Kedaulatan Allah dan Kebebasan Manusia

I. Pendahuluan: Misteri yang Tidak Bertentangan
Tidak ada tema yang lebih dalam dan sering disalahpahami dalam teologi Kristen selain hubungan antara kedaulatan Allah dan kebebasan manusia. Dua kebenaran ini tampak bertentangan di permukaan — jika Allah berdaulat mutlak, apakah manusia benar-benar bebas? Namun jika manusia memiliki kehendak bebas, apakah Allah benar-benar berdaulat atas segalanya?
Tradisi Reformed tidak melihat dua kebenaran ini sebagai kontradiksi, melainkan misteri ilahi yang harmonis dalam pemahaman Alkitab. Allah adalah Tuhan yang berdaulat atas segala sesuatu, termasuk keputusan manusia, tetapi manusia tetap bertanggung jawab atas pilihan dan tindakannya.
John Calvin menulis dalam Institutes of the Christian Religion (I.17.2):
“Tidak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa kehendak Allah, tetapi Allah bukanlah penyebab dosa. Kehendak manusia bekerja secara bebas, namun tidak di luar kendali ilahi.”
Jadi, teologi Reformed menegaskan dua hal yang sama-sama benar:
-
Allah berdaulat mutlak atas ciptaan-Nya (Efesus 1:11).
-
Manusia bertanggung jawab atas pilihannya (Roma 9:19–21).
Kita akan menelusuri bagaimana Alkitab mengajarkan dua kebenaran ini secara konsisten, serta bagaimana para teolog Reformed klasik memahaminya.
II. Dasar Alkitab: Allah yang Berdaulat Mutlak
1. Efesus 1:11 – Allah bekerja menurut keputusan kehendak-Nya
“Di dalam Dia kami juga mendapat bagian yang dijanjikan, setelah kami ditentukan dari semula menurut maksud Allah, yang melakukan segala sesuatu menurut keputusan kehendak-Nya.”
— Efesus 1:11 (AYT)
Ayat ini adalah landasan utama bagi teologi Reformed tentang kedaulatan Allah.
Paulus menegaskan bahwa segala sesuatu — termasuk sejarah, pilihan manusia, bahkan penderitaan — berada di bawah kendali aktif Allah.
R.C. Sproul menegaskan dalam Chosen by God:
“Jika ada satu molekul pun di alam semesta yang berada di luar kendali Allah, maka Allah bukanlah Tuhan. Kedaulatan yang tidak menyentuh segala sesuatu bukanlah kedaulatan sejati.”
Kedaulatan Allah bukan hanya “pengetahuan sebelumnya” (foreknowledge), tetapi pengaturan aktif (providence) atas segala hal, tanpa meniadakan kebebasan manusia. Allah bukan hanya mengetahui masa depan, tetapi menetapkannya dengan tujuan yang kudus.
2. Mazmur 115:3 – Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya
“Allah kita di sorga, Ia melakukan apa yang dikehendaki-Nya.”
Ayat ini mengandung pernyataan sederhana tetapi mutlak:
Tidak ada kehendak yang lebih tinggi dari kehendak Allah.
Bagi para teolog Reformed, ini berarti bahwa seluruh realitas berada di bawah kendali kehendak Allah. Tidak ada kejadian yang “kebetulan” dalam pandangan Reformed.
Seperti dikatakan Louis Berkhof dalam Systematic Theology:
“Kedaulatan Allah berarti bahwa Ia adalah sumber, penguasa, dan tujuan dari segala sesuatu; bahwa tidak ada satu pun yang terjadi di luar rencana dan keputusan-Nya.”
3. Roma 9:15–21 – Hak Allah untuk memilih
“Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan...”
(ayat 15)
“Siapakah kamu, hai manusia, yang membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada pembentuknya: Mengapa engkau membentuk aku demikian?”
(ayat 20)
Bagian ini merupakan teks klasik yang menjelaskan hubungan antara kedaulatan pemilihan Allah dan tanggung jawab manusia.
Paulus menegaskan bahwa Allah memiliki hak penuh sebagai Pencipta untuk menetapkan tujuan setiap ciptaan-Nya, bahkan dalam hal keselamatan.
John Piper, dalam bukunya The Justification of God, menulis:
“Roma 9 adalah penegasan bahwa belas kasihan dan kekerasan hati manusia berada dalam kendali Allah, namun tanpa meniadakan tanggung jawab moral manusia.”
Ini adalah misteri keharmonisan, bukan kontradiksi. Allah menetapkan, namun manusia tetap bertanggung jawab atas responsnya terhadap panggilan Allah.
4. Kisah Para Rasul 2:23 – Salib: Bukti tertinggi kedaulatan dan tanggung jawab
“Dia yang diserahkan menurut maksud dan rencana Allah, kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan orang-orang durhaka.”
Ayat ini menyatukan dua realitas besar:
-
Salib Yesus ditetapkan dalam rencana kekal Allah,
-
tetapi orang-orang yang menyalibkan Dia tetap bertanggung jawab secara moral.
Stephen Charnock menulis:
“Di dalam salib, kita melihat tangan manusia yang berdosa bekerja melawan Allah, namun pada saat yang sama tangan Allah bekerja melalui perbuatan mereka untuk melaksanakan penebusan dunia.”
Di sinilah harmoni kedaulatan dan kebebasan tampak paling jelas: Allah memerintah bahkan melalui dosa tanpa menjadi penyebab dosa itu sendiri.
III. Kebebasan Manusia: Definisi Reformed
1. Kebebasan dalam Batas Natur
Teologi Reformed menolak gagasan bahwa kebebasan berarti “kemandirian mutlak dari Allah.”
Sebaliknya, kebebasan manusia adalah kemampuan untuk bertindak sesuai dengan natur dan keinginannya sendiri.
Jonathan Edwards, dalam Freedom of the Will (1754), menjelaskan:
“Kebebasan sejati bukanlah kemampuan untuk bertindak berlawanan dengan kehendak Allah, melainkan kemampuan untuk bertindak sesuai dengan keinginan terdalam hati. Manusia bebas ketika ia melakukan apa yang ia inginkan, tetapi kehendaknya tetap berada di bawah pemerintahan ilahi.”
Dengan kata lain, manusia bebas dalam arti ia melakukan apa yang ia mau, tetapi apa yang ia mau berada di bawah natur moral dan kondisi spiritualnya.
2. Kondisi Kehendak Manusia Setelah Kejatuhan
Reformed Theology mengajarkan bahwa akibat dosa, kehendak manusia tidak hilang, tetapi terikat oleh natur dosa.
Manusia tetap memiliki kemampuan untuk memilih, tetapi tidak mampu memilih Allah tanpa anugerah.
Roma 8:7 menegaskan:
“Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah; karena ia tidak takluk kepada hukum Allah, memang ia tidak dapat.”
Martin Luther menyebut hal ini servum arbitrium — “kehendak yang diperbudak”. Dalam bukunya The Bondage of the Will, Luther menulis:
“Kehendak bebas hanyalah nama tanpa realitas; karena tidak ada seorang pun yang memiliki kebebasan sejati kecuali Allah sendiri.”
Pandangan ini kemudian dikembangkan oleh Calvin: manusia bebas memilih sesuai keinginannya, tetapi keinginannya diperbudak oleh dosa sampai Roh Kudus memperbaharuinya.
3. Pembaruan oleh Roh Kudus
Hanya melalui karya Roh Kudus manusia dapat memiliki kebebasan sejati — bukan kebebasan untuk menolak Allah, tetapi kebebasan untuk mengasihi dan menaati-Nya.
Yohanes 6:44:
“Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jika ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku.”
B.B. Warfield menjelaskan:
“Kedaulatan Allah tidak menghancurkan kebebasan manusia; sebaliknya, Ia memerdekakan manusia dari perbudakan dosa agar kehendaknya kembali sejajar dengan kehendak Allah.”
Dengan demikian, kebebasan manusia sejati hanya mungkin dalam anugerah.
Anugerah bukan meniadakan kehendak manusia, tetapi memperbarui dan mengarahkan kehendak itu ke arah yang benar.
IV. Harmoni Dua Kebenaran: Compatibilism Reformed
Dalam filsafat Reformed, hubungan antara kedaulatan Allah dan kebebasan manusia disebut compatibilism, yakni keyakinan bahwa kedua kebenaran itu selaras dan tidak saling meniadakan.
A. A. Hodge menjelaskan:
“Kedaulatan Allah dan kebebasan manusia bukan dua sumbu yang bertentangan, melainkan dua rel yang berjalan sejajar menuju tujuan yang sama.”
1. Allah Menetapkan, Manusia Bertindak
Contoh klasiknya dapat dilihat dalam Kejadian 50:20 — Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya:
“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakan untuk kebaikan.”
Perbuatan jahat itu benar-benar dilakukan oleh manusia, tetapi berada dalam rencana ilahi untuk menghasilkan kebaikan.
Allah tidak memaksa mereka berbuat jahat, tetapi mengizinkan dan menggunakan tindakan itu untuk melaksanakan maksud-Nya.
Charles Hodge menulis:
“Manusia bertindak bebas, tetapi dalam batas keputusan Allah. Allah mengatur arah, bukan memaksakan gerakannya.”
2. Allah Tidak Berdosa, Tapi Mengatur Segalanya
Reformed Theology berhati-hati menolak tuduhan bahwa kedaulatan Allah menjadikan Dia penyebab dosa (author of sin).
Kedaulatan Allah bersifat permisif dan pengatur, bukan penyebab moral.
Allah menetapkan bahwa dosa akan terjadi, namun dosa itu berasal dari kehendak manusia yang jahat.
Dengan demikian, Allah mengatur dosa tanpa berdosa.
John Frame menulis dalam The Doctrine of God:
“Allah adalah penyebab utama dari semua yang terjadi, tetapi Ia tidak pernah menjadi pelaku dosa. Ia mengarahkan dosa dengan tujuan kudus, sementara manusia tetap bertanggung jawab atas maksud jahatnya.”
3. Kasus Salib Sebagai Contoh Sempurna
Salib adalah titik di mana semua garis besar doktrin ini bertemu:
-
Allah menetapkan penyaliban Kristus (Kis 2:23).
-
Manusia melakukan tindakan keji dengan kehendak jahat.
Namun hasilnya adalah penebusan dunia — kebaikan tertinggi dalam sejarah.
R.C. Sproul berkata:
“Jika Allah dapat mengatur dosa terbesar yang pernah dilakukan manusia untuk menghasilkan kebaikan terbesar yang pernah ada, maka kita dapat percaya bahwa Ia mengatur setiap hal dalam hidup kita untuk kebaikan.”
V. Eksposisi Ayat-Ayat Tambahan
A. Amsal 16:9
“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.”
Ayat ini menunjukkan interaksi langsung antara rencana manusia dan kedaulatan Allah.
Manusia berpikir, merencanakan, dan bertindak, tetapi hasil akhirnya selalu sesuai dengan kehendak Tuhan.
Ini bukan peniadaan kehendak manusia, melainkan penyelarasan hasil akhir di bawah providensi ilahi.
B. Yeremia 10:23
“Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa atas jalannya sendiri; tidak ada seorang pun yang dapat mengatur langkahnya sendiri.”
Yeremia menyadari bahwa manusia tidak otonom. Bahkan langkah-langkah kecil ditentukan oleh Tuhan.
Namun kesadaran ini tidak membuat manusia pasif — justru menumbuhkan ketundukan dan kepercayaan yang rendah hati.
C. Filipi 2:12–13
“Kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.”
Ayat ini memadukan dua kebenaran dalam satu napas:
-
“Kerjakanlah” → tanggung jawab manusia.
-
“Karena Allahlah yang mengerjakan” → kedaulatan Allah.
John Murray menulis:
“Tidak ada kontradiksi di sini. Tindakan Allah justru membuat tindakan manusia mungkin. Anugerah ilahi bukan pengganti usaha, melainkan sumber daya bagi usaha itu.”
VI. Pandangan Para Teolog Reformed
| Teolog | Pandangan Utama |
|---|---|
| John Calvin | Allah berdaulat atas segala hal; kehendak manusia tunduk pada kehendak ilahi tetapi tetap aktif dan bertanggung jawab. |
| Jonathan Edwards | Kebebasan manusia adalah kebebasan untuk bertindak sesuai dengan keinginannya sendiri, dan keinginan itu ditentukan oleh natur. |
| Martin Luther | Setelah kejatuhan, kehendak manusia diperbudak dosa; hanya anugerah yang dapat memerdekakannya. |
| Louis Berkhof | Kedaulatan Allah meliputi penciptaan, providensi, dan pemeliharaan; kebebasan manusia adalah bagian dari alat pelaksanaan kehendak Allah. |
| R.C. Sproul | Allah tidak pernah kehilangan kendali atas satu atom pun; kebebasan manusia ada di dalam batas kedaulatan ilahi. |
| Herman Bavinck | Dalam kedaulatan Allah, kebebasan manusia menemukan maknanya. Kebebasan manusia adalah refleksi dari kebebasan Allah yang berdaulat. |
VII. Implikasi Pastoral dan Etis
-
Kedaulatan Allah memberi penghiburan.
Tidak ada penderitaan yang sia-sia. Setiap peristiwa berada dalam tangan Allah yang baik. (Roma 8:28) -
Kedaulatan Allah tidak meniadakan tanggung jawab.
Karena Allah bekerja melalui tindakan manusia, maka kita dipanggil untuk taat dan bertanggung jawab. -
Kedaulatan Allah menumbuhkan kerendahan hati.
Tidak ada ruang untuk kesombongan rohani; keselamatan dan segala keputusan baik adalah karya Allah semata (Efesus 2:8–9). -
Kedaulatan Allah meneguhkan doa.
Kita berdoa bukan untuk mengubah kehendak Allah, tetapi karena Allah menetapkan doa sebagai sarana pelaksanaan kehendak-Nya.
VIII. Kesimpulan: Dua Rel Menuju Kemuliaan Allah
Kedaulatan Allah dan kebebasan manusia adalah dua rel yang berjalan sejajar sepanjang Alkitab — tidak pernah bersinggungan secara kontradiktif, tetapi selalu menuju satu tujuan: kemuliaan Allah.
Allah berdaulat secara mutlak, namun dalam kedaulatan itu Ia menegakkan tanggung jawab manusia.
Manusia bertindak bebas sesuai keinginannya, namun keinginannya itu dikuasai dan diarahkan oleh Allah yang berdaulat.
John Calvin menutup bagian Institutes dengan kata-kata:
“Bagi orang percaya, tidak ada hal yang lebih manis daripada mengetahui bahwa segala sesuatu berada dalam tangan Allah; tidak ada yang lebih menakutkan bagi orang fasik daripada hal yang sama.”
Dan R.C. Sproul menegaskan:
“Tidak ada atom pun yang menari di luar kehendak Allah. Itulah satu-satunya alasan mengapa kita dapat tidur dengan damai setiap malam.”
Refleksi Akhir
Kedaulatan Allah bukanlah tirani, melainkan kasih yang memerintah.
Kebebasan manusia bukanlah otonomi, melainkan tanggung jawab dalam kasih karunia.
Keduanya bersatu dalam Kristus — Pribadi yang dengan kehendak bebas-Nya tunduk kepada kedaulatan Bapa dan menebus dunia melalui salib.
“Sebab dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia segala sesuatu. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.”
— Roma 11:36