Keluaran 7:1–5: Tangan Tuhan yang Membebaskan

Keluaran 7:1–5: Tangan Tuhan yang Membebaskan

Pendahuluan: Panggilan yang Menakutkan dan Kedaulatan yang Agung

Keluaran 7:1–5 berdiri sebagai titik balik dalam narasi pembebasan Israel dari Mesir. Setelah Musa berulang kali menolak panggilan Allah dengan alasan kelemahan dan ketidakmampuan berbicara, kini Allah menegaskan otoritas dan rencana-Nya. Ayat-ayat ini bukan sekadar pengantar bagi tulah-tulah Mesir; melainkan deklarasi teologis yang mendalam tentang kedaulatan Allah atas raja-raja, sejarah, dan keselamatan umat-Nya.

John Calvin, dalam komentarnya atas bagian ini, menulis bahwa Allah “menunjukkan kuasa-Nya dengan cara yang paradoksal—melalui orang lemah seperti Musa Ia mempermalukan kebesaran dunia.” Dengan demikian, eksposisi ini akan menyoroti tiga tema utama:

  1. Kedaulatan Allah atas manusia yang berkuasa (ay. 1–2)

  2. Rencana ilahi yang tak tergoyahkan meski manusia menolak (ay. 3–4)

  3. Pengenalan sejati akan TUHAN melalui tindakan penyelamatan dan penghakiman-Nya (ay. 5).

1. Kedaulatan Allah atas Manusia yang Berkuasa (Keluaran 7:1–2)

“Lihat, Aku telah menjadikanmu seperti Allah bagi Firaun, dan Harun akan menjadi nabimu.”

Ungkapan “Aku telah menjadikanmu seperti Allah bagi Firaun” menegaskan otoritas rohani dan representatif yang diberikan Allah kepada Musa. Dalam konteks Mesir kuno, Firaun dianggap sebagai perwujudan ilahi di bumi. Namun, Allah membalikkan konsep ini: kini Musa-lah yang menjadi ‘seperti Allah’ di hadapan Firaun.

Bagi teologi Reformed, ini menyoroti prinsip sentral bahwa otoritas manusia hanyalah turunan dari otoritas Allah. Seperti ditegaskan oleh Herman Bavinck:

“Kedaulatan Allah melingkupi seluruh ciptaan, termasuk raja-raja yang mengira diri mereka bebas. Bahkan penentangan mereka pun berada dalam kendali rencana-Nya.” (Reformed Dogmatics, Vol. 2).

Dengan kata lain, Firaun tidak berhadapan dengan Musa sebagai manusia biasa, melainkan dengan representasi dari Allah yang hidup. Calvin menambahkan:

“Musa tidak berbicara dengan otoritas dirinya, tetapi sebagai mulut Allah. Maka, ketika manusia menolak utusan Allah, mereka sebenarnya menolak Allah sendiri.”

Ini memberi bobot penting pada pelayanan firman. Dalam konteks gereja masa kini, pengkhotbah, guru, atau pelayan Tuhan—selama ia setia pada firman—berdiri di bawah otoritas ilahi yang sama. Tugas mereka bukan membangun nama sendiri, melainkan menyuarakan kehendak Allah yang berdaulat.

Selain itu, struktur relasi Musa-Harun menunjukkan prinsip delegasi dan persekutuan dalam pelayanan. Musa menerima firman; Harun menyampaikannya. Teologi Reformed memahami ini sebagai cerminan fungsi gereja sebagai tubuh Kristus, di mana setiap anggota memiliki peran berbeda namun bergerak dalam satu tujuan di bawah kepemimpinan Kristus, Sang Kepala (Efesus 4:11–16).

2. Rencana Ilahi yang Tak Tergoyahkan (Keluaran 7:3–4)

“Namun, Aku akan mengeraskan hati Firaun dan melipatgandakan tanda-tanda-Ku dan mukjizat-mukjizat-Ku di tanah Mesir.”

Ayat ini mengandung salah satu misteri teologis paling besar dalam Alkitab: pengersan hati Firaun.

Apakah Allah yang menyebabkan Firaun menolak, atau Firaun sendiri yang mengeraskan hatinya?

Pendekatan Reformed menolak dikotomi palsu ini. Seperti dijelaskan oleh Augustine dan diteruskan oleh Calvin, kedua hal itu benar dalam tingkat yang berbeda. Allah tidak memaksakan dosa ke dalam hati manusia, tetapi Ia menyerahkan mereka kepada kekerasan hati mereka sendiri untuk menggenapi rencana-Nya.

Calvin berkata:

“Hati Firaun memang sudah keras oleh dosa, tetapi Allah menegaskan kedaulatan-Nya dengan menahan dan melepaskan hati itu sesuai waktu-Nya.”

Dalam kerangka Reformed, hal ini disebut concurrence — tindakan Allah dan tindakan manusia berjalan bersamaan, namun Allah tetap pengendali mutlak.

Herman Bavinck menulis:

“Kehendak Allah bukan sekadar mengizinkan, tetapi menuntun bahkan perbuatan jahat untuk menggenapi maksud baik-Nya.”

Dengan demikian, pengersan hati Firaun bukanlah pelanggaran kebebasan manusia, melainkan manifestasi dari rencana keselamatan yang melibatkan penghakiman.

Tujuan dari tindakan Allah ini bukan sekadar mendemonstrasikan kuasa-Nya, melainkan menyingkapkan kemuliaan-Nya dalam konteks konflik antara kuasa dunia dan kuasa Allah. Firaun mewakili arogan kekuasaan dunia yang menolak Tuhan, sementara Musa mewakili iman yang tunduk pada firman.

Dalam rencana Allah, konfrontasi ini menjadi gambaran universal dari peperangan rohani antara kerajaan Allah dan kerajaan dunia. Seperti dikatakan Abraham Kuyper:

“Tidak ada satu inci pun di seluruh domain eksistensi manusia yang Kristus tidak katakan: ‘Itu milik-Ku!’”

Maka, bahkan penolakan Firaun menjadi bagian dari cara Allah menegaskan kedaulatan Kristus atas segala hal.

3. Pengenalan Sejati akan TUHAN (Keluaran 7:5)

“Orang Mesir pun akan tahu bahwa Akulah TUHAN, ketika Aku merentangkan tangan-Ku atas Mesir dan mengeluarkan keturunan Israel dari tengah-tengah mereka.”

Tema “supaya mereka tahu bahwa Akulah TUHAN” berulang kali muncul dalam kitab Keluaran. Di sini kita melihat tujuan misi Allah: bukan sekadar membebaskan Israel dari penindasan, tetapi menyatakan diri-Nya kepada bangsa-bangsa.

Dalam pandangan teologi Reformed, semua tindakan Allah dalam sejarah—baik keselamatan maupun penghakiman—bertujuan memperluas pengetahuan akan kemuliaan-Nya.

Jonathan Edwards, dalam The End for Which God Created the World, menulis:

“Allah menciptakan dunia untuk menyatakan kemuliaan-Nya, dan kemuliaan itu paling jelas ketika kasih dan keadilan-Nya tampak bersama.”

Demikian pula, pembebasan Israel dan hukuman Mesir adalah dua sisi dari kemuliaan yang sama: anugerah bagi umat pilihan dan penghakiman bagi mereka yang menolak Dia.

Ayat ini juga memperlihatkan dinamika pengetahuan yang datang melalui tindakan Allah. Bukan teori atau filsafat yang membuat bangsa-bangsa mengenal Tuhan, melainkan tindakan nyata dalam sejarah.

Ini mengarahkan kita kepada prinsip Reformed yang menekankan revelation through redemptive history — pewahyuan Allah yang bertahap melalui karya penyelamatan yang memuncak dalam Kristus.

Dalam terang Perjanjian Baru, Keluaran 7:5 mengantisipasi penggenapan besar dalam salib dan kebangkitan Kristus. Melalui peristiwa itu, Allah juga “merentangkan tangan-Nya” bukan hanya atas Mesir, tetapi atas kuasa dosa dan maut, untuk membebaskan umat-Nya dari perbudakan rohani.

Seperti ditegaskan oleh Paulus dalam 2 Korintus 4:6:

“Sebab Allah yang telah berfirman, ‘Dari dalam kegelapan akan terbit terang,’ Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita untuk memberi terang tentang pengetahuan kemuliaan Allah di wajah Kristus.”

Aplikasi Eksposisional

a. Tuhan Berdaulat atas Semua Penguasa Dunia

Raja-raja dunia, sistem politik, atau kekuatan ekonomi tidak pernah berada di luar kontrol Allah. Kisah Musa dan Firaun mengingatkan gereja untuk tidak takut pada penguasa duniawi, tetapi bersandar pada rencana Allah yang kekal.

b. Kesetiaan dalam Pelayanan Firman

Seperti Musa dan Harun, hamba Tuhan dipanggil untuk setia menyampaikan firman, bukan mengubahnya demi diterima manusia. Kuasa pelayanan bukan pada kefasihan, melainkan pada otoritas firman Allah.

c. Kebenaran tentang Pengerasan Hati

Allah tidak bisa ditantang. Ketika manusia terus menolak panggilan Allah, hati mereka bisa dikeraskan sebagai bentuk penghakiman. Ini menjadi peringatan bagi setiap orang yang mendengar Injil, bahwa kasih karunia yang ditolak dapat berujung pada kebinasaan.

d. Pengetahuan Akan TUHAN Melalui Tindakan-Nya

Allah dikenal bukan melalui spekulasi, tetapi melalui karya penebusan-Nya. Gereja dipanggil menjadi saksi dari tindakan Allah dalam Kristus agar dunia mengenal siapa TUHAN yang sejati.

Kesimpulan: Allah yang Dikenal Melalui Kuasa dan Kasih

Keluaran 7:1–5 memperlihatkan Allah yang berdaulat, penuh kuasa, dan berbelaskasihan. Ia bekerja melalui manusia lemah seperti Musa untuk menantang kekuatan dunia dan menunjukkan bahwa tidak ada penguasa yang dapat melawan maksud Allah.

Bagi umat percaya masa kini, bagian ini mengajarkan bahwa kebebasan sejati datang dari penyerahan diri kepada kedaulatan Allah. Pembebasan Israel dari Mesir adalah gambaran pembebasan rohani kita dari dosa melalui Kristus.

Sebagaimana Allah berfirman, “Orang Mesir pun akan tahu bahwa Akulah TUHAN,” demikian pula melalui kehidupan orang percaya, dunia akan tahu bahwa Kristus adalah Tuhan yang hidup — bukan hanya karena kata-kata kita, tetapi karena kuasa Injil yang bekerja dalam kita.

Next Post Previous Post