Kejadian 10:21–32 - Silsilah Sem: Rencana Allah di Balik Asal-Usul Bangsa-Bangsa

Kejadian 10:21–32 - Silsilah Sem: Rencana Allah di Balik Asal-Usul Bangsa-Bangsa

Bagian 1 – Pendahuluan: Silsilah yang Bersuara Teologis

Pasal 10 kitab Kejadian sering disebut sebagai “Tabel Bangsa-Bangsa”, karena mencatat asal-usul umat manusia setelah air bah. Bagi banyak pembaca modern, daftar nama-nama ini tampak kering dan genealogis belaka. Namun dalam pandangan iman, khususnya teologi Reformed, tidak ada satu ayat pun dalam Alkitab yang sia-sia. Setiap nama dan silsilah menyingkapkan benang merah anugerah Allah dalam sejarah penebusan.

Kejadian 10:21–32 menyoroti keturunan Sem, salah satu dari tiga anak Nuh. Melalui garis Sem inilah kemudian lahir Abraham, Ishak, Yakub, dan akhirnya Yesus Kristus. Maka, bagian ini tidak hanya sekadar catatan sejarah, melainkan fondasi teologis tentang rencana keselamatan Allah yang bekerja dalam sejarah manusia yang berdosa.

John Calvin menulis dalam Commentary on Genesis bahwa daftar keturunan ini “bukanlah sekadar urutan biologis, tetapi pengingat bahwa Allah memelihara garis suci dari mana Mesias akan datang, sekalipun dunia terus menolak kedaulatan-Nya.” Pandangan Calvin menegaskan bahwa silsilah adalah teologi dalam bentuk narasi.

Bagian 2 – Latar Historis dan Konteks Kejadian 10:21–32

Bagian ini ditulis oleh Musa untuk menjelaskan asal-usul berbagai bangsa setelah bencana air bah (Kej. 6–9). Setelah Nuh dan keluarganya diselamatkan, tiga anaknya — Sem, Ham, dan Yafet — menjadi nenek moyang bangsa-bangsa di dunia.

  • Yafet melahirkan bangsa-bangsa di utara dan barat (Eropa dan daerah Laut Tengah).

  • Ham menurunkan bangsa-bangsa yang besar secara politis, tetapi sering berlawanan dengan Israel (seperti Mesir, Babel, dan Kanaan).

  • Sem menurunkan bangsa-bangsa di wilayah Timur Dekat, termasuk bangsa Ibrani, bangsa yang dipilih Allah.

Dengan demikian, Kejadian 10:21–32 bukan hanya catatan etnografis, tetapi juga penanda teologis: melalui Sem, Allah meneguhkan janji-Nya untuk memberkati semua bangsa (Kejadian 12:3).

Teolog Reformed Herman Bavinck dalam Reformed Dogmatics menyatakan bahwa “rencana keselamatan Allah selalu bersifat historis—berakar dalam garis keturunan dan waktu yang nyata. Anugerah tidak turun dari langit secara abstrak, melainkan berjalan dalam silsilah manusiawi yang nyata.”

Ini menunjukkan bahwa genealoginya Sem bukan kebetulan; itu adalah wadah sejarah bagi anugerah Allah.

Bagian 3 – Eksposisi Ayat demi Ayat

Kejadian 10:21–22: Sem, Nenek Moyang Iman

“Lahirlah juga anak-anak laki-laki bagi Sem, yang adalah nenek moyang anak-anak Eber dan saudara tertua Yafet. Keturunan Sem adalah Elam, Asyur, Arpakhsad, Lud, dan Aram.”

Sem disebut sebagai “nenek moyang anak-anak Eber.” Nama Eber menjadi akar dari kata Ibrani (Hebrew), menandakan asal-usul bangsa pilihan Allah. Di sini kita melihat pemeliharaan ilahi terhadap garis penebusan.

  • Elam dan Asyur kelak menjadi bangsa besar, namun juga musuh Israel — menegaskan bahwa bahkan dalam garis Sem, ada yang berbalik dari Allah.

  • Arpakhsad adalah nenek moyang Abraham (lih. Kejadian 11:10–26).

  • Aram melahirkan bangsa Aram (Suriah), yang juga memiliki peran dalam sejarah Israel.

Menurut Louis Berkhof (Systematic Theology), Allah memelihara garis penebusan bukan karena kesetiaan manusia, tetapi karena ketetapan anugerah-Nya yang kekal. Sem dipilih bukan karena keunggulan moral, melainkan karena kasih karunia Allah semata.

Kejadian 10:23–25: Garis Keturunan yang Terpecah

“Arpakhsad adalah ayah Selah; dan Selah adalah ayah Eber. Bagi Eber, lahirlah dua anak laki-laki, yang satu bernama Peleg sebab pada masa hidupnya bumi terbelah, sedangkan saudaranya bernama Yoktan.”

Frasa “bumi terbelah” kemungkinan merujuk pada peristiwa Menara Babel (Kej. 11), ketika Allah memecah-belah bahasa manusia. Dalam konteks ini, Peleg melambangkan pemisahan bangsa-bangsa di bawah kedaulatan Allah.

Namun, di sisi lain, garis Peleg inilah yang akan melahirkan Abraham — menunjukkan bahwa Allah tetap bekerja dalam dunia yang terpecah.
R.C. Sproul menegaskan bahwa “Allah tidak kehilangan kendali atas sejarah bahkan ketika manusia memecah-belah diri. Dalam kekacauan pun, Ia menata keselamatan.”

Yoktan, saudara Peleg, menurunkan bangsa-bangsa Arab Selatan, memperlihatkan bahwa dari satu keturunan yang sama, lahirlah berbagai bangsa dengan rencana Allah yang berbeda.

Kejadian 10:26–30: Yoktan dan Penyebaran Bangsa

Daftar keturunan Yoktan yang panjang menunjukkan penyebaran geografis bangsa Semit di Timur Tengah. Dari Mesa hingga Sefar (wilayah Arab modern), mereka membentuk komunitas besar.

Bavinck menafsirkan daftar nama-nama ini sebagai bukti bahwa Allah memerintah dalam diversitas manusia. Ia menulis:

“Keberagaman bangsa-bangsa bukan kutuk, tetapi bagian dari rancangan Allah untuk memuliakan diri-Nya dalam pelbagai bahasa, budaya, dan sejarah.”

Dengan kata lain, keberagaman manusia pasca air bah adalah cerminan dari kemahakuasaan Allah yang berdaulat atas sejarah dan budaya.

Kejadian 10:31–32: Kesimpulan Ilahi

“Itulah keturunan Sem menurut kaum keluarganya, bahasanya, negerinya, dan bangsanya... Dari merekalah, bangsa-bangsa tersebar ke seluruh bumi setelah peristiwa air bah.”

Di sinilah teks mencapai klimaksnya. Penyebaran bangsa-bangsa adalah hasil tindakan Allah, bukan semata-mata migrasi manusia.
John Piper, dalam refleksinya tentang misi dan bangsa-bangsa, menulis:

“Dari awal, Allah telah menabur bangsa-bangsa di bumi agar nama-Nya dikenal di seluruh penjuru dunia. Pekerjaan misi adalah rencana pemulihan dari penyebaran Babel.”

Dengan demikian, genealoginya Sem berperan ganda:

  1. Mencatat sejarah penyebaran umat manusia.

  2. Menandai garis penebusan Allah yang mengarah kepada Kristus.

Bagian 4 – Makna Teologis Menurut Pandangan Reformed

1. Kedaulatan Allah atas Sejarah

Teologi Reformed menegaskan bahwa Allah memerintah atas segala peristiwa. Bahkan daftar nama dalam Kejadian 10 adalah bagian dari providensi ilahi.
Calvin berkata, “Allah memerintah tidak hanya melalui mujizat, tetapi melalui urutan nama, waktu, dan garis keturunan yang tampaknya biasa.”

Setiap kelahiran, setiap bangsa, dan setiap pembelahan adalah alat dalam tangan Allah yang berdaulat.

2. Anugerah dalam Keturunan

Dari Sem sampai Abraham, kita melihat anugerah yang diwariskan — bukan karena kebaikan manusia, tetapi karena janji Allah yang kekal (Kejadian 12:1–3).
Dalam Kristus, garis Sem mencapai puncaknya:

“Kristus adalah keturunan Abraham, yang menjadi berkat bagi segala bangsa.” (Galatia 3:16)

3. Kesatuan dan Keberagaman Bangsa

Menurut teologi Reformed, keberagaman bangsa bukan dosa, melainkan desain penciptaan yang baik. Babel merusak komunikasi, tetapi Pentakosta (Kis. 2) memulihkannya dalam Kristus — di mana segala bahasa memuliakan Allah.
Keturunan Sem mengingatkan kita bahwa Allah mencintai bangsa-bangsa, bukan hanya satu etnis tertentu.

4. Sejarah Sebagai Arena Penebusan

Louis Berkhof menyebut sejarah sebagai “panggung bagi kemuliaan Allah.”
Silsilah ini menunjukkan bahwa penebusan tidak berlangsung di luar sejarah, melainkan di tengah sejarah.
Melalui garis Sem, Allah menunjukkan bahwa keselamatan bukan ide mistik, tetapi janji yang berjalan melalui daging dan darah manusia nyata.

Bagian 5 – Refleksi Etis dan Imaniah

a. Identitas dalam Rencana Allah

Orang percaya dipanggil untuk melihat asal-usul manusia bukan sekadar biologi, tetapi identitas teologis. Kita semua bagian dari umat manusia yang diciptakan untuk memuliakan Allah.
Keturunan Sem menuntun kita untuk menghargai warisan iman, bukan garis darah semata.

b. Kehidupan yang Menjadi Saluran Anugerah

Seperti Sem, hidup kita dipakai Allah untuk menyalurkan berkat bagi generasi berikutnya. Setiap keluarga, setiap silsilah, adalah alat dalam tangan Sang Penulis Sejarah.

c. Panggilan Misi kepada Bangsa-Bangsa

Kisah Sem mengingatkan bahwa misi Allah mencakup seluruh bumi. Gereja dipanggil untuk memberitakan Injil kepada semua bangsa — karena janji Abraham yang berasal dari garis Sem adalah janji bagi dunia.

Bagian 6 – Kesimpulan: Silsilah yang Mengarah pada Salib

Kejadian 10:21–32 tampak sederhana: daftar nama dan wilayah. Namun di baliknya tersembunyi rencana besar penebusan. Dari Sem lahir Abraham, dari Abraham lahir Israel, dan dari Israel lahir Kristus — Juruselamat segala bangsa.

Dalam pandangan Reformed, inilah kebesaran anugerah Allah yang bekerja melalui sejarah biasa. Nama-nama yang mungkin terlupakan di mata manusia ternyata menjadi mata rantai dalam rencana kekal.

Herman Bavinck menulis:

“Keselamatan tidak datang secara mendadak; ia berjalan dalam sejarah, dalam keturunan, dalam waktu, hingga mencapai kepenuhannya dalam Kristus.”

Maka, ketika kita membaca Kejadian 10, kita tidak hanya membaca sejarah manusia, tetapi sejarah kasih karunia.

Next Post Previous Post