Kisah Para Rasul 10:17–22: Kedaulatan Allah Dalam Panggilan Injil

I. Pendahuluan: Pintu yang Terbuka bagi Bangsa-Bangsa
Kisah Para Rasul pasal 10 adalah salah satu titik balik paling penting dalam sejarah gereja mula-mula. Di sinilah Injil untuk pertama kalinya melangkah keluar dari batas etnis Yahudi menuju bangsa-bangsa lain. Tokoh-tokoh utama dalam kisah ini adalah Petrus, seorang rasul Yahudi yang setia pada hukum Taurat, dan Kornelius, seorang perwira Romawi yang saleh tetapi bukan Yahudi.
Kisah Para Rasul 10:17–22 menggambarkan momen persimpangan antara kebingungan manusia dan kedaulatan ilahi.
Petrus bingung tentang arti penglihatan yang ia lihat — kain besar turun dari langit berisi binatang haram — sementara di waktu yang sama, utusan dari Kornelius sedang berdiri di depan rumahnya, dikirim oleh Allah melalui perantaraan malaikat.
Perikop ini menunjukkan bagaimana Roh Kudus mengatur peristiwa secara rinci agar Injil mencapai orang yang Allah kehendaki.
Inilah salah satu bagian paling indah dalam Kisah Para Rasul yang menyingkapkan kedaulatan Allah dalam misi dan keselamatan, sekaligus menunjukkan ketaatan hamba-Nya di bawah pimpinan Roh Kudus.
II. Teks Alkitab (AYT): Kisah Para Rasul 10:17–22
(17) Saat itu, sementara Petrus masih sangat bingung memikirkan apa arti penglihatan yang telah dilihatnya itu, tampaklah orang-orang yang diutus oleh Kornelius sedang mencari tahu di mana rumah Simon, sambil berdiri di depan pintu gerbang,
(18) dan sambil memanggil, mereka bertanya apakah Simon, yang disebut Petrus, menumpang di sana.
(19) Sementara Petrus sedang merenungkan penglihatan itu, Roh berkata kepadanya, “Lihatlah, ada tiga orang pria yang sedang mencarimu.
(20) Bangun dan turunlah, pergilah bersama mereka tanpa ragu karena Aku telah mengutus mereka.”
(21) Lalu, Petrus turun kepada orang-orang itu dan berkata, “Lihat, akulah orang yang kamu cari. Apa alasan kedatanganmu?”
(22) Mereka berkata, “Kornelius, seorang perwira, orang benar dan takut akan Allah, yang terkenal baik di antara seluruh bangsa Yahudi, telah diingatkan oleh malaikat kudus untuk menyuruhmu datang ke rumahnya dan untuk mendengarkan perkataanmu.”
III. Konteks Historis dan Naratif
Kisah Para Rasul 10 merupakan titik perubahan teologis dalam sejarah gereja. Sampai saat itu, sebagian besar orang percaya masih berpikir bahwa keselamatan hanya untuk orang Yahudi atau mereka yang terlebih dahulu masuk Yudaisme melalui sunat. Namun, dalam pasal ini, Allah sendiri membuka jalan bagi bangsa-bangsa non-Yahudi (gentile) untuk menerima Injil tanpa harus tunduk pada ritual Taurat.
Kornelius adalah perwira Romawi — lambang kekuasaan kafir — tetapi ia digambarkan sebagai “orang benar dan takut akan Allah.”
Petrus, di sisi lain, adalah rasul Yahudi yang masih terikat tradisi. Allah mengatur pertemuan ini dengan cara ilahi: melalui penglihatan dan wahyu Roh Kudus.
John Stott, seorang teolog Reformed Anglikan, menyebut Kisah Para Rasul 10 sebagai:
“Pentakosta bagi bangsa-bangsa lain.”
Artinya, seperti Roh Kudus turun atas orang Yahudi di Kisah Para Rasul 2, kini Ia turun atas bangsa-bangsa lain di rumah Kornelius (ay. 44–48). Namun sebelum peristiwa itu terjadi, kita melihat bagaimana Roh Kudus mempersiapkan kedua pihak melalui rangkaian peristiwa 10:17–22.
IV. Eksposisi Ayat demi Ayat
A. Kisah Para Rasul 10:17–18
“Sementara Petrus masih sangat bingung memikirkan apa arti penglihatan yang telah dilihatnya itu, tampaklah orang-orang yang diutus oleh Kornelius sedang mencari tahu di mana rumah Simon…”
Bagian ini menunjukkan kebingungan manusia di tengah penyataan ilahi.
Petrus telah menerima penglihatan kain berisi binatang haram yang disuruh dimakan, tetapi ia belum memahami makna rohaninya.
Ia masih berpikir dalam kategori hukum Taurat — tentang makanan haram dan najis.
Namun, Allah sedang berbicara tentang jiwa-jiwa manusia. Penglihatan itu bukan soal makanan, melainkan tentang penerimaan bangsa-bangsa lain ke dalam keselamatan Allah.
Calvin menjelaskan dalam komentarnya:
“Allah berbicara kepada Petrus dalam bahasa simbol yang ia pahami — bukan untuk mengajar tentang makanan, tetapi untuk membuka hatinya terhadap bangsa-bangsa yang dulu ia anggap najis.”
Menariknya, sementara Petrus merenungkan arti penglihatan itu, utusan dari Kornelius sudah tiba di depan pintu.
Inilah ironi ilahi yang memperlihatkan penyertaan waktu Allah yang sempurna.
Manusia mungkin bingung dengan maksud Tuhan, tetapi rencana Allah sedang berjalan dengan tepat waktu.
B. Kisah Para Rasul 10:19–20
“Sementara Petrus sedang merenungkan penglihatan itu, Roh berkata kepadanya, ‘Lihatlah, ada tiga orang pria yang sedang mencarimu. Bangun dan turunlah, pergilah bersama mereka tanpa ragu karena Aku telah mengutus mereka.’”
Di sini kita melihat inisiatif Roh Kudus secara langsung.
Petrus tidak mencari tahu sendiri; justru Roh Kudus yang menuntun langkahnya.
Kata “tanpa ragu” (Yunani: meden diakrinomenos) berarti “tanpa membedakan atau menghakimi.”
Roh tahu bahwa Petrus akan bergumul karena orang-orang yang mencarinya adalah orang kafir.
John Calvin menafsirkan:
“Roh Kudus menghapus keraguan Petrus agar ia tidak menilai manusia berdasarkan daging, melainkan berdasarkan panggilan Allah.”
Perintah Roh ini menunjukkan prinsip kedaulatan Allah dalam misi.
Inisiatif penginjilan bukan berasal dari manusia, tetapi dari Allah yang memanggil, mengutus, dan mengarahkan.
R.C. Sproul menulis dalam Chosen by God:
“Dalam setiap tindakan penyelamatan, Allah bukan hanya subjek tetapi juga penggerak utama. Ia bukan sekadar penonton; Ia adalah pelaksana rencana kekal-Nya.”
Kata “Aku telah mengutus mereka” memperlihatkan hubungan langsung antara wahyu malaikat kepada Kornelius dan pimpinan Roh kepada Petrus.
Dua pihak yang berbeda — Yahudi dan kafir — kini dihubungkan oleh satu Roh yang sama.
Ini adalah penggenapan rencana keselamatan universal Allah.
C. Kisah Para Rasul 10:21–22
“Lalu, Petrus turun kepada orang-orang itu dan berkata, ‘Lihat, akulah orang yang kamu cari. Apa alasan kedatanganmu?’ Mereka berkata, ‘Kornelius, seorang perwira, orang benar dan takut akan Allah, yang terkenal baik di antara seluruh bangsa Yahudi, telah diingatkan oleh malaikat kudus untuk menyuruhmu datang ke rumahnya dan untuk mendengarkan perkataanmu.’”
Perhatikan dua hal penting di sini:
-
Petrus menaati perintah Roh Kudus.
Ia turun — tindakan fisik yang menunjukkan ketaatan tanpa menunda. Dalam kisah sebelumnya (Kis. 10:14), Petrus sempat menolak perintah Tuhan untuk makan binatang haram. Namun kali ini, ia patuh. Ini menunjukkan pertumbuhan rohani: ketaatan sejati datang ketika manusia menyerah di bawah kedaulatan Allah. -
Kesaksian tentang Kornelius
Orang-orang yang datang menggambarkan Kornelius sebagai “orang benar dan takut akan Allah.”
Ini bukan berarti ia sudah diselamatkan, tetapi bahwa ia adalah orang kafir yang mencari kebenaran Allah.
Ia belum mengenal Injil, tetapi Allah sudah bekerja dalam hatinya untuk membuka jalan bagi pewartaan Injil.
Herman Bavinck menjelaskan bahwa dalam anugerah umum Allah, terdapat pencarian rohani yang sejati dalam hati manusia, namun anugerah khusus (Injil) tetap diperlukan untuk keselamatan.
Kornelius adalah contoh dari anugerah umum yang menuntun kepada anugerah khusus.
V. Tema Teologis Utama: KEDAULATAN ALLAH DALAM MISI KESELAMATAN
Kisah ini adalah contoh sempurna bagaimana Allah mengatur segala sesuatu — dari penglihatan, waktu kedatangan, hingga pertemuan antar manusia — untuk menggenapi rencana keselamatan-Nya.
Mari kita lihat tiga aspek teologisnya dalam terang pemikiran Reformed.
1. Providensi Allah yang Menyusun Segala Hal
Perhatikan sinkronisasi waktu dalam kisah ini:
-
Saat Petrus bingung memikirkan penglihatan, utusan Kornelius tiba.
-
Saat mereka berdiri di pintu, Roh berbicara kepada Petrus untuk turun.
-
Ketika Petrus turun, mereka langsung menjelaskan misi mereka.
Tidak ada satu detail pun yang kebetulan.
John Frame menulis:
“Tidak ada kejadian sekecil apa pun yang terjadi di luar rencana Allah. Dalam providensi-Nya, Allah menenun sejarah dengan benang-benang kedaulatan dan kasih.”
Dalam teologi Reformed, ini disebut concursus divinus — keterlibatan Allah dalam setiap peristiwa manusia tanpa meniadakan tanggung jawab manusia.
2. Kedaulatan Roh Kudus dalam Penginjilan
Roh Kudus adalah sutradara sejati dalam kisah ini. Ia menggerakkan Petrus, menyiapkan Kornelius, dan menyatukan keduanya.
Charles Spurgeon berkata:
“Ketika Roh Kudus bekerja, Ia tidak hanya menggerakkan pengkhotbah di mimbar, tetapi juga membuka hati pendengarnya di bangku.”
Kisah Para Rasul 10 menegaskan bahwa Roh Kudus bekerja pada kedua sisi misi: pengutus dan penerima.
Tanpa pekerjaan Roh, penginjilan tidak akan menghasilkan buah.
3. Inklusivitas Injil di Bawah Kedaulatan Allah
Kornelius adalah lambang bangsa-bangsa non-Yahudi.
Melalui kisah ini, Allah menegaskan bahwa keselamatan tidak lagi dibatasi oleh etnis, hukum, atau adat, tetapi hanya berdasarkan anugerah Kristus.
Efesus 2:14 berkata:
“Sebab Ia sendiri adalah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan meruntuhkan tembok pemisah.”
Louis Berkhof menyebut hal ini sebagai “universalitas anugerah khusus.”
Artinya, walau Allah tetap berdaulat dalam memilih siapa yang diselamatkan, Injil kini ditawarkan kepada semua bangsa tanpa diskriminasi.
VI. Dimensi Pastoral dan Aplikasi bagi Gereja Masa Kini
Kisah Para Rasul 10:17–22 tidak hanya berisi kisah sejarah, tetapi juga pedoman bagi gereja modern dalam menjalankan misi Allah.
1. Belajar Taat pada Pimpinan Roh Kudus
Petrus awalnya bingung, bahkan menolak perintah Tuhan. Namun ia belajar untuk taat tanpa ragu.
Begitu juga gereja: ketaatan kepada Roh Kudus sering kali berarti keluar dari zona nyaman, menembus batas budaya dan tradisi.
Roh Kudus tidak memanggil gereja untuk diam di Yerusalem, tetapi untuk melangkah ke Kaisarea, ke dunia bangsa-bangsa.
2. Tidak Ada Orang yang “Terlalu Najis” bagi Anugerah
Kisah ini menghancurkan prasangka rohani.
Bagi orang Yahudi, bangsa kafir adalah najis. Namun Allah menegaskan: “Apa yang telah Kutahirkan, jangan kamu najiskan.” (Kis. 10:15)
Teologi Reformed menegaskan bahwa keselamatan adalah anugerah murni, bukan hasil etnis, moralitas, atau usaha.
Kornelius “takut akan Allah”, tetapi ia masih membutuhkan Injil untuk diselamatkan.
R.C. Sproul menulis:
“Kornelius bukan diselamatkan karena takut akan Allah, tetapi karena Allah berbelas kasihan kepada dia yang takut kepada-Nya.”
3. Doa dan Ketaatan Menggerakkan Misi
Kornelius berdoa dan memberi sedekah, dan Allah menjawab dengan mengirimkan seorang rasul.
Petrus berdoa di atap rumah, dan Allah menjawab dengan visi dan panggilan misi.
Dua kehidupan doa yang berbeda — satu di Kaisarea, satu di Yope — dihubungkan oleh kedaulatan Allah.
Itulah misteri indah misi Reformed:
Allah memanggil umat-Nya berdoa, lalu menjawab doa itu dengan cara yang menggenapi rencana kekal-Nya.
VII. Perspektif Para Teolog Reformed
| Nama Teolog | Kontribusi Pemikiran terhadap Kisah 10:17–22 |
|---|---|
| John Calvin | Allah memakai sarana biasa (penglihatan, malaikat, utusan) untuk menggenapi rencana luar biasa: penyelamatan bangsa-bangsa. |
| Herman Bavinck | Misi kepada bangsa-bangsa adalah bukti bahwa anugerah Allah bersifat katolik (universal dalam ruang lingkup, bukan universal dalam hasil). |
| Louis Berkhof | Peristiwa ini menunjukkan kesinambungan antara anugerah umum dan anugerah khusus dalam karya keselamatan. |
| Charles Spurgeon | Roh Kudus menuntun kedua belah pihak — Petrus dan Kornelius — karena misi adalah karya Allah, bukan manusia. |
| R.C. Sproul | Tidak ada yang datang kepada Kristus kecuali ditarik oleh Bapa; dan kisah ini memperlihatkan bagaimana Allah menarik orang yang Ia pilih, bahkan melalui perwira Romawi. |
VIII. Struktur Teologis Kisah 10:17–22 dalam Empat Langkah
-
Kebingungan Manusia (Kisah Para Rasul 10:17)
Petrus tidak memahami maksud Allah. Ini melambangkan keterbatasan akal manusia di hadapan wahyu ilahi.
-
Pimpinan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 10:19–20)
Roh berbicara dan memberi instruksi yang jelas. Kedaulatan Allah menuntun hamba-Nya untuk taat.
-
Ketaatan Hamba Allah (Kisah Para Rasul 10:21)
Petrus turun dan bertanya — tanda bahwa ia siap melangkah dalam iman.
-
Penyataan Anugerah kepada Bangsa-Bangsa (Kisah Para Rasul 10:22)
Kornelius, mewakili dunia kafir, menerima undangan untuk mendengar firman Allah.
IX. Kristus sebagai Pusat Narasi
Walau nama Kristus belum disebut dalam Kisah Para Rasul 10:17–22, seluruh kisah ini menunjuk kepada Dia.
Dialah yang menjadi jembatan antara Allah dan manusia, Yahudi dan kafir, surga dan bumi.
Efesus 2:13 berkata:
“Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu jauh, sudah menjadi dekat oleh darah Kristus.”
Tanpa Kristus, penglihatan Petrus tidak bermakna, doa Kornelius tidak dijawab, dan misi Allah tidak terjadi.
Seluruh kisah ini adalah perwujudan sabda Yesus dalam Yohanes 10:16:
“Aku mempunyai domba-domba lain yang bukan dari kandang ini; mereka harus Kutuntun juga.”
X. Kesimpulan: Kedaulatan yang Mengutus, Anugerah yang Menyatukan
Kisah Para Rasul 10:17–22 adalah narasi yang menakjubkan tentang Allah yang berdaulat penuh atas waktu, manusia, dan misi keselamatan.
Dari perikop ini, kita belajar tiga kebenaran utama:
-
Allah berdaulat mengatur setiap peristiwa — tidak ada kebetulan dalam karya penebusan.
-
Roh Kudus menuntun umat untuk taat, bahkan ketika mereka tidak sepenuhnya mengerti.
-
Injil bersifat inklusif dalam panggilan, tetapi eksklusif dalam Kristus.
Daud pernah berkata dalam Mazmur 67:3–4:
“Biarlah bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah; biarlah bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu.”
Kini, melalui ketaatan Petrus dan anugerah kepada Kornelius, nubuatan itu mulai digenapi.
Refleksi Akhir
Kita hidup di zaman yang sama: banyak “Kornelius” di sekitar kita — orang-orang yang mencari kebenaran tetapi belum mengenal Kristus.
Dan banyak “Petrus” — orang percaya yang masih ragu untuk melangkah keluar dari tembok tradisi dan kenyamanan.
Namun Roh Kudus masih berbicara:
“Bangun dan turunlah, pergilah bersama mereka, karena Aku telah mengutus mereka.”
Semoga kita, seperti Petrus, menanggapi panggilan itu dengan ketaatan iman,
dan seperti Kornelius, menerima firman kehidupan dengan hati yang terbuka.
Sebab di balik semua itu, **Allah sedang menggenapi rencana kekal-Nya — agar segala bangsa memuliakan