AMSAL 7:1-5 - FIRMAN ALLAH DISARANKAN

Matthew Henry (1662 – 1714)

BAHASAN : AMSAL 7:1-5 - FIRMAN ALLAH DISARANKAN.

Ayat-ayat di atas merupakan pengantar untuk menyampaikan peringatan melawan hawa nafsu kedagingan, hampir sama dengan peringatan dalam pasal 6:20 dst., dan berakhir dengan  Amsal 7:5, sama seperti dalam pasal sebelumnya (ayat 24), dengan kata-kata ini, supaya engkau dilindunginya terhadap perempuan asing. Itulah yang ingin ditujunya. 
AMSAL 7:1-5 - FIRMAN ALLAH DISARANKAN
Hanya saja dalam pasal sebelumnya dia berkata, peliharalah perintah ayahmu, di sini (yang arti keduanya sama saja), berpeganglah pada perintahku, sebab ia berbicara kepada kita seperti kepada anak-anak. Dia berbicara di dalam nama Allah. Sebab, perintah-perintah Allah-lah yang harus kita pegang, perkataan-Nya, hukum-Nya. Firman Allah haruslah menjadi bagi kita,

1. Seperti layaknya apa yang kita jaga dengan teramat hati-hati. Kita ha¬ menjaganya sebagai harta kita. Kita harus menyimpan perintah-perintah Allah bersama kita, menyimpannya dengan aman, agar firman-Nya itu tidak dirampok dari kita oleh si jahat (Amsal 7:1). Kita harus menjaganya sebagai hidup kita: berpeganglah pada perintahku, dan hiduplah (Amsal 7:2, KJV), bukan hanya, “Berpeganglah pada perintahku, maka engkau akan hidup” tetapi juga, “Berpeganglah pada perintahku seperti engkau menjaga hidupmu, seperti orang yang tidak dapat hidup tanpanya.” Bagi orang baik, hal itu sama saja dengan kematian jika firman Allah direnggut dari dia, sebab dengan firman itulah ia hidup, dan bukan dengan roti saja.

2. Seperti layaknya apa yang kita rawat baik-baik: simpanlah ajaranku seperti biji matamu. Benda kecil akan menyakiti mata, dan oleh sebab itu alam menjaganya dengan begitu hati-hati. Kita berdoa, bersama Daud, agar Allah memelihara kita seperti biji mata-Nya (Mazmur 17:8), agar hidup dan penghiburan kita berharga dalam pandangan-Nya. 

Dan akan demikianlah jadinya (Zakaria 2:8) jika kita juga menghargai dan berpegang pada hukum-Nya, dan takut melanggarnya sedikit saja. Orang-orang yang mencela cara hidup yang ketat dan berhati-hati dan menganggapnya sebagai kesaksamaan yang tidak perlu, tidak memandang hukum itu harus dipelihara seperti biji matanya. Padahal, justru itulah biji mata kita. Hukum itu adalah terang. Hukum di dalam hati adalah mata jiwa.

3. Seperti layaknya apa yang kita bangga-banggakan dan akan selalu kita ingat (Amsal 7:3): “Tambatkanlah semuanya itu pada jarimu. Biarlah semua itu berharga bagimu. Pandanglah itu sebagai perhiasan, sebagai cincin berlian, sebagai cincin meterai pada tangan kananmu. Pakailah itu senantiasa sebagai cincin perkawinanmu, sebagai lambang perkawinan-mu dengan Allah. 

Pandanglah firman Allah sebagai sesuatu yang memberikan kehormatan kepadamu, sebagai panji martabatmu. Tambatkanlah semuanya itu pada jarimu, untuk senantiasa mengingatkanmu akan kewajibanmu, agar engkau selalu dapat memandangnya, sebagai sesuatu yang dilukiskan di telapak tanganmu .”

4. Seperti layaknya apa yang kita gemari dan senantiasa kita pikirkan: tulislah itu pada loh hatimu, sebagaimana yang kita perbuat dengan nama teman-teman yang amat kita kasihi, yang kita katakan, tertulis di dalam hati kita.Hendaklah perkataan Allah diam dengan segala kekayaannya di antara kita, dan tertulis di tempat di mana ia akan selalu siap sedia untuk dibaca. Di mana tertulis dosa (Yeremia 17:1), biarlah di situ tertulis firman Allah. Hal ini sudah dijanjikan (Ibrani 8:10), Aku akan menuliskan hukum-Ku dalam hati mereka), dan ini membuat aturan tadi mudah dan dapat dilakukan.

BACA JUGA: AMSAL 6:20-35 - PERINGATAN TERHADAP PERZINAAN

5. Seperti layaknya apa yang kita kenal dengan akrab dan amat kita pedulikan (Amsal 7:4) : “Katakanlah kepada hikmat: ‘Engkaulah saudaraku, yang amat kukasihi dan kusenangi. Dan sebutkanlah pengertian itu sanakmu, yang dengannya engkau berkerabat dekat, dan yang untuknya engkau menyimpan kasih sayang yang murni. Sebutlah dia sebagai temanmu, yang engkau sayangi.” Kita harus mengakrabkan diri dengan firman Allah, meminta nasihat darinya, mempertimbangkan kehormatannya, dan bersuka jika bercakap-cakap dengannya.

6. Seperti layaknya apa yang kita pakai sebagai tameng dan pelindung kita, untuk menjaga kita dari perempuan asing, dari dosa, yang menyanjung namun menghancurkan itu, dari si perempuan sundal itu, dan terutama dari dosa kenajisan (Amsal 7:5). Biarlah firman Allah memperkuat kengerian kita terhadap dosa itu dan tekad-tekad kita untuk melawannya. Biarlah firman itu menyingkapkan kepada kita kepalsuan-kepalsuannya dan memberi kita jawaban bagaimana menghadapi rayuan-rayuannya.
Next Post Previous Post