MAKNA SESUNGGUHNYA DARI KEMATIAN KRISTUS

Oleh: Henry Clarence Thiessen.

Nabi Yesaya mengungkapkan inti kebenaran tentang makna kematian Kristus ketika ia menyatakan, "Tetapi Tuhan berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah" (Yesaya 53:10).
MAKNA SESUNGGUHNYA DARI KEMATIAN KRISTUS
Ketika menguraikan pendamaian, 3 (tiga) hal patut diperhatikan.

I. KEMATIAN ITU DIJALANINYA UNTUK ORANG LAIN

Jelaslah bahwa Kristus tidak mati untuk dosa-Nya sendiri (Yohanes 8:46; Ibrani 4:15; I Petrus 2:22). Di seluruh Alkitab dikatakan bahwa Ia mati untuk dosa-dosa orang lain. "Penderitaan yang dialami oleh Kristus bukan merupakan penderitaan seorang sahabat yang menaruh rasa simpati, melainkan penderitaan yang bersifat menggantikan dari Anak Domba Allah karena dosa seisi dunia.

" Yesaya menulis, 'Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.... Tetapi Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian" (Yesaya 53:5, 6).

Perhatikan beberapa ayat lain, "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih- Nya kepada kita oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa" (Roma 5:8); "Kristus telah mati karena dosa- dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci" (I Korintus 15:3); "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah" (II Korintus 5:21); "Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran.

Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh" (I Petrus 2:24); dan "Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah" (I Petrus 3:18).

Yesus sendiri mengatakan, "Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Markus 10:45) dan "Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya" (Yohanes 10:11).

Ia mati ganti kita sebagai anak domba Paskah yang sejati (Keluaran 12; I Korintus 5:7) dan merupakan korban penghapus dosa yang sejati (Yesaya 53:10), yang telah dilambangkan oleh berbagai kurban persembahan dalam Perjanjian Lama (Imamat 6:24-30; Ibrani 10:1-4; bandingkan juga dengan kambing jantan pengangkut segala kesalahan Israel di Imamat 16:20-22).

Berbagai keberatan dikemukakan terhadap penafsiran ini mengenai kematian Kristus, keberatan yang

1. Pertama berkaitan dengan tata bahasa sedangkan keberatan yang

2. Kedua dan yang ketiga bersifat moral.

Ada yang mengatakan bahwa kata depan Yunani anti bisa berarti "sebagai pengganti", tetapi kata depan huper, yang hampir selalu dipakai ketika membicarakan penderitaan dan kematian Kristus, berarti "untuk kepentingan", atau "dengan harapan akan menguntungkan", dan tidak pernah berarti "sebagai pengganti". Bahwa anti berarti "sebagai pengganti" sudah jelas dari pemakaiannya di Matius 5:38 dan 20:28, Markus 10:45, Lukas 11:11, Roma 12:17, I Tesalonika 5:15, Ibrani 12:16, dan I Petrus 3:9.

Istilah huper sering kali dipakai dalam frase-frase yang berhubungan dengan pendamaian. Misalnya, "Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku yang ditumpahkan bagi kamu" (Lukas 22:20); 'Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya" (Yohanes 15:13); "Kristus telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa" (Roma 5:8); "Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua" (Roma 8:32); "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita" (II Korintus 5:21); Kristus "mengalami maut bagi semua manusia" (Ibrani 2:9); dan "Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar" (I Petrus 3:18; bandingkan Yohanes 6:51; II Korintus 5:14; Galatia 3:13; Efesus 5:2, 25).

Apa arti kata depan huper? Sekalipun kata depan ini sering kali berarti "demi kepentingan" atau "untuk keuntungan", namun kata ini juga dapat berarti "sebagai pengganti". Hal ini terjadi dalam I Korintus 15:3, II Korintus 5:14, dan Galatia 1:4 yang dengan jelas sekali mengemukakan gagasan penggantian. Teranglah bahwa Kristus mati baik untuk kepentingan orang berdosa maupun sebagai penggantinya. Kedua gagasan ini terkandung dalam kata depan huper, sedangkan kata depan anti hanya mengandung unsur pengganti.

Selanjutnya, ada keberatan bahwa tak bermoral bagi Allah untuk menghukum orang yang tidak bersalah, sehingga berdasarkan alasan ini saja kematian Kristus tidak mungkin bersifat mengganti. Akan tetapi, kesalahan pandangan ini terletak dalam anggapan bahwa Allah dan Kristus adalah dua pribadi yang berbeda seperti halnya dua individu. Bila hal ini memang benar, maka keberatan ini ada benarnya juga.

Akan tetapi, karena Kristus adalah Allah yang menjelma menjadi manusia, maka pengganti itu adalah Allah sendiri. Bisa disahkan oleh hukum jika hakimnya sendiri memutuskan untuk menjalani hukuman. Tambahan pula, Yesus bersukarela menjadi pengganti. Ia menyatakan, "Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku .... Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorang pun mengambilnya daripada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri" (Yohanes 10:15, 17, 18).

3. Keberatan yang ketiga berhubungan dekat dengan keberatan yang kedua ini.

Dikatakan bahwa pemenuhan tuntutan dan pengampunan adalah dua hal yang tidak berhubungan samasekali. Dianggap bahwa bila seorang pengganti membayar utang kita, maka Allah tidak dapat menagih utang itu dari kita juga, tetapi secara moral harus membiarkan kita bebas; maksudnya, berdasarkan teori ini, Allah tidak bermurah hati ketika mengampuni kita, tetapi Ia hanya melakukan kewajiban-Nya.

Namun, keberatan ini juga dapat dikesampingkan oleh kenyataan bahwa pihak yang melunasi utang itu bukanlah pihak ketiga, tetapi sang hakim sendiri. Dengan demikian, pengampunan tetap menjadi haknya dan dapat ditawarkan sesuai dengan syarat-syarat yang telah disetujuinya sendiri. Syarat- syarat yang telah ditetapkan Allah ialah pertobatan dan iman.

Jadi, ketaatan Kristus tidak berarti bahwa kita tidak perlu taat lagi, tetapi tetap menuntut agar kita memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan sebelum kita menikmati berkat-berkat yang ditawarkan oleh kematian Kristus yang mendamaikan.

II. KEMATIAN KRISTUS MEMENUHI SEMUA TUNTUTAN

Karena kekudusan merupakan sifat pokok Allah maka sangat beralasan bahwa tuntutan-Nya harus dipenuhi sebelum pelanggaran dosa dapat disingkirkan. Kematian Kristus memenuhi tuntutan itu.

1. Kematian Kristus memenuhi tuntutan keadilan Allah.

Manusia telah berdosa terhadap Allah dan telah mendatangkan kemarahan dan penghakiman Allah atas dirinya. Sudah sepantasnya Allah menuntut hukuman atas pelanggaran hukum yang telah ditetapkan oleh-Nya.

Ia tidak dapat membebaskan orang berdosa sebelum tuntutan-tuntutan keadilan dipenuhi. Allah hams menjatuhkan hukuman atas dosa. Allah tidak akan membebaskan pihak yang bersalah kecuali ada pengganti yang menjalani hukuman itu (Keluaran 34:7; Bilangan 14:18). Hanya melalui kematian Kristus sajalah Allah dapat tetap adil ketika membenarkan orang yang berdosa (Roma 3:25, 26).

Apa pun yang dilakukan oleh Allah, keadilan-Nya hams tetap dipertahankan; kematian Kristus secara sempurna telah memenuhi tuntutan-tuntutan Allah yang adil. Sebagaimana dalam hal paranarapidana, apabila narapidana itu telah menjalani hukuman yang dituntut oleh undang-undang, maka ia tidak dapat dikenakan hukuman lagi. "Tidaklah mungkin untuk secara adil menjatuhkan hukuman lagi untuk pelanggaran yang sama. Inilah yang dimaksudkan ketika mengatakan bahwa kematian Kristus, dari segi nilainya yang hakiki, secara sempurna memenuhi semua tuntutan keadilan."

2. Kematian Kristus memenuhi tuntutan hukum Allah.

Namun kematian Kristus tidaklah sekadar memenuhi tuntutan keadilan Allah, tetapi juga memenuhi tuntutan hukum Allah. Hukum Allah didasarkan pada sifat Allah sendiri, dan pelanggaran terhadapnya akan mendatangkan hukuman. "Hukum Allah tidak dapat diganggu gugat karena hukum itu didasarkan pada sifat Allah sendiri dan bukan ... merupakan hasil kehendak bebas-Nya." Orang berdosa tidak dapat memenuhi tuntutan hukum ilahi, namun Kristus, sebagai wakil dan pengganti kita, sanggup memenuhinya. Demikianlah, oleh ketaatan Kristus yang aktif dan pasif, Allah menyediakan pemenuhan tuntutan bagi orang-orang berdosa (Roma 8:3, 4).

Oleh ketaatan dan penderitaan serta kehidupan-Nya yang samasekali benar, Yesus memenuhi seluruh tuntutan hukum Allah. Ketika berbicara perihal Israel, Paulus mengatakan, "Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah. Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh setiap orang percaya" (Roma 10:3, 4).

3. Pendamaian membutuhkan adanya pemenuhan tuntutan.

Beberapa istilah lain yang sering kali ditemukan dalam Alkitab ada sangkut-pautnya dengan gagasan "pemenuhan tuntutan". Oleh karena itu, kematian Kristus merupakan karya pendamaian dan peredaan murka Allah. Imamat 6:2-7 berbicara tentang pendamaian pribadi untuk dosa pribadi, "Apabila seseorang berbuat dosa dan berubah setia terhadap Tuhan, . . . haruslah ia mempersembahkan kepada Tuhan . . . korban penebus salah, dengan menyerahkannya kepada imam. Imam hams mengadakan pendamaian bagi orang itu di hadapan Tuhan sehingga ia menerima pengampunan atas perkara apa pun yang diperbuatnya sehingga ia bersalah.

" Imamat 4:13-20 berbicara tentang pendamaian nasional bagi pelanggaran nasional, "Jikalau yang berbuat dosa ... itu segenap umat Israel, . . . dan mereka bersalah .... Lalu para tua-tua umat itu harus meletakkan tangan mereka di atas kepala lembu jantan itu di hadapan Tuhan, dan lembu itu harus disembelih di hadapan Tuhan .... Dengan demikian imam itu mengadakan pendamaian bagi mereka sehingga mereka menerima pengampunan.

" Dari ayat-ayat ini jelaslah bahwa domba jantan atau lembu jantan itu harus mati, dan bahwa pengampunan dimungkinkan hanya oleh kematian si pengganti. Istilah Ibrani untuk "pendamaian" dalam ayat-ayat di atas dan ayat-ayat lainnya ialah kaphar, yang sering kali diterjemahkan sebagai "mengadakan pendamaian".

Secara harfiah istilah ini artinya "menutupi" sehingga tidak kelihatan. Hoeksema menulis tentang sifat menebus dari korban-korban dalam Perjanjian Lama, "Korban-korban tersebut dinamakan korban penghapus dosa atau korban penebus salah, dan dianggap sebagai memikul dosa-dosa si pelanggar hukum, menjadi tebusan atas dosa, dapat meredakan murka Allah, dan menutupi dosa-dosa umat itu di hadapan Allah. Dan buah semuanya itu ialah pengampunan dosa.

" Gagasan menutupi dosa dari hadapan mata Allah terdapat dalam ayat-ayat seperti, "Sembu- nyikanlah wajah-Mu terhadap dosaku, hapuskanlah segala kesalahanku" (Mazmur 51:11); "Sebab Engkau telah melemparkan segala dosaku jauh dari hadapan-Mu" (Yesaya 38:17); dan "Ia . . . melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut" (Mikha 7:19).

4. Peredaan murka Allah membutuhkan adanya pemenuhan tuntutan.

Dalam kitab Septuaginta, kata Ibrani kaphar ini diterjemahkan dengan sebuah kata Yunani yang agak berbeda penekanannya. Dalam Septuaginta, kaphar diterjemahkan sebagai exilaskomai yang artinya "mendamaikan, meredakan amarah".

Jelas yang dimaksudkan di sini ialah bahwa bila dosa telah ditutupi atau disingkirkan, maka murka Allah terhadap dosa itu telah diredakan atau tuntutan- Nya dipenuhi. Akibat kebenaran ini, para penerjemah Septuaginta dapat dibenarkan ketika menerjemahkan kaphar sebagai exilaskomai.

Istilah exilaskomai itu sendiri tidak terdapat dalam Perjanjian Baru, namun bentuk kata kerjanya hilaskomai muncul dua kali (Lukas 18:13; Ibrani 2:17), bentuk kata benda hilasmos muncul dua kali (I Yohanes 2:2; 4:10), sedangkan kata sifatnya hilasterion juga muncul dua kali (Roma 3:25; Ibrani 9:5). Perjanjian Baru banyak sekali berbicara tentang murka Allah (Yohanes 3:36; Roma 1:18; 5:9; Efesus 5:6; I Tesalonika 1:10; Ibrani 3:11; Wahyu 19:15).

Sesuai dengan pikiran ini, Perjanjian Baru menggambarkan kematian Kristus sebagai meredakan murka Allah. Paulus mengatakan bahwa Yesus telah ditentukan Allah "menjadi jalan pendamaian" (Roma 3:25), dan surat Ibrani menggunakan istilah ini untuk tutup pendamaian di dalam kemah perhimpunan (Ibrani 9:5).

Yohanes mengatakan bahwa Kristus adalah "pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia" (I Yohanes 2:2; bandingkan dengan 4:10); dan surat Ibrani menyatakan bahwa Kristus menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia "untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa" (2:17). Secara harfiah doa si pemungut cukai berbunyi, "Ya Allah, adakanlah pendamaian bagi aku orang berdosa ini" (Lukas 18:13). Oleh kematian-Nya, Kristus telah meredakan murka Allah yang kudus terhadap dosa.

5. Penghentian perseteruan membutuhkan adanya pemenuhan tuntutan.

Berkaitan erat dengan gagasan peredaan amarah ialah gagasan perdamaian atau penghentian perseteruan. Kedua gagasan tersebut nampaknya saling berkaitan seperti sebab dan akibat; kematian Kristus "meredakan murka" Allah, dan sebagai hasilnya Allah "diperdamaikan" (Roma 5:10; II Korintus 5:18, 19; Efesus 2:16).

Kata kerja katalasso muncul enam kali dalam Perjanjian Baru (Roma 5:10; I Korintus 7:11; II Korintus 5:18-20), sedangkan kata benda katallage muncul empat kali (Roma 5:11; 11:15; II Korintus 5:18, 19). Diallassomai muncul sekali (Matius 5:24). Dalam semua ayat ini yang dipikirkan adalah penghentian permusuhan atau perdamaian.

Berkouwer mengatakan bahwa Paulus memakai istilah ini untuk menunjuk kepada "hubungan damai yang dihasilkan oleh kematian Kristus, kepada kerukunan yang bertentangan dengan permusuhan sebelumnya, kepada perdamaian setelah semua penghalang ditiadakan, dan kepada kesempatan dapat menghampiri

Bapa." Dalam Alkitab istilah perdamaian atau penghentian permusuhan ini dipakai untuk Allah dan untuk manusia (Roma 5:10; II Korintus 5:18-20).

Pengertiannya kurang lebih sebagai berikut. Pada mulanya Allah dan manusia itu berdiri saling berhadapan dalam suatu hubungan harmonis yang sempurna. Ketika ia berdosa, Adam berpaling dan membelakangi Allah. Saat itu Allah juga membelakangi Adam. Kematian Kristus telah memenuhi tuntutan-tuntutan Allah dan kini Allah berkenan untuk berpaling lagi kepada manusia. Kini tinggal manusia yang harus berpaling kepada Allah.

Karena Allah telah diperdamaikan oleh kematian Anak-Nya, sekarang manusia dimohon dengan sangat untuk berdamai dengan Allah. Dalam arti kata yang paling luas, Allah sudah berdamai bukan saja dengan manusia tetapi juga dengan segala sesuatu di langit dan di bumi (Kolose 1:20). Karena penghentian permusuhan ini, Allah mencurahkan berkat-berkat yang bersifat sementara kepada orang-orang yang belum diselamatkan (Matius 5:45; Roma 2:4), memperluas kesempatan kepada manusia untuk bertobat (II Petrus 3:9), dan akan membebaskan langit dan bumi dari semua akibat kejatuhan (Roma 8:19-21).

III. KEMATIAN KRISTUS MERUPAKAN PENEBUSAN

Kematian Kristus digambarkan sebagai pembayaran uang tebusan. Gagasan penebusan berarti pembayaran harga kepada pihak tertentu agar dapat membebaskan orang yang berada dalam perbudakan. Karena itu Yesus mengatakan bahwa Ia datang untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Matius 20:28; Markus 10:45), sedangkan karya Kristus disebut dalam Alkitab Terjemahan Lama sebagai suatu penebusan (Lukas 1:68; 2:38; Ibrani 9:12).

Dalam ayat-ayat tersebut istilah yang dipakai ialah lutrosis. Kata kerja lutroomai terdapat dalam Lukas 24:21, Titus 2:14, dan I Petrus 1:18. Kata majemuk apolutrosis muncul sepuluh kali (Lukas 21:28; Roma 3:24; 8:23; I Korintus 1:30; Efesus 1:7, 14; 4:30; Kolose 1:14; Ibrani 9:15; 11:35). 

Deissmann mengatakan, Kalau orang mendengar istilah Yunani lutron, "tebusan" pada abad pertama, maka wajar baginya untuk berpikir tentang uang pembelian untuk membebaskan seorang budak. Tiga dokumen dari Oxyrhynchus membahas tentang pembebasan budak pada tahun 86, 100, dan 91 atau 107 M serta memakai istilah ini.

Harga tebusan tersebut tidak dibayarkan kepada Iblis, tetapi kepada Allah. Utang yang perlu dilunasi ialah utang kepada sifat Allah yang adil; Iblis tidak memiliki hak hukum apa pun atas diri seorang berdosa, karena itu tidak perlu dibayar supaya orang berdosa dapat dibebaskan. Sebagaimana hal itu dikatakan dengan tepat oleh Shedd, "Kemurahan Allah menebus manusia dari keadilan Allah."

Alkitab mengajarkan bahwa kita telah ditebus oleh kematian Kristus. 

Penebusan ini ialah penebusan:

(1) dari hukum Taurat, atau seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus dalam Galatia 3:13, dari "kutuk hukum Taurat", dengan cara Kristus yang menjadi kutuk karena kita;

(2) dari hukum itu sendiri, dengan cara kita dimatikan terhadap hukum Taurat oleh kematian tubuh Kristus (Roma 7:4), sehingga kita tidak dikuasai lagi oleh hukum itu tetapi oleh kasih karunia (Roma 6:14);

Baca Juga: Makna Kematian Kristus (Matius 27:50-53)

(3) dari dosa sebagai suatu kekuatan, dengan matinya Kristus terhadap dosa dan matinya kita terhadap dosa di dalam Dia (Roma 6:2, 6; Titus 2:14; I Petrus 1:18, 19), sehingga kita tidak perlu lagi tunduk pada kuasa dosa (Roma 6:12-14);

(4) dari Iblis, yang memperbudak umat manusia (II Timotius 2:26), juga oleh kematian Kristus di kayu salib (Ibrani 2:14, 15); dan

(5) dari segala kejahatan, baik kejahatan fisik maupun kejahatan moral, termasuk tubuh fana kita saat ini (Roma 8:23 dan Efesus 1:14), yang akan kita nikmati sepenuhnya ketika Kristus datang yang kedua kalinya (Lukas 21:28). Istilah "penebusan" kadang- kadang menunjuk pada pelunasan utang dan kadang-kadang kepada pembebasan orang tahanan. Korban Kristus menyediakan penebusan untuk kedua-duanya. MAKNA SESUNGGUHNYA DARI KEMATIAN KRISTUS
Next Post Previous Post