pelan kehabisan tenaga, tetapi dengan teriakan yang nyaring].

Arthur W. Pink: “Why is it that the Holy Spirit tells us that the Saviour uttered that terrible cry ‘with a loud voice?’ ... Do they not intimate that His strength had not failed Him? that He was still the Master of Himself, that instead of being conquered by death, He was but yielding Himself to it?” [= Mengapa Roh Kudus memberitahu kita bahwa sang Juruselamat mengucapkan teriakan yang dahsyat itu ‘dengan suara yang nyaring’? ... Bukankah ini menunjukkan bahwa kekuatanNya belum meninggalkanNya? bahwa Ia masih tetap merupakan tuan dari diriNya sendiri, dan bukannya dikalahkan oleh kematian, tetapi Ia hanya menyerahkan diriNya sendiri kepada kematian itu?] - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 4.

4) Ia menundukkan kepalaNya, lalu menyerahkan nyawa / rohNya.
Bdk. Yohanes 19:30 - “Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ‘Sudah selesai.’ Lalu Ia menundukkan kepalaNya dan menyerahkan nyawaNya”.
Ada 2 hal yang perlu diperhatikan:

a) Ia menundukkan kepala dengan sengaja.
Arthur W. Pink (tentang Yoh 19:30): “What are we intended to learn from these words? What is here signified by this act of the Saviour? Surely the answer is not far to seek. The implication is clear. Previous to this our Lord’s head had been held erect. It was no impotent sufferer that hung there in a swoon. Had that been the case His head had lolled helplessly on His chest, and it would have been impossible for Him to ‘bow’ it. And mark attentively the verb used here: it is not His head ‘fell,’ but He - consciously, calmly, reverently - bowed His head” [= Apa yang dimaksudkan untuk kita pelajari dari kata-kata ini? Apa yang ditunjukkan di sini oleh tindakan sang Juruselamat ini? Jelas bahwa jawabannya tidak usah dicari terlalu jauh. Maksud / pengertiannya jelas. Sebelum ini kepala Tuhan kita tetap tegak. Itu bukanlah seorang penderita yang tidak bertenaga yang tergantung di sana dengan lemah. Seandainya itu merupakan kasusnya maka kepalaNya telah bersandar tak berdaya di dadaNya, dan adalah tidak mungkin bagiNya untuk menundukkannya. Dan perhatikanlah dengan penuh perhatian kata kerja yang digunakan di sini: bukan bahwa kepalaNya ‘jatuh’, tetapi Ia, dengan sadar, dengan pelan-pelan / tenang, dengan hormat, menundukkan kepalaNya] - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 5.

b) Ia menundukkan kepalaNya dulu, baru menyerahkan nyawa / roNya.
Perhatikan bahwa urut-urutannya adalah ‘menundukkan kepalaNya’ lebih dulu, dan setelah itu baru ‘menyerahkan nyawa / rohNya’! Renungkan / pikirkan hal ini! Bukankah ini aneh dan seharusnya terbalik?

Matthew Henry (tentang Yoh 19:30): “he bowed his head. Those that were crucified, in dying stretched up their heads to gasp for breath, and did not drop their heads till they had breathed their last; but Christ, to show himself active in dying, bowed his head first, composing himself, as it were, to fall asleep” [= ‘Ia menundukkan kepalaNya’. Mereka yang disalibkan, pada saat mati menjulurkan kepala mereka ke atas untuk mengambil nafas, dan tidak menjatuhkan kepala mereka sampai mereka telah menghembuskan nafas terakhir mereka; tetapi Kristus, untuk menunjukkan diriNya sendiri aktif dalam matiNya, menundukkan kepalaNya lebih dulu, menyusun / mengatur tubuhNya sendiri, seakan-akan jatuh tertidur].

Saya menganggap ini sebagai suatu komentar yang luar biasa, dan memang menunjukkan bahwa kematianNya itu disengaja. Tetapi Matthew Henry lalu menambahkan sebagai berikut:

Matthew Henry (tentang Yoh 19:30): “God had laid upon him the iniquity of us all, putting it upon the head of this great sacrifice; and some think that by this bowing of his head he would intimate his sense of the weight upon him” [= Allah telah meletakkan padaNya kejahatan kita sekalian, meletakkannya pada kepala dari Korban agung ini; dan beberapa orang menganggap bahwa dengan menundukkan kepalaNya ini Ia menunjukkan perasaanNya tentang berat dari beban itu padaNya].

Catatan: Saya tidak tahu apakah kata-kata / pandangan Matthew Henry yang ini bisa dibenarkan.

5) Bukti-bukti dari bagian-bagian lain dari Kitab Suci:
a) Pada waktu Ia tahu bahwa waktunya sudah tiba bagiNya untuk mati, Ia sengaja pergi ke Yerusalem (Mat 16:21-24).
b) Pada waktu ditangkap, Ia tidak melawan / lari (Yoh 18:1-11).
c) A. W. Pink menganggap bahwa kematian Yesus yang terjadi begitu ‘cepat’ (hanya dalam 6 jam) pada waktu disalibkan, sehingga membuat Pontius Pilatus menjadi heran (Mark 15:44), karena kematian karena salib biasanya baru terjadi dalam 2-3 hari, menunjukkan bahwa Ia memang sengaja menyerahkan nyawaNya / rohNya.

Penerapan: kerelaan dan kesengajaan Yesus untuk menderita dan mati bagi kita harus selalu kita renungkan dan camkan, khususnya pada saat kita sendiri segan, berat hati, tidak rela melakukan apapun yang Ia kehendaki untuk kita lakukan, seperti:
berbakti.
belajar Firman Tuhan.
berdoa.
melayani.
memberitakan Injil.
memberikan persembahan / persembahan persepuluhan.
mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan kesenangan kita, dan bahkan diri kita sendiri, untuk kepentinganNya / kemuliaanNya.
Pantaskah kerelaanNya kita balas dengan ketidak-relaan kita?

III) Hal-hal theologis berkenaan dengan kematian Yesus.

1) Ini menunjukkan roh / jiwa tetap ada pada saat terpisah dari tubuh.
Matthew Henry: “By this it appears that our Lord Jesus, as he had a true body, so he had a reasonable soul, which existed in a state of separation from the body” [= Dengan ini terlihat bahwa Tuhan kita Yesus, sebagaimana Ia mempunyai tubuh yang sungguh-sungguh, demikian juga Ia mempunyai jiwa yang bisa berpikir, yang tetap ada dalam keadaan terpisah dari tubuh].

Adam Clarke (tentang Luk 23:46): “Another proof of the immateriality of the soul, and of its separate existence when the body is dead” [= Bukti yang lain dari jiwa yang bukan bersifat materi, dan tentang keberadaannya yang terpisah pada waktu tubuh mati].

2) Kematian Yesus tidak mempengaruhi persatuan LOGOS dengan hakekat manusia Yesus.
Lenski (tentang Luk 23:46): “The death of Jesus affected in no way the union of the Logos with the human nature. This death affected only the human nature, for by it alone was the Son able to die. God’s Son died in his human nature, and in that alone” [= Kematian Yesus tidak mempengaruhi dengan cara apapun persatuan Logos dengan hakekat manusia. Kematian ini hanya mempengaruhi hakekat manusia, karena olehNya saja Anak bisa mati. Anak Allah mati dalam hakekat manusiaNya, dan hanya dalam hakekat manusia saja] - hal 1154.

3) Kematian Kristus ini sudah ditetapkan dalam rencana kekal dari Allah.
Arthur W. Pink: “the Death of Christ was preter-natural. By this we mean that it was marked out and determined for Him beforehand. He was the Lamb slain from the foundation of the world (Rev. 13:8). Before Adam was created the Fall was anticipated. Before sin entered the world, salvation from it had been planned by God. In the eternal counsels of Deity it was fore-ordained that there should be a Saviour for sinners, a Saviour who should die in order that we might live. ... It was in view of that approaching Death that God ‘justly passed over the sins done aforetime’ (Rom. 3:25 R. V.). Had not Christ been, in the reckoning of God, the Lamb slain from the foundation of the world, every sinning person in the Old Testament times would have gone down to the Pit the moment he sinned!” [= Kematian Yesus bersifat preter-natural. Dengan ini kami memaksudkan bahwa hal itu telah ditandai dan ditentukan bagiNya sebelumnya. Ia adalah Anak Domba yang disembelih sebelum dunia dijadikan (Wah 13:8). Sebelum Adam diciptakan, kejatuhan ke dalam dosa telah diantisipasi. Sebelum dosa masuk ke dalam dunia, keselamatan dari dosa telah direncanakan oleh Allah. Dan rencana kekal Allah ditentukan lebih dulu bahwa harus ada seorang Juruselamat bagi orang-orang berdosa, seorang Juruselamat yang harus mati supaya kita bisa hidup. ... Dengan memandang pada Kematian yang mendekat inilah Allah ‘dengan adil membiarkan dosa-dosa yang terjadi dahulu’ (Ro 3:25). Seandainya dalam perhitungan Allah, Kristus bukanlah Anak Domba yang telah disembelih sejak penciptaan dunia, maka setiap orang yang berbuat dosa dalam jaman Perjanjian Lama akan sudah turun ke neraka pada saat ia berbuat dosa!] - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 2-3.

Catatan: kata ‘preter’ berarti ‘sebelum’ atau ‘lampau’.

Wahyu 13:8 (KJV): ‘And all that dwell upon the earth shall worship him, whose names are not written in the book of life of the Lamb slain from the foundation of the world’ [= Dan semua yang diam di bumi akan menyembahnya, yang nama-namanya tidak tertulis dalam kitab kehidupan dari Anak Domba yang disembelih sejak penciptaan dunia).
Ada 2 kemungkinan untuk menterjamahkan ayat ini. Kata-kata ‘sejak penciptaan dunia’ bisa dihubungkan dengan kata ‘disembelih’, dan ini yang diambil oleh KJV. Tetapi kata-kata ‘sejak penciptaan dunia’ juga bisa dihubungkan dengan kata-kata ‘tidak tertulis dalam kitab kehidupan’, dan ini yang diambil oleh Kitab Suci Indonesia. Tetapi kalaupun Kitab Suci Indonesia yang benar, kita tetap percaya bahwa kematian Kristus bagi dosa-dosa umat manusia memang sudah ditentukan dalam rencana Allah sebelum dunia dijadikan.
Bdk. Kis 2:23 - “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencanaNya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka”.

Roma 3:25 - “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darahNya. Hal ini dibuatNya untuk menunjukkan keadilanNya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaranNya”.

4) Yesus adalah Anti Type dari anak domba Paskah.
Kristus mati pada sekitar pukul 3 siang, dan itu bertepatan dengan saat penyembelihan domba Paskah.
Lukas 23:44-46 - “(44) Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga, (45) sebab matahari tidak bersinar. Dan tabir Bait Suci terbelah dua. (46) Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: ‘Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu.’ Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawaNya”.

Matthew Henry (tentang Mat 27:50), dan juga Adam Clarke (tentang Mark 15:37), mengatakan bahwa saat Kristus mengucapkan kata-kata ini adalah saat penyembelihan domba Paskah.
Bdk. Kel 12:6 - “Kamu harus mengurungnya sampai hari yang keempat belas bulan ini; lalu seluruh jemaah Israel yang berkumpul, harus menyembelihnya pada waktu senja”.

Dengan demikian lagi-lagi Yesus menggenapi TYPE dalam Perjanjian Lama, dan Ia menjadi ANTI TYPE dari domba Paskah.
Bdk. 1Kor 5:7b - “Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus”.

Bahwa Kristus menjadi penggenapan dari type anak domba Paskah ini, maka kita bisa melihat adanya analogi antara anak domba Paskah itu dengan Kristus. Pada jaman itu, darah anak domba Paskah, yang disapukan pada ambang pintu, merupakan satu-satunya jalan untuk bebas dari hukuman Allah. Sekarang, darah Kristus juga merupakan satu-satunya jalan untuk bebas dari hukuman Allah. Bdk. Ibr 9:22 - “Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan”.

6) Yesus memang harus betul-betul mati untuk memikul hukuman dosa yaitu kematian / maut.

Pulpit Commentary (tentang Mark 15): “the most stupendous, pathetic, and momentous event which this world has witnessed. The Being who was ‘the Life’ bowed his head in death” [= peristiwa yang paling mengagumkan / menakjubkan, menyedihkan, dan penting, yang telah disaksikan oleh dunia ini. Makhluk / Orang yang adalah ‘hidup’ menundukkan kepalaNya dalam kematian] - hal 316.

Matthew Henry (tentang Mat 27:50): “That then he yielded up the ghost. ... His soul was separated from his body, and so his body was left really and truly dead. It was certain that he did die, for it was requisite that he should die; ... Death being the penalty for the breach of the first covenant (Thou shalt surely die), the Mediator of the new covenant must make atonement by means of death, otherwise no remission, Heb. 9:15” [= Bahwa lalu Ia menyerahkan rohNya. ... JiwaNya terpisah dari tubuhNya, dan dengan demikian tubuhNya ditinggalkan dan betul-betul mati. Adalah pasti bahwa Ia memang mati, karena memang dibutuhkan bahwa Ia harus mati; ... Kematian merupakan hukuman dari pelanggaran dari perjanjian pertama (pastilah engkau mati), sang Pengantara dari perjanjian yang baru harus membuat penebusan dengan cara / melalui kematian, karena kalau tidak, maka tidak ada pengampunan, Ibr 9:15].

Ibrani 9:15 - “Karena itu Ia adalah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, supaya mereka yang telah terpanggil dapat menerima bagian kekal yang dijanjikan, sebab Ia telah mati untuk menebus pelanggaran-pelanggara yang telah dilakukan selama perjanjian yang pertama”.

Catatan: Kata-kata ‘pastilah engkau mati’ diambil dari Kej 2:17 - “tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.’”.

George Hutcheson: “Death, and no less than death, is the wages of sin; therefore, after the former sufferings, our Surety behoved also to give up the ghost, to finish his work” [= Kematian, dan tidak kurang dari kematian, merupakan upah dari dosa; karena itu, setelah penderitaan-penderitaan sebelumnya, Penanggung kita juga perlu untuk menyerahkan rohNya, untuk menyelesaikan pekerjaanNya] - hal 405.

George Hutcheson: “Christ, by undergoing bodily death for his people, hath hereby purchased that however they must die, yet death is no punishment of sin to them; for his suffering of death hath taken that sting out of it” [= Kristus, dengan mengalami kematian jasmani bagi umatNya, telah dengan ini membeli, sehingga bagaimanapun mereka harus mati, tetapi kematian itu bukanlah hukuman dosa bagi mereka; karena penderitaan kematianNya telah mengambil sengat dari kematian itu] - hal 405.

Bdk. Ibr 2:14-15 - “(14) Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematianNya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; (15) dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut”.

Dengan telah terjadinya kematian Kristus untuk menebus dosa-dosa kita, maka kematian, sekalipun tetap harus terjadi pada diri orang percaya, tidak lagi merupakan sesuatu yang menakutkan. Kita bisa, bersama-sama dengan Paulus, berkata seperti dalam Fil 1:21-23 - “(21) Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. (22) Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. (23) Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus - itu memang jauh lebih baik”.

Kesimpulan / penutup.

Sesuai dengan rencana Allah, Yesus Kristus bukan saja telah mengalami bermacam-macam penderitaan, tetapi juga telah mati dengan sengaja dan sukarela, untuk menebus dosa-dosa kita. Karena itu, kalau kita mau percaya kepadaNya, sekalipun kita tetap akan mati, tetapi itu bukan lagi hukuman dosa, tetapi merupakan pintu gerbang, melalui mana kita akan masuk ke surga. Maukah saudara percaya dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat saudara? Kiranya Tuhan memberkati saudara.


-AMIN-


Daftar isi

7 kalimat dari salib................................................................................... 1


Kalimat 1 (Lukas 23:34)............................................................................... 2


Kalimat 2 (Lukas 23:43)............................................................................. 21


Kalimat 3 (Yohanes 19:25-27)....................................................................... 48


Kalimat 4 (Matius 27:46 / Markus 15:34)........................................................ 67


Kalimat 5 (Yohanes 19:28)............................................................................ 82


Kalimat 6 (Yohanes 19:30)............................................................................ 92


Kalimat 7 (Lukas 23:46)........................................................................... 112

-o0o-

pembahasan

tujuh

kalimat


dari


kayu salib

oleh


Pdt. Budi Asali, M. Div.
  

PEMBAHASAN 7 KALIMAT DARI SALIB
Next Post Previous Post